TITLE : SLEEP WITH DEVIL
A REMAKE STORY
FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL
DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.
.
.
.
.
Warning : Genderswitch
Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!
Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini :)
BAB 9
Dokter Kang Min mengendarai mobilnya dengan tenang menembus kemacetan jalan raya, mereka lalu tiba di belokan ke luar kota, menuju jalanan yang sepi. Hyukjae yang selama ini diam karena menahan rasa tegang dalam perjalanan menoleh dan menatap Dokter Kang Min penuh rasa ingin tahu, "Kita akan kemana dokter?"
Dokter Kang Min menoleh lalu tersenyum manis, "Ke rumah di pinggiran kota, tempatnya seperti villa di pegunungan, kau akan aman di sana dan Tuan Donghae tidak akan bisa menjangkaumu"
Hyukjae menganggukkan kepalanya dan menatap lurus ke depan, pemandangan di luar adalah hutan dan jalanan yang berkelok-kelok, malam makin gelap dan Hyukjae mulai merasa mengantuk. Akhirnya dia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di kursi dan mulai tertidur.
.
.
.
Donghae menatap marah pada perawat yang dibius untuk menggantikan Hyukjae di ranjang. Dua pengawalnya yang tadi berjaga di kamar Hyukjae berdiri ketakutan dengan wajah lebam bekas pukulan Donghae, "Kenapa kalian bisa sebodoh itu hah?," suara Donghae terdengar tenang, tetapi intensitas kemarahannya membuat bulu kuduk dua anak buahnya berdiri.
Para pengawal itu saling bertatapan mencoba berkata-kata, tetapi tak bisa. Mereka memang bersalah. Hangeng sebagai atasan mereka telah menginstruksikan untuk memeriksa siapapun sebelum masuk dan keluar dari ruangan Hyukjae.
Tetapi karena Dokter Kang Min tampaknya terbiasa keluar masuk ruangan ini dengan bebas, mereka jadi lengah dan membiarkannya. Siapa sangka kalau Dokter Kang Min adalah Jackal yang ditakuti itu?
Donghae masih menatap marah kepada kedua pengawalnya, memikirkan hukuman apa yang cukup kejam untuk dilimpahkan atas kebodohan mereka. Hyukjae melarikan diri, dan bukan hanya melarikan diri, Demi Tuhan! Perempuan itu sekarang ada di tangan Jackal.
Hangeng datang, menyerahkan setumpuk berkas lagi, mengalihkan perhatian Donghae, "Sepertinya dugaan Anda benar Tuan Donghae, profil Dokter Kang Min sangat mirip dengan profil Jackal. Dia lulusan jenius dari kedokteran, kehidupannya sangat misterius, dan menurut desas desus, ibunya meninggal karena bunuh diri. Dia baru masuk mendaftar ke rumah sakit ini dua bulan yang lalu, dan ketika kami melakukan pengecekan terhadap masa lalunya, semuanya kosong, tidak ada satupun data tentangnya, seolah semuanya dihapus"
"Cari sampai dapat," Donghae menggertakkan giginya, "Apapun itu, alamat, nomor mobilnya, apapun untuk bisa mengarahkan kita kepadanya. Kita harus menemukan Hyukjae, sebelum terlambat," Donghae memejamkan mata, sejenak merasakan sesak di dadanya.
Hyukjae harus selamat, meskipun sekarang hal itu diragukan, karena Hyukjae berada di tangan Jackal yang sangat kejam. Donghae akan menempuh segala cara untuk mendapatkan Hyukjae kembali, selamat, dan hidup-hidup.
.
.
.
"Hyukjae, kita sudah sampai," Dokter Kang Min mengguncang bahu Hyukjae lembut. Hyukjae membuka matanya dan menemukan mobil mereka diparkir di sebuah villa tua berwarna putih yang sangat indah dihujani cahaya lampu yang remang-remang.
Dokter Kang Min turun terlebih dahulu, lalu membuka pintu penumpang dan membantu Hyukjae turun. Mereka berjalan bersisian memasuki teras rumah, ketika Dokter Kang Min membuka kunci pintu rumah itu, Hyukjae mengernyit dan bertanya, "Ini rumah Dokter Kang Min?"
