.
"Apakah ini benar rumah dari tuan Jung Yonghwa?" tanya salah satu dari dua lelaki berseragam polisi itu.
"Y-ya. Benar. Anda siapa?"
"Kalau begitu, anda pasti Jung Yunho, putra dari tuan Jung Yonghwa, benar begitu?"
Yunho hanya mengangguk karena entah kenapa, lidahnya saat ini terasa kelu karena perasaan buruk yang menghantui pikirannnya.
"Kami dari pihak kepolisian, dan kami kemari karena..."
.
.
Even though the world will against us..
Even though this love is forbidden..
As long as you love me,
I'll fight for you..
My precious one.
.
.
.
Author Ela JungShim presents
An Alternate Universe fanfiction
"My Hyung" ch 7
Pairing : HoMin (Jung Yunho X Shim Changmin)
Rate : M (tapi karena ini bulan puasa, no yadong disini)
Length : 7 of ?
Desclaimer : They're belongs to GOD, themselves and DBSK
Warn : TYPO's! , semi-incest! , semi-pedophil! , Chibi!Min
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
"Kami kemari karena kedua orang tua anda, Jung Yonghwa dan Jung Seohyun, mengalami kecelakaan."
Kedua mata Yunho langsung membelalak tak percaya saat mendengar ucapan salah satu dari opsir polisi itu
"T-tidak mungkin!" seru Yunho tak percaya.
Seruan Yunho yang keras itu terdengar sampai ke dalam, hingga Changmin yang tengah menunggu hyungnya kembali itu langsung berdiri dan berjalan menghampiri hyungnya dengan panik.
"A-ada apa hyung?" tanya Changmin.
Yunho yang melihat kedatangan Changmin langsung meraih tangan dongsaengnya itu dan menggenggamnya dengan erat. Menyalurkan perasaan panik, kaget dan shock yang ia rasakan.
"C-Chami, me-mereka bilang bumonim kecelakaan..." ucap Yunho dengan suara yang agak tersendat.
Kedua mata bulat Changmin jadi semakin membulat karena kekagetannya.
"A-appa dan Umma kecelakaan?!"
"Sebelum kalian berdua salah paham, kami kemari atas permintaan tuan Jung Yonghwa. Beliau hanya mengalami luka ringan pada kecelakaan itu. Tapi Nyonya Jung keadaannya tak sebaik itu. Beliau masih berada di ruang operasi, karena itulah tuan Jung meminta kami mengabari kedua putranya sekaligus membawa kalian ke sana karena beliau tak bisa meninggalkan Nyonya Jung."
Yunho dan Changmin langsung terdiam mendengar penjelasan polisi itu. Di satu sisi keduanya ingin mengucapkan syukur karena Appa mereka baik-baik saja. Tapi di sisi lain, Umma mereka masih berada di kamar operasi dan mereka tak tahu seburuk apa keadaan Umma mereka.
Umma...
Yunho merasakan tangan Changmin yang ia genggam itu meremas tangannya dengan kuat. Ia menoleh ke arah samping dan melihat kalau kedua mata bulat Changmin sudah mulai basah oleh air mata yang berkumpul di sana dan siap ditumpahkan begitu saja.
Melihat hal itu, Yunho langsung mengatur hatinya. Ia hyung disini. Ia memiliki Changmin yang harus ia urus dan ia jaga. Ia harus tegar demi Changmin.
"T-tunggu sebentar. Kami akan bersiap dulu sekalian membawa baju untuk Appa." ucap Yunho sambil meremas balik tangan Changmin dengan penuh perasaan.
"Silahkan. Kami akan menunggu disini."
Dan dengan itu, Yunho berjalan masuk dan membawa serta Changmin bersamanya. Yunho membawa Changmin masuk ke kamar kedua orang tua mereka dan mendudukkan Changmin di sofa yang ada di kamar itu.
