Harry Potter's characters © J. K. Rowling

WARNING: AU, Hermione's POV, maybe OOC, typo, bahasa non-baku, and idk.

Don't like? Just close this page. Thank you :)

Happy reading!

- CHAPTER #2 –

.

TENG TENG TEEEEEENG

Baiklah, ini sudah kesekian kalinya aku berpikir kalau bel sekolah harus diperbaiki. Suara seperti itu benar-benar memekakkan telinga, membuat depresi. Mungkin bel pergantian jam lebih bagus memakai lagu-lagu klasik atau lagu-lagu yang sedang nge-trend saat ini. Tentu saja maksudku tidak satu lagu penuh, cukup bagian reffrain lagu itu saja dijadikan bel. Ide brilian, kan?

Ah, aku mulai payah. Heran, otakku jadi sering mengalami erroring system akir-akhir ini. Menyebalkan.

Oke, saat ini bukan waktunya mengeluh. Konsentrasi Miss Granger! Ambil buku fisika dari lokermu dan bergegas masuk kelas.

Syukurlah ketika aku sampai di kelas, Profesor Snape belum datang. Dengan segera, aku duduk di sebelah Lavender. Merapikan mejaku sebentar, kemudian mencuri pandang ke meja matahariku.

Oh dia lebih dulu datang daripada aku. Tumben. Argh, Mione, untuk sejenak mari kita lupakan soal dia dan konsentrasi kepada hal yang lebih penting, sebab Profesor Snape sudah masuk.

"Pagi anak-anak," ucap suara dingin itu.

"Pagi, Sir."

Profesor mengamati kami dengan tatapan dinginnya seperti biasa. Sangat menusuk. "Kalian tahu hari ini kita akan belajar apa?"

Dengan serentak kami menjawab, "Termodinamika."

"Ada yang tahu berasal dari mana kata Termodinamika?"

Ketika itu juga satu kelas hening. Satu detik, dua detik, tiga detik. Oke, baiklah, aku sudah cukup menahan diri. Jika tidak ada yang ingin mengangkat tangan, lebih baik aku saja yang menjawab. "Sir."

"Miss Granger?"

"Termodinamika berasal dari bahasa yunani. Thermos berarti panas dan dynamic berarti perubahan. Termodinamika adalah fisika energi, panas, kerja, entropi, dan kespontanan proses. Juga termodinamika berhubungan dekat dengan mekanika statistik di mana banyak hubungan termodinamika ber―"

"Cukup Miss Granger."

Suara dingin, tatapan tajam dan wajah sangarnya sukses membuatku diam. "―asal," lanjutku bergumam.

"Jawabanmu terlalu lengkap. Apa kau sedang mendiktekan buku yang akan kaubuat? Kau seharusnya dengarkan baik-baik pertanyaan yang kuajukan. Pahami itu, Nona. Sekarang siapa yang dapat menjabarkan konsep dasar dalam termodinamika?"

Hening lagi. Jangka waktu heningnya lebih lama dari yang tadi. Oh, ayolah, tak ada satu pun di kelas ini yang berani menjawab? Kalau begitu, aku akan menjawab lagi. Dengan sigap, aku mengacungkan tanganku. "Sir?"

"Siapa yang mau menjawab?"

"Sir?" sahutku, masih berusaha berjuang.

"Tak ada orang di kelas ini? Menyedihkan."

"Sorry, Sir. Tapi―" ucapanku terputus ketika melihat Profesor Snape memandangku tajam.

"Aku tidak memintamu menjawab lagi, Miss Granger. Paham?"

Argh, menyebalkan! Apa salahku, sih? Dalam hati aku mendengus sangat kesal. "Paham. Sorry, Sir."

Profesor mendengus juga. Bedanya, dengusannya terdengar, sedangkan aku tidak terdengar karena aku mendengus dalam hati.

"Jika kalian diam terus seperti ini, maka akan kuberi tugas. Berpasangan," ujarnya dingin. Tentu saja spontan seluruh murid di kelas mengeluh dan memrotes keras. Namun Profesor Snape hanya memandangi kami dengan tatapan yang lebih dingin. "Diam semua. Tak ada yang bisa protes di jam pelajaran saya kali ini. Parvati, kau pindah bersama Longbottom."

Dengan muka setengah kesal, Parvati melangkah ke tempat duduk Neville.

Pembagian tidak merata meresahkan murid-murid tingkat sebelas kelas fisika pada jam ketiga dan keempat. Begitu pula aku. Daritadi namaku belum dipanggil.

"Granger, kau duduk di sebelah Malfoy," ujarnya tegas.

Akhirnya namaku dipanggil juga. Tadi Profesor Snape bilang apa, ya? Aku sekelompok dengan Malfoy, ya? Oh. E—eh, eehhh, tunggu! Sebelah siapa tadi? Berpasangan dengan siapa? Malfoy? Tidak. Ini buruk. Aku pasti tak bisa konsentrasi.

