Warning :GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Semua character disini milik Masashi Kimoto, aku Cuma minjem doing… heheehe
Rated :T
Pairing :NaruHina
Main Chara : Hinata dan Naruto.
Another Chara : Sakura, Sasuke, dan Shion Ect.
Genre :Romance, Hurt/comfort & Friendship
Uzumaki Naruto: 17 tahun.
Hyuuga Hinata: 16 tahun.
Haruno Sakura: 17 tahun.
Uchiha Sasuke: 17 tahun.
Shion : 16 tahun.
Di sekolah Konoha gakuen, murid-murid nampak bahagia karena mereka akan segera pergi Study Tur. Salah satunya Naruto Cs. Kini Naruto berkumpul dengan Gengnya Yaitu Sasuke, Sai, dan Shikamaru. Seperti biasa mereka terlihat sangat di segani oleh para siswa lainnya, mereka selalu tampil cool, menawan, dan trendi bahkan menjadi pusat perhatian.
Baiklah itu memang sudah jadi hal yang biasa terjadi di Konoha Gakuen. Mereka menjadi pusat perhatian karena penampilan yang mencolok tapi elegan, seperti itulah kira-kiranya komentar para siswa.
Berbeda dengan halnya para siswi yang terus menatap dan berteriak ke girangan melihat pangeran sekolah yang telah datang memakai pakaian sederhana, berjalan santai sambil menarik sebuah koper yang berukuran cukup untuk menampung keperluan mereka selama tiga hari di pulau Hateruma.
Sedangkan tepat di belakangnya, Hinata, sakura, dan Ino sedang asik mengobrol tentang kegiatan apa yang akan mereka lakukan setelah sampai di pulau itu. Mungkin berjemur di bawah sinar matahari, berbelanja, dan berfoto-foto. Mereka harus menikmati perjalanan ini, karena jarang-jarang Wali kelasnya mengizinkan mereka untuk mengikuti jadwal liburan musim panas kali ini. Untung saja, kelas mereka bisa dibilang mendapatkan nilai yang paling terbaik dalam ujian kemarin.
Begitu pula izinpun akan diberikan oleh wali kelas dengan mudah bukan, karena mereka semua sudah berjuang keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik.
Tepatnya dibandara, masih menunjukan pukul 06.30 pagi. Hinata melihat jam tangannya dengan malas, ia jengah menunggu para Siswa yang belum datang atau bisa dibilang terlambat. Hinata mendesah sejenak, ia mengambil Novelnya untuk menghilangkan rasa kebosanannya kini. Sementara Sakura dan Ino tengah pergi membeli minuman di dekat loket pembayaran.
"Ohayou! Hinata-chan" Sapa seseorang mengejutkan Hinata dari belakang.
Hinata mendelik menatap sebal kepada orang kini tengah mengganggu kegiatan Favoritnya."Ck... apa?" Tanya Hinata dengan nada datar.
"Hehehe.. Apa aku mengganggu mu?" Ujarnya sambil tersenyum kikuk.
"Menurutmu?" tanya balik Hinata.
Naruto mengambil tempat duduk disamping Hinata, Lalu memandang gadis itu sambil menggelengkan kepala "Ck.. Ck...Ubahlah sedikit sikapmu itu, Hinata-chan? kalau kau tidak pernah berubah aku yakin tidak akan laki-laki yang mau mendekati mu.. apa kau ingin jadi perawan tua seumur hidupmu?" Katanya mengejek.
"Begitukah?" Ujar Hinata masih dengan nada datarnya.
Naruto mengusap pelan rambut Hinata, lalu tersenyum lembut "Gomen, akhir-akhir ini aku tidak terlalu sering bersama mu. Aku juga tidak pernah pulang tepat waktu, aku harap kau bisa mengerti. Kau tahukan, Shion sangat membutuhkan ku, dan aku sangat ingin bersamanya. Tapi tetap saja, aku tak akan melupakanmu.. Walau pun sekarang aku sering bersama Shion, akan ku usahakan juga untuk membagi waktu ku dengan mu.. Jadi jangan marah lagi, ya..." rujuk naruto.
Mata Hinata tidak bergeming dari bukunya, ia seolah tak mendengar perkataan Naruto tadi. "Tenang saja, kau tidak perlu bersikap seolah aku sangat membutuhkanmu untuk berada disampingku Naruto, aku tahu kau! tidak perlu berlebihan, lagipula Semenjak kau tidak ada, rumah terasa begitu damai tanpa kehadiranmu yang berisik.. Aku juga tidak keberatan jika harus pulang sendirian. jadi jangan hiraukan aku.." kata Hinata berbohong untuk menutupi, rasa sedih yang sebenarnya.
