Don't Cheat On Me, Baby!
Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Huang ZiTao, Do Kyungsoo, Zhang Yixing, Park Chanyeol, and Other.
Rated: T
Chaptered
Pair: KaiHun, HanHun
Warning: Yaoi, BL, Typo(s)
Disclaimer: Punya siapa coba
Summary: Sehun memiliki Jongin sebagai kekasih, si mantan preman sekolah. Inginnya Sehun meniti masa depan yang cerah dengannya, namun jika disuguhi oleh pengusaha muda nan kaya raya seperti Luhan apa mungkin Sehun bisa setia ?..
.
.
.
.
.
.
Sehun, untuk yang kedua kalinya malam ini berjalan menyusuri bibir pantai sendirian. Namun yang berbeda, kali ini bukanlah rasa murung yang menyelimuti, melainkan sebaliknya. Ia sedang senang, gembira atau apapun itu yang sejenis sampai rasanya tersenyum-senyum pada pasir di bawah terasa sangat menyenangkan. Tak bisa mengingkari diri sendiri bahwa sedikitnya ada perasaan berbunga-bunga sejak pertama kali mengijakkan kaki untuk meninggalkan kursi pantai yang diisi oleh dirinya dan Luhan tadi. Jadi tolong, jangan anggap ia gila.
Ia terhenti sebentar, lalu duduk berjongkok untuk mengambil kayu yang tergeletak dan menusuk-nusukkannya di permukaan pasir, jemari terangkat untuk menyentuh bibir yang kini sedikit memerah. "Aku mulai gila" katanya tersenyum sendiri. Serius, gila karena ciuman Luhan.
Sehun mengingat-ingat kembali betapa baik dan perhatian Luhan padanya tadi, ia bahkan tak marah setelah mengetahui bahwa Sehun telah berbohong dengan mengatakan ia jatuh sakit dan tak bisa ikut dengan Luhan. Walau tetap saja tampak jelas gurat kekecewaan di wajah pemuda tampan itu setelah mengetahui bahwa Sehun lebih memilih ikut bersama Jongin dari pada dirinya. Namun setelah melewati aksi diam beberapa detik Luhan tetaplah yang lebih dulu memulai percakapan hingga tiba-tiba mengatakan bahwa ia begitu merindukan Sehun hingga terjadilah ciuman mendadak itu. Ciuman yang begitu lembut dan 'penuh perasaan' sehingga membuat Sehun berperilaku bak bocah yang baru mendapat ciuman pertamanya.
Ia kembali berdiri, kali ini menepuk-nepuk pipinya keras agar dapat mengontrol wajah dengan lebih baik. Well, tidak ingin tertangkap basah sedang senyum-senyum sendiri dengan wajah memerah oleh sang kekasih tentunya.
Sehun membuka pintu villa yang ia tempati untuk sementara waktu ini perlahan, dapat terdengar suara ribut bahkan sebelum ia sempat membuka pintu dengan benar. Sehun menghela nafas keras saat mendapati mereka masih dalam kondisi saat dimana ia tinggalkan tadi. Hanya kali ini lebih kacau dengan masing-masing orang yang semakin mabuk. Bahkan dari sini Sehun dapat melihat kekasihnya yang sibuk memcubiti pipi kedua bocah malang, Jungkook dan Taehyung. Ia berjalan mendekat, prioritasnya saat ini ialah ingin menyelamatkan kedua bocah itu.
Namun begitu sudah akan menepuk pundak Taehyung yang memebelakanginya, Sehun terhenti melihat dengan pasti gambar dirinya dan Luhan berciuman tertera di layar ponsel yang di pegang Taehyung. Berusaha memperlihatkan foto tersebut kepada tak lain adalah Jongin kekasihnya.
