WARNING! OOC, TYPO, AUTHOR ENGGAK JELAS, DLL.
Apabilan ada kesamaan tempat dan nama orang itu tidak ada hubungannya.
.
.
.
Chapter 2
Matahari terbit di pagi hari dan mulai menyinari wilayahnya. Dan sinarnya pun menembus jendela-jendela rumah.
Di mansion Akashi, Akashi membuka matanya perlahan-lahan dan matanya terpandang keatas. Ia terbangun dari tidur nyenyaknya. Namun sebelum membangunkan diri dari ranjang, adakalanya Ia ingin bersantai sebentar, lalu beberapa detik kemudian, Ia membangunkan dirinya dari ranjang mewahnya itu dan melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi.
Sambil berendam di dalam bathtub, dipikirannya terus terbayang sesosok bidadari surga yang baru saja Ia temui semalam saat Ia kecebur kedalam sungai. Bahkan setelah Ia mandi, mengganti bajunya dan sarapan di ruang makan pun Ia tetap membayangkan gadis yang Ia anggap sebagai bidadari itu. Bahkan sampai Akashi hampir tidak memakan sarapannya.
'Sepertinya, aku mulai jatuh cinta."
Kata Akashi dalam benak hatinya.
.
.
.
Yuhi berjalan menelusuri jalan menuju sekolahnya. Saat sedang berjalan, dia melihat ada beberapa buah terjatuh diatas tanah.
"Maaf, kalau boleh, apa kamu mau menolongku untuk memungut buah-buahan itu?"
Pinta seorang nenek lansia kepada Yuhi untuk memungut buah-buahannya yang jatuh itu.
"Tentu."
Kata Yuhi sambil tersenyum, lalu Ia membantu nenek itu memungut buah-buahan yang jatuh tersebut.
"Aku baru saja membeli buah-buahan ini di toko. Dan… ternyata plastiknya bolong. Aaa~ inilah hidup."
Kata nenek itu sambil menunjukkan plastiknya yang berlubang dibawah.
Setelah mendengar omongan nenek lansia tersebut, Yuhi merogoh sesuatu di dalam tasnya dan mengambil sebuah karet ikat rambut untuk mengikat lubang plastik di bagian bawah itu.
"Biar saya bantu, nek."
Yuhi memungut buah-buahan itu dan memasukkannya ke dalam kantong plastik. Setelah itu Yuhi berdiri dan memberikan kantung plastik berisi buah-buahan ke nenek lansia itu.
"Ini, nek."
"Ah, arigato gozaimashita."
"Tidak masalah nek. Ah, maaf, aku harus pergi ke sekolah."
Yuhi berpamitan kepada nenek itu dan langsung melangkahkan kakinya menuju sekolah.
"Apakah itu anaknya Maeda-san? Dia manis sekali."
Kata nenek lansia itu.
Tanpa sadar kejadian tersebut juga sebenarnya dilihat oleh Akashi melalui jendela mobil.
.
.
.
Di sekolah.
Di kelas 2-4.
"Jika dikurangi 10 maka hasilnya adalah 5, setelah itu dikali 4 maka hasilnya akan menjadi 20.
Teng! Tong! Teng! Tong!
Tong! Teng! Teng! Tong!
Pelajaran telah usai dan bel istirahat pun berbunyi.
"Kalau begitu sekian dari materi kita hari ini. Jangan lupa PR-nya dan diharapkan dikumpulkan minggu depan."
Kata seorang guru laki-laki dan setelah itu dia berjalan keluar kelas.
Yuhi memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya. Dan seperti biasa, tatapan Yuhi selalu datar seperti tembok dengan eye bandage putih di mata kirinya. Setelah Ia keluar dari gedung sekolah, Ia berjalan menuju taman di belakang sekolah.
.
.
.
Yuhi duduk di bangku taman sambil membaca sebuah buku, saat sedang asyik membaca, Ia mendengar ada suara alunan musik biola yang entah darimana asalnya. Alunan musik itu sangat indah di telinga sehingga Yuhi menengok kepalanya kesana kemari untuk mencari sumber suara itu berasal.
Dan ternyata, jauh dibelakang bangku taman yang diduduki Yuhi, ada seorang pemuda bersurai merah scarlet sedang memainkan biola dengan tenangnya.
