Warning :GAJE, OOC, TYPO, AU,dll.

Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

Karakter di fic ini bukan milik saya tapi milik hak cipta

Masashi Kimoto

Rated :T

Pairing :NaruHina

Main Chara : Hinata dan Naruto.

Another Chara : Sakura, Sasuke, dan Shion Ect.

Genre :Romance, Hurt/comfort & Friendship

Uzumaki Naruto: 17 tahun.

Hyuuga Hinata: 16 tahun.

Haruno Sakura: 17 tahun.

Uchiha Sasuke: 17 tahun.

Shion : 16 tahun.

Hinata heran melihat Sakura masih ada di sekolah, "Apa kau tak pulang?"

"Aku juga mau ikut membersihkan kelas.. Apa kau tidak tahu kalau wajahmu itu sudah pucat pasi" Kata Sakura merajuk.

"Oh, KURENAI SENSEI datang!" sahut Hinata tiba-tiba. Sakura panik kebingungan. Ia harus sembunyi agar tak ketahuan kalau ia membantu Hinata melakukan piket. Sakura sembunyi di balik meja. Tapi tidak terdengar suara hentakan sepatu berjalan. Sakura mengintip dari persembunyiannya.

Ternyata Hinata hanya bercanda, tak ada bu guru yang datang. "Apa kau begitu takut padanya? tidak apa-apa pulang saja." Menyadari kalau tak ada Kurenai. Sakura segera berdiri lagi dan mengatakan "Bukan begitu maksudku?"

Hinata membersihkan jendela, Sakura mengikutinya."Kaasan pasti akan memarahi ku lagi di rumah nanti. Kau juga pasti bisa kena marah Okasaan mu di rumah" Keluh Sakura.

"Dia tidak akan marah." Sahut Hinata pelan.

Sakura kaget, "benarkah?"

"Kami mengurus masalah kami sendiri-sendiri."

"Kau terlihat sangat dewasa sekali Hinata-chan" Puji sakura. Hinata tersenyum tipis dan pindah tempat membersihkan jendela lain, Sakura mengikutinya.

"Menurut ku apa yang dikatakan kurenai sensei tidak benar juga. Orang tua mengatakan kalau mereka akan merawat anak-anak mereka tapi mereka sebenarnya lebih peduli dengan diri mereka sendiri." Kata Sakura, Hinata setuju memang setiap perkataan Sakura ada benarnya juga.

"Aku mungkin tak tahu hal lain tapi aku yakin kalau apa yang dikatakan kurenai juga salah dan apa yang kau katakan itu benar." Ujar Hinata membela.

Hinata memperhatikan Sakura, "Aku rasa kau mulai berubah.." Sakura tak mengerti. "Sekarang kau sangat perhatian. Menurut ku mungkin lebih baik kalau kau tetap seperti yang lain, kalau terlalu peduli mungkin kau akan terkena hukuman." Lanjutnya memberi saran.

"Hmm" Sakura tampak mengangguk-angguk mencerna setiap perkataan Hinata tadi. Tapi pandangannya melihat sesuatu bergerak-gerak di samping Hinata, apa itu?

Ulat.

"KYAAA!" Sakura menjerit menjauh. Hinata melihat apa yang dilihat Sakura dan ikut menjerit lebih histeris karena takut.

"KYAAA" Saking takutnya Hinata langsung naik ke meja.

Sedangkan disisi lain sang pelaku "Hahahahaha!" Ternyata itu ulah Kiba yang sengaja menaruh ulat itu disana. Kiba mengambil ulat itu "Ternyata ulat ini terlihat sama sepertimu sakura! hahahha"

Sakura menatapnya antara kesal dan jijik "Heii, Kiba no baka! jauhkan hewan menjijikan itu, lebih baik kau buang saja atau kau matiin sekalian" Ucap Sakura dengan nada bergemetar takut.

Kiba tampak menghiraukan perkataan Sakura padanya, "Kenapa tubuhnya besar sekali? Dia akan kesusahan berlari setiap hari seperti ketika kau yang selalu terlambat berangkat ke sekolah." Kata Kiba bermaksud menyindir Sakura.

"Bisa-bisanya kau menyamakan aku dengan hewan jelek itu." Teriak Sakura tak terima

Hinata masih ketakutan, "Apa yang akan kau lakukan dengan ulat itu? apa kau akan memakannya?"

