TITLE : SLEEP WITH DEVIL
A REMAKE STORY
FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL
DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.
.
.
.
.
Warning : Genderswitch
Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!
Apabila Xiao sudah mersa ga mampu, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini
BAB 7
Donghae masuk ke kamar perawatan Hyukjae tengah malam. Saat itu Hyukjae sudah tertidur pulas. Dengan langkah pelan tak bersuara, Donghae berjalan menuju tepi tempat tidur dan berdiri dekat di sana mengawasi Hyukjae... Begitu damai perempuan ini terpejam dalam lelapnya, seolah tak menyadari bahwa sekarang bahaya yang amat besar sedang mengintainya.
Donghae sedikit membungkuk, lalu menyentuh pelan pipi Hyukjae. Perempuan itu mengerang pelan lalu mengubah posisi tidurnya, tetapi tidak terbangun. Donghae mengambil resiko dengan menunduk dan mengecup bibir Hyukjae, merasakan manisnya bibir itu. Sampai kemudian dia larut dalam gairahnya yang tertahan dan melumat bibir Hyukjae.
.
.
.
.
Hyukjae merasakan gelenyar panas di seluruh tubuhnya, dan dia menggeliat, ada gairah menjalar dari bibirnya yang terasa nikmat dilumat seseorang. Dengan lemah Hyukjae mengerjap setengah tidur dan membuka mata.
Lelaki itu, yang sedang membungkuk di atas tubuhnya dan melumat bibirnya, adalah Lee Donghae .
Donghae sedang melumat bibir Hyukjae, kemudian dia berhenti dan menatap mata Hyukjae, menyadari bahwa Hyukjae sudah terbangun, Dengan lembut Donghae menelusurkan tangannya di pipi Hyukjae, lalu bibirnya mengikuti gerakan jemarinya.
Hyukjae memejamkan matanya, ini pasti mimpi. Donghae Lee di dunia nyata tidak mungkin berbuat selembut ini, lelaki itu pasti akan langsung memaksanya, memperkosanya, dan memperlakukannya dengan kasar.
Ini pasti mimpi, karena sebelum tidur Hyukjae berbaring dengan gelisah, mencoba menghapus memori bercintanya dengan Donghae yang seolah-olah selalu muncul dalam benaknya. Dan karena ini mimpi, tak ada salahnya untuk menikmati.
Hyukjae setengah tersenyum, lalu menyentuh pipi Donghae dengan lembut. Dalam sekejap tubuh Donghae langsung kaku seperti terkejut merasakan sentuhan lembut jemari Hyukjae di pipinya. Hyukjae langsung menarik tangannya panik, apakah Donghae dalam mimpinya ini akan berubah lagi menjadi Donghae dalam dunia nyata yang jahat?
Ternyata tidak, Donghae dalam dunia mimpi ini sangat lembut dan penuh kebaikan. Lelaki itu mengambil jari Hyukjae dan meletakkannya di pipinya. "Sentuh aku di manapun kau suka, jangan berhenti..." bisik Donghae penuh gairah.
Hyukjae tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ini benar-benar mimpi yang sangat menyenangkan. Di bawah tatapan tajam Donghae, Hyukjae menyusurkan jemarinya di wajah Donghae, mengagumi setiap kesempurnaan yang terpatri di sana. Ketika jemarinya hampir menyentuh bibir Donghae, lelaki itu meraih tangannya, dan mengecupnya lembut, satu persatu jemarinya, Donghae menggulingkan tubuhnya ke samping Hyukjae, ranjang rumah sakit yang lembut itu membuat tubuh mereka bersentuhan rapat.
Tangan Donghae menggenggam jemari Hyukjae, lalu menyentuhkan jemarinya ke kejantanannya yang sudah sangat siap, "Sentuh aku Sayang", bisiknya parau. Wajah Hyukjae memerah merasakan kekerasan yang panas di telapak tangannya, dengan lembut Donghae membuka ikat pinggangnya dan menurunkan celananya, "Rasakanlah tubuhku yang amat sangat mendambamu"
Hyukjae meremas kejantanan itu dan Donghae mengerang, perasaan bahwa Donghae benar-benar bergairah atas sentuhannya membuat Hyukjae merasa senang. Oh ya ampun, ini adalah mimpi erotis terbaik yang pernah dia alami. Jemari Hyukjae bereksplorasi di tubuh Donghae, dan lelaki itu membiarkannya sebebas-bebasnya. akhirnya, ketika bibir Hyukjae dengan penuh ingin tahu mencecap kejantanan itu, Donghae mengangkat kepala Hyukjae dengan tatapan tajam berkabut yang penuh gairah.