Yuhi melihat pemuda yang sedang memainkan biola itu dan sepertinya Yuhi mengenal fisik orang tersebut. Dan setelah selesai memainkan biola, pemuda bersurai merah yang bernama Akashi Seijuro itu tersenyum melihat Yuhi dari arah kejauhan dan langsung menghampiri Yuhi yang sedang duduk di bangku taman itu.
"Terima kasih banyak atas yang kemarin malam."
Akashi membungkukkan badannya di depan Yuhi namun Yuhi Cuma terdiam sembari menundukkan pandangannya.
"Tidak masalah."
Jawab Yuhi singkat.
Akashi tersenyum memandang sesosok gadis… atau lebih tepatnya cinta pertama sekaligus bidadari pujaannya itu.
"Ngomong-ngomong apa yang sedang kau baca?"
"Buku manga."
"Buku manga? Boleh aku lihat?"
"Maeda!"
Baru saja Yuhi menyodorkan buku manganya ke Akashi, ada seorang siswi yang memanggil Yuhi dari arah kejauhan dan Yuhi menengok ke arah siswi itu.
"Kau dipanggil oleh wali kelas."
Yuhi terdiam sejenak, Ia segera memasukkan kembali bukunya ke dalam tas dan membawanya untuk masuk ke dalam gedung sekolah.
"Sumimasen."
Yuhi membungkuk di depan Akashi untuk berpamitan.
Mata Akashi fokus memandang Yuhi dari arah kejauhan melihat sesosok bidadari pujaannya itu. Walaupun pertemuannya terkesan singkat, tapi Akashi sangat bersyukur bahwa hari ini Ia bisa bertemu bidadari surga itu.
"Senang hari ini bisa bertemu denganmu lagi, bidadari surga."
Kata Akashi sambil senyum sendiri.
.
.
.
Sore hari telah tiba, artinya pulang sekolah tiba dan pelajaran pun telah usai. Banyak murid yang langsung pulang ke rumahnya masing-masing atau malah ada yang mengikuti kegiatan ekskul dulu.
Yuhi tidak ikut kegiatan ekskul apa-apa. Ia langsung pulang menuju rumahnya, juga hari ini dia tidak sedang tidak ada jadwal pekerjaan.
Sebelum pulang kerumah, Yuhi diharuskan untuk membawa sebuah barang-barang fasilitas sekolah untuk menaruhnya di gudang belakang gedung sekolah.
Ketika Yuhi membuka pintu gudang dan hendak menaruh sebuah barang, dari arah kejauhan Yuhi melihat ada tiga orang siswa brandal yang nampak sedang membully seorang siswi berkacamata tebal..
"Ayo ikut denganku saja."
Kata siswa itu sambil mendekati badan perempuan itu yang punggungnya tertempel di sebuah dinding.
"To-tolong lepaskan aku."
Siswi itu menutup matanya rapat-rapat selain itu, kedua tangannya pun dicengkram oleh salah satu siswa brandal itu.
Dan siswa yang lain pun mulai membuka dan mengorek-ngorek apa yang ada di dalam tas siswi itu sampai dia berhasil menemukan dompetnya dan mengambil uangnya.
"Uang sakumu banyak juga. Lumayan untuk membeli rokok nanti."
Yuhi melihat pemandangan itu dari kejauhan. Bahkan siswi yang sedang diganggu itu pun juga dilecehkan secara seksual. Seperti pinggangnya yang diraba-raba.
Plang!
Ketika salah satu dari ketiga siswa itu sedang sibuk mengganggu atau lebih tepatnya memerkosa si siswi berkacamata tebal itu, ada sebuah lemparan sampah kaleng mengenai kepalanya. Dan siswa yang sedang melecehkannya itu pun menengok siapa yang melempar sampah kaleng tersebut.
"Ada perempuan lagi?"
Siswa yang melecehkan tadi itu menghampiri Yuhi yang diduga pelaku pelemparan sampah kaleng itu.
"Aku rasa yang satu ini belum pernah diberi pelajaran. Oi teme!"
Saat siswa brandal itu mendekati Yuhi, Ia mendapati wajahnya ditinju oleh kepalan tangan Yuhi. Setelah berhasil meninju wajahnya, Yuhi mengepalkan kedua tangannya dan memasang posisi kuda-kuda khas seorang ahli Karate.
