Hinata tersenyum sinis padanya, walau hatinya sudah tersayat-sayat menahan rasa sakit dihatinya. Tapi ia harus tetap tegar, "Kau bukanlah Kakak ku! Kita bukan lah saudara ataupun kakak beradik."

Naruto membeku ditempat, ia tak menunjukan reaksi apapun. Sedangkan Hinata sudah meninggalkannya sendirian. Membiarkan Naruto mencerna secara perlahan dari setiap perkataan Hinata tadi.

Warning :GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Semua karakter yang ada disini bukan milik saya, tetapi milik Masashi Kimoto

Rated :T

Pairing :NaruHina

Main Chara : Hinata dan Naruto.

Another Chara : Sakura, Sasuke, dan Shion Ect.

Genre :Romance, Hurt/comfort & Friendship

Uzumaki Naruto: 17 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Haruno Sakura: 17 tahun.

Uchiha Sasuke: 17 tahun.

Shion : 16 tahun.

Mina-san hari ini adalah hari ulang tahunku loh.. bertambah satu tahun.. Semoga panjang umur, sehat, dilimpahkan rezeki yang banyak, dan bisa berjaya di masa yang akan datang. Satu lagi semoga Fic ini cepat-cepat bisa di tamatakan..(Amin!)

.

.

.

.

Terimakasih untuk pertemuan ini.. Walaupun aku sudah berusaha tapi sepertinya tidak mungkin.. Karena kami hanya sebatas kakak dan adik...

SEMINGGU KEMUDIAN...

Naruto berjalan dengan terburu-buru untuk segera sampai ke kelas. Sudah sekian hari dalam minggu ini, ia sengaja untuk bangun lebih pagi hanya untuk bertemu dengan Hinata. Ia benar-benar khawatir dengan keadaan Hyuga Hinata. Semenjak kejadian di acara Study Tur malam itu. Pemuda bersurai pirang itu jadi kesulitan untuk menemui Hinata. Keberadaan perempuan itu seolah-olah telah hilang ditelan bumi.

Ia mendatangi kamar Hinata berkali-kali, tapi gadis itu sama sekali tak mau membuka kan pintu untuknya. Saat sarapan atau berangkat sekolah Hinata selalu berangkat lebih pagi dari biasanya, Ketika di kelas Hinata tidak mau bicara apa pun dengan Naruto, Saat istirahat gadis itu akan menghilang begitu saja tanpa jejak.

Hinata benar-benar menghilang. Ia hanya ingin memastikan bahwa semuanya baik-baik saja. Pasalnya berulang kali Naruto meminta penjelasan dari perkataan Hinata waktu itu, namun Hinata tak pernah menghiraukan pemuda itu. Padahal Naruto yakin kalau Hinata hanya bercanda saat Hinata mengucapkan kalimat kalau ia bukanlah kakaknya. Kenapa Hinata bisa tega mengatakan hal itu semua padanya..

Pasti ada suatu hal yang membuat Hinata berkata seperti itu, apalagi sekarang gadis itu mulai menjauhinya. Seakan Naruto sama sekali tak dianggapnya, Memikirkan kejadian itu, membuat Naruto mengusap kasar wajah tampannya. Ia sempat berhenti sejenak dalam perjalanannya menuju ruang kelas XI-3. Diremasnya surai kuning yang mirip seperti kepunyaan ayahnya. Ia benar-benar frustasi. Masalah ini benar-benar membuat Naruto sulit untuk menutup mata saat tengah malam, apa lagi waktu kebersamaannya dengan Shion sering ia tunda karena permasalahan yang belum terselesaikan ini.

Grek, pintu kelas terbuka lebar dan kini menampakan Naruto yang tengah mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal, membuat keheningan di kelas yang tadi reda bangkit kembali.

Pandang Hinata dan Naruto bertemu, "..."

"Huff!" lagi-lagi Hinata hanya bisa memalingkan wajahnya. Naruto segera melangkah kakinya ke arah meja Hinata, tanpa memperdulikan sedikit pun tatapan aneh semua temannya.

'Sebenarnya apa yang telah terjadi pada mereka!?" batin semua teman-teman di kelas. Dalam seminggu ini memang Uzumaki Naruto terlihat tengah mengejar Hinata setiap saat, Entah kenapa tapi mereka berdua terlihat tengah bertengkar.

