Warning : GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Pairing : NaruHina

Main Chara : Hinata dan Naruto.

Another Chara : Sakura, Sasuke, dan Shion Ect.

Genre : Romance, Hurt/comfort & Friendship

Uzumaki Naruto: 17 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Haruno Sakura: 17 tahun.

Uchiha Sasuke: 17 tahun.

Shion : 16 tahun.

Tepat pukul 02.00 malam.

Buku-buku dengan halaman yang cukup tebal bertumpuk tinggi menggunung di atas meja. Naruto sendiri sedari tadi sedang mengerjakan soal-soal matematika yang ada di hadapannya. ia membuka semua buku matematika, bahkan beberapa lembar kertas berserakan dilantai kamarnya. Kali ini Naruto berkutat pada buku catatannya. Beberapa menit setelah ia membaca-baca ringan catatannya kembali. lalu, ia beralih pada buku latihan!

Saat membaca soal-soal yang sudah disediakan di buku itu. Wajahnya nampak menunjukan ekspresi ke sulitan. Sedangkan, pikirannya malah balik bertanya pada buku latihannya sendiri. Darimana asal rumus-rumus ini? Lalu bagaimana menempatkan semua rumus ini? Dan apa maksud dari soal ini?. Pikirnya seperti itu.

Tatapannya beralih ke buku catatannya kembali. Setelah membaca cukup lama, ia melihat soal-soal tadi. Yah... seperti itu? terus berulang - ulang. Setelah hampir memakan waktu setengah jam, akhirnya Naruto dapat menyelesaikan satu soal pertama! Mungkin akan ada peninggkatan sedikit demi sedikit.

Tak terasa sinar matahari mulai menerangi langit malam. Langit biru mulai menyembul dari balik gerumbulan awan. Pagi begitu terasa dingin, belum lagi ini sudah pukul 5 pagi dan ia masih belum beranjak dari meja belajarnya. Naruto melirik jam dinding.

"Huh! Sudah jam 5? lebih baik aku mandi dulu.." pikir Naruto.

Ia merapikan buku-bukunya. lalu mematikan lampu meja belajarnya dan mulai beranjak mandi. AH! kepalanya terasa pusing karena bangun pagi secara tiba-tiba, apalagi dia belum makan dari kemarin sore.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Di meja makan.

Minato dan Khusina sudah duduk menikmati sarapan mereka, lalu tak lama kemudian Hinata datang menyusul. Untuk sarapanya kini Hinata mengambil dua lembar roti dengan selai coklat di atasnya dan air putih untuk menetralisi tubuhnya.

"Hinata chan.. Bagaimana sekolah mu?" Tanya Minato seiring menyesap teh buatan istri tercintanya. Mereka tiba dari kepulangan sunah kira-kira mungkin kemarin tepat pukul 7 malam. Entah bagaimana rasanya jika kau habis berpergian dari luar kota, esoknya kau harus kembali bekerja lagi. Pasti sangat melelahkan!

"Aku akan bertemu dengan guru mu hari ini." kata Minato. "Kudengar kau belajar dengan sangat baik."

"Ya." Ujar Hinata lembut.

"Apakah ada hal lain yang ingin kau lakukan selain bersekolah?" tanya Minato. "Apakah kau ingin mengambil kelas menari?"

"Tidak."

"Kalau begitu, apa kau ingin belajar piano atau violin?" tanya Minato lagi.

"Tidak." Jawab Hinata pendek.

"Apa cita-citamu jika sudah dewasa?"

"Aku masih belum memikirkannya?" Sahut Hinata.

"Jika kau butuh sesuatu, katakan saja padaku." kata Minato. "Jika kau merencanakan sesuatu untuk masa depan dan butuh bantuan, kau bisa datang dan bicara padaku. Aku akan melakukan apa yang kubisa untuk menolongmu. Kau bisa bergantung padaku."

"Baik!"

"Kudengar kau meraih peringkat pertama lagi, bukan?" Ujar Minato.

Hinata mengangguk pelan. "Ya.."

"Kau seperti tidak tahu saja sayang. Putri kita yang satu ini sangatlah pintar dan tidak diragukan lagi kemampuan akademiknya." Puji Kushina.

