TITLE : SLEEP WITH DEVIL

A REMAKE STORY

FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL

DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.

.

.

.

.


Warning : Genderswitch

Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!

Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini :)


BAB 5

Sudah hampir dua minggu Hyukjae dikurung di dalam kamar putih ini, tidak boleh keluar sama sekali. Hari-hari Hyukjae dilalui dengan menatap ke luar dari jendela lantai dua ke pekarangan rumah Donghae .

Hyukjae sudah merasa begitu muak dan frustrasi karena bosan. Setelah memaksakan kehendaknya malam itu, Donghae tidak pernah mengunjungi Hyukjae lagi. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan kekasih barunya. Hyukjae mencibir, mencoba mengabaikan perasaan seperti tercubit di dadanya. Tetapi kalau memang benar begitu, kenapa Donghae tidak melepaskannya?

Apakah karena lelaki itu tahu bahwa Hyukjae berniat membunuhnya, jadi dia menawan Hyukjae di sini karena menganggap Hyukjae ancaman yang berbahaya? Kalau begitu kenapa Donghae tidak membunuhnya sekalian? Beberapa lama terpaku di jendela, Hyukjae menyadari bahwa ada kesibukan yang tidak biasa di luar sana.

Beberapa mobil tampak lalu lalang keluar masuk rumah Donghae yang biasanya lengang. Sehari-hari pemandangan yang didapat Hyukjae hanyalah pemandangan pengawal-pengawal Donghae dan beberapa pelayan yang lewat di halaman depan rumah.

Kali ini Hyukjae melihat ada mobil bunga dan mobil katering. Apakah Donghae akan mengadakan pesta? Kalau iya, mungkin saja kesempatan Hyukjae untuk melarikan diri bisa muncul kembali.

Sedang larut dalam lamunannya, tiba-tiba pintu kamar putih membuka. Hyukjae bahkan tidak menolehkan kepalanya sedikitpun. Karena yang masuk ke kamar ini selalu hanya Hangeng yang mengantarkan makanan, dan pelayan yang membersihkan ruangan dan membawakan pakaian ganti untuknya – tentu saja di bawah pengawasan Hangeng.

Hyukjae tidak pernah berinteraksi dengan Hangeng lagi setelah kejadian kemarin, dan sepertinya lelaki itu juga tidak berniat untuk mengajaknya berbicara. Lagipula rasa bersalah yang ditanggung Hyukjae terlalu besar. Karena dialah Hangeng dihajar oleh Donghae, bekas-bekas hajaran itu masih ada dari memar-memar di wajah Hangeng dan hidungnya yang patah.

Setiap melihat Hangeng, Hyukjae disergap perasaan ngeri dan rasa bersalah yang luar biasa. Donghae mengancam akan membunuh siapapun yang lengah dan membiarkan Hyukjae lolos.

Apakah sepadan mengorbankan satu nyawa demi meloloskan diri?

Hyukjae memang tidak kenal dengan Hangeng, tetapi kalau mendapatkan kebebasan dengan mengorbankan nyawa orang lain, tetap saja terasa tidak benar baginya….

"Hyukjae."

Itu suara Donghae. Hyukjae terlonjak saking kagetnya. Dia menolehkan kepalanya, dan Donghae-lah yang berdiri di tengah ruangan, lelaki itu tadi sepertinya terdiam, mengamati Hyukjae yang sedang melamun sambil memandang Hyukjae yang sedang menatap ke luar jendela.

Otomatis Hyukjae mengepalkan tangannya, reaksi impulsifnya ketika menyadari aura Donghae yang berkuasa memenuhi ruangan. Donghae melirik tangan Hyukjae yang terkepal, dan senyum sinis muncul di bibirnya. Lelaki itu menolehkan kepalanya ke belakang dan Hyukjae baru menyadari ada orang lain di belakang Donghae, seorang laki-laki berbadan kecil dan sedikit gemulai, "Ini Ryewook," gumam Donghae tenang, "Dia akan mempersiapkanmu untuk nanti malam," Setelah berkata begitu, Donghae melangkah mundur, membalikkan tubuhnya dan meninggalkan kamar itu.

Mempersiapkannya untuk apa?

.

.

.

.

"Kau sebenarnya cantik sekali Nona, hanya saja kau tidak pandai berdandan," Ryewook bergumam dengan suara gemulainya, memoles wajah Hyukjae yang masih memejamkan matanya di depan cermin.

Sementara Hyukjae masih memejamkan matanya, diam karena didandani oleh Ryewook…. Kalau Donghae menyuruhnya didandani, maka dia pasti akan diperbolehkan untuk turun ke pesta yang diadakan Donghae. Hal itu berarti ada kesempatan baginya untuk melarikan diri dari rumah ini.

