Don't Cheat On Me, Baby!

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Huang ZiTao, Do Kyungsoo, Zhang Yixing, Park Chanyeol, and Other.

Rated: T

Chaptered

Pair: KaiHun, HanHun

Warning: Yaoi, BL, Typo(s)

Disclaimer: Punya siapa coba

Summary: Sehun memiliki Jongin sebagai kekasih, si mantan preman sekolah. Inginnya Sehun meniti masa depan yang cerah dengannya, namun jika disuguhi oleh pengusaha muda nan kaya raya seperti Luhan apa mungkin Sehun bisa setia ?..

.

.

.

.

.

Jongin menatap nanar pada seonggok manusia yang 'masih' menjabat sebagai kekasihnya, terbaring di kasur putih rumah sakit seolah manusia paling tak memiliki beban di dunia. Ia mengacak rambut yang sudah berantakannya sehingga membuat semakin tak berbentuk. Terlalu banyak emosi yang ingin ia curahkan pada kekasih kurusnya ini. Marah, kesal, bahkan khawatir semuanya bersatu sehingga membuat Jongin tak dapat mengutarakan satupun. Lagi pula bagaimana bisa jika Sehun sendiri sudah membuat dirinya masuk rumah sakit. Secara bodoh menembakkan glock17 nya kelantai namun malah mengenai kakinya sendiri. Iya, itu yang ia dengar saat Sehun bercerita pada eommanya. Lebih-lebih lagi yang membuat Jongin semakin ingin menjambaki rambutnya adalah kenyataan bahwa Sehun tak tahu menahu bahwa pistol yang main-main ia berikan itu adalah pistol asli.

Walau tadi Jongin tampak khawatir bukan main, ia sekarang sudah dapat sedikit-sedikit menenangkan diri. Karena, well Sehun tidak benar-benar bermasuk menembak dirinya sendiri demi Jongin, oke ?. Ini semua hanyalah ketidak sengajaan. Dan luka yang di derita Sehun pun bukanlah luka parah yang memerlukan dirinya untuk di rawat inap. Bahkan ingin pulang saat ini pun bisa. Hanya Sehun saja yang terlalu manja dan malah tertidur.

Jongin kembali menatap wajah manis Sehun yang tampak sangat menggemaskan, tidur dengan bibir merah yang sedikit terbuka. Memori tadi siang mau tak mau kembali menghantam ingatannya sehingga membuat amarah kini perlahan mulai menghampiri. Ia tak menyangka, sama sekali tidak menyangka bahwa Sehun yang sudah benar-benar ia cintai ini bermain di belakangnya.

Jika Sehun seperti mantan-mantannya sebelum ini, sungguh demi apapun Jongin tak akan ambil pusing. Namun ini Sehun, Sehunnya yang sudah ia percayai luar dan dalam. Di selingkuhi oleh Sehun adalah kemungkinan terakhir yang ia perkirakan dapat terjadi dalam hidupnya. Jongin tidak tahu langkah apakah yang harus ia pilih setelah ini. Memaafkan Sehun ? Jangan harap. Tapi, meninggalkan Sehun ? Memang tak pernah sekalipun memikirkan hal itu, namun jika mengingat kembali foto tersebut rasa-rasanya ia memiliki banyak dorongan untuk langsung memutuskan kekasih yang paling di cintainya itu.

Entahlah, Jongin masih bingung dengan perasaannya sendiri.

"Persetan" decih Jongin, pada akhirnya memilih untuk tak ambil pusing dan meninggalkan ruang VIP tersebut. Ia bertemu eommanya dan tanpa diduga bertemu dengan orangtua Sehun yang baru saja tiba. Oh, oke. Jongin akan memilih untuk tak ambil pusing dengan Tuan Oh yang melotot padanya. Terserah dengan apa yang akan dipikirkan orangtua Sehun tersebut, ia tak peduli. Saat ini Jongin hanya ingin menjauh dan menenangkan diri.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

"Apa kau bilang ?! Kau suruh dia tembak diri sendiri ?!"

Malam hari melelahkan yang seharusnya menjadi tempat Jongin menenagkan diri harus sirna karena teriakan melengking Chanyeol yang menyakitkan telinga. Jika suaranya lembut dan merdu ia senang-senang saja. Tapi ini Chanyeol, yang suaranya bak sepuluh ton besi. Berat.

