TITLE : SLEEP WITH DEVIL
A REMAKE STORY
FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL
DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.
.
.
.
.
Warning : Genderswitch
Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!
Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini
BAB 7
Donghae menggandeng tangan Hyukjae dengan formal ketika memasuki restaurant. Sang kepala restaurant sendiri yang menyapa mereka dan mengantarkan mereka berdua ke meja yang sudah disiapkan. Donghae tampak akrab dengan kepala restaurant itu, dan Hyukjae melihat kepala restaurant, seorang lelaki Perancis dengan logat Perancis yang kental. Sesekali Donghae berbicara dalam bahasa Perancis yang lancar dan tersenyum menanggapi perkataan kepala restaurant itu.
Dari informasi yang pernah didapat Hyukjae, ayah Donghae adalah orang Korea dan ibunya keturunan Perancis. Mungkin ini sebabnya Donghae lancar berbahasa Perancis, meskipun itu bukan urusannya. Hyukjae cepat-cepat mengalihkan pikirannya dari Donghae.
Ketika kepala restaurant itu pergi, Donghae menarikkan kursi untuk Hyukjae dan duduk di depan Hyukjae, "Restaurant ini milik ibuku," Donghae menatap kepergian kepala restaurant itu, "Francoise adalah asisten ibuku sejak lama, dia mencintai restaurant ini seperti mencintai hidupnya"
Hyukjae terdiam menatap Donghae. Orangtua Donghae juga telah meninggal, itu yang dia tahu, tetapi entah kenapa, informasi tentang orang tua Donghae itu tersimpan rapat, jauh sekali hingga tidak ada seorangpun yang bisa menggalinya. Seorang pelayan datang dan Donghae memesan lagi dalam bahasa Perancis yang fasih. Ketika hidangan pembuka datang, Hyukjae terpesona dengan tampilannya, Donghae menjelaskan bahwa makanan itu adalah L'imperial de saumon marine yang ternyata adalah filet salmon asap.
Ditemani dengan Creme, potongan jeruk citrus, dan Roti Baggue. Penyajiannya begitu indah, seperti hamparan padang pasir di atas piring lengkap dengan suasana eksotisnya.
Hyukjae menyuap untuk pertama kalinya dan mendesah, merasakan crème itu meleleh di mulutnya dan menciptakan cita rasa yang bercampur baur antara rasa manis dan kelembutan yang nikmat.
Tak disadarinya bahwa Donghae menatap ekspresinya itu dengan tatapan kelaparan. Suasana hati Donghae luar biasa buruknya, hasratnya yang tidak terlampiaskan membuatnya frustrasi luar biasa. Dia amat sangat ingin meledak… di dalam tubuh Hyukjae.
Donghae memesan anggur Chardonnay sebagai teman makan mereka, sambil berharap malam ini Hyukjae sedikit mabuk sehingga mengendorkan pertahanannya. Tetapi pikiran bercinta dengan Hyukjae dalam kondisi perempuan itu mabuk sama sekali tidak menyenangkannya. Dia ingin perempuan itu sukarela, melingkarkan pahanya di tubuhnya, ketika tubuh mereka bersatu. Saat itu akan datang pada akhirnya, kalau Donghae mau bersabar dan menundukkan perempuan keras ini pelan-pelan.
Hidangan utama datang, yakni Parmentier de canard et son bouquet de verdure, hidangan daging bebek yang dipanggang hingga cokelat muda dan berminyak bersama dengan kentang lembut yang dihancurkan, dan disajikan bersama semangkuk salad. Rasanya luar biasa lezat dengan paduan bumbu-bumbu yang tidak biasa dan khas, membuat Hyukjae terpesona akan citarasa masakan khas perancis ini.
Pantas saja restaurant ini dianugerahi lima bintang.
"Kau menyukainya?," dalam cahaya lampu yang temaram, Donghae tampak lebih lembut. Garis kejam di bibirnya tampak memudar dan itu membuatnya tampak lebih santai. Hyukjae ingin membantah, tetapi tidak ingin merusak suasana indah ini. Terkurung selama berminggu-minggu di dalam kamar terkutuk itu dan sekarang entah kenapa Donghae berbaik hati membawanya keluar – meskipun dengan pengawalan ketat – Hyukjae sempat melirik ke arah pengawal-pengawal Donghae yang berdiri seperti biasa di akses pintu keluar.
