Don't Cheat On Me, Baby!

Cast: Oh Sehun, Kim Jongin, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Huang ZiTao, Do Kyungsoo, Zhang Yixing, Park Chanyeol, and Other.

Rated: T

Chaptered

Pair: KaiHun, HanHun

Warning: Yaoi, BL, Typo(s)

Disclaimer: Punya siapa coba

Summary: Sehun memiliki Jongin sebagai kekasih, si mantan preman sekolah. Inginnya Sehun meniti masa depan yang cerah dengannya, namun jika disuguhi oleh pengusaha muda nan kaya raya seperti Luhan apa mungkin Sehun bisa setia ?..

.

.

.

.

"Kurasa... sebaiknya kita akhiri saja" kalimat itu mengalir mulus dari bibir plump Jongin, terdapat sedikit gurat keraguan namun toh, ia tetap berhasil mengatakannya. Dan mata itu begitu tegas memandang ke arah Sehun, sehingga membuat seseorang yang diberi tatapan seperti itu terdiam pasif.

Rasanya sakit sekali, sungguh tidak bohong. Mendengar kalimat mengerikan yang terus membayanginya belakangan ini, tidak, sehun tidak bermaksud ber-hyperbol atau apapun, namun ia tak bisa mungkir bahwa kata 'berakhir' dari Jongin sempat terpikir di benaknya. Hanya saja tidak menyangka akan secepat ini... dan sesakit ini.

"A-apa ?" Nafas Sehun bisa dikatakan agak terputus. Meyakinkan sekali lagi bahwa yang dikatakan Jongin adalah gurauan semata. Namun, hell, siapapun yang bergurau dalam keadaan seperti ini minta di penggal kepalanya oleh Sehun.

"Ya, berakhir" ucapnya sekali lagi. Lebih tegas dari sebelumnya. "Hubungan kita berakhir"

Kunci saja mulutmu Kim Jongin. Karena Sehun tidak mau dengar lagi kata-kata semacam itu! Pokoknya sudah cukup.

Satu-satunya respon hanyalah dengan menunduk, tanpa bisa dicegah nafas Sehun memburu begitu kuat, dada terasa sesak dan dorongan menangis bukan main lagi rasanya. Tapi tidak, ia tidak mau menangis, tidak mau terlihat cengeng, tidak mau terlihat menyedihkan, tidak mau pokoknya tidak mau.

Namun sialan, air mata brengsek tidak mau berhenti mengalir dari kedua matanya, meski Sehun menunduk sedalam apapun, yang melihat dari jarak sedekat Jongin juga pasti tahu kalau ia sedang menangis. Buktinya, Sehun dapat merasakan tangan Jongin yang dengan lembut mengangkat dagunya, menampilkan wajah jelek memerah dan menahan tangis milik Sehun untuk ia pandangi.

Jongin tersenyum melihat pemandangan di depannya.

Dasar cengeng. Menangis hanya karena di ajak putus. Memang apa sedihnya diputusi oleh ku, hah ? Selingkuhanmu itu kan lebih kaya, kenapa tidak iyakan saja keputusan ku, agar aku bisa dengan tenang pulang kerumah tanpa harus terbebani dengan wajah menangis polos bak anak bayi seperti ini.

Inginnya Jongin sih, marah-marah seperti itu kepada Sehun. Tapi ya ia urungkan saja agar masalah tidak tambah keruh.

"Sudahlah, Sehun. Tidak usah menangis" akhirnya hanya sekedar kata itu saja yang Jongin gunakan untuk sedikit menenangkan Sehun.

Buru-buru Sehun mengusap air matanya menggunakan lengan pakaian rumah sakit.

"Aku tidak mau" ucapnya lebih terdengar seperti bisikan.

"Hm ?"

"Aku tidak mau putus!" ulang Sehun lagi dengan agak berteriak.