"Nah, sudah selesai, coba buka matamu," gumam Ryewook. Ada nada puas dalam suaranya, Hyukjae membuka matanya pelan-pelan karena bulu mata palsu terasa memberati matanya. Dan dia terpana menatap sosok yang balas menatapnya di depan cermin itu.

Yang menatapnya bukannya Hyukjae, perempuan yang seumur hidupnya sangat jarang berdandan, yang ada di depannya adalah perempuan yang sangat cantik. Luar biasa cantiknya dengan riasan yang tidak terlalu tebal tapi sangat pas di semua sisi.

Ryewook memang perias yang sangat berbakat, dan sangat terkenal tentunya dengan tarif sekali riasnya yang amat sangat mahal. Hyukjae sering sekali mendengar nama perias ini di media sebelumnya, tapi tidak pernah berfikir bahwa dia akan merasakan tangan dingin sang perias berbakat ini.

Matanya tampak begitu lebar, kuat, sekaligus rapuh dengan polesan warna cokelat keemasan, dan Ryewook sedemikian rupa menonjolkan struktur tulang pipinya yang tinggi sehingga tampak menarik dan aristrokat…. Dan bibirnya dipoles dengan lipstik warna peach dengan nuansa yang membuat bibirnya seolah-olah selalu basah.

Hyukjae menyentuh pipinya ragu, dan bayangan cantik di depannya juga menyentuh pipinya. Mata Hyukjae terpaku, masih terpana akan bayangan di depannya. Ryewook mendecak kagum melihat hasil karyanya sendiri, kemudian bergumam, mengalihkan perhatian Hyukjae, "Kau paling berbeda dari kekasih-kekasih Tuan Donghae sebelumnya," Ryewook meringis, "Bukan berarti kau kurang cantik, tapi kau kurang glamour, kurang mempesona. Kekasih-kekasih Donghae sebelum-sebelumnya selalu cantik luar biasa, bagaikan dewi"

Hyukjae mendengus sinis, apakah Donghae juga menyuruh perias ini untuk mendandani kekasih-kekasihnya?

Ryewook sibuk merapikan peralatannya di belakang Hyukjae sambil terus bergumam, "Tapi kau istimewa, harusnya kau bersyukur, Tuan Donghae tidak pernah menyuruhku mendandani kekasih-kekasihnya yang lain," gumaman Ryewook itu telah menjawab pertanyaan Hyukjae sebelumnya, "Dan yang paling sensasional adalah gaun ini, Tuan Donghae menyuruhku memesannya langsung dari perancangnya di Paris. Pesanan khusus karena diselesaikan hanya dalam waktu 1 minggu, gaun ini khusus dibuat untukmu, tiada duanya di dunia ini."

Ryewook berseru kecil dengan feminim, tampak terpesona dengan sesuatu di tangannya, "Kau harusnya bersyukur karena Tuan Donghae memperlakukanmu dengan istimewa"

Hyukjae menoleh, ingin tahu apa yang begitu menarik perhatian Ryewook, dan sekali lagi dia terpesona. Di tangan Ryewook, digantung di gantungan baju yang elegan, ada sebuah gaun yang luar biasa indahnya. Gaun itu dibuat dari bahan sutera hijau berkilau dengan kristal kecil menyebar di sepanjang gaun, memberikan efek kilauan yang menakjubkan. Kaki gaun itu melebar ke samping dan menjuntai dengan indahnya. Gaun itu adalah gaun terindah yang pernah dilihat oleh Hyukjae, dan gaun itu untuknya?

"Pakailah gaun ini, kau harus siap dalam setengah jam. Tuan Donghae ingin melihatmu sebelum ke pesta," gumam Ryewook, menghamparkan gaun hijau itu di ranjang lalu melangkah keluar dari kamar.

Kata-kata terakhir Ryewook sebelum pergi itu menyadarkan Hyukjae dari keterpesonaannya akan keindahan gaun itu. Donghae telah memperlakukannya sama seperti kekasih-kekasihnya, yang bisa diperintah sesuka hati seperti boneka!

Kali ini dia tidak akan membuat Donghae puas. Hyukjae bukan kekasih Donghae dan dia bukan boneka yang bisa diatur-atur sesukanya, Donghae harus menyadari itu

.

.

.

.

Donghae masuk dan Hyukjae menunggu dengan penuh antisipasi. Donghae mengenakan jas hitam legam yang rapi. Rambutnya yang pendek diatur sedemikian rupa dan membuatnya tampak seperti iblis tampan yang begitu menggoda.

