"Kenapa kau tak mengatakannya langsung kepadaku, Hinata?" tanya Naruto tanpa melihat wajah Hinata yang sudah terlihat pasrah.

"..."

"Apa kau lelah memendam semua beban mu?" Tanya Naruto lagi. "Kenapa kau tak mempercayaiku Hinata? Apa aku bukan orang yang peting untukmu? Kenapa kau tak mau berbagi keluhan...? Kenapa kau membiarkan aku yang terus bersandar pada pundakmu? Kenapa kau jujur padaku? Kenapa Hinata?"

"..."

"Jawab Hinata!"

"Karena aku menyukaimu Naruto!"

Warning : GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Karakter di fic ini bukan milik saya tapi milik hak cipta

Masashi Kimoto

Rated : T

Pairing : NaruHina

Main Chara : Hinata dan Naruto.

Another Chara : Sakura, Sasuke, dan Shion Ect.

Genre : Romance, Hurt/comfort & Friendship

Uzumaki Naruto: 17 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Haruno Sakura: 17 tahun.

Uchiha Sasuke: 17 tahun.

Shion : 16 tahun.

Makan malam di kediaman Namikaze tampak begitu tenang dan damai. Tidak hanya itu, tapi malam ini Minato dan Khusina juga ikut makan malam bersama di meja makan. Sangat jarang untuk keluarga mereka berkumpul bersama seperti ini. Apalagi kegiatan aktivitas kedua orang tua ini yang selalu disibukan karena pekerjaan.

Minato dan Khusina, disibukan dengan pekerjaan hingga tidak tahu bagaimana kondisi dan masalah yang tengah kedua anaknya yang sedang di hadapi. Mereka hanya tahu dari laporan - laporan para pelayan dan pegawai di rumahnya.

Bukan karena mereka tidak peduli lagi pada Putra dan Putrinya. Tapi mereka percaya bahwa jika Naruto dan Hinata bersama saling membantu untuk menghadapi masalah mereka. Maka mereka akan menjadi lebih dewasa lagi dan bisa menentukan jalan yang terbaik yang akan mereka ambil kelak dimasa depan. Walau ketersibukan Minato dan Kushina sering menjadi dinding penghalang untuk menyalurkan kasih sayang mereka, tapi itu tidak menjadi alasan untuk berhenti menyalurkan rasa cinta orangtua kedapa anak-anaknya, bukan.

Lantas apa mereka juga mengetahui apa yang tengah terjadi pada kedua anaknya?

Tidak! Yang hanya mereka tahu sekarang adalah kedua anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Tentu saja, Hinata dengan mudah bersikap seperti tidak terjadi apa - apa, semua dalam keadaan yang baik, ia tampak bisa menutupi raut wajahnya yang tengah kecewa dan halnya dengan Naruto yang memilih diam sedari tadi. Ia tampak tak begitu berselera untuk menyantap makanan dihadapannya. Sebenarnya ia tidak begitu bisa menutupi rasa menyesal dan enggan pada dirinya sendiri atas kejadian tadi sore. Tapi mereka tampak begitu baik menjalani lakon-lakon sandiwara di depan Minato dan Kushina.

Seperti hal biasanya, Minato dan Kushina bertanya - tanya perihal sekolah dan kegiatan lainnya kepada mereka. Dan hanya dijawab anggukan dan gelengan dari Hinata. Sedangkan Naruto sudah merasa bosan mendengar ceramah ibunya yang terus menerus mengenai nilainya disekolah yang semakin menurun. Hinata pula tak membicarakan masalah ibu dan beasiswanya untuk keluar negeri. Karena ia merasa ini belum waku yang tepat.

"Hinata-chan, kenapa kau kelihatan sangat pucat. Apa kau sakit? Apa kau mau kedokter? atau masakannya kurang enak?" Tanya Kushina bertubi-tubi merasa khawatir.

Terkadang Hinata merasa kalau Kushina terlalu berlebihan jika ada suatu hal yang menyangkut tentang dirinya. Walau ia tahu kalau itu adalah sebuah kasih sayang tapi tingkah lakunya terlalu memanjakan Hinata sendiri, mungkin karena dulu Kushina sangat ingin anak perempuan tapi malah anak laki-laki yang ia dapatkan. Sungguh Kasihan...

