ONE GO, ONE GET

Pairing : Ino x Gaara

slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari

Rate : T ( Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)

NO BASHING CHARA

Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.

Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dst, sbb, etc.

Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).

Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.

Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.


CHAPTER 9

Sejak kepulangan dirinya dari Singapura, Ino terlihat murung. Kejadian dimana ia benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Shikamaru membuatnya galau maximal. Ia yakin keputusan yang ia ambil adalah yang terbaik, tapi ia tak tahu jika keputusannya juga membuatnya menderita.

"Kau kenapa Ino?" Tanya Sakura yang datang ke kantin, duduk didepan Ino. Sakura tak pernah melihat Ino semurung ini.

Ino diam sejenak, lalu ia menghadap Sakura dengan tampang lesunya, "Hm, tak apa-apa."

"Kau bohong! Dari wajahmu kau terlihat tampak tidak senang. Apa yang terjadi? Apa saat kau diSingapura, Sabaku-sama berbuat macam-macam ? atau kau dicuekin ? atau... "

"Stop! Jangan berfikir yang aneh-aneh, dekorin. Aku bilang aku tak apa-apa, hanya lelah saja," kilah Ino. Ia tak mungkin selalu terbuka dengan Sakura tentang semua keluh kesahnya.

"Hmm. Oke. Kali ini aku percaya. Tapi apa kelelahan membuat mata mu menjadi bengkak?" Sakura mendekat ke arah Ino, melihat kantung mata Ino yang sangat mengerikan.

Ino memalingkan wajahnya. "Aku kurang tidur."

"Apa kau terlalu banyak bersenang-senang dengan Sabaku-sama, sampai lupa tidur?"

"Sakura! Hentikan. Jangan menanyaiku terus."

"Ya... ya baiklah. Oh ya, apa kau mau membantuku, Ino ?" Sakura menyerah menginterogasi Ino. Lebih baik menyampaikan apa maunya.

"Apa?" Tanya Ino heran. "Aku ingin memberi kejutan untuk Sasuke-kun. Dia akan ulang tahun."

"Bukan biasanya kau sudah memikirkannya? Mengapa tiba-tiba perlu bantuanku ?" Ino tau benar jika Sasuke ulang tahun, Sakura sudah heboh duluan. Menyiapkan segala sesuatunya dengan terencana dan tanpa perlu bantuan orang lain.

"Aku ingin mengerjainya kali ini, hehe.. "

"Lalu apa yang perlu ku bantu?" Tanya Ino.

"Aku ingin kau berpura-pura memberikan perhatian kepada Sasuke, lalu aku marah karena mengira Sasuke berselingkuh dengan mu," jelas Sakura dengan tampang biasa.

"Hah!? Kau gila ya ? Bagiamana kalau dia marah ? Jangan mengerjainya terlalu berlebihan, Sakura." Ino tak habis pikir dengan rencana yang Sakura buat. Ini terlalu beresiko. Dia tak mau terlibat dalam drama ini. Dia sudah terlalu banyak job untuk bermain acting.

"Aku yakin dia tidak akan marah. Aku harus memberikannya humor test. Dia terlalu datar, kau tau ? jadi kumohon, please... " Sakura memelas dengan jurus ninja, puppy eyes emerald andalannya. Yang sudah pasti membuat Ino tak tega untuk tidak membantu sahabat karibnya ini. Semoga kali ini nyawanya masih dapat terselamatkan.

"Baiklah, tapi aku tidak akan bertanggung jawab kalau sampai kalian putus yaa… "

"Oke. Thanks, Ino-chan." Sakura langsung memeluk Ino dengan mesra.

.

.

.

Oranyo café, 11.52 A.M. 23 Juli 20..

"Boleh aku duduk disini?" Tanya seorang gadis dengan membawa nampan berisi sandwich tuna dan segelas orange jus kepada laki-laki yang duduk dimeja No. 9, meminta ijin untuk boleh duduk didepannya.

"Hn." Balas laki-laki itu tanpa harus melihat siapa yang bertanya. "Apa kau terlalu sibuk dengan handphone mu, sampai tak menyapa teman sendiri?" Tanya gadis itu setelah menaruh nampannya dan duduk didepan laki-laki itu.

"Oh, kau Ino?" laki-laki berambut biru dongker itu sedikit terkejut, melihat gadis didepannya.

"Hmm ya. Apa aku mengganggu mu? kau sedang menunggu Sakura ?" Tanya Ino setelah menggigit sandwichnya.

Sasuke memasukkan handphonenya ke dalam saku celana. Menatap penuh ke arah Ino. "Tidak. Aku sedang ingin bersantai saja disini."