Lelaki itu tersenyum lagi dan menggeleng, "Bukan, ini properti milik sahabatku yang dititipkan kepadaku, sekarang dia sedang di luar negeri. Kupikir tempat ini adalah tempat yang paling aman untukmu sekarang-sekarang ini…. Kau bisa bersembunyi di sini sementara, karena aku tahu Tuan Donghae pasti sedang sangat marah sekarang dan pasti dia akan menggunakan segala cara untuk mencarimu"
Hyukjae menggigil mendengar kemungkinan itu, dan membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam vila itu. Bagian dalam villa itu sangat indah, secantik bagian luarnya, dengan ornamen Belanda yang kuno dan rapi, tampak begitu nyaman untuk ditinggali, "Ayo, kuantar kau ke kamar sementaramu, kau bisa beristirahat di sana, aku yakin kau pasti capek setelah perjalanan panjang."
Dokter Kang Min melangkah melalui anak tangga dan Hyukjae mengikutinya. Kamar untuk Hyukjae adalah kamar sederhana yang tertata rapi, dan ranjang bulu angsa berseprai putih di tengah ranjang tampak sangat empuk dan menggoda untuk ditiduri.
Tanpa sadar Hyukjae menguap dan Dokter Kang Min terkekeh, 'Tidurlah Hyukjae, semoga besok pagi kau bangun dengan lebih segar".
Hyukjae menganggukkan kepalanya, "Terima kasih dokter, terima kasih atas segalanya, saya tidak tahu bagaimana harus berterimakasih kepada dokter karena sudah menyelamatkan saya dari Donghae" Dokter Kang Min melangkah ke pintu, senyumnya tampak misterius di balik cahaya remang-remang, "Tidak apa-apa Hyukjae, aku senang bisa membawamu ke sini,"
Lalu lelaki itu melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.
.
.
.
Hyukjae terbangun karena rasa haus yang amat sangat, dia terduduk di ranjang dan sedikit terbatuk-batuk. Dengan pelan dia memandang ke sekeliling, masih gelap. Mungkin ini masih dini hari.
Dengan langkah hati-hati Hyukjae turun dari ranjang, dan keluar dari kamar. Dimanakah dapurnya? Dia ingin minum…. Lorong lantai dua tampak gelap, tetapi ada cahaya putih di ujung sana, mungkin itu dapurnya.. pikir Hyukjae dalam diam. Dia lalu melangkah hati-hati menuju cahaya itu, dan terbawa ke sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong.
Hyukjae membukanya, dan tertegun. Ini bukan dapur. Dia sudah hendak membalikkan badan, ketika pandangan matanya terpaku pada sesuatu, dan wajahnya memucat.
Di sana, di salah satu sisi tembok itu penuh dengan foto-foto yang ditempel. Dan itu bukan foto-foto biasa, itu foto-foto Donghae sedang melakukan aktivitasnya, beberapa di antaranya ada Donghae yang sedang bersama Hyukjae. Dan melihat ekspresi Donghae di sana, tampaknya foto-foto itu diambil dengan kamera tersembunyi, tanpa seizin objeknya.
"Ada pepatah, kalau rasa ingin tahu yang besar suatu saat akan menjadi penyebab kematianmu"
Hyukjae terlonjak kaget, mendengarkan suara yang mendesis itu, dia membalikkan badannya dan berhadapan dengan Dokter Kang Min yang berdiri diam di balik bayang-bayang. Lelaki itu tersenyum, seperti biasanya, tetapi senyumnya yang sekarang bukanlah senyum manis secerah Matahari, melainkan seringai jahat yang menakutkan.
.
.
.
"Kita sudah berhasil melacak mobilnya," Hangeng datang dengan terengah, mendatangi Donghae yang menunggu sambil mondar-mandir tak tenang di ruangannya. Donghae langsung berdiri dan bergegas, dia menyiapkan senjatanya, belati berat yang selama ini ada di kakinya dan sebuah magnum miliknya. Kalau dia harus membunuh demi Hyukjae, akan dia lakukan. Lelaki itu memejamkan matanya, semoga dia tidak terlambat datang.
.
.
