ONE GO, ONE GET

Pairing : Ino x Gaara

slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari

Rate : T ( Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)

NO BASHING CHARA

Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.

Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dst, sbb, etc.

Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).

Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.

Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.


CHAPTER 7

"Apa kita sudah sampai ?"

"Apa kita sudah sampai ?"

"Apa kita sudah sampai ?"

Ino sedang berkomat-kamit mengulang kata-katanya dalam pejaman mata dan tautan jemari tangannya. Seakan harus ada yang mejawab pertanyaannya segera mungkin jika tidak dia akan mengulangnya sampai 100 kali.

"Bisakah kau tidak mengulang kata-kata mu itu ? kita masih berada diatas, apa terlihat kita sudah sampai?" Tanya balik seseorang yang berada disebelahnya. Terpaksa melepas earphone yang ia pasang, suara Ino mengalahkan suara serak-serak basah vokalis Linkin Park, chester bennington yang sedang menyanyikan lagu kesukaannya.

"Maaf, Gaara-sama. Saya takut naik pesawat." Ino menutup jendela pesawat dengan bantal kursi yang disediakan. Walaupun perjalanan meraka tak menghabiskan waktu berjam-jam, tapi Ino merasa pesawat dari Jepang destinasi ke singapura tidak bergerak sama sekali diudara, membuatnya mabuk udara dan takut mengintip apa yang terlihat di luar jendela pesawat.

"Kau pernah naik pesawat sebelumnya?" Tanya Gaara memastikan, karena terlihat jelas wajah ino memucat.

"Belum."

"Lalu ? Kenapa kau harus takut jika kau belum pernah mengalaminya?" Gaara bertanya kesekian kalinya dalam beberapa menit, bukan karena kwathir kali ini tapi lebih karena jawaban-jawaban Ino membuatnya kesal atau mungkin 'gregetan'.

"Entahlah. Sepertinya akan jatuh saja."

"Hah~. Sekarang kau coba tutup matamu, bayangkan kau ada diatas awan dan berbaring diatas awan yang lembut," ucap Gaara menenangkan, menutup mata Ino dengan tangan kanannya. Memberikan intruksi pada telinga Ino. "Sudah?"

"Hem. Ya." Gaara melepaskan telapak tangannya. "Sekarang kau buka mata mu dan lihatlah pemandangan langit di sana." Gaara menyingkirkan bantal yang tadi untuk menutupi jendela, mengarahkan pandangan Ino untuk melihat ke arah luar jendela. "Waahh.. indah sekali Gaara-sama, seperti berada dipermen kapas rasa vanilla atau.. rasa cream susu.. tunggu-tunggu atau rasa yogurt yaa.. jangan-jangan rasanya white chocolate.. hemm enak sekali. Kenapa tidak lihat dari tadi." Ino mulai mengelurkan senyum khasnya dan khayalan-khayalan aneh yang beredar diotaknya.

"Kau ini! Apa diotak mu penuh dengan imajinasi makanan?"

"Hei! Ini caraku untuk bisa mempertahankan diet, dengan membayangkan makanan tanpa harus benar-benar memakannya, Gaara-sama." Itulah perjuangan Ino untuk mempertahankan bentuk tubuhnya agar tetap proposional dan tetap mempertahankan filosofi 'No calori. No fat.' Sedikit saja merubah alur jadwal makannya, maka sia-sia dia berjuang sejak SMA untuk tetap menjadi primadona sekolah.

"Apa wanita suka berdiet?" Entah sudah berapa kali Gaara bertanya, terlalu banyak yang ia ingin tahu dari Ino. Kepribadian, apa yang Ino suka atau tidak, apa yang sedang Ino pikirkan. Entah mengapa ia sangat penasaran semua yang berkaitan dengan Ino.

"Hemm, sepertinya begitu. Untuk menjaga penampilan lebih menarik apalagi didepan kekasih," ujar Ino spontan. "Jadi kau melakukannya untuk 'dia'?

"Hah~, sudahlah Gaara-sama. Saya tidak mau membahas tentangnya." Ino jengah mendengar jika nama kramat itu terus-terusan mengusik otaknya, membuatnya agar tidak bisa berfikir normal dan galau berkelanjutan. Ino memalingkan wajahnya ke arah jendela melihat awan yang terbentuk sedemikian rupa. Hanya diam yang meresapi suasana mereka dipesawat. Tak ada pertanyaan dan jawaban. Hanya heningan cipta saja.

.

.

.

