Don't Cheat On Me, Baby!

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Huang ZiTao, Do Kyungsoo, Zhang Yixing, Park Chanyeol, and Other.

Rated: T

Chaptered

Pair: KaiHun, HanHun

Warning: Yaoi, BL, Typo(s)

Disclaimer: Punya siapa coba

Summary: Sehun memiliki Jongin sebagai kekasih, si mantan preman sekolah. Inginnya Sehun meniti masa depan yang cerah dengannya, namun jika disuguhi oleh pengusaha muda nan kaya raya seperti Luhan apa mungkin Sehun bisa setia ?..

.

.

.

.

.

.

Jongin bingung, Jongin gelisah, Jongin gugup, Jongin bingung lagi. Ia tidak tahu harus bagaimana mengatasi masalahnya kali ini, benar-benar rumit. Masalah terumit yang pernah ia hadapi..

... menghadapi orang tua Sehun. Yang sedang marah. Marah padanya. Terutama Tuan Oh yang duduk berhadap-hadapan dengannya saat ini.

Alasannya tidak lain karena masalah klub malam. Klub malam memang tidak bersalah, hanya saja.. yah tahu seniri. Sehun yang Jongin temui sudah dalam keadaan mabuk hingga pingsan. Yang entah bagaimana sudah berada di ruang kerja Minho. Padahal saat kekasihnya itu sempat terpisah darinya, Jongin sudah benar-benar gila. Masalahnya Sehun dengan wajah seperti itu dibiarkan berkeliaran sendiri di tempat seperti itu juga, bukanlah kombinasi yang bagus.

Ia tak tahu siapa yang harus disalahkan dalam kasus ini, menyalahkan diri sendiri karena secara tak sengaja sudah menelantarkan Sehun untuk menunjukan skill dancenya di tengah-tengah lantai dansa, apa menyalahkan teman-teman Sehun yang sudah mengajak kekasihnya bergabung dengan mereka saat ia lengah, atau malah menyalahkan Sehun sendiri yang tak dapat mengontrol diri untuk minum saat tak ada dirinya yang mengawasi.

Bagaimanapun, kesalahan terbesar Jongin adalah membawa Sehun pulang dalam keadaan tak sadarkan diri, selagi -secara kebetulan- orang tuanya yang jarang di rumah itu kini berada di rumah, lengkap.

Well, mau berbagai macam pembelaan ia lontarkan pun, tetap saja tersangka dalam kasus ini adalah ia seorang. Si Kim Jongin yang selalu salah.. di mata calon mertua.

Jika Sehun, Sudah tertidur pulas di kamarnya selagi Jongin dalam kondisi tak menyenangkan seperti ini.

"Kau ini memang mau menjerumuskan Sehun ya ?" Suara tenang nan rendah milik Tuan Oh tidak membuat ia tenang, sama sekali tidak, jauh di lubuk hatinya mengerti bahwa nada tenang Tuan Oh lah yang paling mewakilkan kemarahannya.

Jongin yang sedari tadi memandang lantai kini mengangkat kepalanya. "Tidak, bukan begitu aku hanya-"

"Jangan berbicara Kim Jongin" Tuan Oh tanpa perduli memotong ucapan Jongin.

"Aku tahu kau ini kekasihnya Sehun, aku tidak marah ia berpacaran denganmu di masa remajanya ini, hanya tolong... jangan sekali-kali kau rusak Sehun untuk masuk ke dalam dunia berandalanmu itu" Tuan Oh kembali berbicara serta-merta menyesap kopinya. Ia terlihat santai namun kata-kata yang ia keluarkan tak ayal menusuk siapapun itu yang mendengar.

Sedangkan Jongin, terdiam, sakit hati, ingin rasanya berteriak di depan wajah awet muda calon mertuanya ini bahwa ia tak pernah merusak Sehun, ia selalu menjaga dan menghindarkan Sehun dari apapun itu yang negatif, walau Jongin sadar dirinya sendiri bisa dibilang pengaruh negatif, namun ia tak pernah, sekalipun berpikiran untuk merusak Sehun.