.
Mata Hyukjae hanya bisa menatap dalam ketakutan, lelaki di depannya ini sudah berubah total, dari lelaki ramah dan baik hati menjadi monster yang menakutkan, Tubuh Hyukjae diikat di sebuah kursi dan Hyukjae sepenuhnya tidak bisa bergerak, di bawah kuasa psikopat gila yang sekarang sedang berjalan mondar-mandir sambil memainkan pisau di tangannya.
"Membunuh dengan pisau adalah favoritku," Dokter Kang Min memainkan pisau itu di dekat Hyukjae, membuat kilatannya menyilaukan dalam kegelapan. "Karena itulah aku dipanggil Jackal," lelaki itu terkekeh mengerikan melihat sinar ketakutan yang terpancar dari mata Hyukjae, "Yah kenalkan, akulah Jackal yang kalian cari-cari itu"
Hyukjae mencoba meronta, kengerian merayapi dirinya ketika menyadari bahwa lelaki di depannya ini bukan saja orang jahat, tetapi dia adalah psikopat menakutkan yang diceritakan oleh Donghae.
Dokter Kang Min tertawa melihat usaha Hyukjae yang sia-sia untuk melarikan diri, kemudian mendorong kursi Hyukjae ke dinding dan menekankan pisaunya di pipi Hyukjae, "Pisau ini sangat tajam," Dokter Kang Min memain-mainkan pisau itu di pipi Hyukjae, "Aku ragu apakah Donghae masih mau menjadikanmu pelacurnya kalau mukamu rusak," diletakkannya besi dingin itu di pipi Hyukjae membuat mata Hyukjae terpejam ketakutan.
Tetapi kemudian kata-kata Dokter Kang Min menyulut amarahnya, dia bukan pelacur Donghae!
"Aku bukan pelacur Donghae!," dengan Lantang Hyukjae meneriakkan bantahannya. Dan rupanya bantahannya itu malahan memancing emosi Dokter Kang Min,
"Bukan pelacurnya katamu? Kau tidur dengannya dan menikmatinya, kau menerima segala fasilitas darinya dengan suka rela, dan kau membayar dengan tubuhmu. Dari pengamatanku, kau adalah pelacur yang paling disukai dan istimewa di mata Donghae dibandingkan pelacur-pelacurnya yang lain, dan aku membayangkan kepuasan yang kudapatkan ketika dia menyaksikan tubuhmu yang sudah mati, penuh dengan sayatan pisau,"
Lalu Dokter Kang Min tertawa dengan mengerikan, "Mari kita mulai ritual ini…. Aku akan menyayatmu pelan-pelan di bagian-bagian tubuhmu hingga kau akan mati pelan-pelan kehabisan darah….," pisau itu berkelebatan dengan main-main di depan Hyukjae
"Lalu aku akan membuang tubuhmu tepat di depan mata Donghae, pasti aku akan puas sekali…. Sebelum kemudian akan kuhabisi Donghae dengan tanganku sendiri," Dengan tawa mengerikannya yang terkekeh dan menakutkan, Dokter Kang Min mengayunkan pisaunya, dan sekejap, Hyukjae merasakan pedih karena sayatan besi tajam itu di lengannya.
.
.
.
Donghae memasuki rumah itu dengan marah, Hangeng dan yang lain-lain sudah mengepung villa putih itu. Villa itu tenang dan sepi seolah tidak ada siapapun di sana. Lalu mata Donghae mengarah ke pintu di ujung lorong yang setengah terbuka, dan melangkah kesana, lalu masuk dengan marah ketika melihat apa yang terjadi di sana.
Dokter Kang Min sudah melukai Hyukjae dengan dua sayatan berdarah di lengan Hyukjae, membuat Hyukjae meringis menahan sakit dan nyeri dalam kondisi terikat di kursi dan hampir kehilangan kesadarannya.
"Lepaskan dia, Jackal," suara Donghae dingin, mencoba menahan kemarahannya dengan terkendali. Lelaki itu sedang memegang pisau di dekat Hyukjae, dia tidak ingin Hyukjae terluka lebih dari ini.