Jongin menghela nafas, menjauhkan tangannya dari dagu Sehun, agak kesal sekiranya dengan ucapan Sehun yang semuanya sendiri. Namun ia tahan kembali keinginan untuk mendamprat pria manis ini dengan kata-kata kasar. Walau masih sakit hati, Jongin tidak akan pernah memungkiri rasa cintanya pada Sehun. Tapi cara ini, adalah cara paling benar -menurutnya- yang ia pilih serta balasan setimpal bagi Sehun.

"Aku tidak mau jika tanpa mu. Aku mencintaimu, sungguh sekarang aku sadar bahwa hanya kau saja yang aku mau, tidak perduli bagaimanapun keadaanmu. Aku... aku hanya mau kau di sisiku bukan orang lain" walau diucapkan dengan lantang, masih terdengar jelas getaran dalam setiap kata yang Sehun ucapkan.

"Dengar" desah Jongin pelan. Menangkap perhatian seseorang yang kembali menundukkan kepalanya. "Aku mencintaimu, kenyataan itu tidak akan pernah berubah"

Sehun mengadah, menampakkan wajah beceknya dan mata beruraian air yang penuh harap saat kata-kata itu ia dengar.

"Aku terlalu mencintaimu hingga rasanya dihianati olehmu adalah hal paling tidak termaafkan"

Dan sedetik kemudian menyesal karena telah berani berharap lebih.

"Dan kau," ternyata Jongin masih belum selesai dengan kata-kata. "Sekali kau berselingkuh, kau pasti akan tetap melakukannya"

Tidak, itu tidak benar!

Sehun ingin sekali berteriak begitu, tapi tidak sanggup karena sudah lebih didahului oleh air matanya. Ia menangis lagi, benar-benar cengeng yang sangat cengeng. Tapi ia tidak perduli, kalau bisa, kalau bisa ia akan menangis di kaki Jongin sekalipun, jika itu bisa merubah keadaan.

Lama mereka terdiam, hanya terdengar sesekali isakan tangis Sehun yang sudah ia coba tahan mati-matian.

"Itu saja yang ingin aku ucapkan, aku pergi"

Jongin beranjak berdiri dan segera ingin pergi jika saja tidak ada tangan yang menahannya. Ia menghela nafas dan berdebat dalam hati antara ingin membalikan badan atau tetap pada posisi semula. Sejujurnya, yang Jongin inginkan hanya segera pergi dari tempat ini, dimana ia bisa berada cukup jauh dari Sehun dan tidak melihat wajah penuh air mata pria tersebut.

Ia hanya takut akan menyesali keputusannya. Itu saja.

"Aku mohon Jongin"

Jongin memejamkan mata sejenak, bisikan lemah seperti itu adalah hal terakhir yang ingin ia dengar dari Sehun.

Namun ia sudah tetap pada pendirian awal, "Maaf aku buru-buru" dan melepaskan paksa genggaman Sehun untuk segera keluar dari ruang rawat inap bernomor 120 tersebut.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

Garis bibir yang semula datar tersebut perlahan naik, membuat senyuman simpul yang menyimpan sejuta makna dibaliknya. Luhan bergerak cepat saat didengarnya langkah kaki mendekat. Melangkah dengan pasti menjauhi ruang rawat inap yang merupakan tempat ia berdiri beberapa waktu tadi.

Yang tadi itu, ia baru saja menguping, iya menguping, menguping pembicaraan antara Jongin dan Sehun tepatnya. Luhan memang tidak mendengar secara jelas, namun yang pasti ia yakin Jongin mengucapkan sesuatu tentang 'berakhir' dan 'selingkuh', dua kata itu saja sudah membuat Luhan dapat menyimpulkan sesuatu, Jongin mengetahui rahasia kecilnya dengan Sehun sehingga yang terjadi adalah Jongin memutuskan hubungan mereka. What a good news.

Tanpa bisa menyembunyikan senyum licik di bibirnya ia terus berjalan menuju ke basement, menuju ke arah mobilnya terparkir. Luhan akan menuju ke suatu tempat, tepatnya untuk menemui seseorang, seseorang yang tentunya harus tahu tentang kabar bagus yang baru ia dengar secara langsung ini.