Untung bagi Sehun, Jongin sendiri tampak jelas terlihat sudah terlalu mabuk untuk dapat menyadari apa dan siapa yang ada dalam foto tersebut. Menyadari kelengahan Taehyung, Sehun dengan cepat merebut ponsel tersebut. Melototi foto yang tampak sangat jelas sedang melakukan apa itu. Ia memandang kedua bocah yang terkejut dengan mulut menganga itu garang. Tidak memperdulikan Jongin yang mulai menyadari keberadaannya dan berusaha untuk meminta perhatian.
"Sehun.." geraman Jongin rendah. Membalikkan badannya dari posisi duduk di sofa untuk dapat meraih sang kekasih. Sehun hanya mengelus rambut Jongin sebagai balasan, namun pandangan tajam tak ayal lepas pada kedua bocah yang tampak mulai ketakutan ini.
"Kalian berdua" bisik Sehun sengit, menunjuk kedua bocah dengan jari telunjuk dan tengah. Lalu mengacungkan jari jempolnya ke samping dimana dapur berada. Mengisyaratkan mereka untuk segera pergi kesana. "Sekarang"
Jungkook dan Taehyung serta merta angkat kaki dari sofa untuk menuruti perintah Sehun yaitu menuju ke dapur. Sedangkan Sehun sendiri masih harus berusaha untuk melepaskan lengan Jongin yang melingkar kencang di pinggangnya. Jongin mengeluarkan lenguhan saat Sehun memaksa untuk menjauhkan tangannya. "Jongin lepaskan.."
Jongin menggeleng manja dan semakin mempererat pelukannya di pinggang Sehun, menghasilkan helaan nafas berat dari kekasihnya. "Aku harus ke toilet, Jongin" selanya cepat dan berusaha sekuat mungkin menarik diri dari genggaman kekasihnya.
Efek mabuk yang masih kuat membuat Jongin secara mau tak mau melepaskan rengkuhan tangannya sehingga menjadi kesempatan bagi Sehun untuk segera menghindar, mengambil langkah menuju dapur tempat kedua bocah yang sebentar lagi akan ia habisi.
...
"Hilang sudah kesempatan kita" keluh Jungkook saat mereka kini hanya berdua di kamar yang seharusnya ditempati oleh Chanyeol, Kris, dan Jongdae. Dikarenakan mereka yang terlalu mabuk hingga teler, Jungkook dan Taehyung kini resmi menempati kamar dengan kasur yang empuk itu.
Ia melirik pada Taehyung yang hanya duduk dengan kaki bersila di kasur, sedangkan ia sendiri duduk menyandar di sisi kasur. Berwajah murung akibat memikirkan kesempatan 'naik jabatan' telah sirna.
"Heh, kau kenapa santai saja"
Taehyung tak memperdulikan, ia hanya tersenyum dengan kepala yang mengangguk-angguk menatap layar ponsel.
Mulai gila. Batin Jungkook geram.
"Taehyung!" Kesal karena tak kunjung digubris, terpaksa membuatnya melayangkan tangan ke paha mulus sang sahabat keras sehingga menghasilkan pekikan nyaring dari korban.
"Apa-apaan?!" Teriak Taehyung akhirnya, tak terima. Memandang penuh amarah pada Jungkook yang masih pasang tampang merengut di bawah.
"Kau dengar tidak aku bicara ?!" Balas teriak Jungkook.
Taehyung mendecih lalu kembali menyamankan posisi di kasur besar dan empuk tersebut. "Iya, aku dengar. Tenang saja" ia kembali membuka kunci layar ponselnya. Lalu mengarahkan ponsel tersebut di depan wajah Jungkook. "Kali ini kita perlihatkan pada Jongin Hyung saat ia sudah sadar total dan sedang tak bersama Sehun Hyung" lanjutnya, tersenyum licik pada Jungkook yang melotot tak percaya menatap foto di ponsel temannya itu. Foto Sehun dan seorang pria yang sedang berciuman itu. Persis dengan yang sudah di hapus oleh Sehun di ponselnya.
"B-bagaimana bisa ? Kau- kau hebat" cicitnya dengan mata berbinar. Menatap penuh kagum pada Taehyung dengan tangan yang kini meremas-remas celana pendek sang sahabat.
