"Yunho... apa kau mencintai Chami?"
Jantung Yunho terasa berhenti seketika. Kedua matanya melebar tak percaya...dan perasaan takut langsung menguasai hati dan pikirannya dengan cepat.
Bagaimana ini?
Apakah Ummanya tahu kalau ia... sudah jatuh cinta pada adiknya sendiri?
Apa... apa yang harus ia katakan?
Ia tak mungkin berbohong pada Ummanya..
Tapi ia juga tak mungkin berkata jujur kalau ia memang mencintai adiknya sendiri..
'...apa yang harus ia lakukan...?
.
.
Even though the world will against us..
Even though this love is forbidden..
As long as you love me,
I'll fight for you..
My precious one.
.
.
.
Author Ela JungShim presents
An Alternate Universe fanfiction
"My Hyung" ch 6
Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)
Rate : M
Length : 6 of ?
Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK
Warn : TYPO's! , semi-incest! , Chibi!Min
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
"Yunho?"
Kepala Yunho tersentak dan ia langsung bertatapan dengan sepasang manik lembut milik Ummanya, yang kini menampakkan ketegasan.
"C-chami itu adikku. T-tentu saja aku mencintainya, Umma." sahut Yunho pada akhirnya. Ia tak tahu lagi harus berkata apa, dan akhirnya kalimat itulah yang terlontar dari bibirnya.
Seohyun hanya tersenyum tipis mendengar jawaban putra sulungnya. Ia menghela nafas sebelum tangannya kembali bergerak mengelus rambut Yunho.
"Yunho, aku ini Ummamu. Jika ada hal sekecil apapun yang berubah padamu, Umma bisa merasakannya." ucap Seohyun dengan lembut pada anak sulungnya itu. "Saat ini Ummna tak akan mempermasalahkannya. Tapi Umma hanya ingin mengingatkan sekali lagi, kau dan Changmin itu adalah saudara. Meskipun kalian tak ada ikatan darah, sampai kapanpun kalian adalah saudara."
Yunho menundukkan kepalanya mendengarkan ucapan yang keluar dari bibir Ummanya. Kedua matanya menatap nanar pada lantai kamar. Seiring dengan kalimat itu terngiang dalam benaknya, perasaan bersalah semakin besar dan menumpuk di dalam hatinya.
Ia dan Changmin adalah saudara.
Meskipun tak sedarah, Ia tetaplah hyung dari Jung Changmin.
Dan sampai kapanpun, Changmin tetaplah namdongsaeng-nya.
.
.
Bagaimana bisa seorang kakak mencintai adik yang seharusnya ia kasihi dan lindungi?
Perasaannya pada Changmin... adalah kesalahan.
Tak seharusnya ia membiarkan perasaan sayang yang berbeda terhadap adiknya itu ia biarkan tumbuh berkembang menjadi rasa cinta antara dua insan...
Perasaannya pada Changmin... tak seharusnya jadi begini..
Tak semestinya bertumbuh dengan pesat hingga menguasai hatinya...
Benar-benar menguasai seluruh hatinya...
"Yunho.." ucap Seohyun saat ia melihat buliran air mata mulai mengalir dari sudut mata anaknya. Tanpa bisa ia tahan, Seohyun langsung meraih anaknya ke dalam pelukannya.
Yunho, putra sulungnya adalah anak yang kuat. Tak pernah menunjukkan kelemahannya, apalagi sampai menangis seperti ini. Apakah ini berarti...perasaan Yunho pada Changmin sudah sebegini besarnya?
Ya Tuhan... ini adalah salahnya karena tak langsung mengingatkan putranya itu ketika ia pertama kali mendengar Yunho menggumamkan nama Changmin dalam mimpi basah yang dialaminya.
"Yunho... maafkan Umma.."
Yunho sendiri, tak menyadari kalau ia tengah menangis sampai saat ia merasakan baju Umma yang tengah memeluknya itu basah. Ia... tak mengerti mengapa ia menangis. Tapi saat memikirkan kalau perasaannya pada Changmin itu salah... semuanya terasa menyesakkan. Sangat menyesakkan..
Dan hatinya terasa semakin sakit kala ia harus membayangkan untuk menghentikan perasaan ini. Menghentikan dan menghapuskan segala perasaan yang ia rasakan untuk Changmin..
Sakit..
Sesak...
Bagaimana ia bisa dan harus mengehentikan perasaan yang sudah berkembang sebesar ini? Apakah ia harus mematikan hatinya juga agar perasaan cintanya yang salah terhadap Changmin juga bisa mati?
Tidak mungkin..
Cintanya pada Changmin sudah terlalu mendarah daging di dalam tubuh, hati, jiwa dan pikirannya. Bahkan kematian pun sepertinya tak akan menghentikan perasaannya pada Changmin..