"Oh ya, ngomong-ngomong kapan kau akan menikah dengan Sakura, Sasuke ? jangan lama-lama, keburu wanita yang kau cintai diambil orang lo... " goda Ino. Sasuke dan Sakura sudah lama sekali menjalin kasih, tapi hanya sebatas ikatan itu saja yang mereka pertahankan. Membuat Ino iri melihat hubungan mereka.

"Aku tidak terlalu berfikir serius. Lalu bagaimana dengan mu ? kapan Shikamaru melamar mu ?"

"Oh itu, sebenarnya aku tidak mau membahas ini sih, aku sudah lama putus dengannya. "Baru saja Ino mulai bisa tak memikirkan kata 'Shikamaru' di otaknya. Tapi ternyata tak bisa.

"Benarkah ?"

"Hm ya. Kau tak perlu terkejut seperti itu. Apa Sakura tidak pernah memberitahu mu ?"

"Tidak."

"Oh ya Sasuke, setelah ini kau ada rencana kemana ?" Tanya Ino untuk mulai merencanakan misinya. "Mungkin akan kembali ke tempat kerja, kenapa?"

Ino pura-pura memasang tampang kecewanya, "Ah tidak apa-apa, ku pikir kau bisa meluangkan waktu bersama teman mu ini untuk merayakan ulang tahun mu."

"Dari mana kau tau aku ulang tahun ? apa dari Sakura ?"

"Tidak. Aku tak sengaja melihat profil sosmed mu. Tapi kalau kau sibuk atau mungkin kau akan merayakan ulang tahun bersama Sakura, jadi aku pergi dulu." Ino membereskan nampannya dan berniat untuk pergi, kalau saja teriakan hatinya mengucapkan syukur atas kata yang barusan Sasuke ucapkan... "Jadwal ku bisa ku cancel, aku akan meluangkan waktu untuk kita bersama."

"Benarkah? Terimakasih Sasuke!" Ino merasa senang mendengarnya, bukan untuk kesenangannya pribadi, tapi lebih kesenangan bisa menjalankan misi. Berbeda dengan apa yang dipikirkan Sasuke saat melihat betapa senangnya Ino bisa mengajaknya pergi bersama dan itu hanya berdua.

"Boleh kah aku mengajakmu ke Tokyo Skytree?" pinta Ino. Tempat pelaksanaan eksekusi.

"Hn. Tempat yang bagus."

.

.

.

Tokyo Skytree. 19.30. 23 Juli 20…

"Wah sudah lama aku tidak kesini, Sasuke. Semua terlihat begitu indah." Ino mengedarkan pandangannya, melihat hamparan seperti kerlip bintang yang terpantul oleh lampu-lampu jalan, rumah dan gedung yang berwarna warni.

"Ya begitu indah. Bagaikan dunia terperangkap dimata." Sasuke tak melihat apa yang Ino lihat, ia sudah cukup melihat semua yang indah dari mata aquamarine Ino. Tak hanya indahnya malam tapi langit yang biru bisa ia saksikan dalam waktu yang bersamaan.

Ino yang tak sadar sedang diperhatikan oleh Sasuke, hanya mengangguk."Ya kau benar."

"Eh tunggu, bukan seharusnya aku merayakan ulang tahun mu. Ya walau bukan yang pertama yang mengucapkan, tentu saja Sakura yang terlebih dulu, tapi aku ingin mengucapkan selamat ulang tahun Sasuke. Ku harap kau selalu mendapatkan apa yang kau inginkan dalam kebahagiaan. Dan tunggu.. ini kue untukmu ?" Ino mengeluarkan kotak kecil yang ia bawa sejak tadi yang dalamnya berisi satu Cronut berlumer coklat dengan 1 lilin kecil diatasnya. Ino menyalakan lilin dengan korek api yang sudah ia siapkan disaku jaketnya.

"Tiup lilinnya! Tapi sebelum itu buat sebuah permintaan. Mungkin bisa bahagia dengan orang kau cintai, Sasuke." Ino mengangkat kue itu dengan ke dua tangannya, mengarahkan 15 cm dari bibir Sasuke.

"Tentu saja." Sasuke menutup matanya, berharap apa yang ia minta menjadi kenyataan. Berharap sama yang Ino inginkan. Bisa bahagia bersama orang yang ia cintai.

'Fuuh'

"Horee! Selamat Sasuke! Dan ini untuk mu." Belum sempat Sasuke mengucapkan terimakasih, Ino terlebih dahulu menyerangnya dengan lumeran coklat ke wajahnya.

