ONE GO, ONE GET
Pairing : Ino x Gaara
slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari
Rate : T ( Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)
NO BASHING CHARA
Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.
Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dst, sbb, etc.
Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).
Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.
Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.
Chapter 10
Tak terasa sudah 3 bulan Ino dan Gaara bermain sandiwara cinta, tak ada kata terucap diantara mereka untuk mengakhirinya. Malah sekarang, setelah bermain marah-marahan dan cemburu-cemburuan 1 bulan yang lalu, Gaara tak segan mengumbar kemesraannya dengan Ino didepan orang, entah itu di kantor atau di depan umum. Tanpa basa-basi, Gaara sering menggengam tangan Ino, memeluk Ino secara spontan, memberi dan meminta ciuman selamat pagi pada Ino dan tak luput juga ciuman selamat tinggal saat Gaara mengantar Ino pulang ke rumah. Rasanya mereka seperti tidak sedang bermain sandiwara, tapi menyandiwara hati mereka untuk bersikap jujur.
Gara-gara kelakuan Ino dan Gaara yang mengekspos kedekatan mereka, tak pelak banyak karyawan kantor yang sering membicarakan hubungan mereka, sudah tentu ada pro dan kontra. Sebagian karyawan memuji keserasian mereka, Gaara yang tampan dan Ino yang cantik, 2 perpaduan yang pas. Ada pula para wanita yang iri pada posisi Ino yang bisa menjadi kekasih Gaara. Tapi tak menutup kemungkinan banyak pula yang menggunjing mereka, dibilang Ino hanya wanita materialistis – mengincar kekayaan keluarga Sabaku atau Ino adalah wanita penggoda. Tapi tak ketinggalan, Gaara menjadi sasaran gunjingan karyawannya sendiri, kalau Gaara ada adalah playboy cap ikan mas atau Gaara berselera rendah, memacari sekretarisnya sendiri.
Semua bisik-bisik tetangga terdengar sampai ke telinga Gaara dan Ino. Mengusik pikiran Ino takut jika isu itu semakin merayap dan dilebih-lebihkan.
Ino yang saat ini berada didepan Gaara untuk meminta tandatangan dokumen, memberanikan diri untuk membahas masalah ini. "Gaara?"
"Hn?" gumam Gaara membolak-balik lembaran yang harus ia tandatangani.
"Apa kau tidak dengar akhir-akhir ini semua karyawan membicarakan kita?"
Gaara yang tau apa maksud pembicaraan Ino, akhirnya menyandarkan punggungnya ke kursi dan menatap Ino yang berdiri didepannya. "Tidak usah dihiraukan."
"Ini semua salahmu !" ucap Ino kesal.
"Kenapa aku ?" Tanya Gaara menaikkan alisnya dan menautkan ujung-ujung jarinya didepan wajahnya.
"Kalau saja kau tidak menciumku dan menggandeng tanganku di depan umum, semua tidak akan begini," jelas Ino yang malu untuk mengingatkan kelakuan nakal Gaara padanya.
"Kau tidak suka ? kenapa tak menolak atau menghindar? jangan bertingkah kau adalah korban dan aku tersangka."
"Walaupun aku menolak, kau juga tidak akan menghiraukannya kan ? kau pasti akan melakukan dengan atau tanpa persetujuanku kan ?" bela Ino.
"Ya benar. Kalau begitu nikmati saja," ucap Gaara santai melanjutkan menandatangani lembar terakhir dokumennya.
"Aishh, kau ini ! tidak bisakah kau bersikap serius?" Ino menghentakkan tangannya ke meja Gaara.
"Kau tau diriku, bukan ?" kata Gaara sambil menyerahkan dokumen yang selesai ia baca dan ditandatangani ke Ino.
"Huh dasar!" Ino langsung mengambil dokumen dari tangan Gaara dan membalikkan tubuhnya, berjalan ke arah meja kerjanya. Belum sempat Ino duduk di kursinya, Gaara sudah berkata, "Nanti ikutlah dengan ku."
"Kemana ? sepertinya kita tak punya jadwal pertemuan dengan perusahaan lain ?" Tanya Ino bingung.
