Don't Cheat On Me, Baby!
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Huang ZiTao, Do Kyungsoo, Zhang Yixing, Park Chanyeol, and Other.
Rated: T
Chaptered
Pair: KaiHun, HanHun
Warning: Yaoi, BL, Typo(s)
Disclaimer: Punya siapa coba
Summary: Sehun memiliki Jongin sebagai kekasih, si mantan preman sekolah. Inginnya Sehun meniti masa depan yang cerah dengannya, namun jika disuguhi oleh pengusaha muda nan kaya raya seperti Luhan apa mungkin Sehun bisa setia ?..
.
.
.
.
.
.
Suasana canggung yang begitu kentara menguar di ruangan bernuansa biru putih yang ditempai oleh tiga orang yang merupakan pemeran utama dalam kasus ini. Di sofa yang tadinya menjadi tempat bergelung Sehun dan Jongin kini ditempati oleh satu orang lagi yang kehadirannya sangatlah tidak diinginkan oleh Sehun untuk saat ini. Ia tidak menyangka, sungguh tidak menyangka sama sekali Luhan akan datang seawal ini, lebih-lebih eommanya yang langsung membawa Luhan untuk masuk ke kamar Sehun, di saat ia dan Jongin tengah berciuman pula. Ini benar-benar di luar perkiraan. Sehun tak bermaksud untuk menutupi hubungannya dengan Jongin, namun entah mengapa rasanya tak rela jika Luhan sampai tahu dan berakhir dengan menjauhinya. Sehun sama sekali tak mau itu terjadi.
Sedangkan Luhan yang inginnya langsung pulang setelah melihat kejadian tadi, terpaksa harus terjebak disini dikarenakan eomma Sehun yang memaksanya untuk menetap selagi wanita cantik paruh baya itu mempersilahkan diri untuk menyiapkan makan malam dengan senyuman tak enak. Luhan tak tahu harus bereaksi seperti apa, ia hanya dapat diam dengan pandangan datar yang menghadap ke televisi. Hatinya bercampur aduk, tak tanggung-tanggung bocah manis yang begitu menarik perhatiannya tertangkap berciuman di hadapannya. Ia tak tahu Sehun memiliki kekasih, sungguh, dan Sehun tak pernah bilang walau jelas bahwa Luhan sudah mengirim sinyal-sinyal ketertarikan pada bocah itu sejak beberapa minggu yang mereka lalui bersama.
Jongin ? Jongin adalah seseorang yang paling tak tahu menahu disini. Ia tak tahu apa yang menyebabkan suasana begitu canggung hanya karena kedatangan satu orang, bahkan ia tak tahu siapa dan apa hubungan orang tersebut terhadap Sehun. Jongin rasanya tak tahan untuk bersuara, tapi melihat Sehun yang hanya diam memeluk lutut dan seseorang satu lagi yang juga terdiam, Jongin pun ikut diam. Namun sekarang ia benar-benar tak bisa tinggal diam, ia tidak tahan dan tak suka suasana sunyi apalagi canggung seperti ini. Dengan penuh percaya diri, Jongin mengulurkan tangannya melewati tubuh Sehun ke arah Luhan, "Aku Jongin, kekasih Sehun, dan kau ?"
Luhan yang di kejutkan dengan suara lantang Jongin sedikit tertegun. Ia menatap Jongin lalu mengarah pada tangannya yang terulur, dengan rasa percaya diri yang kembali muncul, Luhan menggenggam tangan Jongin. "Aku Luhan" orang yang akan menjadi suami Sehun kelak, dan tersenyum miring penuh arti yang di balas Jongin dengan senyum singkat.
Jongin lalu mengarahkan pandangannya pada gumpalan tubuh yang meringkut di sampingnya. "Sehun... kau kenapa, baby ?" Semakin khawatir akan keadaan Sehun yang mulai tampak ingin menenggelamkan dirinya di sofa, Jongin dengan penuh perhatian mengelus kening Sehun yang mengeluarkan sedikit keringat.