Tidak jauh beda dengan yang lain, aku berjalan ke arah bangkunya dengan gontai. Profesor Snape benar-benar tidak adil. Lihat tatapan semua orang yang seolah berkata Granger-sangat-tidak-adil-dipasangkan-dengan-Malfoy-karena-keduanya-jago-fisika. Sungguh membuat depresi. Yah, walaupun begitu, sebenarnya jauh di dalam lubuk hatiku benar-benar senang.

"Tugasnya, bersama pasangan masing-masing, silakan kalian membuat rangkuman tentang termodinamika. Laporannya diketik, ukuran font dua belas, dengan halaman minimal dua puluh pada kertas HVS."

APA? Hei, apa telingaku tidak salah dengar? Apa nggak salah mengetik rangkuman dengan minimal halaman dua puluh pada kertas HVS? Ha! Itu sih bukan merangkum namanya. Mana ada rangkuman dengan halaman sebanyak itu? Cih, ini gila!

Tiba-tiba tanpa kusadari, Malfoy mengangkat tangannya. "Sir, apa itu tidak terlalu banyak?"

Oh, thanks, Sun. Kau mewakili kami untuk protes pada Profesor satu ini. Tapi, sialnya Profesor Snape hanya memandang kami berkali-kali lipat lebih dingin. "Dua puluh lima halaman untuk kau dan Granger."

Malfoy mendecih pelan.

"Ingin menjadi tiga puluh halaman, Mister Malfoy?" tanyanya.

"Tidak, terima kasih, Sir."

"Bagus. Mulailah berdiskusi dengan patnermu. Kurasa ini tidak berat untukmu dan Miss Granger."

Uh, dia mengejekku. Sialan. Kalau boleh dan kalau diizinkan, ingin sekali rasanya aku menghajar wajah dingin profesor yang satu ini. Kesal!

Draco Malfoy mendengus. Lalu dengan malas, dia menoleh ke arahku. "Kaurangkum tentang hukum-hukum termodinamika saja," ujarnya.

"Lalu, kau tentang apa?" tanyaku spontan. Dia melirikku sinis.

"Kerjakan saja."

"Oke, oke."

Kami mulai mengerjakannya dalam keadaan hening. Aku diam-diam mencuri pandang ke arahnya lagi. Haah, sudah sedekat ini dengannya juga, aku bersyukur sekali. Entah kapan aku mulai menyukai sosok pangeran ini. Awalnya memang aku tidak menyukainya. Ini akibat aku sering memerhatikannya diam-diam, jadi saja aku ikut-ikutan terpikat oleh ketampanan luarnya. Dalamnya? Apa yang bagus dari matahari ini? Dia hanya akan melelehkan semua orang yang dia lewati. Mungkin ini yang namanya suka itu tidak butuh alas an.

Astaga, sebenarnya aku ini sedang berpikir apa? Fokus pada termodinamikanya, Mione!

Empat puluh lima menit sudah berlalu. Aku melirik lagi ke arahnya. Mencoba mengumpulkan tenaga untuk berbicara sesuatu padanya. "Sudah selesai?"

"Tak akan sampai dua puluh lima halaman," ujarnya sarkastik. Aku mengendikkan bahu sambil merespon kekesalannya,

"Yeah, aku rasa juga begitu."

Kami diam lagi. Kali ini, dia lah yang pertama kali memecahkan keheningan, "Kau bagian mengetik rangkuman yang kita buat hari ini."

Aku terkaget sebentar, "Eh? Lalu sisa halamannya bagaimana?"

"Aku yang cari lewat internet. Kau simpan nomorku." Malfoy meyodorkan secarik kertas kecil padaku. Kertas itu tertera nomornya. Sumpah, nomornya asli. Sungguh tak terduga. "Kau bilang saja padaku berapa halaman yang kurang untuk laporan kita ini, mengerti?"

Aku mengangguk. Yah, apa yang bisa kulakukan selain mengangguk?

"Bagus. Ini bukuku. Jangan sampai hilang."

"Aku bukan pelupa dan bukan gadis yang jorok. Tenang saja." Oh, demi janggut Merlin! Apa yang baru saja kukatakaaannnn?!

Ia menatapku sebentar, kemudian mengangguk pelan. Ia mengalihkan pandangan, membaca buku fisikanya lagi.

Aku setidaknya harus bersyukur untuk tugas kali ini. Mungkin (dan hanya untuk kali ini) tidak seharusnya aku terlalu membenci Profesor Snape.

TENG TENG TEEEEEENG

"Pelajaran hari ini selesai. Sekali lagi, kumpulkan tugas tepat pada waktunya. Seminggu lagi. Pagi semua."

