Don't Cheat On Me, Baby!
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Huang ZiTao, Do Kyungsoo, Zhang Yixing, Park Chanyeol, and Other.
Rated: T
Chaptered
Pair: KaiHun, HanHun
Warning: Yaoi, BL, Typo(s)
Disclaimer: Punya siapa coba
Summary: Sehun memiliki Jongin sebagai kekasih, si mantan preman sekolah. Inginnya Sehun meniti masa depan yang cerah dengannya, namun jika disuguhi oleh pengusaha muda nan kaya raya seperti Luhan apa mungkin Sehun bisa setia ?..
.
.
.
.
.
.
Sehun meregangkan tubuhnya nyaman saat merasakan elusan halus di rambutnya. Ia menggeliat, dan perlahan membuka mata untuk melihat siapa sekiranya yang sedang bersamanya saat ini. Masih samar ia melihat sosok laki-laki dan langsung mengasumsikan bahwa itu seseorang yang memang seharian ini bersamanya,
"Luhan Hyung, masih disini ?"
Luhan -atau itu yang Sehun kira- diam, tidak menjawab sama sekali bahkan bersuara sedikit pun tidak, tangannya yang tadi bergerak-gerak mengelus kepala Sehun pun kini kian ikut terhenti.
Mengarahkan dua tangannya ke mata, ia menggosok kencang matanya hingga kini dapat melihat dengan jelas sesosok orang yang pahanya sedang ia gunakan sebagai bantalan ini.
Oh..
"J-Jongin ?" Ucap Sehun tergagap, ia segera bangun dan duduk tegap untuk menghadapi kekasihnya yang raut wajah kini tampak marah. "Luhan hyung.. kau bilang ?"
Sehun menunduk, tak bisa menjawab apapun atas pertanyaan Jongin, ia sama sekali tidak menyangka bahwa akan ada kekasihnya disini, Sehun pikir selama ini ia sedang bersama Luhan, mengingat Jongin tak bisa mengantarnya pulang lalu ia meminta Luhan menjemputnya dan berlanjutlah... sampai di kamar Sehun.
"Bukan begitu Jongin, aku.. maksudku-"
"Jadi kau benar-benar mengharapkan Luhan, eh ? Aku mengerti" Jongin berdiri dari duduknya semula, menatap Sehun rendah sehingga membuat sang kekasih -atau yang sebentar lagi akan berganti status menjadi mantan- mendongak dengan mata berair. Ia menggenggam tangan Jongin menghentikannya untuk beranjak pergi.
"Jongin, dengar dulu aku ti-"
Jongin menyentak tangan Sehun bahkan sebelum kekasihnya sempat berbicara, ia menoleh ke samping dan berdecak sebal. Menolak menatap mata berair Sehun jika pada akhirnya akan membuat ia memaafkan Sehun begitu saja. Kali ini tidak. Jangan harap.
"Aku mulai curiga dengan hubunganmu dan Luhan," lanjut Jongin, berjalan perlahan ke arah meja belajar Sehun dan duduk disana. Berusaha sebaik mungkin menjaga jaraknya dengan sang kekasih. Sehun meremas ujung sofa, melirik ke samping dimana meja belajarnya berada sekaligus orang yang sedang duduk di atasnya. Bibirnya terbuka untuk menyampaikan sesuatu namun kemudian mengatup kembali, ia tidak sanggup berbicara, lagipula apa yang harus ia katakan ? Kecurigaan Jongin bukanlah delusi belaka.
"Tidak bisa menjawab ? Jadi aku benar ?" Jongin kembali menekan. Membuat Sehun tidak bisa menahan air matanya untuk turun. Ia tidak cengeng. Tidak sama sekali. Walau ia menangis itu hanyalah air mata palsu yang selalu ia gunakan untuk meminta sesuatu. Kepada siapapun.
Namun kali ini, berbeda. Jauh berbeda. Ini masalah hubungannya dengan Jongin, ngomong-ngomong.
Jongin memainkan kukunya. Tampak diam namun ekspresi di wajahnya yang semakin mengeras itu mewakilkan betapa marahnya ia. Sehun membuatnya kesal sungguh, ia berharap Sehun dapat mengucapkan sesuatu yang membuktikan bahwa tuduhannya memanglah hanya tuduhan bukan fakta. Namun melihatnya yang tak dapat menjawab, Jongin bahkan tak perlu mendengar apapun selain menyimpulkan sendiri dan segera beranjak pergi.