"Makan ini?" Kiba menaikan kedua alisnya heran.

"Aku pernah melihat di tayangan National Geographic bahwa penduduk primitif memakan ulat seperti itu sebagai protein mereka" Sakura jijik mendengarnya huweekkk.

Tapi Kiba kembali mendekatkan ulat itu pada kedua cewek ini. "KYAAA!"

.

.

~oOoOoOo~

.

.

"Aku duluan ya, Hinata-chan!" Teriak Sakura dari seberang jalan sambil melambai -lambai.

Hinata membalas lambaian Sakura dengan tenaga setengah bersemangat, sekarang ia akan pulang karena langit mulai menggelap. Mengayuh sepeda seperti kebiasaannya setiap kali pulang pergi sekolah. Menghayati kencangnya hembusan angin ketika bertubrukan menerpa wajah dan tubuh yang sudah mulai berkeringat. Dingin dan hampa, sejuk dan menangkan.

Matahari sore yang mulai tenggelam seperti mendukung suasana hatinya yang sedang menggundah. Sunyi dalam diam. Termangu dalam pikirannya sendiri. Kebiasaan ini sudah menjadi kebiasaannya untuk beberapa minggu ini. Itu wajar? Entah apa yang sedang gadis itu pikirkan, tidak ada yang mengetahuinya.

~SKIP TIME~

Sampai di mashion Namikaze. Hinata menaruh sepedanya di depan perkarangan rumah dan langsung berlari menuju kamarnya, tanpa memperdulikan sapaan dari beberapa pelayan disana. Yang ia inginkan sekarang hanya membersihkan diri dan ketenangan di kamarnya tanpa ada seorangpun yang mengganggunya .

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Di Sisi Lain.

Naruto tengah menunggu Shion di sebuah kafe yang biasa ia sering kunjungi bersama kekasihnya kini. Entah bagaimana kafe ini telah menjadi tempat favorit mereka berdua ketika ingin kencan atau bertemu. Apa lagi banyak menu yang menjadi menu kesukaan mereka bersama.

Menatap layar handphonenya dan mengotak - atik aplikasi permainan Zero XX. Sudah 30 menit Naruto duduk menunggu disini, tanpa ada kabar dari sang kekasih. Terlambat? itu sudah menjadi kebiasaan Shion saat sedang janjian bertemu dengannya. Sampai-sampai membuat Naruto harus bersabar untuk menunggunya lebih lama lagi. Sebenarnya Naruto sangat tidak suka menunggu terlalu lama, tapi apa daya... Gadisnya kini adalah belahan jiwanya. ia tidak ingin Gadis itu pergi lagi dari hidupnya. Ia sangat berarti untuk dirinya.

"Huhh!" Naruto sudah tampak sangat jenuh menunggu terlalu lama, apalagi games yang ia mainkan sudah tidak membuatnya tetarik lagi dan beberapa gadis di kafe itu kelihatan sedang menatap genit pada Naruto. Ini sangat membuatnya tidak nyaman!

"Kami sama..." Gumam Naruto gusar menatap keluar jendela kafe di sampingnya. Dimana Shion, bahkan sampai sekarang gadis itu belum bisa dihubungi atau membalas pesannya. Membuat perasaan Naruto menjadi kesal dan khawatir memikirkan hal yang tidak-tidak tentang kekasihnya kini.

Drtt... Drrttt!

Suara getaran handphone, kembali menarik perhatian Naruto yang tengah menahan kesalnya. Ia mengambil handphonenya dengan kasar lalu mengetik kunci kata sandi di layar handphonenya. Setelah wallpapernya terbuka, ia melihat sbuah pesan dari sang kekasih.

Dengan tergesah-gesah Naruto membuka pesan itu.

'Naruto-kun... Hari ini kita batalkan saja kenca kita kali ini. Aku ada urusan penting dan tidak diperbolehkan pergi oleh Otousan. Mungkin lain kali kita bisa mengganti pertemuan kita kembali... Jangan marah ya..? Stuki'

Terpaku setelah membaca pesan itu. Apa! Lagi-lagi gadis itu membatalkan pertemuan ini dengan mudahnya dan mengatakan kalimat seperti itu. Kali ini Naruto benar-benar tidak bisa mentoleransi sikap Shion lagi. Besok ia harus membicarakan ini dengan Shion di sekolah..