Naruto tersenyum kikuk, apa dia terlalu percaya diri mengatakan bahwa hinata sangat membutuhkannya. ia mengehela nafas dengan perasaan yang sangat lega. Tapi Naruto kembali berpikir, ia sangat ingin menanyakan kenapa waktu itu Hinata berwajah sangat muram, Naruto sempat berpikir bahwa waktu Hinata marah karena ia tinggal pulang sendirian, tapi setelah ditanya Hinata menjawab bahwa ia hanya kurang sehat. Dengan jawaban seperti itu, tentu saja Naruto tidak mudah percaya begitu saja pada gadis itu, "Hinata?" panggilnya lagi,
"Hmm" Gumam Hinata tanpa menoleh balik.
"Aku ingin bertanya?" Ujar Naruto sedikit ragu, "Kenapa, akhir-akhir ini wajahmu selalu terlihat murung. Apa kau sedang ada masalah? apa ada yang tidak kau ceritakan kepadaku?.." Tanya Naruto langsung kepada intinya.
Hinata sempat tersentak begitu saja, saat Naruto bertanya perihal masalah yang sempat ingin ia katakan pada pemuda itu. Persoalan tentang surat pemberian ibunya yang masih hidup dan entah dimana ia tinggal. Ia sangat ingin menceritakan semua tekanan yang terjadi pada dirinya, tapi ia tak tahu kepada siapa ia harus melepaskan semua masalahnya kepada orang lain, temannya, atau keluarga angkatnya sendiri.
Hinata masih diam tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya sendiri, dirinya tampak begitu terhanyut dengan lamunannya. Puk! Sentuhan tangan menyadarkan Hinata seketika, ia menoleh dan mendapati wajah Naruto yang tersirat sangat khawatir. "ada apa?" tanya Naruto menuntut.
Hinata membalas tatapan naruto, sebenarnya ia sangat ingin bercerita tapi saat ia baru ingin mengeluarkan suaranya. Ada suara lain yang menarik perhatian mereka berdua.
"NARUTO-KUN!" teriak seorang gadis yang tak lain adalah Shion, ia melambaikan tangannya ke arah Naruto. Gadis itu berlari menghampiri pemuda yang sudah menjadi tujuan utamanya.
"OH? Shion-chan" gumam Naruto tanpa sadar. Hinata terdiam, mulutnya terbukam begitu saja. Melihat kejadian ini, mungkin ia semakin tersadar bahwa kehadirannya ini sangat tidak di hiraukan oleh pemuda itu. Jadi, percuma saja kalau ia menceritakan masalahnya dengan Naruto saat ini.
Shion mendekat ke arah Naruto, tanpa melirik gadis yang sedang duduk bersama pemuda itu. "Ohayou Naruto-Kun" Sapa gadis itu seraya memasang senyum maninya.
"Ohayou Shion-chan!" Sapa balik Naruto.
Kemudian Shion melirik Hinata yang kembali menyibukan dirinya dengan bacaan didepannya. "Ohayou Hinata-chan" Sapa Shion ramah.
Hinata hanya meliriknya sejenak sambil menganggukan kepala. Itu balasannya. Mungkin ini terlihat sangat sombong, melihat sikapnya yang tak mau bicara langsung. Tapi Hinata memang malas walau hanya untuk sekedar menjawab sapaan gadis didepannya itu.
Shion juga, tampak tak terlalu mempersoalkan hal itu. Ia kembali mengajak obrol Naruto, "Naruto-kun, Gomen aku telat. soalnya tadi aku kesiangan.." Kata Shion menyesal.
Naruto menggeleng pelan "Tidak apa-apa, lagipula aku tak menyuruhmu untuk berangkat pagi-pagi" Sahut Naruto.
"PRIIEEETTTTT!" Suara peluit membuat semua siswa-siswi mengalihkan perhatiannya ke arah Guru mereka yang membunyikannya. GUY. Serentak semuanya berlari berkumpul. Setelah semua terkumpul lengkap, guy bersuarak dengan kencang agar bisa terdengar seluruh muridnya. Ia mengatur murid-muridnya untuk masuk kedalam pesawat secara teratur, agar tak berdesakkan.
.
.
~SKIP TIME~
.
.
