"Selamat pagi!" Sapa Kakashi-sensei, membuat semua orang di kelas seketika terdiam bersamaan dan menjawab panggilan Senseinya dengan lemas.

"Selamat pagi Sensei.."

"Nah hari ini, Kalian akan memilki satu teman baru di kelas!" Ucapan Senseinya itu segera membuat kelas sedikit ribut.

"Silakan perkenalkan dirimu." Ujar Kakashi-sensei dan mempersilahkan agar murid itu memperkenalkan dirinya.

"Baik." Gadis itu segera maju ke depan kelas dan berdiri disana, mengeluarkan senyumannya yang tergolong manis.

"Salam kenal semuanya, perkenalkan namaku Shion. Mulai hari ini aku akan sekelas dengan kalian semua. Mohon bantuannya!" Ujar gadis yang bernama Shion Itu, dan tentu saja diiringi dengan sorak-sorak semua murid. Sedangkan ada seorang siswa yang masih terpaku menatapnya dalam diam, dialah Naruto. Dari kejauhan Hinata bisa melihat raut wajah keterkejutan Naruto saat melihat Shion kembali.

Cinta pertamanya yang hilang telah kembali lagi...

Warning : GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Rated : T

Pairing : NaruHina

Main Chara : Hinata dan Naruto.

Another Chara : Sakura, Sasuke, dan Shion Ect.

Genre : Romance, Hurt/comfort & Friendship

Uzumaki Naruto: 17 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Haruno Sakura: 17 tahun.

Uchiha Sasuke: 17 tahun.

Shion : 16 tahun.

POV NARU.

Mata ini memandang jauh sosok gadis yang telah menjadi panutan hatiku. Sudah begitu lama waktu bersilam dengan cepat, kini dia telah kembali, sosok yang pernah kurindukan dan ku cintai. Begitu terpuruknya diriku setelah ia membuatku merasa melambung tinggi di atas kesenangan ku lalu menjatuhkannya dengan mudah. Gadis itu meninggalkan ku begitu saja, merusak ku secara sepihak.

Aku masih menatap tajam sosok itu, Shion. Ia menatapku saat memperkenalkan diri didepan kelas, lalu dengan ringan membuang muka tanpa melirikku sedikitpun atau menyapa saat berjalan ke tempat duduknya. Aku bagaikan sebuah hembusan angin yang hanya sekedar lewat saja. Hatiku terasa nyeri dan sesak. Perasaan ini kembali muncul lagi setelah beberapa tahun aku mencoba untuk membuangnya.

aku mecoba mengalihkan pandangan saat ia menoleh, tapi tubuhku seakan tak bereaksi dengan apa yang aku perintahkan. Aku masih terfokus memandangnya tanpa bisa berbuat apa-apa. ketika menoleh Shion menyempatkan diri untuk memberikan senyuman kecilnya padaku, entahlah tapi aku merasa senyuman itu tertuju padaku. Aku merasa diriku terlalu percaya diri sekali.

Tapi sekarang dia sudah kembali. Perasaan ku senang, sedih, marah bercampur menjadi satu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? apa dia kembali untukku dan membuat perasaanku ini kembali berharap? apa aku harus menyia-nyiakannya, bagaimana kalau aku nantinya akan menyesal dikemudian hari karena telah menyia-nyiakan kesempatan ini.

AARRRGGHH!

aku mengusap kasar wajah dan rambutku sampai terlihat berantakan. Tapi aku sama sekali tak memperdulikannya, bahkan dengan keadaanku yang sekarang saja, masih bisa ku dengar teriakan-teriakan kecil dari para siswi di kelasku saat melihat penampilanku yang terlihat sexy dimata mereka. Sekarang pikiranku tengah berkecambuk keras memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang melintas begitu saja?

End Pov.

.

.

.

.

Naruto kembali menoleh melihat Shion yang tengah ngobrol dengan Sara cs. Shion sedang menceritakan ke adaan sekolahnya di Kanada yang membuat temannya terkagum-kagum. Mereka terlihat sangat gembira dengan kedatangan Shion terkecuali untuk seorang siswi yang sedang duduk dipojok dengan buku yang menghalangi wajahnya, buku itu memang sengaja gadis itu di paparkan didepan wajahnya karena tak ingin melihat apa yang sedang terjadi dikelas. Gadis yang tak lain sedari tadi hanya memfokuskan pandangannya pada pemuda jabrik kuning itu.