Sehun menatap Jongin lalu menggeleng pelan, ia kembali menunduk dengan mata yang sedikit melirik pada Luhan yang hanya manatapnya datar. Sehun terlalu takut untuk berbicara, ia takut Luhan akan pergi mengetahui dirinya memiliki kekasih. Karena Sehun sadar betul akan perilaku Luhan yang belakangan memang terlalu spesial padanya, ia merasa nyaman jujur saja, ia nyaman karena Luhan selalu memenuhi semua keinginannya, apapun itu bahkan Luhan akan memberikan segalanya dengan suka rela, katakanlah Sehun matrealistis namun ia memanglah tipe yang seperti itu, ia akan merasa nyaman dengan seseorang yang dapat memenuhi keinginannya. Yang dalam hal ini adalah Luhan si pemuda kaya raya yang dijamin dapat membuat hidpnya serba enak kelak.
Tapi Jongin adalah kasus lain bagi Sehun, walau Jongin hanya memenuhi keinginan Sehun pada awalnya saja, namun Sehun sudah begitu mencintai kekasihnya itu. Ia tak mungkin bisa jika tanpa Jongin, namun Luhan... Ia pun tak mau Luhan pergi dari kehidupannya.
Jongin memandang Sehun bingung namum memilih tak ambil pusing dan kembali berusaha menonton tv. Jujur saja ia penasaran dengan siapa sebenarnya orang bernama Luhan ini, apakah ia adalah orang yang sama yang sudah membuat janji dengan Sehun, atau siapa ? Jika memang teman Sehun, keadaaan tidak mungkin akan secanggung ini.
"Hei Jongin, apa kau satu sekolah dengan Sehun ?" Tanya Luhan tiba-tiba yang membuat Sehun serasa ingin menahan nafasnya. Jongin yang akhirnya memiliki teman bicara menjawab, "Ya, aku satu tingkat di atas Sehun" ucapnya dengan mengelus sedikit poni kekasihnga. "Dan kau ini... ada hubungan apa dengan Sehun ngomong-ngomong ?" Tanya Jongin, akhirnya memiliki kesempatan untuk menanyakan hal yang benar-benar ingin ia tanyakan.
"Ah, aku.." Luhan kembali memberikan senyuman miring itu lagi, melirik Sehun sekilas lalu menjawab. "Bukan siapa-siapa, hanya kenalan Sehun"
Sehun melirik cepat pada Luhan saat mendengarnya bicara begitu, tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang seharusnya tak ia ucapkan, "Luhan Hyung.."
Jongin menyerngit, melihat kepada Sehun dan Luhan yang sedang bertatapan.
"Oh! aku tak pernah mendengar Sehun memanggil siapapun dengan sebutan Hyung, kau tidak mungkin hanya kenalan, huh ?" Jongin kembali bertanya dengan nada main-main, tersenyum polos seakan benar-benar memberikan pertanyaan.
Luhan hanya mengedikkan bahu, "Yah, mungkin saja. Ada masalah ?" kembali menyeringai dan memberi tatapan menantang untuk Jongin, yang hanya dibalas dengan kekehan geli. "Masalah ?" Tanya Jongin tampak geli. "Tidak sama sekali. Lagipula kau pantas dipanggil Hyung oleh Sehun, bahkan wajah kalian mirip, bukankah kalian sangat cocok menjadi kakak beradik, hm baby ? Oh atau apa aku harus mulai memanggil mu kakak ipar ?" Jongin balas menyeringai dan tak melepas pandang dari Luhan yang kini menatap kesal ke arahnya.
Jongin benar-benar pandai membalas omongan Luhan, ia tak menyangka telah kalah telak oleh bocah SMA yang memiliki umur jauh di bawahnya ini. Mungkin keputusan yang salah bagi Luhan telah menantang bocah ini yang tak sebodoh ia pikir. Demi apapun yang ia inginkan bukanlah menjadi kakak Sehun, yang ia inginkan adalah memiliki Sehun sebagai kekasih, atau bahkan suami kelak mengingat mereka menang telah di jodohkan. Yah, walau perjodohan ini bersifat paksaan hanya pada pihak ayahnya saja, bukan pada pihak Sehun.
Walau sinis, Luhan tetap tersenyum membalas seringaian Jongin.
Lihat saja bocah siapa nanti yang akan memenangkan hati Sehun.
Hah, dari wajah saja kelihatan bukan Seme sejati seperti aku.
Kedua pria tampan yang menaruh rasa pada Sehun ini terus saling memandang sinis tanpa memperdulikan keadaan Sehun yang nyaris berkeringat dingin memggigit kuku dengan badan yang semakin meringkuk.