"Nanti kau juga akan tau."
"Cepat katakan! Atau aku tidak akan mau ikut."
"Akan ku paksa."
"Kalau begitu kau tidak akan dapat jatah ciuman setiap hari, bagaimana?" ucap Ino dengan tangan dilipat didepan dada dan senyum membentuk seringai.
"Kheh! Kau mengancam ?"
"Yahh, Kalau kau takut dengan ancamanku."
"Baiklah. Ke rumahku. Puas ?" akhirnya Gaara menyerah dengan ancaman Ino, anggap saja mencoba mengalah bukan karena takut dengan ancaman Ino. Takut tidak dapat jatah ? mana mungkin kan ?
"Hah ?! untuk apa ? berdua saja ?" Ino segera menyilangkan tangannya di depan dada, takut mengulang kejadian yang dia alami di rumah Gaara. Ya walaupun kejadian itu mereka sama-sama mau kan ?
"Apa yang kau pikirkan? Ternyata kau lebih mesum dari ku. Aku akan mengajakmu ke rumah orang tua ku." Gaara tau apa yang dipikirkan Ino. Pasti tentang aksi saling tempel menempel tempo hari. Walau sama-sama mau, tapi kalau bukan Gaara yang mulai duluan, itu tak akan terjadi. "Untuk apa ?"
"Untuk mengenalkan mu pada orang tua ku. Kita harus terlihat meyakinkan. Karena jadwal pertemuanku beberapa minggu lalu padat, jadi aku tak bisa mengajakmu secepat yang ku janjikan dulu."
"Apa harus sekarang? Bisa kita tunda besok... Oh tunggu! Mungkin tahun depan, mungkin ?" ucap Io dengan tampang memelas. "Tidak bisa! Jangan mencari alasan. Atau kau ingin menikmati masa pacaran kita ?" Sekarang giliran Gaara yang berseringai.
"Tidak! siapa ingin begitu." Teriak Ino lantang, kemudian tersambung kata, "Oke, aku ikut" dengan lirih.
"Baiklah. Setelah pulang kantor, aku akan mengantarmu ke rumahmu, kau bersiaplah. Lalu akan ku jemput jam 7 untuk makan malam dengan orang tua ku," kata Gaara yang hanya disahuti dengan anggukan pelan dan bibir manyun Ino.
.
.
.
Suatu tempat yang mengerikan…
Sungguh Ino dalam masalah yang amat teramat sangat besar. Bagaimana tidak ?
Sebuah gerbang menuju neraka akan ia lewati. Tidak ada jalan lain untuk dia lari. Melangkah maju adalah tujuan kakinya saat ini.
Sebuah rumah bagaikan istana bergaya Eropa berpadu tradisional Jepang dengan nuansa putih. Indah dan megah bagikan disurga. Mengecoh mata. Tapi ia tahu didalamnya ada ranjau yang siap membunuhnya.
Walau sekarang disampingnya ada seorang malaikat penjaga, tapi ia juga salah satu penghuni tempat mengerikan itu. Siap tak siap, ia harus menuntaskan misinya. Lebih cepat lebih baik.
Gaara, laki-laki disebelahnya menggenggam tangan Ino. Menoleh untuk meyakinkan jika Ino baik-baik saja, karena dia akan diajak ke dalam kediaman Sabaku, orang nomor wahid di Jepang, tentu saja untuk bertemu calon mertua bohong-bohongan.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Gaara yang melihat wajah Ino sekarang memucat dan tangan terasa dingin.
"Ya. Apa sungguh orang tua mu akan menyukaiku ? bagaimana kalau tidak ? atau bagaimana kalau sandiwara kita terbongkar ?" Tanya Ino yang bingung apa yang harus ia lakukan saat sudah masuk nanti.
"Sstt. Bicaralah seperlunya saja dan tenanglah, aku ada disamping mu," ucap Gaara menenangkan dan mempererat genggaman tangannya.
"Fuh… oke." Gaara dan Ino akhirnya melangkah untuk masuk ke dalam rumah mengerikan itu (versi Ino).
.
.
.