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Hinata membawa tas sekolahnya dan mencari ruangan yang sepi untuk belajar. Ia membolak-balikkan buku dan berusaha mengerjakan. Hinata menarik napas dalam-dalam.

"Hinata-sama, ponsel anda berdering beberapa waktu yang lalu." kata sang pelayan. "Sepertinya ada pesan suara."

Dengan tergesah-gesah, Hinata mengambil ponselnya dari tangan Sang pelayan. "Terima kasih?" Ucap Hinata pelan.

Hinata berjalan masuk ke kamar untuk mendengarkan pesan. Sang pelayan mengikutinya.
Wajah Hinata seketika berubah menjadi mengeras seperti sedang menahan amarahnya, "Dimana Minato-san?" tanya Hinata pada sang pelayan setelah mendengarkan pesan di handphonenya.

"Beliau sedang pergi keluar?" Jawab sang pelayan bingung?

"Lalu Kushina-san dan Naruto!" Tanya Hinata lagi.

"Kushina-san sedang pergi ke beberapa acara perjamuan di GNJ Corp. Sedangkan Naruto-sama sedang pergi keluar dan belum kembali.." Jawab sang pelayan sekananya.

Hinata menghela nafas mencoba mengatur emosinya "Tolong tinggalkan aku sendirian..!" Seru Hinata.

"Hai" Sang pelayang membungkukkan badan sebelum keluar dari kamarnya. Setelah memastikan bahwa diruangan ini hanya ada ia seorang tanpa ada penguping. Hinata bergegas mengetik beberapa nomor untuk ia hubungi segera.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Dokter Hana tengah merenung ditempat kerjanya. Ia tengah melihat beberapa lembaran surat yang ia dapat dari temannya yang bekerja di Konoha High School dimana tempat Hinata bersekolah. Surat yang ia baca kini adalah surat mengenai pentransferan siswa cerdas untuk pergi keluar negeri.

Perasaannya sangat senang dan merasa bangga. Ia sangat mengagumi putrinya kini. Tidak sia-sia ternyata Hinata tumbuh menjadi wanita yang cantik, mandiri, kuat, dan pintar. Kalau seperti ini, ia merasa semakin yakin kalau ia akan membawa Hinata untuk pergi bersamanya keluar negeri.

Drt.. Drtt...Drtt..

Getaran handphone di sakunya membuat Dokter Hana kembali kedunia nyatanya. ia segera melihat sang penelepon. Ternyata putrinya sendiri. Dengan senyuman merekah Hana segera mengangkat teleponnya.

"Moshi-Moshi" Kata Hana dengan lembut.

"Apa yang kau inginkan?" Tanya Hinata langsung pada intinya dengan nada tinggi. Membuat Hana terperanjat seketika."Apa ada yang ingin kau bicarakan lagi denganku?"

"Apa kabar Hinata-chan?" sapa Hana terlebih dahulu.

" Beginikah sikapmu, setelah kejadian terakhir kali aku bertemu denganmu..? Dasar rubah.."

"Aku mencintai ayahmu. Semua ini hanya kesalah pahaman Hinata.." kata Hana menahan sesak di dadanya yang tiba-tiba muncul begitu saja. Terasa nyeri dan perih.

"Pria yang kau tinggalkan demi selingkuhanmu?" tanya Hinata sinis.

"Aku tidak pernah meninggalkan ayahmu sayang... Aku bersumpah" sanggah Hana membela diri.

"Jadi kau menginginkan apa?" tanya Hinata geram.

"Aku meneleponmu karena aku ingin bertemu dengamu kembali, Kita bisa kembali seperti dulu lagi, bukan...? Aku akan mengajakmu pergi keluar negeri, tinggal dan menjalani hidup yang baru disana? Bagaimana? Ibu janji tidak akan mengecewakan mu lagi..."

Tiba-tiba ada suara seseorang sedang bercakap diluar. Sepertinya Naruto telah pulang dan menyebabkan keributan di bawah. Sangat terdengar jelas suara pecahan kaca yang terbanting dengan kasar.

"Kau ingin bertemu denganku lagi dan menyelesaikan ini semua?" tanya Hinata pada ibunya Dokter Hana. "Yang kau pikirkan hanyalah keegoisan untuk kepentinganmu saja.. apa kau tahu?."

