Warning : GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Pairing : NaruHina

Genre : Romance, Hurt/comfort & Friendship

Uzumaki Naruto: 17 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Haruno Sakura: 17 tahun.

Uchiha Sasuke: 17 tahun.

Shion : 16 tahun.

Dimusim Semi lalu.

Dia ingin ke laut! Jadi aku membolos sekolah dan pergi kepantai timur bersamanya. Kami juga membicarakan hal - hal yang tak terlalu dibanggakan untuk disebut. Kami melakukan segala hal yang kami bisa untuk teman kami. Seperti itu, tahun berlalu. Hari lain berganti, kemudian berganti lagi. kemudian berganti bulan. lalu sekarang berubah musim semi lagi dan kami naik kelas XI.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Hari ini, hari pertama untuk tahun ajaran baru bagi semua kelas XI Konoha High School. Setelah liburan panjang akhirnya mereka memasuki semester pertama tahun ajaran baru dengan kurikulum yang berbeda pula.

Di ruangan kelas XI-3, tampak beberapa anak yang menggambar-gambar di papantulis dan yang lainnya asyik mengganggu. Ada seorang anak yang keluar untuk menerima telepon, bergosip ria, dan membaca buku.

Disalah satu sudut Karin dan Sara ngerumpi bersama satu teman lainnya. Ketiganya membicarakan siapa yang menjadi ketua kelas nanti. "Kali ini aku harus menjadi ketua kelas dan aku juga mengandalkan kalian bertiga untuk mendapatakan banyak suara. Kalau pemilihannya berjalan lancar, aku janji akan mentraktir kalian" Ucap Sarah memohon pada ketiga temannya.

"Benarkah, kalau begitu aku akan mendukungmu 100%" Kata Karin ke girangan.

"Jangan khawatir, aku akan memastikan kalau kau akan terpilih menjadi ketua kelas" Kata Matsuri memberi semangat..

"Tapi kali ini tak semudah itu." Keluh Sarah.

Sarah melirik ke arah seorang siswi yang tengah membaca buku. Hinata. "Hyuuga Hinata, dia pernah menjabat jadi ketua kelas di kelas X-2. Dia tak pernah mengikuti les privat tapi bisa menang setiap lomba. Dia nomor 1 yang sebenarnya di sekolah ini, dia saingan terberatku. Kudengar dia kutu buku dan tak punya teman. tapi tetap saja dia dikenal karena nilainya."

"Benarkah!" Matsuri kagum mendengarnya, ia menoleh memandang Hinata yang sedang menyibukan diri dengan membaca. Hinata menyadari kalau ada yang melihatnya, ia menoleh ke arah Matsuri. Matsuri melambaikan tangan menyapa, tapi Hinata tak membalasnya. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke buku. Matsuri jadi malu sendiri sudah dicuekin kayak gitu.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Sakura berlari terpogoh-pogoh memasuki kelasnya. "Ohayou, Hinata chan?" Sapa Sakura lalu duduk di depan Hinata.

"Ohayou, Sakura chan" sapa Hinata balik,

"Baka! kenapa kau bisa kesiangan forhead?" Cerca Ino yang tengah duduk di samping Sakura.

"Semalam aku ke bandara untuk menjemput Otousan! Terus bantuin Okasan masak. jadinya kesiangan deh gara - gara kecapean" Jawab Sakura lemas.

"Ngomong-ngomong, sepertinya kita kedatangan tamu istimewa?"Tunjuk Ino menggunakan pensilnya yang membuat kedua temannya menoleh ke arah luar jendela kelas dan mengikuti arah pensil Ino.

Sakura terbelalak, "Tahun ini, Aku harus sekelas lagi dengan mereka berdua. Aku akan benar – benar gila, Apa lagi mereka juga satu anggota masuk ke kelas kita, Neraka akan semakin dekat bukan" Decak Sakura kesal, sementara Hinata tidak bisa melepaskan padangannya dari cowok rambut jabrik duren yang warnanya secerah matahari itu.

"Oi Saku-chan!"Teriak Naruto. Mereka melihatnya sawdrop, sementara Sakura sudah nyamperin Naruto dan menjitaknya. "Baka. Ini kelas dan bukan hutan!"

Naruto langsung mundur satu langkah dan menubruk badan temannya di belakangnya yang ternyata Sasuke. Sakura yang sudah pasang wajah garang langsung jadi cewek manis begitu melihat cowok yang telah menjadi kekasihnya selama dua tahun itu.

"Ohayou Sasuke kun?"Sapa Sakura ramah.

Yang ditanya malah memberikan jawaban 'Hn'

"Hey bro, kau sudah datang!" tiba-tiba Kiba dan Shikamaru ada disana. Keduanya langsung merangkul Naruto.

Ketiganya pun pergi dari sana. Sebelum pergi Naruto menoleh pada Hinata, "Sampai jumpa nanti ya." Ucap Naruto.

