.
ONE GO, ONE GET
Pairing : Ino x Gaara
slight Ino x Shikamaru, slight Shikamaru x Temari
Rate : T ( Maybe M jaga-jaga jika ada hal yang tidak diinginkan)
NO BASHING CHARA
Disclaimer : Didunia mimpi, Naruto itu milik saya. Tapi didunia nyata, Naturo milik Masashi kishimoto.
Warning : Alay, nyinetron banget, typos, abal, OOC dkk, dst, sbb, etc.
Ini cerita pertama saya, saya nih masih belajar dan belum tau apa-apa soal dunia FFN , jadi jika ada yang mau mampir yaa monggo dibaca dan meninggalkan jejak kritik dan saran ( Flame yo aku rapopo ).
Dan jika ada yang merasa alur cerita , konsep dan inti cerita sama. Mohon untuk saya diberitahu yaa.. karena cerita ini murni inspirasi sendiri.
Kalau yang tidak suka, tidak mau baca ataupun mengintip yaa saya tidak melarang monggo tekan Back.
CHAPTER 11
The House Apartement. 7.45 P.M
Sudah 1 bulan sejak pernikahan Shikamaru dan Temari, semua tampak normal. Shikamaru dan Temari yang masih 1 apartemen, ya tentu saja karena mereka memang sudah menikah dan Gaara masih menjabat sebagai Direktur Utama Sabaku International Corp dan berpredikat sebagai 'kekasih' Ino. Tapi yang tidak normal disini adalah Ino. AADI ? Ada Apa Dengan Ino ?
Inilah yang sedang dipikir keras oleh Gaara didepan laptopnya. Memandangi jejeran kata yang terpajang dilayar laptop, sudah 20 menit ia pandangi layar itu tapi tak satupun tindakan yang akan dilakukan selanjutnya, membiarkan laptopnya berganti tema layar beberapa foto Ino yang akan berganti setiap 10 detik sekali. Foto yang Gaara dapat saat mereka dalam ikatan 'kekasih'.
Gaara mencari sebab dan musabab Ino keliahatan aneh 1 bulan ini. Sejak pernikahan Shikamaru dan Temari, Ino mulai menjauh dari peredaran Gaara, tidak bisa dilihat dan disentuh, kalau penyebabnya patah hati karena pernikahan mantan pacar Ino, rasanya bukan? Karena Ino tampak biasa-biasa saja dihadapan Shikamaru, seperti teman saja. Lalu opsi praduga yang selanjutnya ?
Ino yang biasanya cerewet, sekarang irit bicara, bahkan melebihi Gaara. Gaara tak habis pikir, apa ada yang salah ? sepertinya mereka tidak punya masalah, semua baik-baik saja. Lalu kenapa ? jawabannya masih 'entahlah'. Tak dapat dipungkiri kalau Gaara rindu dengan Ino. Sangat dan teramat. Gaara sudah berulang kali mencoba mencari kesempatan untuk berbicara, memeluk, mencium atau sekedar mengantar Ino pulang, tapi semua ditolak mentah-mentah oleh Ino.
Gaara mendengus beberapa kali sambil tetap memandangi foto Ino sampai layar laptop mati mode standby. Gaara menyandarkan punggungnya ke kursi, terus berfikir, "kenapa dengan Ino ? atau jangan-jangan dia sedang dekat dengan laki-laki lain yang dia bilang dulu ?" Tanya Gaara pada dirinya sendiri.
"Sial! Aku harus mencari tahu siapa lelaki itu? Aku tak akan menyerahkan Ino dengan mudah!"
.
.
.
.
Rumah Sakura. 8.00 P.M
"Tumben kau datang ke rumahku?" Tanya Sakura pada Ino yang datang ke rumahnya, karena jika Ino berkunjung ke rumahnya pasti mengabari dulu.
"Memangnya tak boleh ?"
Ino langsung masuk ke dalam rumah Sakura dan berjalan menuju ruang keluarga, duduk tanpa dipersilahkan dan mengambil 1 toples camilan diatas meja.