Shion yang melihat tingkah kedua pasangan itu merasa sangat geram! Lantas kekasihnya kini malah mendatangi orang lain terlebih dahulu sebelum menemuinya, (hello Hinata bukan orang lain tau..) Apa lagi, sekarang waktu kebersamaannya dengan Naruto jadi sering terganggu karena gadis itu lagi.

"Kita harus bicara!" Ucap Naruto dengan nada memaksa.

"..." Seperti biasa Hinata tampak tak menghiraukannya, gadis ini hanya fokus kepada buku bacaannya dan itu semakin membuat Naruto geram, sudah cukup batas kesabarannya menghadapi tingkah laku Hinata yang menyebalkan selama seminggu ini.

"Aku butuh penjelasan atas perkataanmu waktu itu Hyuuga?" Tuntut Naruto masih dengan kesabaran yang tengah memuncak.

Akhirnya Hinata menoleh menatap datar pemuda yang tengah menatapnya tajam, "Penjelasan apa?" Tanya Hinata balik.

"Kau berhutang penjelasan tentang perkataanmu malam itu, Kau harus menjelaskannya!" Ujar Naruto memperingati, "jadi, jangan pernah kau mencoba menjauhiku. Karena aku butuh penjelasan mu segera. Kau harus menjelaskannya saat pulang sekolah nanti, ku tunggu dirumah.." Lanjutnya penuh penekanan.

Hinata mendengus, "Bukankah, aku sudah katakan, jangan pernah bersikap seolah-olah kau sangat kenal denganku, Uzumaki-san. Apa kau tidak mengindahkan setiap perkataanku malam itu.." jelasnya masih dengan wajah datar.

"Aku tidak peduli! Kau terlalu bertele-tele dan aku tak mengerti dengan apa yang kau ucapkan malam itu.. Sudah ditentukan kalau kita akan membahas masalah ini, dirumah.." ujar Naruto seraya meninggalkan meja Hinata begitu saja, tanpa mendengar penolakan dari empunya sendiri.

Tak lama setelah kepergian Naruto, bel masuk berbunyi dengan nyaring, pertanda bahwa pelajaran akan segera dimulai. Semua murid bergegas duduk di kursi mereka masing-masing. Menanti Kurenai sensei yang akan mengajar hari ini.

"Ohayou mina.." Sapa Kurenai sensei kepada murid-muridnya setelah memasuki ruang kelas XI-3.

"Ohayou sensei.." Sahut para siswa/i berbarengan.

"Aku akan mulai mengabsen kelas, tapi sebelum itu... Hyuuga Hinata kau dipanggil wakil kepala sekolah untuk menghadapnya di kantor." Seru Kushina menatap Hinata dengan bangga.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Tok.. Tok!

"Masuk!" Perintah Suzune setelah mendengar suara ketukan pintu.

Pintu terbuka perlahan dan menampakan sosok yang telah ia nanti-nanti sedari tadi, Hyuuga Hinata. Siswi dengan bakat kepintarannya yang luar biasa. Kali ini Suzune ingin membicarakan sesuatu hal yang sangat penting untuk anak muridnya.

"Silahkan duduk!" Seru Suzune menyambut Hinata dengan ramah, Ia bahkan mengambilkan minuman untuk Hinata.

"Apa kelas liburan musim panasmu baik-baik saja?" Tanya Suzune berbasa basi sebelum membicarakan inti pokoknya.

"Ya!" Jawab pendek Hinata.

Suzune melihat data-data tentang Hinata."Aku sangat kagum dengan mu, kau mendapatkan peringkat pertama selama dua tahun ini, tanpa ada nilai yang menurun. Aku penasaran dimana tempat bimbingan belajar mu." Tanya Suzune sekaligus merasa bangga.

"Aku tak ikut bimbingan belajar dimanapun" Jawab Hinata sekenanya.

"Ouh.. Pasti kau les privat di rumah!" Tebak Suzune.

"Tidak" Jawab Hinata pelan.

"Eh, benarkah.. lalu bagaimana bisa kau mendapatkan nilai sempurna tanpa ada bantuan belajar dari tempat lain, Kau pasti sangat pintar" Kata Suzune heran.

"Memangnya ada apa saya dipanggil kemari?" Tanya Hinata langsung pada intinya.