Jongin meringis sebelum menjawab. "Tentu saja aku tak bermaksud, aku hanya iseng, oke ? Tidak tahu kalau dia tidak bisa menbedakan pistol asli dan palsu"

"Terang saja, dia kan bodoh" sahut Kris dari sisi sofa yang lain. Dan mendapat delikan tajam dari Jongin. "Apa ? Mau membelanya setelah apa yang ia lakukan padamu ?" Lalu seketika membuat Jongin bungkam mendengar ucapan yang terlalu telak tersebut.

"Jadi bagaimana keadaannya ?"

"Baik" Jongin menggigit bibirnya sebelum melanjutkan. "Aku tak peduli"

Chanyeol memutar mata. "Yah, tentu saja kau tak peduli. Jadi Sehun ke rumah sakit bagaimana kalau bukan kau yang antar, jalan kaki ? Terbang ?" Nada sinis jelas ketara dalam setiap kata-kata sahabatnya ini. Menghasilkan tatapan heran dari keenam pasang mata yang ada disana. Bahkana Jongdae yang memutuskan untuk tidur pun terbangun mendengar ucapan Chanyeol. Tidak ada yang salah, jika saja cara bicaranya tak terkesan sedang membela Sehun. Orang yang jelas-jelas bersalah dalam kasus ini.

"Sebenarnya kau ini kenapa ?"

Chanyeol tak manjawab. Dengan canggung ia mengambil sebungkus snack di meja dan menyibukkan diri dengan memakannya.

"Ngomong-ngomong kau tau darimana semua ini ?" Tanya Jongdae, yang tampaknya tak lagi memiliki mood untuk tidur dan memilih untuk bergabung dalam percakapan.

"Jungkook dan Taehyung, mereka berhasil memotret Sehun yang berciuman bersama pria kaya raya sialan itu" untuk mengingat wajah Luhan yang sok tampan itu saja rasanya membuat Jongin ingin memakan lelaki itu bulat-bulat.

Kesan Jongin pada pemuda itu, si Luhan, tidak lebih hanyalah pria berdompet tebal namun berbadan tipis. Bandingkan dengan tubuh Jongin yang berbentuk walau masih SMA. Pasti jauh sekali dengan tubuh kurus kerempeng Luhan. Iya, itu menurut Jongin, dia kan tipe orang yang suka sekali Jugde A Book by It's Cover. Padahal tidak tahu menahu dalamnya Luhan kotak atau datar. Ah, sudahlah Luhan tidak penting dalam kasus ini. Jongin tidak peduli lagi.

"Ah, jadi selingkuhannya kaya, ya tidak heran" tukas Jongdae sebelum kembali berbaring di sofa.

"Apa maksudmu tidak heran ?"

Jongdae yang sudah pasang posisi nyaman untuk tidur, mendongak sekilas. "Ya jika dia selingkuh dengan orang miskin itu baru aku heran" lalu kembali melanjutkan kegiatan tidurnya seolah baru saja mengatakan suatu hal paling normal. Jongin mendengus, memilih tak ambil pusing pada kikikan Chanyeol di samping atas candaan Jongdae yang tidak lucu, sama sekali tidak lucu.

"Lalu setelah ini kau mau apa ?" Muncul pertanyaan yang ia bahkan tak tahu jawabannya dari Kris.

Jongin mengangkat bahu, kembali mengusak rambut berharap dapat menghilangkan stres dari kepalanya.

"Menurut kalian bagaimana ?" Beberapa menit terdiam, Jongin akhirnya ambil suara. Dan berhasil mendapat perhatian dari ketiga sahabatnya di ruangan itu.

"Jika aku jadi kau, akan aku putuskan" sahut Kris cepat sebelum kedua teman yang lain sempat menyela. Lalu melanjutkan, "Tapi jujur saja membayangkan kau putus dengan Sehun..." ia menggantungkan omongannya sejenak. "Seperti tidak mungkin"

"Apanya yang tidak mungkin ?" Tanya Jongin cepat. Ia tidak nyaman dengan kata-kata 'tidak mungkin'. Well, Sehun berselingkuh dan Jongin mungkin saja untuk mengakhiri hubungan. "Ku kira kau tidak suka Sehun, Kris"

"Aku tidak pernah bilang suka dengan bocah itu, oke ? Hanya berpendapat, jezz" lalu kembali asyik dengan ponsel yang di genggamnya sedari tadi.

"Perbuatan Sehun memang tidak bisa di maafkan"

Jika saja Jongin tidak jaga imej, mungkin ia sudah latah sambil usap-usap dada saat ini. Karena Jongdae yang pada awalnya duduk di sofa paling jauh dan kini pindah di samping Jongin itu sungguh bikin kaget. Serius.