"Jongin tunggu, aku bisa jelaskan" Dengan cepat, Sehun berdiri menghalangi jalan Jongin untuk keluar dari kamar ini.
Jongin hanya memutarkan bola mata saat melihat Sehun bercucuran air mata dihadapannya, ia tidak tega, itu pasti, namun well, tampaknya Jongin juga tak begitu peduli lagi.
"Disaat sudah seperti ini baru akan bicara... kenapa ? baru mendapat inspirasi mengarang cerita kepadaku ?" Jongin berdecih mencemooh. "Klise" ucapnya sengit tepat di depan wajah Sehun. Membuat sang kekasih menatap tidak percaya ke arahnya. Sungguh Sehun nyaris tak bisa melihat Jongin-nya sama sekali pada pria ini. Seperti orang lain.
"Kenapa kau.. seperti ini ?" Cicit Sehun berusaha menyentuh pipi Jongin namun ditolak mentah-mentah oleh sang kekasih dengan menjauhkan wajahnya.
"Seharusnya aku yang tanya, Oh Sehun. Kenapa kau seperti ini ?" Tanya Jongin balik, sehingga menyadarkan Sehun. Ialah yang bersalah disini, ia yang berselingkuh, kan ?
Memberi sedikit dorongan pada tubuh Sehun, Jongin segera berlalu pergi saat Sehun harus tergeser secara paksa. Namun sebelum Jongin benar-benar menghilang dari balik pintu, ia berbalik menatap Sehun datar yang hanya dapat mengeluarkan air matanya tanpa bersuara.
"Ngomong-ngomong... kita berakhir"
Sehun tersentak mendengar bantingan kuat dari pintu kamarnya, terdiam kaku mendengar langkah kaki Jongin yang sudah berjalan menjauh dari pintu.
"Jongin..." bisiknya, perlahan membawa dirinya duduk di atas karpet. "Jongin" isaknya lagi, meremas erat karpet berbulu tebal di bawahnya sehingga membuat buku-buku jari Sehun memutih.
"JONGIN!"
"Sehun"
"JONGIN"
"Sehun, bangunlah"
Sehun membuka mata secara paksa saat merasakan tepukan halus di pipinya. Matanya mencari-cari liar asal suara tersebut dan langsung bertemu pandang dengan manik coklat madu Luhan. Iya Luhan. Dan bukan Jongin. Yang mana artinya... itu semua hanyalah mimpi.
"Luhan hyung ?"
"Ini hyung Sehun, tenanglah" Luhan dengan penuh perhatian membawa tubuh tegang Sehun ke dalam pelukan hangatnya. Mencium kening kekasih barunya itu berkali-kali berusaha menenangkan. "Baik-baik saja, sayang ?" Bisik Luhan pelan. Sehun mengangguk, perlahan dapat menenangkan dirinya dengan Luhan yang terus-terusan membisikkan kata-kata menenangkan.
"Ingin cerita denganku ?" Tanya Luhan setelah beberapa menit berpelukan. Sehun memejamkan mata, ia tak yakin menceritakan mimpinya adalah hal yang benar. "Tidak apa-apa, Sehun. Lagipula aku sudah tahu siapa yang kau mimpikan" Ucap Luhan lagi, membuat Sehun menegakkan tubuhnya menghadap sang kekasih.
"Hyung tahu ?"
Luhan mengangguk singkat. "Kau meneriakkan namanya cukup keras, ngomong-ngomong" lanjutnya lagi diikuti dengan kekehan kecil. "Dan wajahmu tampak lucu saat bermimpi buruk, eh ?" Sehun tersenyum untuk sesaat mendengar -entah pujian atau malah ejekan dari Luhan.
"Hyung tidak marah ?"
"Marah karena kau memimpikannya ? Nah" Luhan menggelengkan kepala, masih terkekeh kecil akan wajah bingung Sehun. "Aku bukan anak kecil yang cemburu karena hal seperti itu, Sehun" Luhan menyingkirkan helaian rambut Sehun yang sedikit menutupi matanya. "Dan mimpimu ?" Tanya Luhan lagi. Menatap sabar ke arah Sehun yang masih tampak berdebat dengan innernya antara ingin memberitahukan Luhan atau tidak.