Kenapa ia tak sanggup melihat raut wajah Naruto sekarang? ia hanya bisa melihatnya dari belakang yang berjarak dari tiga baris sederetan nomor terakhir dari bangkunya. Hatinya hanya merasa tak ingin melihat atau bertatapan langsung dengan pemuda itu sekarang, ia hanya terdiam ditempat duduknya meratapi nasib yang akan terjadi selanjutnya setelah ini.

Sedang disisi lain sosok gadis yang kini menjadi perhatian Naruto sepenuhnya tengah mengakrabkan diri dengan teman-teman di kelas barunya. Terlihat sangat ramah dan mudah bergaul, bahkan hanya dalam beberapa waktu yang tak cukup lama, Shion sudah berhasil merebut perhatian dari teman-teman kelasnya. Dengan senyuman manis yang tetap bertengger di wajahnya yang imut nan mungil. Berbeda sangat jauh jika dibandingkan dengan sosok seperti Hinata. Dia saja selama lima tahun terakhir ini hanya mempunyai beberapa teman yang masih bisa di hitung dengan sepuluh jari di tangannya.

Mungkin sekarang akan ada sesuatu kejadian yang menarik setelah pertemuan ini terjadi. kita tidak tahu apa yang sedang di rencanakan author untuk mereka semua.

"Shion, semenjak kau masuk ke kelas kita, semua terasa menjadi hidup." Kata Kiba melirik genit Shion.

"Benar, aku jadi semangat setelah melihat kamu datang. Apa lagi kalau gadis itu secantik kamu..." Kata Suigetsu membenarkan kata Kiba. kayaknya cari perhatian doank sama Shion...

Buagh!

Lantas setelah perkataannya tadi, sebuah buku tebal melayang tepat mengenai wajah persolennya. Suigetsu sudah tahu akan begini, makanya dia sudah siap dengan ancang-ancangnya tadi! tapi ketika ia ingin menghindar dan menangkap buku itu dengan satu tangan, tali sepatunya malah terlilit dengan sepatu pasangannya. BRUKK! al hasil dengan cepat buku itu mendaratkan ciuman manis di wajahnya.

"I..Itai...!"

sedangkan pelaku yang tak lain adalah Karin sendiri sedang tersenyum licik memandangnya terkapar dilantai. "Sembarangan, jangan sekali-kali kau mencoba menggoda teman kami Suigetsu. Kau itu tidak selevel dengannya tahu?" Ujar karin ketus.

"Itu bukan urusan mu tahu!" Sahut Suigetsu meringis kesakitan memegang pengkolan hidung mancungnya yang memerah.

"Dasar cowok!" Gumam Matsuri mendesah malas mendengar pentengkaran teman-temannya.

"Tapi kenapa kau masuk ke kelas kami. Wali kelas kami sama sekali tidak berhati nurani, apa kau tahu... Aku dan teman-teman bahkan belajar ketika liburan musim panas. Hati-hati saja kalau kau sudah berurusan dengannya" Ujar Sara memperingati. "Di kelas ini sama sekali tidak ada yang berani dengannya, walau sebagai guru, ia sangat keras dan disiplin. jika sekali saja kau melanggar peraturannya, maka jangan bayangkan bahwa kau ingin melihatnya lagi." lanjut sara dengan nada yang sedikit horror.

"Benarkah?" tanya shion antara percaya dan tidak.

Mereka semua mengangguk pasti, "Tapi terkecuali dengan hyuuga Hinata. Ku rasa dia sama sekali tidak memiliki rasa takut sama sekali pada nenek sihir itu" kata Karin. mereka semua lantas menoleh memandang Hinata dengan cara berbeda-beda.

Shion memandang sedikit tertarik dengan Hinata yang tengah membaca buku serius, lalu ia kembali terfokus dengan obrolan temannya kembali. "Dia itu anak angkat dari keluarga Uzumaki, bisa dibilang adik tirinya Naruto kun." Kata Sara melirik ke sekeliling dengan was-was. pasalnya semua orang tidak boleh membicarakan masalah keluarga Uzumaki secara terbuka, apalagi bergosip ria. Bisa-bisa mereka tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah lagi disini.