Hyukjae menganggukkan kepalanya. Dia memang sangat menikmati semua ini, bukan hanya makanan – meskipun makanan di rumah Donghae tidak kalah nikmatnya – tetapi bisa makan dengan pemandangan bebas, bukan pintu kamar dan ruangan yang selalu terkunci sangat menyenangkannya.
"Bagus," Donghae bergumam puas, lalu memanggil pelayan untuk menghidangkan hidangan penutup, dan kopi, "Aku ingin gencatan senjata" Hyukjae mengalihkan pandangan tertariknya pada hidangan penutup yang baru datang itu. Itu adalah crème brûlée, hidangan cantik dari krim yang dibakar di permukaan atasnya sehingga membentuk lapisan karamel renyah tapi lembut di bagian bawahnya.
"Gencatan senjata?," ketika menyadari arti dari kata-kata Donghae, Hyukjae waspada sepenuhnya.
"Aku akan memperlakukanmu dengan baik, bukan sebagai tawanan, tetapi sebagai kekasihku. Menurutku kita bisa menjalin hubungan kerja sama yang cukup baik" Hyukjae tergoda. Bukan, bukan tergoda menjadi kekasih Donghae.
Tetapi tergoda akan janji itu, bahwa Donghae tidak akan memperlakukannya sebagai tawanan, yang berarti akan melonggarkan keamanan ketat yang selama ini menjaganya. Itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri akan…
Donghae sepertinya bisa membaca pikiran Hyukjae dari raut wajahnya, bibirnya mengetat marah dan lelaki itu menggeram, "Lupakan saja!," dengan marah Donghae melempar serbetnya, lalu berdiri, "Hangeng!"
Dengan cepat Hangeng menyiapkan mobil Donghae, dan Hyukjae mendapati dirinya ditarik pergi meninggalkan rumah makan itu.
.
.
.
.
Dalam kegelapan sosok itu mengawasi, kabel rem mobil itu sudah berhasil dipotongnya. Susah memang, mengingat pengawal-pengawal Donghae selalu siaga. Tetapi jangan panggil dia Jackal , nama samarannya di dunia gelap yang cukup populer sebagai pembunuh bayaran paling ahli.
Potongannya sudah diatur dengan rapi, ketika diperiksa sekarang pun tidak akan ada yang menyadarinya. Tetapi seiring dengan berjalannya mobil, dan kira-kira 10 kilometer dari sini, tepat ketika mereka memasuki area pinggiran kota dengan jalan berliku dan pohon besar di kiri kanannya menuju rumah Donghae…. Kabel itu akan putus.
Jackal terus mengawasi sampai mobil itu berjalan dan menghilang di tikungan, lalu tersenyum jahat, sekarang saatnya menagih bayarannya kepada Jun Seok yang menyedihkan.
.
.
.
.
Ketika mereka dalam perjalanan pulang, suasana hati Donghae tampaknya lebih buruk dari sebelumnya. Hyukjae mengernyit menatapnya. Apakah Donghae selalu melalui hari-harinya dengan marah-marah seperti ini? Lelaki itu pasti akan mati muda, pikirnya dengan puas.
Perjalanan itu berlangsung sedikit lama dan Hyukjae mengantuk mungkin karena pengaruh anggur dan makanan tadi, Hyukjae mulai memejamkan mata dan godaan untuk tidur terasa sangat nikmat.
"Hyukjae!," teriakan itu mengejutkan Hyukjae membuatnya terperanjat kaget, ketika sadar dia merasakan dirinya ada dalam dekapan Donghae, didekap dengan begitu kuat hingga merasa sakit. Seluruh tubuh Donghae melingkupinya seolah melindunginya. Melindunginya dari apa…..?
Sekejap kemudian, mereka berguling dan benturan keras mengenai kepalanya, membuat semuanya gelap dan Hyukjae tidak ingat apa-apa lagi.
.
.
.
.
"Bagaimana dia?," Donghae menyeruak di antara kerumunan perawat itu. Para perawat di ruangan lain tampak mengejarnya karena luka di lengannya belum selesai dibalut, Dokter dan perawat yang menangani Hyukjae menoleh serentak dan sedikit terpana ketika menyadari bahwa di pintu ruangan gawat darurat itu, berdiri sosok lelaki yang luar biasa tampan, mengenakan kemeja putih yang penuh darah, dan tampak begitu marah.