Dan di belakang Sasuke, ada Shino dan Sai. Ino yang melihat Sai langsung membuang wajah dan melanjutkan obrolannya, walaupun ia sesekali mencuri pandang pada Sai.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

DING.. DONG..

Terdengar bel masuk berbunyi. Ada seorang guru yang membuka pintu kelas. Mata seluruh siswa menatap pada siapa yang masuk. Guru itu menutup pintu dan menatap satu-persatu siswanya. Sarah tersenyum melihat guru-nya. Ya ini Kurenai Yuhi.

"Kalian semua di harap tenang, simpan buku kalian dan tinggalkan alat tulis saja di meja. Karena kita akan melaksanakan tes ujian". Anak-anak jelas saja terkejut, tes di hari pertama masuk sekolah, bukankah itu hal yang aneh. Mereka protes.

Ino menggerutu, "Memangnya siapa yang tes di hari pertama sekolah?"

Tenten juga protes, "Bukankah seharusnya sensei memperkanalkan diri dulu."

Kurenai berkata "namaku pasti sudah didengar ketika upacara pembukaan tadi, bukan".

Temari menyela kata guru kurenai "saya dan yang lainnya ingin Sensei memperkenalkan diri secara langsung".

"Sensei juga belum tahu nama kami. Hari ini hari pertama sekolah, ayo kita saling memperkanalkan diri. Benarkan, teman-teman?" Lanjut Matsuri menyetujuinya.

Semua setuju usulan Matsuri.

Kurenai mengatakan kalau ia sudah tahu nama semua siswanya. Apa lagi yang mau diperkenalkan. Ia menatap Ino. "Yamanaka Ino, lahir 14 Desember, tinggi 170 cm, berat 48kg, golongan darah B. Suka hangout dan mudah bergaul. Kau diundang untuk menjadi trainne oleh sebuah stasiun TV karena bakat menarimu. Tapi karena tak bisa menyanyi, saat audisi kau tereliminasi ditahap awal"

Ino menunduk mendengar kebenaran tentang dirinya yang diketahui oleh Kurenai.

Kurenai giliran menatap Tenten, "Tenten lahir 11 Oktober, tinggi 153, berat 44 kg, gol darah o. Kau menjadi juara kedua di lomba matematika saat kelas 10 tapi ketika di kelas 11 kau tak lolos babak pertama. Ayahmu merupakan pemilik perusahaan handphone EX-l2, dan ibumu sudah meninggal saat kau berumur 5 tahun"

"Siapa lagi yang ingin mendengarkan tentang perkenalan" Tanya Kurenai. Semua siswa menunduk diam tak menyangka kalau Kurenai sudah mengetahui lebih jauh tentang siswa-siswa di kelas XI-3.

"Baiklah kalau begitu, cepat kalian bersiap-siap melaksanakan tes karena setiap senin kita akan melakukan hal seperti ini."

"Ini semester pertama di kelas XI. Ini waktu yang menyenangkan bagi kalian untuk hal bermain bersama teman sepergaulan kalian. Tapi hal seperti itu tak ada di kelas kita. Sebagai pengikut ujian yang mempersiapkan untuk ujian kenaikan kelas, jangan menghabiskan energi kalian untuk hal yang tak berguna. Berkonsentrasilah untuk belajar." Lanjut Kurenai Sensei.

Anak-anak mengeluh kesal dan Hinata masih sibuk membaca buku tanpa memperdulikan keadaan di kelasnya.

Kurenai pun memberi tanda kalau tes-nya akan dimulai sekarang. Anak-anak tak ada yang protes lagi, mereka menyimpan buku di laci meja masing-masing dan menerima soal yang dibagikan kurenai.

"Kalian memiliki waktu selama 20 menit" Seru Kurenai. Mereka harus bisa menyelesaikan semua soal karena materi yang diujikan semuanya kelas X. Kurenai pun mulai menekan timer di ponselnya.

.

.

~SKIPT TIME~

.

.

Para siswa menunggu keputusan nilai yang didapat. Sensei Kurenai akan memanggil nama mereka berdasarkan nilai. Jadi yang dipanggil bisa maju untuk mengambil hasilnya dan mereka bisa memilih meja yang diinginkan.

Yang menempati posisi pertama adalah Hyuuga Hinata dengan nilai 100. Sarah terlihat sebal melihatnya. Hinata maju menerima hasilnya. Kurenai memuji Hinata sudah melakukan hal bagus. Yang menempati posisi kedua dan ketiga nilainya sama, Sasuke dan Shikamaru.

Ke empat Sarah.