Begitu Changmin sudah duduk, Yunho langsung memeluk adiknya itu dengan erat. Yunho merasakan kepala Changmin langsung bersandar di bahunya, dan sedetik kemudian, bahunya sudah basah karena air mata dongsaengnya itu. Suara isakan kecil mengiringi tangisan Changmin.
"Chami, jangan khawatir. Appa baik-baik saja, hanya luka ringan. Dan kalau Appa baik-baik saja, Umma juga pasti baik-baik saja." hibur Yunho sambil kedua tangannya aktif memberikan tepukan-tepukan lembut di tubuh Changmin untuk menenangkan dongsaengnya itu.
"T-tapi... tapi bagaimana kalau Umma... hiks..."
"Sshhh... Jangan berpikir begitu Chami. Umma pasti baik-baik saja." bujuk Yunho lembut.
Tapi sepertinya bujukan Yunho tak berhasil, karena Changmin masih saja membenamkan wajah di bahunya dan masih terus menangis.
Akhirnya Yunho melepaskan pelukannya dan mendorong bahu Changmin hingga ia bisa menatap langsung pada wajah manis dongsaengnya itu.
"Chami, kau tahu kalau hyung tak pernah berbohong padamu kan?"
Changmin mengangguk, meskipun wajahnya masih menunduk dan Yunho masih bisa melihat butiran bening itu berjatuhan ke lantai.
"Chami.." panggil Yunho dengan nada yang lebih lembut. "..kau percaya pada hyung, kan?"
Changmin kembali mengangguk.
"Kalau begitu.." Yunho meraih dagu Changmin dan membuat adiknya itu menatap padanya. "...kalau hyung bilang Umma akan baik-baik saja, kau percaya kan?"
Changmin mengerjapkan kelopak matanya, dan meskipun ragu-ragu, akhirnya Changmin mengangguk kecil.
"Kalau begitu, sekarang Chami katakan kalau 'Umma pasti akan baik-baik saja'."
Bocah delapan tahun itu menatap hyungnya ragu. Ia menyelami sepasang mata coklat hangat milik hyungnya, dan menemukan keyakinan di sana. Hyungnya yakin kalau Ummanya pasti akan baik-baik saja. Dan ia... percaya sepenuhnya pada hyungnya.
Menggigit bibirnya sejenak, Changmin perlahan mulai berucap, "Umma pasti akan baik-baik saja."
Changmin tak tahu mengapa, tapi begitu ia mengucapkan kalimat itu, perasaan berat dan sedih yang ia rasakan... perlahan menghilang.
Dua kali Changmin kembali mengucapkan kalimat itu, dan semakin lama ia mempercayai kalimat itu sendiri.
"Hyung! Umma pasti akan baik-baik saja!"
Yunho tersenyum melihat dongsaengnya yang tak lagi menangis. "Kalau begitu, ayo kita bersiap menemui Appa dan Umma." ucap Yunho yang langsung mengambil tas disana, dan memasukkan beberapa pasang baju milik Appa dan Ummanya.
"Ayo Chami." ucap Yunho sambil mengulurkan tangannya, yang langsung disambut dengan cepat oleh adiknya.
"Ne, hyung."
.
.
.
.oOHoMinOo
.
.
.
"Appaaaaaaaa!" seru Changmin saat melihat Yonghwa yang tengah berjalan di koridor ruang rawat. Changmin melepaskan tangan hyungnya dan langsung melesat ke arah Appanya itu.
"Minnie.." ucap Yonghwa yang langsung membawa putra bungsunya itu kedalam pelukannya.
"Appa... Umma dimana? Umma baik-baik saja kan?" tanya Changmin yang terlihat panik dan khawatir.
Yonghwa memberikan senyumnya pada Changmin.
"Umma kalian baru saja keluar dari kamar operasi dan dibawa kemari. Dan kata dokter, masa kritis Umma kalian sudah lewat."