Minato mengangguk-angguk membenarkan perkataan istrinya. Tapi rasanya ada yang kosong diruangan ini, anak laki-laki semata wayangnya ternyata tak berada dimeja makan. Apa ia masih tertidur pulas dikamarnya.. Ya Tuhan... "Hmm.. Kenapa dia belum sarapan. Apa Naruto masih belum bangun?" Tanya Minato.

"Mungkin.. coba aku panggilkan pelayan!" Seru Kushina. Ia menyeruak nama seorang pelayan di rumah ini.

Lalu nampak pelayan berjalan mendekati ruang makan. "Ada apa, Kushina-sama?" Tanya sang pelayan.

"Apa Naruto belum bangun tidur? Tolong kau bangunkan dia dan suruh dia bergabung sarapan." Perintah Kushina kepada sang pelayan.

"Oh.. Naruto-sama sudah bangun dari tadi pagi dan sepertinya ia sudah berangkat sekolah. karena tadi saya lihat Naruto sama keluar kamar sudah lengkap dengan seragam sekolahnya rapih. Tapi saya tidak tahu kalau ia sudah sarapan atau belum..? Karena ia terburu-buru pergi.." Ujar sang pelayan.

Keheningan menyeruak ruangan sesaat. Sepertinya kedua orang ini terkejut tapi juga senang, karena Uzumaki Naruto sudah mulai ada perubahan. Sedangkan sang Gadis indigo tersenyum kecil dalam diamnya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Di kelas.

Tampak seorang pemuda terduduk lesuh di mejanya. Sontak kelas yang tadinya berisik sekarang hanya menyeruak keheningan, Karena sang pembuat onar tak lagi melakukan attraksinya di kelas. Beberapa murid memang terkejut melihat perubahan salah satu pangeran mereka, entah kebetulan saja atau di sengaja. Naruto tampak cuek dengan orang-orang yang menyapanya tadi.

Sepertinya karena bukan tidak mau membalas sapaan mereka. Tapi kepalanya terasa pusing, matanya berkunang-kunang, dan perutnya keroncongan. Jadi sekedar untuk berbicara saja dia sudah malas apa lagi bergerak dengan lincah. Tempat dimana tersedia makanan di sekolah hanya satu tujuan yaitu kantin. Tapi sayang belum buka..

KRUYUK!~

Cacing-cacing diperutnya tampak berdemo-demo untuk meminta jatah makanan mereka. Sedangkan Naruto tidak memperdulikannya sama sekali, ia hanya menumpukan lengannya diatas meja lalu tidur...

KRUYUK!~

Sial, ternyata isi perutnya tak mau berkopromi begitu saja. Kalau begini jadinya, sepanjang pelajaran ia akan ditertawakan seisi kelas karena ke gaduhan suara rasa laparnya di perut. Hua... Bagaimana ini?

SREK!

Naruto tersentak ketika kepalanya tertimpa sebuah benda kecil. Dengan rasa kesal yang mulai membara, ia mengangkat kepalanya untuk melihat sang pelaku. Wajahnya nampak siap untuk menerkam bengis pelaku dan setelah ia mengedarkan pandangan kebelakang, akhirnya wajah sang pelaku tertangkap. Hyuuga Hinata! dengan wajah tenang ia mendekati Naruto.

"APA!" Seru Naruto dengan nada tinggi, sampai-sampai seisi kelas memusatkan diri kepadanya. Sedangkan Hinata mendengus kesal..

Tapi langkahnya tak terhenti begitu saja, ia masih mendekati Naruto."Nih!" Hinata mengulurkan tangannya ke arah Naruto dengan sebuah roti yang berada digenggamannya. Perlahan Naruto mengangkat tangannya untuk mengambil roti itu. Wajahnya tampak tak bersalah karena sudah membetak Hinata.

"Lain kali jangan membentak orang seenaknya!" Seru Hinata memperingati.

"Iya tak akan aku ulangi.. Kau juga jangan seenaknya memanggil orang dengan melempar barang" Kata Naruto berbalik memperingatinya. Hinata mengangguk mengerti. "Terima kasih untuk rotinya! Oh.. ya dari mana kau tahu kalau aku sedang membutuhkan makanan?" Tanya Naruto.