Sakura yang cemas takut kalau ia jadi yang terakhir. "Ini hanya sebuah tes biasa, bukan? jadi jangan terlalu tegang" Ucap Sakura berusaha bersikap tenang. Sakura menempati peringkat ke lima. Satu persatu mereka yang dipanggil untuk mengambil hasilnya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Setelah selesai mereka diberi kesempatan untuk mengatur kelas. Sarah mengangkat tangan akan menyampaikan usulnya, "Sensei, kegiatan kelas biar kami saja yang mengaturnya. Tugas sekolah seperti membersihkan kelas dan tugas-tugas lainya kami bisa menentukannya lewat rapat kelas."

Kurenai menatap seluruh siswanya, "Sekarang ini, apa semua menyetujuinya?"

Semua mengangkat tangan setuju atas usul Sarah.

"Karena semuanya setuju, kalian ingin melakukan kegiatan kelas secara otonomi. Ibu penasaran apa tujuan kalian saat kalian mengatakan itu. Untuk bebas dari aturan dan batasan dari seseorang dan untuk bisa hidup secara mandiri ada harga yang harus kalian bayar. Akankah kalian mampu melakukannya? Kalau itu keinginan kalian, mari kita mencobanya."

Anak-anak tentu saja senang.

"Kurasa kita harus mengadakan pemilihan ketua kelas. Yang ketua kelas lakukan hanya melakukan tugas berat, kurasa bukan begitu. Untuk mengumpulkan pendapat siswa, membantu guru, dan mengoperasikan kelas, kurasa kita butuh seseorang untuk dipilih." Usul Naruto.

Kurenai menatap seluruh siswanya, "Pemilihan? Apa kalian juga berpikir begitu?"

Karin mengangkat tangan setuju. Mereka juga setuju.

Kurenai menilai ini menarik, "Hal pertama yang kalian lakukan setelah mendapatkan kebebasan apa melakukan pemilihan ketua kelas?" Kurenai menatap sinis siswanya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Saat istirahat, Karin dan Matsuri menghampiri Sarah. "Bukankah Naruto itu mengagumkan, dia berani mengatakan apa yang diinginkan semuanya" Kata Sara.

"Tapi dia kan hanya menyampaikan pendapatnya saja?" ralat Matsuri.

"Aku tak peduli, Naruto itu sangat mengagumkan.." seru Sarah. "Apa yang akan Naruto lakukan sekarang? Setelah Shion pergi, Dia mungkin belum punya pacar baru? Haruskah aku mendekatinya?" lanjut Sara kegirangan.

"Tapi bagaimana dengan Hyugga Hinata?" Tanya Karin ragu-ragu.

"Apa maksudmu, ini tidak ada hubungannya dengan Hinata!" Seru Sarah menyeringit heran.

Tapi Karin menggelengkan keplanya, "Aku dengar mereka adalah saudara tiri, Hinata adalah anak angkat keluarga uzumaki. Tapi, apa kau tidak merasa aneh dengan hubungan antara Naruto dan Hinata. Mereka satu keluarga tapi, Nama Hinata masih bermarga Hyuuga? bukankah itu aneh?"

Sara tersentak dengan perkataan Karin. Memang benar! Mereka semua tahu kalau Hinata adalah anak angkat dari keluarga Uzumaki dan seharunya dia sudah menjadi bagian dari keluarga itu bukan? Nama marganya juga harus diganti pula.. Tapi kenapa? Ah.. Sudahlah. apa yang dipikirkannya tidak mungkin terjadi..

Matsuri mengalihkan pembicaraan, "Kau mau ikut pemilihan ketua kelas kan? Aku akan membantumu,"

"Sarah, kurasa aku sudah mengumpulkan banyak suara untukmu nanti" Ucap Karin memberi tahu Sarah kalau beberapa siswa siap mendukung Sarah menjadi ketua kelas. Sarah memberi tanda siapa-siapa saja yang mendukung dirinya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

"Bukankah seharusnya Kau mencalonkan diri, Hinata chan" Ucap Ino merasa kalau untuk ketua kelas harusnya Hinata yang di calonkan.

"Aku akan memilih saja, Kurasa aku tak usah ikut mencalonkan diri. karena aku sama sekali tak tertarik.". Sahut Hinata yang dari tadi membaca dan mendengar obrolan mereka. Dirinya sempat tertohok dengan perkataan Karin tadi. Nama marganya yang tidak berubah itu memang kemauan dirinya sediri, walaupun Minato-san dan Kushina-san sempat keberatan dengan keputusannya waktu itu. Tapi setelah mendengar penjelasan Hinata, akhirnya mereka dengan berat hati mengizinkan Hinata menggunakan Nama marganya yang sebelumnya.

.

.

.

PEMILIHAN KETUA KELAS!

Calon ketuanya itu Sarah dan Shikamaru.

Sarah pun menang dengan perolehan 16 suara. Sara langsung berdiri di depan dan mengucapkan terima kasih kepada pendukungnya.