"Ya boleh saja. Tapi kalau kau datang dengan wajah seperti itu, pasti ada apa-apakan ?"
Sakura lalu menyusul Ino ke dalam dan duduk disampingnya, merebut toples camilan yang dipegang Ino.
"Tidak ada. Aku hanya ingin berkunjung saja, siapa tahu kau memasak enak hari ini," ucap Ino yang kemudian beranjak dari sofa menuju dapur untuk mengambil minum.
"Dasar kau! Hei, Ino?"
"Hm?"
"Apa kau ada masalah ?" Tanya Sakura yang sedikit tampak khawatir dengan sikap Ino yang tak seperti biasanya. Tidak ceria.
Ino meletakkan gelas air minumnya setelah menegak beberapa tegukan air. "Tidak. Aku tidak apa-apa."
"Kata-katamu penuh makna. Biasanya kalau wanita sudah bilang 'tidak ada apa-apa' itu artinya 'Tolong aku! aku ada masalah', iya kan ?" Tanya Sakura setelah Ino kembali ke sofa. Mengambil remote TV dan mengganti channel seenaknya sendiri. Sudah kebiasaan Ino kalau berkunjung, mengganti channel kartun kesukaan Sakura dengan channel mengenai ulasan fashion yang lagi trend saat ini.
"Sudah ku bilang tidak ada, dekorin-ku sayang!"
"Jangan bohong! Aku tahu masalahmu apa, pasti tentang Sabaku-sama, kan ?"
Ino membalikkan tubuhnya agar berhadapan dengan Sakura yang saat ini menatapnya, "Hah~ kau memang sahabatku yang tahu segalanya. Yah kau benar, Sakura."
"Sekarang ada apalagi. Bukannya masalahmu yang dulu sudah selesai ? Apa ini ada kaitannya juga dengan Si Nanas ?"
"Tidak sama sekali, aku sudah tidak ada perasaan apa-apa terhadap Shikamaru. Kau tahu sendirikan kalau Shika sudah menikah, untuk apa aku masih menyimpan rasa suka padanya."
"Oohh… Jadi kau sekarang ada perasaan dengan Sabaku-sama? Bukannya kalian memang pacaran ?"
Dan pada akhirnya, kebenaran juga harus terungkap. Ino sadar lambat laun Sakura harus tahu tentang sandiwara cinta antara dirinya dengan Gaara, "Sebenarnya… "
"Yah, yah… Aku tahu, Ino. Sebenarnya kalian pura-pura kan ? aku sudah tahu lama tentang itu, kau tak perlu menutupinya dari ku. Lalu apa benar kalau punya perasaan pada Sabaku-sama ?"
Ino tahu sepandai pandainya menutup kebohongan, pasti akan ketahuan juga, apalagi kalau berbohong pada sahabatnya sendiri yang terkenal sebagai detektif, yang sudah tahu seluk beluk rahasia Ino. Entah kenapa Sakura bisa tahu, tapi syukur Sakura tidak menceramahinya karena pura-pura pacaran dengan pemilik perusahaan tempat mereka bekerja. Jika semua karyawan bahkan keluarga tahu, sudah tamat riwayatnya. Tapi kalau kali ini Sakura menanyainya tentang perasaan terhadap Gaara, dia masih bimbang, harus mendengarkan isi hati kalau dia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Gaara atau harus bungkam selamanya karena takut mengalami rasa sakit oleh cinta lagi dan juga tak ingin Gaara beranggapan bahwa dia hanya sebagai pelarian saja.
"Entahlah, aku juga tidak tahu, Sakura."
"Jangan tidak tahu, Ino. Tapi kau harus tahu! Kau harus memastikannya! Kau tak kasihan dengan 'kekasih' mu itu ?"
"Kenapa dengan Gaara ?" Tanya Ino menaikkan alisnya.