Lelaki itu melangkah memasuki ruangan dan Hyukjae merasakan Donghae tertegun sejenak menatap wajah Hyukjae yang sudah dirias sedemikian cantiknya. Tetapi kemudian mata Donghae menatap ke arah Hyukjae yang masih mengenakan baju biasa yang selalu digunakannya di kamar itu.

Mata Donghae menggelap seolah ada badai yang akan menerjang di sana, "Kenapa tidak kau pakai gaunmu?," desis Donghae pelan. Hyukjae mundur selangkah, menyadari intensitas kemarahan dalam suara Donghae. Lelaki satu ini mungkin menderita post power sindrome sehingga mudah naik darah kalau keinginannya tidak diikuti, batin Hyukjae dalam hati.

"Aku tidak mau," Hyukjae menegakkan dagunya menantang, meski batinnya sedikit kecut.

"Gaun itu khusus dipesankan untukmu," kali ini suara Donghae sedikit menggeram, menahan kesabaran. Hyukjae melirik gaun indah itu, gaun itu luar biasa indahnya, dan Hyukjae sudah jatuh cinta pada gaun itu sejak pandangan pertama. Tetapi dia tidak boleh mengenakan gaun itu, meskipun batinnya berteriak-teriak ingin merasakan gaun secantik itu sekali saja.

Tidak! Dia tidak boleh mengenakan gaun itu, itu sama saja dengan mengakui penguasaan Donghae atas dirinya. "Aku tidak mau memakainya," Hyukjae berhasil mengeraskan suaranya hingga terdengar lantang, "Aku bukan bonekamu yang bisa kau perintah-perintah semaumu!"

"Boneka katamu?," Donghae melangkah maju dan otomatis Hyukjae melangkah mundur, "Kau pakai baju itu atau aku akan memperkosamu sekarang juga di lantai. Supaya kau tahu bagaimana aku memperlakukan bonekaku!"

Jantung Hyukjae berdetak sekejap merasa takut akan ancaman Donghae. Apakah Donghae akan melaksanakan ancamannya?

Tetapi melihat mata yang menyala karena marah itu, Hyukjae tiba-tiba sadar bahwa Donghae tidak main-main. Lelaki ini menyimpan iblis di dalam dirinya, dan ketika iblis itu keluar, Donghae tidak akan segan-segan berbuat kejam.

Salah sendiri kau menantang Iblis ini, Hyukjae! Hyukjae mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

"Hyukjae, kenakan gaun ini atau aku akan benar-benar membuatmu menyesal," Donghae mulai mendesis marah. Tangannya meraih gaun hijau itu dan melemparnya dengan sembarangan ke arah Hyukjae yang langsung menangkapnya dan memegang gaun itu dengan hati-hati.

Donghae memperlakukan gaun semahal dan seindah ini layaknya memperlakukan kain lap. Lelaki iblis ini memang tidak paham keindahan! Tanpa sadar kebencian Hyukjae meluap lagi kepada Donghae, dorongan untuk menantang Donghae amatlah besar. Meskipun sisi lain dirinya berteriak untuk tidak menantang Donghae lebih jauh lagi.

Mereka berdua berdiri berhadap-hadapan, udara di antara mereka sangatlah tegang. Senyap dan tanpa suara, hanya dua mata yang saling menatap dan saling menantang.

"Pakai gaun itu, Hyukjae," kali ini Donghae melangkah mendekat, seolah tak sabar. Hyukjae langsung mundur selangkah lagi, menjauhi Donghae, jantungnya berdegup kencang. Dia mulai merasa takut, "Baiklah, aku akan memakainya, kau keluar dulu dari sini!', teriaknya marah karena dipaksa menyerah, air mata hampir menetes dari matanya.

Tetapi Donghae bergeming, lelaki itu menggertakkan gerahamnya menahan marah, "Aku tidak akan pergi. Kesempatanmu sudah habis, tadi aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan padamu untuk ikut pesta dan memakai gaun bagus. Sekarang cepat pakai gaun itu," Donghae tidak menaikkan suara sama sekali, tapi kemarahan di dalam suaranya menjalar ke udara dan memaksa Hyukjae melakukan apa yang diinginkannya.

Dengan menahan air mata, dan menahan malu, Hyukjae melepas pakaiannya di depan tatapan Donghae yang berdiri kaku menatapnya, kemudian mengenakan gaun itu. Gaun itu luar biasa bagusnya, meluncur pelan membungkus tubuhnya dan terasa sangat pas. Sejenak Hyukjae melupakan perasaan frustasi atas pemaksaan Donghae dan larut dalam keterpesonaan atas keindahan gaun itu di tubuhnya.