"Erg, berat sekali," keluh Ino yang membawa 1 koper besar, 1 tas jinjing ukuran sedang dan 1 tas selempang berisi perlengkapan yang jika dibutuhkan segera bisa dengan mudah mengambil, seperti handphone, charger, lipstick dan dompet.

"Kau memindahkan semua isi rumah ke dalam koper? Kita hanya menginap selama 4 hari di sini." Gaara merasa ngeri dengan barang bawaan Ino dan dengan soknya dia tak mau barang-barangnya dibawa oleh office boy hotel dengan alasan 'Biar aku saja yang membawa, ini barang privasi' dan sekarang mengeluh dengan seenaknya.

"Sepertinya bukan barangku yang berat, tapi tenaga ku saja yang tidak ada, mungkin ini yang disebut jetleg."

"Kamarmu ada disebelah kamarku, jadi jika aku butuh sesuatu, aku bisa cepat memanggilmu," ucap Gaara tanpa menghiraukan istilah yang baru ditemukan Ino saat searching internet dipesawat . "Memang anda butuh apa!?" Ino mengilangkan tangannya didepan dada, seperti merasa akan ada penistaan terhadapnya.

"Cih, apa otakmu sekarang kena jet leg ? urusan pekejaan, Bodoh!"

"Oow.. baiklah saya mau istirahat dulu, Gaara-sama." Ino segera membuka kunci kamarnya karena ia sudah merasa lelah dan ingin merasakan bagaimana rasanya hotel suite di Singapura.

"Hn. Kita akan mulai meeting jam 7 malam ini." Ino sontak berhenti mengakat barangnya masuk kedalam dan buyarlah impian untuk menikmati kasur super duper empuk.

"Apaa? Kita baru saja sampai dan saya hanya punya 1 jam untuk bersiap, begitu !?" Ino melotot ke arah Gaara, tak peduli jika ia sedang melotot ke arah bos yang membayar akomodasinya.

"Mereka ingin meeting dipercepat, bersiaplah!"

'Blam.' Gaara masuk kedalam kamar tanpa memberi salam.

"Yaa ampun! Aku pikir bisa bersantai-santai dulu.. eh tunggu.. sepertinya aku melewatkan sesuatu. Bukannya ini kerjasama dengan perusahaan dengan Shikamaru. Oh Tuhan, aku bertemu 'dia' lagi ! Sekarang rasanya semua tubuhku mengalami jet leg. Oh God!Help me please."

'Blam.' Ino masuk kedalam kamar dengan susah payah mengangkat barang bawaannya..

.

.

.

"Yap sudah rapi, laporan presentasi juga sudah siap. Oke"

'Clek'

Gaara dan Ino keluar kamar secara bersamaan. Gaara dan Ino saling menoleh, saling memperhatikan dari bawah hingga ke atas sampai mata mereka saling bertemu pandang, saling menatap hanya untuk sekian detik karena mereka harus dikejutkan oleh suara pintu terbuka dari sebelah kamar Ino.

Tapi ekpresi kaget lebih banyak nampak diwajah Ino, melihat siapa penghuni kamar '013'. Laki-laki maskulin berjas hitam rapi, rambut yang diikat familiar seperti buah yang sedang menoleh kepada tetangga sebelah. Ino menatap lama mata lelaki itu, hingga datang seorang wanita dari belakang pria itu.

"Oh.. Ino. Gaara-chan, ternyata kalian bersebelahan dengan dengan kamar kami," sapa wanita yang bergelayut manja dilengan kanan pasangannya.

"Ah.. Iya.. Temari-sama ada disini juga ?" Sebuah pertanyaan yang tak perlu jawaban. Sudah bisa dilihat sendiri kan ?

"Ya, aku ikut dengan Shikamaru, tapi bukan sekedar urusan pekerjaan, aku sedang berlibur berdua dengan Shika-kun, kami sudah menginap disini 2 hari lalu."

"Se-kamar?" Tanya Ino spontan, tapi ia tiba-tiba dia teringat jika mereka sudah bertunangan dan akan jadi sepasang suami istri. Jadi sah kan jika mereka sekamar ? Ino merutuki kebodohannya sendiri kenapa harus bertanya seperti itu. Terlihat jika ia cemburu.

"Hm, ya tentu.. Atau jangan-jangan.. kau mau juga sekamar dengan Gaara ya, Ino ?" goda Temari.

"Apa?"

"Jangan bohong pada ku, Shika sudah memberitahu ku jika kalian sudah pacaran. Hei! Kenapa kau tidak memberitahuku Gaara!? Bukankah kau sudah dijodohkan Ayah dengan Matsuri-chan? Kau tidak sedang bersandiwara untuk menghindari perjodohan kan ?"

