TITLE : SLEEP WITH DEVIL
A REMAKE STORY
FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL
DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.
.
.
.
.
Warning : Genderswitch
Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!
Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini
BAB 3
"Sakit!,"
Hyukjae menjerit, berusaha mendorong tubuh Donghae. Tubuhnya berteriak antara kesakitan dan keinginan untuk dipenuhi gairahnya. Sebutir air mata menetes dari sudut matanya, sisa-sisa dari kesadarannya yang tertinggal. Donghae mendesakkan dirinya sedalam mungkin, akhirnya berhasil menembus penghalang itu, mengabaikan jeritan kesakitan Hyukjae.
Ketika akhirnya jeritan Hyukjae mereda. Donghae mengangkat kepalanya, dan mengecup lembut bibir Hyukjae yang terbuka dan terengah-engah, "Setelah ini…. Aku akan mengajarkanmu bagaimana memuaskanku," ucapan itu menggema di dalam ruangan, bagaikan janji dari sang kegelapan.
Dan Hyukjae, sudah benar-benar kehilangan kesadarannya, tubuhnya menggeliat merasakan kenikmatan yang menggelenyar ketika rasa sakit itu akhirnya menghilang. Berganti dengan kenikmatan panas yang membagikan gelenyar menyiksa ke seluruh tubuhnya. Donghae merasakan gerakan pinggul Hyukjae, merasakan denyutannya yang menggenggam panas tubuhnya, yang tertanam jauh di dalam tubuh Hyukjae. Mendesak dengan berani, menarik Donghae lebih dan lebih dekat lagi.
Donghae menggertakkan gigi, menahan diri, membiarkan Hyukjae menggerakkan pinggulnya, mencari kenikmatannya sendiri dengan sesuka hati. Dan tidak butuh waktu lama ketika akhirnya perempuan itu mencapai pemenuhan kepuasannya, "Oh… oh … Astaga…," Hyukjae memejamkan mata ketika kenikmatan itu meledak dan membanjiri tubuhnya dengan rasa panas yang tak tertahankan. Dan walaupun Donghae bisa memperpanjang kenikmatannya sendiri, pemandangan akan orgasme Hyukjae dan denyutan Hyukjae yang meremas dirinya, jauh di dalam sana, membuatnya tidak bisa menahan diri lagi.
Detik itu pula, Donghae meledakkan gairahnya bergabung dengan Hyukjae dalam gairah yang melemahkan.
.
.
.
.
Entah apa yang membuat Hyukjae terbangun dari tidurnya yang lelap, rasa sakit yang aneh di badannya, ataukah cahaya terang yang mendadak muncul entah dari mana. Hyukjae membuka matanya. Sekilas pandangannya terasa kabur, dan dia mencoba untuk memfokuskan dirinya.
Kamar itu, dengan nuansa putih yang feminim….
Kilasan-kilasan ingatan berkelebat di benaknya, dia masih disekap di sini, di dalam kamar di rumah Donghae yang jahat. Dengan panik Hyukjae terduduk dari ranjangnya, dan selimutnya melorot hampir jatuh menutupi dadanya, melorot?
Hyukjae menundukkan kepalanya, dan menyadari kalau dia telanjang bulat di balik selimutnya, apa yang…..
"Selamat Pagi"
Suara maskulin itu terdengar dekat sekali dan Hyukjae menolehkan kepalanya kaget, Pemandangan di hadapannya membuat jantungnya bergejolak. Donghae ada di sana, di ranjangnya, mereka ada dalam selimut yang sama, dan menilik kepada selimut Donghae yang hampir saja melorot di pinggulnya, mereka sama-sama telanjang!
Hyukjae masih terperangah menatap pemandangan di depannya. Donghae berbaring dengan angkuhnya, jelas-jelas telanjang bulat di balik selimutnya, dan menatapnya dengan tatapan berhasrat yang memiliki. Dengan panik Hyukjae menarik selimutnya hampir untuk menutupi seluruh dadanya, tetapi gerakannya itu malahan membuat selimut Donghae melorot dan hampir memperlihatkan kejantanannya.