Donghae mengamati Hyukjae sejenak dalam balutan gaun indah itu. Hyukjae tampak seperti dewi hutan yang diturunkan dari khayangan, luar biasa cantiknya.

"Bagus," geram Donghae, lalu dengan gerakan cepat meraih gaun itu dan merobeknya dari tubuh Hyukjae. Hyukjae terpana ketika Donghae merobek gaun itu di bagian dada. Gaun seindah dan sebagus itu rusak sudah, dengan robekan kain dan benang yang berjuluran, dan kristal-kristalnya jatuh bertebaran dengan suara dentingan pelan di lantai. Mata Hyukjae berkaca-kaca, tidak menyangka Donghae akan sekejam itu, merobek sebuah gaun yang sedemikian indahnya demi memamerkan arogansi dan kekuasaannya. Sungguh lelaki yang kejam!

"Kenapa kau tampak ingin menangis? Kau tidak mau memakai gaun ini bukan?," gumam Donghae sambil menatap Hyukjae tajam, "Maka kukabulkan permintaanmu"

Dengan gerakan tiba-tiba, Donghae meraih Hyukjae, mencengkeram punggung Hyukjae merapat ke arahnya. Hyukjae mencoba meronta tapi tak berdaya "Mulai sekarang kau harus berfikir ulang kalau mau menantangku. Aku bukan orang baik dan aku tidak segan-segan berbuat kejam," Bibir Donghae terasa dekat dengan bibir Hyukjae, dan napas lelaki itu sedikit terengah.

Kepala Donghae menunduk dan sejenak Hyukjae merasa pasti bahwa Donghae hendak menciumnya. Tetapi entah kenapa leher lelaki itu menjadi kaku dan mengurungkan niatnya.

Donghae mendorong Hyukjae menjauh. Lalu membalikkan tubuhnya ke arah pintu, "Ryewook!," suara Donghae sedikit keras ketika memanggil perias wajah yang gemulai itu.

Pintu terbuka, dan Ryewook terburu-buru masuk. Lelaki itu terkesiap mendapati kondisi Hyukjae yang penuh airmata dengan baju itu – baju eksklusif rancangan desainer terkenal, satu-satunya di dunia, yang sangat mahal dan pasti membuat iri semua perempuan itu – sekarang menjuntai sobek di dada Hyukjae dengan kondisi menyedihkan dan tak karuan.

Riasan mahal masterpiece untuk wajah Hyukjae juga tak karuan karena bekas air mata di wajah Hyukjae. "Bereskan dia," Donghae tidak menatap Hyukjae lagi, lelaki itu langsung keluar dan membanting pintu di belakangnya dengan marah.

.

.

.

.

"Kau benar-benar nekat menantang tuan Donghae seperti itu", Ryewook bergumam setengah menggerutu. Dari tadi lelaki gemulai itu memang sibuk menggerutu karena harus memulai dari awal mendandani Hyukjae. Apalagi ketika tatapannya terarah pada gaun hijau Hyukjae yang sekarang teronggok seperti sampah di lantai, Ryewook akan mendesah secara dramatis, lalu menggerutu lagi dengan kata-kata tidak jelas.

Untunglah Ryewook membawa gaun cadangan. Gaun itu cukup bagus meskipun tidak semewah dan seindah gaun hijau yang sudah dirobek oleh Donghae. Warnanya merah marun dan berpotongan sederhana, membungkus tubuh Hyukjae dengan sempurna.

"Nah sudah selesai", Ryewook meletakkan kuas bibir di meja dan menatap bayangan Hyukjae di cermin, "Lumayan cantik, meskipun tidak semewah tadi." Hyukjae tanpa dapat ditahan melirik ke gaun hijau di lantai itu dan menghembuskan napas sedih. Tetapi bagaimanapun juga, dibalik kekecewaannya ada kepuasan karena setidaknya dia bisa menunjukkan kalau dia bisa melawan Donghae.

Betapa mengerikannya lelaki itu kalau marah, Hyukjae mengernyit. Sejak usahanya yang terakhir kali untuk melarikan diri, penjagaan atas dirinya diperketat. Ada dua orang laki-laki berjas hitam dan berbadan kekar yang berjaga di depan pintunya.