"Selamat malam, Tou-san, Kaa-san" salam Gaara kepada orang tuanya yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Hah anakku, akhirnya kau pulang juga. Kaa-san merindukanmu," ucap seorang wanita tua namun masih terpancar aura kecantikannya, Karura namanya, memeluk erat sang anak yang sudah tak lama pulang.
"Aku juga merindukanmu, Kaa-san." Gaara balas memeluk ibunya dengan hikmat. Sedangkan sang ayah terlihat diam, bukan berarti dia tak sayang anaknya, namun terlalu gengsi mengakui.
"Dan siapa gadis cantik ini, Gaara ?" Tanya ibu Gaara yang melihat seorang wanita cantik berbaju mini dress berwarna biru soft berlengan panjang, tampak berdiri dengan anggun dibelakang Gaara.
Gaara menoleh dan menarik tangan Ino mendekat padanya, "Dia adalah kekasihku, Kaa-san."
"Salam, Oji-san, Oba-san. Saya Yamanaka Ino," salam Ino dengan membungkuk 45 derajat ke arah ibu Gaara dan sedikit menyerong untuk memberi salam pada ayah Gaara yang masih anteng duduk disofa.
"Benarkah, Gaara? Tak pernah Kaa-san kira kau akan mempunyai kekasih." Senyum indah tersungging diwajah ibu Gaara, dengan sekejap mata bisa ia lihat jika mereka memang pasangan yang cocok dan terlihat... begitu saling mencintai.
"Makanya, Kaa-san. Aku tak ingin dijodohkan dengan Matsuri. Dia hanya ku anggap sebagai adikku saja. Tidak lebih."
"Ehm," suara serak terdengar dari sang ayah, Sabaku No Rai. "Duduklah dulu," perintah sang ayah pada semuanya.
"Apa kau yakin dengan pilihanmu, Gaara?" Tanya sang ayah setelah menatap Ino lama. Meneliti dari ujung rambut hingga kepala. Tanpa interogasi seperti dikepolisian.
Gaara menggenggam tangan Ino dan menaruhnya diatas paha Gaara, "aku tak pernah seyakin ini, Tou-san. Jangan bilang jika semua ini demi kelangsungan perusahaan kita. Sama seperti yang Tou-san lakukan dengan nee-chan dan Shikamaru?"
"Jangan berfikir seperti itu pada Tou-san mu, Gaara." Sang ibu dengan aura kasihnya ingin mencairkan suasana yang agak kelam ini.
"Tou-san menikahkan Temari dengan Shikamaru karena memang mereka saling mencintai. Tapi jika kalian juga saling mencintai. Tou-san tidak akan melarang. Apa kau selama ini berfikir seperti itu pada Tou-san? Harta Tou-san bukanlah perusahaan, karena ia tak akan abadi walaupun kalian akan meneruskannya. Tapi keluarga ayahlah yang harta yang paling berarti, karena ia akan memberikan kebahagiaan yang abadi," jelas sang ayah dengan menundukkan kepala. Gaara tak pernah melihat ayahnya serapuh ini, terlalu banyak kata yang keluar dari mulutnya. Mungkin ia salah mengartikan maksud dari setiap tindakan ayahnya. Tapi namanya Gaara tetap saja pada gengsinya untuk meminta maaf, mungkin sudah keturunan dari nenek moyang. Pantang untuk bersedih dan menangis. Harga diri nomor satu.
Sang ayah lalu mendongak, menatap Gaara dan Ino bergantian dan ia pun tersenyum, "Kalau kalian memang sangat serius akan hubungan kalian. Tou-san tidak akan mencegahnya. Tou-san terlalu lelah mengurusi tingkah laku kalian. Sebaiknya kalian cepat menikah. Itu lebih baik."
"Ya itu ide yang bagus," timpal Gaara dengan enteng.
"Tidak !" ucap Ino spontan.
"Kenapa Ino-chan? Apa kau tidak setuju?" Tanya ibu Gaara .
"Bukan begitu, oba-san. Maksudku, Temari-nee kan belum menikah, tidak baik jika kami mendahuluinya, apalagi Temari-nee sudah bertunangan."