.
.
.
Shootdanonymous
.
.
.
"Nah, kemarilah anak-anak, makan malam sudah siap"
Sehun, Jongin, dan Luhan yang baru saja turun karena dipanggil untuk makan di suguhi dengan berbagai makanan yang tersedia di meja. Eomma Sehun yang sedang menyiapkan piring untuk suaminya, segera menyuruh ketiga orang yang ia panggil 'anak-anak' tersebut untuk duduk. Sedangkan appa Sehun yang baru mendongakkan wajah dari gadgetnya di kagetkan dengan kedatangan seseorang yang tak di sangkanya."Loh, tidak ada yang memberitahuku ada Luhan disini, mari Luhan silahkan duduk" ucapnya tiba-tiba antusias, mendapat tatapan tak terima dari satu orang lagi yang merasa tak dianggap oleh calon mertua.
"Appa, Jongin kan juga ada disini" walau bagaimanapun, Jongin tetaplah kekasih Sehun, dan prioritas utama yang Sehun harus bela di depan orangtuanya ya tetaplah Jongin.
"Ah ya Jongin, duduk saja" ucap lelaki paruh bayah tersebut tanpa melihat ke arah orang yang di tuju.
Jongin rasa-rasanya sampai ingin mengelus dada untuk bersabar. Namun tetap tenang dan memilih mengambil tempat di samping Sehun.
"Oh ya Luhan, Apa kau kesini ingin mengajak Sehun keluar seperti biasa ?" Tanya Tuan Oh di sela-sela makan malam. Mendapat delikan cepat dari seseorang di samping Sehun, "keluar... seperti biasa ?" Bisik Jongin pada Sehun yang hanya dapat di dengar oleh mereka berdua. Sehun menggeleng, namun sebelum sempat menjawab Luhan sudah terlebih dahulu berbicara. "Tentu tidak bisa ahjussi, bukankah Sehun sedang bersama kekasihnya ?" Ucap Luhan diiringi tawa ringan, melirik dari ekor matanya pada Jongin yang tampak sudah kehilangan selera makannya.
Tuan Oh ikut tertawa bersama Luhan. Entah apa maksud dari tawa tersebut padahal tak ada yang merasa hal tersebut lucu sama sekali selain mereka berdua. Sehun yang merasa tak enak hati, menggenggam tangan Jongin dari bawah meja. Menatap pada wajah Jongin yang tampak kesal.
Jongin tidak tahu apa yang terjadi, oke, ia sekarang tahu bahwa si Luhan ini menyukai Sehun, ia tahu saat Luhan tampak menantangnya sewaktu di kamar Sehun tadi, itu hal yang wajar, banyak orang menyukai Sehun ngomong-ngomong tetapi Sehun adalah tipe yang benar-benar setia baginya jadi ia tak khawatir, namun setelah mendengar apa yang di ucapkan tuan Oh serta setelah mengingat Sehun telah memanggilnya 'Hyung' Jongin menjadi ragu akan kesetiaan Sehun. Sialnya, poin lebih bagi pria bernama Luhan ini adalah, ia mendapat dukungan penuh dari orangtua Sehun, lihatlah betapa 'senang'nya tuan Oh pada si Luhan ini. Tidak seperti perilakunya terhadap Jongin yang terkesan sangat cuek. Tidak salah jika Jongin khawatir akan hubungannya dengan Sehun bukan ?
.
.
.
Shootdanonymous
.
.
.
"Okeey... kapan sebenarnya kau akan bicara, hm ?"
Sehun menunduk, menghela nafas panjang lalu mulai berusaha untuk menatap ke arah kekasihnya,
"J-jongin.. tolong jangan berfikiran macam-macam dulu padaku, bisakah ?" Dibalas Jongin dengan anggukan singkat. "Tentu"
"A-aku.. eum Luhan itu anaknya teman appa, dia juga secara teknis rekan kerja appa, dia-"
"Bisa langsung saja ? Aku harus segera pulang" Ucap Jongin dingin dengan menyilangkan lengannya di dada, tampak seolah tak tertarik untuk mendengarkan penjelasan kekasihnya yang terbata-bata. Sehun mengangguk pelan, nyaris menangis karena telah di berikan tatapan dingin oleh kekasihnya sendiri. Bahkan Jongin yang memarahinya karena mabuk-mabukan lebih baik daripada ini.