Suzune berdehem pelan, ia pun mulai bercerita "Dulu juga ada seorang siswa jenius seperti mu dan dia masuk ke Universita yang bertaraf internasional. Apa Kau mau masuk ke Universitas yang bertaraf internasional ?" Tanya Suzune.

"Aku sama sekali tak ada rencana untuk masuk ke Universitas yang bertaraf internasional" Jawab Hinata dan membuat Suzune tambah heran.

"Kalau begitu apa kau akan melanjutkan sekolah ke luar negeri?" Tebak Suzune lagi.

"Tidak, aku hanya igin menjadi orang biasa saja!" Jawab Hinata sekenanya, Suzune pun tak tahu lagi harus bertanya apa.

"Begini, Sekolah kita terpilih oleh dewan pendidikan untuk mentransfer satu murid terbaik untuk melakukan tukar pelajar dan kau bisa menyelesaikan sekolahmu lebih cepat dari anak-anak pada umumnya. Bisa di katakan kau akan masuk kelas akresiasi disana. Jadi apa kau berminat untuk mengikutinya?"

"Aku tidak tahu?" Jawab Hinata ragu.

"Tapi, peluang kau untuk masuk ke dalam Universitas diluar negeri itu sangat besar, jadi jangan sia-sia kan ke sempatan itu Hinata, Kau harus berpikir matang-matang untuk masa depan mu, Jangan sampai kau menyesalinya kelak..." Ujar Suzune mencoba mengubah pikiran Hinata, "Kau ini siswi yang jenius.. jadi tolong dipertimbangkan lagi keputusanmu itu..! Bagaimana?" seru Suzune bersikeras untuk mencoba mengubah keputusan Hinata

"Baik akan ku pikirkan lagi!" Ucap Hinata mengangguk-angguk, membuat Suzune tersenyum senang mendengarnya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

~Bel Pulang sekolah~

Dilorong sekolah, terdapat sepasang kekasih yang kini tengah jalan beriringan sambil bergandengan tangan, "Kenapa kau tidak mengangkat teleponmu?" tanya seorang gadis dengan manja. "Akhir-akhir ini kita tidak pernah jalan bersama lagi. Apa kau sudah tak mencintai ku lagi Naruto-kun! Kau jahat sekali.." Kata Shion dengan wajah cemberut.

"Gomen-neh Shion. Tapi aku harus menyelesaikan masalahku dengan Hinata-chan" kata si pria berterus terang. "Tapi jika kau ingin pergi berkencan mungkin hari minggu, aku baru punya waktu luang untuk pergi" Kata Naruto mencoba mengembalikan mood kekasihnya kini.

Shion menghentikan langkah pria itu. "Gadis itu sangat merepotkanmu, bukan. Kenapa kau harus perduli dengan masalahnya, Bukankah dia yang pertama kali membuatmu kesal, lalu kenapa harus kau juga yang repot-repot menyelesaikannya... Sudahlah jangan terlalu terpaku padanya, apa kau tahu satu minggu ini kau selalu menghiraukanku bahkan kau tidak konsen saat aku sedang mengajakmu bicara. Kau jadi melupakan ku.." Shion terus menerus mengeluh dan ngedumel.

"Shion! Tolong jangan pernah kau berbicara buruk tentang diri Hinata, karena kau tidak tahu apa-apa tentangnya. Aku sama sekali tidak suka jika kau mengucapkan hal yang tidak baik tentangnya, Jadi tolong bisakah kau lebih mengerti dalam masalah ini. Hinata adalah adikku, dia adalah tanggung jawabku sejak kecil. Aku pun lebih tahu bagaimana perasaannya saat ini... Jika masalah waktu kebersamaan kita berkurang jangan kau lampiaskan ke kesalanmu padanya. Ini masalah kita, tidak ada hubungannya dengan Hinata, kau mengerti!" Tegur Naruto dengan nada yang tak menyenangkan.

"Naruto-kun, kau adalah milikku." kata Shion tak nyambung. Atau lebih tepatnya ia merasa bahwa naruto telah mulai memiliki perasaannya pada Hinata dan ia harus mengingatkan laki-laki itu, kalau dirinya adalah milik Gadis itu seutuhnya.

Naruto menatap Shion "Apa?" .