Taehyung menjauhkan kembali ponselnya, masih tersenyum licik sambil menepuk dada bangga. "Begitu kita sampai, aku langsung bluetooth ke ponsel ku yang tertinggal, kau saja tidak lihat"
Pada akhirnya malam itu di habiskan oleh kedua bocah untuk berbahagia hati dan tidur yang nyenyak. Menanti saat dimana mereka akhirnya tidak akan dipandang sebelah mata oleh Kris cs.
.
.
.
Shootdanonymous
.
.
.
Walau hari sudah menjelang siang, sosok berkulit putih di dalam kamar minimalis masih enggan untuk bergerak barang sedikitpun. Kenyataan bahwa mata pemuda manis itu sudah terbuka sedari tadi tak membuat ia punya hasrat untuk bangun lalu mandi dan melakukan aktivitas pagi yang sewajarnya.
"Sialan" geraman rendah dapat terdengar keluar dari bibir terkesan kecil miliknya.
Sehun tidak dapat berfikir jernih barang sedikitpun saat ini. Ia bingung, takut, marah, dan sedih secara bersamaan. Lantaran kejadian malam tadi dimana kedua bocah yang ia sukai itu ternyata berupaya untuk menghianatinya. Walalu usaha mereka telah gagal, tapi tetap saja tak dapat membuat perasaan Sehun menjadi tenang. Ia jadi khawatir jika saja Jongin benar-benar mengetahui tentang perselingkuhan ini.
Ngomong-ngomong tentang Jongin, Sehun tak lagi ambil pusing. Entah kekasihnya itu tidur di sofa atau dimana ia tidak tahu. Yang Sehun lakukan setelah mengeluarkan amarah cacian makian serta ancaman pada kedua bocah tersebut ialah mengurung diri di kamar yang seharusnya ditempati oleh ia dan Jongin ini.
Sehun mengambil ponsel dan melihat jam yang sudah menunjukan pukul 12 siang. Sedikit tak menyangka bahwa memerlukan waktu setengah hari bagi Sehun hanya untuk merenungkan masalahnya.
Malas-malasan ia bangun, segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan memulai aktivitas tidak lagi paginya di luar. Jika sudah jam segini kemungkinan Jongin sudahlah bangun.
Setelah selesai mandi dan mengenakan pakainan yang santai ia akhirnya memutuskan keluar saat jam sudah hampir menunjukkan jam setengah satu.
Di luar dapat dilihatnya Kris, Jongdae, dan juga Chanyeol yang memasang tampang setengah sadar sambil menatap tak bernyawa pada televisi yang menampilkan acara berita.
Namun dimana sekiranya Jongin jika tidak berada disini bersama teman-teman mabuknya. "Dimana Jongin ?" Tanya Sehun agak nyaring pada Chanyeol yang perlahan mulai memejamkan matanya kembali. Chanyeol tersentak kaget, mengelus dadanya pelan, menatap Sehun nyalang dengan mata besarnya.
Berlebihan. Decih Sehun dalam hati. Tidak berfikir sama sekali bahwa wajar jika suaranya yang lumayan melengking dapat mengejutkan Chanyeol yang sedang dalam keadaan setengah sadar.
Chanyeol ingin memarahi Sehun, namun melihat wajah kekasih sahabatnya itu yang bahkan lebih sadis dari wajahnya membuat ia memutuskan untuk mengurungkan niatnya. "Di dapur"
Tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Chanyeol, Sehun beranjak menuju dapur untuk segera menemui Jongin. Entah mengapa hari ini ia hanya ingin Jongin dekat-dekat dengannya seharian. Perasaan Sehun gelisah. Gelisah jika Jongin bertemu dengan dua bocah tengik maka mereka akan menceritakan semuanya. Memang bukti sudah tidak ada, tapi tetap saja Jongin pasti sedikitnya akan tetap mencurigai Sehun.