"Tidak. Aku benar-benar mencintainya. Apa jawaban itu bisa menjawab semua pertanyaan mu itu, nee-chan ? sudahlah, kita harus segera meeting." Gaara langsung menggandeng tangan Ino menjauh dari duo kakak kadung dan kakak iparnya itu agar ia tidak menjawab list pertanyaan kakaknya. Ino hanya mampu mensejajarkan jalannya dengan Gaara, ia mendongak ke wajah Gaara yang lurus melihat kedepan, Ino tidak percaya jika Gaara ternyata actor yang sangat hebat dalam sandiwara, hanya karena kata-kata 'Aku benar-benar mencintainya' bisa membuat jantungnya berdegup kencang dan dengan mudah membohongi kakaknya, tapi ia harus kembali kedua nyata jika kata-kata itu hanya bagian dari scenario.

'Baiklah, aku akan ku tunjukkan bakat drama ku, tidak seperti opera sabun murahan seperti yang ia bilang kemarin. Kau tidak akan mampu membedakannya, Gaara-sama! Hahaha… ' Ino tertawa dalam hati akan rencana yang ia lakukan untuk memperlancar aksi main pacar-pacaran dengan Gaara.

"Kenapa kau tiba-tiba tersenyum ?"

"Tidak apa-apa." Jawab Ino dengan senyum 5 jari.

.

.

.

.

"Hah~.. Meetingnya membosankan yaa Ino. Oh ya, Ino. Kau mau ikut bersama kami kecafe? Ada café yang baru buka disekitar sini." Tawar Temari saat mereka berdua keluar dulu setelah selesai acara meeting.

"Kami ? maksud Temari-sama.. Garaa-sama dan Nara-sama?" Tanya Ino meyakinkan.

"Tentu. Hei! Jika sudah diluar jam kantor kau tidak usah memanggil dengan suffix-sama. Apalagi dengan Gaara. Kau kan pacarnya."

"Apa Temari-sama. Maksudku Temari-nee tidak marah jika kami berpacaran?" Tanya Ino, takut-takut jika hubungannya tidak direstui oleh calon kakak iparnya sendiri. Kenapa tiba-tiba jadi serius sih ?

"Tentu saja tidak. Karena aku senang jika Gaara bisa memilih pasangan hidupnya. Kau tau, dia sangat susah dimengerti."

'Ya, kau benar sekali, Temari-nee. Gaara-sama orang yang paling susah dimengerti, seenaknya sendiri, dingin, jutek, mata panda. Hei.. hei kenapa aku jadi menghina bos ku sendiri ?' Ino mengakui penyataan Temari, tapi ia ucapkan dalam hati. Dia sekarang sedang berperan jadi pacar Gaara, tak mungkin jika ia mengolok-olok pacar sendiri, kan ? Di anggap pacar apaan dia?

"Oh hai Shika-kun. Gaara. Kita ke café yaa? Kebetulan aku melihat ada café promo dekat sini." Temari langsung menghampiri 2 laki-laki kesanyangannya saat mereka baru keluar ruangan meeting.

"Hn." Gumam mereka berdua bersamaan.

"Hah~ deritaku memiliki 2 orang laki-laki yang pelit bicara," ucap Temari merangkul Shikamaru dan Gaara, sedangkan Ino mengekor di belakang Shikamaru.

.

.

.

.

O'COFFEE CLUB CAFÉ

Mereka sudah berada dicafe saat ini, Gaara duduk 1 kursi panjang dengan Ino, Shikamaru dengan Temari. Gaara berhadapan dengan Temari dan tentu saja Shikamaru berhadapan dengan mantan pacarnya.

"Permisi, Apa pesanan anda ?" Tanya seorang waiters untuk mencatat pesanan pengunjung yang baru datang.

"Caramel macchiato," ucap Shikamaru dan Ino berbarengan ke arah waiters.

"Aku pesan Virgin mojito saja," ucap Temari. " Dan kau apa Gaara?"

"Matcha green tea latte." Sang waiters mencatat pesanan yang terakhir, kemudian ia permisi untuk menyajikan pesanan 5 menit kemudian.

"Waah, Shika dan Ino punya selera yang sama yaa, padahal saat aku bersama Shika dulu, dia bilang tidak suka rasa caramel."

"Kenapa, Temari-nee?"