"Di mimpiku, Jongin mengetahui hubungan kita, dan dia.. dia pergi dan berkata hubungan ku dengannya sudah berakhir... rasanya sangat nyata. Aku tidak mau itu terjadi, Hyung." Luhan sekali lagi mengecup keningnya mendengar hal tersebut. Tampak diam dan tenang, hingga membuat Sehun bertanya-tanya apakah yang sebenarnya sedang ia pikirkan.
"Hyung... benar tidak marah ?" Tanya Sehun lagi, menangkup pipi Luhan yang kembali menggeleng pelan. "Well, sebenarnya yang kau katakan barusan juga tidak membuatku senang ngomong-ngomong" ucap Luhan diiringi senyum masam. Walau bagaimanapun ia juga mencintai Sehun, oke ? Luhan ingin Sehun menjadi miliknya saja, namun kondisi tampaknya berkata lain.
"Maaf ya, Hyung" Ucap Sehun sungguh-sungguh. Merasa tak enak hati pada seseorang yang juga berstatus kekasihnya ini.
Luhan hanya mengangguk dan tersenyum. Ia sekali lagi mengecup kening Sehun singkat sebelum mengatakan, "Aku harus pergi sekarang, pekerjaan menunggu" Luhan bangkit berdiri diikuti oleh Sehun.
"Aku pasti sudah menyita waktumu ya" ucap Sehun kembali merasa tak enak hati.
Luhan meletakkan jemarinya di dagu, memasang pose berfikir yang terlihat... tampan ?
"Bagaimana ya... sebenarnya memang iya. Tapi kalau dengan Sehun rasanya mau menghabiskan seluruh hidup pun tidak masalah"
Sehun memutarkan bola matanya mendengar ucapan gombal dari Luhan, namun sedetik berikutnya diikuti dengan kekehan kecil.
Ia jadi geli sendiri, ternyata pengusaha muda kaya raya yang terkesan strict ini pun bisa bertingkah gombal layaknya bocah SMA.
Setelah mengantar Luhan hingga ke depan dan mengucapkan selamat tinggal satu sama lain. Sehun kembali ke kamarnya, mengambil ponsel di atas meja kecil sebelum menekan Speed dial nomor 4 di keypad. Ngomong-ngomong Speed dial 4 adalah nomor Jongin, yang pertama sampai ketiga diisi oleh kedua orang tuanya berikut sahabat dekatnya, Baekhyun. Barulah setelah itu Jongin, kekasihnya. Dan iya, Sehun ingin menghubungi Jongin. Sangat-sangat ingin mendengar suara kekasihnya itu yang begitu berat dan terkadang terdengar seperti orang mengantuk dan-
"Hmm"
"Jongin ?"
"Siapa lagi"
Sehun meringis mendengar nada sinis itu dari Jongin, ia simpulkan bahwa kekasihnya masih marah atas kejadian di sekolah.
"Jongin.. um aku ingin bicara"
"Cepatlah, aku sibuk"
"... sibuk apa ?"
"Main game"
Jika saja Jongin tak sedang marah padanya, Sehun pasti sudah memarahinya lebih dulu yang lebih memilih game daripada kekasih.
"Aku rindu kamu, Jongin"
"Oh ya ? Kenapa tidak bersama Luhan hyungmu saja"
Sehun terdiam, kenyataannya Luhan baru saja pulang setelah seharian menghabiskan waktu dengannya.
"Jongin, aku minta maaf"
"Hm"
"Aku.. ke rumahmu ya"
"Terserah"
Sehun menjauhkan ponselnya dari terlinga saat Jongin sudah lebih dulu mematikan sambungan mereka. Ia menghela nafas, bangkit berdiri dan mengganti bajunya menjadi pakaian yang lebih menarik. Sehun akan menemui Jongin, dan minta maaf langsung. Ya, itu pasti. Ia tak akan tahan jika Jongin marah padanya.
.
.
.
Shootdanonymous
.
.
.
Jongin memutuskan sambungan telfon dari Sehun begitu mendengar sang kekasih akan berkunjung dan buru-buru beranjak dari tempatnya yang sedang bermain game dengan bersandar di sisi kasur. Ia mengambil Glock-17 kesayangan yang sedang tergeletak manis di tempat tidur. Mencari-cari dimana sekiranya tempat yang paling pas untuk menyembunyikan Glock-17 nya itu. Well, ia tentunya tak mau jika Sehun sampai tahu tentang hobi barunya ini.