"Giliranku" geramnya serak.
Hyukjae dibaringkan dengan Donghae berbaring miring menghadapnya, lelaki itu mengecup dahinya, pelipisnya, ujung hidungnya, pipinya, bibirnya dengan kecupan-kecupan kecil yang lembut, Lalu bibir itu berhenti di bibir Hyukjae, mencicipinya sedikit-sedikit di tiap ujungnya, meniupkan kehangatan yang basah di sana. Membuat Hyukjae membuka bibirnya dengan penuh perasaan mendamba.
Donghae melumat bibir Hyukjae yang membuka itu dan menyelipkan lidahnya ke dalamnya. Lidah mereka bertautan, panas dan basah. Bibir Donghae melumat bibir Hyukjae tanpa ampun, mencecap setiap sisinya, dengan penuh gairah. Hyukjae merasakan jemari Donghae mulai membuka satu-persatu pakaian rumah sakit Hyukjae, kemudian tangan yang panas itu serasa membakar di kulitnya yang telanjang, menyentuhnya dengan intens di semua sisi, menimbulkan geletar tiada duanya, yang membuat Hyukjae menggeliat penuh gairah.
Jemari Donghae menyentuh kewanitaannya, dan mencumbunya dengan keahlian luar biasa hingga paha Hyukjae terbuka, panas, dan basah siap untuknya. Donghae sudah berada di atasnya dan menindihnya, Hyukjae merasakan kejantanannya yang begitu panas menyentuhnya.
"Apakah...", napas Donghae yang panas sedikit terengah terasa begitu erotis di bibirnya, Donghae mengecupnya lagi, "apakah aku akan menyakitimu kalau aku..." Hyukjae menggoyangkan pinggulnya putus asa, gairahnya memuncak tanpa ampun, dia ingin Donghae ada di dalam dirinya, oh Ya ampun, dia sangat ingin!
Gerakan-gerakan Hyukjae yang tak berpengalaman itu membuat Donghae menggertakkan giginya menahan gairahnya yang memuncak. Akhirnya dengan satu gerakan yang mulus, Donghae menekan dirinya, menyatukan tubuhnya dengan Hyukjae. Percintaan mereka sangat penuh gairah dan luar biasa nikmatnya. Hyukjae mencengkeram punggung Donghae yang berotot, melupakan rasa sakit di kepalanya, terlalu larut dalam kenikmatan yang mendera tubuhnya.
Donghae berusaha bergerak selembut mungkin, tetapi gairahnya mengalahkan akal sehatnya, dia bergerak dengan penuh gejolak, membawa Hyukjae bersamanya. Dan akhirnya ketika puncak itu datang, tubuh mereka menyatu dengan begitu eratnya, dalam ombak kepuasan yang bergulung-gulung menghantam tubuh mereka.
Ketika Donghae menarik tubuhnya dengan hati-hati dari Hyukjae dan berbaring di sebelahnya dengan lengan masih memeluknya erat, Hyukjae sudah terlalu kelelahan untuk bergerak -sungguh mimpi yang luar biasa nikmatnya-desah Hyukjae dalam hati, masih menggelenyar dalam sisa-sisa kenikmatan yang begitu memuaskan.
Ah, bahkan dalam mimpinya itu, dia bisa merasakan dengan jelas kecupan lembut Donghae di dahinya sebelum lelaki itu pergi.
.
.
.
.
Ketika terbangun di pagi harinya, Hyukjae baru sadar bahwa itu semua bukanlah mimpi. Oh ya, bajunya memang terpasang rapi dan semuanya tampak baik-baik saja. Tetapi rasa pegal dan kelembapan yang khas di antara kedua pahanya serta aroma parfum Donghae yang tertinggal di seluruh tubuhnya membuatnya sadar bahwa semalam, Donghae benar-benar berkunjung ke kamarnya dan bercinta dengannya.