"Haha, kau kena Sasuke!" Ino tertawa lepas melihat tampang Sasuke yang selalu dipuja para wanita kini harus berlumur dengan coklat yang manis.

"Kau sudah berani rupanya, akan ku balas kau Ino."

.

.

.

Tokyo Skytree. 19.48. 23 Juli 20…

"Kenapa kau mengajak ku kemari, Matsuri?" Tanya Gaara yang harus terpaksa menemani Matsuri berjalan-jalan, kalau bukan Ayahnya yang menyuruhnya, sudah pasti ia lebih memilih diam dirumah.

"Aku hanya ingin pergi saja bersama mu Gaara-kun. Bukankah tempat ini sangat romantis untuk kekasih berkencan?" Matsuri bergelayut manja dengan menyandarkan kepalanya dibahu Gaara. Terlihat seperti sepasang kekasih yang baru jadian.

"Aku tidak suka keramaian dan sudah berapa kali ku bilang, jangan sentuh aku!" Gaara menarik lengannya paksa, membuat Matsuri kaget. "Kau kenapa sih, Gaara-kun ? kenapa aku tak boleh menyentuhmu, sedangkan kau dan wanita itu saling berbagi sentuhan?"

"Hn?"

"Yang kau ajak ke pertunangan Temari-neechan. Kau seakan tak mau lepas dengannya, tapi kenapa kalau dengan ku, kau seperti takut akan terkena alergi kulit."

"Dasar wanita, suka melebih-lebihkan. Baiklah kau mau kemana ? aku lelah." Gaara menyerah dengan sikap kekanakan Matsuri, lebih baik ia turuti saja sebelum menangis menjadi-jadi disini.

"Aku ingin dipinggir balkon itu."

"Hn." semoga tidak terlintas diotaknya untuk mendorong Matsuri jatuh.

.

Cup

"Eggh, Sasuke ? apa yang kau kau lakukan ?" Ino kaget dengan apa yang dilakukan Sasuke. Oh tidak ! Sasuke mencium Ino!

Sasuke menangkupkan tangannya ke kedua pipi Ino. Mendengarkan apa yang Ino ucapkan, tapi bukannya menjawab apa yang Ino tanya, Sasuke malah mencium Ino lagi. "Em... ah Sasuke... henti... kan, ini didepan umum ?" Ino mendorong bahu Sasuke sekuat tenaga untuk memberi jarak diantara mereka.

"Hah... hah... kau mengerjaiku Sasuke?" Tanya Ino heran, mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Wajahnya terasa hangat dan merah seperti tomat kesukaan Sasuke.

"Sasuke ?" Ino mamanggil Sasuke, tapi Sasuke tak mengeluarkan sepatah katapun, karena Sasuke terus saja diam dan menunduk. "Sasuke!" Ino berteriak memanggil Sasuke yang pergi begitu saja meninggalkan Ino sendiri. Ia pun juga tak mengerti ada apa dengan Sasuke. Mencium seenaknya dan pergi begitu saja. 'Semoga Sakura tak tau kejadian ini. Untung dia belum datang,' batin Ino berharap. Ino pun berbalik kebelakang untuk mengambil tas yang ia taruh disuatu bangku kosong. Dan ia hampir saja terjengkang kebelakang melihat seseorang dihadapannya.

"Sakura! kau sudah disini? Se... sejak kapan? Sungguh aku tidak bermaksud menyakiti mu, Sakura. Biar aku jelaskan! Jadi begini... "

"Ya aku mengerti, nanti kau harus ke rumah ku, Ino. Sekarang sepertinya kau harus menyelesaikan masalah mu yang lebih penting."

"Apa?" Tanya Ino heran.

"Aku pergi dulu, Ino." Sakura pergi meninggalkan Ino. Bukan memberinya kesempatan untuk bernafas lega, tapi untuk memberinya serangan jantung. Ternyata ada Gaara dan Matsuri dibelakang Sakura. Kini dapat terlihat jelas mata Gaara dan Ino saling bertemu.

"Gaara-sama? Anda juga disini ?" Hari ini begitu sial bagi Ino. Mendapatkan surprise yang beruntun. Ino tak tau harus mencari alasan apa kepada Gaara.

"Ternyata wanita mu berselingkuh, Gaara-kun. Lebih baik kita pergi saja. Tinggalkan dia!" gadis disebelah Gaara tampak senang dengan kejadian ini. Mencoba memprovokasi.

"Kau pergilahlah, Matsuri."

"Kenapa aku, Gaara-kun ?"