Dengan malu Hyukjae memalingkan kepalanya dan disambut dengan senyuman jahat Donghae.
Keberanian dan kemarahan Hyukjae langsung muncul ketika menyadari rasa pedih di antara ke dua pahanya. Lelaki ini memperkosanya! Entah apa yang terjadi semalam, Hyukjae tidak ingat sama sekali. Tapi yang pasti, dia sudah dinodai oleh iblis berhati kejam ini.
"Kau sungguh iblis yang tidak bermoral, mengambil keuntungan dari perempuan yang sangat membencimu!," desis Hyukjae menahan marah, masih tidak mau menatap Donghae. Donghae terkekeh mendengar suara geram Hyukjae, "Membenciku?," dengan santai lelaki itu berdiri, tak malu dengan tubuh telanjangnya yang berotot, "Lihat aku Hyukjae, kau meninggalkan tanda-tanda di tubuhku, kau sangat bergairah semalam, seperti Kucing betina yang mencakar di sana sini untuk dipuaskan…. Dan atas gairahmu semalam, aku tidak yakin kalau kau membenciku"
Hyukjae melirik sekilas ke tubuh telanjang Donghae yang berdiri di samping ranjang, mukanya merah padam karena malu. Bekas-bekas itu ada, tanda-tanda merah di dada, di pinggul Donghae, di dekat kejantanannya…. Apakah dia yang melakukannya?
"Ya. Kau yang melakukannya." Ada senyum di suara Donghae, "Dengan sangat bergairah dan lapar. Aku cuma berbaring di sana dan kau menyantapku bulat-bulat, sepanjang malam" Kelebatan ingatan akan percintaan yang panas muncul di ingatan Hyukjae, samar-samar dan tidak jelas. Tapi dia tidak mampu mengingat semuanya, kenapa dia tidak mampu mengingat semuanya?
Hyukjae teringat minuman yang di berikan Hangeng semalam, dan rasa muaknya memuncak ketika menyadari ada sesuatu yang dicampurkan di situ, dengan mata menyala-nyala. Dikuasai oleh kemarahan yang campur aduk menjadi satu, Hyukjae menantang tatapan Donghae, mencoba tidak mempedulikan ketelanjangan Donghae. "Aku selalu mendengar kau jahat dan licik, tapi aku sungguh tak menyangka kau serendah itu, menggunakan obat untuk memaksa perempuan yang jijik kepadamu supaya mau melayanimu!"
Sepertinya kata-kata Hyukjae mengena di hati Donghae karena rahang lelaki itu tampak mengeras, marah. Dengan kasar, Donghae menyambar jubah sutra hitamnya dan mengenakannya. Lalu dengan gerakan tiba-tiba, naik ke atas ranjang dan mencengkeram rahang Hyukjae dengan sebelah tangannya.
Cengkeraman itu terasa keras dan menyakitkan sehingga Hyukjae mengernyit. Tetapi Hyukjae menahan diri untuk tidak mengaduh, dia tidak mau memberikan kepuasan kepada lelaki itu.
"Apapun yang kau katakan, satu hal yang pasti, kau sudah menjadi milikku. Dan seperti yang kubilang, segala sesuatu yang menjadi milik Lee Donghae tidak akan pernah bisa lepas, kecuali aku melepaskanmu.. atau aku membunuhmu!"
Dengan kasar Donghae melepaskan cengkeramannya di rahang Hyukjae, membuat tubuh Hyukjae terdorong lagi ke ranjang. Lalu dengan langkah tegas, Donghae melangkah keluar kamar sambil membanting pintu di belakangnya.
.
.
.
.
Hyukjae masih termangu di ranjang, lalu kilasan rasa sakit di antara pahanya menyadarkannya.
Noda darah itu tampak mencolok di seprai putih itu, tampak menertawakannya. Sungguh ironis, keperawanannya terenggut oleh bajingan berhati iblis yang ingin dibunuhnya. Tubuh Hyukjae gemetar, dipenuhi oleh rasa campur aduk yang menyesakkan ketika dia mencoba berdiri.