Di depan sebuah penginapan yang telah mereka sewa, Stunade mengingatkan apa saja yang para murid harus pahami. Sedangkan Sara mengeluh karena mereka sedari tadi berdiri dibawah terik matahari, "Panas sekali, Kepsek benar-benar kejam membiarkan kita berjemur di siang hari. Malahan Semua Sensei pada berteduh di sana. Kita disini sudah merasa panas, gerah, bisa-bisa kulitku jadi gosong".
"Iya benar.. Palingan guru-guru tidak bisa bertahan dan hanya mau enaknya saja" timpal Karin menyetujui perkataan Sara.
"Sabar saja!" Kata Matsuri menenangkan kedua sahabatnya itu.
"Gimana mau sabar, Panas banget tahu... udah gitu, pake acara pidato segala lagi.." Ujar Karin kesal.
"Ya ampun.." Matsuri bergumam pelan, melihat kedua temannya sambil menggelengkan kepalanya. Padahal dia juga tahu, sekarang itu lagi panas. Tetapi nggak sampai memakinya segala kali, so. Semuanya juga kepanasan dan bukan mereka aja yang tersiksa disini. Pikir Matsuri mulai membuatnya hampir naik pitam menghadapi kedua temannya ini.
Semua murid saling bergerumul bersama, terkecuali dengan Hinata yang terlihat cuek di sana asyik membaca petunjuk Study Tur sendiri.
"Tujuan Kita mengadakannya Study Tur itu adalah agar kalian saling mengerti satu sama lain. Oleh sebab itu Kalian akan tinggal bersama selama tiga hari menghabiskan waktu berharga bersama teman bukan dengan ponsel terus"Stunade menjelaskan sekaligus menyindir beberapa murid yang sedang asik dengan obrolan, handphone, atau games.
"Baiklah, dari pada berlama-lama dan pastinya kalian sudah merasa bosan. Kita istirahat dulu, jika kalian ingin ke Kamar yang telah di sediakan bisa hubungi Kurenai sensei. Jika kalian ingin pergi keluar hotel lapor pada Kakashi Sensei, Mengerti..."
"Mengerti!"
"Baiklah kalian boleh bubar?"
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Hinata berjalan perlahan memasuki hotel tersebut, teman-temannya sudah sedari tadi berjalan duluan menuju kamar mereka masing-masing. Hinata memasuki kamar yang akan di tempatinya dengan ke-3 temannya. Dari teras jendela kamar ini, Hinata bisa melihat laut yang luas dengan leluasa. Menghirup udara yang terasa kering dan merasakan air yang asin saat berenang, Hinata tidak begitu tertarik.
Tok! Tok!
Suara pintu terketuk, lalu masuklah tiga siswi yang akan menjadi teman sekamarnya yaitu, sakura, ino, dan tenten.
"Hinata-chan, mau ke pantai bersama kami?" Tawar Sakura sembari mengganti pakaian dan mengambil pakaian renang di kopernya.
"Iya, Hinata-chan jangan hanya berdiam di kamar saja. sekali-kali bergembiralah bersama kami, Mau yah.." Kata Ino dengan mata berbinar-binar memohon. "Sangat jarang kita bisa bersama seperti ini di hari biasa, tahu?" Lanjutnya memaksa.
Hinata menganguk kecil. Akhirnya mereka berempat pergi ke pantai. Pasir pantai yang putih terlihat berkilaun di kalan ombak menerpa. sinar mentari semakin menyengat kulit dan ubun-ubun mereka.
Sakura, ino, dan tenten berbaring di karpet yang sudah tersedia sambil menggunakan kaca mata hitam agar tidak menyilaukan mata mereka. Bisa dilihat, sejauh mata memandang pantai ini ramai oleh murid Konoha Gakuen saja. tidak mengherankan juga, karena yang kebanyakan datang dari sekolah mereka.
Para gadis berpakaian minim dan sangat sexy, mereka berjemur bersama, ada pula yang bermain voly bersama anak laki-laki, dan ada juga yang berenang untuk menyegarkan diri. Mereka semua sangat menikmati acar Study Tur ini, Tapi menurut Hinata, ini lebih ke sisi seperti berpesta dan bersenang-senang, selayaknya mereka adalah orang sibuk dalam dunia fatasinya.
Untung saja Hinata tak memakai pakaian minim seperti itu, setidaknya baju yang di kenakan masih bisa dibilang santai. Ia tidak terlalu suka dengan hal yang terlalu menggoda laki-laki untuk berdatangan padanya. Ia hanya harus menjadi dirinya sendiri, itu saja yang ia perlukan.. tak peduli orang lain memandang nya bagaimana?