"Aku tak apa-apa.." senyum kecil terukir di wajah Hinata.

"Ayolah makan yang banyak... kalau ada masalah jangan terlalu dipikirkan! cerita saja ke Kaasan mengerti.." Kata kushina.

Hinata mengangguk pelan sambil mencuri pandang ke arah Naruto.

"Baiklah, aku sudah selesai!" Seru Minato seraya membersihkan mulutnya dengan kain serbet. Pertanda bahwa ia sudah selesai untuk menikmati makanannya malam ini.

"Minato-san!" Panggil Hinata mendadak juga ikut berdiri dari kursinya.

"Iya, ada apa sayang!" Sahut Minato menoleh kepada putrinya, Kushina dan Naruto juga tampak terfokus pada Hinata saat ini.

"Apa anda sedang sibuk? Ada yang harus ku bicarakan dengan anda! Hanya berdua... " Ujar Hinata dengan nada yang cukup serius. Minato sendiri menyeringit dahinya, sangat jarang putrinya ingin berbicara secara formal padanya apalagi sekarang Hinata tampak serius dalam perkataannya. Minato tersenyum kecil sambil mengangguk.

"Baiklah! Kita bicarakan diruang kerja ku.." Kata Minato berjalan kearah ruang kerjanya dan diikuti dengan Hinata dibelakangnya.

Sedangkan Naruto dan Kushina ditinggal tercengang dengan rasa penasaran yang melanda pikiran mereka berdua. Apa yang akan Hinata bicarakan kepada Minato?

.

.

~oOoOoOo~

.

.

"Berjanjilah padaku untuk tidak memasukan namaku dalam Kartu keluarga Namikaze." Ujar Hinata dengan pandangan serius menatap laki-laki paruh bayah didepannya.

"Memangnya Kenapa?" Ucap Minato makin mengerutkan dahinya merasa bingung dan heran.

"Maaf sebelumnya, tapi aku tidak bisa menjadi bagian dari keluarga Namikaze. Karena secara resmi aku masih tetap terdaftar dalam keluarga ayahku Hyuuga. Aku juga sama sekali tidak ingin ada orang lain yang bercampur tangan untuk masalah indentitas diriku. Aku masih tetap Hyuuga... karena itu aku harap anda bisa mengerti maksud dari pekataan ku ini.." Kata Hinata memperjelas.

"Apakah itu benar - benar keputusan mu yang telah kau pikirkan secara matang. Atau, Apa ada sesuatu yang lain hingga membuatmu berpikir seperti ini.." Ujar Minato.

"Ini adalah keputusan yang sudah lama aku pikirkan jadi dalam hal ini tidak ada yang mempengaruhi ku untuk keluar dari daftar keluarga Namikaze." Sahut Hinata dengan mantap.

Minato memejamkan mata sambil memijat keningnya perlahan, ia menghela nafas sejenak. "Baiklah.. jika ini keputusan mu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi..! Tapi ingat kau tetap putriku, mengerti" Seru Minato pasrah.

"Terimakasih banyak! Aku sangat berhutang budi pada anda. Aku juga sudah sering kali merepotkan keluarga anda selama ini.." Kata Hinata seraya membukukkan badannya.

"Jangan sungkan, Hinata-chan! Sudah kubilang kau adalah putriku juga. Jadi jangan berpikir kalau selama ini kau hanya orang asing dirumah dan keluarga ini, mengerti..." Sanggah Minato sambil tersenyum kepada Hinata yang hanya bisa termenung menatap ke bawah lantai setelah mendengar perkataan Minato tadi. Betapa beruntungnya ia bisa bertemu dengan keluarga ini. Sebuah keluarga yang mau membawanya dari panti asuhan saat ia dibuang dan dilupakan sendirian tanpa ada kasih sayang yang menyertainya. Hinata benar-benar memiliki hutang budi yang tidak bisa ia balas hanya dengan jiwa raganya saja.

"Aku mengerti!" Ujar Hinata menatap Minato sambil memperlihatkan senyumannya.

"Hmm... tapi sebelumnya ada yang ingin kutanyakan padamu dan ini mungkin adalah masalah peribadi.." Lanjut Minato.

Hinata menatapnya tidak mengerti, "Apa!"