"Jika aku bilang bulan itu kotak, maka pasti bulan itu kotak." kata Shion. "Jika aku bilang air laut itu manis dan permen itu asin, maka kau akan memuntahkan permen dan memakan air laut?"

"Kau ini... kenapa kau begitu banyak bicara." kata Naruto, tersenyum kecil. "Jika aku di mati, apa kau mau bertanggung jawab?"

Shion tidak mengacuhkan perkataan Naruto. "Kau adalah milikku, jadi kau tidak bisa menyukai orang lain. Kau mengerti?"

"Aku tidak akan membuat komitmen dengan seorang gadis bernama Shion." kata Naruto, tertawa. Sementara Shion mendengus kesal.. sampi ia memiliki ide yang cukup jail!

Shion mencium pipi Naruto dengan cepat lalu berlari keluar menuju mobil jemputannya sambil melambaikan tangan pada Naruto, kemudian berjalan masuk ke mobil. Naruto hanya mampu membalas lambaian Shion dalam ke terkejutannya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

~Di kediaman Namikaze~

Naruto membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Namun, tak terlihat tanda-tanda kehidupan disana. Wajahnya mengernyit, bingung dengan keadaan sekarang. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke arah tangga sambil menghidupkan lampu satu persatu.
"Hinata?"
"Hinata? Kau dimana?"
'Dia kemana ya?'
Naruto kemudian menghambur ke kamar Hinata, tapi tak ada seorang pun disana. Ia kemudian mengusap kepalanya, bingung. Hinata juga tak menampakkan suatu keanehan yang mengindikasikan adanya masalah diantara mereka Seharusnya dia tahu kalau gadis itu tidak mahir dalam berbohong. Naruto pun menghubungi Hinata dengan panik, berharap usahanya membuahkan hasil, Ia masih berpikir apa yang membuat Hinata meninggalkannya. Setelah Naruto menekan kontak Hinata, yang terdengar dari ponselnya hanya bunyi "tut tut tut" yang menandakan bahawa ponsel yang dihubunginya tidak tersambung. Naruto kemudian membanting ponselnya dan mengacak-acak rambutnya. Ia pun langsung melesat keluar kamar tapi pandangannya terhenti pada buku jurnal Hinata. Sepertinya buku itu nampak bersifat pribadi. Tapi rasa ke ingin tahuan Naruto terhadap isi buku itu sungguh membuatnya melakukan aksi nekatnya untuk membuka dan membaca sederetan tulisan tangan di setiap lembarnya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

~Ditempat Lain~

Hinata bergeming. Menggemingkan lagu yang di putar dari pemutar musik mp3. Hidupnya sedang tidak menentu. Perasaannya sedang kacau, Ibunya meminta untuk bertemu kembali, ia bahkan belum membicarakannya dengan keluarga anggkatnya tentang masalah transfer keluar negeri. Sebenarnya sangat sulit untuk Hinata menjalani hidup seperti ini, ia harus pergi ketempat yang tidak nyaman.

Di dalam kereta Hinata tampak diam membisu melihat ke depan dengan tatapan kosong, saat perjalanan pulang ia ditelepon oleh ibunya. Sudah lebih dari tiga hari Hinata tidak mengabarinya, apakah anaknya benar-benar tidak bisa memaafkannya? Dengan sedikit pemaksaan ibunya berhasil membujuk Hinata untuk bertemu di sebuah tempat dimana dulu Hiashi sempat dirawat. Saat mengingat kenangannya itu, Ia seolah telah ditelan oleh pemikirannya sendiri.

Seorang anak kecil tengah asik memakan Ice Cream di samping Hinata, ia tampak sangat menikmati makanannya itu, sampai tak menyadari kalau lelehan dari cairan Ice Cream itu terjatuh mengenai rok Hinata.

Anak kecil itu tiba-tiba menangis keras, sang ibu pun mengomel "Sudah ibu bilang jangan makan es seperti ini tempat umum, bagaimana kau ini? lihat akibat perbuatanmu, baju kakak itu jadi kotor... Ayo minta maaf" Perintah sang wanita paruh baya.

Anak kecil itu pun menurut, ia meminta maaf dengan polos, "Kenapa kakak memakai pakaian berwarna putih, kalau saja kakak memakai pakaian berwarna hitam es nya tidak akan terlihat mengotori baju kakak, seperti ini. Maafkan aku.." Tangis anak kecil itu.