"Ya tuhan, sadarkanlah temanku ini! Kau tidak bisa lihat dia tersiksa terus kau hindari, kau juga tidak lihat bibirnya kering ? dia butuh pelembab bibir, Ino!"
"Heh ?"
Sakura mulai menjambak rambutnya, melihat betapa tidak pekanya sahabatnya ini. Apalagi dalam urusan cinta.
"Itu artinya dia rindu berciuman dengan mu! Aku tahu atau mungkin seluruh karyawan kantor juga tahu, kalau kalian sering berciuman, entah itu di ruangan kalian, toilet, parkiran. Dasar kau ini! Apa kau tidak rindu ciuman Gaara ? pasti rindukan? Iya kan ? iya kan ?" Goda Sakura dengan menggoyangkan jemari tangannya yang berpentuk seperti pistol maju mundur.
"Ciih, kau ini. Dia yang menciumku, bukan aku! Lalu aku harus apa, Sakura ?" Ino menunduk lesu.
"Kalau kau juga tersiksa jauh dari Sabaku-sama, berarti kau memiliki perasaan terhadapnya, cinta tak boleh disia-siakan, Ino. Kau beruntung bisa memiliki kesempatan untuk jatuh cinta dan apalagi orang itu sangat mencintaimu. Tuhan terlalu baik. Jadi apa kau mau Tuhan mengambil cintamu lagi ?"
"Kau benar, Sakura. Terimakasih. Aku tak tahu kalau kau semakin dewasa saja. Tapi aku yakin Tuhan juga akan memberikan yang terbaik pada mu, Sakura. Contohnya… emm Naruto."
"Hah ? Ke-kenapa harus si jabrik kuning itu." Sakura gelagapan dengan pernyataan Ino barusan.
"Hei! aku juga tahu segalanya, bukan hanya kau. Diam-diam kau menjalin kencan dengan Naruto kan ? iya kan ? iya kan ?" goda Ino, sama seperti yang dilakukan Sakura padanya tadi. Dan sebelum terjadi apa-apa yang mengancam jiwanya, Ino sudah keburu lari dari hadapan Sakura.
"Dasar. Ino-buta !"
"Hahahahahaha," tawa Ino menggema didalam rumah Sakura.
.
.
.
Sabaku International Corp. Room's Sabaku No Gaara. Monday 10.18 A.M
"Bicara ? tidak! Bicara? Tidak ! bicara ? tidak tidak ! tapi… "
"Ada apa Ino ? apa ada yang ingin kau bicarakan dengan ku ?" Tanya Gaara yang melihat Ino berdiri didepan meja kerjanya, setelah ia mondar-mandir beberapa kali sambil berkomat-kamit antara bicara atau tidak.
"Gaara! A-aku ingin… " Ino tersentak saat Gaara berada dibelakangnya, sehingga bingung apa yang harus dia bicarakan.
"Ingin apa ?"
"Ah! Aku ingin ambil cuti, sehari saja. Apa boleh Gaara ?" Mohon Ino dengan menautkan jemarinya.
Gaara mengerutkan alisnya. "Kenapa? Apa kau sakit atau kau ingin berpergian ?"
"Tidak. Aku ada keperluan yang mendesak," kata Ino bohong.
"Hm. Baiklah."
"Terimakasih, Gaara!" ucap Ino tersenyum cerah dan membungkuk.
'Apa Ino akan kencan dengan lelaki itu ?' pikiran – pikiran itu terus saja berputar diotak Gaara.
.
.