"A..Apa? Saudara tiri!" pekik Shion terkejut.

"Ssssttt! jangan keras-keras!" seru Sara Cs berbarengan. Shion mengangguk mengerti. Ia kembali terdiam, 'sejak kapan Naruto kun memiliki saudara tiri? dan kenapa dia tidak memberitahu ku waktu itu, apa dia sengaja menyembunyikannya dariku' renung shion antara kesal dan bingung.

Ia menoleh kebelakang melihat Naruto lalu beralih ke Hinata. Ia memandang sinis gadis dipojokan itu. 'gadis itu mungkin akan menjadi benteng antara aku dan Naruto nanti, tapi hal itu tak akan aku biarkan begitu saja... jika dia mencoba menghalangiku untuk mendekati Naruto kun. Akan ku pastikan dia akan menyesal nanti!' Gumam Shion sembari tersenyum licik.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Tepat pada siang hari dengan cuaca yang mendung seperti akan turun hujan, empat pemuda terlihat diatap gedung sekolah, mereka adalah Naruto, Sasuke, Shikamaru, dan Sai.

"Kupikir tadi kau akan bergegas pergi meninggalkan kelas, setelah melihatnya" Ucap salah seorang dari keempat pemuda tersebut yang bernama Sasuke.

"Tidak perlu, lagipula masalahnya hanya salah paham di masa lalu saja, aku tak akan pergi begitu saja hanya karena dia kembali lagi ke kehidupanku.." Balas Naruto dengan masih tetap bersandar pada pagar pembatas. Naruto lalu mengambil komiknya di saku jas dan kembali melihat foto...sebuah foto masa lalunya..dengan seorang gadis di masa lalunya. 'Aku masih setia menantimu bahkan pesawat penerbangan pertama mu ke Kanada kubiarkan terbang begitu saja tanpa aku didalamnya. Sebenarnya apa yang membuat kau meninggalkan ku? karna aku memang tidak ingin jauh darinya jauh dari gadis yang sangat kusayangi. Tapi kini gadis itu telah meninggalkannya dalam kesepian. Walau begitu Naruto masih tetap menantinya untuk kembali' tapi sekarang, apakah semuanya akan berubah nantinya?

"Mendokudasai, Daripada kalian berdua berbicara seperti orang yang sedang pacaran saja. Lebih baik kita kembali ke kelas sekarang juga.. bel mungkin akan segera berbunyi" Tegur Shikamaru yang tiba-tiba sudah berada dibelakang Naruto dan Sasuke.

Kemudian Naruto, Sasuke dan Shikamaru pergi ke arah tangga turun tersebut berada. Tapi naas sekali, tiba-tiba Naruto tak sengaja menginjak sesuatu hingga membuat ia dan kedua temannya terjatuh dengan pose yang kurang bagus.

"I..Ita.i!" Seru mereka ke sakitan memegang pundak, kepala, dan pinggang. Naruto menengok untuk melihat apa yang membuatnya terpeleset seperti itu. Dan tenyata sang pelaku adalah selembar kulit pisang yang bertengger berantakan dilantai.

"Kenapa kalian duduk seperti itu, apa kalian habis terjatuh?" Tanya Sai masih mengunyah makanannya. Naruto, Sasuke, dan Shikamaru pun hanya ber-sweetdrop ria melihat kejadian tersebut. Sedangkan Sai sang tersangka hanya cuek saja.

Mereka menatap garang kepada sai yang masih santai menanggapinya, dengan emosi hampir meledak-ledak mereka berteriak. "SIALAN KAU SAI!"

Setelah berhasil melepaskan ke kesalan mereka, sang korban tengah tersungkur babak belur di lantai "apa salah ku?" teriak sai menjerit. Naasnya!

.

.

~SKIP TIME~

.

.

"Bagaimana?" tanya shikamaru sedikit memaksa.

"Terserah saja. Jika kalian ingin segera ke kelas silahkan saja! aku masih ada urusan lain.." Sanggah Naruto kemudian pergi dari tempat tersebut meninggalkan kedua temannya yang masih terpaku disana.