Karena ketua kelas sudah terpilih maka Kurenai menyerahkan wewenang dalam pengelolaan kelas kepada ketua kelas seperti tugas piket atau tugas kelompok. Melaporkan siswa yang nakal, yang biasanya dilakukan oleh ketua kelompok maka sekarang ia akan memberikan wewenang penuh untuk menghukum dan memberi penghargaan kepada ketua kelas.

Kelas usai, saatnya mereka pulang.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Diparkiran sepeda.

Hinata menuntun sepeda berjalan keluar area parkiran, tapi langkahnya terhenti ketika melihat dua orang yang tak asing baginya. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu. Hinata menghembus nafasnya dengan berat, kenapa mereka berdua harus berbicara disana? ia harus melewati mereka dulu sebelum mencapai gerbang sekolah, mereka yang tak lain Naruto dan Sarah. Sepertinya ini akan menjadi perseteruan yang buruk.

Hinata mengayuh sepedanya dengan cepat, agar ia tidak berurusan dengan masalah Naruto dan Sarah kali ini.

"Maaf, tapi aku tidak bisa jadian denganmu." Jawab Naruto yang terdengar samar ditelinga Hinata.

"EH kenapa?" pekik Sarah kecewa.

"Maaf, tapi aku sudah punya orang yang ku sukai!" Ucap Naruto berlalu pergi dari hadapan Sarah.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

~ProvHina~

Hinata menghela nafas lega. Untung tadi namanya tak disebut, karena biasanya ia akan jadi tameng Naruto ketika sedang ditembak dengan penggemarnya. Namanya akan dibawa - bawa untuk perlindungannya! Jahat sekali laki – laki itu, emang apa salahnya sampai ia jadi sasaran empuk atas masalahnya. alhasil semua gadis yang ditolaknya beralih menyalahkan Hinata atas penolakan sang pangeran. Nasib..

Tapi tak terasa sudah tiga tahun berlalu sejak kami masih berumur 14-15 tahun, dan sekarang kami bertumbuh pesat menjadi remaja, terutama Naruto, ia bertambah tinggi dan raut wajahnya mulai menegas. Bisa dibilang ia bertambah dewasa tapi tidak dengan sifatnya, selama aku hidup bersamanya ia tidak pernah bersikap dewasa.

Naruto tumbuh menjadi pria dewasa, tampan, anak dari pemilik perusahaan Uzumaki crop, ia juga termasuk siswa berprestasi dalam olah raga jadi jangan salah kalau badannya terlihat seperti atletis!

Karena itu banyak siswi yang tertarik dengannya dan beralih menjadi fansnya, entah aura apa yang ia pakai saat bersama para gadis – gadis itu. Dan banyak pula yang diam – diam menembaknya bahkan berterus terang secara blak.. blakan! Tapi yang yang ku dengar jawabanya selalu sama. Ia akan menolaknya!

Aku tahu, apa alasannya yang selalu menolak pernyataan cinta dari orang lain. Itu karena Naruto masih terpaku pada cinta di masa lalunya, yang ku tahu gadis itu bernama Shion. Waktu itu beberapa bulan setelah masuk ke sekolah baru, ada murid transfer dari luar negeri datang menjadi murid baru setelah aku. Shion sekelas dengan Naruto, hubungan mereka juga semakin dekat setelah beberapa bulan berkenalan…

Saat pulang sekolah Naruto selalu bercerita tentang gadis itu, tapi aku tidak mendengar semua ucapannya karena itu membuatku pusing. Naruto selalu berkata kalau gadis itu akan menjadi pacarnya suatu saat nanti..

Tapi tanpa diduga, ada kabar buruk yang menimpa Naruto, gadis itu kembali ke sekolah lamanya diluar negeri saat semester terakhir kelas IX. Setelah itu dia menangis dan mengadukan ke kesalannya padaku, aku hanya bisa bungkam melihatnya seperti itu, aku membiarkan dia menangis sambil memelukku. Aku memberinya beberapa nasihat agar dia tidak terlalu larut dengan kesedihanya dan itu membuatnya jadi lebih baik.

Saat itu umurnya masih 15 tahun dan kami masih memasuki High School junior. jadi sebagai remaja yang masih labil masalah percintaan dan patah hati seperti itu sangatlah normal. Tapi sepertinya yang benar-benar tak normal adalah Naruto sendiri. Padahal ia lebih dewasa, lalu kenapa kelakukaanya lebih kekanakan dariku.

~END~

"HINATA CHAN!" teriak seseorang yang sedang berlari mengejar Hinata. Hinata memberhentikan laju sepedanya untuk melihat seseorang yang kini tengah memanggilnya.

"Naruto?"

"Hinata…chan. Tunggu!" ujar Naruto berlari menuju Hinata dengan nafas tak beraturan.

Kenapa dia?

"Hosh.. Hosh.." Naruto kini tengah mengatur nafasnya sambil memegang pundak Hinata agar tidak kabur.