...

"Aku ingin bertemu CEO"

Seorang resepsionis yang menyadari keberadaan seorang Xi Luhan dihadapannya langsung mengangguk paham dan mengambil ganggang telfon untuk menghubungi sang CEO.

"Tuan Oh menunggu di dalam" ucap sang resepsionis lugas setelah selesai dengan urusannya menelfon sang atasan. Tidak membuang waktu Luhan sedikitpun sehingga ia langsung angkat kaki untuk menuju ke ruangan yang dimaksud.

Benar, orang yang ingin ditemuinya adalah Tuan Oh, yang tidak lain merupakan ayahnya Oh Sehun.

Ia membuka pintu pelan dan langsung masuk saat Tuan Oh sudah menyadari keberadaannya. "Ah, Luhan duduklah duduk" ucapnya ramah, beranjak menuju ke sofa putih gading di ruangan tersebut.

"Apa kau mau minum sesuatu, biar ku panggil-"

"Aku ingin bicara, ahjussi"

Tuan Oh berhenti bicara, menaikkan alisnya pada Luhan yang memang memasang tampang serius. Hal penting macam apakah yang membuat Luhan memotong ucapan si ayahnya Oh Sehun ini. Kira-kira.

"Tentang ?"

"Tentang pertunanganku dan Sehun" tangkas Luhan lagi.

"Aku sudah bilang tak ingin memaksanya"

"Mereka sudah berakhir"

Lagi. Tuan Oh menaikkan alis pada Luhan.

"Sehun dan Jongin, hubungan mereka sudah berakhir"

"... apa ?"

"Jongin memutuskan Sehun"

Tuan Oh tampak tak yakin, ia menatap Luhan sekali namun yang di tatap tak bergeming, tetap dengan wajah seriusnya yang meyakinkan, sehingga lama-kelamaan memperlihatkan senyum tipis diwajah sedikit keriputnya. "Well, bukankah ini kabar yang sangat baik, nak"

Dan dikembalikan Luhan dengan senyum tipis lainnya. "Tentu saja, ahjussi"

"Kalau begitu, aku akan segera menghubungi ayahmu, dan mungkin kita sudah bisa merencanakan tanggal pertunangan diadakan" senyum Tuan Oh kembali tercetak, dan jangan pikir itu hanyalah senyum ramah biasa. Karena Tuan Oh sama saja dengan Luhan, sama-sama licik jika sudah ingin mencapai ambisinya.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

"Sehun! Cepatlah makan dan jangan main ponsel terus"

"Hmmm"

"Kau tuli ?!"

"Iyaa"

"Mau ponselnya eomma sita ?!"

"Hmmm"

"Sehun!"

"Iyaa"

Duh, Tuan Oh pusing bukan main mendengar kelakar ibu anak ini di pagi hari. Sebenarnya lebih ke istrinya saja yang berkoar-koar pada sang anak. Kalau Sehun jika tidak menjawab 'hmm' menjawab 'iya', benar-benar anak itu, padahal baru saja keluar dari rumah sakit tadi malam, tapi sudah membuat ibunya spaning bukan main begini. Ah, dari pada melerai pertengkaran seperti itu, Tuan Oh ternyata lebih memilih baca koran sambil menyeduh kopi panasnya.

"Eomma kembalikan!"

Ayah satu anak ini dibuat penasaran lagi sehingga ia refleks berpaling dari koran paginya saat mendengar teriakan melengking sang anak. Menyaksikan dengan seksama bagaimana istrinya yang dengan kejam merebut ponsel Sehun.

"Apa sih, yang kau sibukkan" Nyonya Oh tampak mengutak-atik ponsel Sehun dan refleks menbaca suatu kalimat yang menarik perhatiannya. "Aku juga mencintaimu... ?"

