TITLE : SLEEP WITH DEVIL
A REMAKE STORY
FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL
DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.
.
.
.
.
Warning : Genderswitch
Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!
Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini :)
BAB 4
Donghaekeluar dari kamar mandi dengan masih menyimpan kemarahan. Rambutnya basah kuyup. Dan seluruh pakaiannya yang basah teronggok di lantai. Sebuah gerakan di sudut kamar membuatnya menoleh.
Hangeng berdiri di sana, bekas-bekas pukulan Donghae masih menimbulkan memar-memar di sana sini, tetapi lelaki itu sepertinya sudah diobati, "Bagaimana dia?," tanya Donghae dingin.
"Dokter sedang menanganinya, paru-parunya kemasukan cairan…Anda sendiri Tuan Mikail, Anda tidak apa-apa? Terjun dari lantai dua seperti itu hanya untuk menyelamatkan perempuan itu…"
Donghae melirik pada Hangeng dengan tatapan tajam, lalu meraih handuk untuk menggosok rambutnya yang basah, "Tadinya aku berniat membunuhnya"
"Kalau begitu kenapa Anda menyelamatkannya?" Donghae membalikkan tubuhnya dan menatap Hangeng dengan mata menyala-nyala, "Karena aku memutuskan, belum saatnya dia mati," mata cokelat Donghae bagaikan berbinar di kegelapan, "Dan kau….Kenapa kau sengaja membiarkannya lolos?"
Hangeng menatap Mikail, tampak ada keterkejutan di matanya meskipun sekejap kemudian dia langsung memasang wajah datar, "Saya tidak sengaja membiarkannya lolos"
"Kau pikir aku bodoh?," suara Donghae menajam, setajam tatapannya, "Kau adalah pengawalku paling berpengalaman, tak mungkin kau bisa diperdaya gadis itu, kecuali kau memang membiarkan dirimu diperdaya"
Hangeng menelan ludahnya, "Saya ingin membebaskannya, saya takut dia akan membawa masalah untuk kita"
Donghae melempar handuknya dengan marah ke sofa, "Dalam dua hari ini kau sudah dua kali mengambil keputusan sendiri dan menentangku. Dengarkan ini baik-baik Hangeng," suara Donghae dalam dan mengancam, "Sekali lagi kau membuat kebodohan yang merepotkanku, bukan hanya pukulan yang kau dapat, aku akan menghabisimu secepat aku bisa"
Suara ancaman itu masih menggema di kegelapan, bagaikan janji Iblis yang memanggil-manggil meminta nyawa.
.
.
.
.
Ketika Hyukjae terbangun, yang dirasakannya pertama kali adalah rasa sesak di dadanya. Dia menggeliat panik, mencoba menarik napas sekuat-kuatnya, dalam usahanya mencari oksigen sebanyak-banyaknya.
"Tenang, kau sudah ada di daratan, kau bisa bernafas secara normal," Suara Donghae membawa Hyukjae kembali pada kesadarannya.
Dengan waspada dia menoleh dan mendapati Donghae sedang duduk di tepi ranjangnya. Hyukjae beringsut sejauh mungkin dari Donghae dan tingkahnya itu memunculkan secercah cahaya geli di mata Donghae, "Apakah kau takut padaku setelah kejadian tadi?," nada gelipun tersamar dalam suara Donghae.
Kurang ajar, batin Hyukjae dalam hati. Dia berjuang meregang nyawa, dan lelaki ini malah duduk disini menertawainya. Tetapi, apakah benar Donghaeyang terjun ke kolam waktu itu dan menyelamatkannya? Kenapa? Bukankah jelas-jelas dalam kemarahannya Donghae sudah memutuskan untuk membunuhnya? Kenapa lelaki itu berubah pikiran?
"Ya, aku memang menyelamatkanmu," Donghae bergumam seolah-olah bisa membaca pikiran Hyukjae, "Tetapi itu bukan demi dirimu, itu demi kepuasanku." Hyukjae menatap Donghae geram, "Apa maksudmu?" Dengan tenang lelaki itu melepas dasinya, gerakannya pelan tetapi mengancam hingga tanpa sadar Hyukjae bergidik dan beringsut menjauh.
"Aku tidak suka bercinta dengan mayat," Senyum di bibir Donghae tampak kejam, "Kau lebih nikmat kalau hidup dan bernafas."
Ketika Hyukjae menyadari maksud Donghae, sudah terlambat. Lelaki itu mencengkeram kedua lengannya dengan satu tangan. Kekuatan Hyukjae tidak sebanding dengan kekuatan tubuh Donghae yang besar dan kuat di atasnya. Dengan mudahnya lelaki itu mengikat kedua pergelangan tangannya dengan ikatan mati yang sangat rapi, lalu menalikannya di kepala ranjang.