APARTEMEN INO. Thursday. 8.15 PM
Seperti apa yang Ino minta kemarin pada atasannya, sekarang dia sedang cuti. Bukan karena sakit atau hendak bepergian bahkan kencan seperti yang Gaara pikirkan – yang tentu saja Ino tak tahu pikiran Gaara saat ini. Tapi alasan yang lebih tepatnya dia memasak makan malam -yang siapa tahu akan romantis− di apartemennya, terlihat dia sedang memakai celemek ungu, rambut yang digulung tinggi, meramu bahan-bahan masakan, memegang spatula dan mengamnil sedikit kuah masakan ke telapak tangan untuk mencicipi rasa masakannya sudah pas atau belum, setelah dirasa sudah sempurna, Ino mematikan kompor dan mulai menuangkan hidangan ke piring saji dan ia meletakkan dengan rapi diatas meja makan. Dan beberapa hidangan lainnya ia masih taruh didalam oven. Tapi tiba-tiba Ino mengingat ada salah satu barang yang harus ia beli, karena jika barang itu lupa ia beli, maka semua rencananya akan gagal. Ino buru-buru melepas celemeknya dan merapikan rambut, tak lupa sedikit parfum untuk menghilangkan bau masakan yang menempel di tubuhnya. Ino berjalan menuju pintu dan saat hendak membuka pintu lebar, Ino kaget ada tamu yang seharusnya tidak boleh datang.
"Gaara! Ke−kenapa kau sudah ada disini ?" Tanya Ino saat melihat Gaara ada dihadapannya, memakai syal rajut berwarna merah senada dengan rambutnya dan memakai sweater coklat. Gaara terlihat ngos-ngosan sepeti diburu oleh waktu, asap embun mengepul keluar dari mulutnya.
"Kau sedang apa Ino ?"
"A-aku ingin membeli sesuatu di minimarket depan. Seharusnya kau belum boleh kesini, apa Sakura yang memberitahu mu ?"
"Tidak. Kenapa aku belum boleh kesini ? apa kau bersama lelaki itu ?" Tanya Gaara penasaran.
Ino tak tahu apa yang dimaksud oleh Gaara, "lelaki itu ? siapa yang kau maksud, Gaara ?"
Tanpa permisi, Gaara melesak masuk ke dalam apartemen Ino yang pintunya belum sempat Ino tutup tadi.
"Hei! Kenapa kau tiba-tiba masuk ?"
"Dimana dia ?" Tanya Gaara yang sudah masuk ke dalam setiap ruangan, tak menemukan sosok yang ia cari.
Ino semakin geram dengan sikap Gaara yang aneh. "Dia ? lelaki ? yang kau maksud itu siapa ? aku tidak bersama siapun Gaara!"
"Ku pikir kau bersama seseorang yang berhasil mengisi hati mu, seperti yang kau bilang dulu, itu sebabnya kau menghindariku bukan ?"
"Hihihi, kau lucu sekali, Gaara."
Mau tak mau, Ino tertawa mendengar apa yang barusan Gaara ucapkan, jadi ia mengerti mengapa Gaara ke sini dan seperti orang yang bingung mencari seseorang.
Lucu juga kalau Gaara cemburu.
He? − Gaara cemburu ?
Apa aku terkesan jahat menghindarinya ? sampai-sampai Gaara berpikir seperti itu ? – pikir Ino.
"Kenapa kau tertawa, Ino ?"
"Jadi selama ini yang kau pikirkan seperti itu ? yah~ sepertinya aku harus jujur, sebenarnya aku menghindari mu bukan karena ada lelaki lain yang kau maksudkan, tapi memang benar jika sekarang aku bersama lelaki yang berhasil mengisi hatiku saat ini," jelas Ino.
"Maksudmu lelaki itu… "
"Ya, kau benar, Gaara. Aku menghindarimu, karena aku masih bimbang dengan perasaan ku, tapi semakin aku mencoba menghindarimu, aku semakin tersiksa, karena aku juga… mencintaimu, Gaara. Dan alasan kenapa aku meminta cuti hari ini, karena aku ingin menunjukkan perasaanku yang sebenarnya pada mu dengan memasakkan makanan dan mengundang mu ke rumah, yah~ itu sih ide Sakura. Dan maaf jika membuatmu salah paham, Gaara." Jelas Ino tanpa menatap wajah Gaara.
Tidak ada sahutan dari Gaara.
"Gaara?" Ino mendongak memastikan Gaara mendengarkan apa yang ia ucapkan.