Noda merah di ranjang itu sangat mengganggunya, hingga dengan kasar Hyukjae merenggut seprai itu dan membantingnya ke lantai. Napas Hyukjae terengah-engah dan entah kenapa kemudian tubuhnya ambruk ke lantai, menangis penuh emosi. Ingatannya melayang kepada ayah dan ibunya, kepada dendamnya yang belum terbalaskan, dan kepada nasibnya yang membuatnya terperangkap di sini, dalam cengkeraman musuh besarnya.
Kini dia terpuruk di sini, dalam cengkeraman Donghae, dan yang sangat menyakitkan dia tidak berdaya menghadapi lelaki itu. Hyukjae mengusap air matanya tiba-tiba. Tidak! Dia sudah cukup menangis, dia harus melawan, dengan segala cara!
Dengan pelan Hyukjae melangkah ke kamar mandi, dia harus mandi dan menghapus semua jejak dan noda yang ditinggalkan Donghae di tubuhnya. Donghae boleh saja menodainya, tetapi bukan berarti lelaki itu memilikinya. Hyukjae wanita bebas, wanita bebas yang bertekad untuk menghancurkan Donghae. Tunggu saja, dia hanya belum punya kesempatan.
.
.
.
.
Hyukjae hanya duduk di kursi putih itu putus asa sebab setelah sekian lama berkeliling ruangan, memeriksa setiap sudut di kamar mandi dan jendela, tetap benar-benar tidak ada celah yang bisa digunakan sebagai jalannya untuk melarikan diri. Putus asa, Hyukjae duduk sambil memeluk lututnya, Kalau begini, bagaimana caranya dia bisa keluar dari rumah ini? Sedangkan keluar dari kamar ini saja dia tidak mampu. Matanya melirik ke pintu kamar. Pintu yang terkunci itu satu-satunya jalan.
Tetapi yang bisa keluar masuk dari pintu itu hanya Donghae, dan juga seorang lelaki bertampang dingin bernama Hangeng, yang selalu ada di sebelah Donghae setiap ada kesempatan. Lelaki bertampang dingin itu sepertinya ditugaskan untuk mengantarkan makanannya. Pikiran Hyukjae berputar… memang rasanya tidak mungkin, jika tidak dicoba dia tidak akan tahu…
Seperti sudah diatur, pintu kamar itu terbuka, dan Hyukjae langsung terduduk tegak waspada, menanti siapapun yang akan masuk. Hangeng muncul di sana membawa nampan makanan, wajahnya datar tanpa ekspresi seperti biasa. Dan Hyukjae langsung sengaja memasang wajah kesakitan, "Aku minta tolong….," rintihnya sesakit mungkin.
Hangeng mengernyit dan mendekat, "Ada apa nona?"
"Aku… aku mau muntah… tolong aku," Hyukjae meremas perutnya, berusaha semeyakinkan mungkin. Dan sepertinya Hangeng tidak curiga, lelaki itu mendekat, dan menatap Hyukjae,
"Kau mau dibantu ke kamar mandi?"
Hyukjae mengangguk lemah.
Dengan tangan kuatnya, Hangeng membantu Hyukjae berdiri dan memapah tubuh Hyukjae yang lunglai ke kamar mandi. Ketika Hangeng membuka pintu kamar mandi, Hyukjae berakting seolah-olah muntahnya akan keluar, hingga Hangeng langsung bergegas membawanya ke kamar mandi, Di wastafel, Hyukjae menundukkan kepalanya seolah-olah akan muntah hebat, "Handuk… tolong….," gumam Hyukjae lemah, melirik ke arah lemari handuk yang ada di ujung ruangan kamar mandi.