"Apa kau berlari dari sekolah sampai sini?" Tanya Hinata, Naruto mengangguk sebagai jawaban. "Kenapa? Dimana sepedamu?" tanya Hinata melirik Naruto yang tak membawa sepedanya sendiri.

"Ban Sepedaku bocor!" Jawab Naruto.

"Lalu?" Tanya Hinata lagi sambil menatap malas Naruto. "Lalu?" Ucap Naruto mengulangi perkataan Hinata tadi.

"Lalu kenapa? Apa urusannya denganku?"

"Hei.. jangan jahat begitu. Harusnya kau berterima kasih padaku karena tadi aku tidak membawa nama mu" Ujar Naruto tak terima mendengar perkataan Hinata.

"Aku tidak meminta pertolongan mu jadi kenapa aku harus berterima kasih? Dan lagi, Aku tidak melakukan hal yang salah " Ucap Hinata membela diri, Hinata mengayuh sepedanya kembali meninggalkan Naruto yang terus menyeruakan Namanya sambil berlari.

"Teganya kau Hinata… Hinata.. jangan tinggalkan aku! Hinata… Ouch.." Karena saking fokusnya melihat kedepan Naruto tak menyadari kalau didepannya terdapat batu besar dan membuatnya terjatuh dengan gaya yang kurang elit.

"ARGHHH!" teriak Naruto kesakitan.

CKIETT! Hinata mengerem mendadak sepedanya karena teriakan Naruto, ia menoleh kebelakang dan mendapati Naruto yang kini sedang memegang pundaknya kesakitan.

"Baka! Kenapa kau sampai terjatuh, emang kau tidak lihat ada batu sebar itu di sana" Ucap Hinata yang kini sedang membopong Naruto menuju sepedanya.

"Kenapa kau malah mengataiku? Ini semua gara – gara kau pergi meninggalkan ku tahu.." Ujar Naruto kesal.

"Itu bukan salahku!" Seru Hinata membela diri. Naruto kini sudah dibelakang jok sepeda sedangkan Hinata yang mengendarainya. Lalu terjadi keheningan diantara mereka saat di perjalanan. Hinata masih berkutat pada pandangannya kedepan, sedangkan Naruto sibuk memandanginya dari belakang.

"Hinata chan" panggil Naruto, walau dengan suara pelan Hinata masih bisa mendengarnya dengan jelas.

"Hmm"

"Tidak apa-apa!" seru Naruto kembali diam. Ia menyadarkan kepalanya ke punggung Hinata sambil memejakan mata menikmati moment hangat seperti ini. Sebenarnya walau Hinata terlihat dingin dan pendiam dari luar, tapi sebenarnya dia sosok yang hangat, itulah yang kini Naruto pikirkan. Entah bagaimana jika Hinata tidak ada bersamanya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

"Tadaima!" seru Naruto membuka pintu rumahnya yang besar, tapi tampaknya tak ada yang menjawab. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang membersihkan ruangan, Naruto memasuki kamar dengan lesuh dan di ikuti dengan Hinata yang juga memasuki kamarnya.

Krieeet!

Pintu kamar pun ditutup secara bersamaan. Hinata yang sudah sampai di kamar pun segera melepas sepatunya dan menaruhnya di rak. Kemudian, ia mengganti seragam sekolahnya dengan baju simple di kamarnya.

Setelah itu, ia berjalan ke dapur ingin menyiapkan makanan. Dan kalau ingin ke dapur, harus melewati ruang tengah dulu. Ternyata, di ruang tengah itu, terdapat Naruto sedang menonton acara kesukaannya di televisi. Tapi ia sepertinya tidak berfokus ke tayangan Tv.

"Apa yang sedang kau lakukan?" Tanya Hinata melihat Naruto yang tampak menyeringit kesakitan.

"Hinata chan, tolong aku!" Ucap Naruto memohon.

"Apa?" Tanya Hinata.

"Aku tidak bisa mengobati luka ku sendirian!" Jawab Naruto merengek kesakitan, Hinata mendecih melihat Naruto yang terlihat seperti anak – anak dimatanya. Kalau satu sekolah tahu bagaimana sikap pangeran disekolah, mungkin akan menjadi topic hangat selama tiga bulan atau lebih.

Hinata mengambil obat yang di pegang Naruto lalu ia memposisikan dirinya duduk disamping Naruto. "Kau ini.. huh, sampai kapan kau akan bersikap kekanak-kanakan, Naruto? Umur mu sudah beranjak 17 tahun. Apa kau mau dibilang sebagai bayi berpopok besar…" Omel Hinata. "Balikan badan mu!" Ujar Hinata memerintah, Naruto menurut saja.

"Jangan mengejekku Hinata chan!" gerutu Naruto tak terima.