"Kalau begitu acara pernikahan kalian dengan Temari jadi satu saja. Bukankah kemarin Temari dan Shika mempercepat tanggal pernikahan mereka kan, Rai-koi ? sepertinya mereka tak sabar menjadi sepasang suami-istri." Usul sang ibu lagi. Yang hanya ditanggapi anggukan oleh sang suami.
'Mempercepat tanggal pernikahan ? apa benar mereka sudah tak sabar untuk menikah ?' batin Ino. "Itu juga jangan Oba-san."
Sang Ibu mengerutkan keningnya, "kenapa lagi, Ino-chan ?"
"Tidak enakkan jika cara pernikahan harus dibagi dua, ini adalah acara pernikahan yang tentu saja 1 kali seumur hidup. Kami dan Temari-nee pasti ingin acara pernikahan yang berkesan menjadi satu-satunya pusat perhatian," jelas Ino.
"Kau benar, Ino-chan. Lalu kalian akan mengadakan kapan ?"
"Tahun depan saja, Oba-san," jawab Ino yakin. Mencari cara untuk tidak terjebak dalam sandiwara yang lebih jauh lagi. "Apa itu tidak terlalu lama, Ino-chan ?
"Ah tidak, Oba-san. Kami ingin menikmati masa pacaran dan mengenal keluarga. Tidak ingin terlalu terburu-buru," ucap Ino dengan senyum. Ternyata ia salah mengira jika keluarga Sabaku mengerikan, ternyata keluarga ini sangatlah ramah dan langsung menerimanya tanpa adegan tidak direstui seperti difilm-film telanovela yang sering ia tonton diDVD sewaan.
Setelah itu, ibu Gaara mengajak makan bersama. Dimeja makan ibu Gaara banyak bercerita disela makannya mengenai masa kecil Gaara, tentang bagaimana Gaara anti dengan perempuan dan sikap Gaara yang akhir-akhir ini berubah, lebih hangat dengan keluarga dan pasti itu karena kehadiran Ino didalam hidup Gaara.
.
.
.
.
Setelah acara makan, Gaara mengajak Ino untuk berkeliling rumah, berjalan beriringan tanpa kata. Tiba-tiba rasa canggung menyelimuti mereka. Ino yang tak kuat dengan mode silent sepeti ini. Dia mencoba mengawali pembicaraan, "apa yang kau lakukan tadi ?"
"Memang apa yang ku lakukan ?"
"Kenapa kau setuju kita menikah ? bukankah perjanjian kita hanya sebatas pembatalan perjodohanmu?"
"Benar. Memang kau tak mau menikah dengan ku ?" Gaara berhenti. Lalu ia menghadap Ino agar mereka bisa saling bertatap muka.
Ino tertawa garing, "Menikah dengan mu ? yang benar saja. Bermimpi saja tak berani. Kau lebih pantas dengan wanita yang setara dengan mu, Gaara." Ino mencoba tak menatap langsung mata turquoise Gaara. "Kalau kau diajak menikah oleh Shikamaru, apa kau mau ? sedangkan dia tak setara dengan mu? Maaf, maksudku bukan begitu."
"Aku tahu itu. Tapi aku tahu Shikamaru memahami pernikahan atas dasar cinta bukan harta. Dulu kami bermimpi menikah dengan sederhana, memiliki rumah sederhana, memiliki 2 anak yang lucu. Hanya sesederhana itu." Ino membayangkan kejadian saat dia masih dibangku SMA, sebuah pemikiran yang masih labil saat itu.
"Kau masih mengharapkan Sikamaru ?" Tanya Gaara datar.
Ino mengangakat bahunya, "entahlah. Tapi jika aku harus jujur, aku masih mengharapkannya, walau tak sepenuhnya."
"Jadi menikah dengan ku juga tak ada salahnya kan ? Aku bisa memenuhi segala ke inginanmu. Hidup dengan tidak sederhana. Pernikahan atas dasar cinta, apa itu cukup ?" Tanya Gaara sarkatis.
"Memang hidup butuh harta, tapi harta tidak bisa membeli hidup. Tidak semua harus diukur dengan harta, Gaara."