Mendengar itu, Changmin langsung tersenyum bahagia. "Chami mau lihat Umma!" ucapnya semangat di dalam gendongan Yonghwa.
Yonghwa kembali tersenyum dan menurunkan Changmin dari gendongannya. "Umma ada di dalam kamar. Tapi Umma belum sadar, jadi Minnie jangan berisik, ne?"
Changmin langsung mengangguk dan melesat masuk ke kamar rawat itu saat Yonghwa membukakan pintu kamar itu untuk Changmin.
"Appa.."
Yonghwa langsung menoleh ke arah putra sulungnya dan merasakan pelukan hangat dari putranya yang kini sudah menginjak bangku akhir di Junior High School itu.
"Aku bersyukur Appa baik-baik saja." ucap Yunho lirih.
Yonghwa tersenyum lembut dan menepuk punggung anaknya yang sudah semakin kekar.
"Luka di kepala Appa, itu tak apa-apa?" tanya Yunho sambil melepaskan pelukannya, dan menatap khawatir pada perban yang melilit kening ayahnya.
"Ini hanya luka karena benturan ringan." jawab Yonghwa sambil memegang lukanya.
"Lalu Umma? Sebenarnya kejadiannya bagaimana, Appa? Mengapa Umma bisa sampai terluka berat dan butuh di operasi?"
Yonghwa menghela nafas dan memilih untuk duduk di kursi yang ada di lorong kamar rawat itu.
"Kejadiannya sangat cepat. Appa tengah menyetir dengan biasa saat kami berada di persimpangan jalan. Saat akhirnya lampu lalu lintas menyala hijau, Appa mulai melajukan mobil, dan tiba-tiba saja ada mobil lain yang malah melaju cepat dari arah kiri. Appa cepat-cepat menginjak pedal rem dan mobil itupun berusaha untuk mengerem. Tapi mobil itu sudah berada terlalu dekat hingga mobil itu tetap menabrak bagian kiri mobil Appa. Tempat dimana Ummamu duduk..."
Yunho menahan nafas mendengarkan cerita Appanya. Ia mencoba membayangkan kejadian itu, dan tenggorokannya tercekat membayangkan Ummanya, yeoja yang paling ia sayangi di dunia ini, di terjang oleh mobil...
Ya Tuhan...
"...L-lalu... b-bagaimana kondisi Umma sekarang? K-kata Appa, Umma sudah lewat dari masa kritis..."
Yonghwa tersenyum lemah. "Ummamu memang sudah lewat masa kritis, hanya saja ada beberapa tulang yang patah dan Ummamu harus terus berada di sini untuk penyembuhan dan fisioterapi. Kata dokter, kira-kira butuh waktu minimal dua bulan agar Ummamu bisa sembuh lagi seperti sedia kala."
Yunho menarik nafas kaget mendengar ucapan Appanya.
"Dua bulan? Separah itukah keadaan Umma?" tanyanya dengan suara yang sarat akan kesedihan.
Yonghwa hanya bisa mengangguk sedih.
"Appa akan berada disini setiap hari. Appa tak bisa meninggalkan Umma disini sendirian. Appa tahu kau sudah besar, karena itu Appa minta agar kau bisa terus menjaga Minnie selama Appa menjaga Ummamu disini."
Yunho langsung mengangguk cepat. "Pasti, Appa."
"Baguslah. Kalau begitu, ayo masuk ke dalam dan kita tunggu hingga Ummamu sadar."
.
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
.
"Chami... Chami, ayo bangun..." ucap Yunho sambil mengguncangkan pelan tubuh Changmin yang tertidur di samping Umma mereka di bed rumah sakit itu.
"Ngghhhhh... sebentar lagi hyuuuuunggg... Lima menit lagiiiiii... masih ngantuuuuukkk..." keluh bocah delapan tahun itu sambil menepis tangan Yunho dan kembali tidur.