Hinata tampak tak memperdulikan perkataan Naruto. Karena ia sekarang sedang fokus mengobati luka pria ini, "Kushina san dan Minato san pergi kemana?" Tanya Hinata yang kini sudah selesai mengoleskan obat itu pada luka di punggung Naruto.

"Otousan dan Okasan pergi ke Suna untuk menghadiri acara pernikahan kerabat jauh disana " jawab Naruto.

"Apa kau sudah makan?" tanya Hinata. "Aku ingin masak ramen, apa kau mau?" ia segera bergegas masuk ke dapur. Naruto yang mendengar kata 'Ramen' langsung berjalan menghampiri Hinata didapur.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

"Aku bisa memasaknya sendiri, Naruto. Kau kembali saja!" Hinata sedikit kesal karena Naruto terus saja menempel di dekatnya. Jujur saja itu membuat Hinata sedikit merasa risih.

"Aku hanya ingin membantumu membuat makan malam, ttebayo!" Naruto berucap dengan senang sambil terus mengiris beberapa potong tahu menjadi dadu-dadu kecil.

"Tetapi kau hanya menggangguku, Naruto!" Hinata mulai kesal karena Naruto memotong bahan makanan lain yang acak-acakan.

"Oh, ayolah Hinata! Kau sudah mengantarkan aku pulang tadi dan membantuku mengobati luka di punggungku. Jadi, apa tidak boleh aku membantu adikku sendiri menyiapkan makan malam?" Naruto menghentikan aksi potong memotongnya sekilas untuk menatap wajah Hinata.

Hinata yang mendengar Naruto menyebut kata 'adikku' hanya dapat tertohok dalam diam. Mungkin ini bukanlah kali pertama ia mendengar Naruto menyebut panggilan itu di depannya. Tetapi entah mengapa saat Naruto mengucapkannya, ia merasa sangat tidak senang. Setelah sadar dari lamunannya Hinata kembali ke aktivitasnya mengaduk kuah ramen.

Naruto masih sibuk memotong sayuran-sayuran di tatakan, "Awww!" pekiknya kesakitan memegang jarinya.

"!" Hinata menoleh. "Kamu nggak apa-apa?" tanya Hinata dengan nada sedikit khawatir.

"Gyaa! darah.." teriak Naruto histeris.

"Kalau dijilat sembuh kok!" desah Hinata.

"E..eh! dijilat.. mana bisa! Huaaaa" Naruto bertingkah kelabakan.

"Dasar manja! sini, kemarikan tanganmu.." desah Hinata. Naruto mengulurkan tangannya, Hinata melilitkan kain basah ditangan Naruto yang terluka. "tunggu sebentar!"

~Prov Hina~

JRENG!

Kini tangannya sudah diperban dengan rapih. "Tenang saja. sudah diobati kok"

Naruto tersenyum menawan, "Hehehe.. Makasih ya Hinata-chan!"

"Bukan apa-apa kok!" dasar menyebalkan, apa boleh buat. Tapi kenapa kamu bisa tersenyum begitu? bagi Naruto luka yang dialami bukanlah masalah besar. Dia masih bisa tertawa dan melihat ke atas. Sedangkan aku, selalu merunduk karena khawatir akan terluka. Aku tidak mau berhubungan dengan orang lain. Aku tidak mau terluka, Tapi.. kalau aku bisa.. aku selalu ingin melihat senyuman mentarinya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

SEMINGGU KEMUDIAN.

Tiba saatnya hari Senin. Sebagai ketua kelas Sarah memimpin memberi aba-aba untuk memberi salam pada guru. Tes pun akan segera dimulai, Kurenai meminta siswanya menyimpan semuanya dari meja kecuali alat tulis.

Sakura gugup, ia tak ingin kejadian tes senin lalu terulang lagi. Ia memeriksa semua pensilnya. Ok itu sudah diraut semua.

Tapi oh tidak, Sakura merasakan ada yang lain di perutnya. Sakura pengen ke toilet. Kebelet pipis.

Tes pun dimulai. Kurenai keliling dan melihat meja Kiba kosong, "Apa Inuzuka Kiba tak masuk?" Tanya Kurenai. Semua siswa mengangkat wajahnya tak ada yang menjawab. Mereka tak tahu.

Sakura yang pengin pipis berusaha menahannya. Ia benar-benar tak bisa konsentrasi mengerjakan soal. Ia gelisah, duduk tak tenang. Hinata yang duduk di belakang melihatnya. Keringat dingin Sakura mulai keluar. Ia benar-benar sudah tak tahan lagi.

"S..Sensei S..saya izin ke t..toilet"Dengan suara terbata-bata Sakura pada Kurenai agar membolehkannya ke toilet.

"Bukankah sebelumnya aku sudah bilang tak ada yang namanya izin ke kamar mandi ketika tes berlangsung" Kata Kurenai. Sakura tahu itu, tapi ia tak bisa menahannya. Keringat Sakura semakin banyak yang keluar.