"A−"
Gaara mencium Ino tiba-tiba. Lembut perlahan tapi menuntut. Karena Gaara sangat senang mendengar apa yang Ino utarakan.
"Kau tak tahu betapa aku tersiksa tak bisa melihatmu lama, tak menyentuhmu, tak menciummu! Kau membiarkan aku semakin tersiksa dengan pikira-pikiran kalau… kau mencintai lelaki lain," ucap Gaara dengan menangkupkan telapak tangannya dipipi Ino dan memandangnya serius. Seperti takut jika ia berkedip, Ino akan hilang dari hadapannya.
Ino menggenggam tangan Gaara yang menghangatkan pipinya. "Sungguh, aku minta maaf, Gaara."
"Aku tidak akan memaafkanmu sampai aku benar-benar lahap memakanmu," ucap Gaara berseringai licik.
"Emm Gaa−" Ino mendorong pelan dada Gaara yang mulai menciuminya. Tak mau ikut terlena. Bisa bahaya jika berlanjut didepan rumah. "Su- sudah Gaara, hentikan! Aku harus menyiapkan masakanku dulu."
"Baiklah, aku akan menikmatinya." Gaara tersenyum secerah mentari, berlawanan dengan wajah stoic-nya. Seakan devil berubah menjadi angel.
Ino menarik lembut tangan Gaara masuk ke dalam, menyuruh Gaara duduk manis selagi Ino menyiapkan semua hidangan diatas meja. Dan tak lupa mengganti baju.
"Cobalah, Gaara. Tapi maaf tak seenak masakan Eropa."
"Ini enak sekali, Ino! Aku sangat beruntung memiliki calon istri seperti mu,"kata Gaara agak OOC.
"Cih! Siapa yang bilang aku akan mau menjadi calon istri mu ?"
"Katamu! 1 tahun lagi kita akan menikah, seperti yang kau bilang saat kau bertemu dengan orang tuaku, kau ingat ?"
.
"Lalu kalian akan mengadakan kapan ?"
"Tahun depan saja, bi"
"Ah tidak, bi'. Kami ingin menikmati masa pacaran dan mengenal keluarga. Tidak ingin terlalu terburu-buru,"
.
"Yah~ aku ingat, tapi itukan hanya sandiwara saja."
"Sekarang aku mau menu menutup."
"Menu penutup ? seperti pudding ? seharusnya aku menyiapkannya!"
"Tak perlu, karena kau sudah seperti pudding yang menggiukan untukku, Ino-chan"
Gaara menatap mata aquamarine Ino dengan lembut dan Ino bisa menatap sisi kelembutan di mata turquoise Gaara yang tak pernah ia tunjukan kepada orang lain. Gaara melingkarkan tangan kanannya ke belakang tengkuk Ino, mendorongnya perlahan untuk mendekat ke wajah Gaara. Tak ada penolakan dari Ino, Gaara mendekatkan wajahnya tepat didepan Wajah Ino, memiringkan sedikit untuk bisa menyatukan ke dua bibir mereka.
Entah ini ciuman ke berapa kali bagi mereka, tapi bisa dipastikan ini adalah ciuman yang akan terus mereka kenang, sebuah rasa cinta yang mulai tumbuh di antara keduanya tersalur hanya dengan sebuah ciuman singkat. Bukan sebuah ciuman pemanis adegan sandiwara mereka didepan umum.
Benar tidak ada yang menduga akhir sandiwara mereka akan seperti ini. Dan tak ada yang tahu jika mereka akan saling mencintai. Yang hanya mereka tahu dari awal, bahwa Tuhan sudah memberikan cinta yang tepat.
"Jangan memintaku untuk berhenti, Ino. Karena aku tak sanggup. Aku terlalu merindukanmu," ucap Gaara setelah selesai mencium Ino. Tapi ini belum berakhir, masih awal untuk memulai kisah cinta mereka.