Hinata mendengus, "Kushina-san yang menyuruhku memberikannya kepadamu!", Naruto mengangguk mendengarkan sambil memakan roti pemberiannya."Apa kau belajar tengah malam? Cuci muka sana! Apa kau tahu kalau kau belajar seperti itu tidak akan berhasil malahan kau akan kekurangan tidur. Atur waktu belajarmu dengan baik! Lain kali jangan merepotkan aku lagi!" Seru Hinata beranjak dari meja Naruto.

"Dasar menyebalkan!" Gumam Naruto pelan.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

~Skip Time~

Hari yang telah ditentukan tiba. Seperti biasa saat memasuki kelas semua siswa ribut dan berisik. Hinata pun sudah terbiasa di kelasnya, jika kelas kosong apalagi kalau guru pembimbingnya tidak masuk, makin membuat suasana kelas menjadi gaduh meraja lela saja mereka di kelas.

"Gimana? Udah pada siap?" Tanya Sakura.

"Yah.. lumayanlah!" Jawab Ino malas.

"Heh.. lumayan? Kau terlihat santai dengan jawaban mu tadi Pig." Ujar Sakura. Sedangkan Ino hanya diam kembali sibuk dengan catatannya. Tampaknya kali ini dia sedang tak berselera meladeni ejekan Sakura.

"Lalu, Bagaimana denganmu Hinata-chan?"

"Ya.. aku sudah siap! Sakura-chan jangan terlalu gugup nanti malah kaya minggu kemarin lagi." Gurau Hinata.

"Jangan mengejekku Hinata-chan!" Gumam Sakura.

"Iya.. iya.. Gomen!"

'ssh!' terdengar desis dari meja dekat pintu, isyarat munculnya Kurenai Sensei. anak anak bertemperasan ke bangku masing masing. Kurenai Sensei meluncur masuk ke XI-3, tumit sepatunya bergema. Semua murid terdiam saatnya ujian berlangsung.

Semua siswa sudah siap dengan perbekalan dari minggu kemarin. Peringkat ujian kali ini akan di pajang didepan mading sekolah, jadi mereka harus berusaha yang terbaik agar nama mereka tidak berada di urutan terbawah dan dilihat orang banyak. Setidaknya mereka masuk lima puluh besar.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Beberapa hari kemudian. Seluruh siswa bergerumul didepan mading, saling berdesak-desakan untuk melihat hasil peringkat ujian mereka yang tertera tepat di depan mereka. Terutama Naruto yang sudah dari pertama melihat hasil ujiannya.

"Wah! kelas XI-3 hebat juga ya!" Seru para siswa memuji.

"Kudengar wali kelasnya sangat ketat kepada anak-anak muridnya!"

HASIL PERINGKAT UJIAN KELAS XI.

1. Hyuuga Hinata [XI-3]

2. Uchiha Sasuke [XI-3]

3. Nara Shikamaru [XI-3]

4. Sabaku Gaara [XI-1]

5. Sarah [XI-3]

6. Sasori [XI-2]

7. Haruno Sakura [XI-3]

8. Aburame Shino [XI-1]

9. Tetsuya [XI-1]

10. Sabaku Temari [XI-3]

Nampaknya ia harus menelan bulat-bulat ke kecewaannya. Ternyata perkataan Hinata tempo hari itu benar. Ia tak lebih dari seorang pembuat onar yang hanya menampang wajahnya saja. Kenyataan memang tidak selalu membahagiakan..

"Naruto kau peringkat ke berapa?" Tanya sai yang sudah duduk tepat di samping mejanya.

Dengan lesuh ia menjawab, "47 dari 300 murid. Padahal peringkat atasnya kebanyakan dari kelas kita.."

"Eh! kok usahanya setengah-setengah sih?"

"Kalau kau?" Tanya Naruto.

"Peringkat 74" jawab sai Santai. kelewatan...

Naruto sewdrop sendiri,"Sama saja dong kalau begitu!"

"Tanggung sekali, daripada 47, kenapa nggak peringkat 300 saja Dobe!" Kata Sasuke, dia tidak menyadari sama sekali kalau kalimatnya barusan malah semakin memperburuk keadaan. "kau sendiri juga kenapa nggak peringkat 100 aja sekalian!" sindirnya pada Sai.