"Aku mulai dekat dengannya karena appa yang suruh, tidak tahu apa maksudnya, aku tidak terlalu peduli saat disuruh berdua saja dengan Luhan saat itu, t-tapi Luhan ternyata semakin sering mendekatiku, setelah hari itu ia selalu datang ke rumah, sekedar mengajak ku nonton film di kamar-"
"Tunggu! Di kamar ?!"
"Tidak, tidak dengar dulu.. sumpah kami hanya menonton saja, sebenarnya aku ingin di ruang rekereasi saja tapi appa bilang kami terlalu ribut jadi ia suruh pindah ke kamar. Sejak saat itu kami selalu nonton di kamar, makanya eomma langsung membawa dia kesini. Ah apa aku sudah bilang, dia juga secara kebetulan adalah orang yang sudah menolongku sewaktu kita di klub, aku pingsan di toilet dan dia begitu saja memberi bantuan, aku juga baru tahu ini beberapa hari yang lalu saat ia bilang sendiri.. aku.. sudah seharusnya merasa berterimakasih, kan ? Jadi, maka dari itu aku mau saja dekat dengannya bahkan memanggilnya hyung... hanya rasa terimakasih ku saja Jongin tidak lebih, kau tahu kan aku tidak mungkin menyukai orang lain" Sehun mengakhiri penjelasannya dengan setengah mencicit di akhir kalimat. Kembali menunduk saat tak mendapat respon apapun dari Jongin. Well, yang ia ceritakan memang benar adanya, namun satu hal yang tak ia ungkapkan adalah perasaannya terhadap Luhan.
Rasa terimakasih hanyalah kedok, Sehun memang merasa sangat berterima kasih pada Luhan karena telah menolongnya, itu hal pasti, namun bukan itu yang membuat ia jadi dekat dengan pria kaya raya tersebut, itu semua murni karena ia merasa nyaman, anggap saja Sehun saat ini memang sudah memiliki perasaan khusus kepada Luhan.
Terdengar Jongin yang menghela nafas panjang, sebelum mengulurkan satu tangannya ke arah Sehun. Yang di tuju menengok, lalu menatap bingung pada Jongin.
"Kemari" Sehun menggenggam tangan Jongin dan berjalan mendekat, dan di kagetkan saat Jongin tiba-tiba memeluknya, meletakkan tangannya di belakang kepala Sehun dan mengarahkan ke dadanya.
"Apapun alasanmu, Sehun. Jangan pernah tinggalkan aku, oke ?" bisik Jongin tepat di telinga Sehun, mengeratkan pelukannya pada tubuh kurus kekasihnya. Sesekali mengecupi pelipis sedikit berkeringat kekasihnya itu. Sehun mengangguk, semakin menempatkan kepalanya di dada Jongin. Diam-diam kembali menahan tangis saat harus terpaksa berbohong.
.
.
.
Shootdanonymous
.
.
.
"Aku pulang dulu, baby" Jongin berpamitan di depan pintu rumah Sehun saat dirinya sudah akan pulang, memberi kecupan terakhir di bibir kekasihnya terlebih dahulu. Setelah tadi berpelukan dan mengungkapkan kata-kata manis satu sama lain, kini Jongin memutuskan untuk benar-benar pulang, tentunya sudah terlebih dahulu berpamitan pada eomma dan appa Sehun, Oh plus tambahan satu orang yang ternyata masih belum pulang, Luhan yang hanya ia beri seringaian licik sebagai pamitan.
"Langsung pulang, Jongin!" Peringat Sehun pada kekasihnya, melirik ke belakang tubuh Jongin dimana mobil Chanyeol sudah menunggu. Tidak yakin Jongin akan dapat pulang jika sudah bersama temannya yang satu itu. Jongin terkekeh, "Tidak janji"
"Jongin! Kau jangan buat appamu tambah marah"
"Iya iya, Sehun. Sudah ya" dengan mengecup kening Sehun, Jongin benar-benar mulai berjalan menjauh dari pintu rumah Sehun, menuju ke mobil modif Chanyeol yang berwarna biru metalic.
"Dadah sunshine" teriak Chanyel yang mengeluarkan tangannya dari balik jendela, Sehun balas melambaikan tangan pada Chanyeol sampai mobilnya mulai melaju dan tak dapat terlihat lagi.