Itu, adalah suara eomma yang sedang membaca pesan teks yang barusan Sehun terima. Yang kemudian sukses dapat terjangan gratis dari anaknya yang tiba-tiba kerasukan -Kerasukan akibat serangan panik akan pesannya yang dibaca secara blak-blakan- . Merebut ponsel dengan isi 'Top secret' yang hanya dia dan si peng-sms saja yang tahu.

Wajah Sehun merah padam. Kesal, marah, malu bercampur menjadi satu. Ia memeluk erat-erat ponselnya di dada agar tidak di rebut kembali oleh sang eomma.

"Itu siapa ?"

Sehun melotot, bukan pelototan ingin menantang atau bersikap kurang ajar pada kedua orang tuanya, bukan, namun lebih kepada... kaget. Iya, dia kaget karena yang bertanya Appa, bukan eomma.

Demi tuhan, ia harus jawab apa ?!

"B-bukan siapa-siapa, kok"

"Tidak ada yang bukan siapa-siapa menulis pesan seperti itu"

Ah, Sehun tertangkap basah. Tidak mungkin ia bilang yang sejujurnya pada appa, namun jika bohong, mau kebohongan yang seperti apa lagi.

"Sudahlah, biarkan saja. Itu privasi dia"

Sehun mengedip. Melihat kepada eommanya yang kembali santai dengan memakan sepotong roti.

Tadi itu eomma sedang membantunya keluar dari masalah, bukan ? masalah yang asal muasalnya disebabkan oleh dia sendiri ?. Sudah tahu itu privasi, kenapa juga eomma membaca pesan teks Sehun begitu saja, keras-keras pula.

Untung, untung saja appa yang awalnya masih ingin terus 'mengupas' Sehun dibuat diam oleh sang eomma hanya dengan pelototan sangarnya.

Akhirnya makan pagi yang tadinya ribut itu berangsur-angsur mulai tenang, mereka makan dalam diam, Sehun dan eommanya saja kalau dipersempit. Meninggalkan sang kepala keluarga gelisah sendiri memikirkan siapa kiranya yang mengirim Sehun pesan seperti itu.

Jongin ? Bukankah mereka sudah berakhir.

Luhan ? Ah, tidak yakin.

Pria lain ? Hm, bisa jadi. Tapi kan.

Tuan Oh menghela nafas kasar. Anaknya ini, memang tidak bisa jaga hormon, lakunya cepat sekali.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

"Iya, sepertinya dia memiliki yang baru"

"Maksud ahjussi ?"

"Sudahlah, yang penting kau kemari, lakukan pendekatan atau apapun, jangan sampai dia diambil yang lain, ya walaupun tentu aku tidak akan membiarkannya, tapi tetap saja"

"Baiklah ahjussi, setelah selesai dengan urusan, aku segera kesana"

Tuan Oh menutup panggilannya saat telah mendengar kalimat tersebut dari Luhan, sedikit-sedikit ia bisa tenang, setidaknya mereka akan bersama dan entahlah apa yang akan terjadi. Pastinya haruslah hal positif yang bisa membuat Sehun dan Luhan menjadi dekat.

Itulah yang dinamakan pendekatan murni, namun juga direncanakan. Tuan Oh tidak mau memaksa kehendak Sehun dalam hal yang cukup penting seperti ini, ia terlalu sayang pada anaknya jujur saja. Pada awalnya Tuan Oh akan menyerah saja jika rencana jodoh-menjodohkan ini tidak berhasil setelah melihat Sehun dan Jongin yang selalu lengket satu sama lain. Namun mendengar kabar bahwa mereka sudah tidak lagi berhubungan, muncul harapan yang membuat cita-cita ia dan ayah Luhan mungkin saja bisa menjadi kenyataan. Yaitu menjadi besan. Sesimpel itu saja keinginan Tuan Oh.

Yah setidaknya sekarang, ia bisa pergi kerja dengan tenang. Kan ?

...

Sehun menuruni tangga dirumahnya dengan langkah mengendap, melirik ke sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Setelah yakin, Ia mulai berjalan cepat ke arah pintu depan dan sudah akan ia buka jika saja tak mendengar suara seseorang dibelakangnya.