Naruto berjalan ke arah kamar mandi, ia berjalan dengan cepat karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, dilorong terlihat sepi sekali tidak seperti biasanya, Naruto merasa ada yang ingin melewati koridor yang ia huni sekarang dari arah berlawanan. Tuk..Tuk.. derap langkahnya makin cepat menaiki tangga hingga akhirnya wajah seorang gadis itu terlihat.

Naruto masih berjalan dengan santai dan berpapasan dengan gadis tersebut tanpa meliriknya. Setelah beberapa langkahnya gadis itu pun langsung membalikkan badan dan tangan mereka sudah bertautan, atau lebih tepatnya Shion menarik seragam Naruto dan memeluknya dari belakang.

Naruto tersentak kaget, tapi tak melakukan perlawanan sama sekali. Hanya membiarkan Shion melakukan kegiatannya sendiri. Entah, sekarang apa yang harus ia lakukan, saat ini juga. ia tak dapat berpikir apa-apa. Seakan semuanya terhalang oleh suara detak jantung Shion yang berdebar kencang. Perlahan Shion melepaskan pelukannya dan menghadap ke arah Naruto. Ia memberikan senyuman termanisnya sambil mengucapkan "Tadaima!" Seru Shion pelan.

Naruto terdiam hanya menatapnya tanpa merespon perkataan Shion. "Kenapa kau tak menjawab? apa kau masih marah padaku Naruto kun?" Tanya Shion dengan manja.

Dengan penuh kesadaran bahwa yang dialaminya bukanlah sebuah mimpi, akhirnya Naruto merespon kembali perkataan Shion. Ia menggeleng "O..Okaeri!" Sahut Naruto sedikit gugup. "Apa yang sedang kau lakukan disini Shion? bukankah sebentar lagi kelas akan mulai.." tanya Naruto balik.

Shion tersenyum senang setelah Naruto merespon kembali ucapannya, "Aku merindukanmu! Kau tidak suka melihatku kembali ya, Naruto-kun?" tanya Shion dengan nada rendah merajuk, tapi tetap saja genggaman tangannya tidak di lepaskan malah semakin mempererat.

Bibir Naruto membuat lengkungan garis, tersenyum "Tentu saja aku merindukanmu. tapi kau tahu kan, ini sunggu mengejutkan.."

"Anggap saja ini adalah kejutan dariku!" balas Shion gembira. Naruto menatapnya lembut sampil mengusap pucuk kepalanya.

"Kau ini masih belum berubah ternyata?" Ujar Naruto semakin senang melihat kebahagian Shion saat bersamanya, inilah yang ia sukai. Shion tersenyum bersamanya. Hanya bersama Shion, ia akan berubah menjadi sedikit berbeda dari biasanya.

"Apa maksudmu.. Apa aku tidak bertambah cantik?" Tanya Shion setengah menggerutu kesal.

"Tidak.. kau sangat cantik kok" Jawab Naruto.

Shion kembali tersenyum "Benarkah!" dan dibalas dengan anggukan kepala Naruto sebagai jawaban pasti.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Sepulang sekolah, Hinata berjalan sendirian di lorong sekolah. Karena lorong yang ia lewati ini menuju perustakaan. Jadi wajar kalau jarang siswa atau pengunjung mampir melewati lorong ini karena segan untuk pergi ke perpustakaan. Setelah sampai ke dalam ternyata disana tidak ada penjaganya, mungkin pengawas yang biasa menjaga sedang pergi keluar untuk beristirahat sejenak. Ia mencari buku ekonomi untuk tugasnya, setelah berhasil mendapatkannya ia langsung duduk di tempat yang telah tersedia.

"Hinata!" teriak pemuda berambut pirang itu pada gadis indigo di depannya. Cengiran khasnya masih bertengger rapi di wajah tan pemuda itu.

"Hehehe~ Kau pasti kaget kan melihatku ada disini?" tanya Naruto. Hinata masih tidak menghiraukannya. "Kenapa kau ada disini?" Tanya Hinata tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang ia baca.

"Yah sekedar mencari ketenangan saja, dan berduaan denganmu" ujar Naruto polos seraya mengambil tempat duduk dan duduk di samping gadis indigo itu. Hinata melirik Naruto, dahinya mengerut tipis karena heran, ya heran? kenapa mood Naruto dengan cepat berubah begitu saja. Tadi pagi muram sekarang begitu bersinar. Sepertinya ada hal yang telah terjadi. Entah apa? tapi Hinata sama sekali tidak ingin mengetahuinya.