Dokter Kang Min membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Donghae berdiri di ruangan itu, "Ah… sang pangeran penyelamat akhirnya datang," dengan tenang Dokter Kang Min mengacungkan pisaunya ke arah Donghae, "Kau lihat Donghae, pelacurmu ini sedang dalam proses meregang nyawa, tadinya aku ingin mempersembahkannya mati dan tersayat kepadamu. Tetapi rupanya kau terlalu cepat datang".
"Aku akan membunuhmu, kau tahu itu," geram Donghae marah. Tawa Dokter Kang Min membahana ke seluruh ruangan. "Tentu saja, sekarangpun aku tahu bahwa seluruh pengawalmu sedang mengepung tempat ini, siap menembakku kapanpun aku lengah," dengan cepat Dokter Kang Min bergerak ke sebelah Hyukjae dan menempelkan pisau tajam itu ke lehernya,
"Tapi sebelum kau membunuhku, aku akan membunuh pelacur ini dulu".
Hyukjae terkesiap, menahan sakit dan ketakutan ketika besi dingin itu menempel di lehernya, lapisannya yang tajam telah menyayat lehernya, menimbulkan sedikit perih di sana.
"Kalau kau lakukan sesuatu kepadanya, aku bersumpah kau akan mati dengan mengerikan," Kali ini Donghae sudah tidak bisa menahan kemarahannya, "Aku akan membunuhmu dengan pelan dan mengerikan hingga kau akan merasakan setiap detik-detik menjelang kematianmu"
"Kau ketakutan Donghae, kau takut aku menyakiti pelacur ini, bisa kulihat di matamu,"
Dokter Kang Min menatap Donghae dengan senyuman gilanya, memain-mainkan pisaunya di
leher Hyukjae, "Satu sayatan saja, aku akan memotong nadinya, tepat di leher… darahnya akan memancar keluar dan dia akan mati dengan cepat… tepat di depan kedua matamu…dan aku rela mati demi kepuasan menyaksikan adegan itu," Lalu dengan gerakan secepat kilat, Dokter Kang Min mengangkat pisaunya, lalu membuat gerakan menghujam untuk menikam leher Hyukjae.
Hyukjae memejamkan matanya, menanti detik-detik kematiannya. Tetapi kemudian dia tidak merasakan sakit, apakah memang kematian tidak terasa sakit? Dengan ragu di bukanya matanya, dan dia terkesiap dengan pemandangan di depannya.
Donghae sedang menahan pisau itu, dengan tangan telanjang. Bagian tajam pisau itu mengiris telapak tangannya, tetapi lelaki itu menggenggam pisau itu tanpa ekspresi, meskipun darah mulai bercucuran dari tangannya, mengenai Hyukjae.
Sekali lagi, Donghae menyelamatkan Hyukjae dari kematian. Dokter Kang Min tampak terperangah dengan gerakan Donghae yang tak disangkanya itu, dia berusaha menarik pisaunya dari genggaman Donghae, tetapi Donghae menarik pisau itu dan melemparnya jauh-jauh,
"Aku akan menghajarmu sebelum membunuhmu…," Donghae menerjang dokter Kang Min ke lantai, dan mereka bergulat saling memukul. Tetapi Dokter Kang Min, Jackal itu tidak terbiasa berkelahi dengan tangan kosong sehingga dia kewalahan, Donghae terus dan terus menghajarnya tanpa ampun, ketika kemudian rintihan Hyukjae menghentikannya.
Donghae melihat Hyukjae kehilangan kesadarannya, mulai oleng dalam kondisi terikat di kursi, Perhatian Donghae teralih, dan dia berdiri untuk meraih Hyukjae, pada saat itulah, Dokter Kang Min yang sudah babak belur mencoba meraih pisau yang dilemparkan Donghae tadi, dia berhasil meraihnya dan mengarahkannya untuk menikam punggung Donghae
dan…DOR!
Tubuh Dokter Kang Min ambruk ke lantai karena tembakan itu. Donghae menoleh ke belakang, melihat Dokter Kang Min ambruk dengan pisau masih di tangannya, dan dia lalu menoleh ke pintu, ke arah Hangeng yang memegang pistol di tangannya.