"Apa kau menyukai Naruto?" Tanya Minato langsung.

Hinata terbelalak diam, mulutnya terasa kaku dan membisu. Entah kenapa Minato bisa menanyakan hal itu padanya. Hinata kembali menunduk menyembunyikan wajah meronanya dengan poni rata. "Maksud anda bertanya seperti itu apa?" Tanya Hinata balik.

"Maaf... sebelumnya, Sebenarnya aku sudah merasakan hal ini sejak kau baru pertamakali melihat Naruto dan bagaimana cara kau bersikap padanya. Mungkin Naruto sendiri tidak menyadarinya... Tapi aku tahu bagaimana sikap orang lain saat sedang menyukai seseorang." Jawab Minato dengan nada sedikit bercanda.

Tapi Hinata sendiri sama sekali tak kunjung menjawab, "Aku tidak marah jika kau menyukai putraku yang tidak peka itu. Aku malah sangat senang jika itu benar, Bukankah berarti aku bisa menjodohkanmu dengan Naruto. Dan kita masih tetap menjadi keluarga tentunya... Kau akan menjadi menantu dan putriku." Kata Minato seraya tetawa kecil.

Hinata hanya dapat bergumam sedih didalam hatinya, "Hmm... Benarkah itu yang Minato-san pikirkan, tapi Naruto sama sekali tak mencintaiku. Karena dia hanya mencintai gadis pujaannya Shion. Aku tidak akan bisa memenangkan hatinya. Karena sudah bertahun-tahun aku mencoba menyadarkannya... tapi ini hasilnya berbeda dari yang ku bayangkan. Seandainya apa yang minato-san katakan adalah kebenaran. Maka aku tak akan segan-segan mencoba menutup diri dan hatiku untuk orang lain."

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Dokter Hana (ibu Hinata) ke ruang rawat Seorang pasien. Dokter Hana melihat catatan perkembangan kesehatan Pasiennya yang bernama Haruno Kizashi. Pasien itu tampak dalam keadaan koma yang sangat kritis. Sedangkan disampingnya terdapat seorang gadis yang masih setia menunggu sang pasien.

"Dokter! Bagaimana perkembangan kondisi Ayah saya?" Tanya Seorang gadis yang seumuran dengan anaknya. Ia berambut merah muda dengan warna mata hijau emerlendnya yang berkilau. Wajahnya sudah sangat pucat karena gadis itu belum tidur semalaman. Sudah seminggu ini Gadis ini datang kerumah sakit dan menginap disini untuk mejaga ayahnya.

"Tenang! Kondisi Ayahmu sudah mulai membaik... Kita hanya harus menunggu hasil tes pemeriksaan dan berdo'a agar beliau cepat sadar dari komanya.." Jawab Dokter Hana.

"Benarkah!" Seru Gadis itu gembira setelah mendengar penjelasannya.

Hana mengangguk tersenyum "Iya, kau juga harus istirahat yang cukup! Jaga kesehatan anda, jangan sampai anda juga terjatuh sakit pula.."

"Terimakasih atas perhatiannya dokter hana!" Seru Gadis itu sambil menundukan kepalanya.

"Iya sama-sama.. Hmm!"

"Sakura! Nama saya Haruno sakura" kata Gadis itu menjawab kebingungan Dokter Hana.

"Kalau begitu Sakura, pergilah ke ruang istirahat karena kau sudah kelihatan cukup melelahkan. Apa lagi besok kau akan berangkat sekolah bukan.." Seru Dokter Hana menasehatinya.

"High...Arigatou!" Sakura melangkah pergi menginggalkan Dokter Hana yang masih setia menatap sendu punggungnya yang semakin lama menghilang.

'Hinata, apakah kau juga sama seperti sakura. Menunggu ayahmu untuk segara tersadar sendirian tanpa ada seorang pun yang menemani di sisi mu, tanpa ada kepastian ayahmu akan hidup atau mati... Maafkan Kaasan! Aku mungkin memang bukan yang terbaik untuk mu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian lagi'.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Brak! (Suara pintu tertutup)

Hinata berjalan dan melemparkan tubuhnya di atas kasur. Pikiran dan tubuhnya sudah sangat lelah, matanya sudah masuk kataegori berkatung. Tanpa menyadari keadaan disekitarnya ia meniduri dirinya di tempat tidur.