Sedangkan Hinata, gadis itu hanya melanjutkan kegiatan membacanya, "Buku apa yang kau baca Hinata?" tanya Naruto, mendekatkan wajahnya untuk melihat buku apa yang sedang dibaca gadis itu.

"Hanya cerita biasa.." jawabnya singkat, Naruto hanya ber-oh ria dan membiarkan gadis itu melanjutkan kegiatan membacanya.

"..." sudah lima menit Hinata masih membaca buku yang berjudul Life Strom Death, sampai gadis itu melirik-lirik ke arah Naruto dan melihat kalau pemuda pirang itu kini tengah menguap kecil. Terlihat sekali kalau Naruto tidak betah berada di perpustakaan yang biasanya selalu sunyi seperti ini.

"Kalau kau bosan berada disini, Kau boleh pergi meninggalkanku" ujar Hinata.

Naruto yang mendengar perkataan Hinata hanya mengeluarkan kembali cengirannya, sepertinya dia ketangkap basah sedang menguap, "Gomen~ Hinata, Aku memang tidak tahan berdiam diri seperti ini~" ucapnya sedikit malu.

"Tidak apa-apa. Sebentar lagi aku juga akan keluar dari sini"

"Kalau begitu aku pulang duluan ya, Hinata. Mataku bisa mengantuk kalau ada disini!" Naruto segera beranjak dari tempat duduknya dan mengusap kepala Hinata pelan, kemudian berjalan meninggalkan perpustakaan.

Setelah kepergian Naruto sampai bayangan pemuda pirang itu menghilang di balik pintu, Tatapan Hinata mulai berubah menjadi kosong. "Pergilah" bisiknya dan berjalan menuju rak buku.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Tangan Hinata masih menggapai sebuah buku yang terletak jauh dari jangkauannya, tapi buku itu malah sengaja terjatuh dan hampir mengenai wajah Hinata.

Grep, sebuah tangan menjulang panjang mengambil buku yang ia mau, "Kau ingin meminjam buku ini?" ucap seorang di sampingnya. Hinata pun segera menoleh, ke arah orang yang menolongnya. Dan ternyata..

"Shion!" pekik gadis itu kecil.

"Ini." Shion segera memberikan buku yang ia ambil tadi pada gadis indigo di depannya.

"Arigatou, Shion.." dengan sedikit ragu - ragu Hinata mengambil buku itu. Mau apa gadis pirang itu disini.

"Salam kenal, Namamu Hinata kan?" Ujar Shion memastikan. "Kau tidak usah takut Hinata, aku hanya ada perlu bicara denganmu." perkataan Shion padanya membuat Hinata sedikit tersinggung dengan gadis itu.

Gadis indigo itu hanya mengangguk kecil, "Hmm apa yang ingin kau bicarakan denganku Shion-san?" tanya Hinata tegas.

Shion menatap lekat-lekat pada Hinata yang berada di hadapannya. kalau dilihat-lihat anak ini memang terbilang cantik. Pantas saja dia menjadi saudara tiri Naruto"Ya, Kau ada apa dengan Naruto?" Tanya Shion melipat lengan di dadanya dengan pandangan mengintimidasi.

Hinata merengut heran? 'oh.. Naruto!' Gumam Hinata seperti sudah tahu apa tujuan Shion menanyakan pertanyaan itu.

"Aku tidak ada apa-apa dengan pemuda itu, aku hanya anak adopsi yang dibawa oleh orang tuanya." Jawab Hinata sekenanya.

"Begitukah!" seru Shion terlihat tidak puas dengan jawaban Hinata.

"Iya.. dan lagipula itu bukan urusanmu. kenapa kau menanyakannya?" Tanya Hinata balik menatap Shion dengan alis terangkat.

"Jangan berpura-pura?" Teriak Shion menggelegar.

Hinata tersentak, aneh sekali gadis ini? apa dia salah bicara. "Apa maksudmu?" Tanya Hinata lagi. ia sama sekali tidak tahu kemana arah kemarahan Shion.