"Bereskan dia," Donghae memerintah cepat, lalu perhatiannya sepenuhnya terarah kepada Hyukjae, tidak dirasakannya telapak tangannya yang tersayat dalam, dia membuka ikatan Hyukjae, dan perempuan itu langsung jatuh ambruk ke pelukannya.
.
.
.
Ketika kesadarannya kembali, Hyukjae berada di ruangan putih itu, dan dia memejamkan matanya lagi, tak pernah sebelumnya dia merasa begitu bersyukur berada di ruangan ini.
Kengerian masih merayapinya, membayangkan pisau yang berkelebatan di mukanya, di tubuhnya, di lengannya….
Aduh!
Hyukjae merasa nyeri yang amat sangat dan menoleh ke arahlengannya, lengannya itu sudah dibalut perban yang amat tebal, nyerinya masih terasa tetapi lebih karena trauma mendalam Hyukjae akibat pengalaman buruknya itu.
Hyukjae terduduk, Donghae telah menyelamatkannya, sekali lagi. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya? Apakah benar karena dia dianggap sebagai pelacur istimewa Donghae? Karena dia melayani Donghae dengan tubuhnya? Dengan pucat Hyukjae memalingkan mukanya, merasa dirinya begitu rendah.
Lelaki itu menyelamatkannya. Hyukjae memejamkan matanya, membayangkan bagaimana Donghae, menghalangi pisau yang hendak menikamnya dengan tangannya. Hyukjae masih ingat darah yang mengalir itu, dan mau tidak mau Hyukjae menyadari kalau dihitung-hitung sudah beberapa kali dia diselamatkan oleh Donghae. Kenapa lelaki itu menyelamatkannya?
Itu adalah pertanyaan yang tak bisa dijawabnya. Bertahun-tahun Hyukjae menumbuhkan kebencian di hatinya, memupuk rasa dendam yang mendalam, dengan pengetahuan bahwa Donghae yang jahat telah menghancurkan keluarganya. Yah, Donghae memang jahat. Tetapi selain mengurung Hyukjae, dia memperlakukan Hyukjae dengan baik... Apakah dia memang menganggap Hyukjae sebagai kekasihnya?
Pipi Hyukjae memerah membayangkan itu semua. Apakah semua kebaikan Donghae murni disebabkan karena dorongan gairah?
Seharusnya Hyukjae merasa terhina, tetapi tidak, perasaannya terasa hangat tanpa dia mau. Dia tidak boleh merasa seperti ini. Kebenciannya adalah satu-satunya senjata menghadapi lelaki itu... Kalau sampai Hyukjae merasakan perasaan lebih kepada Donghae... Hyukjae menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir perasaan yang menggayutinya.
Dengan gemetar dia meraba lengannya yang di perban, dan menangis. Seluruh kehidupannya berubah hanya dalam waktu singkat, seluruh rencana yang dibuatnya matang-matang telah hancur, dan dia sekarang terpuruk di sini.
Kembali dalam cengkeraman lelaki iblis itu, dan bahkan sekarang berutang nyawa kepadanya. "Jangan menangis".
Hyukjae terlonjak ketika suara itu terdengar di dekatnya, dengan ketakutan dia menoleh dan mendapati Donghae di sana, duduk di sofa tak jauh dari ranjang dan mengamatinya. Dengan kasar Hyukjae menghapus air matanya dan menatap Donghae marah,
"Semua ini gara-gara kau!," serunya menuduh, "Kalau kau tidak melibatkanku dalam kehidupanmu yang penuh musuh itu, aku tidak akan mengalami ini!"
"Dan kalau kau tidak gampang tertipu oleh bujuk rayu dokter yang selalu tersenyum itu, kau tidak akan diculik dengan mudah," sela Donghae tajam.
"Aku hanya ingin lepas darimu, kenapa kau tidak melepaskan aku?," kali ini Hyukjae berteriak penuh frustrasi, "Aku mohon aku sudah muak berada di sini… aku…"
"Tidakkah engkau bahagia di sini Hyukjae?," Donghae mendekat ke ranjang dan menyentuh dagu Hyukjae dengan jemarinya. Pada saat itulah Hyukjae melihat, telapak tangan Donghae di balut perban, "Aku memenuhi kebutuhanmu, aku memberimu apa yang tidak bisa kau beli dengan uangmu sendiri, apakah menurutmu itu tidak cukup?"