Hinata merasa sangat tidak betah berada disekira ke ramaian ini, hal itu sangat terlihat jelas pada raut wajahnya yang merengut pusing. Ia berdiri dan menyempatkan diri untuk berpamitan dengan teman-temannya, Walaupun kawanya kecewa, tapi mau bagaimana lagi, Hinata memang tidak cocok dengan dunia seperti ini.
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Naruto tengah berjalan bersama shion di bibir pantai. Tampaknya mereka tengah membicarakan topik yang seru karena terlihat dari wajah mereka yang sedang tersenyum merekah. Seakan dunia serasa hanya milik berdua, tidak memperdulikan tatapan iri dari Fans kedua belah pihak. Mereka seperti tidak menyadari atau memang sengaja tak mau menyadari? shion berpakaian sangat sexy. wajar jika banyak laki-laki yang memusatkan tatapan mereka padanya. Sedangkan Naruto, tubunya berkulit eksotis dan tubuhnya seperti atletis. jadi jangan heran para gadis berteriak girang melihat tubuhnya yang terpapar terbuka.
"Naruto-kun, Apa kau tidak ingin punya pacar?" tanya Shion tanpa ragu.
Naruto mengalihkan pandanganya ke arah gadis itu, dia malah bingung harus menjawab apa. karena yang ia mau hanya Shionlah yang menjadi belahan jiwanya "Tidak tahu?" Jawab Naruto menggantung.
Shion menyeringit heran, "maksudnya 'tidak tahu' itu apa?" Tanya Shion lagi menunjukan rasa penasarannya yang mendalam.
"Mungkin aku mau?" jawab Naruto sekenanya.
Mereka berjalan menuju hutan kecil di ujung pulau ini, entah tanpa sadar atau memang pikiran mereka yang mengarahkan kesana. Shion merasa jawaban Naruto sungguh membingungkan "Oh.. beruntung sekali gadis yang kau sukai itu. Apa kau akan menembaknya? jika gadis itu aku pasti langsung ku terima." Jawab Shion tanpa sadar.
Langkah Naruto terhenti, ia memandang gadis itu dalam diam. Matanya terbelalak, hatinya serasa berbunga-bunga setelah mendengar perkataan Shion tadi, akhirnya impian masa lalunya akan segera tercapai. Shion yang merasa tidak ada yang mengikutinya segera menoleh ke belakang, disana Naruto masih terdiam terpaku.
"Naruto-kun? kau kenapa?" Tanya Shion khawatir sambil menggenggam tangannya. "apa kau sakit?"
Naruto masih tidak merespon, pikirannya melayang entah kemana, jauh dari dunia nyata "Naruto-kun" Shion mengguncang pelan bahunya dan tersadarlah ia bahwa ini bukanlah sekedar mimpi belaka. Naruto berbalik berhadapan dengan Shion, pandangannya menjadi lebih serius, sepertinya ia akan mengatakan hal yang sangat penting.
"Shion, ada yang ingin kubicarakan dengan mu?"Ujar Naruto dengan nada dingin tapi tersirat rasa keseriusan disana. Shion sendiri dengan susah payah mencoba menelan ludahnya dengan susah payah. Perasaannya sangat takut melihat wajah Naruto yang seperti ini.
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Di sebuah lestoran. Hinata membeli makanan dan memakannya sendirian. Ia sarapan cuma makan roti doank. Setelah selesai makan ia beranjak pergi dan sudah meninggalkan beberapa uang koin di atas mejanya. Hinata berjalan tak tahu arah, ia hanya memutari pulai ini untuk menghilangkan kebosanannya. Apa lagi disini sangat panas, haruskah dia meneduh. Seharusnya tadi dia tetap di kamarnya saja. Hinata mengeluh kesal..
Sesuatu bergetar didalam saku jaketnya, ia mengambil benda itu sambil mengaktifkan layar handphone. Tertera nomor asing disana, tanpa menaruh aras curiga Hinata langsung mengangkatnya. "Moshi-Moshi"
Tak ada jawaban?
"Moshi-moshi" seru Hinata sekali lagi. Tapi yang terdengar hanya helaan nafas seseorang diseberang sana. Perasaan kesal mulai menyeruak masuk kedalam pikiran Hinata, "Akan ku tutup!" Kata Hinata mengancam.
"Tunggu!" Akhirnya suara itu mulai terdengar walau samar-samar.
"Siapa ini?" tanya Hinata merasa jengah menunggu respon dari sang penelepon.
"INI KASAAN HINATA!" Seru sang wanita menjawab semua rasa penasarannya pada sang penelepon misterius.