"Pergi..." Teriak Naruto yang terdengar samar-samar di dalam kamar Hinata.

"Aku tak pernah bermaksud seperti itu... tolong beri satu kesempatan lagi padaku.. tolong maafkan ibumu ini Hinata!" Seru Hana menangis.

"Kenapa Harus?!" teriak Hinata. "Harga dirimu terluka karena anak seperti aku mencelamu? Kau bahkan tidak punya harga diri!"

"Kubilang Pergi kalian!" Teriak Naruto lagi.

"Jangan ganggu kehidupanku lagi!" perintah Hinata pada ibunya. "Aku tidak ingin melihatmu."
Hana memukul kepalanya sendiri sambil terisak mendengar perkataan putrinya sendiri.

"Kenapa kau menginginkanku kembali?." Tanya Hinata, "Kau baik-baik saja tanpaku. Kau tetap bisa makan enak dan tidur nyenyak."

"Untuk siapa aku melakukan ini?! Untuk siapa?!" Ujar Hana yang mulai terpancing emosi.

"Aku tak pernah menyuruhmu untuk melakukan sesuatu. Apa kau tahu bahwa hati dan jiwaku terluka selama ini?" tanya Hinata. "Kau terlalu sibuk menjaga selingkuhan pengecutmu yang memiliki rumah sakit disana bukan. Hatiku sudah tertutup selama ini dan kau tetap tidak menyadarinya sampai sekarang. Apa? Kau lakukan itu untukku?"

"Beritahu aku! Apa kau punya yang lebih baik dari semua yang aku miliki disini?!" teriak Hinata. "Sebelum kau bisa menjawabnya, jangan pernah muncul lagi di hadapan ku. Jika kau tidak muncul lagi, ucapanmu mengenai kau mencintai ayahku... aku akan mempercayainya. Pergi sekarang. Jika tidak, maka kau hanyalah orang yang memikirkan ke egoisanmu saja?." Hinata menutup telepon dan mengusap kasar air mata yang turun di pipinya. Dirinya harus tenang kembali.

Hinata menarik laci meja belajarnya dan mengambil sebuah botol kecil, ia membukanya dan mengeluarkan dua buah pil berwarna biru, Hinata diam-diam berkonsultasi pada seorang dokter tanpa memberitahu siapapun. Obat untuk menenangkan pikirannya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Di luar, Hinata berpapasan dengan Naruto yang tengah berlari menuju kamarnya, wajahnya sudah memerah berkeringat, dibagian sudut bibirnya juga terdapat sedikit lebam disana. Sedangkan sang kepala pelayan telah mengoceh bahwa Naruto habis berkelahi tadi di sebuah taman dengan seorang pemuda.

"Bisakah Hinata-sama membantu kami agar tuan muda mau mengobati lukanya.. Kalau tidak segera diobati mungkin dampaknya akan infeksi, apalagi kami akan mendapat omelan dari Minato sama dan Kushina-sama.. Tolong bantu kami untuk kali ini saja.. mungkin tuan muda akan mau membuka pintunya jika Hinata-sama yang berbicara dengannya..?" Ujar sang Kepala pelayan memohon dengan amat sangat.

Hinata kembali menghela nafas, "Baiklah.. Tapi aku tidak berjanji kalau dia mau membukakan pintu untukku.." Sahut Hinata, membuat sang kepala pelayan tersenyum senang mendengarnya.

.

.

~oOoOoOo~

.

.

POV HINA

"Pelan-pelan! Tak bisa kah kau sekasar ini.." teriak pemuda bersurai kuning ini kesakitan.

"Diamlah! kalau kau tak bisa diam tentu saja akan terasa sakit, tahan saja.." Sahut ku tak sabaran.

"Tutup mulutmu.."Ucap Naruto sambil memegang pipinya meringis kesakitan.

Yah.. sekarang disinilah kami, duduk ditepi ranjang Naruto dengan siriku yang tengah sibuk mengobati lukanya. Setelah berupayah membujuk Naruto untuk membuka pintunya agar aku bisa masuk dan akhirnya berhasil, aku langsung membawa P3k untuk mengobati luka pemuda ini.