Yunho hanya bisa menghela nafas melihat adiknya yang tak mau dibangunkan itu. Yah, Yunho sebenarnya mengerti kalau Changmin mungkin kecapekan. Bocah itu pasti merasa lelah karena tadi siang sudah menangis dan benar-benar khawatir dengan keadaan Umma mereka. Begitu sampai disini, Changmin terus menunggu Umma mereka tersadar. Dan saat Umma mereka akhirnya sadar, Changmin kembali menangis karena merasa lega, dan tak mau turun dari ranjang Umma mereka, hingga akhirnya ia terlelap disitu.
Yunho sebenarnya tak ingin membangunkan Changmin, tapi saat ini mereka harus pulang. Ini sudah malam, dan besok mereka berdua harus sekolah.
"Sudahlah Yunho, gendong saja Minnie." ucap Appanya yang terlihat sama lelahnya dengan mereka. "Appa tadi sudah ke bawah dan meminta mereka memesankan taxi. Jadi saat kau turun, taxinya sudah akan sampai disini."
"Ne, Appa." sahut Yunho patuh sambil meraup tubuh langsing Changmin ke dalam gendongannya. "Besok sepulang sekolah kami akan kesini lagi. Appa mau Yunho bawakan apa dari rumah?" tawar Yunho pada ayahnya.
"Bawakan saja laptop Appa. Appa akan bekerja dari sini. Dan juga baju ganti yang lebih banyak."
"Oke Appa. Kami pulang dulu." pamit Yunho.
Yonghwa langsung mendekati Yunho dan memeluk Yunho sekaligus Changmin. "Kalian baik-baik saja ya dirumah. Dan terima kasih Yunho, kau memang anak Appa yang bisa diandalkan."
Dengan kalimat itu, Yunho melangkah keluar dari kamar dan menuju ke bawah. Untung saja Changmin tak terlalu berat, dan tubuhnya sendiri sudah terlatih dengan baik. Jadi Yunho tak merasa capek menggendong Changmin hingga ke lantai bawah dan memasuki taxi yang sudah di pesankan Appa mereka.
.
.
.
"Ngghhhhh..." Changmin menggeliat pelan saat ia merasakan tubuhnya kini melayang, dan berakhir di tempat yang sangat empuk. Perlahan ia membuka matanya dan menemukan kalau kini ia sudah berada di kamarnya sendiri.
"Kau sudah bangun, Chami si tukang tidur?"
Changmin menoleh ke samping dan menemukan hyungnya tengah menatapnya dengan senyum lebar.
"Chami bukan tukang tidur hyuuuunggg..." seru Changmin sambil berguling dan kini ia membelakangi hyungnya. Ia meraih guling dan memeluk erat gulingnya sambil memejamkan kedua matanya.
Changmin sudah akan kembali memejamkan mata sebelum ia mendengar suara lagi.
"Chami, jangan tidur lagi. Gosok gigimu dulu baru tidur."
Changmin mengerang kesal saat hyungnya itu menguncangkan tubuhnya perlahan. Membuatnya batal memasuki alam mimpinya lagi.
"Tak mauuu~~ Chami ngantuk hyuuuungg... Chami mau boboooo..." rengek bocah itu sambil tetap kukuh dengan posisi tidurnya.
Yunho menghela nafas dan langsung mengangkat tubuh kecil itu ke dalam gendongannya dan membawanya ke kamar mandi. Changmin langsung melingkarkan lengannya ke leher Yunho seperti biasanya.
Seperti biasanya pula, Yunho menurunkan tubuh Changmin di atas wastafel, dan disitu Yunho bisa melihat kalau kedua mata Changmin membuka sempurna tanpa ada tanda-tanda mengantuk. Yunho menggelengkan kepala melihat adiknya itu.
"Apa hyung harus selalu menggendongmu, baru kau mau menggosok gigimu, Chami?"
Changmin tak menjawab dan hanya menyodorkan sikat gigi Yunho yang sudah di beri pasta gigi itu ke Yunho.