Sakura berdiri berniat memohon agar Kurenai mengizinkannya sekali ini saja "Saya mohon..".

"Silakan pergi ke toilet tapi dengan catatan Kau tak bisa melanjutkan mengerjakan tes" Ucap Kurenai memperbolehkan. Sakura yang tak mau berada di peringkat akhir lagi terpaksa menahan keinginannya untuk buang air. Ia kembali duduk.

Teman-temannya menatap Sakura dengan tatapan iba. Mereka sepertinya tahu kalau Sakura tak bohong dan benar-benar ingin buang air. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak mereka kembali mengerjakan soal-soal tak mau berada di peringkat bawah.

Hinata berdiri karena iba melihat Sakura "Sensei.. tolong izinkan Sakura untuk pergi ke toilet" Kata Hinata dengan berani meminta izin pada Kurenai untuk membolehkan Sakura ke toilet. "Aku lihat kalau Sakura sudah tak bisa menahannya".

Kurenai berkata "itu hanya pura-pura dan pasti di kamar mandi Sakura akan mencontek, siapa yang akan mengawasi kalau Dia benar-benar mencontek. Aku tak bisa terus-menerus mengikutinya."

Hinata meyakinkan kalau Sakura ke toilet bukan untuk mencontek tapi benar-benar kebelet.

"kalau yang namanya peraturan itu harus ditaati" Kata Kurenai mengingatkan. "Sakura boleh saja pergi ke toilet kalau dia mau, tapi tes-nya akan dianggap gagal".

"Saya merasa tak ada peraturan yang menyiksa orang. Meskipun peraturan yang Sensei terapkan itu benar tapi kali ini sensei salah. Bukankah sensei sedang menyakiti Sakura?"

Kurenai tertegun dengan protes yang diucapkan Hinata. Ia mendekat menatap tajam Hinata, "Kalau begitu kenapa kau tak pergi bersamanya saja? Tapi kau harus tahu kalau setiap tindakan pasti ada konsekuensi-nya. Kalau kau pergi dengannya sekarang, maka kau juga akan gagal dalam tes. Tak ada pengecualian dalam peraturanku."

"Baik!" Kata Hinata tak masalah, ia sama sekali tak keberatan. Kurenai sedikit terkejut dengan keberanian Hinata.

"Ayo.. Ikut aku!" ajak Hinata meminta Sakura segera ke toilet. Ia akan mengantar Sakura. Hinata meraih tangan Sakura untuk segera ke toilet.

Kurenai melihat lembaran soal milik Hinata, sudah dikerjakan semua. Ia menatap iba. Sepertinya hatinya mulai goyah nih.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Bel tanda pelajaran selanjutnya dimulai berbunyi, anak-anak kelas XI-3 bersiap duduk di tempatnya masing-masing. Sakura menunduk diam. Dengan tingkah konyolnya Rock Lee berdoa semoga Sakura berhasil dalam tes kali ini. Sakura hanya tersenyum pahit.

Sasuke datang menghampiri Sakura yang sedang menunduk diam. Sasuke bertanya "Apa perasaanmu sudah membaik?". Sakura tak menjawab. Sasuke mengusap puncak kepala Sakura dengan lembut, "Tidak apa – apa! Jangan bersedih.. masih ada kesempatan bukan" Seru Sasuke menghiburnya. Sakura menatap Sasuke dengan wajah yang sudah cerah kembali.

"Arigatou Sasuke kun!" Sahut Sakura dengan senyum manisnya. Bebannya serasa hilang saat Sasuke ada disampingnya.

Sakura menoleh ke belakang tempat Hinata duduk. Keduanya bertemu pandang dalam diam. Sakura tersenyum kecil menyampaikan rasa terimakasihnya pada Hinata. Hinata mengaguk lalu kembali tetap berada dalam kesibukannya membaca buku.

Kurenai masuk ke kelas. Sara akan memimpin teman-temannya untuk memberi salam tapi Kurenai menyuruhnya duduk. Kurenai akan mengumumkan hasil tes hari ini. Peringkat pertama dengan nilai 100 diperoleh kembali oleh Hyuuga Hinata. Teman-temannya kagum. Hinata bisa mendapatkan nilai 100 padahal tadi sempat mengantar Sakura ke toilet.

"Berusahalah untuk tetap mempertahankan nilai ujian mu Hinata!" Seru Kurenai menyerah hasil lembaran ujian Hinata. Sepertinya tidak ada perubahan peringkat minggu ini dari minggu kemarin.

"Uzumaki Naruto, sensei harap nilai mu akan berubah minggu depan. Kalau tidak ada perubahan, terpaksa kau masuk kelas tambahan di musim panas." Kata Kurenai memperingati Naruto.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Ceklek! Hinata membuka pintu kamarnya, tapi kenapa tidak terkunci?