"Dimana dimana -shit" Jongin terlonjak kaget saat membuka lemari atas dan dihadiahi dengan seekor laba-laba yang keluar dari sana dan merayap ditangannya. Sepertinya ia harus ingat untuk menuruti kata-kata eommanya tentang menjaga kebersihan kamar.
"Ah disini" Perlahan Jongin meletakkan senjata api itu di sebuah kotak sebelum meletakkan kotak tersebut di ujung laci yang penuh dengan tisu. Iya tisu. Tisu bekas yang sangat banyak.
Jangan tanyakan bekas apakah tisu itu. Jongin hanya bisa bilang bahwa ia adalah remaja sehat yang masih memiliki hormon menggebu-gebu.
Ia kembali pada PlayStation 3 nya untuk melanjutkan game Battlefield. Tinggal menunggu Sehun datang dan bersikap acuh. Karena bagaimanapun ia tetap marah pada Sehun atas kejadian di sekolah. Sangat marah sampai rasanya ingin menghajar siapapun yang ia lihat waktu itu, Kris contohnya, namun berkat hobi barunya yang kini dapat tercapai, Jongin bisa sedikit lebih menahan amarah itu.
Ia terus bermain, cukup lama sebenarnya, tampak jelas sedang gelisah tapi berusaha fokus dalam permainan.
"Jongin"
Merasa terpanggil, ia melirik ke arah pintu kamarnya sebentar lalu kembali memusatkan perhatian pada layar tv untuk melanjutkan gamenya. Tanpa melihat pun ia tahu itu siapa.
Yang merasa diacuhi oleh pemilik kamar menunduk, namun serta merta masuk ke dalam kamar berukuran tak lebih besar dari kamarnya tersebut dengan banyak poster yang mengelilingi dinding. Dapat dibilang kamar Jongin adalah gambaran kamar seorang remaja berandalan sejati. Dengan pakaian yang berserakan di sana-sini, tisu bekas yang Sehun paham betul digunakan untuk apa, serta kaset video game yang entah sudah rusak atau belum berada dimana-mana.
Sekali lagi, jika saja Jongin sedang tidak marah padanya, Sehun mungkin akan lebih dulu menceramahi kekasihnya tentang pentingnya menjaga kebersihan kamar.
"Hey" sapa Sehun pelan saat ia ikut duduk di samping Jongin.
Jongin melirik ke arah Sehun yang terus menatapnya. Duduk dengan memeluk lutut yang membuat tubuhnya terlihat kecil sehingga ia harus mendongak untuk dapat menatap wajah Jongin.
Jongin benci Sehun yang seperti itu, sangat benci, ia benci karena Sehun terlihat seperti kelinci kecil yang kedinginan menanti untuk dipeluk, dan sialan itu menggemaskan.
Namun ia harus kontrol kali ini, jangan sampai luluh hanya karena sedikit aegyo atau ia hanya akan berakhir menjadi kekasih lembek dan tidak tegas. Yang mana tidak bisa dibiarkan karena Sehun harus benar-benar diberi pelajaran akan kesalahannya. Benar, kan ?
"Mau apa ?" Jongin bertanya tegas, membuat Sehun yang tadinya sudah mengumpulkan kepercayaan diri untuk bicara menjadi menyusut seketika.
"Aku ingin bicara"
"Bicara saja"
"Jongin" Perlahan Sehun merubah posisinya, bertumpu pada kedua lutut, takut-takut memeluk leher Jongin dari samping, melesakkan wajahnya di rambut sang kekasih. Ia merindukan Jongin, sangat. Entah karena apa namun ia hanya benar-benar rindu.
Jongin, well.. Jongin tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Marahkah ? Atau senang ? Ia tak tahu namun perasaan ingin merengkuh tubuh kurus kekasihnya sangatlah kuat. Sehingga membuat Jongin harus menggenggam erat joystick pada PlayStation untuk menahan keinginannya yang satu itu. Belum lagi mau tak mau harus mencium wanginya leher putih Sehun yang memabukkan. Untunglah, tak lama kemudian Sehun melepaskan pelukannya.
Jongin memperhatikan gerak-gerik kekasihnya yang tampak kaku, kemungkinan karena tidak mendapat pelukan balik darinya. Namun Sehun masih bertumpu pada kedua lututnya, dengan sebelah tangan yang berpegangan pada pundak Jongin. Entahlah Sehun berusaha menggodanya atau apa. Karenya yang jelas Jongin mulai tak bisa bertahan dengan sikap acuhnya lebih lama lagi. Ya, ia memang tidak bisa jika mengacuhkan Sehun. Karena bocah itu terlalu menarik untuk hanya dibiarkan begitu saja.