Hinata terpaku. apakah telinganya ada masalah pendengaran, ini ibunya, sedang meneleponnya "..." Hinata tidak mejawab, ia terkejut.
"Bagaimana kabarmu Hime-chan?" Sapa sang ibu mencoba lebih ramah kepada putrinya. Mereka sudah berpisah cukup lama, jadi mungkin perkataannya akan sedikit kakuk. Apa lagi ia tidak pernah menemui putrinya saat di panti asuhan.
"Ada apa ini?" tanya Hinata balik tanpa menjawab sapaan ibunya sendiri. kelihatannya Hinata masih tidak terima dengan kehadiran ibunya.
"Kaasan, hanya ingin tahu bagaimana keadaan putri ku saat ini, Apa ia bertumbuh dengan baik, dan hidup dengan baik." Ujarnya dengan suara serak dan nafas yang tampak memburu.
"Putrimu sudah lama mati, dia sekarat selama ini, hidupnya bagai di neraka. Apa kau tahu? Bagaimana kesehariannya selama di panti asuhan. menjadi anak sebatang kara, di lecehkan, bahkan tidak ada kebahagian yang menyertainya" jawab Hinata kasar. ia sangat tidak suka dengan ibunya bila mengungkit masa lalu yang sangat Suram itu. "Dia sudah tidak ada dunia ini lagi!
"Hikss... Gomen, Maafkan kaasan mu ini Hime-chan, jangan benci Kaasan tolong.. Aku mohon, Kaasan sangat merindukanmu! Maukah kau bertemu dengan Kaasan mu ini walau hanya sekali.." Ucap wanita itu mulai menahan tangisnya, suaranya terdengar sangat menyesali perbuatannya selama ini. Tapi masa lalu tidak lagi bisa diputar balik, ia hanya bisa memperbaiki di masa yang akan datang.
"Aku tidak bisa.. Kenapa aku harus menemuimu? apa kau pernah menjengukku saat di panti, apakah kau pernah mengirim kabar setelah Otousan meninggal, apa kau datang di acara pemakaman Otousan?" Ujar Hinata berusaha agar tidak terbawa emosinya, tapi tetap saja matanya berair dan tubunya bergemetar hebat seperti tak ingin lagi mengingat masa lalunya yang kelam.
"Aku mempunyai alasan tertentu dari semua pertanyaanmu itu, Hinata! Baiklah.. Kaasan akan memberikan mu waktu selama tiga hari untuk berpikir lagi, jika kau berubah pikiran.. segera hubungi aku saja, kapan pun, dimana pun? aku akan selalu sedia menunggu jawabanmu, putriku" akhir kata yang wanita itu ucapkan "Sampai jumpa lagi!" serunya mematikan telepon tanpa mendengar protesan dari Hinata sebelumnya.
Setelah berhasil menenangkan diri, Hinata beranjak dari tempat ini. Tapi sebuah suara familiar membuat langkahnya terhenti. Hinata menoleh kesamping dan mendapati dua sosok manusia yang berbeda tengger sedang ngobrol serius. Hinata mengenal mereka, Ia segera bersembunyi di balik pepohonan ketika sosok itu mulai berjalan mendekat kearahnya.
Suara mulai terdengar samar-samar, "Shion, ada yang ingin kubicarakan dengan mu?" Ujar seorang pemuda berambut spike kuning dengan nada serius.
"Apa?" Tanya Shion penasaran dan sedikit rasa takut.
"Aku sebenarnya... Aku sangat menyukaimu, maukah kau menjadi kekasihku"Ucap Naruto dengan tegas dan pasti.
"Aku mau" Shion tersenyum lebar kemudian mengangguk dan langsung memeluk Naruto dan mengucapkan kata-kata Cinta. Sama halnya dengan Naruto yang membalas pelukan Shion dengan erat, perasaannya seperti sudah tersirat lepas begitu saja saat mengatakannya. hatinya sangat merasa bahagia.
Dari kejauhan Hinata yang melihat kejadian tadi hanya bisa menahan rasa sakit perihnya hati ini, ia bergegas pergi dari tempat itu dengan cepat. ia tidak sanggup melihatnya lebih dekat lagi, apa lagi sekarang semua sudah jelas akhir nya... ketakutannya akan perasaan sakit ini datang juga...
Dia tidak bisa mencegah persaan ini begitu saja, Ia begitu membenci perasaan sakit ini. Setelah ibunya datang, naruto pergi dari kehidupannya.
.
.
~oOoOoOo~
.
.