"Ssstt! Kenapa kau memilih rasa strawberry kalau kau memilih rasa pear atau lemon pasti tidak akan terlihat seperti ini." Balas Hinata pelan dan lembut.

"Karena rasa Strawberry lebih enak, jawab anak kecil itu dengan polos. Hinata tersenyum lembut sembari mengusap bajunya yang kotor dengan tisu. Kalau di perhatikan anak kecil itu mirip sekali dengan Naruto. Polos, cengeng, dan terlalu naif.

.

.

~Skip Time~

.

.

Hinata berjalan bersama Ko di sebuah lorong berwarna putih yang dipenuhi oleh banyak sekali petugas dan perawat yang sedang berlalu lalang, ada yang membawakan obat, ada juga yang mendorong gerobak yang berisi makanan. Mereka berdua sedang berada di rumah sakit sekarang, Hinata berjalan mengikuti Ko menuju ke lift.Ko bilang, ruangan tempat ibunya bekerja berada di lantai delapan, yang juga adalah ruangan Dokter.

"Sejak kapan ibuku mengalihkan profesi menjadi dokter," Tanya Hinata.

"Hyuuga sama(ibu hinata) telah bekerja disini kurang lebih dua tahun ." Jawab Ko pendek. Setelah pintu lift terbuka di lantai lima. Dengan langkah terburu-buru, Ko langsung berjalan keluar lifttanpa berbicara sepatah katapun, diikuti Hinata.

Hinata hanya diam, dan terus mengikuti Ko berjalan sampai mereka berhenti di depan kamar yang dipintunya terdapat tulisan Doctor Room's. Ko mengetuk pelan pintu itu sekitar tiga kali lebih dulu, dan setelah itu barulah dia masuk.

Hana yang mempersilakan putrinya masuk dan langsung menyuruhnya untuk duduk, sedangkan Hinata pun malas bicara dengan ibunya duduk dan membaca buku yang dibawanya. Hana sedih putrinya terlihat menghindar darinya. Ia pun mencoba memantapkan kembali hatinya.

"Bagaimana kabarmu Hime-chan?" Tanya Hana dengan lemah lembut agar putrinya tersentuh saat mendengarnya.

"Seperti yang kau lihat sekarang, keadaan ku baik-baik saja!" Jawab Hinata ketus.

"Apa kau masih belum mau memaafkan Kaasan?" Tanya Hana lagi. "Tidak bisakah kau memanggilku Kaasan?"

Hinata menutup bukunya dengan kasar lalu menatap ibunya, "Kau menyuruhku datang kesini hanya sekedar untuk menanyakan hal itu..." Kata Hinata dingin.

Seolah tak mendengar perkataan Hinata yang ketus, Hana tetap bertanya dengan nada lemah lembut, ia tahu kalau putrinya tidak akan semudah itu menerimanya kembali, "Apa kau bergaul dengan baik di sana? Apa teman-temanmu sangat baik padamu? Kaasan harap, kau bisa memperkenalkan mereka dengan Kaasan"

Hinata kembali mengangkat wajahnya dan dengan sikap dingin ia mengatakan "Kau salah, aku tak memiliki seorang pun teman, lebih baik aku segera pulang kalau sudah selesai dengan pembicaraan ini, tidak usah berlama-lama. Bukankah kau benci bertemu denganku."

"Hinata, jangan seperti ini?" Ujar Hana meminta putrinya berhenti bersikap seperti itu.

Hinata yang masih bersikap dingin balik berkata "Seharusnya kaulah yang berhenti, tak perlu kau usah mencemaskan diriku."

"Sudah Kaasan katakan, Otousan mu meninggal bukan salah siapa-siapa." kata Hana mencoba menenangkan putrinya.

"Aku tahu. Aku tak menyalahkanmu. Jadi pergilah dan hiduplah sesuka mu."

Dengan berat hati Hana mengatakan "Maafkan aku!"

Hinata diam tak mengerti, "Ini semua terjadi karena aku, seharusnya aku tidak menemuinya malam itu. Meski aku sangat merindukannya... seharusnya aku mendengarkan Otou-san mu dan melupakannya. Seharusnya aku mendengarkannya. Aku tak tahu kalau Otou-san mu akan melihatku, aku tak bisa melupakan tatapannya yang menatapku malam itu. Aku tak bisa memaafkan diriku sendiri karena membiarkan dia pergi dengan begitu marah. Aku sangat menyesalinya. Aku telah membunuhnya" ujar Hana dengan rasa bersalah.