"Shika bilang terlalu manis untuk dikenang, aku juga tidak tau maksudnya apa, iyakan shika? Apa kau masih ingat?" Tanya Temari ke arah Shikamaru, sedangkan Shikamaru malah menatap Ino secara lekat.

"Ya. Aku tak mungkin melupakannya. Dia yang melupakanku."

'Aku tak pernah melupakan mu Shika, aku tau minuman itu yang sering kita pesan saat kita berkencan dulu. Oh tidak ! aku mengenang masa-masa itu lagi !' Ino berusaha untuk mengenyahkan bayangan akan masa lalunya, tapi kalau ia dihadapkan terus dengan orang yang akan membangkitkan kenangan itu. Mana bisa hilang ?

Gaara yang melihat Ino sedang gelisah akan tatapan Shikamaru, langsung menautkan jemarinya ke tangan Ino. Memberi sentuhan yang menenangkan.

"Hei.. hei.. kalian ingin mengumbar kemesraan kalian di depan kami, begitu? Sungguh aku tidak pernah menyangka jika adikku ini akan bisa jatuh cinta, ku pikir dia menyukai Kyuro-kun, karena ia tidak pernah kelihatan bersama wanita lain." Jelas Temari.

"Siapa Kyuro-kun?" Tanya Ino penasaran. "Oh, dia teman sekelas Gaara sejak sekolah dasar hingga kuliah, mungkin karena sama-sama berdarah Jepang mereka akrab sekali. Aku takut jika Gaara cinta mati dengan Kyuro-kun itu." Temari tertawa geli mengingat masa kecil Gaara.

"Oh ya, kenapa kau bisa menyukai Gaara, Ino ?" Sebuah pertanyaan terlontar dari Temari, pertanyaan yang ingin Ino hindari karena ia harus berfikir keras untuk merangkai kata kebohongan agar dapat dipercaya oleh Temari atau Shikamaru.

"A-aku menyukai Gaara-kun karena .. " Ino mulai berfikir kata apa yang harus ia ucapkan, mungkin ini saatnya ia menunjukkan bakat actingnya, pikir Ino.

"Karena Gaara-kun orang yang unik. Dia dingin, tapi sebenarnya lembut. Dia suka seenaknya sendiri, tapi dia penuh perhatian. Dia kelihatan pelit bicara, tapi dia suka mengungkapkan perasaannya, maksudku dia romantis dan penuh kejutan." Ino tersenyum lembut ke arah Gaara diakhir katanya. Terlalu berlebihan mungkin akan kata-kata yang Ino ucapkan, tapi ia hanya berusaha untuk meyakinkan semua orang jika mereka benar-benar sedang saling jatuh cinta.

Sedangkan Gaara yang mendengar penuturan dan tatapan lembut Ino hanya bisa diam sejenak, menyadari jika Ino sedang memainkan acting yang luar biasa. Tak mungkin jika Gaara hanya akan tergoda dengan kata manis Ino, maka Gaara tiba-tiba melancarkan scenario berikutnya.

'Cup.' Gaara mencium bibir Ino lembut. Tanpa persetujuan. Cepat. Tapi sangat mendebarkan bagi Ino.

"Terimakasih kau telah menilai seperti itu. Aku penuh kejutan bukan ?" kata Gaara setelah melancarkan aksinya, tak peduli jika ia melakukannya didepan umum bahkan didepan kakaknya. Ino dapat melihat seringai tipis diwajah Gaara, seringai itu adalah tanda jika ia sedang 'DIPERMAINKAN.' Ino tak dapat menyembunyikan semburat merah dipipinya, bukan karena ia merona, lebih tepatnya ia kesal karena dikerjai oleh Gaara. Namun hanya ia yang mengartikan itu, tak sama dengan arti dari Temari dan Shikamaru yang melihatnya.

"Oh, sweet sekali kalian. Kalian benar-benar pasangan serasi. Iyakan Shika-kun ?"

"Hn." Shikamaru hanya bisa diam, tak ingin berkomentar. Cukup detak jantungnya saja yang tak bisa diam melihat Gaara berani mencium Ino didepannya.

Percakapan selajutnya hanya tentang wisata-wisata apa saja di Singapura yang belum pernah Ino ketahui, Temari menceritakan masa kecil Gaara, apa yang disukai dan tidak disukai Gaara. Obrolan antar wanita yang mendominasi, sedangkan kaum pria hanya diam dan sekedar mendengarkan ocehan para wanitanya.

"Habis ini kau mau kemana, Ino ?" Tanya Temari setelah selesai menyeruput tetesan terakhir minumannya.