Hinata tidur menyampingkan meringkuk mendekati lampu tidur yang belum ia matikan. Matanya terasa sangat lelah dan berat, mungkin karena sore tadi ia terlalu banyak menangis. Apa lagi minggu - minggu ini banyak masalah yang menimpa dirinya. Tanpa ada persiapan yang matang Hinata diharuskan memilih dan memutuskan. Itu sangat tidak mudah baginya!

Hinata membenamkan wajahnya pada tumpukan bantal, mencium aroman lavenderya sendiri yang melekat pada ruangan dan benda-benda yang ada didalam ruangannya. Sangat menenangkan dirinya untuk segera tertidur pulas, apa lagi ada campuran aroma citrus yang sangat ia kenali.

Aroma citrus yang sering sekali ia cium saat ia sedang bersamanya, milik seseorang yang tidak ingin kembali ia ingat. Orang itu adalah cinta pertama dan terakhirnya. Setelah terdiam beberapa saat Hinata baru tersadar, ada yang aneh. Entah ini nyata atau hanya perasaannya saja!

Ia terpekik ketika merasakan sebuah tangan yang memeluk tubuhnya dengan erat dari belakang. Membuat Hinata tidak bisa membalikkan tubuhnya begitu saja.

Tanpa menoleh pun ia tahu siapa orang yang kini tengah memeluknya, deru nafas sosok itu sangat dekat dengan telinga Hinata. Membuat wajah Hinata seketika menjadi memanas.

Pemuda berkulit tan itu mengeliatkan tubuhnya tak nyaman, mencoba menggeratkan pelukannya pada gadis berambut indigo itu untuk mencari kenyaman tersendiri. tangan kekarnya memluk posesif Hinata, seakan tak mau melepaskannya sedetik pun. Hangat, sangat nyaman itulah yang Hinata rasakan saat ini. Tapi ia sadar kalau dirinya tidak boleh terlena begitu saja. Tidak boleh!

"Mau apa kau?" tanya Hinata dengan nada sedatar mungkin.

"Aku hanya ingin mengenang masa kecil kita! Sudah lama kita tidak tidur bersama seperti ini.." Jawab sosok itu dengan suara serak.

Hinata mencoba melepaskan pelukan erat di perutnya dengan susah payah tapi apa daya kekuatannya seakan tak dapat melawannya, Sedangkan sosok itu yang tak lain adalah Naruto seakan tidak memperdulikan Hinata yang mulai memberontak. Ia malah tambah mengeratkan kembali pelukannya dan mencium aroma khas Hinata.

"Hinata-chan... Tidak bisakah kita kembali... Kembali seperti dulu lagi?" Tanya Naruto dengan nada sendu."Melupakan apa yang sudah terjadi pada hari ini?"

Hinata mulai berheti memberontak setelah mendengar perkataan Naruto, "Apa! kembali, semudah itu kah kau mengatakannya. Kau pikir sangat mudah untuk ku berjalan kembali seperti dulu" Jawab Hinata dingin dan menatap kosong kedepan.

"Maafkan aku!" Gumam Naruto pelan. "Sekarang aku tengah bingung! aku masih belum tahu jelas bagaimana perasaanku padamu dan Shion"

"Kau tidak perlu merasa terbebani Naruto! Dan tak usah merasa bersalah. Sekarang aku pun akan mulai mencoba melepaskanmu." Ujar Hinata mencoba menahan air mata yang ingin turun lagi. "Karena itu, cobalah untuk belajar membenciku! agar kau bisa melupakkan perasaanku ini dengan mudah. Aku tidak akan memaksa, aku akan mengalah. Demi kebaikan kita.. Jadi kau bisa melepaskan ku sekarang!"

Degh!

Hati Naruto seakan tertohok dengan keras mendengar perkataan Hinata, perlahan ia lepaskan pelukannya. Ada rasa tidak suka dan tidak mau mendengar perkataan Hinata padanya yang menunjukan bahwa ia harus menjauhi gadis ini. Naruto tidak akan melakukannya, "Jangan kau berpikir, aku akan meninggalkanmu dan membiarkanmu merangkul beban sendirian, Hinata. Aku akan selalu ada jika kau membutuhkanku.. Aku berjanji!" Seru Naruto mencoba kembali meredam Kekecewaannya.