Hinata yang mendengarnya terkejut. "Kaulah yang membunuhnya!" Teriak Hinata pada ibunya. "Memang benar. Aku juga melihat kau memeluk laki-laki itu, bukankah malam itu aku dan Otou-san akan pergi menjemputmu, tapi setelah melihatmu bersama dengan laki-laki itu, aku tahu Otousan benar benar marah malam itu. Karena itu dia mengebut. Jadi kaulah yang membuatnya begitu marah, Kau mebunuh ayahku" Hinata yang marah tidak terima mendengar penjelasan ibunya lagi. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu keluar.

"Sampai berapa lama lagi kau akan bersikap seperti ini?" tuntut Hana. "Kenapa kau hidup seperti ini disaat yang paling penting dalam hidupmu." Hana mulai marah dengan sikap putrinya karena tak mau mendengarkannya lagi.

"Kenapa kau menyalahkanku?" mata Hinata berkaca-kaca. "Bukankah kau menginginkan Otousan meninggal? Aku mengerti kalau kau sudah tak tahan lagi. Jadi silakan saja hidup sesukamu. Menyembuhkan orang sakit dan mendengar mereka memujimu sebagai dokter yang baik dan hidup bahagia bersama laki-laki yang sangat kau cintai itu"

"Bagi Kaasan, kau sama pentingnya seperti Otousan mu."

Hinata meninggikan suaranya sambil menangis, "Aku tak mau. Aku membenci itu. Sampai kau benar-benar merasa senang dan melupakan kami, Saat itu aku terus mengawasinya, berada di sampingnya. Kau tak tahu kalau Otousan sangat menderita karena mu" Setelah mendengar keributan di dalam kantor Hana, Ko datang masuk kedalam.

Hinata berlari keluar kamar sambil menangis. 'Dihukum aku ingin dia dihukum berat'Gumamnya. Hinata duduk menangis sendirian di bangku taman rumah sakit.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Hana bicara dengan rekannya Ko "aku telah melakukan kesalahan dimasa lalu pada anak dan suamiku, apa kami sama bisa memaafkanku."

"Tentu saja, setiap manusia pasti mempunyai kesalahan.." Jawab Ko menenangkan.

"Tapi Hinata sangat dekat dengan ayahnya. Tidak semudah itu di akan memaafkan ku" Ujar Hana sembari meminum teh yang telah mendingin.

"Karena Aku selalu sibuk dengan rumah sakit dan tak bisa menjenguknya di panti asuhan. Bahkan pada suatu hari ada upacara penghargaan kompetisi nasional untuk Hinata di SMPnya. Seharusnya Aku pergi kesana dan mengucapkan selamat pada Hinata. Tapi Aku mendapat panggilan darurat dari UGD. Jadi aku hanya bisa melihat rekaman Video dari rekan-rekanku yang bekerja di sekolah Hinata. Aku sama sekali tak mengabarinya.. Aku memang ibu yang tidak baik" Keluh Hana menahan air matanya untuk keluar.

"Ssstt! sudahlah, mungkin Hinata hanya belum bisa menerimamu kembali, tapi itu tidak akan lama.. Jadi bersabarlah" Kata Ko.

.

.

.

.

Hinata menangis memandang foto keluarganya (ayahnya). Ia berusaha mengusir kesedihan hatinya dan segera mengusap air mata yang terus mengalir. Setelah beberapa menit kemudian, Hinata sudah tak menangis lagi tapi ia masih melamun sedih duduk di bangku taman. Tanpa ia sadari ada seseorang yang terus memperhatikannya dari jauh. Orang itu ikut merasakan kesedihan Hinata. Siapa? Uzumaki Naruto.

~FLASH BACK~

Setelah Naruto membaca buku jurnal milik Hinata, Ia tidak bisa mengatakan apa-apa. Semua curahan hatinya bahkan rahasia terbesarnya tertulis dibuku itu, lantas berarti Naruto sudah tahu kalau Hinata menyukainya? Benar.