"Kau…. Kau mau apa ?', Hyukjae mulai panik ketika Donghae yang setengah duduk di atasnya membuka kancing kemejanya.
Senyum Donghae tampak penuh kepuasan melihat kondisi Hyukjae yang tidak berdaya. Lelaki itu membuka seluruh kancing kemejanya sehingga dada dan perutnya yang berotot terlihat. Sejenak Hyukjae terpana melihat kulit berwarna perungggu yang berkilauan bagai satin itu, tetapi kemudian dia sadar bahwa dia ada dalam kondisi genting. Dengan panik Hyukjae mulai meronta dan menendang, sedapat mungkin bergerak untuk melepaskan diri.
Tapi percuma, ikatan Donghae ke tangannya sangat kuat, dan dalam kondisi terikat seperti itu, Hyukjae benar-benar tak berdaya.
"Semalam kau bercinta denganku, panas, dan memabukkan…. Tapi kau mungkin tak bisa mengingat dengan jelas dan aku tak suka itu….," suara Donghae merendah, penuh gairah, "Malam ini, akan kubuat kau mengingat setiap detiknya"
.
.
.
.
Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, Hyukjae melihat ketika Donghae melepas kemejanya dan setengah menindihnya. Mulutnya sangat dekat dengan bibir Hyukjae, hingga napas mereka beradu, Donghae menundukkan kepalanya, mencium sisi leher Hyukjae, membuat Hyukjae berjingkat dan berusaha meronta lagi, "Sshhh…. Kau akan menyakiti lenganmu kalau kau meronta-ronta terus seperti itu," bibir Donghae merayap dan mendarat di bibir Hyukjae.
Lelaki itu mengecup sedikit ujung bibir Hyukjae, lalu lidahnya menelusup masuk, membuka bibir Hyukjae yang lembut, mencecapnya dan merasakan seluruh tekstur bibir Hyukjae yang hangat dan panas. Lidahnya mengait lidah Hyukjae dan memainkannya dengan intensitas yang sangat ahli.
Ketika Donghae melepaskan bibirnya, napas Hyukjae terengah-engah, ciuman ini adalah ciuman yang paling intens yang pernah di rasakannya.
"Kau menyukainya bukan?', Donghae berbisik lembut dengan nafasnya yang panas di telinga Hyukjae, "Aku sangat menyukai bibirmu, dan sensasi kelembutannya di bibirku….," tangan Donghae merayap ke bawah, meraba kulit leher Hyukjae, "Seluruh tubuhmu hangat sayang, seakan menggodaku….," Jemari Donghae menyingkap rok Hyukjae dan menelusup ke dalam sana, menggoda pusat gairahnya, "Di sini…. Yang paling panas"
Hyukjae menggelinjang, mencoba meronta, tetapi tubuh kuat Donghaeyang setengah menindihnya membuat gerakannya terbatas. Apalagi tangannya yang terikat di atas, membuat lengannya terasa kram dan pergelangan tangannya ngilu ketika dia menggerak-gerakkannya.
Donghae melirik ke pergelangan tangan Hyukjae yang terikat, dan menyadari bahwa ikatan itu menyakiti Hyukjae.
"Jangan bergerak-gerak, atau kau akan mengalami memar-memar ketika ini selesai"
Setetes air mata mengalir di sudut mata Hyukjae, dia putus asa dalam usahanya untuk melepaskan diri. "Jangan lakukan ini, please…"
Mata Donghae sedikit melembut ketika mendengar permohonan Hyukjae, tetapi kemudian senyumannya tampak mengeras, "Aku hanya ingin membuatmu sadar dimanakah tempat kau seharusnya berada Hyukjae," Donghae membuka kancing kemeja Hyukjae satu persatu, membiarkan payudara Hyukjae terbuka bebas untuknya, "Ini milikku,"
Donghae menyentuh payudara Hyukjae dan menggodanya, menikmati ketika mendengar erangan tersiksa Hyukjae, "Seluruh tubuhmu milikku," Donghae mengecup ujung payudara Hyukjae, mencecapnya dengan lidahnya. Lalu bibirnya berpindah menelusuri bagian samping payudara Hyukjae, menikmatinya dengan bibirnya sehingga meninggalkan jejak-jejak basah dan panas di sana.