"Tapi semuanya tergantung pada dirimu. Saranku jauhi dulu untuk sementara, bukan hanya memberi waktu untukmu berfikir, tapi juga dirinya. Mungkin saja dia bisa menyadari kesalahan, maklum, dia masih labil" Jongin menyerngit akan kata terakhir yang di ucapkan Jongdae. Namun memilih untuk tak ambil pusing dan menganggukkan kepala mengerti.

"Tapi bagaimana kalau dia malah bersama.. Luhan ?" Jongin bertanya takut-takut, bukan takut kepada Jongdae. Tapi takut akan kemungkinan yang akan terjadi bila ia meninggalkan Sehun walau untuk sementara waktu. Well, memang tidak dapat dipungkiri cinta Jongin sudah terlanjur besar pada Sehun. Sampai-sampai yang tadinya berfikiran ingin mengakhiri hubungan jadi takut sendiri jika sang kekasih lebih pilih orang lain.

Dasar plin-plan.

"Kalau begitu, semuanya tergantung akan bagaimana keyakinanmu pada Sehun. Jika menurutmu ia pantas di beri kesempatan, maka lakukan saja. Jika tidak, ya tinggalkan. Seperti kata Chen, Sehun masih labil"

Entah sebenarnya ada apa dengan kedua temannya ini yang berubah bijak. Padahal mulut-mulut itu sudah biasa digunakan untuk menyumpah dan memalak adik kelas. Apalagi Chanyeol.

Ia semakin dibuat bingung oleh keduanya jujur saja, sebagian diri Jongin membenarkan omongan mereka namun masih ada sisi dalam dirinya yang seakan ingin meledak-ledak, perasaan marah serta kecewa terhadap Sehun.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

Sehun sudah pulang dari rumah sakit, sedang berbaring telentang di kasur empuknya yang nyaman. Walau tidak senyaman hatinya saat ini. Ia gelisah, memikirkan kekasih yang ada jauh di sana, entah di rumahnya atau dimana. Beberapa kali menelfon tapi tidak diangkat. Yang ada malah menerima pesan dari Luhan, menanyakan ada dimana dan ini itu. Bahkan pagi-pagi sudah berkunjung ke rumah tapi Sehun bersikeras untuk bergelung dengan selimut dan pura-pura tidur hingga akhirnya pria itu menyerah dan memilih pulang. Luhan bahkan tidak tahu keadaan Sehun saat ini yang kaki tengah mengalami luka akibat senjata api. Sengaja tidak ingin memberitahu, bukan karena takut membuatnya khawatir, tidak. Hanya tidak mau Luhan terus-terusan datang kesini, merawat dan memberi perhatian berlebihan kepadanya. Saat ini untuk melihat wajah Luhan pun tidak bisa apalagi mau menghabiskan waktu bersama seharian. Yang ada malah bertambah rasa bersalahnya terhadap Jongin. Untung orangtuanya bisa di ajak kerja sama untuk tidak memberi tahu Luhan.

Banyak hal yang tengah dipikirkan Sehun sekarang, banyak sekali. Tentang bagaimana bisa bangun-bangun Jongin tidak ada di rumah sakit menemaninya, bagaimana bisa Jongin selama ini menyimpan senjata api dan ia tidak tahu, dan bagaimana bisa dengan bodohnya ia menembaki kaki sendiri. Masih banyak hal yang tak dapat Sehun ekspresikan tentang fikiran-fikiran yang ada di kepalanya saat ini. Yang jelas sangat kusut hingga serasa ingin pecah.

"Apa langsung saja ke rumahnya ?" Dialog Sehun pada tembok kamar. Memiliki pemikiran untuk langsung ke rumah Jongin walau ia belum tahu tepat dimana keberadaan pria itu saat ini.

Namun Sehun harus kembali berfikir ulang untuk keluar rumah dengan kondisi seperti ini, pertama orangtuanya tidak mengizinkan untuk bertemu Jongin, kedua orangtuanya tidak mengizinkan untuk keluar terlebih dahulu, ketiga orangtuanya sekali lagi mengatakan dengan tegas untuk tidak bertemu Jongin. Lalu Sehun harus bagaimana ? Ingin keluar rumah pun sudah pasti dicurigai.

Sehun melirik pada jendela kamarnya.

Ada kesempatan. Dan kesempatan itu adalah dengan keluar dari jendela.