"Jangan mengucapkan janji yang tidak bisa kau tepati Naruto!" Ujar Hinata seraya kembali memejamkan matanya. "Dan tolong, keluarlah dari kamar ku karena aku ingin istirahat tanpa ada pengganggu!" Lanjut Hinata mengakhiri perkapannya dengan pemuda yang kini sudah berjalan ke arah pintu kamar.

"Aku tidak pernah menarik kata-kata ku Hinata! Maafkan aku.." Seru Naruto pelan lalu hilang dari balik pintu.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Keesokan harinya di sekolah. Hinata berangkat sekolah seperti biasanya, Mendahului siswa lain dari kelas yang tadinya kosong hingga mulai terisi penuh dengan para penghuni kelas XI-3. Sembari menunggu bel berbunyi masuk waktu mengajar, Hinata membaca-baca kembali materi pelajaran yang sudah pernah ia kerjakan dirumah. Mengisi kekosongan waktunya agar tidak terbuang sia-sia.

Tiba-tiba dari arah kejauhan seorang gadis berambut pink tengah berlari tergesah-gesah memasuki kelasnya. Tampaknya kegiatan ini selama seminggu sudah menjadi rutinitasnya tersendiri.

"Ohayou!" Sapa Sakura kepada dua sahabatnya yang kini tengah sibuk dengan kegiatan mereka sendiri.

"Ohayou Sakura-chan!" Sahut Ino menoleh pada sahabatnya yang satu ini.

"Hmm" Sedangkan Hinata hanya bergumam sambil melirik sekilas ke arah sakura dengan tenang.

"Sakura-chan? Kenapa kau terlambat datang kesekolah lagi. Apa lagi sekarang kau tidak sadar untuk memperhatikan penampilanmu sendiri yang sudah dalam kondisi acak beradul seperti ini. Seperti habis dikejar-kejar Fans Uchiha-san! Saja?" Ujar Ino menatap iba pada Sakura yang sudah duduk di belakangnya dengan kodisi yang memungkinkan dirinya dalam keadaan fisik yang kurang sehat.

"Gomen! Akhir-akhir ini aku sangat sibuk, Aku harus pulang pergi dari rumah sakit secara bergantian dengan Kaasan. Karena Kondisi ayah sudah mulai membaik. Jadi kami harus getap berada di samping Otou-san agar tidak terjadi hal yang buruk nantinya!" Sahut Sakura setengah sadar, ia kembali memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya ditumpukan kedua lengannya.

"Memang ayah mu kenapa Sakura?" Tanya Hinata yang sedari tadi hanya menjadi pendengar percakapan antar teman-temannya saja.

"Ya Tuhan... Apa kau belum tahu Hinata-chan! kalau ayah sakura telah kecelakaan saat pulang dari kota Iwa seminggu yang lalu. Kau ini bagaimana sih.. masa sahabatmu sendiri tidak kau perhatikan..." Kata Ino terkejut sekaligus emosi. Hinata sendiri terdiam merasa tersindir dan sedih. Tapi ia tetap memasang wajah datarnya seperti biasa.

"Jangan berkata seperti itu Ino!" Tegur Sakura halus.

"Gomen! Aku turut perihatin mendengar kondisi ayahmu sakura! Maafkan aku..." Kata Hinata sembari menatap Sakura dan ino bergantian dengan sendu.

"Hmm Tidak apa-apa Hinata-chan? Aku tahu, akhir-akhir ini kau sedang ada masalah jadi jangan terlalu kau pikirkan masalah ini.. ya!" seru Sakura tersenyum kecil sambil mengusap pundak Hinata pelan. "Lagi pula ayah ku tadi pagi telah bangun dari komanya. Dokter bilang, kondisi ayah mulai membaik, jadi hari ini pun ia sudah boleh dijenguk..Sore ini...? Kalau kalian ingin ikut juga boleh."

"Aku, juga. Maaf kan aku! Seharusnya aku memberitahu mu... Sebelumnya!" Kata Ino memandang Hinata dengan tatapan yang lembut.