Malam ini adalah pertama kalinya Hyukjae diberi kelonggaran, untuk turun, keluar dari kamar ini. Kalau Hyukjae cukup waspada, mungkin dia bisa melarikan diri dari rumah ini. "Nah, pakai sepatu ini", Ryewook meletakkan sepatu emas yang cantik di karpet, "Lalu aku akan mengantarmu turun, Tuan Donghae menunggu di bawah, karena pesta sudah dimulai".

.

.

.

.

Ketika Hyukjae menuruni tangga, seketika itu juga hatinya terasa kecut. Semua orang yang hadir di pesta ini berpakaian spektakuler, semuanya pasti gaun rancangan terbaru dari desainer terkenal.

Para laki-laki berjas tampak berkumpul dan mengobrol di satu sudut dekat perapian, dan para perempuan tampak berkelompok dengan sahabat-sahabatnya menyebar di semua sisi ballroom itu.

Sebuah meja sajian besar di sudut menyajikan berbagai jenis makanan mewah. Bartender di satu sudut sibuk melayani permintaan tamu dan para pelayan berpakaian hitam putih hilir mudik, menawarkan nampan-nampan hidangan dan sampanye yang mengalir tak ada habisnya.

Ketika Hyukjae menuruni tangga, semua pandangan tertuju padanya, hingga Hyukjae merasakan tangannya berkeringat. Hyukjae mencari-cari Donghae, tetapi lelaki itu sepertinya tidak ada. Dengan gugup, merasa terasing di keramaian, Hyukjae berdiri diam, di sudut dekat jendela, memilih untuk mengamati daripada membaur.

Dia mengernyit ketika menyadari bahwa di setiap akses pintu keluar, semuanya berdiri dua atau tiga orang pengawal Donghae dengan jas hitam yang serupa dan tampak selalu waspada. Hyukjae harus melewati mereka kalau ingin keluar dari tempat ini.

"Itu kekasih Donghae yang terbaru?", sebuah suara sinis terdengar, rupanya pemilik suara sengaja supaya Hyukjae mendengarnya. Hyukjae menoleh dan mendapati segerombolan perempuan-perempuan cantik tengah berbisik-bisik dan menatapnya dengan tatapan benci.

Salah seorang perempuan, yang paling cantik dengan gaun hitamnya yang sangat seksi terang-terangan mengamati Hyukjae dengan pandangan meremehkan dari atas ke bawah, "Aku mendengar Donghae mengajaknya tinggal bersama, bayangkan! Tidak ada satupun perempuan yang pernah diajak Donghae tinggal bersama... Kupikir dia perempuan yang sangat cantik! Ternyata dia biasa saja, mungkin Donghae sedang mabuk saat membawanya tinggal bersama"

"Aku pikir juga begitu", perempuan di kelompok itu, yang bergaun merah muda menyahut dengan suara yang tak kalah sinis "Mengingat sejarah kekasih-kekasih Donghae selalu luar biasa cantiknya. Tapi lihat dia, dia tampak tak cocok berada di sini, dia pasti bukan perempuan berkelas!"

"Gaunnya gaun lama, rancangan keluaran bulan lalu, dia pasti gadis miskin", suara perempuan lain berambut kemerahan dengan gaun biru muda, berbisik jahat, ikut memanaskan suasana, "Dia mempermalukan Donghae dengan penampilannya"

"Dia tak pantas bersanding dengan Donghae, berani bertaruh, sebentar lagi Donghae pasti muak dan mencampakkannya", perempuan seksi berbaju hitam itu mengibaskan rambutnya angkuh, "Begitu melihatku, Donghae pasti akan menyukaiku dan membuangnya"

Pipi Hyukjae memerah mendengar hinaan-hinaan yang dilemparkan terang-terangan kepadanya, Sabar Hyukjae, desisnya dalam hati. Perempuan-perempuan jalang itu terbiasa hidup kaya sehingga kadang tak punya sopan santun.

"Menungguku, sayang?" suara Donghae terdengar dekat sekali di belakang Hyukjae hingga ia terlonjak kaget. Hyukjae menoleh dan mendapati Donghae berdiri santai, sedikit bersandar di jendela di dekatnya. Lelaki itu tampaknya sudah lama berdiri di sana, dia pasti mendengar jelas semua hinaan-hinaan yang dilontarkan kepadanya tadi. Pipi Hyukjae makin merona, merasa malu sekaligus terhina.

Donghae mendekat, dan perempuan-perempuan di gerombolan itu tampak terkesiap dengan ketampanannya. Lelaki itu memang tampan, Hyukjae menggumam dalam hati. Merasa kesal karena mau tak mau dia harus mengakui kebenaran yang terpampang di depannya.