"Jangan terlalu munafik, Ino. Sepertinya kau begitu. Semua wanita suka perhiasan, barang branded dan kekuasaan. Derajat yang mengukur mu. Setelah kau punya banyak harta, kau akan lupa apa itu sederhana."
'plak'. Ino menampar Gaara keras. Ia tahu itu pasti sakit. Tapi lebih sakit telinganya saat mendengar orang menyimpulkan yang tidak-tidak terhadapnya.
"Aku tahu aku tak memiliki apa-apa dan kau punya kekuasaan, bukan berarti kau bisa merendahkanku seperti itu. Aku bukan wanita yang senang mengincar harta orang. Kau benar, derajat bisa mengukur kekuasaanmu, tapi aku tak mau menjadi orang berharta, agar aku tak pernah lupa diri saat uang tak bisa memberikanku kebahagiaan. Jadi jika penilaianmu terhadapku seperti itu, silahkan ! aku tak peduli dengan orang yang berfikir rendah. Ternyata aku salah menilaimu, Tuan Sabaku yang terhormat!" amarah Ino sudah memuncak sampai tak peduli siapa yang habis ia tampar dan marahi. Tak peduli jika bosnya setelah ini akan memecatnya dengan tidak hormat bahkan lebih parah memenjarakannya.
Gaara tampak hanya menahan sakit, membiarkan sengatan perih dipipinya. "Tapi aku benar menilaimu. Aku tahu kau tak seperti itu. Aku hanya ingin mengujimu saja."
Ino mendelik menatap Gaara seoalah berkata 'apa-kau-sedang-membuat-lelucon?- Sepetinya ia harus sering mengorek kupingnya agar tidak terjadi ketulian dini. "Kau gila ? kenapa kau harus melakukan itu ? Aku bukan anak sekolahan yang harus dapat ujian."
"Aku hanya memastikan jika aku tak salah memilih cinta. Aku mencintai mu, Ino." Gaara menatap Ino penuh arti.
Kali ini bola matanya akan lepas dari rongganya, melotot mendengarkan pengakuan Gaara. Apa ia sedang berakting untuk mendapatkan Piala Oscar ? "Ku mohon Gaara. Disaat seperti ini kau masih bersandiwara?"
"Kau pikir saat ini aku bersandiwara? Semua perlakuanku terhadapmu adalah sandiwara ? saat aku menciummu dan menggenggam tanganmu itu sandiwara ? kau tidak bisa membedakannya ?"
Ino meletakkan tangannya didepan Gaara seperti tanda stop. Ino terkekeh geli dengan pertanyaan retoris Gaara. "Tunggu! Jadi jika selama ini kau tidak bersandiwara, lalu… kau mempermainkan ku, begitu ?"
"Tidak seperti itu, Ino. Situasi saja yang mendukung untuk melakukan sandiwara ini. Memang benar aku terjebak dalam perjodohan dan memang benar kan, kau ingin menghindar dari Shikamaru ? hanya perasaanku saja yang tidak bersandiwara. Lalu apa selama ini kau tidak punya perasaan terhadapku, Ino?"
"Aku… aku… " Ino gugup harup menajwab apa. Pertanyaan mengenai perasaannya membuatnya sulit untuk berucap.
"Sudah tak perlu dijawab. Kau tahu perasaanku saja sudah cukup. Jangan karena itu, kau menghindar dari ku, Ino. Sekarang akan ku ajak kau berkeliling rumahku."