Lelaki itu memperkosanya lagi ketika dia tidak sadar. Hyukjae mengernyit, mencoba menahan rasa terhina yang menyesakkan dadanya. Tetapi, apakah benar itu perkosaan? Malam kemarin Hyukjae amat sangat bersedia untuk bercinta dengan Donghae. Bahkan dia mengalami orgasme! Ya, bahkan tubuhnya pun masih mengingat kenikmatan luar biasa yang didapatnya semalam.
Apakah bisa mencapai kepuasan ketika kau diperkosa?, Hyukjae memegang pipinya yang memanas dengan jemarinya, merasa malu dan jijik pada dirinya sendiri. Mungkin memang benar di dalam dirinya tersembunyi wanita jalang, yang kemarin akhirnya keluar dan menguasai tubuhnya.
Hyukjae telah ditaklukkan dalam pesona gairah Donghae yang luar biasa ahli. Dan sekarang ketakutan menerpa dirinya, bagaimana kalau pada akhirnya nanti dia menyerah dan dengan senang hati menjadi wanita murahan yang bersedia menjadi kekasih Donghae, bertekuk lutut di kaki lelaki itu seperti perempuan-perempuan yang lain?
Bagaimana dia mempertanggungjawabkan dirinya kepada ayah dan ibunya nanti?
"Kau tampak sedih", Suara itu membuat Hyukjae terlonjak kaget, dia menoleh dan mendapati Dokter Kang Min berdiri di pintu, menatapnya cemas, "Apakah kau baik-baik saja"
Kenapa hidupku tidak bisa biasa-biasa saja? Tiba-tiba Hyukjae merasa sedih atas perjalanan hidupnya. Dihadapkan pada Dokter Kang Min yang selalu tampak ceria dan tanpa beban membuat Hyukjae ingin menangis, dan matanya mulai berkaca-kaca.
"Hei... Heii", dokter Kang Min mendekati ranjang dan menyentuh lengan Hyukjae, "Kenapa Hyukjae? Apakah kau baik-baik saja?"
Hyukjae menganggukkan kepalanya, mengusap air matanya dengan malu, "Saya baik-baik saja dok..."
Dengan ragu, Dokter Kang Min duduk di tepi ranjang, "Apakah kau bertengkar dengan kekasihmu, Tuan Donghae.. Aku mengerti, mengingat sifat keras dan dominannya yang terkenal itu.. pasti berat menjadi kekasihnya"
Hyukjae menatap Dokter Kang Min tajam, "Aku bukan kekasihnya, aku membencinya setengah mati hingga ingin membunuhnya", desis Hyukjae penuh kemarahan.
Dokter Kang Min terpana kaget, "Apa? Bukankah... Bukankah.."
"Dokter, aku bukan kekasihnya, aku disekap di rumahnya selama ini...", dan semua cerita itu mengalir dari mulut Hyukjae, mulai dari kisah bisnis ayahnya dengan Donghae, kematian kedua orang tuanya, usahanya membalas dendam, sampai kemudian dia berakhir dalam sekapan Donghae.
Dokter Kang Min mendengarkan semua dengan takjub, dan ketika semua kisah itu berakhir, Dokter Kang Min menatap Hyukjae tak percaya, "Wow..., tunggu sebentar, beri aku waktu, aku tak tahu harus bicara apa"
Hyukjae menatap Dokter Kang Min penuh tekad, "Saya mohon bantuan dokter untuk melepaskan saya dari sini, hanya dokter dan perawat dokter yang boleh masuk ke ruangan ini, sedangkan di luar semua penjaga berjaga ketat. Saya mohon dokter, saya sudah melupakan dendam saya, yang saya inginkan hanyalah melepaskan diri dari cengkeraman Donghae, dia lelaki yang sangat jahat dan kejam, mungkin saya akan berakhir mati di tangannya"
Dokter Kang Min tercenung mendengar kata-kata Hyukjae, "Oke...aku akan mencari cara, meskipun sepertinya sulit", lelaki itu berdehem, "Aku tidak menyangka kalau reputasi jahat Tuan Donghae memang benar adanya, menyekap perempuan tidak bersalah dan memaksanya menjadi kekasihnya, itu benar-benar tidak bisa dibenarkan", dengan penuh keyakinan, Dokter Kang Min menggenggam kedua tangan Hyukjae, "Aku akan mengabarimu nanti, yang pasti, aku akan membantumu Hyukjae, supaya kau bisa lepas dari Tuan Donghae yang jahat"
.