"Yunho maaf... Maafkan Umma... tapi Umma mohon, hentikan ini semua. Hentikan ini semua selagi semuanya masih belum terlambat... Changmin itu adikmu, Yunho.."
Air mata Yunho mengalir semakin deras. Menangisi betapa kejamnya sang Umma jika memintanya menghentikan perasaannya pada Changmin. Karena Ummanya tak tahu kalau ini semua sudah terlambat..
Sudah sangat sangat terlambat karena semua perasaan ini sudah tak bisa di tarik lagi.
.
.
"Ne, Umma. Yunho mengerti."
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
Changmin cemberut menatap hyungnya. Namja kecil yang pipinya kini menggembung lucu karena kesal itu terus menatap ke arah hyungnya yang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya.
Yunho sendiri yang sedari tadi dipandangi oleh Changmin akhirnya menghela nafas dan menoleh ke arah adiknya yang berbaring menelungkup di atas tempat tidurnya.
"Wae, Chami?"
Namja cilik yang menopang kepalanya dengan kedua tangannya itu berkedip menatap hyungnya, sebelum senyum manis merekah di bibir plumpnya. "Hyung cudah celecai mengeljakan tugacnya? Jadi hyung cudah bica belmain belcama Chami?"
Senyum itu senyum polos. Pertanyaan yang di ajukan juga pertanyaan yang sangat innocent. Tapi bagaimana bisa jantung Yunho memilih untuk berdetak lebih cepat, dan hatinya terasa sangat bahagia hanya karena itu?
Ini salah..
Tapi bagaimana itu bisa dipersalahkan kalau hati, pikiran dan jiwanya sudah terlanjur terpenjara oleh pesona manis dan innocent dari adiknya ini?
Semenjak awal ia sudah amat sangat menyayangi Changmin sebagai adik yang akan melengkapi hari-harinya. Ia bahkan lebih menyayangi Changmin daripada dirinya sendiri. Satu tahun semenjak ia melihat ketertarikan Changmin pada lego, ia memutuskan akan membelikan adiknya mainan itu dengan uangnya sendiri. Jadilah selama setahun ia menyimpan seluruh uang sakunya. Ya, seluruh uang sakunya, karena ia bahkan selalu membawa bekal agar ia tak perlu membeli apapun diluar sana. Dan itu semua di lakukannya demi membeli mainan Lego itu. Demi adiknya. Demi Jung Changmin.
Dan jika perasaan sayang yang sangat besar itu perlahan berubah menjadi cinta... tak akan ada seorangpun yang sanggup menghentikannya.
Bahkan sang pemilik perasaan itu sendiri.
.
.
"Hyuuuuuungggg~! :::: "
Tubuh Yunho tersentak kembali ke dunia nyata saat mendengar seruan dari adiknya itu. Ia menatap adiknya yang kini memasang wajah cemberut yang sangat imut itu. Ekspresi yang sangat menggodanya untuk melakukan 'hal-hal tertentu' yang 'agak berbahaya'.
"Wae Chami?"
"Hyung cudah celecai belajal belum? Chami mau main cama hyuuungg!"
Yunho tersenyum kecil dan tangannya meraih pucuk kepala Changmin. Mengelus rambut madu itu dengan penuh sayang, dan kembali tersenyum melihat adiknya itu memejamkan mata rileks akan perlakuannya.
"Tugas hyung masih belum selesai, Chami. Sabar sebentar ya." ucapnya lagi sambil menjauhkan tangannya dari Changmin, dan kembali berkutat dengan tugas sekolahnya.
"Yuno hyung pabbooooo..!" kesal bocah kecil itu sambil berguling ke sisi tempat tidur yang jauh dari hyungnya. Wajah namja itu berkerut kesal, dan bibir plumpnya menerucut ke depan
"Yuno hyung jeleeeeekkk..!" seru namja kecil itu lagi sambil kembali berguling ke sisi samping tempat tidur milik Yunho.
"Yuno hyung nyebeliiiinnnnn..!" kembali namja kecil itu berguling di atas tempat tidur.
Yunho yang tengah mengerjakan soal-soal di buku pelajarannya itupun melirik tingkah adiknya dari sudut matanya. Tertawa dan mengeleng-gelengkan kepalanya melihat adiknya berguling-guling di atas tempat tidurnya sambil mengeluarkan kata-kata lucu seperti itu. Membuatnya jadi tak konsentrasi.. Ah, tidak, tidak. Harus segera menyelesaikan tugas, barubisa bermain dengan Changmin.
.
.
.
"Hyuuungg~ bocaaaaannnn.. "
Yunho yang akhirnya sudah menyelesaikan soal terakhirnya, akhirnya menoleh ke arah adiknya yang kini berbaring terlentang di atas tempat tidurnya yang besar itu.