Gaara berjalan didepan, sebagai tuan rumah penunjuk jalan dan Ino ada dibelakang Gaara, hampir Ino tak begitu memperhatikan aksitektur yang begitu indah dirumah Gaara, hanya mengikuti langkah kaki Gaara yang menuntunnya ke tempat tujuan. Tangan Gaara menggantung disisi kiri dan tangan kanan yang dimasukkan ke saku celana. Tangan itu menggoda Ino untuk mengaitkan jemarinya ke sela-sela jemari Gaara. Tangan yang kekar, besar dan lembut. Tangan yang biasa menggenggam tangannya erat bagai tangan itu akan selalu memberikannya kenyamanan dan perlindungan. Ino mendekatkan telunjuknya untuk menyentuh jemari Gaara, bukan sekedar rindu akan genggaman itu, tapi ia juga ingin memberitahu Gaara jika ia memiliki perasaan terhadap Gaara, entah itu dimulai sejak kapan. Ia juga tak mungkin terus menerus terlena dalam cinta yang tak pasti, Shikamaru akan menikah dengan Tamari. Ino sudah tahu cara menghilangkan kenangan Shikamaru dibenaknya, yaitu Gaara. Aneh memang jika harus bilang begitu, tapi siapa lagi lekaki yang beberapa bulan ini dekat dengannya, memberi kejutan dalam hidupnya dan membuat terpesona oleh ciuman yang menggoda, kalau bukan Gaara? Jemari Ino semakin dekat ke tangan Gaara. 10 cm, 5 cm, 3 cm, 1 cm…
"Ini kamarku. Masuklah," ucap Gaara.
"Ah… ya." gagal sudah niatnya.
.
.
.
DIKAMAR GAARA
Ino melihat kamar Gaara sangat lah besar dengan perabotan mewah tertata apik didalamnya. Ini mah 10 kali luas kamar apartementnya. Bujubune… bisa nampung kolam renang dalam juga nih.
Ino melirik ranjang Gaara yang besar, ukuran double king size. Selimut beludru merah maroon terbalut menutupi sebagian kasurnya. Tapi matanya tiba-tiba teralih ke meja nakas disamping ranjang Gaara. Sebuah bingkai foto berwarna putih. Bukan foto narsis Gaara atau foto keluarga, tapi fotonya saat masih dibangku SMA. Kenapa Gaara bisa punya ?
"Bukankah ini fotoku ? tapi ini kan saat aku bersama Shikamaru ?" Tanya Ino sambil memegang foto itu.
"Hn. Aku menemukannya terjatuh dilantai kamar Shika di LA dulu. Aku tahu dia masih mencintaimu dan dia masih menyimpan kenangan kalian. Saat aku melihat fotomu, aku tertarik, tapi aku juga tahu Shika tidak bisa berbuat apa-apa, karena dia sudah dijodohkan dengan nee-chan. Aku juga tak bisa jujur pada nee-chan jika Shika mempunyai orang yang sangat dicintai, karena aku juga tidak ingin nee-chan kehilangan orang yang ia cintai, maka saat aku tahu kau menjadi sekretarisku, aku ingin kalian atau kita mendapat solusi dari hubungan ini. Sekarang Shika dan nee-chan akan menikah, kau mulai melupakan Shika dan akupun jatuh cinta padamu. Apakah ini keputusan yang adil untuk mu ?" sebuah penjelasan yang terpanjang yang pernah Gaara tuturkan. Sedikit terengah-engah dibagian terakhir.
"Entahlah aku juga tak bisa memastikannya. Aku harus bersyukur atas jalan-Nya atau berharap lebih dari-Nya. Bisa kita bicara yang lain, Gaara. Aku tidak ingin membahas hal itu."
"Hn."
Ino lalu beralih pada foto-foto yang terjejer rapi dinakas sebelahnya. "Wah ! Ini foto waktu kau kecil, Gaara. Lucu sekali! Kemana mata panda mu ? ku pikir itu sudah ada sejak kau lahir. Hehe… aku bercanda." Ino meletakkan bingkai foto ke tempat semula, lalu ia mencoba merebahkan ke kasur Gaara yang besar nan empuk ini. Bagaikan diatas permen kapas yang lembut. Kalau lama-lama tiduran disini, Ino dijamin akan menjadi putri tidur yang akan susah dibangunkan, bahkan dengan ciuman pengeran. "Lalu kenapa kau harus tinggal di Apartement. Sepertinya tinggal disini menyenangkan."
Gaara duduk dipinggiran ranjang, sebelah Ino. "Aku ingin tinggal sendiri dan mandiri. Walaupun aku tahu ada penguntit disekitarku."
"Rumah sebesar ini, apa tidak membuat orang tua mu kesepian ? Kankuro-sama sekarang tinggal di Cina, Temari-nee tinggal di apartement Shika dan kau tinggal di apartment lain."