Pemuda itu hanya diam saja, pandangannya kosong, matanya memerah, dan wajahnya sangat pucat. Apa yang telah terjadi padanya, bahkan aku belum berani bertanya?

"Ayo makan.." Ajak ku setelah selesai mengobati luka lebam diwajahnya itu.

"Tidak mau!" Jawab Naruto malas.

"Kalau kau tidak mau... aku akan pergi..!" Seru ku pura-pura mengancamnya.

"Terserah!" Jawab Naruto tak peduli.

Ia membuat diriku semakin kesal dengan sifat kekanak-kanakannya yang tak pernah berubah. "AKU PERGI!"

Tapi sebelum aku melangkah lebih jauh, Naruto telah menahan pergelangan tanganku terlebih dahulu, "Lepas.." Kata ku.

"..." Dia hanya diam saja.

"Lepaskan aku.." Kata ku lagi.

"Pergi saja sana..." orang ini benar-benar menguji emosiku.

"Kalau kau tidak lepas, bagaimana aku bisa pergi?"

"Sudah sana pergilah dari kamarku. Kenapa kau masih berada disini?" ucapnya sambl terus menatap kosong kedepan dan menguatkan genggamannya padaku. Ucapan dan perilakunya sunguh bertolak belakang. Akhirnya aku menyerah dan tetap tinggal di kamar ini dengan berat hati.

Hening.

Aku meliriknya. Melihat apa yang tengah ia lakukan sekarang, genggamannya tidak sekuat tadi tapi yang membuatku tertahan disini adalah raut wajahnya...

Raut yang sama ketika Shion telah meninggalkannya dulu..

"Hinata?" Gumam Naruto pelan, tapi masih bisa terdengar oleh sang gadis.

"Hmm"

"..." Ia tampak ragu untuk mengatakan sesuatu "Aku takut.."

"Tenanglah.. aku disini.." Kata ku. Kata yang sering ku ucapkan jika ia sedang merasa sedih atau merasa sendirian.

Ia menatapku lembut, blue shapier itu begitu redup kehilangan cahanya. "Aku terkhianati lagi.." Ujar Naruto sendu.

"APA?"

End Pov Hinata

.

.

~oOoOoOo~

.

.

~FLASBACK~

POV NARUTO

Dan pada akhirnya kau kembali menyakitiku lagi, Mendadak aku terperanjat setelah melihat mu bersama laki-laki lain di taman. Aku melihatmu memeluknya dengan erat dengan pipi merona malu. Ternyata karena ini kau membatalkan pertemuan kita, karena laki-laki itu. Selingkuhanmu.

"Shion!" Teriakku memangilnya dan membuat ia melepas pelukannya dari pemuda itu.

"Naruto-kun" Gumam Shion terbelalak kaget.

"Apa yang kau lakukan disini hah.." Geram Naruto dengan mata berkilat.

"Naruto-kun... aku bisa menjelaskan semua ini.. aku..aku" Shion memohon hampir menangis.

"Apa! Apa yang ingin kau jelaskan.. Oh jadi kau ada urusan penting pergi bersama ayahmu untuk bertemu dengannya... Apa kau selingkuhanmu?" tanya Naruto dengan kemarahan yang sudah naik di atas pitam.

"Kau siapa?" tanya laki-laki itu sambil mendorong Naruto.

"Berengsek! seharusnya aku yang bertanya seperti itu, sedang apa kau bersama kekasihku?" Teriak Naruto tak terima membalas dorong laki-laki itu dengan amarah.

BUK!

Satu pukulan mendarat di wajah Naruto hingga membuat pipinya mempunyai luka lebam membiru. Dengan amarah yang sudah memuncak Naruto kembali membalas pukulan itu dengan sekuat tenaga.

BUKK!

Laki-laki itu tersungkur jatuh sambil memegangi hidungnya yang mengeluarkan darah. Lalu setelah itu terjadilah perkelahian antar lelaki saling pukul memukul.

"Hentikan!" Teriak Shion sambil menahan isaknya, tubuhnya gemetar, dan ia hanya bisa menangis.

"JADI INI PERLAKUANMU SELAMA AKU TAK ADA DI DEKATMU, KAU BERSELINGKUH DIBELAKANG KU, DASAR WANITA IBLIS. HANCUR SUDAH DIRIKU UNTUK KEDUA KALINYA KARENA DIRIMU. AKU SUNGGUH KECEWA DENGANMU.." Teriak Naruto penuh emosi meninggalkan mereka berdua.