"Brat." ucap Yunho sambil menerima sikat gigi itu dan mulai menggosok giginya. Changmin tersenyum senang dan ikut menggosok giginya bersama Yunho.
Setelah itu, Changmin melompat turun dari wastafel dan berlari ke tempat tidurnya. Ia memposisikan dirinya di tempat tidurnya yang besar—tempat tidurnya sudah diganti jadi ukuran Queen size begitu ia masuk Elementary School dengan alasan agar ia punya ruang yang banyak untuk terus bertumbuh saat tidur, meski alasan sebenarnya adalah agar hyungnya itu bisa terus tidur bersamanya. Ia menatap Yunho dan menunggu hyungnya untuk bergabung bersama di tempat tidurnya.
"Sebentar. Hyung mau ganti baju dulu." ucap Yunho yang mengambil kaus singlet dan celana pendek.
Changmin memperhatikan dengan seksama saat hyungnya itu membuka baju dan menggantinya. Kedua mata bulatnya mengawasi tubuh hyungnya yang benar-benar terbentuk sempurna. Mengagumi kedua lengan hyungnya yang penuh dengan otot... bahu yang liat dan kuat... dada yang kokoh dan kekar... serta perut yang memiliki chocolate abs itu...
Dan Changmin harus menahan erangan kecewanya saat tubuh sempurna hyungnya itu ditutupi oleh kaus singlet.
"Ayo tidur Chami. Besok harus bangun pagi untuk ke sekolah." ucap Yunho yang langsung naik ke tempat tidur Changmin dan menutupi tubuh keduanya dengan selimut. Memeluk tubuh Changmin di bawah selimut yang menutupi keduanya dari tatapan dunia.
Ah, ya, semenjak pertama kali Yunho menyusup ke kamar Changmin, ia terus melakukan kebiasaan itu dan selalu tidur bersama Changmin. Dan kali ini, karena tak ada siapapun di rumah, ia tak perlu menunggu sampai malam beranjak larut untuk menyelinap ke kamar Changmin.
Changmin langsung memejamkan matanya dan menyandar ke pelukan hyungnya. Namun tangan penasaran Changmin bergerak ke perut hyungnya dan mengelusnya perlahan, membuat tubuh Yunho tersentak kaget.
"C-Chami..! Apa yang kau lakukan?!" seru Yunho yang tak bisa menutupi kekagetannya.
"Hmmm... perut Yunho hyung keras dan berotot ya.." ucap Changmin tak koheren. Dan buruknya—atau baiknya?—, tangan kecil Changmin malah menyusup ke balik kaus singlet Yunho untuk menyentuh langsung perut six pack Yunho.
"C-Chami!" seru Yunho keras sambil menarik keluar tangan Changmin yang mulai mengelus-elus perutnya.
...Andai saja Changmin tahu bahwa sentuhan yang dilakukannya itu membuat seluruh tubuh Yunho meremang penuh antisipasi berbahaya...
Changmin mempoutkan bibirnya. "Chami kan mau sentuh perut hyung yang berotot. Chami ingin punya perut seperti punya hyung." ucap Changmin sambil membuka kausnya dan memperlihatkan perut putihnya yang tak berotot sama sekali.
Yunho nyaris tersedak melihat pemandangan di depannya itu, dan jujur saja, kini juniornya sudah mulai menunjukkan reaksi gembira karena melihat Changmin memamerkan tubuh di hadapannya.
"S-sudah Chami tidur saja! K-kalau otot, nanti saat Chami besar juga bisa punya." ucap Yunho yang langsung menurunkan kaus yang di pakai Changmin. Dan Changmin kembali mengerucutkan bibirnya sebal ke arah Yunho.
Yunho langsung menarik nafas panjang untuk menenangkan dirinya.