Dengan rambut coklat yang sedikit acak-acakan, mata coklat muda yang dalam tapi tajam, bibir tipis yang melengkung jantan, dan tulang pipi khas yang membentuk sudut wajahnya sedemikian rupa, diimbangi dengan jas hitam legam yang membungkus tubuh ramping berototnya dengan pas, membuatnya tampak seperti malaikat tampan dengan nuansa jahat yang mempesona.

Donghae tampaknya tahu sedang diperhatikan dengan terkesima oleh gerombolan perempuan-perempuan muda itu, tetapi dia sama sekali tidak menatap mereka. Matanya terpaku menatap Hyukjae, dan senyum miring muncul di bibirnya, "Kau cantik sekali sayang", Donghae meraih Hyukjae, merangkul pinggang Hyukjae dengan lembut, lalu mengecup hidung Hyukjae mesra, "Dari semua perempuan di ruangan ini, kau yang paling cantik. Yang lainnya cuma sampah", Donghae mengucapkan kata-kata itu dengan lantang, yang terdengar langsung oleh gerombolan perempuan itu.

Suara terkesiap terdengar dari sana, dan ketika Hyukjae menoleh, perempuan-perempuan itu tampak berdiri dengan wajah merah padam, malu luar biasa atas hinaan Donghae. Lalu dengan berbagai alasan, mereka membubarkan diri dan berpindah tempat.

Donghae terkekeh, melihat tingkah mereka. Lalu menunduk dan menatap Hyukjae, senyumnya langsung hilang, "Jangan coba-coba melarikan diri dan jangan mencoba meminta tolong pada siapapun di sini, mereka tidak akan bisa menolongmu, dan kalau sampai aku tahu kau melakukannya, kau akan dihukum", bisiknya dingin.

Sikapnya berubah kaku dan dia melepaskan pelukannya dari Hyukjae, dan tanpa kata-kata lagi meninggalkan Hyukjae. Hyukjae termangu, masih terpesona oleh pertunjukan sandiwara kasih sayang yang diperagakan Donghae tadi. Apakah lelaki itu sengaja melakukannya untuk membelanya dari gerombolan perempuan-perempuan jahat itu?

"Sungguh kekasih yang baik", sebuah suara lembut terdengar di belakangnya. Hyukjae menoleh dan berhadapan dengan perempuan cantik berbaju putih yang tersenyum lembut kepadanya. Mungkin perempuan inilah satu-satunya tamu pesta ini yang mau menyapanya.

"Siapa?", Hyukjae mengernyit ketika menyadari komentar perempuan itu barusan, perempuan itu tertawa kecil, bahkan tawanya pun terdengar merdu, Hyukjae membatin dalam hatinya.

"Lee Donghae, kekasihmu", Perempuan itu mengedikkan bahunya ke arah kepergian Donghae, "Dia membelamu dengan gagah berani dihadapan perempuan-perempuan menjengkelkan itu..ups", perempuan itu menutup bibirnya dengan jemarinya yang lentik, "Aku tidak boleh mengatakannya, tapi mereka memang menjengkelkan bukan? Kalau bukan karena suamiku, aku tidak akan mau menghadiri pesta ini dan berbaur dengan mereka", perempuan itu tertawa lagi.

Dia perempuan yang bahagia, Hyukjae membatin dalam hati. Perempuan cantik yang bahagia, ralat Hyukjae. Dengan gaun putih keemasannya yang indah, tatanan rambut sempurna, make up sederhana, dan tatapan matanya yang berbinar-binar penuh cinta. Perempuan di depannya ini tampak memancarkan kebahagiaan. Suaminya pasti sangat mencintainya, Hyukjae mengambil kesimpulan dalam hati.

"Ah ya maaf, aku mengoceh ke sana kemari, tetapi lupa memperkenalkan diri", perempuan itu mengulurkan tangannya dan tersenyum, "Aku Sungmin" Senyum ramah perempuan itu menular, Hyukjae membalas uluran tangan Sungmin dan ikut tersenyum lebar, "Hyukjae", gumamnya memperkenalkan dirinya, "Terima kasih sudah mau menyapaku"

Sungmin tersenyum lagi, dan menatap ke arah gerombolan perempuan-perempuan tadi yang sekarang sudah saling berpencar dan asyik bergosip satu sama lain, "Jangan pedulikan mereka, mereka hanya iri padamu"

Hyukjae mengernyit, "Iri padaku? Kenapa?"

"Ah kau pasti tak pernah mendengar dunia luar", Sungmin tertawa lagi, "Gosip menyebar dengan cepat di dunia elit ini. Kau adalah perempuan yang paling hangat dibicarakan akhir-akhir ini"

"Kenapa?", Hyukjae menatap Sungmin penuh ingin tahu.