"Sudah ku bilang pergi!" bentak Gaara yang membuat Matsuri pergi dengan menangis.

Gaara dan Ino terus saling memandang, tak ada ucapan yang keluar. Sampai akhirnya Gaara yang harus membuka pembicaraan. "Khekh! Tak kusangka kau cepat sekali berpindah ke lain hati."

"Apa maksud anda, Gaara-sama?"

"Kau seharusnya mematuhi perjanjian kita dahulu, baru berfikir untuk mencari pengganti Shikamaru."

"Kau salah paham, Gaara-sama! Itu bukan mau ku."

"Lalu bagaimana mau mu ?" Gaara mendekat dan menatap intens kedalam mata Ino.

"Jangan mendekat Gaara-sama! Aku tidak ingin memperumit masalah ini. Aku tau aku salah, aku tidak memikirkan bagaimana kalau orang yang tau kita berpacaran melihatku dengan lelaki lain. Jika itu memang maksudmu ?"

"Áku tidak peduli dengan sandiwara kita akan terbongkar. Sepertinya sandiwara ini juga tak perlu dilanjutkan, karena kau sudah membuka hati mu untuk orang lain." Tersirat nada kekecewaan dari perkataan Gaara.

"Gaara-sama, anda salah paham. Dia bukan orang yang ku cinta!" teriak Ino. Melihat Gaara sudah berbalik menjahuinya. Dia tak ingin semua orang salah paham terhadapnya.

Gaara diam sejenak. Lalu dia melanjutkan langkahnya pergi tanpa menoleh kepada Ino.

.

.

.

Rumah Sakura. 10.00 PM. 23 Juli 20…

Ino sudah bersiap menghadapi amarah sakura. Ino tau resikonya, tapi hei! Ini bukan sepenuhnya salahnya. Sakura yang menyuruhnya untuk melakukan sandiwara ini. Dia juga sudah memperingatkan Sakura jika ia tak akan bertanggung jawab jika hubungan Sakura dengan Sasuke akan berantakan. Dan dia juga tak tau jika akhirnya akan seperti ini.

Ino sekarang berada didalam kamar Sakura. Duduk dikasur bernuansa bunga Sakura yang bermekaran, menunggu Sakura pergi ke dapur. Tunggu ! Apa Sakura akan membunuhnya ? jangan-jangan dia bawa pisau dan sedang mempersiapkan bumbu untuk memasaknya?. Pikiran Ino terlalu mengkhayal diluar batas, sampai khayalannya buyar setelah Sakura masuk membawa nampan berisi 2 cangkir teh hijau dan beberapa cookies.

"Ternyata benar kalau Sasuke suka pada mu, Ino." Sakura duduk dekat Ino. Membuka pembicaraan mengenai kejadian tadi.

"Ha? Jangan menyimpulkan hal yang tidak-tidak."

"Aku tidak salah menyimpulkan, Ino. Semuanya sudah terbukti!"

"Apa hanya karena Sasuke bersama ku ? itu kan yang kau mau ? atau karena Sasuke... menciumku ?" Tanya Ino hati-hati.

"Itu salah satunya."

"Salah duanya ?" Tanya Ino menaikkan alisnya.

"Dia punya foto mu."

"Foto album perpisahan ? teman-teman kita juga punya kan ?"

"Bukan itu, pig ! tapi dia punya postermu, ku ulangi 5 POSTER besar fotomu dikamarnya!" Sakura mengangkat 5 jarinya ke wajah Ino.

"What !? kau tak salah lihat? Itu fotomu mungkin ?"

"Sejak kapan rambutku berubah jadi pirang, warna mata ku aquamarine dan berwajah indo ? Hah!?"

"Jadi benar ? OMG! Kenapa semua menjadi rumit ? lalu kenapa kalian bisa bertahan sejak lama?" Tanya Ino setelah menyeruput teh hijau untuk menenangkan diri.

"Agar Sasuke bisa dekat dengan mu waktu sekolah tanpa ketahuan dan dia juga tak mungkin memiliki mu kalau ada Shikamaru, kan ?" Sakura menyandarkan bahunya di pinggiran kasur.

Ino mengangguk. "Masuk diakal. Lalu setelah aku putus dengan Shika. Kalian tetap bersama kan ?"

"Sebenarnya aku sudah putus dengan Sasuke 3 tahun yang lalu, sekarang kami hanya berteman saja," jelas Sakura.

"Kenapa kau tidak pernah cerita pada ku ?"

"Untuk apa ? hanya menambah pikiran mu saja kan ?"