Hinata mengangguk, "Arigatou!" Gumamnya tersenyum pada kedua sahabatnya.

"Tapi yang sekarang aku khawatirkan adalah dirimu sendiri.. Akhir-akhir ini wajahmu kelihatan sangat pucat. Apa lagi Naruto dan kau kelihatan sedang ada masalah. Apa kau tidak ingin menceritakan apa-apa pada kami?" Hinata kembali terdiam sambil mencuri pandang pada Naruto yang tengah duduk memunggunginya dan bercanda gurau bersama teman-temannya. Sedangkan Ino memberi kode supaya Sakura jangan bertanya lebih banyak lagi.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Karin teringat sesuatu, "Aku mendapat cerita dari temanku yang di lain sekolah kalau Wali kelas kita ini memang penyihir sungguhan. Dia masih muda, pucat dan cantik. Tapi itu karena dia menghisap darah dari murid-muridnya. Dan itu sebabnya dia menjadi guru di SMA."

Sara tak percaya, "Mana mungkin begitu?".

"Apa dia juga suka menghisap darah kita?" Ujar Matsuri penasaran sekaligus gemetar takut.

"Kalau kau tinggal di kelasnya selama setahun dia akan semakin muda dan kulit murid-muridnya yang akan mengkerut menua. Apa kau pernah merasa merinding? Ketika dia berjalan melewatiku, aku merasa sekujur tubuhku merinding." Ujar Karin sambil mengelus-elus telapak tangannya yang mulai mendingin.

Matsuri mulai ngeri, "Kau juga? aku juga merasakannya."

Berlanjut pada Shion yang juga baru sampai masuk kedalam kelas. Ia lega karena belum terlambat. Dimeja nya juga sudah ada Sara, Karin dan Matsuri yang sedari tadi tengah menunggunya dengan setia. Shion kelelahan. Ia melirik kearah kekasihnya harap-harap Pemuda itu tengah berjalan menghapirinya dengan ke khawatiran di wajahnya. Tapi sayang apa yang ia harapkan tidak terjadi sama sekali, Karena sang kekasih tengah sibuk bersenda gurau bersama teman-temannya. Dengan kesal Shion menghentak-hentak langkah kakinya menuju Sara Cs.

Matsuri kasihan melihat Shion yang kelelahan seperti itu. "Kenapa kau bisa terlambat? Tumben sekali.. Untung saja Kurenai sensei belum datang.." ujar Matsuri iba melihat Shion yang tengah duduk mengatur nafasnya.

"Benar, Tumben sekali kau terlambat.. Biasanya paling getol datang pagi-pagi!" Kata Karin ikut merasakan iba. "Kalau kau terlambat 5 menit lagi mungkin kau akan segera bertemu dengan guru iblis itu.." Ujar Karin menilai kalau wali kelas mereka sangat galak.

"Kalian jangan banyak tanya? Aku sedang kesal dengan seseorang yang membuatku terlambat seperti ini tahu? Andai saja tadi aku tak bertengkar dengannya mungkin sedari tadi aku sudah sampai dikelas" Kata Shion marah-marah naik pitam.

"Siapa? Selingkuhan mu ya..?" Gurau Sara mengejeknya.

Shion tersentak. ia melirik ke depan takut-takut kalau Naruto akan mendengar perkataan Sara tadi. "Kami sama.." Gumam Shion gugup.

"Kenapa? Kau takut? Naruto-kun tidak akan mendengarnya, apa kau tidak lihat kekasihmu itu sedang sibuk bermain dengan teman-temannya. Jadi tenang saja!" Kata Sara menahan senyuman sinis yang diarah ke gadis didepannya yang sudah berwajah pucat pasi. Walau bagaimana pun Sara juga menyimpan rasa dendam karena Naruto lebih memilih Shion dari pada dirinya. Dan senjata yang ia simpan adalah rahasia tentang selingkuhan Shion.

Shion mengerutkan dahinya, "BAKA! Bagaimana mungkin mulutmu dengan mudah mengucapkan kalimat laknat itu disini? Apa kau ingin aku putus darinya..! Kau ini kenapa jadi bersikap menyebalkan seperti ini sih.." Kata Shion geram menatap tajam Sara.