Ia menghela nafas panjang, membalikkan badannya ke arah pintu. Di dalam sana Sehun tahu ada Luhan yang masih harus ia hadapi, ia tak mau kehilangan Luhan begitu saja, ingat ? Tentunya harus menyelesaikan masalah ini dengan Luhan terlebih dahulu.
Sehun masuk, melihat appanya dan Luhan yang masih berbincang-bincang, masalah bisnis dan bla bla yang Sehun tidak mengerti sama sekali.
"Appa, boleh aku bicara bedua dengan Luhan Hyung ?" Tuan Oh dan Luhan yang awalnya masih fokus pada berkas-berkas kini memandang Sehun yang berdiri gugup di hadapan mereka.
Tuan Oh tampak tersenyum, melepas kacamatanya dan langsung berdiri. "Tentu, nak. Silahkan bicara sepuasmu. Appa ke kamar dulu" mengacak-acak rambut Sehun sayang, Tuan Oh pun pergi dengan masih tersenyum. Merasa senang anaknya semakin dekat dengan Luhan, ia hanya tak tahu bahwa jika saja Sehun salah bicara, malam ini bisa-bisa menjadi terakhir kalinya Luhan akan mengunjungi Sehun.
Sehun memandang Luhan yang juga memandangnya, berjalan mendekat hingga ia kini duduk di samping Luhan.
"Luhan hyung ?" Panggil Sehun, sedetik kemudian menepuk keningnya dalam hati.
"Ya ?"
Sehun menggigit bibir, "Aku mau bicara"
Luhan tampak mengerutkan kening, membuat Sehun semakin gugup dengan kata-kata yang harus ia ucapkan.
"Ya, bicara saja"
Sehun bolak-balik terus menatap tangannya lalu wajah Luhan yang masih menunggu dirinya berbicara. "M-masalah Jongin itu, Hyung, aku- Jongin kekasihku.."
Sehun memejamkan mata, merasa bodoh dengan apa yang ia ucapkan.
"Oke"
"Oke ?"
Luhan mengedikkan bahu, sedikit gemas pada Sehun yang terus memandangnya bingung. "Ya, oke aku sudah tahu, kekasihmu sendiri yang bilang, ingat ?"
Sehun mengangguk. "Apa Hyung tidak marah ?"
"Memangnya aku siapa harus marah ?" Sehun tertegun, merasa kecewa mendengar pertanyaan Luhan. "Hyung.. bukannya hyung suka aku ?"
"Siapa bilang ?"
"Jadi tidak ?"
Luhan menghela nafas, ia tidak ingin menutupi perasaannya jujur saja, Luhan adalah tipe pria yang jika suka maka akan bilang suka dan jika tidak ia akan pergi. Simpel. Namun sepertinya jika dengan Sehun semua tidak akan semudah itu. "Oke baiklah... Aku menyayangimu" aku Luhan. Menatap mata Sehun sungguh-sungguh sehingga membuat yang di tatap memerah. Tidak tahan di beri tatapan mengintimidasi dari mata coklat Luhan yang indah.
Luhan rasanya ingin memberitahukan saja masalah perjodohan pada Sehun sehingga mau tak mau harus membuat Sehun memutuskan kekasihnya. Nmun Tuan Oh melarangnya begitu, ia bilang Sehun malah akan menentang jika di paksa. Memanglah rencana cerdik Tuan Oh yang ingin membuat Sehun dan Luhan melakukan pendekatan murni, dan tanpa paksaan. Ya, lelaki paruh baya namun tampan itu memberitahukan rencananya pada Luhan sesaat setelah Luhan mengakui sendiri perasaannya terhadap Sehun di depan Tuan Oh.
Sehun menatap Luhan, menatap kesungguhan yang kentara di mata rusa yang lucu namun juga serius tersebut. Merasa sengatan listrik yang tiba-tiba saat tangan Luhan menyentuh pipi putihnya, mereka berpandangan, mempelajari feature masing-masing dengan seksama, sesaat setelah Sehun merasakan matanya terpejam ketika merasakan sesuatu hangat yang membungkus tepat bibir atasnya. Luhan baru saja menciumnya, hanya kecupan ringan, namun, yeah, Luhan menciumnya, saat Sehun masih memiliki Jongin sebagai kekasih.