"Aku minta maaf... yang di sekolah" Mulai Sehun, membentuk lingkaran dengan jarinya di bagian pundak Jongin yang tak tertutupi kain mengingat ia tengah menggunakan singlet. Well, beruntung malam ini ia memakai sehelai kain di badannya, jika hari lain mungkin ia hanya akan menggunakan boxer. Gerakan pelan Sehun yang terkesan polos namun juga menggoda membuat Jongin menatap tajam Sehun -yang berusaha menghindari tatapannya-. Ia tahu, ini cara Sehun untuk memujuknya.
"Kau pulang bersama Luhan ?" Tanya Jongin sengit, menggenggam pergelangan tangan Sehun untuk menjauh dari pundaknya. Ia sedang dalam kondisi marah for god sake. Dan Sehun menggodanya begini tidak membuat keadaan semakin baik.
Sehun menggeleng pelan, lalu menggeleng cepat. "Tidak, mana mungkin! Aku.. aku naik bus" ucap Sehun meninggi namun terdengar berbisik di akhir kalimat. Entah hanya Jongin, namun ia dapat menangkap keraguan dalam suara kekasihnya ini.
"Benar ?" Tanya Jongin memastikan.
Sehun kembali mengangguk. Mimik wajahnya sedih dan memelas. "Habisnya Jongin tidak bisa pulang bersama kan, padahal aku sudah tunggu" ucapnya diiringi kerutan kecil di bibir, membawa kembali tangannya untuk mengitari leher Jongin.
"Jadi aku marah dan berkata seperti itu, biar Jongin tau rasa saja sebenarnya... tapi aku menyesal, tidak seharunya mengucapkan hal itu" kali ini Sehun mencicit lembut, mengeluarkan nada bicara andalannya yang biasa ia gunakan untuk meminta sesuatu. Jongin jadi mabuk kepayang di buatnya. Tidak tahan untuk segera cuddle-cuddle dengan kekasih yang senang menggodanya ini.
"Yasudah, jangan ulangi" ucap Jongin lagi. Mengambil stick gamenya yang sempat terlupakan. Masih berakting acuh tak acuh padahal ingin segera menyentuh kekasihnya sana sini. Biar saja, biar Sehun yang mulai duluan kali ini.
Sehun, sesuai dengan yang sudah Jongin prediksikan, mengambil langkah pertama. Ia merebut joystick Jongin tidak kasar. Sadar masih merasa bersalah. Lalu mendudukan bokongnya di pangkuan Jongin. Tampak minta perhatian dari kekasihnya.
"Jongin masih mau main ?" Tanya Sehun 'polos'. Namun menyembunyikan joystick milik Jongin ke belakang tubuhnya.
"Well, iya. Tapi bagaimana bisa kalau Joystick Jongin Sehun sembunyikan" Jika ini permainan yang ingin di mainkan Sehun, maka Jongin akan dengan senang hati bergabung. Jarang-jarang melihat sisi Sehun yang sedang mengambil hatinya. Biasanya ia yang akan sibuk memujuk sana sini dikarenakan Sehun yang lebih sering marah padanya. Well, Bottom memang seperti itu, period.
Sehun mengangguk-angguk dengan menyuarakan 'hum' halus. "Main dengan Sehun saja, yuk"
Jongin hanya diam menahan seringaiannya yang selalu otomatis keluar jika melihat Sehun bertingkah nyeleneh seperti ini. Melihat seberapa jauh ia akan bisa menggoda Jongin.
"Boleh"
Bahkan Jongin harus menahan geraman rendah saat Sehun terus memajukan tubuhnya ke arah Jongin, membuat tubuh mereka menempel tanpa jarak dengan kaki jenjang Sehun yang melingkari pinggangnya. Otomatis megurung tubuh sang kekasih di pelukanya dengan tangan yang melingkar pas di pinggang Sehun. Tidak menutup mata saat Sehun mempertemukan bibir mereka terlebih dulu, masih membiarkan Sehun berusaha sendirian dalam menciumnya.