Satu lagi Jongin tak bisa membendung rasa kesalnya, si calon mertua yang sudah ia tinting untuk benar-benar menjadi mertua secara tak langsung sudah tidak merestui hubungannya dengan Sehun. Ia bilang tidak marah jika Sehun berpacaran dengannya di masa remaja. Lalu di masa kedepan Tuan Oh akan menentang hubungannya dengan Sehun begitu ?

"Aku menyesal, bukan maksudku untuk membuat Sehun begini" Berusaha setenang mungkin, Jongin kembali memiliki keberanian untuk berbicara di depan calon mertuanya ini. Atau yang ia anggap begitu.

Tuan Oh kini memandang lekat Jongin, begitupun sebaliknya.

Ia menghela nafas panjang sebelum berbicara. "Aku hanya khawatir kepada anakku, apa itu salah ?"

Jongin menggeleng cepat saat Tuan Oh memandangnya meminta jawaban.

"Aku sadar kami sebagai orang tua kurang memperhatikannya. Malah, kau yang bukan siapa-siapa yang sudah me-"

"Maaf, tapi aku kekasihnya"

Tuan Oh terdiam memandang Jongin saat omongannya telah di potong.

"Aku tahu... yang ku maksud adalah saudara yang bisa benar-benar kami percaya untuk menjaganya. Disini" Jongin sadar betul penekanan pada setiap kata-kata yang ditujukan Tuan Oh untuknya.

"Ini adalah salah satu kabar yang paling ku cemaskan selama aku bepergian. Anakku akhirnya mengenal alkohol... dan kemungkinan ia mengulang hal tersebut sangatlah besar, kau mengaku tidak memberinya minuman tersebut namun di tempat pertama kau sudah membiarkannya pergi kesana -atau malah kau sendiri yang mengajaknya ? Sehun itu masih belum paham mana yang baik dan mana yang tidak ia pasti ingin mencoba hal-hal baru"

Jongin kembali bungkam. Memang, bagaimanapun ia menyangkal, omongan orang tua selalu ada benarnya. Ia sering mengajak Sehun ke tempat-tempat tersebut walaupun selalu melarangnya untuk minum atau melakukan hal negatif lainnya. Tapi tetap saja.. ia yang secara tak langsung mengenalkan Sehun kepada dunianya.

"...aku mengerti.." Jongin mengguman lemah, sudah pasrah akan apapun itu keputusan yang diberikan ayah Oh Sehun ini kepadanya.

"Sana kau periksa Sehun, aku mau kau bertanggung jawab untuk menjaganya sampai ia sadar. Ingat! Kali ini aku memberimu kepercayaan jangan melakukan yang macam-macam padanya" Ucap Tuan Oh sebelum akhirnya beranjak dari duduknya, pergi meninggalkan Jongin yang sedang dalam proses menyerap kata-katanya barusan. Jongin kira ia harus menjalankan aksi tumpah darah agar tak dipisahkan dengan Sehun. Namun ternyata... Tuan Oh memanglah baik hati.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

Sehun menggaruk-garuk pipinya yang terasa gatal untuk sejenak, ia mengerjap-ngerjapkan mata untuk beberapa kali guna dapat melihat dengan jelas.

Ruangan yang ia tempati terasa seperti kamarnya.. hmm apa memang kamarnya. Oh iya kamarnya.

Tanpa malu dan khawatir akan ada yang meliha,t ia menguap. Selebar-lebarnya. Bebas tanpa beban.

Sehun baru bangun dari tidur, ehm coret, bangun dari pingsan.

Kepalanya pusing. Sedikit. Ia ingin menggerakkan badannya, tapi ada beban yang baru ia sadari ada di perutnya membuat gerakan. Ternyata hanya Jongin, yang sedang tidur dengan menjadikan perut Sehun sebagai bantalnya. Pantas saja semalaman Sehun merasa agak sesak.