.
.
.
Donghae masuk ke kamar, hanya selang beberapa menit setelah Dokter Kang Min pergi, dan Hyukjae senang karenanya, itu berarti tidak mungkin Donghae mendengar percakapannya dengan dokter Kang Min tadi, "Bagaimana keadaanmu?", Donghae menatap Hyukjae tajam tanpa senyum.
Ketika Hyukjae menatap Donghae, mau tak mau kenangan percintaan mereka semalam berkelebatan di benaknya, tak tahan akan semua bayangan erotis itu, Hyukjae memalingkan mukanya, "Bukan urusanmu"
"Hyukjae", Donghae memanggil nama Hyukjae dengan nada jengkel, "Kau harus cepat sehat supaya aku bisa membawamu pulang, di sini tidak aman"
"Kau yang diincar oleh musuh-musuhmu, kenapa aku yang harus repot?", sela Hyukjae marah dengan tatapan berapi-api. Donghae membalas tatapan Hyukjae tak kalah tajam, "Karena kau adalah kekasihku, dan Jackal sedang mengincar kita berdua"
Jackal, siapa orang yang mau menyandang nama sebegitu mengerikan? Hyukjae mengernyitkan alisnya, bingung. "Jackal adalah nama pembunuh bayaran yang disewa oleh musuhku", Donghae melirik buku jarinya yang memar, yang kemarin dipakainya untuk menghajar Jun Seok habis-habisan, sampai lelaki itu terkapar penuh darah, bahkan sudah tak mampu lagi memohon ampun kepadanya, "Dia selalu berhasil membunuh siapapun yang menjadi targetnya. Dan kemarin kita berhasil lolos dari kecelakaan yang direncanakan oleh Jackal... Psikopat itu tidak akan berhenti sebelum dia berhasil membunuh kita berdua".
Bulu kuduk Hyukjae meremang, orang bernama Jackal ini terdengar begitu mengerikan... "Kau tidak aman di sini Hyukjae", Donghae mengacak rambutnya frustasi, "Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Jackal, tidak ada yang tahu dia laki-laki atau perempuan, dia bisa menjadi siapapun. Bahkan saat ini aku tidak bisa mempercayai pengawal-pengawalku sendiri, kecuali Hangeng.
Di sini keadaanmu sangat riskan, di rumahku kau akan aman", Dengan tercenung Donghae mengawasi Hyukjae, "Kurasa kau sudah cukup sehat untuk pulang, nanti malam aku akan mengurus kepulanganmu dari rumah sakit ini"
Kalau dia pulang, maka kesempatannya untuk melarikan diri akan menguap begitu saja, pikir Hyukjae panik. Dia tidak boleh pulang ke rumah itu! Dengan impulsif Hyukjae memegang kepalanya, pura-pura kesakitan, "Kenapa Hyukjae?", Donghae langsung bertanya cemas.
"Kepalaku... Kepalaku...", Hyukjae mengerang berusaha sebaik mungkin terdengar sakit.
"Dokter!", Donghae memanggil setengah berteriak dan Dokter Kang Min yang kebetulan ada di dekat situ langsung masuk dengan cemas, "Ada apa Tuan Donghae?"
"Dia kesakitan!", suara Donghae meninggi, "Kupikir kondisinya lebih baik sehingga besok dia bisa pulang, tetapi dia kesakitan, kenapa dia kesakitan? Kau bilang lukanya akan membaik..."
Dengan cepat Dokter Kang Min menangkap isyarat mata Hyukjae dan membaca situasi, dia berdehem mencoba terdengar serius, "Seperti yang saya bilang, kondisinya masih belum stabil Tuan Donghae, kadang dia tampak baik, tapi kadang goncangan sekecil apapun bisa membuatnya kesakitan. Saya menganjurkan Anda tidak membawanya pulang dulu, atau kesembuhannya akan terhambat"
Donghae tercenung dan menatap Hyukjae frustasi, "Oke. Sembuhkan dia dulu!", gumamnya dingin
Dan Hyukjae mendesah lega dalam hati, kesempatannya untuk melarikan diri masih ada.
.
.