"Hmm ya, tapi jika Sasuke adalah jodoh mu, pasti dia akan kembali pada mu, buat dia lupa pada ku, oke ?" Ino menepuk ke dua pundak Sakura. Memberi semangat, jika Sakura bisa memperjuangkan cintanya.

"Hmm, akan ku coba, thanks. Tapi ada satu hal lagi yang terbukti."

"Apa ? ada lagi ?" Tanya Ino.

"Hn. Aku melihat jika Tuan Sabaku-sama sangat cemburu saat melihatmu dicium oleh Sasuke tadi."

"Ku mohon jangan mulai lagi Sakura. Aku tidak ingin memikirkan laki-laki."

"Oke. Kau menginaplah disini, Ino. Selagi besok hari libur kerja."

"Ya, baiklah."

.

.

.

Minggu. Rumah Sakura 8.05 AM. 24 Juli 20…

"Sakura, apa aku harus ke apartemen Gaara-sama ?" Tanya Ino yang sudah berganti baju dan berdandan.

"Ya. Jika kau berniat meminta maaf," jawab Sakura menyiapkan sarapan.

"Tapi apa dia akan mengerti ?"

"Dia akan mengerti. Aku yakin. Percayalah."

"Mm... baiklah akan ku coba," jawab Ino lalu ia pergi mengambil tasnya dikamar Sakura.

"Kau tidak sarapan dulu, Ino?"

"Tidak. Terimakasih Sakura. Kau tau ? You are my bestfriend." Peluk Ino pada Sakura. Mengartikan sebuah dekapan sebagai tanda sayang.

"Ya... ya... aku tau itu. Oke. Hati-hati, Ino-chan. Berjuanglah !"

.

.

.

The House apartement 08.32 A.M

Yak. Disinilah Ino berdiri, didepan pintu apartemen milik Gaara. Ia baru pertama kali datang kemari, dia tau alamat Gaara karena tentu saja Gaara yang memberitahunya. Degub jantungnya sama seperti pertama kali masuk ke ruangan Gaara sebagai sekretaris Gaara. Tapi ini masalahnya lebih rumit dari yang diperkirakan, jika dulu ia masuk ke 'kandang singa' sekarang ia sudah masuk kadang singa dan harus menjadi 'pawang singa'nya juga.

'Tuhan, hidup dan mati ku ku serahkan pada mu,' do'a Ino dalam hati.

Ting... tong... Ting... tong… Suara bel terus berbunyi tanpa henti, menyeruak sampai ke telinga pemilik rumah.

'Krek'

"Hn ?" Gaara menaikkan alisnya, bukan karena heran siapa yang datang, tapi kenapa dia datang. Gaara menemui tamunya dengan tanpa persiapan. Hanya memakai celana pendek dan kemeja berwarna biru muda polos.

"Bolehkah aku masuk ?" Tanya sang tamu. "Apa kekasih barumu mengijinkanmu untuk datang ke sini ?"

"Bisakah kita bicara, tuan Sabaku-sama?!"

"Hn. Masuklah." Gaara akhirnya menyerah dan mempersilahkan tamunya masuk.

"Duduklah, apa yang ingin kau bicarakan ?" Tanya Gaara. Dia duduk di diujung kanan sofa panjangnya dan Ino duduk diujung kiri sofa.

"Aku ingin meminta maaf pada anda," ucap Ino dengan menundukkan kepalanya.

"Untuk ?" Tanya Gaara menaikkan alis tipisnya.

"Tentang kejadian yang kemarin."

"Kau tidak perlu meminta maaf, kau bebas melakukannya. Aku yang salah," ujar Gaara menghadap Ino dengan tangan tetap ia silangkan didepan dada. "Bukan itu maksudku! Anda salah paham. Aku tidak sedang berpacaran. Sebenarnya dia mantan kekasih Sakura dan ternyata aku baru tau kalau sejak dulu ia menyukai ku," jelas Ino.

"Lalu, bagaimana dengan mu ? kau juga menyukainya ? atau kau ingin bersama orang yang sudah menyukaimu sejak lama?" Sekarang sudah kebiasaan Gaara bertanya lebih dari 2 pertanyaan dalam 1 kalimat.

"Tidak ! Tidak sama sekali!" jawab Ino spontan.

"Atau Shikamaru masih ada dihati mu ?" Tanya Gaara dengan menggeser duduknya untuk lebih dekat dengan Ino. Mengangkat dagu Ino dengan satu jari dan membuat Ino menghadap wajahnya.

"Sudah separuh hilang, aku juga tidak tau kenapa tiba-tiba memudar... " Ino menatap bola mata Gaara berwarna turquoise, seperti berada didalam padang rumput. Indah dan teduh.