Sehun menguap lagi sambil mengguncang-guncang pundak Jongin.

"Bangun" ucapnya masih setia mengguncang-guncang bahu kekasihnya itu.

Inginnya Sehun, Jongin itu terbangun lalu menyapanya lalu membuatkannya sarapan, memberinya morning kiss dan vice versa. Tapi itukan inginnya. Kenyataannya disiram dengan air pun masih untung bisa bangun.

Sehun menguap lagi, malas harus melakukan kegiatan bangun-membangunkan yang tampaknya tak kan selesai sampai siang nanti. Ia pun dengan penuh perhatian atau yang lebih ia artikan dengan menendang tubuh Jongin, menyingkirkan tubuh kekasihnya itu.

Sehun mengecek tubuhnya di cermin, bukan ada maksud apa-apa. Hanya saja mengetahui ia dalam keadaan tertidur pulas dan ada Jongin yang jelas-jelas tidur seranjang dengannya... well, Sehun hanya ingin memastikan, siapa tahu ia meninggalkan jejak yang macam-macam.

Tapi untunglah, setelah memeriksa di sekitaran leher serta berbagai tempat yang memungkinkan, Sehun tidak menemukan adanya bercak-bercak sama sekali. Mungkin saja kewarasan sudah menghantam kepala kotor Jongin malam tadi sehingga tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan seperti yang biasa ia lakukan. Yah, Sehun tidak tahu saja bahwa ayahnya sendiri sudah mengetuk pintu hati Jongin untuk tidak berbuat macam-macam padanya.

"Sehun.. sudah bangun ?" Suara parau yang berasal dari tempat tidur seketika menghentikan langkah Sehun untuk memasuki kamar mandi. Mengejutkan, Jongin sudah bangun. Bahkan sudah duduk walau dengan wajah kusut khas bangun tidur.

"Eh iya. Kau... sudah bangun ?"

Jongin mengangguk masih dengan mata sayu yang setengah terbuka. "Hmm" jawabnya sebelum bangkit dari tempat tidur.

Sehun kembali terkejut. Bukan hanya bangun pagi, namun Jongin juga akan mandi pagi. Yah walaupun jam 9 tidak bisa dibilang pagi, namun untuk hari libur.. sah-sah saja. Sehun sampai rela handuk yang tersampir dipundaknya di ambil oleh Jongin untuk ia mandi duluan.

Ia tersenyum. Bangga. "Jonginku sekarang sudah rajin" ucapnya dengan kedua tangan yang ia satukan di depan dada.

"Mandi sama-sama ?" Sehun yang masih dalam kekaguman singkat atas tingkah rajin Jongin barusan, merubah ekspresinya masam kepada Jongin yang baru saja menyembulkan kepala dari balik pintu itu. Walau kini rajin, Jongin tetaplah Jongin. Mesum.

...

Sehun baru saja keluar kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Ajakan Jongin tadi tentunya ia tolak mentah-mentah, sehingga kini membuat mereka mandi sendiri-sendiri.

Sehun menyesap harum badannya sehabis mandi. Ia tersenyum puas. Sebuah handuk putih ia letakkan di kepalanya dengan menjepit kedua bagian di bawah dagu. Singkatnya ia membuat handuk itu menjadi mengkerudunginya.

"Jongin Jongin lihat" ucapnya girang pada Jongin yang tengah bersantai menonton tv, ia sudah mandi, sudah lebih dulu wangi daripada Sehun.

Yang dipanggil menoleh, menyeringai lalu tertawa pelan melihat tingkah kekanakan kekasihnya. "Ada-ada saja" gumannya pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya seakan heran, sebelum akhirnya kembali menoleh pada acara tv.

Sehun berjalan menghampiri Jongin. Iseng, ia mengalungkan handuk yang ia pegang di leher Jongin kuat-kuat sehingga membuat Jongin nyaris tercekik. Cara Sehun mencari perhatian sungguh aneh sehingga membuat orang yang menjadi korban serasa ingin menendang wajahnya kuat-kuat.