.
.
Malam itu jam delapan, jadwal pemeriksaan Hyukjae oleh Dokter Kang Min, lelaki itu datang tepat waktu, kali ini membawa perawat. Ketika Hyukjae menyadari Dokter Kang Min memasuki ruangan, dia langsung terduduk tegak, waspada.
"Dokter..."
Dokter Kang Min memberi isyarat, menyuruh Hyukjae menutup mulutnya. Lalu mempersiapkan jarum suntik. Yang tidak disangka Hyukjae, ketika perawat itu sedang memeriksa infus Hyukjae, Dokter Kang Min tiba-tiba menusukkan jarum suntik itu ke tubuh perawat itu. Dalam hitungan detik, tubuh perawat itu langsung ambruk tak sadarkan diri.
Dokter Kang Min menopang tubuh perawat itu dan menyandarkannya di ranjang, "Kau bisa bangun?", Tanya dokter Kang Min cepat. Hyukjae masih terpana akan kesigapan gerakan Dokter Kang Min, sampai kemudian dia sadar bahwa Dokter Kang Min sedang bertanya padanya, dia langsung menganggukkan kepalanya, "Bagus, bisakah kau menukar bajumu dengan baju perawat ini? Aku akan menutup tirai untuk memberimu privasi", Dokter Kang Min langsung menutup tirai dan menunggu di luar tirai. Detik itu juga Hyukjae sadar, ini adalah rencana Dokter Kang Min untuk melepaskannya!
Dengan sigap, melupakan bahwa kepalanya masih sakit, Hyukjae mencoba berdiri, dan ketika bisa, dia langsung melepas pakaiannya dan menukarnya dengan baju perawat itu. Setelah semua beres, Hyukjae memanggil Dokter Kang Min yang segera mengangkat perawat yang masih pingsan itu dan membaringkannya di ranjang, lalu menyelimuti perawat itu.
"Kau harus bersikap biasa dan tidak mencurigakan", gumam Dokter Kang Min ketika Hyukjae sedang memasang topi perawat di kepalanya, lalu mendekap papan pemeriksaan di dadanya, "Ayo"
Jantung Hyukjae berdegup kencang ketika Dokter Kang Min membuka pintu. Dua penjaga yang ditempatkan Donghae di pintu tampak sedang bercakap-cakap. Dokter Kang Min mengangguk kepada mereka dan mereka membalas dengan senyum.
Posisi tubuh Dokter Kang Min menutupi Hyukjae sehingga tidak kelihatan, lalu dia menggiring Hyukjae menuju lorong meninggalkan pengawal itu jauh di belakang. Ketika akhirnya mereka membelok di lorong tanpa ketahuan, Hyukjae menarik napas, lega luar biasa. Dokter Kang Min mengajak Hyukjae setengah berlari ke tempat parkir, menuju kebebasannya.
.
.
.
.
Hangeng menyerahkan berkas-berkas itu kepada Donghae yang duduk di sofa, "Ini beberapa orang yang mungkin bisa kita curigai" Donghae mengambil berkas itu dan membacanya, lalu membolak-baliknya. Matanya terpaku pada salah satu foto di berkas itu, "Kenapa dia masuk ke daftar ini?"
Hangeng melirik berkas itu. "Karena kami memfilter semua pegawai rumah sakit yang masuk kurang dari 2 bulan sebelum kejadian kecelakaan itu" Donghae mengernyit lama. Sebelum kemudian wajahnya menegang. "Dia punya akses bebas masuk ke ruangan Hyukjae, kita harus ke rumah sakit segera!"
Donghae meraih jasnya dan melangkah tergesa ke pintu diikuti Hangeng. Dan pada saat bersamaan, pintu di sisi lainnya terbuka, beberapa pengawal Donghae masuk dengan wajah panik dan nafas terengah.
"Tuan Donghae, Hyukjae melarikan diri dari rumah sakit!"
To Be Continued
halo, ini chap 8-nya..
well, xiao mau ngomongin masalah flamer nih... kalo kalian mau ngamuk sama saya sih silahkan, saya ga akan terpengaruh... Jadi maaf banget cerita ini ga bisa dihapus, karena yang suka nih cerita lebih banyak dari kalian yang ngeflame saya... sorry guys :)
jaa, mind to review?