"Aku bukan pelacur," desis Hyukjae tajam, "Kekayaan dan ketampananmu sama sekali tidak ada pengaruhnya untukku, yang aku inginkan hanya kematianmu, karena kau telah menghancurkan keluargaku. Tetapi jika itupun tidak kudapatkan, aku sudah cukup puas bisa lepas darimu!," Hyukjae menatap Donghae dengan tatapan menantang.
Lelaki itu menatap Hyukjae tajam, lalu mengangkat bahunya dan menatap Hyukjae lurus-lurus, "Sudahlah, Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, ditatapnya Hyukjae dengan serius, "Bagaimana kondisimu?", Donghae menunduk dan mengamati Hyukjae.
Hyukjae terdiam, otomatis memalingkan wajah dari Donghae, "Hyukjae", Donghae memanggil Hyukjae dengan penuh penekanan, membuat Hyukjae akhirnya mau menatap matanya, "Aku baik-baik saja", jawab Hyukjae ketus, "Biarpun aku tahu semua ini terjadi karena kau dan musuh-musuhmu".
Donghae terkekeh, "Hmm... Mengingat kau sudah kembali galak kepadaku, aku yakin kau sudah sembuh", Donghae menyentuhkan jemarinya di pipi Hyukjae, "Maafkan aku".
Hyukjae tertegun karena permintaan maaf Donghae, dia menatap Donghae dengan hati-hati. "Kenapa kau meminta maaf?"
"Karena membuatmu terlibat dalam situasi ini", lelaki itu mengangkat bahu, "Situasi seperti ini tidak akan bisa terhindarkan, mengingat kondisiku. Tetapi kau harus tahu, ketika kau bersamaku, aku akan menjagamu"
Hyukjae mendengus, "Aku lebih memilih tidak bersamamu. Kalau aku sendirian aku pasti akan lebih baik-baik saja" Donghae menatap Hyukjae tajam, "Tidak bisa, situasi kemarin membuat kau dikenal sebagai kesayanganku. Orang yang mengincarku pasti akan mengincarmu, karena kaulah yang paling lemah. Itu membuatmu harus selalu bersamaku, di bawah perlindunganku", Donghae menatap Hyukjae lurus-lurus, "Kau adalah kelemahanku"
Pipi Hyukjae memerah, bukan cuma karena arti mendalam dalam kata-kata Donghae. Tetapi karena cara Donghae mengucapkannya, begitu erotis dan penuh makna seolah-olah Donghae mengucapkan sesuatu yang sensual dari perkataannya yang biasa itu.
Dan Donghae tampaknya sengaja. Sialan lelaki itu. Dia sengajamengucapkan kata-katanya dengan nada sensual untukmempengaruhi Hyukjae.
"Kau bebas keluar masuk seisi rumah ini, tapi aku mohonpadamu, jangan mencoba melarikan diri dari rumah ini. Aku memang jahat, tapi aku akan menjagamu, tidak demikian halnya dengan musuh-musuhku," Donghae mengangkat tangannya yang terluka untuk mengusap rambutnya, dan Hyukjae langsung teringat peristiwa itu, ketika Donghae dengan cepat menggenggam pisau itu, menghalanginya untuk terluka, tanpa sadar dia bergidik ngeri.
"Ya," gumam Donghae, memperhatikan reaksi Hyukjae, "Kau seharusnya takut Hyukjae, karena mereka semua akan melakukan apa saja untuk melukaiku lewat dirimu. Kau aman disini, bersamaku. Dan aku yakin kau berpikiran sehat sehingga tahu bahwa kau lebih baik bertahan di sini"
.
.
.
Kebebasan keluar masuk kamar ini dinikmati oleh Hyukjae sepenuhnya. Oh, dia memang masih bermaksud pergi, tapi tidak sekarang. Dia masih trauma akan kejadian itu.
Setidaknya di rumah ini dia aman. Hangeng masih mengawasinya diam-diam ketika dia mondar-mandir keluar kamar, terutama ketika dia berjalan-jalan di taman. Tetapi Hyukjae belajar untuk mengabaikannya.