"Wah... wah... Teme jangan-jangan kau melihat dari tempat super tinggi ya!?" Kata Naruto dengan sikut perempat yang sudah berkedut di dahinya.

"Memang kenyataan begitu, dobe!" Kata Sasuke menyindir. Tapi Naruto sudah beranjak pergi dari tempat itu duluan mendahuli mereka.

.

.

.

.

~Pov Naru~

Sepertinya keajaiban hanya terjadi dalam dunia hayalan, mana mungkin murid sepertinya dapat peringkat atas dalam waktu seminggu. Sangat tidak mungkin sekali.. Bukan~~

HAH!

Entah sudah berapa kali desahan itu keluar dari mulutku. Aku mengirup udara segar sebanyak-banyaknya lalu ku buang melalui mulut. dengan begitu rasa frustasi ku akan berkurang sedikit. Kalau mengingat kejadian tadi, pasti Hinata sudah melihat peringkatnya. Pasti saat ini dia sedang menertawaiku!

Dengan sisa tenaga aku rebahkan tubuhku dibawah pohon maple tua. Angin yang bertiup kencang membuat suhu tubuhku terasa dingin. Seharusnya tadi aku membawa jaket dari rumah. Bodohnya aku?

Tatapanku beralih pada langit yang membiru cerah. Rasanya penatku begitu meludak saat ini, usahaku, pengorbananku, semuanya sia-sia. Tapi setidaknya aku bersyukur mendapati urutan 47 disekolah.

Kantuk terasa menyerangku bersamaan dengan desissan angin yang menerpa wajahku. Entah berapa jam selama minggu ini aku tertidur, rasanya kalau beristirahat sebentar disini tidak apa-apa juga? Setidaknya, setelah bangun ia sudah merasa segar kembali.

.SKIP TIME.

Mata ku masih terpejam. Sesuatu yang begitu panas menempel di pipiku lalu menghilang, aku mencoba untuk tetap tertidur tapi benda panas itu menempel lagi ditelapak kaki ku dan membuat aku terbangun. Kepalaku terasa pening, panasnya tadi masih bisa kurasakan saat tanganku menyentuh permukaan pipiku.

Aku terdiam.

Kepalaku kembali sakit.

Aku menundukkan kepala, membiarkan rasa sakit di kepalaku itu. Lima menit setelahnya, sakit itu terasa hilang. Aku mengusap wajahku sekaligus mengumpulkan kembali kesadaranku.

~END POV~

Naruto mengusap wajahnya dengan kasar sekaligus mengumpulkan kesadarannya. Ia berangsur melihat jam ditangannya, 05.00 sore. Ternyata sudah tiga jam ia tertidur disini. "Huh.." ia menghela nafas.

"Akhirnya kau bangun juga!"

Naruto terbelalak ketika melihat Hinata sudah berada didepannya. Sejak kapan dia? Dan bagaimana bisa dia kesini. Tatapannya beralih ke tangan Hinata.

"jadi kau membangunkan ku dengan itu?" tanya Naruto setengah kesal. Melihat sebuah kebab yang dibungkus dengan kertas di tangan Hinata.

"habis kau tidak bangun, sudah kupanggil-panggil namamu Naruto..Naruto… Bangun! Tapi ternyata kau tidur seperti orang mati. Jadi aku menempelkan ini ke wajahmu agar kau ke panasan…" Ujar Hinata tanpa rasa bersalah.

"Berhentilah, menyiksa ku Hinata-chan!" seru Naruto tak terima. Tapi sepertinya perotesan Naruto selama ini hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Hinata dengan santainya memakan kebab lezat itu di depan Naruto.

Rasanya air liur Naruto ingin menetes melihat Hinata memakan kebab yang terhat sangat enak. Tanpa menunda Naruto mencuri semua makanan Hinata dengan rakus. Sampai hinata tercengang melihatnya.

"kau kelihatan sama sekali belum makan tiga hari?" Kata Hinata iba. "Oh.. iya aku sudah melihat hasil tesnya" Lanjutnya, membuat Naruto berhenti memakan kebabnya kini.

Ia memandang kearah Hinata dengan was-was" Ternyata tidak buruk juga!"