Ia beranjak dengan bergulung-gulung seprai di tangannya ke arah jendela. Melihat ke bawah dimana penuh dengan tanamam hijau milik eomma. Sehun sudah sering lihat adegan ini di televisi dan ia yakin pasti bisa melakukannya. Harus.


"...masuk rumah sakit.. lagi ?"

Eomma Kim Jongin mengangguk atas pertanyaan putra satu-satunya. Menatap penuh rasa khawatir pada Jongin yang ekspresi sudah lebih kusut dari kemeja sang appa yang masih belum di setrika oleh eomma.

Jongin menelan air liurnya untuk membasahi tenggorokan yang kering setelah terlalu lama terdiam mendengar pernyataan sang eomma.

Sehun masuk rumah sakit.

"B-bagaimana bisa ?"

"Katanya dia terjatuh saat mencoba turun dari jendela, kakinya terkilir cukup parah dan lukanya terbuka-"

"Untuk apa turun dari jendela?!"

Eomma Kim menggeleng tidak tahu, memegang pundak sang anak untuk membuatnya lebih tenang.

"Jongin, ini hanya spekulasi ku, tapi eomma rasa ini ada kaitannya denganmu"

Telinga Jongin berdenging, ia menatap sang eomma lekat-lekat untuk meminta penjelasan. "Maksud eomma ?"

"Kemarin sewaktu kau pergi dari rumah sakit, orangtua Sehun sempat bicara padaku, mereka bilang saat ini lebih baik untuk tidak mempertemukan kalian berdua" Nyonya Kim mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan. "Mungkinkah Sehun berusaha kabur dengan melewati jendela untuk menemuimu.. ?"

Jongin menyerap omongan eommanya lalu kembali terdiam. Mencari-cari sangkalan bahwa yang dikatakan eomma tidaklah benar. Namun semuanya masuk akal. Sehun pasti sangat ingin menemui Jongin, namun orangtuanya tidak mengizinkan, lalu ia memilih cara kabur dari rumah dengan melalui jendela. Ini semua terlalu masuk akal. Dan Jongin tidak dapat membendung rasa bersalahnya ketika ia sadar, bahwa dirinya telah menjadi penyebab Sehun celaka. Dua kali.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

Jongin melihat dari balik pintu, bagaimana Sehun yang tengah terbaring dengan sang eomma yang memberinya potongan apel.

Ia menarik nafas lalu memantapkan diri untuk mencapai gagang pintu bernomor 120 pelan. Anak dan Ibu yang berada di ruangan rawat inap itu sontak menoleh, tampak begitu terkejut dengan kedatangan tiba-tiba Jongin.

"Jongin.." guman Sehun pelan, mata yang semula tampak lelah kini berbinar. Membuat Jongin ingin memeluk tubuh kurus itu dan berkata 'aku disini', tapi ia urungkan, hanya bermodal tatapan datar pada Sehun dan risih terhadap eomma Sehun.

"Eomma, bisakah... bisakah eomma keluar sebentar ?" Sehun memilih untuk bertindak cepat, meminta dengan takut-takut agar sang eomma memberi ruang berdua untuknya dan Jongin. Ia ragu jujur saja, mengingat betapa kedua orangtuanya sangat menentang untuk bertemu kembali dengan Jongin. Namun sebuah anggukan singkat dari eomma berhasil membuat keraguan Sehun sirna. Nyonya Oh berdiri dan mengecup kening Sehun singkat, lalu berkata,

"Appa akan datang sepulang dari kantor, kalau begitu eomma pergi dulu" sebelum akhirnya melangkahkan kaki ke arah pintu. Jongin menunduk sopan pada nyonya Oh dan di balas dengan anggukan singkat. Setelah memastikan nyonya Oh telah benar-benar keluar, Jongin beralih pada sosok yang tengah terbaring, menunggu dirinya untuk berjalan mendekat.

"Jongin" Sehun kembali menyerukan namanya dengan mata berbinar itu lagi. Membuat Jongin mau tak mau mendesah dalam hati melihatnya. Apakah Sehun benar-benar senang melihatnya ataukah ini salah satu tipuan ... ?

Jongin berjalan mendekat dan menempati kursi yang tadi sempat diduduki oleh nyonya Oh.

"Ada yang sakit ?" Adalah kalimat pertama yang di lotarkan Jongin setelah lama berdiam. Wajah Sehun yang awalnya cerah, seketika cemberut dengan bibir yang maju dan mata yang berkaca-kaca. Lalu mengangguk-anggukan kepalanya. "Kaki ku sakit sekali"

Jongin tahu itu adalah salah satu cara Sehun meminta perhatian. Ia pun menanggapi, "Coba lihat"

Sehun menyibak sedikit selimut rumah sakit yang menutupi kakinya sehingga Jongin kini dapat melihat dengan jelas apa yang ada di baliknya.