"Bagaimana dia?!," sekali lagi Donghae bertanya, dengan nada sedikit berteriak. Dokter Kang Min, yang bertugas di sana, cukup mengetahui reputasi Donghae yang begitu kejam dan cepat naik darah – lagipula, lelaki itu adalah pemilik rumah sakit ini. Dia menghampiri Donghae dan mencoba menjelaskan, "Dia baik-baik saja Tuan Donghae, kami sudah menjahit luka di kepalanya. Tetapi dia kehilangan banyak darah, dan saat ini kami sedang mencari darah dari penyedia terdekat…."
"Cari darah itu…Hangeng!," Donghae berteriak memanggil Hangeng, yang dari tadi sebenarnya sudah berdiri di belakangnya, "Dia akan membantu mencari darah untuk Hyukjae, apa golongan darahnya?"
"O," dokter itu menjawab cepat, tiba-tiba merasa takut akan api yang menyala di mata berwarna cokelat muda itu. Donghae tertegun sejenak, "Ambil darahku, aku juga O"
"Tuan Donghae, Anda juga habis terluka karena kecelakaan ini," Hangeng menyela cemas.
"Kami tidak bisa mengambil darah Anda, kondisi Anda tidak memungkinkan," Dokter itu menyela tak kalah cepat hampir bersamaan dengan Hangeng. Donghae mengepalkan tangannya marah, "Dengar, ini hanya luka lecet kecil, dan aku ingin semua perkataanku dituruti, ambil darahku dan selamatkan dia! Dan kalau…," Donghae terengah, matanya melirik ke arah tubuh Hyukjae yang terkulai lemas di sana, "Dan kalau sampai terjadi sesuatu kepadanya, aku akan membuat kalian menerima ganjarannya," gumamnya dengan nada mengancam yang menakutkan.
.
.
.
.
Donghae duduk di pinggir ranjang dan menatap Hyukjae yang masih tertidur karena pengaruh obat. Transfusi darah sudah dilaksanakan dan kondisi Hyukjae berangsur membaik. Kali ini barulah Donghae merasakan sedikit pusing dan sakit di lengannya yang tersayat besi mobil yang terguling tiga kali sebelum terhempas ke turunan jalan tadi.
"Kondisinya sudah membaik," Hangeng yang berdiri di sana berusaha memecah keheningan, "Kami sudah menyelidiki pelakunya"
"Kang Jun Seok," Donghae menggeram, dia sudah tahu bahkan sebelum Hangeng memberitahunya. Bajingan busuk itu berani-beraninya melakukan ini. Dia tidak tahu apa yang menantinya. Donghae pasti akan mencincangnya sampai menjadi bubur. "Kau sudah menemukannya?"
Hangeng bergerak sedikit gelisah, "Belum tuan, ketika dia sadar bahwa dia gagal membunuh Anda, dia langsung melarikan diri entah kemana"
"Cari dia, temukan lalu bawa dia ke depanku, hidup-hidup," suara Donghae terdengar mengerikan dan Hangeng tahu Donghae sedang sangat marah. Saat ini seharusnya Jun Seok berdoa supaya dia ditangkap dalam kondis sudah mati, karena kalau Donghae sudah menemukannya dalam kondisi hidup… Hangeng tidak berani membayangkan bagaimana jadinya.
"Ada satu lagi tuan," Hangeng tiba-tiba teringat Donghae hanya melirik tidak berminat, "Apalagi?"
"Kang Jun Seok tidak melakukan semuanya sendiri, dia menyewa seorang pembunuh bayaran yang sangat terkenal di dunia gelap, Jackal."
Jackal. Donghae pernah mendengar nama sebutan itu. Jackal adalah pembunuh jenius bermental psikopat yang sangat keji dan maniak. Dia membunuh korbannya dengan perhitungan yang sangat matang dan terkadang bisa sangat kejam. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu sosok asli pembunuh itu, mereka semua menyebutnya Jackal karena dia selalu berhasil membunuh korbannya… sampai sekarang.
"Jackal terkenal tidak pernah gagal. Dia akan terobsesi kepada korbannya kalau tidak bisa membunuhnya. Dan sekarang, dia pasti akan mengejar Anda. Anda harus berhati-hati karena sampai saat ini kita tidak tahu siapa dirinya"
Donghae menganggukkan kepalanya. Merasa siap karena marah. Kang Jun Seok dan pembunuh psikopat yang entah siapa itu telah berani-beraninya melukai Hyukjae, miliknya. Kalau mereka memutuskan berhadapan dengannya, berarti mereka telah memilih musuh yang salah.