"Pagi, Profesor."

Uh, pelajaran fisika dari Profesor Snape memang selalu membosankan. Walau sesangar apapun wajah dan sifatnya, aku menyukai pelajaran fisika. Tapi sungguh, aku sama sekali tidak menyukai caranya mengajar. Kenapa? Profesor Snape tidak pernah berkata dengan jelas. Artikulasinya payah sekali.

Bel berbunyi untuk kedua kalinya. Dengan segera, aku keluar kelas dan menuju lokerku. Menyimpan buku fisika milikku dan Malfoy, lalu pergi ke perpustakaan. Tak ada tempat yang lebih baik untukku selain perpustakaan. Yah, perlu kalian tahu, kantin sangat sesak pada jam segini. Penuh gadis-gadis yang menggilai Pangeran Hogwarts alias Draco Malfoy yang pasti ke kantin pada jam istirahat ini. Daripada melihat matahariku itu, lebih baik aku ke perpustakaan saja. Tenang dan damai. Toh tadi di kelas aku sudah cukup puas berada dekat dengannya.

"Miss Granger, kau ingin meminjam buku kali ini?"

Aku tersenyum pada penjaga perpustakaan itu. "Tidak. Hari ini saya ingin membaca saja."

"Baiklah. Selamat membaca."

"Ya, thanks Ma'am," ujarku sambil tersenyum lebar dan kemudian pergi ke rak buku-buku tentang sejarah. Ya, selain fisika, aku juga suka sejarah. Oke, aku memang menyukai semua pelajaran. Kecuali pelajaran meramal. Pelajaran yang tidak akan masuk logika sama sekali.

Aku melihat judul buku-buku tebal itu satu persatu. Sejarah Teknologi dan Komunikasi, Sejarah Aksesoris, Sejarah Jam, Sejarah Seni. Buku yang mana, ya, yang sebaiknya kubaca? Ah, ini dia! Sejarah Hogwarts. Oke, aku baca saja buku itu.

Setelah mengambil dua buku Sejarah Hogwarts, aku harus mencari bangku untuk duduk di perpustakaan yang luas ini. Kuputuskan untuk pergi ke pojok. Tempat yang sepi dan tak akan mengganggu kenyamanan membacaku.

Dengan riang, aku mendekap dua buku yang cukup tebal ini ke pojok ruangan. Ya, di sana pasti tempat yang santai. Tempat yang sepi tanpa pengganggu. Tempat yang paling damai. Tempat yang menenangkan. Itu yang kupikirkan pada awalnya. Tetapi tidak pada akhirnya.

Aku melihatnya ada di sana. Bersama seseorang yang juga kuketahui namanya. Mereka berdua begitu akrab.

Tapi hatiku remuk. Hatiku sakit sekali. Pedih.

Lihat. Ada matahariku. Dan dia bersama―oh aku benci mengatakan nama ini sekarang─Greengrass.

Tidak akan sesakit ini jika mereka hanya duduk tenang sambil membaca buku masing-masing. Tapi ini?

Semoga aku salah lihat. Semoga aku salah lihat.

.

.

Semoga adegan Greengrass mencium matahariku tadi hanya halusinasiku.

Sun

Aku termenung sambil mengaduk-aduk lemon tea yang kuyakini sudah mulai dingin. Aku langsung kabur ke kantin, meninggalkan dua buku tebal yang sebelumnya kudekap erat, untuk mencari Ginny dan Cho. Di sini lah aku sekarang. Di kantin. Berpura-pura mendengar cerita Ginny tentang Ron yang kabur seperti banci setelah kakak kembar isengnya menukar tikus peliharaan Ron dengan seekor tarantula. Eh? Tunggu dulu. Bukannya itu cerita Ginny yang kemarin, ya? Ah, entahlah, aku tidak mendengarkan mereka sama sekali.

"Mione? Mione? Kau oke, kan?"

Eh? Ginny sudah menyadari kalau aku tidak mendengarkannya dari tadi?

Ginny mendengus di sebelahku, "Tch, ayolah Mione. Kau kenapa? Cemberut begitu. Ada acara ngambek pula. Kau aneh hari ini."

Oh right, Ginny. Aku memang aneh hari ini. Bukan aneh, tapi aku panas hari ini.

"Kau kenapa, Dear? Lesu sekali."

"Nothing."

"Jangan bohong, Mi―" lagi-lagi ucapan Cho harus terputus mendengar teriakan seorang cewek penggosip tingkat sepuluh ke seantero kantin ini.

"HEI! PANGERAN HOGWARTS MENGAJAK ASTORIA GREENGRASS DARI TINGKAT SEBELAS KE PROM!"

.

Eh, apa?

Oh, bagus lah, berarti kejadian di perpustakaan tadi bukan halusinasi.

TBC