Shion lalu mendekat pada hinata, mengintimidasi, menatapnya lekat."Aku heran kenapa keluarga Uzumaki bisa mengadopsi anak sepertimu?" Cetus Shion.

"Aku tak tahu? kenapa kau tak coba tanyakan saja ke mereka" Balas Hinata tak kalah ketus.

"Cih.. aku peringatkan padamu Hinata, jangan pernah kau coba menghalangi hubunganku dengan Naruto-kun, atau kau akan menyesal.." Ancam Shion.

"Kenapa aku harus menghalang-halangi hubunganmu dengan Naruto, dan kenapa pula kau mengancamku? apa kau merasa terancam Shion-san" Desis Hinata menata tajam gadis didepannya.

"Cih.." Shio berbalik pergi, "Sampai nanti Hinata!" Ujar Shion sebelum mempercepat langkahnya untuk pergi.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Sekarang Hinata duduk di bangku depan sungai Kiyoshi dan mengingat kata - kata ibunya saat mengajaknya ke sungai ini. Ia juga ingat saat Ayahnya Hiashi saat mengajaknya ke sungai ini sama seperti ibunya selalu bekata untuk menjadi Putri yang baik dan hiduplah bahagia. Setelah mengatakan itu ke esokkan harinya ibu telah pergi keluar negeri, dan sebelum hari kecelakaan itu tiba, ayahnya pun pernah bernasehat seperti itu pula. Tapi hidup bahagia itu tak seperti menjangkau dedauanan di ranting-ranting pepohonan. Atau mencari uang dengan bekerja.

Lamunan Hinata terhenti ketika ia merasa ada orang lain yang datang.

"Hyuuga Hinata" Panggil seseorang. Pria paruh baya seumuran 39 th hinata menatap mereka bingung. Hinata hanya menatap diam orang itu dan tetap diam. "Siapa kau?"

Pria itu menunduk hormat, "Saya Ko, Hinata sama. Saya kesini untuk mengirimkan surat penting dari tuan saya!" Seru Sang pria memberitahu maksud dan tujuannya untuk menghadap Hinata.

"Apa itu? dan siapa tuanmu?" Tanya Hinata penasaran. Tapi Pria itu tidak menjawab, ia hanya memberikan Hinata sebuah amplop kecil lalu berjalan pergi meninggalkan Hinata dengan pertanyaan yang begitu banyak.

Saat membuka amplop Surat itu Hinata terhenyak diam seribu bahasa tidak ada nama pengirim, tapi setelah ia membuka lembaran kertas itu Hinata mulai membaca surat itu.

'Apa kabar, hinata chan.

Kasaan sangat menyayangimu,

jalanilah apa yang sudah terjadi,

Maafkan kasaan yang tidak pernah bisa berada di sampingmu,

Jadilah anak yang baik dan tumbuh besar menjadi Gadis yang cantik,

Bersikaplah yang lembut dan manis,

Hinata pasti bisa menjadi Putri Kebanggaan kasaan,

Jangan benci Kasaan, walaupun kasaan selama ini tidak pernah menemui mu

Aku sungguh sangat menyayangimu, terkadang manusia memiliki kesalahan di masa lalunya.

tapi apakah kau tidak ingin memaafkan Kasaan mu ini?

Kita terlahir pasti karena suatu takdir,

carilah jawabannya dan kau akan menemukan takdirmu,

Kasaan Menyayangimu...'

Entah kenapa seorang yang dari masa lalu kini kembali pulang di masa depan. Hinata terdiam, ia tidak menangis. Ia hanya kecewa dengan ibunya yang hanya mengirimkan surat kepadanya. Memang selama ini Ibunya pergi kemana? apakah ia tak memiliki waktu untuk bertemu anaknya. Bahkan saat acara pemakaman Otousan saya, ibunya tidak datang. Hinata sangat membutuhkan penjelasan dari ibunya. Tapi dia hanya mengirim surat dan itu ketika ia sudah mulai melupakan kenangan pahitnya. Kalau begitu apakah ia masih bisa dikatakan sebagai seorang ibu. Perasaan Hinata kacau saat ini dan yang ia butuhkan sekarang hanyalah ketenangan kesendirian. Dia masih berdiam diri duduk disana, tanpa memperdulikan langit yang semakin lama, semakin menggelap.