.
.
.
.
Hyukjae terbangun ketika merasakan lengannya disengat. Dia membuka mata dan bertatapan dengan wajah muda berkacamata yang sangat tampan dan ramah."Ups aku membangunkanmu," lelaki itu tersenyum ramah, "Aku sedang menyuntikkan obat untuk lukamu. Aku sudah berusaha melakukannya selembut mungkin, tetapi sepertinya aku tak selembut yang kukira"
Hyukjae mengamati lelaki itu dari jas putih yang dikenakannya, dia adalah dokter. Lelaki itu mengikuti arah pandangan Hyukjae dan tersenyum, "Perkenalkan, aku Dokter Kang Min, aku dokter yang merawatmu kemarin ketika kau dibawa ke sini, Kepalamu pasti sakit ya? Kau terbentur cukup keras, aku menjahit 12 jahitan di sana"
"Kecelakaan?," Hyukjae berusaha mengingat semuanya-tetapi ingatan terakhirnya hanya sampai pada teriakan Donghae dan pelukannya yang begitu erat, sebelum semuanya menjadi gelap.
"Ya kecelakaan, kata polisi mobil kalian di sabotase dan remnya blong. Mobil kalian terguling dan kepalamu membentur, untung kami dapat menyelamatkanmu"
"Bagaimana dengan Donghae?," Hyukjae bertanya cepat, sabotase itu pasti dilakukan oleh musuh Donghae yang mendendam kepadanya. Apakah Donghae terluka? Ataukah lelaki itu sudah mati? Dan kenapa bukannya senang tetapi Hyukjae malahan merasa cemas?
"Maafkan aku mengecewakanmu," suara khas itu terdengar dari pintu, "Tetapi aku masih hidup"
Hyukjae menoleh dan melihat Donghae berjalan memasuki ruangannya, dengan kemeja hitam dan penampilan yang luar biasa sehat dan tak kelihatan kalau dia baru saja mengalami kecelakaan.
Tanpa sadar Hyukjae mengernyit, menyesal telah mencemaskan Donghae. Lelaki itu mungkin iblis, jadi susah mati, gumam Hyukjae menyumpah dalam hati.
''Bagaimana kondisinya dokter?," Donghae mengalihkan tatapan matanya dan menatap Dokter Kang Min yang masih berdiri di sana, memeriksa infus Hyukjae. Senyum di wajah Dokter Kang Min tak pernah pudar hingga Hyukjae menyadari dua lelaki di depannya ini begitu kontras, yang satu begitu dingin dengan nuansa muram gelap yang melingkupinya, dan yang satunya tampak begitu cerah, penuh senyum seolah-olah dia membawa Matahari di atas kepalanya.
"Kondisinya sudah membaik, tetapi dia masih harus istirahat dan berbaring beberapa hari di sini. Saya belum bisa merekomendasikan dia dibawa pulang seperti permintaan anda tuan Donghae," ekspresi Dokter Kang Min berubah serius meskipun masih penuh senyum, "Itu akan berbahaya untuknya, kepalanya terbentur parah dan goncangan sekecil apapun akan membuatnya mual dan muntah dan kesakitan. Anda tentu tidak ingin hal itu terjadi kepadanya kan?"
"Berapa hari sampai dia bisa normal kembali?," Donghae membicarakan Hyukjae seolah-olah Hyukjae tidak ada di ruangan itu. Dokter Kang Min tampak menghitung, "Maksimal tujuh hari, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau kurang dari tujuh hari perkembangannya sudah membaik, kami akan merekomendasikannya untuk bisa dirawat di rumah"
Donghae tercenung. Tujuh hari, dan Hyukjae berada dalam area publik yang cukup berbahaya. Otaknya berputar memikirkan keamanan seperti apa yang harus diterapkannya untuk menjaga Hyukjae. Jun Seok masih dalam pengejaran dan Jackal berada entah dimana, masih mengincar mereka. Donghae harus menjaga Hyukjae dengan ekstra hati-hati.