"Kau sudah pulang?" Hinata menoleh, melihat Naruto sudah berada di hadapannya. "Apa-apaan ini," kesal pria itu, "Apa kau tidak membaca pesan singkatku?" Unjuk pria itu memperlihatkan isi pesan ponselnya.

Sebenarnya Hinata sudah menerima pesan singkat dari Naruto. Yang memberitahu bahwa pria itu ingin belajar bersama untuk hari ini.

"Aku tak membawa ponselku. Aku tidak tahu," jawab Hinata sembari mulai mengeluarkan beberapa buku. Naruto berdecak Kesal seraya menarik kursi di hadapan Hinata dan menghempaskan tubuhnya.

"Coba kita lihat," ujar Hinata mengabaikan pandangan tidak suka yang diberikan oleh Naruto, "Jadwal besok—ada ulangan fisika. Kalau begitu. Sekarang kita pelajari materi untuk ulangan besok." Merasa jenuh, Naruto menyandarkan dirinya di kursi sambil bertekuk tangan. Sedangkan Hinata sibuk menerangkan yang ia tau bahwa Naruto pasti tidak akan mendengarnya.

"Aku mencoba bertanya-tanya tentang hal ini," ucap Naruto membuat gerakan Hinata terhenti. "Seberapa luas wawasan mu itu Hinata?"

"Aku tidak tahu?" jawab Hinata sekenanya. "Naruto, apa ada penjelasan ku yang tidak kau mengerti?" tanya Hinata balik.

"Aku tidak mengerti semuanya!" jawab Naruto pendek.

"Dasar Bebal, tak tahu diri.." Gumam Hinata mengejeknya.

"Apa kau bilang?" Ujar Naruto tak terima dengan ejekan Hinata kali ini. Sepertinya pancingan Hinata berhasil mengenainya.

Hinata memasang seringai liciknya, (Sebenarnya tidak licik!) "Terkadang aku sangat kasihan dengan Minato-san? Kenapa dia punya anak pemalas sepertimu. Bahkan untuk belajar mandiri saja kau tidak bisa, setiap hari pasti tubuhmu terluka karena ulah kecerobohanmu. Dan sifatmu masih sangat kekanak-kanakkan! Walaupun kau terkatagorikan laki-laki tertampan disekolah, tetap saja hanya orang pintarlah yang diakui kehebatannya, bukan begitu Uzumaki-san!"

Tatapan Naruto menajam, wajahnya tampak serius terbawa emosi. Dari gestur tubuhnya juga sudah kelihatan bahwa dia tidak suka dengan nada bicara Hinata.

"Aku sedang tidak ingin bercanda, Hinata!" seru Naruto bernada dingin, bahkan ia memanggil Hinata tanpa sufix-chan, seperti biasanya.

"Murid yang tidak baik? juga Minato-san yang memiliki anak sepertimu. Aku merasa begitu kasihan." Kata Hinata tanpa menghiraukan tatapan kemarahan dari tokoh yang sedang ia bicarakan ini. "Seharusnya kau berusaha lebih keras! Setidaknya, walau kau tidak sanggup meraih peringkat sepuluh besar dikelas. Berhentilah bersikap kekanak-kanakan, dan hilangkanlah sikap manja mu itu. Bukankah itu mudah?" Lanjut Hinata memperlihatkan senyuman mengejek.

Brak! Naruto bangun dari tempat duduknya. Tangannya mengepal, matanya menyipit tajam, mulutnya bergurau tak jelas. "APA KAU BERMAKSUD MENGEJEKKU?" Teriak Naruto tak terima.

"Aku tidak bermaksud seperti itu? Apa kau selalu berpikir negatif setiap mendengar tanggap jelek orang tentang dirimu, Naruto." Desah Hinata. Ia menepuk dahinya dengan jari telunjuknya, TUk..Tukk..

"Ah! bagaimana kita buat menarik saja!" Seru Hinata menyampaikan idenya.

Naruto menyeringit dahi tak mengerti, "apa maksudmu?" masih dengan nada setengah kesal.

Sedangkan Hinata melebarkan seringainya, "Aku menantangmu! Jika kau bisa masuk peringkat sepuluh besar dalam tes minggu depan, aku akan menarik semua perkataanku tadi. Bagiamana?" Tawarnya.

Salah satu alis Naruto terangkat,"Owh.. Jadi kau menantangku! Baik.. ku terima tantanganmu itu Hyuuga. Jangan menyesal jika nanti kau yang kalah!" Ujar Naruto dengan penuh penekanan pada kalimatnya dan tak lupa dengan seringai yang muncul disudut bibirnya.

"Deal!"

"Deal!"

.

.

TBC

.

.

Author: Konichiwa… mina-san. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya.. J

Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..

Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D

Dan maaf kalau belum ada balasannya! GOMEN!

Tolong tinggalkan juga REVIEWnya.