"Lalu setengahnya untuk siapa ?" Gaara terus berusaha mencari jawaban, walau dari mata bisa terungkap tanpa mulut bicara.

"Itu untuk... untuk... " Ino tak bisa melanjutkan kata-katanya, ia hanya bisa memainkan jarinya. Bagaimana bisa menjawab, jika dia harus menjawab dalam keadaan jantungnya berdegup kencang, telinga terasa panas dan mata terhipnotis oleh mata Gaara yang mengandung magic menatapnya.

Ino kaget karena dalam seketika Gaara menciumnya. Lebih cepat dari kedipan mata.

"Emm... Gaara-sa... "

"Panggil aku Gaara saja, Ino. Apa ada bekas bibirnya di bibir mu ?"

"Maskudnya ?" Tanya Ino bingung.

"Akan ku bersihkan!" belum sempat Ino tau maksud dari ucapan Gaara. Gaara sudah melancarkan aksinya.

"Emm... akh!" Gaara menggigit kecil bibir bawah Ino, membuat Ino spontan membuka rongga mulutnya untuk bisa diakses Gaara dengan leluasa. Mensensus gigi Ino.

"Ah... Gaara!" desah Ino, karena Gaara menemukan titik sensitifnya. Ino tak kuasa untuk tak menahan suara desahan yang keluar dari bibirnya. Ini sudah terlanjur jika mau mengakhiri.

Gaara menekan tengkuk Ino untuk memperdalam ciuman mereka. Tanpa disadari, jemari tangan kanan Ino terangkat untuk menelusup ke dalam rambut Gaara, meremas helain surai merah milik Gaara. Mereka bergonta-ganti posisi ciuman, saling memalingkan wajah ke kanan atau ke kiri. Mempertemukan bibir mereka agar saling memberi sapuan dan saliva. Sungguh, lagi-lagi Ino terbuai dengan ciuman Gaara. Spontan tapi menghanyutkan, singkat tapi memikat dan lembut tapi menuntut. Berbeda dengan ciuman Shikamaru atau Sasuke kemarin.

"Su... sudah Gaara!" Ino mendorong bahu Gaara, dia sudah kehabisan nafas dan perlu pasokan oksigen. 15 menit waktu yang cukup untuk menguras udara diparu-parunya.

"Tunggu... " sepertinya Gaara belum puas akan aksinya.

'Buk'

"Aw!" Ino terdorong jatuh kesofa berwarna merah maroon, memposisikan dirinya terlentang dengan Gaara diatasnya, tanpa melepas ciuman yang Gaara berikan.

Tangan kanan Garaa menelusup ke arah belakang pinggang Ino, mendekap Ino semakin erat padanya, memposisikan pertemuan bibir meraka untuk mendapatkan puncak hasrat yang mereka inginkan. Tangan kanan Ino masih memilin helaian rambut Gaara yang basah kuyup dengan keringat dan tangan tangan kirinya meremas kemeja Gaara yang tanpa sengaja kacing atas tertarik dan lepas begitu saja, memperlihatkan dada bidang Gaara.

Gaara menyudahi ciuman mereka hanya untuk mengatakan sesuatu yang amat penting baginya, tapi sungguh dalam hatinya masih berniat melanjutkan aksi ganasnya.

"Ino, aku men… "

Ting... Tong.. ting.… Tong...

"Gaara-chan apa kau didalam!" seru seorang tamu diluar.

Pupuslah rencana yang ia bayangkan..

"Temari-nee!" Ino melonjak kaget mendengar suara Temari. Buru-buru Ino merapikan pakaiannya yang kusut karena aksi saling menempel tadi.

"Shit!" Gaara melangkah mendekati pintu, membukakan pintu untuk tamu yang merusak suasananya.

"Tumben nee-chan kemari ?" Tanya Gaara dengan bersandar pada pintu.

"Memang aku tak boleh mengunjungi adikku sendiri! Wow! Kenapa kau berkeringat? Apa kau baru saja selesai jogging ?" Temari melihat tampilan Gaara yang kacau dan penuh keringat, mengira Gaara selesai jogging di area apartemen.

"Sudah cepat katakan kenapa nee-chan kemari ?"

"Aku membawakan makanan untuk mu dan kenapa kau menghalangi aku masuk? seperti kau menyembunyikan sesuatu saja." Temari menerobos masuk ke dalam. Karena tak seperti biasanya Gaara tak langsung mempersilahkannya masuk.