"kalau kau ingin mengejekku lagi, ejek saja! Tapi jangan berkata seperti itu…"

"maksudmu apa?"

Naruto menunduk, selera makannya tiba-tiba hilang begitu saja. "yah.. kalau ingin mengejek tidak perlu memuji juga! Aku tahu aku hanya besar mulut saja"

Hinata mendesah kecewa, "dasar bodoh, aku ini bukan orang picik. Aku pasti akan menghargai hasil kerja keras orang tahu…"

"…"

"Sudahlah.. aku ingin pulang!" seru hinata beranjak meninggalkan Naruto yang mematung di tempat.

"apa itu pujian?" gumam Naruto tanpa sadar.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Ketika malam musim gugur tiba. malam musim gugur yang teramat sepi. Gelap. Tak ada lampu penerangan di ruangan ini. Yang ada hanya sinar rembulan yang menerobos masuk dari cela-cela atap kamar dan jendela. Suara binatang malam. Suara gemuruh angin yang memecah kesunyian

Hinata menguap panjang, lalu melihat ke arah jam dinding kamar. pukul 12.00 malam! ia ingin kembali tidur tapi rasa haus meraung-raung di tenggorokan. Terpaksa ia harus berjalan keluar kamar yang gelap menuju dapur untuk mengambil minum.

Tapi penglihatannya menangkap sesuatu sebelum menuruni tangga. Lampu kamar si pirang masih menyala, tandanya ia belum tidur atau …

Hinata menghampiri kamar Naruto lalu mengetuknya dengan perlahan, "Masuk!" setelah mendengar jawaban masuk Hinata membuka pintu kamar perlahan, dan kepalanya menyembul keluar. Bisa dilihat kini Naruto tengah duduk diteras kamarnya sambil memainkan sebuah gitar. Sesaat Hinata hampir kehilangan nafasnya, ketika Naruto menoleh memandangnya dengan sayu.

"Kau belum tidur?" tanya Hinata berusaha mengurangi ke gugupannya.

"Belum!"

"Kenapa?"

Naruto tersenyum kecil sambil memberi tanda agar Hinata mendekatinya, "Mataku tak mau terpejam" jawab Naruto sekenanya.

Hinata duduk dengan kaki ditekuk dan lengan yang memeluk kakinya. Rasanya dingin sekali malam ini. "Susah tidur lagi!" seru Hinata pelan.

"Hmm" Naruto mengangguk sebagai jawaban.

Susah tidur. Ya, Naruto punya kebiasaan susah tidur makanya terkadang ia meminum berapa obat agar ia cepat terlelap dalam tidurnya. Dari dulu, Selama tiga tahun ia terus – menerus memakai obat itu. Tapi akhir-akhir ini ia sudah mulai berhenti meminumnya, katanya agar ia tak terlalu bergantung dengan obat-obatan itu. Dokter juga menyarankan seperti itu.

Hinata mengetahuinya saat pertamakali ia sekamar dengan Naruto, biasanya dia bakal tidur lelap kalau ada orang lain yang menemaninya. Jika masih susah tidur biasanya kami akan bermain Babanuku (sejenis permainan kartu jepang). Jadi selama tiga bulan Naruto sekamar dengan Hinata, kebiasaan tidur malamnya mulai berkurang. Kondisinya membaik stabil.

Tapi setelah Hinata pindah ke kamar barunya, lama kelamaan kebiasaan Naruto mulai kembali lagi. Kadang ia sampai meraung-raung karna kesusahan tidur, akhirnya saat malam tiba ia akan datang ke kamar Hinata. Untuk meminta gadis itu menemaninya hingga tertidur. Kebiasaan ini juga semakin lama menghilang begitu saja, setelah mereka beranjak dewasa Naruto mulai mengonsumsi obat-obatan dari dokter agar cepat tidur.

Dan sekarang mungkin ia akan mulai kesusahan tidur lagi.

"Hinata-chan kenapa belum tidur?" tanya balik Naruto sembari memetik gitarnya.

"Aku hanya kebetulan melihat lampu kamarmu menyala, jadi aku berinsiatif untuk melihat saja…" jawab Hinata.