Ia merenung, Sadar. Ternyata ini yang membuat Hinata bersikap sangat dingin dan cuek dengannya, mengapa Hinata bertingkah laku aneh akhir-akhir ini, kenapa Hinata tak mau dianggap sebagai adik baginya dan kenyataan bahwa ibu kandung masih hidup membuat Hinata tidak bisa menceritakannya kepada siapa pun dan mencoba memendamnya.

Hinata menyukainya, Mendengar perkataan itu entah kenapa perasaan Naruto merasakan mulai ada perubahan. Ada sesuatu yang membuatnya ingin lebih tahu lagi tentang rasa suka Hinata kepadanya. Ia sungguh penasaran dan sangat ingin bertemu dengan Hinata, Untuk mendengar semua ini secara langsung dari mulut Hinata sendiri.

"Hinata" Gumam Naruto terus menerus memikirkan masa-masanya ketika ia bersama dengan gadis itu.

Lalu kenapa gadis itu tidak secara langsung mengatakannya sedari dulu? Naruto tidak akan tahu jawabannya jika tidak membaca buku itu.

Hinata tidak bisa menghancurkan hubungannya yang sudah terjalin begitu lama, lalu hancur karena sebuah perasaan sukanya. Ia tidak ingin Naruto menjauhinya setelah ia mengetahui sebenarnya, Ia hanya perlu memendamnya. Naruto berpikir bagaimana bisa Hinata memendam perasaannya begitu lama tanpa tahu bagaimana kepastian diakhirnya. Apakah Hinata sering menanggung bebannya sendiri tanpa meminta tolong kepada orang lain untuk membantunya?

Hinata, gadis itu benar-benar sulit ditebak dan kini ia harus bertemu dengan gadis itu.

Tapi kemana ia harus mencari, Naruto kembali berpikir-pikir ulang. Ia kembali melihat halaman terakhir pada jurnal itu dan tertulis sebuah alamat rumah sakit, tanpa rasa curiga atau heran Naruto langsung bergegas pergi menuju rumah sakit itu.

~END FLASH BACK~

Naruto berjalan mendekati Hinata,"Hmm Apa kau baik-baik saja, Hinata-chan?" tanya Naruto sembari mengambil tempat duduk disampingnya.

Betapa terkejutnya Hinata ketika melihat Naruto tengah berada di sampingnya, pikirannya terus berputar-putar. Bagaimana Bisa Naruto sampai kesini? kenapa Naruto ada disini? Apa pemuda itu mengikutinya?

Dengan perasaan marah, sedih, dan bercampur kesal. Hinata memandang Naruto dengan tuntutan penjelasan.

"Aku sudah tahu semuanya?" Ujar Naruto menjawab semua ke khawatiran Hinata.

Matanya terbelalak lebar jangan-jangan Naruto sudah tahu semua rahasianya, tapi darimana "Maaf aku telah lancang membaca buku jurnalmu!" Kata Naruto menjawab semua ketakutan Hinata selama ini.

"Jadi kau sudah tahu semuanya?" Ujar Hinata sembari menghela nafas pelan, ia tahu semua ini akan terjadi cepat atau lambat. Naruto akan tahu sebenarnya.

"Kenapa kau tak mengatakannya langsung kepadaku, Hinata?" tanya Naruto tanpa melihat wajah Hinata.

"..."

"Apa kau lelah memendam semua perasaan mu?" Tanya Naruto lagi. "Kenapa kau tak mempercayaiku Hinata? Apa aku bukan orang yang peting untukmu? Kenapa kau tak mau berbagi keluhan...? Kenapa kau membiarkan aku yang terus bersandar pada pundakmu? Kenapa kau tak jujur padaku? Kenapa Hinata?"

"..."

"Jawab Hinata!"

"Karena aku menyukaimu Naruto!"

.

.

TBC

.

.

Author: Konichiwa… mina-san. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya..

Sesuai janji kemarin... aku bakal update secara kilat.. tapi chapter berikutnya akan sedikit lama yah..

Jadi, aku tetap mengapdet fic ini.. tapi di hari sabtu atau minggu gitu!

Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..

Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D

Dan maaf kalau belum ada balasannya! GOMEN!

THANKS FOR :Arisa Asari,NaruHina,permatadian,genie luciana,isabellastefani64,, Guest,orregion,Adelia437,LavHimeChan,Naruto borutoDan semua reader yang telah mendukung dan komentar tentang fic ini :D