"Tenanglah, aku hanya bercanda!" Ujar Sara dengan tenang. Sikap Sara berubah menjadi seperti ini semenjak ia tahu bahwa teman yang satu ini telah merebut pemuda yang ia sukai. Apa lagi, Shion juga tahu kalau ia memang mengejar-ngejar pemuda ini. Tapi yang ia dapatkan sekarang, sebuah penghianatan.

"Sudahlah.. hentikan pertengkaran kekanak-kanakan kalian. Malu tahu dilihat sama yang lain.." Ujar Karin menengahi perselisihan kedua temannya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Seperti biasa setiap hari senin akan diadakan tes dadakan saat awal pembelajaran dimulai dan disinilah sekarang semua siswa - siswi tengah serius mengerjakan setiap soal yang telah tertera di atas meja mereka sendiri.

Sedangkan Hinata tengah melihat kupu-kupu putih itu terbang, ia menatapnya sedih. Kupu-kupu itu hinggap di bingkai kaca yang ada di sampingnya. Tampaknya lembaran jawabannya belum satu pun yang ia jawab sama sekali.

Hinata melihat pantulan dirinya di kaca. Wajahnya yang begitu dingin tanpa senyuman ceria. Ia melihat kupu-kupu itu, wajahnya terlihat sedih. Sepertinya dia berfikir apa dia sudah salah melangkah. Tapi hatinya kembali memantapkan untuk melanjutkan langkahnya.

Bel tanda istirahat berbunyi, anak-anak kelas XI-3 bersiap duduk di tempatnya masing-masing dan Naruto datang. Hinata menunduk diam.

Naruto bertanya "Apa kau berhasil mengerjakan tes hari ini". Hinata tak menjawab. "Kau pintar dan aku yakin kau bisa! Tanpa menjawab pun aku sudah tahu itu." Kata Naruto kembali mengelus pelan rambut indigo nan halus itu. Sedangkan empunya hanya tersenyum pahit mendengar perkataan Naruto. Disisi lain ada Shion yang tengah menatap benci pada kedua insan yang tengah bersama itu.

"Kurang ajar! awas kau hyuuga.."

.

.

.

Sara akan memimpin teman-temannya untuk memberi salam ketika gurunya sudah memasuki kelas, tapi Kurenai menyuruhnya duduk. Kurenai akan mengumumkan hasil tes hari ini. ia sensei bejalan di depan menghadap murid-muridnya. "Baiklah anak-anak hasil tes hari ini akan aku umumkan.."

"Peringkat pertama dengan nilai 100 diperoleh oleh Shikamaru." Teman-temannya Terkejut. Padahal biasanya Hinata yang akan mendapatkan peringkat pertama dan dimulailah satu persatu nama-nama mereka dipanggil kedepan.

Hinata berdiri akan menerima hasilnya. Kurenai melanjutkan kata-katanya sambil menjatuhkan dengan sengaja lembar pekerjaan Hinata, "Dan begitu juga dengan peringkat terakhir jatuh pada Hyuuga Hinata." Semua siswa terbelalak bukan main. Apalagi Naruto? Bagaimana ini?

Kurenai menatap tajam Hinata dengan tatapan sinis, "Kau ini pintar, jadi kau pasti sudah menduga hal ini. Kenapa kau tak mengisi satu pun soal di lembar jawabanmu.. Apa kau sudah merasa pintar?" Cibirnya. Hinata terkejut tapi tidak berlebihan. Sepertinya ada yang salah dengan ini, mana mungkin ia tidak mengisi lembar jawabannya.

"Segera kosongkan loker guru dimana kau menyimpan barang-barang. Hak istimewamu sebagai siswa terbaik sudah dicabut kembali dan yang berhak menempati loker guru atau yang mendapatkan hak istimewa berikutnya jatuh pada Nara Shikamaru." Kata Kurenai mengingatkan.

Walau tak terima Hinata hanya diam pasrah, "Aku Tahu!" Jawabnya mengerti lalu berlalu pergi meninggalkan suasana ketegangan dikelas. Hinata mengambil perlengkapan sekolah yang ia simpan di loker guru. Ia harus memindahkan semua itu ke loker siswa. Sebelum ia keluar dari kelas. Pandangannya sempat melihat Shion yang tengah tersenyum sinis dan licik padanya.