"Aku mau mengajak Ino berjalan-jalan," sambung Gaara. "Ooh.. kalian selamat bersenang-senang yaa.. jangan bikin Ino kelelahan, Gaara."

"Hnn, kau mau kemana,nee-chan?"

"Aku juga mau bersenang-senang dengan Shikamaru ke tempat yang romantis. Aku kan tidak mau kalah dengan kalian."

.

.

.

"Aku tak menyangka kau bisa beracting sangat hebat. Perkembangan mu cukup pesat juga." Puji Gaara.

"Tapi kenapa anda malah melebih-lebihkan sandiwaranya, Gaara-sama!?"

"Bukankah bagus jika mereka lebih percaya ?" Ino semakin tak tau kemana arah tujuan sandiwaranya. Membuat semeyakinkan mungkin atau hanya sebatas orang tau bahwa mereka 'saling memiliki.'

"Tapi tidak dengan menciumku juga kan !?"

"Kau marah?" Tanya Gaara. Sudah jelas terlihat diwajah Ino jika ia sedang kesal, tak mau menghadap ke arah lawan bicara.

"Ya. Tentu saja aku marah karena anda melakukannya tanpa persetujuanku!"

"Oo, jadi kau ingin menikmati juga ciuman tadi, sampai-samapi aku harus ijin dulu padamu ?"

"Aappa!?" Ino langsung menoleh menghadap Gaara.

'Cup.' Gaara mencium Ino lagi. Hangat dan lembut, itulah yang dirasakan Ino saat ini. Gaara mulai melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Ino, menariknya untuk mendekat sedangkan tangan kanannya untuk menekan tengkuk Ino.

Ino tak bisa jika ia tidak terbuai dengan perlakuan Gaara, tangannya tiba-tiba tak sejalan dengan perintah otaknya. Sungguh otaknya sedang korslet saat ini. Tangan Ino serasa bergerak sendiri melingkar dileher Gaara, menautkan ke sepuluh jarinya menjadi satu. Meraka saling memperdalam ciumannya seakan jika bibir pasangannya tak akan bisa dinikmati lagi.

Hawa dingin Singapura di bulan Januari tak bisa mengalahkan kehangatan yang mereka bagi. Anderson Bridge yang mereka singgahi menjadi saksi kelakuan nakal mereka. Ino tak pernah mengira jika ia bisa luluh dalam sekian detik dengan pria ini, pacar pura-puranya. Dan tak ada bayangan sang mantan dibenaknya lagi. Tak terasa sudah 5 menit mereka saling berbagi kecupan, saliva dan hembusan nafas. Mereka masih manusia hidup, butuh oksigen untuk mengisi paru-parunya.

Gaara tersenyum ke arah Ino. Menggesekkan sentuhan jemarinya ke pipi lembut Ino. Ino hanya bisa merasakan sentuhan itu, karena ia masih menutup matanya, takut menerima kenyataan jika hatinya goyah akan perlakuan Gaara. "See? Kau sudah setuju kan ?" Tanya Ino melepaskan dekapan ke dua tangannya ditubuh Ino.

Ino perlahan membuka matanya, menyadarkan akal sehatnya. " Ti-tidak ada kata 'Ya'."

"Kau tidak menolak ataupun memberontak sama sama sekali. Jadi jawabanmu adalah 'Ya'." Gaara menepuk kepala Ino lembut, setelah itu ia meninggalkan Ino dalam kebisuannya.

"Tung-tunggu, Gaara-sama ! Anda mau kemana ?" teriak Ino tertinggal jarak yang begitu jauh. Terlalu lama ia tenggelam akan lamunannya.

.

.

.

Kadang bibir bisa bohong atau jujur dalam kebungkaman, namun hati tak akan bisa berbohong.

Sedikit demi sedikit es juga akan mencair dengan kehangatan, keheningan terusik oleh bisikan dan cinta kan bersemi untuk bisa tersampaikan.

Kenangan pasti akan berganti dengan pengharapan.

TBC


Srutt.. Srutt.. Flu melanda.. !

Ya ampun… aku harus benar-benar konsen antara ngetik sama hidung yang trus mengelurkan cairan anehnya.

Semoga kelanjutannya ini bisa diterima dengan baik, jika ada kesalahan atau kekurangan mohon diberitahu yaa.. biar siapa tau kalau 'inget', aku edit.

Terimakasih untuk koment-koment para viewers.. Aku sangat senang membacanya.. :) maaf tidak bisa membalas..

All Love uu lovee… sruttt… srutt... Hehe maaf.. :)