~POV Hina~
Malam tiba…
Tepat pukul 12.00. Ditepi pantai. Seorang Gadis merenungkan dirinya sendiri disana. Matanya sudah memerah akibat menahan tangis cukup lama, ia duduk dengan kedua lengan yang memeluk tubuhnya, untuk sekedar menghangatkan diri.
"Jika aku tidak bertemu denganmu hari itu, mungkin aku tidak akan merasakan kesakitan dan kesedihan seperti ini…. Namun, jika aku tidak bertemu denganmu, aku tidak akan merasakan pengalaman menyenangkan, menarik dan sangat berharga juga kebahagiaan luar biasa. Bagaimana sekarang? Aku akan selalu mencintaimu …. Selamat tinggal Langit Biru itu… " Gumam sang gadis dalam Hati.
Aku mencoba membangkitkan diri tapi kaki ku ini terasa kesemutan jadi aku berjalan masih sempoyongan bercampur trauma berjalan sendiri di kegelapan malam, Aku melihat kelangit dan beralih kearah depan lautan, langit berbinatng begitu indah 'menabjukan' dalam hatiku memuji keindahan pandangan didepan,
END
"Dalam hatiku, aku sudah berkemas lebih dari 100 kali." gumam Hinata dalam hatinya. "Aku akan pergi ke tempat dimana tidak ada Kaasan dan Naruto." Hinata bangkit dari duduknya dan berjalan pergi.
Hinata berjalan sempoyongan bercampur trauma berjalan sendiri di kegelapan malam, lalu ia mendengar suara laki – laki yang memanggil namanya..
"Hinata! Hinata!" Seorang pemuda berteriak memanggil namanya.
Hinata yang masih tak mau melihat wajah laki-lak itu terus berjalan menjauhinya, mencoba mencapai tempat lain. Tapi laki-laki itu sendiri langsung mengejarnya dan menangkap Hinata agar tidak kabur darinya lagi. Ia sangat khawatir mendengar bahwa Hinata masih belum kembali kekamarnya dari siang. Gadis itu menghilang, teleponnya tidak aktif. Membuat Naruto semakin kelabakan pergi keluar hotel untuk mencarinya. Ternyata usahanya kali ini sama sekali tidak sia-sia, ia menemukan gadis itu tengah duduk di pinggir bibir pantai. Disana sendirian, tanpa orang lain yang menemani ke sendiriannya itu.
Naruto menghalangi jalannya dan menahan lengannya, membuat Hinata berteriak marah "Apa yang kau lakukan?". Hinata menghempaskan tangan Naruto dengan kasar.
"Ya ampun, kau ini sangat pemarah dan kekanak-kanakan!" Seru Naruto mencoba memaklumi karakter Hinata. "Baiklah, gomen.. Gomen.." Kata Naruto menatapnya sambil tersenyum manis.
Hinata menatapnya tajam, 'hah.. apakah kau sangat gembira setelah berpacaran dengan Shion, apa kau tahu Naruto wajahmu yang sekarang ini terlihat sangat bodoh. Kau tersenyum saat aku sedang tertimpa banyak masalah. Kau begitu hebat Naruto..' Gumam Hinata dalam hatinya. Hinata berjalan cepat duluan mencoba agar tidak terlihat sedang sakit.
"Mau pergi kemana kau?" teriak Naruto, melihat Hinata berjalan pergi dengan cepat. Ia bergegas menuntun sepedanya dan mengejar Hinata. "Kau tidak mau kembali, kau tidak tahu daerah ini kan, Jadi jangan sok tahu. Hei... Hinata tunggu aku, Hei.. jangan tinggalkan aku" teriak Naruto sambil menggeret sepedanya untuk menyusul Hinata.
Bruk!
Tiba-tiba Naruto terjatuh dan berteriak kesakitan "Arrgghh!". Hinata menoleh sedikit, kemudian dengan cuek berjalan pergi.
"Huh?" gumam Naruto bingung. "Hei! Seseorang sedang terluka disini! Bagaimana bisa kau pergi begitu saja?"
Tiba-tiba Hinata ikut tersandung dan terjatuh. Naruto tersentak dan berlari menuju Hinata tanpa memperdulikan sepedanya lagi "heii hinata kau tidak apa-apa?", Tapi sayang Dengan cepat, Hinata berdiri dan berjalan lagi, seakan tidak merasakan bahwa kakinya mengeluarkan banyak darah.