Naruto terkekeh pelan mendengarnya, "oh.. kalau di ingat-ingat kapan terakhir kali kau mau memasuki kamarku ya.." gumam Naruto mengingat-ingat.

"Aku sudah lupa, tapi sepertinya tidak banyak yang berubah masih tetap sama seperti terakhir kali aku melihatnya.." Ujar Hinata menatap langit malam yang gemilang dilangit. Naruto menatap Hinata dengan intens, seperti ada sesuatu yang tidak bisa lepaskan saat melihat gadis itu. Tapi ia masih tidak tahu itu apa?

"Aku tidak pernah melihat mu memainkan gitar?" tanya Hinata menoleh menatap Naruto yang kini sedang salah tingkah takut ketahuan kegiatannya tadi.

"Aku baru belajar!" jawab Naruto berusaha agar nada bicaranya tidak gugup, "aku baru belajar sebulan yang lalu dengan teman ku.."

"Kenapa kau tidak mainkan, aku ingin mendengarnya!" pinta Hinata dengan halus.

"ah..baiklah" Petikan getar berirama tenang mengalun di udara, menenangkan jiwa Hinata dalam keheningan. Walau baru belajar ternyata Naruto sangat pandai membuat melodi indah, tak di pungkiri lagi kalau dia memang hebat dalam bidang paktektikum.

Alunan melodi itu berhenti di tengah jalan, "Bagaimana?" tanya Naruto.

"bagus!"

"hanya itu?"

"Iya.."

"ohh.. sekarang gantian kau yang menyanyi, aku tak pernah mendengarmu menyanyi sebelumnya." Pinta Naruto balik.

Hinata memang tidak punya gairah dalam bidang seni karena itu dia tidak bisa bermain alat music atau bernyanyi. Rasanya itu hanya membuang uang saja kalau ia harus belajar privat music.

"Aku tidak bisa!" kata Hinata datar.

"Mana mungkin? Semua orang pasti bisa. Apa kau tahu, jika kau bernyanyi dapat membuatmu mengingat kenangan seseorang saat bersamamu"

DEG!

Hinata terpaku mendengar perkataan Naruto. Kata-kata itu seperti tak asing di telinganya, karena ada seseorang juga pernah berkata seperti itu. Seseorang yang tak pernah Hinata lupakan..

~Flasback~

Malam itu, seorang gadis berumur 5 tahun tengah bergembira, kepalanya keluar dari kaca mobil menikmati kencangnya angin yang melintas di wajahnya dengan cepat. Terkadang mulutnya terbuka kecil, merasakan ke bebasan angin yang belum pernah ia rasakan. Kali ini tidak ada yang akan mengomel saat Hinata melakukan hal itu, karena Ibunya kini tidak ada dimobil. Gadis kecil itu duduk di depan kursi penumpang, dan sang pengemudi yang tak lain adalah ayahnya sendiri.

"Papa! Kita akan pergi kemana?" tanya sang gadis bersemangat.

Sang ayah tertawa kecil melihat anaknya sangat bersemangat saat ia di ajak pergi jalan-jalan. Persaannya begitu damai saat melihat wajah putrinya, "Kita akan menjemput ibu di bandara!" jawab Hiashi.

"Benarkah.. asik!" teriak sang gadis kecil senang.

"Sambil menunggu sampai ke sana, Hime-chan benyanyi saja?" ujar sang ayah memberi usul tapi tampaknya putrinya tak begitu bersependapat dengan ayahnya.

"Aku tidak suka bernyanyi!" jawab Hinata tidak suka.

"Kenapa?"

"Aku hanya tidak suka? Tapi aku suka jika mendengar papa bernyanyi saat aku mau tidur." Seru Hinata.

"Apa Hime-chan Tahu?. bernyanyi itu dapat membuatmu mengingat kenangan seseorang saat bersamamu. Kalau begitu kenapa sekarang tidak Hime-chan saja yang bernyanyi untuk papa, selama ini hanya papa terus yang bernyanyi.." kata Hiashi pura-pura marah dengan nada kecewa. Hiashi melirik putrinya yang terlihat merasa bersalah, ia tersenyum geli melihatnya.

"Baiklah-baiklah, aku mengerti. Jadi, papa ingin aku menyanyikan lagu papa!" kata Hinata menyerah. Hiashi mengangguk setuju.