"Mau kemana, hm ?" Sehun meneguk ludah, membalikan badan untuk berhadapan dengan eomma yang sudah pasang posisi menyilangkan lengan di dada. Yah, belakangan ia memang di kurung lagi, alasan kedua orang tuanya untuk pemulihan kaki Sehun yang memang masih agak susah dipakai berjalan. Tapi jika tidak keras kepala, ya bukan Oh Sehun namanya.

"Uum.. k-ke taman" cicit Sehun harap-harap cemas. Ia melirik sedikit pada eomma yang menaikkan alis padanya. Lalu cepat-cepat menambahi. "Boleh ya eomma ? Hanya sebentar aku janji, lagi pula kan bosan jika terus-terusan di rumah" mohon Sehun lagi, tanpa bergerak sedikitpun dari posisinya yang sudah siap membuka pintu.

Nyonya Oh tampak berpikir sebelum akhirnya menghela nafas dan mengangguk pelan, memberi izin Sehun untuk pergi keluar kali ini, kasihan juga dengan anaknya yang sudah lama tidak menginjak dunia luar diakibatkan oleh 'insiden' yang di alaminya. Lagipula hanya ke taman dekat rumah.

"Terimakasih eomma, aku pergi dulu" tanpa membuang waktu, Sehun segara membuka pintu dan berjalan pelan-pelan menuju taman, tentu setelah lebih dulu memberikan cengiran lebar pada sang eomma sebagai tanda terimakasihnya. Ia jadi tidak sabar.

Tidak sabar bertemu dengan seseorang di taman tersebut.

.

.

.

Shootdanonymous

.

.

.

Luhan mendengus kasar saat baru kembali memasuki mobil. Baru saja, ia diberitahu oleh Nyonya Oh tentang Sehun yang sudah keluar terlebih dahulu saat ia bertanya tentang keberadaan bocah manis tersebut. Terpaksa ia harus mencari lagi Sehun ke taman yang disebutkan oleh ibunya. Memang tidak jauh, tapi tetap saja kan Luhan harus mencari lagi.

Ia menghela nafas, bagaimanapun segala sesuatu memang butuh perjuangan, bukan ?. Pikirnya positif.

Setelah menemukan sebuah taman yang dirasa adalah taman yang dimaksud, Luhan segera memarkirkan mobilnya dan turun untuk mulai melakukan pencarian. Pencarian si Oh Sehun yang sudah membuat perasaan Xi Luhan jungkir balik seperti ini.

Luhan mendesah malas saat melihat bagaimana keadaan taman tersebut saat ini, ramai, penuh dengan orang-orang, dari yang paling muda hingga yang paling tua, ia meletakkan tangan dipinggang, berfikir sekiranya arah mana yang harus ia ambil, taman ini pun termaksud cukup luas ngomong-ngomong, sehingga mempersulitnya untuk menemukan sesosok Oh Sehun disini.

Dengan bermodalkan insting, Luhan memilih untuk menuju kearah pepohonan rindang, ia hanya punya firasat jika Sehun sedang duduk-duduk nyaman di salah satu bangku disana.

Dan tebakannya memang tidak pernah salah, belum lama menuju kawasan pepohonan tersebut, ia sudah menemukan seseorang yang duduk membelakanginya, yang ia yakini, adalah Sehun. Karena pemuda nyentrik mana lagi disekitar sini yang memblonde rambutnya dengan highlight berwarna mencolok -pink- jika bukan Sehun.

Tersenyum puas, Luhan mulai mendekati pria manis tersebut. Yang sedari tadi sedang sibuk otak-atik dengan ponsel.

"Hey" panggil Luhan lembut, masih tak menampakkan diri dengan berdiri tepat di belakang Sehun.

Yang merasa dipanggil menoleh cepat, menampakkan ekspresi ceria yang sekejap langsung berganti dengan ekpresi bingung saat melihat siapa sebenarnya yang baru saja memanggil. Terlihat jelas jika kehadiran Luhan bukanlah apa yang ia harapkan.