"Tenang saja. Beberapa bulan lagi tempat ini akan ramai dengan tangisan."
"Hn? Maksudnya ?"
"Sudahlah. Ku ajak kau ke tempat lain. Aku tidak suka kau tiduran di kasur ku." Gaara beranjak dari ranjangnya dan berdiri tepat dihadapan Ino dengan posisi Ino masih tidur terlentang dengan nyaman.
"Kenapa ? aku kan hanya mencoba saja."
"Jangan sampai aku menerkammu diatas kasur kalau kau terus disitu," ucap Gaara dengan senyum yang sulit untuk diartikan.
"Hah?!"
.
.
.
(Saya skip 1 bulan kemudian… )
Tempat pernikahan Shikamaru dan Temari, Harajuku Church.
Disinilah ia berada, diambang akhir dari kisahnya. Tak dapat dipertahankan lagi, memang inilah yang ia mau. Tak sakitkah dia melihatnya ? sakit, tentu sakit. Seperti detik berikutnya, kau akan berada diarea memanah. Menjadi sasarannya. Ia tahu lubang luka ini tak akan cepat sembuh. Memang benar kata lagu, hanya butuh satu detik ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Shikamaru, 2 tahun menjalin cinta, tapi butuh sekian tahun untuk melupakannya. Jika memang benar waktu yang akan menjawab semuanya, semoga ia bisa berumur panjang, untuk bisa melupakannya. Tak perlu bunuh diri atau berdiam diri meratapi kesedihan ini. Waktunya terlalu berharga untuk sebuah hidup.
Ino baru saja keluar dari kamar rias Temari, mengucap selamat atas pernikahannya. Cantik, sungguh sangat cantik Temari hari ini, dengan balutan gaun seputih salju. Mungkin karena hari ini adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya, bersama orang yang paling ia cintai. Sekarang ia harus pergi ke kamar rias Shikamaru untuk mengucapkan selamat, tapi Shikamaru tak ada ditempat. Pasti dia sedang merokok disuatu tempat, begitu pikir Ino.
Ino berjalan menyusuri taman dibelakang Gereja, meneliti setiap pandangannya untuk menemukan Shikamaru. Ternyata ia sedang duduk disebuah bangku dekat danau buatan.
Ino menghampiri Shikamaru dan duduk tepat disebelahnya, tak terlalu dekat. "Selamat Shika, akhirnya kau berbahagia," ucap Ino dengan nada seceria mungkin, tapi sama sekali tak menatap sang lawan bicara.
Shikamaru menghisap dalam rokoknya, membuat rokok terbakar dengan cepat. Lalu Shikamaru membuang dan menginjak bekas rokoknya. Menghela nafas dan berkata, "Hanya aku yang tahu, aku bahagia atau tidak, Ino. Bukankah ini yang kau mau ?"
"Apa maksudmu ? jadi kau menikah karena ucapanku yang lalu ?" Tanya Ino menoleh ke samping kirinya.
"Jika aku tidak mendengarkan kata-katamu dan kau yang terus menolakku. Apa yang harus ku perbuat Ino ? seperti yang kau bilang, kita diposisi yang tidak bisa memilih."
"Bukan seperti itu maksudku Shika, aku hanya mau yang terbaik untuk mu."
"Terimakasih kau masih memikirkan apa yang terbaik untuk ku, walau kau tak sepenuhnya tahu. Sampai detik ini kuharap aku masih bisa memperjuangkan cintaku, Ino. Tapi aku sadar semua tak bisa dipaksakan. Kau bukan untukku," ucap Shikamaru yang akhirnya menatap sendu ke arah Ino.
Ino lalu bangkit berdiri, "Oke baiklah. Jika kau beranggapan ini semua karena salahku, karena ucapanku, karena rasa egoisku yang membuatmu menyerah, aku minta maaf, Shika. Tapi asal kau tahu, aku juga tersiksa. Aku juga sangat mencintaimu dan kuharap selamanya akan begitu dan aku tak peduli pada orang lain. Aku ingin menjadi milikmu dan kau menjadi milikku, menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini. Tapi hatiku tak bisa mengendalikannya, Shika. Aku tak bisa untuk meminta itu." Ino tak kuasa menahan air matanya. Padahal ia sudah berjanji tak akan menangis dihari bahagia Shikamaru dan Temari. Tapi nyatanya air matanya tak bisa dikendalikan seenak hatinya.