Hinata menarik nafasnya sejenak, Gadis itu menggerakkan bibirnya untuk bernyanyi.

"Hm.. Kau tak kan pernah tahu, betapa aku menyayangimu, jika waktunya sudah tiba. kau pasti akan mengerti, kasih sayangku tak akan sernah terlepas darimu," Suara hinata terhenti sejenak lalu menarik nafas panjang "jika kau bersedih atau merasa sendirian. Panggilah aku, aku pasti akan datang.." Hinata menghentikan nyanyiannya, "Bagaimana?" ujar Hinata bertanya pendapat ayahnya.

"ehmm Bagus sekali, tidak disangka putri papa pintar menyanyi.." puji Hiashi bangga.

~END flasback~

Ia duduk termenung memandang kosong ke depan. Ada perasaan sedih saat mengingat masa lalunya. Entah perasaan sakit yang telah hilang kini muncul kembali. Rasa yang sebenarnya sangat ingin ia lupakan. Karena, setelah ia bernyanyi dan mereka sampai dibandara untuk menjemput ibunya, Ayah malah menancapkan gas. Pergi bersamaan emosinya. Hinata tak tahu apa yang membuat ayahnya marah. Tapi sebelum ayahnya marah, ia melihat sekilas ibunya bersama dengan laki-laki asing, entah siapa itu! dan mereka berpelukan.

Naruto mengguncang pelan bahu Hinata, "Hinata-chan-Hinata-chan!" panggilnya. "kau tidak apa-apa?" tanya Naruto sedikit khawatir.

"A..aku tidak apa-apa! Kurasa aku harus kembali tidur Naruto.." Hinata berjalan pergi menuju kamarnya.

"Kenapa dia?" gumam Naruto terheran.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Keesokan harinya, langit cerah mengiringi langkah anak-anak menuju sekolah.

Di dalam kelas. Suasana masih tampak ricuh, guru yang mengajar pun belum datang. Mereka semua melakukan aktivitas seperti preman di kelas, bangku dan meja berserakan dan tidak tertata rapih, di papan tulis kelas pun penuh dengan tulisan - tulisan. (padahal kelas terbaik tapi kelakuan… ck..ck…)

Srek, pintu kelas terbuka, semua murid segera kembali ke tempat duduknya masing-masing. Kakashi-sensei entah kenapa datang tidak terlambat seperti biasanya. Pasti ada sesuatu yang penting sehingga membuat Sensei yang terkenal dengan keterlambatannya itu datang tepat waktu.

"Selamat pagi!" Sapa Kakashi-sensei, membuat semua orang di kelas seketika terdiam bersamaan dan menjawab panggilan Senseinya dengan lemas.

"Selamat pagi Sensei.."

"Nah hari ini, Kalian akan memilki satu teman baru di kelas!" Ucapan Senseinya itu segera membuat kelas sedikit ribut.

"Silakan perkenalkan dirimu." Ujar Kakashi-sensei dan mempersilahkan agar murid itu memperkenalkan dirinya.

"Baik." Gadis itu segera maju ke depan kelas dan berdiri disana, mengeluarkan senyumannya yang tergolong manis.

"Salam kenal semuanya, perkenalkan namaku Shion. Mulai hari ini aku akan sekelas dengan kalian semua. Mohon bantuannya!" Ujar gadis yang bernama Shion Itu, dan tentu saja diiringi dengan sorak-sorak semua murid. Sedangkan ada seorang siswa yang masih terpaku menatapnya dalam diam, dialah Naruto. Dari kejauhan Hinata bisa melihat raut wajah keterkejutan Naruto saat melihat Shion kembali.

Cinta pertamanya yang hilang telah kembali lagi...

.

.

TBC

.

.

Author: Konichiwa… mina-san. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya..

Berhubung aku lagi ada kegiatan MOS jadi agak mengurangi waktu buat menghayal atau buat jalan cerita fic selanjutnya…

Jadi, aku tetap mengapdet fic ini.. tapi di hari sabtu atau minggu gitu!

Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..

Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D

Tapi lebih enak lewat PM deh.. Dan maaf kalau belum ada balasannya! GOMEN!