"M..maafkan... Aku..!" Seru Shion terisak menangis menyesali perbuatannya.

~End Flasback~

.

.

~oOoOoOo~

.

.

"..."

"Aku tidak mengerti... Tapi kau yang lebih mengerti perasaanmu sendiri. Belajarlah untuk tetap tegar Naruto.." Kata Hinata.

"Arigatou, Hinata-chan.." gumam Naruto pelan sembari menutup matanya karena mulai mengantuk. Kalau boleh dibilang, bukan hanya Hinata saja yang mempunyai masalah. tapi Naruto juga, terutama ketika malam menjelang... Matanya tak pernah tertutup atau tertidur lelap hingga pagi menjelang. Sudah beberapa hari ini Naruto kembali ke rutinitasnya seperti biasa mengidap penyakit bawaan.

"Tidurlah.. aku akan menemanimu.. sampai kau tertidur" Naruto mengangguk.

Tapi sekarang Hinata berada disampingnya, saat ia merasa gelisah, sedih, dan takut. Gadis itu selalu bersamanya. Selamanya ia ingin seperti ini, semoga waktu terhenti.. sampai disini saja?

"Naruto Aku menyukaimu"

Naruto kembali membuka matanya! Apa yang akan ia lakukan setelah tahu Shion menghianatinya dan pernyataan Cinta Hinata tempo hari itu?

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Hinata menemani Sakura di rumah sakit. Sakura sendiri mencoba menghitung nominal uang tapi ternyata sulit menghitung uang. Mendapatkannya saja sudah sulit apalagi menghitungnya.

Hinata yang sedang membaca bukunya heran melihat sakura, "Kenapa kau membutuhkan uang".

"Uang itu untuk tante dokter, aku ingin sekali membelikan hadiah untuk tante dokter itu." Ujar Sakura.

Hinata mengangguk saja, tapi ketika ia ingin melanjutkan bacaannya, ia mendapankan sebuah pesan. 'Bisakah kau temui aku sekarang?'

Hinata terdiam sebentar, "Sakura, aku ke toilet sebentar yah.." Kata Hinata berlalu pergi tanpa mendengar pemrotesan sahabatnya dulu.

~Skip time~

Hinata masuk ke ruang dokter, tak ada siapapun disana. Di ruangan, Hinata melamun. Ketika ibunya datang menghampiri, Hinata langsung pura-pura sedang membaca buku. Hana tahu kesedihan putrinya yang sebentar lagi, benar-benar membuat ia kehilangan putri yang dicintai. "Kau tak apa-apa?" Dokter Hana mengkhawatirkan putrinya. Hinata diam tak menjawab.

"Arigatou" ucap Hana tiba-tiba.

"Kenapa?" Tanya Hinata heran kenapa ibunya berterima kasih padanya.

"Aku berterima kasih karena kau sudah mengerti."

"ini adalah pilihan yang terbaik untuk ku. Jadi kau tak perlu berterima kasih padaku." Kata Hinata.

"Aku mengerti, tapi bagimanapun kau sudah membuat keputusan yang benar" Sahut Hana sekali lagi.

Hinata mengatakan "Aku akan masuk ke Universitas bertaraf internasional."

"Aku sudah tahu?"

Hinata kembali berkata "Setelah aku diterima di Universitas Internasional aku akan tinggal di asrama. Selanjutnya aku juga ingin masuk di perusahaan Teung Mok yang juga memiliki asrama. aku akan mengusahakan sendiri uang sekolah dengan beasiswa."

Hana terkejut, "Maksudmu, apa kau ingin hidup jauh dari ibu?"

"Bagus kalau kau sudah mengerti maksudku, aku tidak seperti anak bodoh yang ada di kelasku." Kata Hinata ketus.

Hana benar-benar tak mengerti dengan keputusan yang akan putrinya ambil, "Setelah ayah pergi, hanya tinggal kau dan ibu..."

Hinata menyela ucapan ibunya, "Apa keluarga harus saling mendukung? Jujur saja menjadi dokter hebat itu lebih penting bagi ibu dibandingkan keluarga sendiri. Benar, kan? Seperti hari itu, seperti yang sudah ibu lakukan."