Naruto menaiki sepedanya lalu mengayuh dengan cepat, setelah dirinya sudah berada disamping Hinata, Naruto turun dari sepedanya dan berjalan disamping Hinata. "Hei!Itu pasti sakit!" panggil Naruto, menyuruh Hinata berhenti. "Hei.. kenapa kau pergi begitu cepat, berjalanlah dengan santai. Hinata apakah kau merasa sakit, apa kau mau ku bonceng, Coba biarkan aku melihat lukamu itu.." Naruto menarik Hinata untuk berhenti dan melihat lutut Hinata yang terluka dan mengeluarkan darah yang begitu banyak.
Brukk! Naruto berlutut didepan Hinata, ia terkejut dan merasa sangat khawatir melihat darah yang keluar pada luka Hinata, dengan ragu ia menyentuhnya dengan tangan gemetar. "Lihat lututmu!" seru Naruto cemas.
"Lutut mu berdarah tapi kau merasa tidak sakit?! Darahnya tidak berhenti! Ini bisa gawat!" Teriak Naruto. Hinata menghempaskan tangan Naruto dan hendak berjalan pergi, tapi kali ini Naruto tidak menyerah.
"Ahk.. Jangan membatah, ikut aku ke klinik. Apa kau tidak merasa sakit" ujar Naruto merasa gemas dengan sikap Hinata yang keras kepala.
"SAKIT, apa kau pikir aku tak bisa merasakannya, LALU APA URUSANMU!" teriak Hinata. "Memangnya kenapa kalau sakit?!" ujar Hinata mengeluarkan rasa ke kesalannya yang sudah meludak karena sikap Naruto yang tampak sangat peduli padanya. Tapi ia tidak bisa lagi menerima sikap yang berlebihan dari Naruto, karena sekarang semuanya sudah berubah.
.
.
~oOoOoOo~
.
.
Naruto membawa Hinata ke klinik untuk mengobati kakinya yang terluka.
"Kami harus memeriksa tulangnya yang retak." kata dokter. "Lakukan sinar X terlebih dulu."
Naruto merasa ngeri melihat kaki Hinata dijahit oleh sang dokte. Namun Hinata seperti tidak merasakan apapun. "Dia pasti punya masalah dengan indera kepekaannya, bukan?" tanya Naruto pada dokter. "Betapapun bodohnya dia, dia tidak akan mengerti, bukan?" lanjut Naruto sambil menutup matanya karena ak tega melihat kaki Hinata yang ditusuk dengan jarum jahit itu.
.
.
~SKIP TIME~
.
.
Hinata menunduk terdiam, dia merasa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Sekarang ia tengah duduk di belakang sepeda, sedangkan Naruto berjalan menuntun sepedanya perlahan, seakan ia tidak ingin cepat-cepat sampai di hotel, ia ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi pada Hinata. Akhir-akhir ini gadis itu sering merenung sendirian. Walaupun sering sendirian, Naruto tahu benar bagaimana sikap biasa gadis itu. Tapi kali ini, Pasti ada masalah yang sedang Hinata rahasiakan darinya...
"Hinata?" Panggi Naruto pelan tanpa menoleh kebelakang.
"..."
"Sebenarnya, kau ada masalah bukan? kenapa tidak cerita?" Tanya Naruto pada point nya.
"..."
"Apa kau tidak mempercayaiku? Apa ada yang menekanmu? kenapa kau tidak bicara?" Tanya Naruto lagi secara bertubi-tubi. Rasa keposesifannya mulai muncul lagi sebagai seorang kakak.
Ia menghela nafas sejenak, "Tidak ada yang perlu dibicarakan!" ujar Hinata sejenak sebelum menguatkan hatinya agar tak menangis. "Kau tak perlu khawatir, aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"CUKUP! aku lelah mendengar perkataanmu yang seolah-olah bahwa dirimu itu sudah tidak memerlukan diriku lagi, Hinata? Kau tidak bisa mengabaikan aku begitu saja, Aku ini kakak mu. Aku berhak mengetahui semua rahasia mu. Aku berhak atas dirimu. Kau tidak bisa pergi melarikan diri begitu saja, Karena aku pasti akan menemukan mu. Dimana pun, kapan pun. Tak akan ku biarkan jauh dariku dan menyimpan perasaan sakitmu sendirian. Kau bisa berbagi denganku, Karena kita adalah saudara. Mengerti..." Kata Naruto dengan penuh penekanan. Ia merasa bahwa segala sesuatu yang menyangkut hal Hinata adalah tanggung jawabnya sendiri. Karena dia seorang kakak. Ia harus bisa melindungi adiknya. Jadi wajar apabila bersikap terlalu posesif pada Hinata. Karena Naruto merasa Hinata adalah tanggung jawabnya.