Gaara mendorong Ino lembut ke futon, dekat meja makan. Setelah Gaara menyingkirkan meja kecil tak berdosa itu menjauh. Gaara melingkarkan sebagian lengannya ke bawah leher Ino sebagai bantal. Sekitar 5 menit bibir saling berpagut mesra. Menyadari mereka harus perlu oksigen dan menyeka saliva yang jatuh, Gaara melepaskan ciumannya, tapi hanya untuk berkata pada Ino yang seharusnya ia katakan dulu. "Aku mencintaimu, Ino. Sangat," ucap Gaara penuh keyakinan dengan menatap mata milik kekasihnya.
Ino membelai pipi hingga rahang milik Gaara, memberikan sentuhan hangat untuk Gaara. " Kau tahu isi hatiku, Gaara. Aku juga mencintaimu," ucap Ino, lalu Ino mendekatkan bibirnya ke bibir Gaara, mengecupnya dalam, membuat Gaara sedikit terkejut akan keagresifan Ino. Tak ingin kalah agresif dari Ino, Gaara memperdalam ciuman yang diberikan Ino.
Seperti sebuah candu bagi Gaara, ia tak puas jika hanya dibibir ino saja, Gaara menurunkan kecupan-kecupan nakalnya ke daerah perpotongan leher Ino, memberi tanda kissmark, arti jika Ino adalah miliknya sekarang dan selamanya. Karena kelakuan nakal Gaara, desahan-desahan kecil keluar dari bibir sensual Ino, menahan rasa yang tak bisa ia ungkapkan. Gaara yang mendengar desahan Ino, membuatnya berani melakuakn lebih, pikiran bodoh kalau Ino sudah pasti akan menjadi miliknya yang membuat ia terlena dengan gadis cantik yang ada dibawahnya.
Jemari-jemari besar Gaara mulai menari liar di 3 kancing atas Ino. Menyibakkan baju ungu sebelah kanan yang memperlihatkan tali hitam yang kontras dengan kulit putih Ino. Gaara mengangkat tali itu sedikit ke atas, berniat menggeser dan menanggalkannya ke samping.
Tapi sepertinya saat ini Gaara harus percaya satu hal lagi, bukan karena Ino membalas cintanya. Tapi ia harus percaya semua ada waktunya dan ini bukan waktu yang beruntung untuknya.
Pett-!
"Akh! Seharusnya kau membeli lilin dulu tadi." Pekik Ino saat lampu apartementnya mati karena jadwal pemadaman bergilir.
"Sepertinya ini menarik … "
Tapi disegala situasi, kesialan bisa berubah menjadi keberuntungan untuk Sabaku no Gaara.
"Akh-!"
.
.
.
.
-END-
Huwaaa…. Akhirnya Update !
Sungguh maafkan saya karena lama update fict ini. Sebenarnya chapter ini sudah jadi, tinggal edit sana-sini dan publish. Tapi karena kesibukan kantor jadi engga bisa publish. Dan kebetulan lagi lembur jadi bisa edit dan publish. HOREEE… !
Mohon maaf jika fict ini harus finish 'nggantung.' Tapi saya sudah ada ide untuk membuat chapter bonus. Jadi sabar menunggu lagi... hehehe
Untuk yang read dan review, saya sangat berterimakasih sudah meluangkan waktu untuk membaca fict saya yang jauh dari kata sempurna ini.
Dan untuk para guest yang au' namanya, menjawab a/n sebelumnya yang kenapa saya baru tau ttg Inojin/Info Naruto yg lainnya. Itu karena memang saya jarang update mengenai info dunia Naruto dikarenakan kesibukan sekolah dan kerja, terakhir saya baca komik Naruto saja sudah 8 tahun yang lalu *lama amat*, makanya itu dengan saya 'nyeblung' ke dunia ffn ini, saya jadi tahu kan infonya dan itu berkat fanfict author-author yang kece badai dan review kalian semua.
Okee sampai jumpa di Fict-fict selanjutnya... :)
Kritik saran diterima ^_^