"Jangan menindas orang yang lemah!"
Buagh!
Yuhi kembali memukuli siswa brandal itu hingga berhasil membuatnya terpental ke tumpukkan barang-barang.
Disaat kedua siswa brandal yang lain menyaksikan bos mereka berhasil dibantai oleh seorang perempuan, mereka kini mulai membalas perbuatan Yuhi.
"Jalang gila!"
Bugh!
Duagh!
Seluruh pukulan dan tendangan khas seorang ahli Karate pemegang sabuk hitam dari Yuhi itu menghujani sekumpulan siswa brandal itu dengan kerasnya. Walaupun Yuhi hanya seorang diri menghadapi siswa-siswa tidak beradab ini, Ia sangat mampu melakukannya. Semua ini juga untuk melindungi kaum lemah dari penindasan dan kaum hawa dari pelecehan.
(Silahkan bayangkan sendiri bagaimana Yuhi membantai seluruh siswa-siswa brandal ini ya.)
.
.
.
Yuhi membuka pintu gudang perlahan-lahan untuk keluar. Saat Yuhi berjalan, disampingnya ada Akashi yang melihat dia namun Yuhi sama sekali tidak melakukan kontak mata kepada Akashi. Pandangan Yuhi tetap fokus ke arah depan.
Akashi memang merasa agak kecewa karena Yuhi tidak menatapnya sama sekali. Lalu, Akashi melihat bahwa pintu gudang dibuka oleh seseorang dan seseorang yang ternyata siswa brandal itu nampak tidak sanggup berjalan. Badannya tergeletak diatas tanah dan tangannya memegang bagian tubuhnya yang terluka sambil meringis kesakitan.
Karena penasaran, maka Akashi menghampiri siswa brandal yang menjadi korban Yuhi itu lalu membuka pintu gudang dan melihat bahwa ada dua siswa brandal yang lain juga berhasil dihajar habis-habisan oleh Yuhi.
"Siapa yang melakukan ini?"
Tanya Akashi kepada sesosok siswi berkacamata tebal dari arah kejauhan yang duduk diatas tanah.
"Siswi baru… kelas 2-4… itu."
Akashi makin terkejut. Bahwa yang berhasil membantai semua siswa brandal ini adalah Maeda Yuhi, bidadari pujaannya. Ini pertama kalinya Akashi melihat ada sesosok perempuan yang bisa melakukan hal seperti ini.
Sekuat itu kah bidadari pujaan sang kaisar? Sehingga Ia berhasil menghajar semua murid-murid brandal ini sendirian dengan tangan kosong?
.
.
.
Di rumah Apato milik Yuhi tepatnya di kamarnya Yuhi.
Yuhi mengambil sebuah buku di rak buku meja belajarnya. Ketika Ia membuka halaman buku tersebut, Ia menemukan adanya sebuah foto yang Ia simpan selama ini.
Di dalam foto itu, ada sesosok dua perempuan berseragam sekolah sailor yang sedang tersenyum satu sama lain.
Sebenarnya, ini bukan pertama kalinya bagi Yuhi, menghajar brandal sebanyak itu.
.
.
.
Author's note : di chapter 1 kan disitu ada tulisan 'Yuhi memakai eyepatch' disini diubah menjadi 'Eye bandage' aku juga baru tahu kalau eyepatch & eye bandage itu beda. Nanti, author akan membuat biodata Maeda Yuhi /mungkin.
Akhirnya setelah puluhan tahun silam aku berhasil menyelesaikan chapter dua-nya. Fuhh, membuat cerita seperti fanfiksi memang tidak semudah yang dibayangkan. Butuh ide untuk melakukannya. Aku saja sampai satu bulan untuk memikirkan ide untuk chapter selanjutnya.
By the way, tadinya author berniat membuat karakter Maeda Yuhi yang semula pendiam jadi agak gila. Tapi sampai sekarang masih bingung juga, ufufufu~. Mungkin chapter duanya ini rada membosankan, ya? Tapi disinilah aku menunjukkan kekuatan Maeda Yuhi yang sebenarnya. Sebenarnya ini inspirasinya banyak bangat. Dari drama jepang salah satunya. Kebetulan aku lagi suka nonton drama, hehehe.
Oke deh, kayaknya aku terlalu banyak bicara. Sekian dari chapter dua kali ini, sampai jumpa.