Sore itu, suasana rumah sangat sepi, dan Hyukjae berjalan menelusuri area lantai satu rumah itu. Rumah itu sangat luas dengan lorong-lorong yang tidak tahu akan menuju kemana, sepertinya tidak cukup satu hari untuk menjelajahi keseluruhan rumah itu. Hyukjae berhenti di sebuah pintu yang terbuka dan sedikit mengintip. Dia terpesona menemukan rak-rak tinggi yang memenuhi dinding-dindingnya, penuh dengan buku!
Dengan bersemangat Hyukjae memasuki ruangan itu, dan berdiri terkagum-kagum sambil mengamati buku-buku di dalam rak itu. Donghae rupanya penggemar buku-buku sastra klasik, berbagai bacaan tampak menggoda siap untuk dinikmati,
"Kau sepertinya suka membaca," suara Donghae mengejutkan Hyukjae, dia menoleh dan saat itu baru menyadari kalau Donghae duduk di sudut ruangan, di meja kerjanya yang besar dan mempelajari berkas-berkas perusahaannya, lelaki itu menatapnya dengan mata cokelatnya yang tajam.
Dengan angkuh Hyukjae mendongakkan dagunya, "Ya aku suka membaca, tetapi buku-buku mahal di sini termasuk yang tidak bisa kubeli," Hyukjae tanpa sadar mengernyit.
"Kau boleh membaca di sini," Donghae menawarkan tampak begitu berbaik hati. Tetapi Hyukjae merasakan ada sesuatu di sana, sesuatu yang berbeda yang sedikit menakutkan baginya. Ketegangan seksual yang memenuhi ruangan ini terasa begitu tidak nyaman. Dan meskipun tawaran Donghae terasa begitu menggoda, Hyukjae tidak berani.
"Aku tidak akan mengganggumu," Donghae mengangkat alis melihat Hyukjae nampak ragu-ragu. "Aku tidak akan mengganggumu, Hyukjae," lelaki itu mengulang lagi kata-katanya, "Aku bahkan tidak akan berdiri dari kursi ini"
Hyukjae menatap Donghae curiga, "Tidak bisakah aku meminjam buku-buku ini dan membawanya ke kamarku?" Donghae menggelengkan kepalanya. Oh, tentu saja bisa, gumam Donghae dalam hati, tetapi dia akan kehilangan kenikmatan menggoda Hyukjae, dia ingin Hyukjae terpaksa berada di ruangan ini, bersamanya, "Tidak bisa buku-buku itu mahal, aku tidak yakin kau akan menjaganya dan tidak merusakkannya"
Kata-kata Donghae terasa menyinggung Hyukjae, jangan-jangan Donghae bahkan menyangka Hyukjae ingin mencuri buku-buku mahalnya. Kurang ajar lelaki itu. Tetapi ajakan Donghae untuk membaca buku di ruangan yang sama terasa begitu menggoda. Dan lelaki itu jelas-jelas menantangnya, menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara mereka, dan memaksa Hyukjae menunjukkan diri apakah akan menjadi pengecut ataukah berani menghadapi Donghae.
Hyukjae sedikit mengentakkan kakinya dan melangkah mendekati sofa, diambilnya salah satu buku di rak itu dan dia duduk, berusaha tampil nyaman di sana. Donghae tersenyum. Gadis itu jelas-jelas ingin menantangnya. Dan kehadiran Hyukjae di ruangannya sangat menarik perhatiannya, dia bahkan tidak tertarik lagi akan pekerjaan di mejanya. Dilipatnya kedua tangannya di meja dan dia mengamati Hyukjae yang sedang berakting membaca itu dengan intens.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?," Hyukjae akhirnya mencetuskan apa yang ada di dalam pikirannya, Donghae sudah sejak beberapa menit lalu hanya duduk dan menatapnya. Lelaki itu memang tidak mengganggu, bahkan lelaki itu sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya.
Tetapi pandangan matanya yang intens dan penuh gairah itu terasa sangat mengganggu. Membuat seluruh saraf tubuh Hyukjae mengejang ke dalam gelenyar panas yang membuat suhu ruangan ber-AC itu tiba-tiba terasa panas.