Dokter Kang Min mengangkat bahunya, dan tersenyum pada Hyukjae, "Baiklah Hyukjae, saya harus kembali bertugas. Saya yakin Anda akan segera sembuh", senyumnya yang secerah Matahari memancar lagi, membuat Hyukjae terpesona, bahkan setelah Dokter Kang Min pergi.
Donghae menatap Hyukjae dan mencibir, "Jangan bermimpi", desahnya kesal. Hyukjae menatap Donghae dan mengernyit, "Apa maksudmu?"
"Kau menatap dokter itu dengan tatapan bodoh dan terpesona seperti perawan yang melihat lelaki pertamanya...Oh maaf", senyum Donghae benar-benar mengejek, "Aku lupa kalau kau sudah tidak perawan dan akulah lelaki pertamamu"
Hyukjae benar-benar marah kepada Donghae, lelaki itu benarbenar perpaduan dari semua yang dia benci, kurang ajar, tidak sopan, dan menjengkelkan. Mungkin karena itulah Tuhan menciptakannya dengan kesempurnaan fisik yang luar biasa, untuk mengimbangi sifat buruknya.
Donghae duduk di kursi sebelah Hyukjae dan menatap lurus, "Aku ulangi, jangan pernah kau terpesona pada dokter muda itu, dia pasti dari kalangan keluarga konvensional dan aku yakin, pendidikan moral dan keluarganya tidak akan menoleransi kau, perempuan yang sudah dinodai oleh Lee Donghae "
"Hentikan!", Hyukjae menggeram, tak tahan akan kata-kata Donghae yang sepertinya sengaja digunakan untuk menyakitinya. Kepalanya terasa berdenyut-denyut, seperti ditusuk dengan tongkat besi. Dia meringis dan memegang kepalanya.
Ekspresi Donghae langsung berubah, lelaki itu berdiri dari kursinya dan setengah duduk di ranjang, memeluk Hyukjae, "Hyukjae? Kau kenapa? Hyukjae...?"
"Tidak... Aku tidak apa-apa, maafkan aku, kepalaku Cuma sedikit sakit"
"Berbaringlah", Donghae membantu merapikan bantal-bantal di belakang Hyukjae, lalu dengan pelan membaringkan Hyukjae di ranjang. Hyukjae memejamkan matanya, merasakan denyutan itu mulai mereda, dan mendesah.
"Bagaimana?" Hyukjae menarik napas panjang dan membuka mata, menemukan wajah luar biasa tampan itu menatapnya dengan cemas, benar-benar cemas, bukan sesuatu yang dibuat-buat. Apakah Donghae benar-benar cemas? Tapi bagaimana mungkin? Bukankah lelaki ini adalah lelaki kejam yang menghancurkan keluarga dan orangtuanya?
Tapi ingatan Hyukjae kembali kepada malam kecelakaan itu, sekarang terpatri jelas dalam ingatannya kalau Donghae benar-benar merengkuhnya malam itu, memeluknya erat-erat dan menahan guncangan-guncangan untuk melindunginya. Mungkin kalau bukan karena dipeluk Donghae, tubuh Hyukjae sudah terlempar, dan bukan hanya kepalanya saja yang terluka.
Malam itu, Donghae jelas-jelas melindunginya. Tapi, kenapa? Pertanyaan-pertanyaan itu kembali membuat kepala Hyukjae sakit, dia memejamkan matanya lagi.
Hening sejenak, kemudian Donghae menghela napas, "Istirahatlah, kalau kau perlu apa-apa, kau tinggal menekan tombol di dekat ranjang." Dan kemudian Donghae pergi menutup pintu dengan pelan dari luar.
.
.
.
.
Donghae menyandarkan tubuhnya di dinding dan memijit dahinya yang berdenyut, dadanya terasa sakit dan nyeri. Jadi, seperti ini rasanya... Melihat Hyukjae kesakitan hampir membuatnya meledak dalam kecemasan, dan itu semua karena musuh-musuhnya yang hendak mencelakainya, "Apakah semua baik-baik saja Tuan?", Hangeng muncul, dia memang sedang bertugas berjaga di sana dan cemas melihat Donghae hanya bersandar di pintu.
Donghae menoleh, menatap Hangeng dan mengernyit, "Ah.. Ya, dia baik-baik saja, hanya tadi ada serangan di kepalanya, dia kesakitan" Hangeng menganggukkan kepalanya dan merenung. Donghae juga tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, "Kenapa tidak Anda katakan saja kepadanya?", gumamnya akhirnya.