"L-luhan Hyung-" cicit Sehun saat ciuman di antara mereka baru saja berakhir dengan Luhan yang sedikit menarik bibirnya.
"Shh" Luhan cepat menempelkan jarinya di bibir Sehun. "Kau tahu Sehun ? Sepertinya aku tidak menyayangimu lagi"
Sehun tertegun, perasaan kesal dan sedih cepat langsung mengisi hatinya. "... karena aku sudah terlanjur mencintaimu" dan diam-diam mengeluarkan nafas lega mendengar pernyataan cinta Luhan.
"Hyung tapi Jong-" kembali Luhan menempelkan kedua jarinya di bibir Sehun. "Bagaimana perasaanmu padaku ?"
Sehun menunduk, malu untuk mengakui perasaan yang sebenarnya pada Luhan. Oke, Sehun akan benar-benar mengakui bahwa ia suka Luhan. Mungkin perasaan yang lebih saat Luhan sudah menciumnya seperti ini. Tapi tetap saja ia merasa malu, karena disini, statusnya tidaklah sendiri. Ia memiliki kekasih.
"Aku.. aku suka Luhan Hyung" ucapnya pelan menyembunyikan wajahnya di kedua tangan saat Luhan menyeringai ke arahnya. "Sehun.."
"Hm ?" Sehun mendongak dan segera menyesal saat mendapati mata itu kembali menatapnya tajam. Ia sudah biasa dengan tatapan mengintimidasi, namun itu Jongin, jika Luhan ia masih belum terbiasa sama sekali. "Jadilah kekasihku"
Sehun menganga tak percaya, apa Luhan baru saja memintanya menjadi kekasihnya. Saat dia tahu bahwa Sehun sudah memiliki Jongin..
"Hyung! Aku tidak bisa memutuskan Jongin, aku-"
"Kau tidak harus memutuskannya jika memang tidak bisa, kita bisa menjalani hubungan ini di belakangnya"
Sehun mengerjap-ngerjapkan matanya. "Apa kau baru saja menyuruhku selingkuh, hyung ?"
Luhan mengalihkan pandangan dari Sehun, ia pun tak yakin harus berpacaran dengan orang yang sudah memiliki kekasih, singkatnya menjadi perusak suatu hubungan, namun ia tak punya pilihan lain, Luhan mencintai Sehun dan ia tahu Sehun juga memiliki rasa padanya, hanya saja Sehun pun juga tak akan bisa memutuskan Jongin begitu saja. Ia tahu betul hal tersebut. Maka dari itu Luhan sudah memiliki rencana yang tersusun rapi di kepalanya.
"Apa kau tidak mau bersamaku ? Kau ingin aku pergi dari kehidupanmu ?"
Sehun menggeleng cepat, "Aku tidak mau Hyung pergi..." Sehun memandang kancing pada polo yang di pakai Luhan, sebelum menggigit bibirnya keras dan menjawab. "Baiklah aku mau jadi pacar Hyung"
.
.
.
.
Tbc
A/N: ok so, sehun officially cheating gaes, are you senang or are you ngamuk ? Haha :v it's okay babies it is not the end yet. Saya mau jawab pertanyaan dulu deh.
.Naikin rating ? Belum kepikiran tapi akan saya pikirkan /?
.Apa Sehun suka Luhan ? Yep, sudah jelas di chapter ini.
.Luhan main ke rumah Sehun dengan ada Jongin udah berapa kali ? Luhan gak pernah ketemu Jongin waktu di rumah Sehun. Ini pertama kalinya.
.Sehun kok cepet sayang ke Luhan ? Ya karena itu tadi Sehun nyaman sama Luhan dan sebenarnya luhan udh ngabisin banyak waktu sama Sehun cuma gak saya tulis.
.Reaksi eomma Sehun ngeliat Kaihun ciuman ? Dia kaget waktu itu karena pas ada Luhan, kalo lagi ga ada Luhan sih dia maklum aja.
Oke kayaknya itu aja pertanyaannya, kalo masih bingung tanyain ya gaes. Soal kaihun hanhun sekali lagi saya katakan liat aja kedepannya ). Lagi semangat update gara2 streaming exoluxion btw, call me baby anying yak aa sudalah. Bhay!