Hyukjae melengkungkan punggungnya atas sensasi yang menyiksanya tanpa ampun. Dalam kondisi terikat dan tak berdaya, merasakan lelaki iblis itu mencumbunya, dan menyiksanya dengan godaan-godaannya yang sangat ahli, ada perasaan aneh yang menjalar di tubuhnya. Seperti gelenyar panas yang bergulung-gulung, terasa seperti arus listrik yang mengalir dari jemarinya, dan menjadi semakin panas ketika menyatu di pusat dirinya.
Dan jemari Donghaemenyentuh ke sana, dengan begitu ahli, memainkan Hyukjae sesuka hatinya. Tubuh Hyukjae meronta tak tahan akan alunan sensasi permainan jemari Donghae, tapi lengan Donghae yang kuat menahan tubuhnya.
Kemudian bibir Donghaemengikuti jemarinya. Hyukjae terkesiap merasakan hembusan napas panas di pusat dirinya. Seketika dia menegakkan tubuhnya dan tertahan oleh ikatan di pergelangan tangannya. "Jangan!," teriaknya panik, mencoba merapatkan kaki, mencegah bibir Donghae menyentuhnya.
Tetapi lengan Donghae yang kuat menahannya, dan kemudian, Hyukjae melengkungkan punggungnya dan mengerang keras merasakan sensasi itu. Sensasi sentuhan bibir dan lidah Donghae di pusat dirinya, dengan hembusan nafasnya yang panas. Panas bertemu panas dan dia terbakar.
Pandangannya menggelap karena sensasi kenikmatan yang tak tertanggungkan. "Sshhhh…. Semua bagian tubuhmu milikku Hyukjae, Milikku."
Donghae mencumbu pusat gairah Hyukjae menyatakan kepemilikannya. Dan ketika Donghae selesai bermain-main, Hyukjae sudah terbaring, lemas, dan tak berdaya dengan nafas terengah-enga h dan tubuh membara. Donghae menaikkan kembali tubuhnya dan mengecup lembut bibir Hyukjae.
Dada bidangnya menggesek payudara Hyukjae, dan Hyukjae merasakan kejantanan Donghae yang begitu keras menyentuh pahanya dengan begitu menggoda seolah mengerti apa yang paling Hyukjae inginkan. Donghae menempatkan dirinya dengan begitu tepat, seolah telah mengenal setiap jengkal tubuh Hyukjae. Dan Hyukjae merasakan tubuh Donghaeyang keras dan panas menyatu dengan tubuhnya, memberikan geleyar kenikmatan yang makin menghujam.
"Hyukjae," Donghae mengerang merasakan tubuh Hyukjae yang panas, halus, dan membungkusnya dengan begitu erat, menggodanya untuk mencapai kepuasan secepat mungkin. Tapi tidak, malam ini untuk Hyukjae. Donghae ingin Hyukjae mengingat setiap detik percintaan mereka malam ini.
Ketika Donghae bergerak, Hyukjae mengerang. Semua ini terlalu nikmat untuk ditanggungnya, dia tak bisa menjangkau kesadarannya lagi, hampir frustasi karena pada akhirnya tubuhnya menyerah dalam pusaran gairah Donghae.
Donghae menundukkan kepalanya, lalu mengecup sudut bibir Hyukjae dengan posesif, menyatakan kepemilikannya, dan menghujamkan dirinya dalam-dalam.
"Kau milikku, Hyukjae. Ingat itu baik-baik"
Sedetik kemudian, Donghae membawa Hyukjae melewati pusaran gelombang semakin dan semakin naik hingga guncangan orgasme menerjang mereka berdua. Menyatukan mereka dalam satu titik kenikmatan.
.
.
.
.
Donghae mengangkat tubuhnya dari Hyukjae yang terengah-engah, dengan pikiran masih berkabut karena orgasme. Dengan lembut jemarinya membuka ikatan tangan Hyukjae, Ikatan itu menimbulkan bekas kemerahan di sana. Dan Donghae mengecup kedua pergelangan tangan Hyukjae, "Kau milikku, ingat itu. Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, aku akan menghukummu dengan hukuman yang lebih berat"
Lalu Donghae bangkit, mengenakan pakaiannya dan menatap Hyukjae yang memalingkan muka darinya, tak mau menatapnya, "Kuharap kau tidak melupakan malam ini, setiap detiknya," gumamnya dingin, lalu melangkah pergi meninggalkan Hyukjae yang terbaring diam di ranjang.
Setetes air mata mengalir kembali di sudut mata Hyukjae. Donghae benar, Hyukjae tidak akan pernah bisa melupakan malam ini, setiap detiknya.
To be continue
Xiao's Note :
Masih belum bisa bales review yang kemarin.. maafkanlah Xiao ya teman-teman :)
Jaa, mind to review (again) ?