Jongin berdecak sebal. "Sehun" Ia menyentak handuk tersebut keras. Wajahnya masam. Tampak kesal akan tingkah Sehun, namun seberapa pun kesalnya ia kali ini, Jongin tidak membalas atau bahkan melakukan tindakan iseng pada Sehun -yang mana sangat aneh.

Sedangkan Sehun hanya tertawa, sebelum sedetik kemudian ikut merengut.

"Kau mendiamkanku ya ?" Tanyanya murung. Menempel-nempelkan badannya pada bisep Jongin.

Mungkin jika hari ini hanyalah hari-hari biasa tanpa beban nan masalah, sedaritadi akan Jongin tindih badan kururs kekasihnya ini agar tak banyak bergerak.

"Aku tidak mendiamkanmu" ucapnya, tampak malas bahkan untuk menjawab pertanyaan Sehun.

Tidak perlu tingkat kepekaan yang muluk-muluk untuk mengetahui bahwa Jongin tengah marah padanya. "Kau kenapa ?" Tanya Sehun lirih. Tampak tak mengetahui kesalahannya sama sekali.

Jongin menghela nafas, menggeleng, lalu ia beralih menatap Sehun lekat-lelat. "Kau lupa ?"

"Huh ?"

Untuk kedua kalinya dalam 2 menit Jongin kembali mengehela nafas. "Malam tadi tidak ingat ?"

"Malam.. tadi ?"

Jongin menggeream kesal. Gemas. "Kau mabuk! Pingsan! Lalu ku antar pulang. Dirumahmu ada ayah dan ibumu. Aku ditegur keras oleh ayahmu. Hubungan kita nyaris kandas. Selesai" Ucap Jongin dalam satu tarikan nafas. Walau ucapannya sangatlah cepat dan tidak ada jelas-jelasnya sama sekali. Namun Sehun mengerti. Ia baru sadar. Baru ingat akan kejadian tadi malam dimana ia dengan bebasnya minum tanpa beban. Setelah itu tak ada lagi yang ia ingat.

Reality just hit him. Hard.

Sehun menggigit bibirnya, ia menatap Jongin dan menggenggam tangan besar kekasihnya itu erat. "Maaf" ucapnya lirih. Jika merasa bersalah, Sehun tidak akan ragu untuk meminta maaf, minta maaf paling tulus yang bisa ia katakan.

Jongin sendiri diberi tatapan memelas dari kekasihnya dapat berbuat apa ? Hanya bisa luluh dan mengelus kepala Sehun lembut.

Terhitung-hitung dalam 5 menit ini Jongin sudah menghela nafas untuk yang ketiga kalinya, bedanya helaan nafas kali ini adalah helaan nafas yang menunjukkan tanda-tanda positif. "Tidak apa-apa, baby. Tidak sepenuhnya salahmu. Hanya saja... nanti bicaralah baik-baik pada ayahmu, hm ? Dan mulai sekarang kita tidak akan pergi ke tempat-tempat seperti itu lagi, aku tidak mau kau lepas kendali, oke ?" Jongin dengan lembut nan penuh perhatian mengelus pipi Sehun yang masih menundukkan kepalanya.

Pasangan manis seperti ini rasa-rasanya sangat susah untuk dipisahkan, hm ? ... atau mungkin tidak...?

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

"Apa ? Aku tidak mau ayah!" Luhan menggeram marah pada ponsel genggamnya. Lagi-lagi, sebuah benda mati, dalam kasus ini adalah sebuah ponsel, tidaklah bersalah. Hanya saja orang yang tersambung dengannya melalui ponsel tersebutlah yang bersalah. Si ayah yang terus-terusan memberikan perintah mengejutkan nan mengesalkan untuknya.