Namun hanya saat Sehun menjilat bibirnyalah, baru ia ikut tergerak untuk membalas ciuman Sehun. Mendorong paksa lidah Sehun yang coba-coba memasuki rongga mulunya, berakhir dengan Sehun yang kembali dikuasai seperti biasa, sedikit kualahan saat Jongin tampak jelas mengeluarkan emosinya dalam ciuman kali ini. Pinggang Sehun mau tak mau harus menjadi korban remasan tangan Jongin karenanya.
"Jongin, makan malam sudah- oops"
Untuk kedua kalinya ciuman panas mereka harus terusik. Jongin mengerang protes pada ibunya yang hanya tersenyum-senyum memaklumi. Sedangkan Sehun, langsung panik berguling ke samping.
"Eomma aku kan sedang ciuman" protesnya pada sang eomma. Entah mengapa para ibu belakangan sangat suka mengganggu momennya dengan sang kekasih.
"Maaf maaf, eomma kan tidak tahu" ucap sang Ibu yang masih tersenyum. Berbanding terbalik dengan keluarga Sehun yang tampak tak terlalu senang akan hubungan mereka. Keluarga Jongin sangatlah mendukung, karena bagi mereka Sehun adalah hal terbaik yang Jongin dapatkan. Tidak salah mereka berfikir begitu. Berkat Sehun juga Jongin kini mengurangi kenakalannya. "Yasudah, sekarang makan malam. Nanti di lanjutkan lagi. Ayo Sehunnie, jangan disini terus, bahaya"
Sehun yang masih dalam keadaan malu serta memerah mengangguk dan menyambut tangan eomma Jongin yang mengarah ke arahnya. Masih merasa malu, mengikuti Nyonya Kim menuju ke ruang makan. Memberi Jongin tatapan penuh arti sebelum menghilang dari balik pintu.
Jongin yang ditinggal, hanya dapat mengacak rambutnya kesal. Padahal sedikit, sedikit lagi mungkin ia bisa melihat sisi nakal lain dari kekasihnya. Namun, yah.. memang sangat di sayangakan.
Malas-malasan Jongin beranjak berdiri, berniat mengikuti sang kekasih dan eomma yang sudah lebih dulu berjalan ke ruang makan.
Setelah ini, Jongin sudah pasti tidak akan pernah lupa lagi untuk mengunci pintu dimanapun dan kapanpun ia berada saat sedang bersama Sehun. Lihat saja!
.
.
.
.
Tbc.
Duh sori lama update, otak agak ngandat. Oke pertanyaaan. Eh tapi sebelumnya, Glock-17 itu udah tahu kan apa ? Senjata api, artinya, pistol. Iya yang buat tembak-tembakan. Sekalian aja tembakin saya rame-rame. Gpp :')
. Kapan ketahuannya Sehun selingkuh ? Tunggu tiba saatnya darl.
.Untuk apa beli Glock-17 ? hobi, biasa berandalan mainannya kan serem-serem. eh tapi ngaku deh itu salah satu alasan sih alasan lainnya saya kehabisan ide hiks :')
.Disini Jongin kaya ? Gimana ya, sebenernya normal, gak beda jauh dengan keluarga Sehun cuma ya agak lebih keluarga Sehun lah. Kalo Luhan baru kaya banget.
.Apa Jongin balas selingkuh ? Sayang sekali saya berencana hanya membuat Jongin seorang yang menderita, yang artinyaa.. tidak :*
.Chap kemaren Jongin marah sama sehun ? Marah dung. Ya tapi gitu marah abal-abal.
.Kenapa orangtua Sehun keliatan lebih sering dirumah padahalkan sibuk ? E-e sebelumnya waktu jongin di marah tuan Oh itu secara gak langsung bilang kalo mereka mulai saat ngedenger sehun mabok akan berusaha ngawasin sehun dari pada pekerjaaan. Gitulah.
.Flashback pas pertama pacaran ? Ga kepikiran sih. Tapi kalo ada ide bolehlah saya usahain.
.Sehun gak nyesel selingkuh sama jongin ? Awalnya iya. Tapi Luhan is riiich men, pengertian lagi, gimana bisa nolak.
.Apakah nyuruh kaihun shipper untuk tenang itu hint ? Iya itu hint sayang pinter deh ;)
.Sehun lebih cinta siapa ? Jongin dong.
.Hanhun bener dijodohin ? Gimana ya, orang tua luhan sih maksanya gitu, orang tua sehun mah mau banget mantu luhan tapi gak mau maksa sehun.
Halah panjang banget ya. Thanks yang udah review, fav, follow. Jangan kapok :*