Donghae menyentakkan kepalanya, "Apa?"
"Semuanya, seharusnya dia tahu semuanya. Itu akan membebaskannya dan juga membebaskan Anda" Donghae menggelengkan kepalanya, "Itu akan menghancurkan hatinya". Dengan cepat Donghae mengalihkan pembicaraan, "Dokter bilang dia harus seminggu lagi di sini, kau atur penjagaan di sini, jangan sampai ada yang lengah. Hanya dokter dan perawat khusus Hyukjae yang boleh masuk ke ruangan itu, instruksikan pada semuanya" Donghae lalu melangkah pergi, dan Hangeng tercenung menatap tuannya itu.
Semua orang selalu takut pada Donghae. Lelaki itu setampan malaikat, tetapi hatinya sehitam iblis, begitu kata orang-orang. Semua orang memujanya sekaligus menjaga jarak karena ketakutan. Yang mereka tidak tahu, kadang-kadang, tuannya itu bisa seperti malaikat seutuhnya, baik tampilan fisiknya maupun hatinya
.
.
.
.
"Selamat sore, sepertinya kau sudah lebih sehat". Dokter Kang Min menyapa lagi di sore harinya setelah memeriksa Hyukjae, "Dan kulihat makan malammu masih utuh, kenapa kau tak memakannya?"
Hyukjae mengernyit meskipun mencoba tersenyum lemah kepada Dokter Kang Min, "Saya masih mual dan muntah-muntah dokter"
"Tapi kau harus tetap makan, aku akan memesankan menu lain untukmu, mungkin sup panas dan jus buah bisa menggugah seleramu?" Mau tak mau Hyukjae tersenyum melihat betapa bersemangatnya Dokter Kang Min, "Terima kasih dokter" Dokter Kang Min menganggukkan kepalanya, "Aku cuma tidak menyangka perempuan seperti kau yang menjadi kekasih Tuan Donghae"
Tertegun Hyukjae mendengar perkataan Dokter Kang Min itu, "Apa?"
Wajah Dokter Kang Min memerah karena malu, dia tampak menyesal telah mengucapkan kata-kata itu, "Ah maafkan aku Hyukjae, lupakan aku telah mengucapkannya ya?" Hyukjae menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa dokter, semua yang melihat pasti akan menyangka aku adalah kekasih Donghae"
"Apalagi melihat tingkah Tuan Donghae di ruang gawat darurat kemarin", Dokter Kang Min terkekeh Hyukjae mengernyitkan matanya lagi, memangnya apa yang dilakukan Donghae di ruang gawat darurat kemarin? Dokter Kang Min sepertinya tahu bahwa Hyukjae bertanya-tanya, dia mengangkat bahunya, "Jangan bilang padanya kalau aku membicarakan tentangnya di belakangnya ya, sampai sekarang aku masih merinding mengingat tatapan membunuhnya ketika mengancam akan menghabisi semua dokter dan perawat di sini kalau mereka tidak berhasil menyelamatkanmu"
Ditatapnya Hyukjae dengan tatapan menyesal, "Sungguh, siapapun yang melihat kelakuannya kemarin pasti akan mengambil kesimpulan yang sama, bahwa Tuan Donghae adalah kekasih yang amat sangat mencintai dan mencemaskanmu"
Hyukjae memalingkan muka, tidak tahu harus berkata apa, masih tidak dipercayainya kata-kata Dokter Kang Min kepadanya, "Ah ya, dan sebenarnya dia turut andil dalam menyelamatkan nyawamu" Ketika Hyukjae menatap Dokter Kang Min dengan bingung, Dokter Kang Min mendesah, "hmm. Dia tidak bilang padamu ya, jangan bilang kalau kau tahu dari aku ya"
"Tahu tentang apa?"
"Malam itu kau kehabisan banyak darah, dan Tuan Donghae yang kebetulan golongan darahnya sama denganmu, memaksa kami mengambil darahnya untukmu. Sebenarnya kami tidak boleh melakukannya, Tuan Donghae juga baru selamat dari kecelakaan yang sama, tetapi dia memaksa, dan mengancam. Dan benar apa kata orang, tidak akan ada seorangpun yang berani melawan apa yang dikatakan oleh Lee Donghae. Lagipula dia adalah pemilik rumah sakit ini, perintahnya harus kami laksanakan"
Kejutan lagi. Hyukjae tidak suka dia harus berhutang nyawa kepada lelaki iblis itu... Tetapi entah kenapa, perasaan bahwa darah lelaki itu mengalir di pembuluh nadinya membuat dadanya berdesir oleh suatu perasaan aneh, seolah-olah bagian diri Donghae sekarang ada di dalam tubuhnya, di dalam dirinya.