Masih tanpa curiga, Hangeng melangkah ke arah lemari handuk. Saat itulah dengan secepat kilat Hyukjae melompat dan berlari ke arah pintu keluar kamar mandi. Hangeng menyadari kalau dia ditipu ketika melihat kelebatan langkah cepat Hyukjae. Dia berusaha mengejar tapi terlambat,
Hyukjae yang melompat gesit sudah keluar dari kamar mandi dan membanting pintunya dari luar, lalu menguncinya rapat-rapat.
Dengan napas terengah karena pacuan adrenalin, Hyukjae menyandarkan tubuhnya di pintu kamar mandi, memejamkan mata, tak peduli akan gedoran-gedoran marah Hangeng dari dalam, "Kau tidak akan bisa melarikan diri," ancam Hangeng, berteriak dari dalam, "Tuan Donghae pasti akan menemukanmu, dan aku bersumpah, kalau kau sampai membuat Tuan Donghae marah, kau akan menyesalinya"
Teriakan-teriakan Hangeng makin keras dibarengi dengan gedoran-gedorannya di pintu, Kata-kata Hangeng sempat membuat hati Hyukjae kecut, tapi dia menggelengkan kepalanya, Donghae memang lelaki kejam, tetapi Hyukjae tidak boleh takut. Dia harus berani menantang Donghae, menunjukkan pada lelaki itu kalau dia bukanlah perempuan yang bisa ditundukkan dengan begitu mudahnya.
Dengan langkah hati-hati, Hyukjae membuka pintu putih yang tak terkunci itu, matanya mengintip sedikit keluar, khawatir kalau-kalau ada penjaga yang menjaga di pintu. Tetapi rupanya Donghae beranggapan Hyukjae terlalu lemah sehingga tidak perlu menempatkan penjaga di pintu. Lorong itu kosong. Dengan hati-hati Hyukjae melangkah keluar. Suara gedoran-gedoran pintu kamar mandi dan teriakan Hangeng masih terdengar ketika Hyukjae keluar, tetapi ketika Hyukjae menutup pintu putih besar itu, suara itu lenyap dan menjadi senyap. Rupanya ruangan putih tempatnya dikurung itu kedap suara.
Hyukjae melangkah lagi melewati lorong itu. Tidak ada pintu lain di lorong itu, arahnya langsung ke tangga spiral yang besar menuju ke pintu depan. Dengan hati-hati, Hyukjae mengintip dari ujung tangga ke arah bawah. Kosong. Kemanakah para penjaga yang dia lihat kemarin?
Pelan dan waspada, Hyukjae melangkah menuruni tangga. Dia sudah berhasil menyeberangi ruangan dan memegang handle pintu besar itu, ketika suara dingin yang mulai dikenalnya terdengar tepat di belakangnya,"Kau pikir kau akan kemana?"
.
.
.
.
Terlonjak kaget, Hyukjae membalikkan badan dan hampir menabrak dada bidang Donghae. Lelaki itu berdiri dekat sekali di belakangnya, dan menekannya ke pintu, tatapannya menyala penuh kemarahan, seperti iblis yang siap membakar musuhmusuhnya. "Berani sekali kau mempermalukan Hangeng seperti itu, dan berani sekali kau mencoba melarikan diri dari rumahku," Tangan besar Donghae mencengkeram lengan Hyukjae dengan kasar lalu menyeret Hyukjae yang tidak bersedia.
Hyukjae meronta-ronta, mencoba bertahan, tetapi Donghae tidak peduli, tetap menyeret Hyukjae dengan kekuatan besarnya. Hingga Hyukjae mau tidak mau harus terseret-seret mengikuti daripada tangannya menyeret Hyukjae menaiki tangga dan kembali menuju kamar putih tempat Hyukjae tadi dikurung.
Di sana beberapa pengawal Donghae berkumpul, dan Hangeng berdiri di sana. Rupanya dia berhasil menghubungi Donghae dan dibebaskan dari kamar mandi. Hyukjae mengernyit dalam hati, seharusnya tadi dia lebih cepat, atau mungkin dia pukul kepala Hangeng dengan sesuatu sehingga lelaki itu pingsan dan tidak bisa menghubungi teman-temannya dengan segera.