Kegelisahan Sehun bertambah berkali-kali lipat saat menemui ketiga orang yang tak diinginkannya untuk bertemu sedang bersama di dapur. Menggigit bibirnya kuat saat melihat Jongin yang menatap kosong pada layar ponsel -yang sehun tak tahu milik siapa-. Melihat Taehyung dan Jungkook di sisi Jongin yang hanya diam pun membuat Sehun semakin resah. Itu. Yang dilihat Jongin, bukanlah sesuatu yang seperti ia duga, kan ? Bukanlah merupakan foto sial yang telah ia hapus tadi malam, kan ?
"J-jongin" entah mengapa Sehun malah memanggil nama kekasihnya, mengakibatkan ketiga orang yang dirasa baru mengetahui keberadaannya itu menoleh secara bersamaan. Ia tak peduli akan tatapan kaget kedua bocah itu, ia hanya peduli pada Jongin, yang tatapannya begitu menyakitkan untuk di lihat oleh Sehun. Akan lebih baik jika saja Jongin bersuara kali ini, entah marah memaki atau apapun. Tapi aksi diam serta tatapan kecewa yang terus Jongin tujukan pada Sehun malah membuatnya serasa ingin menangis saat itu juga. Tampaknya, tebakan Sehun tidaklah meleset sedikitpun tentang foto sialan yang telah Jongin lihat. Ia bahkan terlalu bingung saat ini walau untuk memberi tatapan pada kedua bocah yang merupakan dalang dari semuanya.
Dengan tenang Jongin menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Taehyung, perlahan mengambil langkah pasti untuk keluar dari dapur tanpa melihat bahkan menyentuh Sehun sedikitpun.
"Kalian puas ?" Adalah perkataan terakhir yang ditujukan Sehun pada kedua bocah itu sebelum berjalan keluar dari dapur dengan air mata yang tak dapat di tahan-tahan lagi.
Meninggalkan kedua bocah saling bertatapan, "apa yang sudah kita lakukan ?"
"Aku.. aku tidak menyangka akan seburuk ini"
...
"Aku bersumpah melihat Jongin menangis, Kris!"
"Jangan bodoh! Memangnya kau pikir ia bisa menangis karena apa ?"
"Tapi kenapa ia membanting pintu kamar seperti itu ?"
Pertanyaan dari Jongdae tak dijawab oleh Kris, kembali terlihat bingung akan tingkah tiba-tiba Jongin. Tidak dapat dipungkiri bahwa ia sendiripun sedikitnya melihat mata merah Jongin. Kris terlalu tak yakin untuk mengasumsikan begitu saja bahwa Jongin menangis. Ia sudah lama berteman dengan pemuda itu dan nyaris tak ada satupun hal yang dapat membuatnya mengeluarkan air mata. Secara dari awal juga geng yang ia bentuk sudah dijuluki 'preman'.
Sedangkan di balik dinding ruang tamu, Sehun berdiri menguping. Mau tak mau kembali mengeluarkan air mata mendengar kemungkinan kekasihnya yang menangis. Tidak yakin apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini. Sehun bahkan takut untuk memikirkan hubungan mereka kedepan. Apakah Jongin akan meninggalkannya begitu saja setelah ini ? Apakah sekarang ia benar-benar akan kehilangan Jongin ? Kenapa Sehun berfikir lebih baik mati dari pada memikirkan hal tersebut untuk menjadi kenyataan.
Ia sadar. Saat ini juga Sehun baru sadar, bahwa berselingkuh dari Jongin adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Kesalahan terbesar karena pada kenyataannya, ia begitu mencintai Jongin.
.
.
.
Shootdanonymous
.
.
.
"Sehun"
"Sehun, bangunlah"
Suara-suara bariton terus mengisi pendengaran Sehun sehingga membuat dirinya mau tak mau membuka mata. Ia berkedip pada Chanyeol yang berada di atasnya, tersenyum lebar saat melihat Sehun sudah terbangun.