Ibu sebenarnya apa yang telah terjadi ini adalah kenyataan yang tak dapat diubah lagi, bukan?

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Seperti yang dikatakan Shion sebelumnya, ia akan mendekati Naruto dan mencoba menjalani hubungan baru dengannya. Tanpa Hinata yang mengganggunya. Setiap hari setelah kejadian seperti itu Naruto semakin dekat dengan Shion hanya dalam waktu beberapa hari. Dan setelahnya Naruto mulai menghilang dari kegiatan pulang bersama dengan Hinata, Bahkan waktu mengobrol saja hanya beberapa menit saja. Naruto tak menanyakan lagi saat Hinata pulang malam, karena ia sibuk jalan dengan Shion sehingga tidak tahu apa kegiatan dan keseharian Hinata. Terkadang Naruto pulang lebih malam dari Hinata, ia berubah kembali menjadi apa yang Shion inginkan. Setiap kali Hinata ingin mengajak obrol Naruto, Shion selalu datang tiba-tiba menyela.

Seperti saat pulang sekolah, Hinata menuntun sepedanya perlahan menuju gerbang sekolahnya dan disana sudah ada Naruto menunggu seseorang. Segeralah Hinata mempercepat jalannya. Lalu ia mencoba menyapa Naruto, "Naru~"

"NARUTO~KUN!" Panggil Shion berlari menuju arah Naruto dan langsung memeluk lengannya dengan manja. Sedangkan Hinata hanya membungkam mulut, tak jadi itu tersenyum menang kesekian kalinya pada Hinata.

"Gomen! lama menunggu ya.." Seru Shion meminta maaf, lalu terjadilah percakapan panjang tanpa memperdulikan orang sekitar yang menatap mereka iri.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Memasuki pertengahan bulan september,"Untuk itu liburan musim panas ini bagi anak-anak yang ingin melanjutkan ke Universitas tinggi maka sekarang adalah waktu yang paling penting untuk kalian meningkatkan nilai. Karena nilai di semester Genap nanti akan menentuka kalian untuk masuk ke kelas XII. Pelajaran yang akan kalian pelajari akan semakin sulit dan mulai sekarang pun ujian akan lebih sulit. Aku berharap semua siswa sudah siap dengan semua itu." Ujar Kurenai tegas.

Anak-anak mengeluh.

Kurenai melanjutkan ucapannya, "Bagi anak-anak yang ingin masuk ke kelas akresiasi untuk segera bendapatkan Universitas yang bertaraf Internasional atau untuk ujian kompetensi lainnya maka sekarang adalah waktu yang penting untuk belajar. Aku harap kalian semua paham. Kalau kalian tak mau belajar kalian tak harus belajar."

Anak-anak berpandangan heran, apa maksud Kurenai membolehkan mereka tak ikut belajar di kelas.
"Minggu depan kelas akan di liburkan, karena akan ada acara Study Tur ke pulau Hateruma. Jadi untuk ujian kali ini, jangan sampai ada yang mengecewakan atau aku akan membatalkan surat izin untuk pergi Study Tur" Sebagian anak-anak tersenyum senang. Jadi ia anak-anak akan segera melaksanakan tes mingguan.

Sakura menganggat tangan, "Aku sudah membicarakan masalah ini dengan yang lain. Daripada mendiskriminasi berdasarkan nilai siswa, sepertinya akan lebih baik kalau kami belajar bersama." Usul Sakura.

"Bilang saja kalau kau hanya ingin menyontek hasil pekerjaan sekolaj dan tugas-tugasnya." Sindir Kurenai.

"Bukan itu maksudku" Ujar Sakura merasa bersalah.

Hinata mengangkat tangan dan berdiri "Bukankah sensei bilang kami dapat membuat aturan untuk masalah belajar, lagipula tidak akan ada yang dirugikan dalam hal belajar bersama." Kata Hinata setuju apa yang Sakura katakan.

"Daripada menyuruh siswa yang nilainya paling rendah membersihkan kelas bukankah lebih baik semua siswa secara bergiliran membersihkannya." Sakura tersenyum senang Hinata setuju dan memperkuat pendapatnya.