Hana sedih itu artinya Hinata menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang menimpa ayah Hinata.

"Aku mengerti, Aku bukan anak kecil yang suka menyalahkan ibunya. Seterah kau mau melakukan apa saja yang kau suka dan silakan hidup terus sebagai seorang dokter yang baik. Aku sendiri akan hidup dengan caraku sendiri. Kau tak perlu khawatir, aku tak akan melarikan diri dan salah jalan seperti anak bodoh. Apa ibu menyukainya?" tanya Hinata dingin lalu beranjak dari tempat duduknya.

"AKU IBUMU JADI AKU BERHAK ATAS DIRIMU!"

"Aku tak mengakuimu sebagai ibuku..."

Tepat saat itu Hinata membalikan badan dan ia melihat sakura tengah berdiri mematung ada disana, "Sakura-chan apa yang kau lakukan disini?" tanya Dokter Hana terkejut.

Sakura dengan ragu-ragu melangkah masuk sambil sesekali melirik Hinata yang tengah mematung. Dan ternyata bukan hanya Sakura saja tetapi masih ada Sasuke, Ino, dan Naruto yang ikut datang. Sejak kapan mereka datang ke sini.

"Jadi Dokter Hana ini adalah ibunya Hinata yah..?" Tanya Ino tiba-tiba tanpa tahu bagaimana membaca situasi diruangan ini.

"Ya... Apa kalian teman Hinata? Senang bertemu dengan kalian.. salam kenal Saya Dokter Hana" Sapa Dokter Hana dengan ramah.

"Senang berkenalan dengan tante!" Seru mereka bertiga serempak. Bahkan Naruto hanya terdiam tak dapat mengatakan apa-apa melihat wajah Hinata yang sekarang semakin pucat.

"Maaf... Aku tidak mengetuk pintu dulu sebelum masuk. Tapi ia ingin sekali bicara dengan Dokter Hana dan memberikan bingkisan ini. Aku minta maaf karena melakukannya tanpa permisi." Ujar Sakura merasa bersalah.

Dokter Hana tak mempermasalahkannya, ia malah berterima kasih. "karena kau akhir-akhir ini tante bisa tersenyum." Kata Dokter Hana mengusap lembut kepala Sakura.

Hinata menatap keduanya dengan tatapan kesal, "Sakura apa kau sangat menyukai ibuku?"

"Apa?" Sakura tak mengerti apa maksudnya.

"Apa kau tak punya ibu yang pengertian, jadi ambil saja ibuku dan jadikan dia ibumu!"

"Hyuuga Hinata?" Tegur Hana menilai ucapan putrinya sudah keterlaluan.

"Dia akan kesepian tanpa aku. Ini bagus, karena aku akan hidup sendiri dan kau bisa tinggal dengan Sakura. Kalian sangat cocok bersama."

Hinata yang kesal keluar dari ruangan. Naruto mengejar Hinata, "Hei Hinata-chan ada apa denganmu? Kenapa kau begitu di depan ibumu?"

"Aku tak suka kau ikut campur, jadi ku harap kau berhenti bersikap begitu"

Naruto sebenarnya sudah tahu semuanya dan ia sudah mendengar tentang Ayah Hinata. "Dia sangat mengkhawatirkanmu. Kau juga tahu, kalau ibumu mencintaimu."

Hinata marah, "kenapa aku harus tahu?"

Naruto heran, "Apa kau ini masih anak-anak? Apa kau sungguh tak tahu kalau ibumu mencintaimu? Berhentilah berbohong. Tak mungkin seorang Hyuuga Hinata yang nilainya sempurna tak tahu hal seperti itu. Bahkan aku si bodoh Uzumaki Naruto pun tahu."

Hinata meninggikan suara, "Aku tak butuh ibu."

"Bagaimana pun pintarnya dirimu di depan nenek sihir, kau hanya seorang anak-anak. Pencari kesalahan, kau kekanak-kanakan." Ujar Naruto ikut emosi.

Hinata menyalahkan kalau Naruto lah yang mencari masalah dengannya. "Kenapa tidak kau jadikan saja dia ibumu?"