Apakah ini mimpi ?
Apakah kejadian tadi hanya mimpi ?
"Tolong katakan padaku bahwa yang tadi hanya mimpi" cicit Sehun pelan, menatap Chanyeol dengan pandangan penuh harap sehingga membuat yang di tatap mengangkat alis kebingungan.
"Baiklah... err yang tadi hanya mimpi"
"Benarkah ?!"
Chanyeol menggaruk pipi, lalu mengangkat bahu. "Sejujurnya aku tak tahu"
Sehun menghela nafas panjang. "Dimana Jongin ?" Tampaknya pertanyaan itu akan memberi Sehun setidaknya sedikit petunjuk tentang mimpi atau tidakkah ia tadi.
"Jongin ya... sebenarnya aku malah ingin bertanya padamu, kenapa Jongin tiba-tiba saja memutuskan untuk pulang ?"
Sehun terduduk, meringis pelan merasakan pegal di bagian lehernya. "kau sakit, Sehun ? Itulah mengapa kau malah tidur di lantai begini"
Sehun tak menjawab. "Apa maksudmu Jongin pulang ?" Namun menimpali dengan pertanyaan lain.
"Dia tampak marah setelah dari dapur, jika aku tak salah kau menghampirinya di dapur, bukan ? Yah setelah itu mengurung diri di kamar. Begitu keluar, ia sudah membawa barang-barangnya dan langsung pergi begitu saja" Chanyeol mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan. "Apakah kalian sedang ada masalah ?"
Lagi-lagi, untuk yang kesekian kalinya Sehun tak menjawab.
"Antarkan aku pulang, sekarang, kumohon"
Chanyeol tersentak kaget saat Sehun menggenggam kaus di bagian dadanya, lebih-lebih saat melihat air mata yang mulai deras menetes dari mata Sehun. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah berusaha menenangkan dengan membawa tubuh kurus itu ke dalam pelukannya. Serta membisikkan kata penenang dengan berjanji akan mengantarkannya sebentar lagi.
.
.
.
Shootdanonumous
.
.
.
"Jongin, ini eomma nak, buka pintunya sebentar"
Untuk kesekian kali, eomma Jongin mengetuk pintu kayu mahoni itu, berusaha sesabar mungkin menghadapi Jongin yang pulang-pulang sudah mengurung diri di kamar tanpa penjelasan apapun. Pada akhirnya wanita paruh baya itu hanya dapat menatap pasrah pada orang di sampingnya saat tak mendapat respon apapun dari Jongin.
Sehun menggigit bibir menahan tangis. Rasa khawatir tiba-tiba menghampirinya mengingat Jongin sedang sendirian di dalam sana dengan keadaan yang bisa dibilang sedang stres. Ia takut Jongin melakukan hal-hal negatif yang akan melukai tubuhnya sendiri.
"Sudah, jangan menangis. Sabar dulu dan tunggu Jongin untuk menenangkan fikirannya" titah eomma Jongin lembut sebelum meninggalkan dirinya sendiri di depan pintu kamar Jongin.
"Jongin" akhirnya setelah berdiri selama satu jam tanpa melakukan apapun di pintu kamar Jongin, ia bersuara.
"Jongin!" Panggilnya lebih keras, namun apa yang ia harapkan. Jongin keluar kamar dan memeluknya ? Jangan mimpi.
Sehun menghela nafas panjang, ia terduduk dengan menyandar pada dinding pintu kamar Jongin. Air mata yang belum juga kering dari pipinya terus ia usap. Tidak adanya kegiatan yang dapat ia lakukan selain menunggu Jongin keluar, Sehun mengambil secarik kertas dan bolpoin yamg berada di meja terdekat. Menuliskan sesuatu disana sebelum memasukkan secarik kertas tersebut di bawah pintu kamar kekasihnya.
'Apa yang harus ku lakukan agar kau mau keluar ?'