"Karena Lee Donghae, pengusaha muda paling dingin di Korea Selatan,mengajakmu tinggal bersamanya di rumahnya", Sungmin mengedikkan dagunya, "Meskipun memiliki banyak kekasih, Donghae dikenal berprinsip mensterilkan rumahnya dari kehadiran perempuan. Tidak pernah ada satu perempuanpun -selain pelayan -yang bisa tinggal di rumah ini. Bahkan katanya, kekasih-kekasihnya yang dulu belum pernah ada yang menginap di rumah ini, Donghae lebih memilih menemui kekasih-kekasihnya di hotel miliknya", Sungmin menatap Hyukjae dan tersenyum.

"Kaulah satu-satunya perempuan yang diajaknya tinggal dirumahnya, dan bahkan tak keluar-keluar sampai sekarang. Mereka semua merasa iri, karena apa yang kau alami adalah impian mereka semua, tinggal bersama dengan pria paling diminati di Korea Selatan."

Hyukjae tercenung. Mereka semua tak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hyukjae bukan kekasih Donghae, dia tinggal di rumah ini bukan sebagai kekasih Donghae, tetapi lebih seperti tawanan. Dia disekap dan dilecehkan semau Donghae.

"Apakah kau juga salah satu dari mereka? Mengagumi ketampanan Donghae?" Spontan Sungmin tertawa mendengar pertanyaan Hyukjae.

"Tidak, menurutku suamiku yang paling tampan di dunia ini. Aku tidak sempat mengagumi lelaki lain", Sungmin tersenyum dan matanya berbinar penuh cinta ketika membayangkan suaminya.

Hyukjae memalingkan muka, tiba-tiba merasa sedih menyadari betapa beruntungnya Sungmin dibandingkan dirinya. Perempuan itu tampak begitu bahagia dan tanpa beban, sedang dirinya, bahkan dia tidak tahu akan dijadikan apa dirinya oleh Donghae. Mata Hyukjae berkaca-kaca ketika membayangkan kegagalan rencananya untuk melukai Donghae yang malah membuatnya terjebak dalam cengkeraman lelaki iblis itu.

Sungmin memperhatikan raut kesedihan di wajah Hyukjae, dan dahinya berkerut, "Kenapa Hyukjae? Kau sakit?" Hyukjae menatap Sungmin lagi, perempuan ini baik hati, mungkin saja Sungmin bisa menolongnya...

"Tolong aku...", Hyukjae berbisik lemah, takut suaranya ketahuan, oleh Donghae ataupun para pengawalnya yang bertebaran di mana-mana, "Tolong aku keluar dari sini" Sungmin mengernyit, jelas-jelas merasa kaget mendengar permintaan Hyukjae, matanya menatap penuh tanda tanya,

"Apa Hyukjae? Tapi... Bukankah.."

"Disini kau rupanya, aku mencarimu kemana-mana sayang", suara yang dalam itu mengalihkan perhatian Sungmin dari Hyukjae.

Hyukjae menoleh dan terpesona menatap lelaki yang melingkarkan lengannya di pinggang Sungmin dengan posesif. Lelaki itu luar biasa tampan, dengan rambut cokelat yang berpadu nuansa keemasan dan mata sehitam langit malam. Sungmin rupanya tidak main-main ketika mengatakan bahwa suaminya luar biasa tampan. Hyukjae pun, kalau memiliki suami setampan itu, pasti tidak akan mau melirik lelaki lain.

"Kyuhyun", Sungmin bergumam lembut, pipinya memerah, tampak malu-malu atas kemesraan terang-terangan yang dilakukan Kyuhyun. Suami Sungmin tampak amat sangat mencintai isterinya, Hyukjae berkesimpulan dalam hati. Lelaki itu menatap Sungmin seolah-olah akan melahapnya.

"Kita harus segera pulang. Mari kita berpamitan dulu pada tuan rumah"

"Tapi Kyuhyun, kita baru sebentar di sini... Apakah sopan kalau..."

"Ssshh", Kyuhyun menghentikan protes Sungmin dan menyentuh bibir Sungmin dengan jemarinya lembut, "Aku lebih ingin berada di rumah, bersama isteriku", gumamnya penuh arti.

Siapapun mengerti apa maksud kata-kata Kyuhyun. Bukan hanya Sungmin, pipi Hyukjae pun memerah mendengar nada kepemilikan penuh gairah Kyuhyun kepada isterinya. Sungmin menyentuh lengan Kyuhyun lembut, mengalihkan perhatian Kyuhyun yang tampaknya tidak bisa lepas dari isterinya kepada Hyukjae.