Tawa Yunho hampir meledak saat melihat penampilan berantakan adiknya itu. Mungkin akibat dari aksi mari-berguling-sambil-menjelek-jelekkan-Yuno-hyung -nya tadi, kini penampilan adiknya itu benar-benar berantakan. Surai madunya yang tadi rapi kini terlihat sanat berantakan seperti bocah baru bangun tidur. Dari pinggang sampai kaki semuanya terbalutkan selimut yang ikut berguling-uling bersamanya tadi. Dan kaus yang di pakainya tersingkap memperlihatkan perut agak buncitnya yang lucu itu.
Yunho tersenyum menyeringai menatap perut adiknya itu, dan berdiri dari duduknya.
Changmin yang mendengar derit kursi, mendongakkan kepalanya dan menatap hyungnya dengan senyum yang kini mengantikan raut bosan dan kesalnya itu.
"Hyung cudah celecai? Bica main cama Chami?" seru bocah kecil itu dengan sangat antusias.
Namun senyum itu perlahan memudar saat melihat senyum yang kini terpasang di wajah hyungnya. Apalagi dengan kilatan nakal yang ada pada tatapan hyungnya padanya itu.
"H-hyung mau ap-apa?" tanya bocah kecil itu dengan ekspresi ketakutan. Pasalnya, jika hyungnya sudah berwajah seperti itu, biasanya ia akan jadi korban kejahilan hyungnya.
"Hmm? Hyung hanya mau main sama Chami saja kok~ " sahut Yunho masih dengan senyum mencurigakannya.
Saat Yunho naik ke ranjang,secara instingtif, Changmin memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari hyungnya itu.
"Kau tak akan bisa kabur dari hyung, Chami~ "
"Hyung, apa—ahahahahahahahaha! H-hyung—hahahaha—j-jangan—hahahahaha..!"
Tubuh kecil itu bergerak-gerak dengan sangat liar saat tangan-tangan nakal hyungnya itu meraih perutnya, dan menggelitikinya tanpa ampun.
"Ahahahaha hyung belhentii—ahahahahaha..ampuun—ahahaha hyuungg..ahahahaha..!"
"Tiada ampun untukmu Jung Chami~! Terimalah kelitikan attack dari hyuuuung~!" seru Yunho sambil terus menggelitiki perut dan pinggang adiknya yang memang sangat ticklish itu.
"Ahahahahaha hyuungg...ampun—ahahahahaahahahaha.."
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
Changmin terbangun dari mimpinya saat ia merasakan ranjangnya bergerak. Ia mengucek kedua matanya, agar bisa melihat lebih jelas. Ada orang yang berbaring di samping ranjangnya.
"Yuno hyung?" panggil Changmin bingung saat ia merasakan orang di sampingnya itu memeluknya. Pelukannya hangat.
"Mmm.." sahut orang itu sambil menyamankan diri memeluk tubuhnya.
Yup.
Benar-benar hyungnya.
"Hyung kenapa bobo dicini? Tempat tidul Chami kan lebih kecil.." tanya bocah kecil itu bingung, meskipun ia sama sekali tak menolak pelukan hyungnya. Habis bagaimana lagi, dipeluk Yuno hyung itu hangat dan nyaman sih.
"Tadi hyung mimpi buruk. Jadi hyung mau bobo disini saja sama Chami. Ayo tidur."
Changmin yang juga masih separuh sadar, akhirnya memilih mengikuti ucapan hyungnya. Kembali dalam tidur yang semakin nyenyak karena ada hyungnya di sampingnya.
.
.
Setelah agak lama Changmin memejamkan mata, sepasang mata Yunho terbuka dalam kegelapan malam. Ia menatap wajah manis adiknya yang kini tertidur dengan sangat pulasnya.
Tersenyum, Yunho akhirnya mengecup sayang puncak kepala adiknya, dan memejamkan mata sesudahnya.
"Selamat tidur, Chami."
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
Tepat pukul lima pagi, Yunho sudah membuka matanya. Seketika itu pula, hatinya menghangat karena pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah polos Changmin yang terlihat makin manis dalam tidur nyenyaknya.
Tersenyum puas, Yunho mengecup pipi gembil sang adik, dan langsung bergegas turun dari tempat tidur Changmin. Dengan perlahan ia berjalan keluar dari kamar.
Setelah memastikan kalau di lorong tak ada orang, Yunho berjalan mengendap-endap menuju kamarnya sendiri. Namja berusia tiga belas tahun itu langsung melesat naik ke tempat tidurnya. Memasang selimutnya, dan berpura-pura memejamkan matanya.
Kira-kira lima belas menit kemudian, pintu kamarnya terbuka dan beberapa saat kemudian, ada tangan-tangan lentik mengguncangkan tubuhnya pelan.
"Yunho, bangun sayang.." ucap Seohyun membangunkan putra sulungnya itu.