"Jujur, aku dan Gaara memang bersandiwara, tapi kami bisa mengakhirinya tanpa beban. Tapi kau dengan Temari-nee, keluargamu dan Keluarga Sabaku, yang kau berbohong untuk mencintainya. Tapi jika kau mengakhirinya apa tidak akan membuat semuanya terluka? mungkin bebanmu akan hilang, tapi luka yang kau berikan pada semua orang tak akan pernah bisa hilang, Shika. Berharaplah, jika ini memang yang direncanakan Tuhan untuk kita."
"Ya, kau benar Ino. Kita harus mencari sisi lain dari takdir kita. Mungkin masih ada kebahagiaan dari semua ini," ucap Shikamaru dengan mengacak rambut Ino yang sudah terkuncir rapi. Seperti sedang memanjakan sang adik. "Aku harus pergi dulu, aku tak ingin keluargaku menunggu," lanjut Shikamaru dan iapun pergi dari hadapan Ino. Ini sudah akhir. Waktu tak akan bisa ia putar lagi.
"Ino… " panggil seseoarang yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua yang sebenarnya Shikmaru sudah menyadarinya, sedangkan Ino tak tau karena ia membelakanginya.
"Gaara!"
"Jika kau mau, kejarlah cintamu, Ino. Kau berhak mendapatkan kebahagiaan."
Ino mengusap sisa air mata dipipinya, tersenyum lembut pada Gaara "Tidak. Ini sudah berakhir, Gaara. Dia hanya akan menjadi kenangan saja. Dia layak untuk berbahagia."
"Kau benar, Ino. Dia pasti akan bahagia. Karena malaikat kecil yang diperut nee-chan akan membuatnya merasa bahagia."
"Ha? Maksudmu?" Ino kaget mendengarnya.
"Kakakku tengah mengandung anak Shikamaru. Itulah yang membuat mereka mempercepat tanggal pernikahannya."
"Kenapa bisa ?"
"Kenapa bisa? tentu saja, karena Shikamaru tau cara membuat kakakku hamil," jawab Gaara santai.
"Bukan itu. Kata Shika dia tak mencintai Temari-nee."
"Seorang laki-laki, mungkin hati bisa mereka kendalikan, tapi nafsu tetap saja bisa menguasai. Mereka sudah beberapa bulan tinggal bersama, walaupun hati mencintaimu tapi raga bersama nee-chan. Bukankah itu bagus? Shikamaru suatu saat akan mempunyai alasan kenapa ia harus bahagia."
"Yah… kau benar."
Gaara tiba-tiba mengelus pipi halus Ino, "jangan bersedih lagi. Sekarang carilah alasanmu untuk bisa membuatmu bahagia, Ino. Walaupun sulit."
"Tidak. Aku sudah menemukannya." Ino manarik tangan Gaara, menggenggamnya sesaat lalu melepaskannya.
"Siapa ? aku mengenalnya?" Tanya Gaara penasaran.
"Sepertinya begitu. Kita harus segera ke acara pernikahan mereka. Aku harus merapikan make up ku dulu." Ino lalu berjalan mendahului Gaara, menoleh sesaat untuk memandang wajah Gaara, memberikan senyuman. Bukan sebuah senyuman palsu untuk menutupi kesedihannya hari ini. Tapi senyum yang memiliki arti khusus untuk Gaara. Lalu Ino berlari kecil meninggalkan Gaara. Biarlah senyum ini sebagai awal dari akhir kenangannya. sebuah tanda untuk memulai yang baru.
"Ino. Kumohon katakan siapa ?" Teriak Gaara, tapi Ino tak menyahutinya.
"Ino… !"
.
.
"Cara yang terbaik untuk mengobati cinta yang luka adalah : JATUH CINTA LAGI" ― Mario Teguh.
TBC