Ah, hati Luhan jadi sakit jika dibeginikan. Tapi sudahlah.

"Luhan hyung..." bisik Sehun pelan. Memastikan dengan jelas jika orang yang berdiri dihadapannya kini benar-benar Luhan. Iya Luhan selingkuhannya. Ehm, dulu.

Luhan tersenyum masam, tanpa disuruh sudah lebih dulu memilih duduk di samping Sehun, sengaja duduk dengan jarak yang sangat dekat karena, well, ia rindu setengah mati dengan bocah manis satu ini. Jadi ia bisa lakukan apa yang dia mau. Titik.

Sehun tampak tak keberatan, sebenarnya lebih karena ia masih terperangah dengan kedatangan Luhan. Pertanyaan-pertanyaan tentang pemuda ini mulai bersiliweran di kepalanya.

Kenapa ? Mau apa ? Tahu dari mana ? Kenapa sekaraang ?!

Sekiranga adalah beberapa pertanyaan yang terus Sehun ulang di kepalanya.

"Kebetulan kita bertemu" ucap Luhan santai, seolah kedatangannya disini adalah hal yang tidak di rencanakan sama sekali. Untung saja sebelum ingin pergi ke rumah Sehun, Luhan sudah lebih dulu mengganti pakaiannya dengan yang lebih kasual. Sehingga dapat mendukung rencananya kali ini.

Sehun mengerjap, lalu menjatuhkan pandangannya pada rumput hijau di bawah. "I..iya, kebetulan sekali"

Luhan yang awalnya pura-pura melihat ke sekitar kini melirik Sehun yang tampak gelisah, menyunggingkan senyum tipis ketika melihat manisnya Sehun yang sedang kebingungan.

"Tidak usah gelisah begitu"

Sehun mendongak mendengar kalimat barusan, agaknya kaget karena Luhan mengetahui gerak-gerik kegelisahannya.

"Aku hanya-"

"Bisa tidak, duduknya tidak usah mepet dengan kekasihku ?"

Sehun, dan juga Luhan, menoleh cepat kepada satu lagi suara yang baru saja menginterupsi mereka. Yang kemudian sukses membuat Luhan terperangah akan kedatangannya.

"Jongin ?" Bisik Luhan heran, sedangkan Sehun hanya dapat menggigit bibirnya tak nyaman.

"Yeah, ini aku" sahut Jongin malas, memasukkan kedua tangan pada saku celana jeans.

Luhan masih berusaha menyerap omongan Jongin, kalau tidak salah dengar -yang memang tidak salah dengar-, Jongin mengalamatkan Sehun sebagai...

"Tunggu, kekasih ? Maksudmu Sehun ?"

Jongin memutarkan mata mendengar pertanyaan konyol dari Luhan. "Tentu saja, memang siapa lagi, kau ?" Sinisnya pada pria yang lebih tua tersebut.

Luhan menyerngit akan bayangan Jongin yang menyebut dirinya sebagai kekasih. Not in a millions time. Tetapi kembali di tampar oleh realita akan Jongin yang menyebut Sehun sebagak kekasihnya.

Jadi, mereka tidak berakhir ?

Jongin tidak memutuskan Sehun ?

Luhan salah dengar atau apa ?!

.

.

.

.

Tbc

A/N: one more chp to go and then, final, end, selesai, berakhirlah sudah ff satu ini. Hhh, minta maaf sebesarnya karena ngaret bukan main, alasan gue meyakinkan banget untuk ngaret, pertama sibuk ngurus kuliah, kedua hp gue ilang, iya serius, dicuri orang dan semua ff yang gue tulis ada disitu, termasuk ff ini yang udah hampir kelar, downnya bukan main tapi yaudahlah iklasin aja. Itu aja sih. Sorry yahh. Enggak ngejawab pertanyaan dulu untuk saat ini aja. Enjoy~