~SKIP TIME~

Ketika Naruto akan pulang ia melihat Shion dan kurenai keluar dari ruang guru. Shion berterima kasih pada Kurenai karena penjelasan darinya sangat membantunya. Setelah berpamitan pada Kurenai, Shion berlalu pergi entah kemana?

Kurenai berjalan mendekat ke arah Nauto persembunyiannya. "Sensei!" panggil Naruto menghentikan langkah Kurenai. Kurenai menoleh menatap Naruto.

"Tolong maafkan Hinata" Ujar Naruto.

Kurenai menyeringit dahinya "Maksudku, dia itu seharusnya berada di tempat pertama tapi karena ada kesalahan dia harus berada di posisi yang terbawah. Tolong, berikan ia kesempatak kedua. Tolong maafkan dia!" Lanjut Naruto berusaha tersenyum meyakinkan kalau Hinata itu tak berniat menentang Kurenai. "Semua ini terjadi karena Hinata tengah menghadapi masalahnya, Jadi biar ia yang mendapatkan kesepatan kedua."

"Ku ingatkan Uzumaki bahwa hanya ada 1% siswa yang bisa bicara denganku di luar kelas." Naruto terdiam tercengang. Kurenai menatap sinis dan mengabaikannya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Hinata membuka lokernya dan mengambil semua barang-barangnya untuk dipindahkan pada loker siswa. Ia tidak merasa kesal karena harus pindah loker, tetapi karena sosok yang membuat dirinya bertambah semakin runyam.

Brak! (Loker tertutup)

Setelah menutup loker Hinata akan bergegas pergi tapi ternyata Shion tengah menunggunya disana, dengan pandangan tidak senang yang diarahkan kepada Hinata. Seakan sangat dendam.

"Bagiamana rasanya menjadi yang terbawah Hyuuga?" Katanya terkekeh pelan.

Hinata menatapnya datar seperti biasa. Shion berjalan mendekat dengan langkah yang akuh dan kedua tangan yang saling melipat didadanya. "Kenapa? Apa kau marah.."

"Tidak?" Jawab Hinata dingin.

"Jangan berbohong... Aku tahu kau marah padaku.." Kata Shion memanas-manasi, "Akulah yang telah mengganti lembar jawaban hasil tes ujianmu.. Apa kau tahu. kasihan sekali... Hahhaahaha"

"Aku tahu!"

Shion berhenti tertawa, "Akh.. Apa. Itu tidak mungkin? Tidak usah berlagak sok kuat Hyuuga~" belum ia menyelesaikan ucapannya Hinata sudah menyela terlebih dahulu.

"Aku sudah tahu, sebelum tes dimulai pun aku juga sudah tahu rencana busukmu itu. Tapi aku tidak melaporkanmu sebelumnya, karena aku ingin tahu sebenarnya apa yang kau inginkan dariku, menderita, menangis, berteriak, bunuh diri atau ada hal lainnya." Cerca Hinata, "Sadarlah, kau bukan tandinganku Shion. Aku sangat simpatik melihat mu melakukan rencana busukmu itu dengan bersungguh-sunggu. Apa tidak ada hal lain yang bisa kau lakukan dengan benar.. "

"APA!"

"Jika kau ingin aku menjauh dari Naruto. Tenang saja, hal itu akan segera terwujud tak lama lagi. Jadi simpan rencana-rencana mu itu untuk nanti.."

.

.

TBC

.

.

Author: Konichiwa… mina-san. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya..

Berhubung aku lagi sibuk banget jadi agak mengurangi waktu buat menghayal atau buat jalan cerita fic selanjutnya…

Apa lagi aku bikin fic ini ngebet banget.. jadi mohon dimengerti ya!

Dan maaf kalo mengecewakan para reader semua.. Dan terima kasih buat yang telah mengingatkan ku akan fic ini! Dan aku kasih waktu buat tanggal 4 september sore. Buat kalian yang pengen liat lanjutan ceritanya secara kilat.. (akan aku usahakan untuk Updet malamnya..)

Jadi, aku tetap mengapdet fic ini.. tapi di hari sabtu atau minggu gitu!

Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..

Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D

Dan maaf kalau belum ada balasannya!

Bisa hubungi aku di facebook rena's chan

THANKS FOR YOU ALL