"Ini, kenalkan, Hyukjae", gumam Sungmin lembut. Hyukjae mengulurkan tangannya dengan sopan, dan Kyuhyun menjabat tangannya, lalu menatapnya dengan tajam. Membuat Hyukjae merasa nyalinya sedikit menciut di bawah hujaman tatapan tajam dari mata hitam itu.

"Hyukjae yang itu?", ada tanya dalam suara Kyuhyun, Sungmin menyentuh lengan Kyuhyun lagi, mengingatkannya, lalu menatap Hyukjae penuh permintaan maaf, "Gosip cepat menyebar, bahkan di kalangan laki-laki", gumamnya pada Hyukjae, meminta pengertian.

Hyukjae tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Ada sedikit kekecewaan terbersit di hatinya. Kyuhyun sepertinya rekan bisnis Donghae. Kalau begitu, pupus sudah harapannya meminta bantuan kepada Sungmin.

"Ayo sayang, kita berpamitan", Kyuhyun mengangguk pada Hyukjae, lalu menarik pinggang isterinya untuk mengikutinya. "Tunggu sebentar", Sungmin mengeluarkan kartu emas kecil dari tasnya, "ini kartu namaku", digenggamkannya kartu nama itu di jemari Hyukjae, "Hubungi aku kapan saja kau mau. Aku pikir kita bisa bersahabat"

Dan kemudian, pasangan sempurna itu menjauh dan tenggelam di keramaian pesta. Meninggalkan Hyukjae yang masih berdiri terpaku di sana, menggenggam kartu nama itu erat-erat seolah hanya itulah tiket penyelamatannya.

.

.

.

.

"Dia meminta tolong kepadaku", Sungmin mengernyit sambil merebahkan kepalanya di dada Kyuhyun. Lelaki itu masih berbaring santai dengan mata terpejam, menikmati saat-saat tenang setelah percintaan mereka yang panas, Mata Kyuhyun terbuka, menatap Sungmin penuh ingin tahu,

"Siapa sayang?"

"Hyukjae, kekasih Donghae." Kyuhyun tercenung, lalu mengangkat bahunya, "Kurasa kita tidak usah ikut campur dalam urusan Lee Donghae. Dia rekan bisnis yang luar biasa, dan aku senang perusahaanku menjalin kerjasama dengan perusahaannya, Tetapi dari segi pribadi...", Kyuhyun mengusap-usapkan jemarinya di punggung telanjang Sungmin, "Aku tidak terlalu menyukainya"

"Kenapa?", Sungmin menatap Kyuhyun ingin tahu, "Yah... Donghae terkenal sangat...kejam. Dia berpenampilan dingin dan kaku, tetapi ketika terusik, dia tak punya ampun. Kadang-kadang aku sedikit tak simpati atas sikap tak berbelas-kasihannya"

"Kalau begitu aku semakin mencemaskan Hyukjae", Sungmin mengingat permohonan Hyukjae tadi kepadanya, "Dia minta tolong kepadaku untuk membantunya melepaskan diri dari rumah itu. Pandangannya begitu tersiksa, apakah mungkin Donghae menyanderanya di rumah itu dengan paksa?"

"Mungkin saja", Kyuhyun mengecup dahi Sungmin lembut, "Tetapi seperti kataku tadi, itu bukan urusan kita"

"Setidaknya maukah kau mencoba berbicara dengan Donghae? Kau ada pertemuan besok pagi dengannya kan?", Sungmin menatap Kyuhyun penuh permohonan. Ada kecemasan di suaranya, apalagi ketika mengingat betapa Hyukjae tampak sangat tersiksa ketika memohon kepadanya tadi.

Kyuhyun terkekeh, lalu menggulingkan tubuhnya menindih tubuh Sungmin, "Baiklah tuan puteri, akan kucoba", didekatkannya wajahnya ke wajah Sungmin, menggoda bibir Sungmin dengan usapan bibirnya yang panas, "Sekarang bisakah kita menghentikan pembicaraan kita tentang orang lain dan bercinta lagi?"

Sungmin tidak menolak, bercinta dengan Kyuhyun selalu menjadi kegiatan yang luar biasa menyenangkan

.

.

.

.

To Be Continue

Xiao's Note:

Maaf karena Xiao baru update hari ini, ini saja ngeditnya kebut-kebutan. Xiao harap pengertiannya ya, maaf juga Xiao ga bisa bales review teman-teman semua. tapi semuanya Xiao baca kok...

Jaa, review again?