Kaki penuh memar biru dan sebuah perban yang tampak masih mengeluarkan sedikit darah segar.

"Apa yang terjadi ?" Tanya Jongin tanpa mengalihkan pandangannya dari kedua kaki Sehun. Ia sudah tahu atas apa yang terjadi, namun memilih untuk mendengarnya langsung dari Sehun.

Sehun tampak terdiam lama hingga Jongin tak tahan untuk tak melihat wajahnya. Seolah menuntut Sehun untuk segera bicara.

"Aku... terjatuh saat berusaha kabur dari jendela, ikatan kain yang kugunakan terlepas dan.. beginilah" wajah Sehun yang kini murung mengiringi dirinya saat bercerita. Membuat perasaan bersalah yang bertambah besar pada diri Jongin.

"Kenapa kau melakukannya ?" Yang ini, Jongin juga sudah tahu alasannya.

Sehun menggigit bibirnya sebelum menjawab, "Aku ingin bertemu denganmu"

"Dan sekarang lihatlah, kau malah celaka" Jongin menjawab cepat, tak dapat menyembunyikan rasa khawatirnya pada Sehun. Dan hal itu tampak sangat jelas.

Sehun diam saja, ia menunduk menatap pada kancing piyama yang masih ia kenakan.

"Jika tidak begini, kau tidak akan menemui ku, kan ?" Lirih Sehun pelan, masih memandang kancing pada piyamanya seolah itu adalah hal paling menarik.

Sedangkan Jongin, ia bungkam. Memang benar adanya ia tidak mau menemui atau ditemui Sehun jika saja tak mendengar kabar bahwa Sehun masuk rumah sakit lagi, dan mengingat hal tersebut hanya membuat Kim Jongin merutuki dirnya sendiri.

Sehun menatap wajah kekasihnya saat tak mendapat jawaban, menelan ludah kecewa dan mengartikan bahwa aksi diam Jongin menandakan jawaban iya. Iya Jongin tidak akan menemuinya jika saja ia tidak begini.

"Tidak apa, yang penting sekarang kau disini" Ucap Sehun kembali. Memberi senyum kecil saat Jongin menatapnya.

Sehun kembali menelan ludah. Lalu menatap Jongin lekat-lekat, ia ingin membahas masalah selingkuh tersebut namun terlalu takut itu semua hanya akan merusak suasana. Maka dari itu Sehun memilih untuk tak memulai topik tersebut terlebih dahulu, kecuali jika Jongin yang meminta penjelasan.

"Sehun"

"Hmm ?"

"Kurasa... sebaiknya kita akhiri saja"

"...a-apa ?"

"Ya, kita berakhir, hubungan kita berakhir"

.

.

.

.

.

Tbc

A/N: Kaihun putus gaes pada ngira bakal baikan ya ciee ketipu hahahahaha /tolong gebukin aja saya buk pak ._.v oke, sorry for the long wait masih sibuk-sibuknya sih gimana lagi. Ya gini dateng2 kaihunnya udah putus aja terkejut gak kalian ? Enggak ? Yaudah wkwk. En makasi ya buat doanya sekalian gue jujur kok luv yu gaes muah :* Udah ah malah tambah stres gue. Jawab pertanyaan dulu dah. Tapi gini kalo jawabannya udah terjawab di chp sebelumbya ga saya jawab disini lagi ya.

. Jongin sama sehun belum pernah 'nganu' ? 'nganu' apaan qaqa aku gak understand :/. haha engga engga belom pernah gitu-gitu Jongin bisa nahan diri kok.

.villa yang mereka tempatin punya Luhan ? Bukan, itu punyanya paman chanyeol.

.kalo kaihun putus apa sehun bakal milih Luhan ? tidak tidak, sehun tidak sejahat itu.

.sehun bener2 cinta Luhan ? Lebih kayak perasaan sayang atau nyaman, ya itu karena kemauannya diturutin Luhan.

.Setelah ketauan selingkuh Jongin tetap nerima sehun atau bakal diputusin ? Yak jawabannya diputusin ;D

.sehun nembak kakinya ? Sebenarnya nembak lantai cuma kena kaki dikit.

Sekian, maaf banget kalo ada yang ga kejawab :(