Donghae melepaskan cengkeramannya lalu mendorong Hyukjae ke depan dengan kasar, "Kau lihat Hangeng? Perempuan kecil seperti ini, dan kau, pengawalku yang sudah bertahun-tahun lamanya bisa-bisanya dibodohi seperti ini"
Hangeng hanya terdiam, menatap Donghae dengan muka datar, sepenuhnya mengabaikan keberadaan Hyukjae. Hingga Hyukjae mengernyit, apakah lelaki ini memang tidak punya ekspresi?
"Dan kau Hyukjae," Donghae melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya, "Ini adalah peringatan untukmu. Kalau kau membodohi salah satu pegawaiku lagi untuk melarikan diri, kau akan membuang satu nyawa, karena aku akan langsung membunuh pegawaiku,"
Tanpa disangka, Donghae menghantam Hangeng dengan satu pukulan telak hingga kepala Hangeng mundur ke belakang, darah menetes dari sudut bibirnya. Hyukjae terkesiap mundur dan makin terkesiap ketika Donghae menghajar Hangeng, lagi dan lagi tanpa perlawanan hingga lelaki itu jatuh berlutut dengan memar dan bibir berdarah yang mengotori kemejanya.
Donghae mundur satu langkah ketika Hangeng terjatuh, dia menoleh dan menatap Hyukjae, "Kau lihat itu Hyukjae? Setiap kau mencoba melarikan diri, aku bersumpah akan ada nyawa yang berkorban untukmu. Mereka semua yang lengah hingga memberi kesempatan padamu untuk lari, akan kubunuh!," Dengan kejam Donghae mengarahkan pukulannya sekali lagi ke arah Hangeng.
Hyukjae berteriak, spontan mencengkram lengan Donghae yang terayun, mencegah Donghae menghabisi Hangeng, "Jangan…. ! Jangan ! Aku yang salah, aku yang salah! Jangan bunuh dia! Aku yang salah ! ", teriaknya panik. Donghae terdiam dan mematung, ketika akhirnya dia menatap Hyukjae, matanya sedingin es. Lelaki itu tampak amat sangat marah kepada Hyukjae.
"Jadi kau mengaku salah..," Donghae mundur lagi dan Hyukjae merasa lega luar biasa karena lelaki itu tidak jadi melampiaskan kemarahannya kepada Hangeng yang sudah berlutut tak berdaya di lantai.
"Aku hanya ingin keluar dari tempat ini," teriak Hyukjae marah, frustrasi karena Donghae menggunakan ancaman licik untuk mencegahnya melarikan diri. "Kau milikku, dan tidak ada milikku yang bisa keluar dari sini tanpa seizinku"
"Atas dasar apa?," Hyukjae berteriak marah, "Aku bukan milik siapa-siapa, apalagi lelaki jahat sepertimu. Aku cuma mau keluar dari sini, aku muak terhadapmu, muak atas semua yang ada di sini….Aku cuma mau keluar!"
"Kau mau keluar hah?," Donghae mencengkeram lengan Hyukjae lagi, di tempat yang sama hingga Hyukjae merasa lengannya memar, "Mari kita keluar!"
.
.
.
.
Tak ada yang berani menolong ketika Hyukjae berteriak-teriak dalam seretan Donghae. Sepertinya kemarahan Donghae adalah hal biasa di rumah ini dan tidak ada satupun yang berani melawan laki-laki itu. Donghae membawa Hyukjae ke ujung lorong, ke jendela kaca lantai dua yang mengarah langsung ke balkon.
Dengan kasar Donghae mendorong Hyukjae keluar lalu mendesaknya ke ujung balkon, hingga kepala Hyukjae mengarah ke bawah dan menatap ngeri ke kolam renang yang sangat luas di bawahnya. Kolam itu tampak sangat bening dan dalam. Hyukjae bergidik. Dia tidak bisa berenang, apakah Donghae akan mendorongnya ke bawah?