"Ino ! kau disini juga ? tunggu … jangan-jangan kalian berdua… ?" Temari melihat Ino ada didalam dengan rambut yang sedikit berantakan dan tentu saja keringat dingin yang bercucuran. Menimbulkan sebuah kecurigaan besar.

"Kami tidak !" Teriak Ino spontan dengan melambaikan ke dua tangannya ke depan.

"Sedang jogging bersama ?" lanjut Temari. Membuat Gaara dan Ino cengo.

"Oh ya Ino ! Kau mau membantu ku membuat sarapan ? kita akan makan bersama."

"Baiklah, Temari-nee." Ino dan Temari langsung menuju dapur, sedang Gaara ingin duduk melihat televisi saja.

"Kau sana! Ganti baju mu, Gaara!" Perintah Temari sebelum pantat Gaara menyentuh sofa dan Gaara hanya bisa menghela nafas.

.

.

"Apa kau mencintai Gaara, Ino ?" Tanya Temari yang sedang membuka kantung plastic berisi sushi.

"Ya tentu saja. Temari-nee kan pernah menanyakan itu ?"

"Ah tidak. Aku hanya memastikan saja. Gaara itu jika sudah menemukan orang yang dia cintai, pasti dia akan memperjuangkannya. Tidak peduli dunia menentangnya. Dia adalah adik yang paling ku sayang, semoga kau tak pernah menyakitinya karena orang lain, entah orang dimasa lalu mu atau dimasa yang akan datang."

"I... iya Temari-nee," jawab Ino sambil menata sushi ke atas piring saji.

"Oke baiklah. Terimakasih telah membantu. Yuk kita sarapan bersama!" Temari dan Ino masing-masing membawa 1 piring sushi ke meja makan.

"Oh ya Gaara, kapan kau akan mengenalkan Ino-chan pada ayah ibu ?" Tanya Temari.

"Secepatnya. Mungkin minggu depan."

"Khekh ! se... cepat itu !?" Ino hampir saja menyemburkan sushi dimulutnya, tak disangka sandiwaranya akan melibatkan orang tua segala. Dia tak mungkin bisa berbohong dihadapan orang tua. Itu kan dosa ?

"Tenang saja. Orang tua ku tidak akan macam-macam pada mu." Temari menepuk pundak Ino menenangkan.

"Hm. Baiklah."

Setelah percakapan singkat itu, mereka hanya bisa makan dengan canggung, Temari tak banyak bicara seperti biasanya, tak bilang 'iri' lagi saat melihat Gaara menyuapi Ino dan sebaliknya. Saling mengusap sudut bibir karena ada nasi yang tersisa. Walau yang mereka lakukan adalah sandiwara, tapi bagi Temari mereka adalah pasangan yang benar-benar serasi, susah rasanya harus memisahkan mereka. Mewujudkan harapan seseorang yang ia cintai untuk merusak kebahagiaan orang yang ia sayangi.

"Sepertinya aku harus segera pulang Gaara. Aku tak mau lama-lama menjadi obat nyamuk disini. Aku juga harus ke kantor Shikamaru dulu," ucap Temari sambil berdiri. "Baik-baik dirumah ya Gaara, jangan nakal dengan Ino."

"Kekh, aku bukan anak kecil."

"Oke bye." Gaara dan Ino mengantar Temari pergi ke depan pintu.

"Aku harus beres-beres meja makan dulu, Gaara." Ino segera berlari untuk membereskan meja makan dan mencuci piring. Sedangkan Gaara kembali duduk disofa melihat acara televisi. Yang sudah tentu semua acaranya membosankan.

"Gaara, aku juga harus pulang," kata Ino pada Gaara yang sedang menonton televisi.

Gaara menahan tangan Ino, "Kenapa buru-buru?"

"Aku ada janji dengan Sakura," kilah Ino. Gaara masih menahan tangan Ino dengan tangan kirinya dan tangan kanannya untuk menekan kontak di Handphonenya. Setelah ada nada sambung, Gaara men-loudspeaker suaranya.

'Moshi-moshi' salam seseorang diujung telepon.

"Sakura. Apa kau ada janji dengan Ino?" Tanya Gaara.

'Tidak ada, kenapa Sabaku-sama ?'

Tut... tut... Sebelum mendapat jawaban, Gaara sudah memutuskan sambungan teleponnya.

'Sial! Sakura tidak bisa diajak kompromi.' Kesal Ino dalam hati.

"Dengar kan? Jadi temani aku sebentar, tenang saja aku tidak akan menyerang mu." Gaara menarik Ino untuk duduk kembali, tepat disebelahnya. Gaara merebahkan kepalanya dipaha Ino setelah ia mematikan televisi.