"Tidak susah, Luhan. Hanya pergi ke rumah keluarga Oh untuk makan malam. Mereka sudah kuhubungi... ah sudahlah kau lakukan saja hal tersebut, ayah ada urusan. Ingat! ke rumah keluarga Oh, jika tidak aku jual rusa kesayanganmu disini, mengerti!"

Luhan menatap garang pada layar ponsel setelah ayahnya memutuskan sambungan.

Ayahnya benar-benar. Paling senang jika sudah memaksakan kehendaknya pada Luhan. Dan menjual rusa kesayangan Luhan ia bilang ? Memangnya Luhan bocah 9 tahun yang mudah percaya akan hal tersebut.

Luhan mendudukkan dirinya di sofa. Ia masih berada di kantor saat ini. Masih menimbang-nimbang apakah akan pergi ke rumah keluarga Oh tersebut atau tidak. Ia tentunya tak ingin pergi, tapi jika tidak ayahnya tentu tak akan tinggal diam.. bukan, bukan karena ia takut rusa peliharaannya di jual. Ia hanya takut ayahnya tersebut akan melakukan hal nekat seperti ... menyusulnya ke korea mungkin.

Luhan menghela nafas. Demi memilih jalan aman nan terbaik ia memilih untuk pergi malam ini. Lagipula hanya makan malam, dan pastinga berbincang-bincang dengan keluarga Oh. Luhan yakin kepala keluarga Oh tersebut hanya ingin menguntungkan perusahaannya dengan memohon pada ayahnya untuk menikah dengan anaknya. Klise.

Yah, namun itu hanya dugaannya saja.

...

"Tuan, kita sudah sampai" Supir yang kali itu diberi tugas khusus oleh tuan besar Xi untuk mengantar anaknya sampai pada rumah yang dituju, mengingatkan Luhan dari balik kemudi.

Luhan memandang pada rumah cukup besar tersebut. Memang sangat jauh jika dibandingkan dengan rumahnya di beijing. Well, tapi tidak terlalu buruk. Rumah yang kental akan kesan modern.

Dengan memberi sentuhan terakhir pada dasinya, Luhan keluar dari dalam mobil dan segera berjalan menuju pintu depan. Ia menekan bel, menunggu untuk beberapa detik dan dengan cepat pintu tersebut terbuka. Seorang wanita yang begitu cantik walau dengan kerutan yang nyaris kelihatan tersenyum padanya.

"Luhan ya ?" Wanita tersebut bertanya ramah. Luhan balas tersenyum lalu mengangguk.

"Anda pasti nyonya Oh ?"

"Iya, mari masuk" Ia masih dengan tersenyum lembut membimbing Luhan untuk masuk ke dalam kediamannya.

"Ayahmu sudah bilang bahwa kau akan berkunjung... silahkan duduklah terlebih dahulu, biar ku panggilkan suamiku" Nyonya Oh menunjuk pada sofa mewah di ruang tamunya untuk Luhan duduki. Ia lalu berlalu meninggalkan Luhan untuk pergi sebentar.

Setelah dilihat-lihat, ibu dari keluarga ini tidaklah seburuk yang ia pikir. Yang ia pikirkan sebelum ini nyonya Oh adalah wanita yang glamor dengan makeup tebal dan senyum palsu. Tipe ibu-ibu gila uang yang tak sengaja ia lihat di drama-drama tersebut. Nyatanya nyonya Oh adalah wanita yang hangat dengan senyuman yang benar-benar tulus. Mungkin saja keluarga ini adalah keluarga baik-baik, yah dan anak yang akan dijodohkan dengannya pun adalah anak baik-baik. Itu mungkin. Tapi... dijodohkan ? Tetap saja rasanya tak nyaman.

"Ah ini pasti Luhan" tiba-tiba terdengar suara berat seseorang yang menghampirinya. Pasti ini Tuan Oh. Orang yang -Luhan kira- sudah memohon-mohon pada ayahnya tentang ide perjodohan ini. Dilihat-lihat Tuan Oh sama saja dengan nyonya Oh. Sama-sama membuat tebakan Luhan meleset. Tuan Oh tampak ramah nan berwibawa. Tidak tampak seperti pria gendut dengan wajah kikir sama sekali.