Donghae benar-benar mendesak tubuh Hyukjae sampai ke ujung balkon, membuat kepalanya terbungkuk ke bawah, sementara tangannya di kekang oleh Donghae di belakangnya, "Kau lihat itu? Salah sedikit aku melemparmu ke bawah, kepalamu bisa pecah terkena ubin pinggiran kolam," napas Donghae sedikit terengah oleh kemarahan, "Kau perempuan tak tahu diuntung, harusnya kau bersyukur atas kebaikan hatiku padamu dan keluargamu, hingga kau masih bisa hidup sampai sekarang…. Tahukah kau kalau aku bisa dengan mudah mencabut nyawamu kapanpun aku mau"
"Tuhan yang berhak mencabut nyawaku, bukan iblis seperti kau." Hyukjae berteriak berusaha menantang meski jantungnya makin berpacu kencang diliputi ketakutan luar biasa. "Perempuan tidak tahu terima kasih," Donghae mendorong Hyukjae lagi sampai ke ujung, "Ada kata-kata terakhir?"
Hyukjae memalingkan kepalanya sehingga tatapan matanya yang penuh kebencian bertemu dengan mata dingin Donghae, "Terima kasih karena sudah membebaskanku" Lalu tubuh Hyukjae terlempar, melayang di udara kemudian meluncur ke bawah, ke kolam renang yang dalam itu.
Setidaknya kalau aku mati, aku sudah mencoba membalaskan dendam kita, Ayah….
Sedetik kemudian, tubuh Hyukjae terbanting menembus permukaan kolam lalu tenggelam. Hyukjae tidak berusaha menyelamatkan diri, membiarkan tubuhnya makin tenggelam dalam kolam itu.
Matanya menggelap dan memejam, dan entah berapa banyak air kolam yang tertelan olehnya. Napasnya terasa sesak dan paru-parunya terasa mau pecah.
Oh Tuhan… aku akan mati….
.
.
.
.
Ketika Hyukjae sudah sampai di titik akan kehilangan kesadarannya, terdengar ceburan lain yang tak kalah kerasnya di kolam. Tak lama kemudian, sebuah lengan yang kuat merengkuhnya dan mengangkat tubuhnya, lalu membawanya ke permukaan. Tubuh lemas Hyukjae dibaringkan di lantai di pinggiran kolam, lalu dia merasakan perutnya di tekan dengan ahli hingga aliran air yang tertelan keluar. Hyukjae memuntahkan banyak air dan terbatuk-batuk kesakitan.
Paru-parunya masih terasa begitu sakit dan nyeri Siapakah penolongnya? Apakah dia memang belum diizinkan mati?
Tangan kuat itu terus menekan hingga seluruh cairan terpompa keluar dari perut Hyukjae. Mata Hyukjae mulai buram, kesadarannya semakin hilang, ketika suara itu terdengar tenang di atasnya,
"Panggil Dokter"
Itu suara Donghae. Apakah Donghae yang menyelamatkannya? Lagipula… kenapa lelaki itu menyelamatkannya?
To be continue
Area pojokan :
Halo semua! gimana chap inii... maaf Xiao belum bisa jawab reiew kalian chap kemarin ... sejujurnya Xiao bener-bener penasaran bagaimana menurut kalian tentang cerita ini.. silakan kritik Xiao jika ada pengeditan Xiao yang salah, Xiao sangat senang jika para pembaca sekalian aktif mmberikan tanggapannya... karena sejujurnya aja Xiao jadi ga pede ... views-nya 280-an tapi yang ngasih tanggapan hanya 15, Xiao bingung... bukan karena Xiao gila review, tapi tanggapan dari teman-teman Xiao butuhkan.. soalnya kata sahabat Xiao, Xiao ga seharusnya bikin remake novel ini... buat sendiri gitu.. jadi ga pede lagi u.u
tapi Xiao akan usaha-in sampai akhir, doa-in aja ya.. sekarang luang waktunya banyak ^^
jaa, mind to review?