"Dia tetap bukan ibuku. Dia ibumu. Kau seharusnya sadar. Kau setidaknya memiliki ibu untuk dibenci. Bagimana kalau ibumu sudah tidak ada didunia ini lagi, saat kau ingin membencinya, kau tak mengingat wajahnya. kau juga tak ingat suaranya. kau bahkan tak tahu kalau ibumu mengingatmu. Tapi bagaimana mungkin kau begitu? Meskipun kau tak menyukainya, dia tetap ibumu. Ibu yang baik atau jahat, dia itu ibumu, dasar bodoh." Naruto yang marah meninggikan suaranya.

Naruto meninggalkan Hinata seorang diri berdiri mematung meresapi perkataan Naruto. Hatinya terenyuh mendengar ucapan Naruto yang begitu menusuk hatinya.

Hinata menenangkan diri di Taman belakang rumah sakit menyendiri. Tanpa terasa air matanya menetes.

Hinata memandang foto ayahnya, "Ayah. Aku ingin tahu apa kau sekarang sudah di surga?"

.

.

~oOoOoOo~

.

.

Keesokan harinya Hinata dan Naruto berangkat sekolah seperti biasa. Sakura dan Ino bersanda gurau, hal itu membuat siswa lain yang lagi belajar kesal.

Keduanya melihat Hinata datang. Sakura memberanikan diri bertanya "Hinata apa kau tidak apa-apa". Hinata mengangguk. Sakura tak bertanya lagi, ia tak ingin mengungkit hal yang akan membuat Hinata sedih.

Kurenai tiba di kelas, ia menegur piket, kenapa lorong di luar kelas sangat kotor. "Apa kalian tak membersihkanya dengan benar?" Sakura dan Ino berpandangan. Hinata menunduk diam. Sakura dan Ino pun akan keluar untuk membersihkan lorong di depan kelas mereka.

Pelajaran olahraga akan dimulai mereka diperbolehkan untuk ke ruang olahraga. Anak-anak pun bergegas ke ruang olahraga.

Hinata menghampiri Kurenai dan menyerahkan secarik kertas berisi tulisannya.

"apa ini?" tanya Kurenai.

Hinata mengatakan "ini adalah surat pernyataan refleksi diri yang ku buat" Anak-anak yang akan ke kelas olahraga heran apa yang dilakukan Hinata.

"Bukankah sensei berjanji kalau aku menulis surat pernyataan maka sensei akan mengembalikan lagi hak istimewa yang pernah ku peroleh" tanya Hinata.

Kurenai membenarkan, "jadi sekarang apa yang kau inginkan"

"Aku menyetujui ajuan Transfer Beasiswa di keluar negeri." ucap Hinata tanpa ragu. Mata Naruto membesar terkejut.

Bukan hanya Naruto saja yang terkejut, anak-anak lain pun terkejut dengan perubahan sikap Hinata yang tiba-tiba ingin pergi keluar negeri.

"Apa keluar negeri?" Gumam Naruto tak percaya. ia tak tahu mengenai masalah seperti ini Hinata bahkan tak menceritakannya sama sekali pada dirinya. Atau gadis itu memang sengaja menyembunyikannya.

.

.

TBC

.

.

Author: Konichiwa… mina-san. Ini Fic pertamaku, jadi kalo banyak kekurangan tolong dimaklumin ya. Cerita ini terinspirasi dari beberapa film yang pernah aku tonton. aku sangat senang kepada para pembaca yang meluangkan waktunya untuk membaca fic abal ini hehehe.. .. sampai jumpa di chapter selanjutnya..

Berhubung aku lagi sibuk banget jadi agak mengurangi waktu buat menghayal atau buat jalan cerita fic selanjutnya…

Apa lagi aku bikin fic ini ngebet banget.. jadi mohon dimengerti ya!

Dan maaf kalo mengecewakan para reader semua.. Dan terima kasih buat yang telah mengingatkan ku akan fic ini! (Ini fic kilat yang aku janjikan yah..) yang mau menghubungiku bisa lewat facebook Rena's Chan

Jadi, aku tetap mengapdet fic ini.. tapi di hari sabtu atau minggu gitu!

Di chapter ini saya tak terlalu telaten jadi tolong di maklumi jika ada kesalahan kata dan huruf dalam penulisan..

Saya berterimakasih kepada reader yang telah memberi reiviewnya! ARIGATAOU :D

Dan maaf kalau belum ada balasannya!