"Tuan Oh" Luhan berdiri untuk membungkuk 90° pada Tuan Oh. Yang mana di balas bungkukan dan tepukan pelan di pundaknya.

"Tidak usah sungkan-sungkan.. duduklah kembali" Merekapun duduk, kali ini hanya berdua tanpa keberadaan nyonya Oh, kemungkinan ia tengah menyiapkan makan malam.

Mereka berbincang, perbincangan yang ringan yang membuat Luhan nyaman. Tuan Oh bahkan tak membahas tentang masalah perjodohan. Sama sekali. Sampai akhirnya nyonya Oh memanggil mereka untuk menuju ruang makan. Tentunya, waktu makan malam untuk mereka telah tiba. Luhan jadi penasaran kenapa sampai sekarang mereka belum juga memperkenalkan anaknya kepada Luhan.

"Yeobo, dimana anak kita ngomong-ngomong ?" Tuan Oh yang sudah ingin memulai doa terhenti untuk menanyakan sang anak.

"Ah iya, sampai lupa dengan anak itu. Tunggu sebentar biar kupanggilkan"

Well, Luhan punya hak untuk terheran-heran, bukan ?. Jangankan ingin memperkenalkan anaknya. Keberadaannya pun mereka sampai lupa. Bukankah tujuan Luhan disini untuk masalah perjodohan ? Atau jangan-jangan mereka tak tahu. Jadi sebenarnya perjodohan ini siapa yang mengajukan ?

Pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di pikiran Luhan terhenti saat nyonya Oh telah kembali. Bersama sang anak laki-laki. Yang memakai piyama. Rilakkuma.

Bocah dengan piyama tersebut mengambil kursi di samping ibunya. Ia duduk dengan mata yang masih sayu. Lalu tanpa Luhan duga ia menguap. Lebar dan tidak ada sopan-sopannya sama sekali.

"Sehun, yang sopan nak" sang ayah menegur sehingga membuat bocah bernama Sehun ini menoleh. "Kenapa appa ?" Tanyanya. Menggaruk-garuk rambut pirang dengan corak kepink-an yang sangat cocok untuknya.

Tuan Oh menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada tamu" ucap Tuan Oh, menoleh pada Luhan.

Bocah tersebut menatap Luhan, tiba-tiba merubah ekspresi mengantuknya. Tampak jelas ia kaget dan baru menyadari kehadiran Luhan di meja makan tersebut. Sehun membenarkan posisi duduknya hingga tegak dan mengusap-usap sudut bibirnya untuk meenghapus bekas yang Luhan paham betul apa. "E-eh.. ada tamu ehehe"

Ia menggerutu saat mendapatkan pukulan halus dikepala dari sang Ibu.

Si Sehun ini. Sepertinya Luhan ingat. Bocah manis yang ia tolong kemarin malam di toilet.

Jadi bocah ini yang di jodohkan dengannya. Bocah di bawah umur yang memiliki pergaulan kurang bagus di klub malam. Bahkan, tampilannya walau masih terlihat manis sangatlah urak-urakan saat ini. Kenapa kesannya malah ia yang sedang melakukan pendekatan terhadap keluarga calon pendamping hidup begini. Habisnya, keluarga ini tidak ada usahanya sama sekali untuk membuat anaknya berkesan dimata Luhan...

.

.

.

.

.

.

Tbc

A/N: Udah ketebak sih ya yang di toilet itu Sehun :v. Ngerasa agak suck sih dibagian kaihun itu, agak gaje gitu gasih ?. Terus ff ini masih aman gasih di taroh di rating T, rada kurang paham masalahnya. Yaudah gais thankyu sudah review, fav, follow, it means a lot bebih. Jangan kapok untuk give me your kritik and saran, oke oke ? :v