Di dalam hati Hinata, ia merasa ingin tertawa sekaligus menangis kencang. ia ingin berteriak mengeluarkan semua uneg-unegnya yang telah dipendam bertahun-tahun. Seenaknya saja pemuda itu mengeluarkan kata-kata yang begitu menunjukan bahwa ia adalah pemiliknya.
Hinata mendengus kesal, "Berhenti!" Seru Hinata memerintah agar Naruto menghentikan sepedanya.
Naruto berhenti, ia menoleh kebelakang. "Apa yang kau lakukan?" Protes Naruto saat melihat Hinata turun dari sepeda dan berjalan pergi mendahuluinya. Naruto menjatuhkan sepedanya begitu saja, lalu mengejar Hinata yang berjalan sedikit agak pincang. Naruto menghadang Hinata untuk pergi.
"Kenapa kau turun, cepat kembali.." Seru Naruto kesal memerintah Hinata. Tapi sayangnya gadis itu sama sekali tak menghiraukan Naruto, ia terus berjalan pergi mencoba kabur dari pemuda itu.
"Kenapa, kau melarikan diri lagi Hinata-chan?" Tanya Naruto dengan nada rendah, ia terdiam di tempat tak berusaha mengejar atau menghalangi Hinata untuk pergi lagi.
Mendengar perkataan Naruto, Hinata menghentikan jalannya. Ia menarik nafas pelahan, sepertinya semua ini memang harus ada mengakhirinya. Kalau tidak ada tindakan dari salah satunya. Maka masalah ini akan terus berputar-putar begitu saja. Dan yang akan mengakhirinya duluan adalah Hinata.
Hinata berusaha mengatur deru nafasnya yang memburu ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa keputusan ini adalah tepat, ia membalikan badan menatap datar Naruto. Ini akan menjadi akhir dari persaudaraan mereka. Hinata tidak ingin terus terkunci pada pemuda itu.
"Uzumaki-san, Jangan pernah kau mencampuri urusanku, Jangan pernah lagi kau bersikap seolah kau mengenalku, mengkhawatirkan ku secara berlebihan, dan berbicara seolah aku adalah tanggung jawab mu. Kau tak punya hak untuk itu" Kata Hinata mencoba menahan air matanya yang ingin terjatuh. Sedangkan mimik wajah Naruto sudah mulai berkerut tajam, Tidak suka mendengar perkataan Hinata.
"Apa maksudmu Hinata?" Tanya Naruto dingin.
Hinata kembali menatap Naruto, "Jangan pernah kau bersikap seperti itu lagi, jangan pernah... Aku bukanlah tanggung jawabmu, juga bukan adikmu. Aku hanyalah gadis kecil yang telah diadopsi oleh keluargamu. Jadi bersikaplah seolah - olah kau membenciku... Begitu akan lebih baik. Sebenarnya aku sama sekali tidak menyukaimu yang selalu mendekatiku, atau pun bersikap terlalu naif. Kita sudah dewasa, jadi pasti kau mengerti apa perkataan ku tadi bukan." Lanjut Hinata mengakhiri perkataannya.
"Aku tidak mengerti?" Jawab Naruto berbohong, ia bukan tidak mengerti hanya tidak ingin mengerti.
Hinata tersenyum sinis padanya, walau hatinya sudah tersayat-sayat menahan rasa sakit dihatinya. Tapi ia harus tetap tegar, "Kau bukanlah Kakak ku! Kita bukan lah saudara ataupun kakak beradik. Jadi jangan pernah lagi, kau menyebutku sebagai adikku."
Naruto membeku ditempat, ia tak menunjukan reaksi apapun. Sedangkan Hinata sudah meninggalkannya sendirian. Membiarkan Naruto mencerna secara perlahan dari setiap perkataan Hinata tadi.
.
.
TBC
.
.
Author: Konichiwa… mina-san. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya..
MAU ADA PIHAK KE_3? Cemburu-cemburuan. Atau ceritanya happy End/Sad Ending….(Pilih yang mana minimal dua hehehe…)
Minggu ini mungkin aku bakal updet dua kali..… jadi chapter selanjutnya ditunggu aja.. gak sampe dua hari… (mungkin?)
Jadi, aku tetap mengapdet fic ini.. tapi di hari sabtu atau minggu gitu!
Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..
Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D
Dan maaf kalau belum ada balasannya! GOMEN!
Tanks To : Genie Luciana, Aru Hasuna, Fury F, Kimoto Yuuhi, Byakugan no Hime, . dan lain-lainnya… Jaa