Yunho—yang sebenarnya tidak tidur—meregangkan badannya sebelum membuka mata. "Hoaahmm.." Ia pura-pura menguap dan menatap Ummanya dengan wajah mengantuk. "Sudah pagi, Umma?"
"Ne. Sekarang mandi dan bersiaplah. Umma akan membuat sarapan dulu."
"Ne. Umma." sahut Yunho sambil pura-pura menguap lagi.
Seohyun tersenyum melihat putranya itu. Ia lalu berdiri dan keluar dari kamar putranya untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga kecilnya itu.
.
.
"Chami, ayo bangun.." ucap Yunho sambil membangunkan adiknya yang masih tertidur pulas itu. Ia mengguncangkan tubuh kecil itu dengan penuh sayang.
"Nghh..hyung.." gumam bocah kecil itu saat terbangun dari tidurnya. "Cudah pagi?" tanya Changmin sambil mendudukkan dirinya, dan mengucek matanya. "Hoaahmm..Chami macih ngantuukk.."
Yunho tersenyum dan menggendong adiknya itu. "Kalau sudah cuci muka, pasti tak akan mengantuk lagi." Ia membawa adiknya ke wastafel, dan membantu adiknya mencuci muka serta menggosok gigi.
"Hyung kenapa cudah lapi? Bukannya tadi malam hyung bobo cama Chami dicini?"
Yunho langsung menempatkan satu jarinya di bibir Changmin dengan cepat. Ia tersenyum pada Changmin yang menatapnya dengan pandangan bingung.
"Soal mimpi buruk itu, jangan beritahu bumonim, ne? Biar ini jadi rahasia antara Chami dan hyung saja. Chami mengerti?" tanya Yunho sambil mengulurkan jari kelingkingnya.
"Lahacia Chami dan Yuno hyung?"
"Uum!" angguk Yunho dengan wajah serius.
Wajah bingung Changmin langsung berganti dengan ekspresi senang, dan jemari gemuk dan mungil milik Chami langsung meraih kelingking Yunho. "Chami janji hyung!"
Senyum Yunho langsung merekah, dan dia mendekat pada adiknya. "Mulai sekarang, kalau hyung dapat mimpi buruk, hyung akan menyelinap masuk ke kamar Chami. Dan Chami tak boleh bilang pada Umma, ne?"
"Uum! Chami mengelti!"
"Nah, ayo kita turun dan sarapan." ajak Yunho yang langsung di sambut dengan antusiasoleh Changmin.
"Calapaaaaannn~!"
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
*2 tahun kemudian*
.
.
TingTong! TingTong! TingTong!
Yunho yang masih asyik meemai Changmin bermain PlayStation mempause game yang tengah mereka mainkan itu.
"Hyuuuunggg~!" rengek Changmin yang kesal karena permainan mereka tertunda, soalnya ia sudah akan menang lagi dari hyungnya.
"Sebentar Chami, ada tamu. Hyung akan buka pintunya dulu." kilah Yunho yang langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Alasan! Hyung hanya bilang begitu karena hyung akan kalah lagi dariku kaaaannn?" seru Changmin tak terima.
"Terserahmu saja Chamiii~" balas Yunho dengan santai sambil membuka pintu rumahnya. "Ya? Anda mencari siapa?"
Dua orang berseragam kepolisian yang berdiri di depan rumahnya itu langsung memberikan perasaan tak enak pada diri Yunho.
"Apakah ini benar rumah dari tuan Jung Yonghwa?" tanya salah satu dari dua lelaki berseragam polisi itu.
"Y-ya. Benar. Anda siapa?"
"Kalau begitu, anda pasti Jung Yunho, putra dari tuan Jung Yonghwa, benar begitu?"
Yunho hanya mengangguk karena entah kenapa, lidahnya saat ini terasa kelu karena perasaan buruk yang menghantui pikirannnya.
"Kami dari pihak kepolisian, dan kami kemari karena..."
.
.
.
.
.
.
~TBC~
Anyyyeeeooonggg~!
Author balik lagi bawa my hyung chap enam~!
Ada yang menunggu apdetan ff ini?
Kalau ada, berarti udah puas karena ffnya udah di apdet kaaannn? *wink*
Gimana dengan chap kali ini?
Udah agak lebih panjang dari chap sebelumnya kan? Iya kan? #maksa #plak!
Tadinya gak pengen ada skip 2 tahun itu.. tapi kalo gak d skip, bisa-bisa bener2 jadi super panjang dan gak masuk-masuk ke inti ceritanya =..="
Jadi, di larang protes kalo soal skip 2 taun itu, Ok? #maksa lagi
Nah, seperti biasa. TBC yang menggantung.
Sooooo, kalo pada mau tau lanjutannya, silahkan tinggalkan review di kotak yang sudah di tentukan~