"Aku hanya ingin mengetahui seberapa jauh kau akan purapura berakting membaca. Setelah itu mungkin kau bisa menyadari betapa besarnya ketegangan seksual di antara kita," gumam Donghae dengan tenang, tidak bergeser sedikitpun dari tempat duduknya, tetapi tampak begitu mengancam.
Pipi Hyukjae memerah mendengar perkataan Donghae itu, dengan marah dibantingnya buku itu di sofa dan berdiri, "Kurasa sebaiknya aku pergi"
"Takut, Hyukjae?," Donghae bergumam dengan nada mencemooh,
"Kau takut kalau kau akan menyerah dalam pelukanku ya? Aku tadi menawarimu di sini, ingin melihat seberapa jauh kau berani berdua saja bersamaku di dalam satu ruangan… ternyata kau lari ketakutan seperti kelinci yang akan dimangsa"
Oh Ya! Tatapan Donghae kepadanya memang seperti elang yang akan memangsa kelinci buruannya. Hyukjae merasa sudah sewajarnya dia ingin menyelamatkan diri. "Aku akan keluar dari sini"
'Kau memang harus keluar dari sini, karena kalau tidak pilihanmu hanya satu, berbaring di ranjangku"
"Itu hanya ada dalam mimpimu!," Hyukjae setengah berteriak, berlari ke pintu dan membanting pintunya keras-keras, masih didengarnya tawa Donghae mengiringi kepergiannya.
.
.
.
"Hyukjae," suara Donghae mengagetkan Hyukjae yang sedang termenung di balkon. Balkon yang sama tempat dia dilempar Donghae dengan cara mengerikan ke kolam di bawahnya beberapa waktu yang lalu.
Hyukjae menoleh dan mendapati Donghae sedang berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya dengan tenang. Lelaki itu sepertinya baru saja pulang dari tempat kerjanya, Hyukjae tidak tahu, karena dari balkon ini pemandangannya hanyalah halaman belakang dan kolam renang yang luas.
"Kenapa kau berdiri di balkon malam-malam begini?," Donghae mengernyit mengamati hujan rintik-rintik yang turun makin deras, bahkan airnya bercipratan mulai membasahi Hyukjae yang memang berdiri sambil menatap halaman di bawah.
Sejak Hyukjae dibebaskan, inilah pertama kalinya dia bisa menikmati hujan secara langsung. Dulu ketika dikurung di kamar putih Hyukjae hanya bisa menikmati hujan dari jendela, tanpa menyentuhnya. Sekarang bisa merasakan percikan air membasahi tubuhnya terasa begitu luar biasa untuknya.
"Aku sedang menikmati hujan," Hyukjae membalikkan tubuhnya membelakangi Donghae, mencoba mengacuhkan lelaki itu.
"Kau akan membuat dirimu sendiri sakit," Donghae mulai menggeram, tampaknya lelaki itu menahan marah.
Hyukjae menoleh lagi dan menatap Donghae dengan menantang, "Entah apa yang kau katakan tentang memberikan kebebasan padaku itu bohong, atau kau memang suka mengatur-atur dan menggangguku. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan kuharap kau tidak menggangguku"
"Oke," Tatapan Donghae kepada Hyukjae terasa membakar di suasana hujan yang begitu dingin, "Terserah, silahkan buat dirimu sendiri sakit, aku harap kau tidak merepotkanku nantinya".
Lelaki itu membalikkan badan, tetapi setelah beberapa langkah dia memutar tubuhnya kembali dan menatap Hyukjae, "Setelah kau siap aku ingin bicara denganmu"
"Tentang apa?," Hyukjae mengernyitkan kening, mulai merasa terganggu dengan interupsi-interupsi dari Donghae. Dia sedang ingin menikmati hujan dan lelaki itu tampaknya selalu muncul di saat yang tidak tepat dan mengucapkan kata-kata yang tidak tepat pula.
"Nanti, ini mengenai ulang tahunmu yang ke dua puluh lima"
To Be Continued
Silahkan klik tombol next, update dua chapter soalnya... :D