Sungguh Sehun hanya merasa sangat putus asa saat ini. Ia bahkan tak tahu apa yang di lakukannya. Yang ia ingin hanya Jongin yang keluar dari dalam kamar sehingga ia bisa bicara.
Ngomong-ngomong bicara, memangnya apa yang ingin ia bicarakan, eh ? Kalau boleh jujur Sehun bahkan tak tahu harus bicara apa. Menyangkal, apa yang harus di sangkal jika foto tersebut merupakan kenyataan.
Setengah jam Sehun duduk dengan memeluk lutut, ia nyaris tertidur dengan kepala yang ia letakkan di lututnya jika saja tak merasakan sesuatu yang menyenggol kakinya. Sehun menatap kertas yang tampak membungkus sesuatu di dalamnya. Ia menolah ke kanan kiri untuk melihat siapakah yang tiba-tiba menaruh benda ini disini. Namun tak ada siapapun. Kemungkinan yang paling pasti akan siapa yang memberikan benda ini hanyalah seseorang di dalam kamar yang menolak untuk membukakan pintu.
Dengan cepat Sehun membuka kertas yang membungkus benda tersebut, menyerngit heran saat ujung jarinya mulai menyentuh sesuatu yang dingin dan dibuat terheran-heran saat sudah benar-benar melihat benda yang ada di dalamnya.
Sebuah pistol. Dengan secarik kertas pembungkus pistol tersebut yang ternyata terdapat tulisan tangan Jongin.
'Tembak dirimu sendiri'
Sehun menatap pistol di tangannya.
Jadi ini balasan Jongin, ia ingin Sehun mati ? Baiklah lebih baik persiapkan diri karena Sehun tidak akan main-main.
.
.
.
Shootdanonymous
.
.
.
Jongin sedang menatap jendela kamar dengan rubik yang ia mainkan di tangan. Suasana kamar sangat tenang bahkan suasana di luar yang Jongin tahu masih terdapat Sehun pun terdengar sangat sunyi.
Namun seakan sudah di atur, Jongin yang merasa keadaan begitu sunyi dikagetkan dengan suara ledakan senjata api yang ia yakin berasal dari mana.
Ia melotot mendengar teriakan nyaring Sehun, menjatuhkan apapun yang ada di tangannya untuk berlari ke arah pintu.
Sehun tidak mungkin serius menembak dirinya!
Seakan ingin jatuh pingsan, Jongin terduduk melihat orang yang terus ia pikirkan kini berlumuran darah.
Sehun menatapnya. Jongin tahu ia sangat ketakutan melihat bibir merah muda itu yang terus bergetar. "Jongin... darah... kaki ku"
"Apa yang.." Jongin tak dapat melanjutkan perkataan saat mendengar teriakan eommanya yang baru saja tiba. "apa yang kau lakukan Oh Sehun?!" Teriak Jongin kesetanan. Mengangkat tubuh kekasihnya dalam gendongan dengan eommanya yang mengarahkan untuk ke luar rumah, menuju ke mobil untuk segera mengantar Sehun ke rumah sakit. Dalam perjalanan samar-samar Jongin dapat mendengar Sehun yang menjawab pertanyaa eommanya tentang apa yang ia lakukan.
"Aku kira pistol mainan" kemudian tak lama kembali meringis membuat Jongin panik dan menambah kecepatan mobilnya.
Sialan Sehun dan keminiman pengetahuannya tentang senjata api. Karena siapapun tahu tidak ada pistol mainan yang seberat itu.
Batin Jongin geram. Dan khawatir. Tentunya.
.
.
.
.
Tbc
A/N: Cuma bisa bulang sorrryyyy karena apdetan yang super lama. Kalo di sebutin alesannya ya banyak banget, kemaren un terus skrang gue lagi tes polwan ya pokoknya super sibuk. Jadi harap di understand ya ;D
Maap lagi, chap ini ga jawab pertanyaan dulu lah ya gabung di chap depan aja. Yokey sekian :* muup kalo masih ada typo T_T