"Gaara!"

"Beri waktu aku untuk istirahat."

Tangan Ino tanpa sadar membelai rambut Gaara, menyisir dengan jemari lentiknya. Seperti cara menidurkan anak.

"Gaara?"

"Hn?"

"Apa dengan gadis yang kemarin yang bersamamu di Tokyo Skytree, yang akan dijodohkan dengan mu ?" Tanya Ino.

"Hn."

"Kenapa kau tidak menerima perjodohan itu ? kelihatannya dia cantik, kaya, pintar dan gadis yang sepadan dengan mu."

"Itu menurutmu, bukan diriku."

"Tapi... "

"Sstt, biarkan aku tidur." Gaara menyamankan posisi tidurnya, menarik tangan kiri Ino dan menggenggamnya diatas dada. Entah karena takut Ino akan pergi atau hanya sebuah pegangan yang bisa membuatnya cepat tidur? Entahlah. Gaara menghembuskan nafasnya panjang lalu teratur, menandakan dia mulai terbuai mimpi.

"Dia kelihatan lelah sekali. Matanya menghitam, pasti dia kurang tidur." Ino memperhatikan setiap lekuk wajah Gaara. Tampang memang tampan, tapi bukan itu yang membuatnya terpikat tapi sebuah lengkung dibawah hidung, walau jarang tersenyum tapi jika bibir itu sudah beraksi, akan membuatnya bisa melupakan semuanya. Ino menepis semua bayangan itu, dia harus sadar jika ini hanya sandiwara, maka ia harus tetap bersandiwara. Ino terus membelai surai merah Gaara, sampai ia juga terbuai ke dalam mimpi.


Cinta datang siapa yang tau.. walau hati sudah terisi cinta yang penuh kenangan, lama-lama juga akan hilang dengan datangnya cinta baru.

Seperti segelas air, walau dia berisi kopi, kalau dituang air terus menerus, maka kopipun juga menghilang.

Tapi kalau gelas itu sudah tertutup, maka air susu yang manis pun tak akan bisa menghilangkan air biasa.

Anggap saja kita hidup 100 tahun, cinta lama tak akan sebanding dengan lamanya kita akan mengarungi masa depan dengan cinta baru.

Jadi kau memilih stay dengan cinta lama yang sudah memberikan mu kebahagiaan tapi itu hanya sebuah kenangan atau move on dengan cinta baru yang kebahagiaannya bisa kau tentukan sendiri?

What choice for your love ?

-TBC-


OMG..! bala bala baby ! aku belum update hampir 2 bulan...

I'm sorry guys.. banyak penghambat untuk saya update.. kalau enggak kerjaan kantor yang tiada hentinya, sakit demam berdarah dan bad mood yang berkepanjangan..

Jadi maaf yaa kalau kelanjutannya masih belum berkenan dihati para pembaca.. masih seperti chapter sebelumnya, chapter ini masih banyak cincong.. karna saya akui saya suka menulis dialog daripada mendiskripsikan sesuatu. Jadi yang paling susah adalah membuat bumbu-bumbu penyedap untuk dialognya. Dan maaf jika disini ada pecinta pair Sasuke x Sakura, saya bukan maksud untuk menghancurkan jalinan cinta mereka, tapi mau gimana lagi, tuntunan skenarionya begitu, biar ada cara bikin Gaara cemburu. Apa chapter ini sudah panjang ?

Dan ya Aammpunn ! di dalam hati yang terdalam, kepingin banget nonton the Last Naruto the Movie. Tapi takuttt….

Takut menerima kenyataan kalau endingnya tidak sesuai dengan harapan.. jujur setalah MK bilang Naruto bakal tamat, sejak saat itu kalau ada Naruto di TV, enggak berani nonton. Karena biasanya setelah nonton film Naruto atau baca komiknya bakal mengkhayal didalam tidur kelanjutan ceritanya versi sendiri. Entah canon atau AU. Karena dipikirnya ending masih lama.. tapi karena sudah benar-benar tamat, khayalan itu semakin berkurang.. entah why ?

Jadi gimana yaa caranya menghilangkan rasa takut untuk nonton film Naruto yang terakhir. Tanpa harus nangis menderu-nderu..

Oke. Sekian curcol bala-bala eke yang enggak penting… Terimakasih sudah menyempatkan mata anda melihat tulisan GeJe ini. Semoga tidak sakit mata.. Jika 2 x 24 jam belum sembuh, segera larikan ke rumah sakit.

Thanks all…

Loveee uuu… (^3^)