"Tidak mendiskriminasikan nilai, cukup beralasan untuk berbagi tugas kerja." Tapi Kurenai tak yakin semua siswa setuju dengan pendapat itu. Bukankah pendapat ini disampaikan oleh mereka yang berada di kelompok dengan nilai paling rendah. "Apa kalian juga setuju seperti itu?"

Mereka diam. Tapi tak lama kemudian Ino dan Tenten berdiri setuju dengan pandapat yang disampaikan Sakura dan Hinata. Matsuri juga ikut berdiri setuju dengan apa yang diucapkan Hinata. Siswa pun semakin banyak yang setuju walaupun belum semuanya.

Kurenai kembali menyindir "Kalau kalian ingin membantu teman kalian membersihkan kelas, aku akan menghukum kalian melakukan itu. Tapi kalian harus membuat pilihan yang baik. Kalau kalian terjebak dengan emosi karena teman tapi ketika kalian dikucilkan dan mulai menyesal maka itu tak akan ada gunanya lagi."

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Setelah pembelajaran usai, Rock Lee menyemangati teman-temannya untuk melakukan kebersihan kelas bersama-sama. Mereka pun mulai menepikan meja dan kursi.

Rock lee senang sekali melihat teman-temannya bahu membahu melakukan piket bersama. Ia tahu cara mengepel, cara membuang sampah dan sebagainya. Jadi kalau ada temannya mau bertanya silakan saja hahaha.

"Jangan banyak bicara, cepat bantu saja!" Seru Kiba kesal. Tenten dan yang lainnya mulai mengepel.

"Hinata-chan arigatou! untuk yang tadi" Kata Sakura berterima kasih.

"Untuk apa?" tanya Hinata bingung.

"Karena kau setuju. Yang lain juga ikut berdiri setuju." Jawab Sakura cengengesan.

"Tidak aku hanya menyampaikan pemikiran ku saja! aku saja tidak tahu kalau semuanya berfikiran sama denganku.." Kata Hinata merendahkan Hatinya. Tanpa sengaja saat asik mengobrol dengan Sakura, ia menangkap suara tawa Naruto dan Shion.

Hinata menoleh kebelakang dan mendapati kemesraan mereka bersama lagi untuk kesekiannya lagi.. Bagaimana ini, apa ia harus diam saja melihat adegan itu semua berlangsung di depan matanya?

.

.

TBC

.

.

Author: Konichiwa… mina-san. GOMENASAI TELAT UPDATE. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya..

Aku bakalan super duber sibuk, harus negajr nilai buat universitas tinggi walau masih dua tahun lagi, tapi nilai diambil dari semester pertama. Jadi mungkin akan telat…

Jadi, aku tetap mengapdet fic ini.. tapi di hari sabtu atau minggu gitu!

Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..

Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D

Dan maaf kalau belum ada balasannya! GOMEN!

Agintalavegr# ini udah di lanjutin

Kushina Hyuuga# udah lanjut loh..

Genie Luciana# ini belum sad banget, baru permulaan Hiks..

Sena Ayuki# salam kenal juga Sena-san. Gak apa-apa kalo gak review lewat PM. Kok bisa tahu ya perasaan ketercewaanku ya..tapi memang lebih menyenangkan lihat statistiknya (kayanya berpengelaman banget yah..) ah yang masalah tenten juara itu salah nulis kelas (maaf atas keteledoran saya) kita sih maunya tenten masih kelas 11 yah salah nulis romawinya hehehe.. memang karakter saya datar jadinya begini deh… tidak menghayati saat menulis, tapi semoga chapter selanjutnya lebih baik lagi ya… Terimakasih atas koreksinya….

Guest nisa# ini dah lanjut..

Tetsuya# semangat! Terima kasih atas dorongannya..

Rin nohara# dah lanjut, ah.. gak sekeren itu kok..

Yudi# iya kasian amat ya… shion dating tiba-tiba..

Fury F# ini dah lanjut terimakasih untuk review nya, ohya tebakan kamu hampir saya pake semua ceritanya, kok bisa ketebak ya (cerita abal sih..) hehehe…tapi akan saya ubah beberapa dari yang anda minta agar lebih kreatif gitu… tenang aja hinata sama naruto kok! Moga-moga

Permatadian# yah.. tebakan anda betul hinata di cuekin lagi hiks..hikss..

.526# terimakasih dukungannya…

# shion balik lagi itu dah nasib…