Selalu seperti ini. Semenjak ia sadar kalau ia mencintai Changmin—adik tak sedarahnya—tubuhnya selalu saja menunjukkan reaksi berlebihan jika itu berhubungan dengan Changmin. Apalagi dengan gejolak darah mudanya, juniornya bisa dengan mudah terbangun jika ia melihat tingkah Changmin yang super imut atau melihat bagian tubuh Changmin saat tak tertutup kain.
Ia sudah berusaha menahan itu semua dengan selalu bermasturbasi sendiri jika juniornya bangkit. Berusaha melihat dvd porno straight untuk mengurangi gairah tubuhnya terhadap sang adik.
Namun apa daya, setiap kali ia mencapai puncak, hanya nama Changmin yang terus bergaung di dalam otaknya.
Harusnya ia menjauh dari Changmin. Tak seharusnya ia setiap malam terus tidur bersama Changmin. Tapi sekali lagi, ia tak memiliki daya untuk menjauh dari Changmin. Seluruh hati, pikiran dan jiwanya berteriak menginginkan Changmin selalu ada dalam penglihatannya. Membuatnya tak bisa menjauh sama sekali dari Changmin.
Dan saat ini mereka hanya berdua saja di dalam rumah ini. Ia harus mencegah Changmin untuk melakukan hal-hal aneh yang bisa membuatnya hilang kendali...
"Cepat tidur Chami. Hyung lelah dan hyung ingin cepat istirahat." ucap Yunho sambil memejamkan matanya.
Changmin langsung menghentikan aksi cemberutnya saat ia mendengar ucapan hyungnya. Ia langsung memeluk Yunho lagi dan memejamkan matanya. "Selamat malam, hyung."
"Malam, Chami."
.
.
.
.oOHoMinOo.
.
.
.
Seperti biasanya, pukul lima pagi Yunho sudah terbangun. Namun kali ini ia tak langsung keluar dari kamar Changmin untuk kembali ke kamarnya, karena tak ada Ummanya yang akan memergoki mereka berdua saat ini.
Jadi, mengambil kesempatan ini, Yunho kembali memeluk tubuh kecil Changmin dan membenamkan wajahnya di puncak kepala Changmin. Seluruh tubuhnya bergerak untuk mencari posisi nyaman memeluk Changmin, sebelum kedua matanya membulat lebar tak percaya.
'T-tidak mungkin...!' teriaknya di dalam hati. 'Tidak mungkin Chami..."
.
.
.
.
.
.
.
~TBC~
I'm sorry I'm late, but I'm back to bring this new chapteeerrr~!
Mian semuanya karena apdet ff ini lamaaaa banget..
Ada sesuatu yang bikin Ela down 'n nggak semangat ngelanjutin ff ini...Tapi karena ada yang terus minta aku buat lanjut ini ff, akhirnya aku usahain buat tetep semangat ngelanjutin ini ff karena Ela cinta HoMin dan juga suka dengan plot cerita My Hyung ini..
Untuk chap ini memang aku kasih yang aman cz Ela kan puasa...biarpun ini ngetiknya malem buta..
Buat chap depan Ela bakal kasih suguhan yang udah di nanti2 para readerku yang yadong~ Soalnya HoMin bakal ditinggal berduaan selama DUA BULAN! Yeaaaayyy! Banzaaaaiiiii~!
Last, buat yang masih mengharap ff ini lanjut, silahkan isi kolom review biar Ela semangat ngelanjutin ff ini lagi~
PS : Buat yang nanyain kelanjutan ff Let Me, dimohon sabar sampai aku nggak puasa, cz separuhnya udah jadi, tinggal bagian NC-annya *deepbow*
PSS : karena chap depan my hyung juga bkal ada 'penistaan Chami' dimohon bersabar juga yah *DeepDeepBow*
PSSS : #BLETAK! NGGAK USAH BANYAK BACOT DEH THOOOORR! Hiks...aku kan cuma mau bilang "Salam, HoMin-Shipper" *pegangin kepala yang benjol*