Dokter Kang Min menghela napas melihat Hyukjae termenung, "Ah seharusnya aku tidak terlalu banyak bicara, kau harus segera beristirahat" Ketika Dokter Kang Min sudah sampai di pintu, Hyukjae memanggilnya, "Dokter..."
Langkah Dokter Kang Min berhenti seketika, dia menoleh dan menatap Hyukjae bertanya-tanya, "Ada apa Hyukjae? Ada yang bisa kubantu? Apakah kau kesakitan?"
Hyukjae menggelengkan kepalanya, "Ah tidak apa-apa dokter, lupakan saja, terimakasih sudah merawat saya"
Dokter Kang Min tersenyum, "Aku hanya melakukan tugasku, tapi sekaligus aku senang kalau pasienku makin membaik". Ketika Dokter Kang Min pergi, Hyukjae tercenung. Cerita Dokter Kang Min tadi membuatnya bingung. Benarkah itu semua? Bahwa Donghae sangat mencemaskan keselamatannya?
Pikiran Hyukjae teralihkan oleh kesadarannya bahwa dia saat ini tidak sedang dikurung di rumah Donghae yang berpenjagaan ketat, dia ada di area publik. Sebuah rumah sakit, dan itu berarti kesempatannya untuk melarikan diri semakin besar. Dia harus melepaskan diri dari cengkeraman Donghae karena dia merasa takut. Ya... Hyukjae takut semakin lama dia berada di bawah Donghae, pada akhirya dia akan bertekuk lutut di bawah kaki Donghae, jatuh ke dalam pesonanya.
Hyukjae hanya perlu seseorang untuk menolongnya,,,,bisakah Dokter Kang Min menolongnya? Jika Hyukjae meminta tolong padanya, akankah Dokter Kang Min mengerti? Dari perkataannya tadi, tampak jelas kalau Dokter Kang Min menganggap Hyukjae adalah kekasih Donghae, Bagaimana jika dia menceritakan yang sebenarnya?
Mungkinkah Dokter Kang Min jatuh simpati dan menolongnya? Atau mungkin Dokter Kang Min malah melaporkannya pada Donghae, mengingat rumah sakit ini adalah milik Donghae. Malam itu Hyukjae tertidur dengan mimpi buruk, di mana Donghae terus menerus mengucapkan ancaman itu di telinganya, bahwa dia akan membunuh siapapun yang menolong Hyukjae dan siapapun yang lengah hingga Hyukjae bisa melarikan diri.
Kalimat itu terngiang jelas sepanjang malam : "Kebebasanmu akan digantikan dengan nyawa seseorang, Hyukjae..."
.
.
.
.
Hangeng melapor pagi-pagi sekali kepada Donghae, "Kami berhasil menangkap Jun Seok"
Donghae yang sedang menyesap kopinya langsung membanting gelasnya ke meja, "Hidup-hidup?", tanyanya sambil menyipitkan matanya. Hangeng mengangguk, "Hidup-hidup"
"Bagaimana kondisinya?"
"Kakinya sedikit luka, tetapi tidak parah. Dia berusaha melarikan diri dari kami, tetapi kami berhasil menggagalkannya"
"Bagus, bawa dia padaku"
.
.
.
.
Sosok yang selalu berada dalam bayangan gelap itu mengawasi semuanya dari mobil yang diparkir secara tidak kentara dekat dengan gerbang Donghae. Bagus. Mereka sudah menangkap Jun Seok, itu akan mengalihkan perhatian mereka untuk sementara. Dan dia bisa berbuat apapun yang dia mau untuk menyusun rencana menghabisi Donghae... Dan pelacurnya. Jackal tidak pernah gagal membunuh targetnya.
Ketika targetnya terlepas, Jackal akan memburunya sampai mati, dan kali keduanya, dia tak akan pernah gagal.
To Be Continue
Maaf karena Xiao baru update sekarang :D
Mind to Review?
