Harry Potter's characters © J. K. Rowling.

Wishing The Sun Beside Me © Fiicchi

WARNING: AU, Hermione's POV, maybe OOC, typo, bahasa non-baku, and idk.

Don't like? Just close this page. Thank you :)

Happy reading!

- CHAPTER #3 –

Aku benamkan kepalaku di sepanjang sisa pelajaran hari ini. Aku tak bersemangat. Hatiku sudah lelah karena sakit. Harapanku sudah lenyap. Demi janggut Merlin, aku bersumpah tak akan ke pergi ke prom! Haahh, kenapa juga aku putus asa seperti ini? Uf!

Aku tadi bersumpah, eh? Jika ada mengajakku bagaimana? Aargh, Mione, lupakan pikiran itu! Mana mungkin ada yang mau mengajak seorang Hermione Granger ke prom? Ya, aku bukan gadis populer tipe Cho dan Ginny yang setelah prom diumumkan langsung ada yang mengajak pergi bersama. Aku termasuk populer hanya karena nilai-nilaiku sempurna dan belum ada yang bisa menandingi nilaiku. Cowok mana juga yang mau mendekatiku yang gila kesempurnaan nilai ini?

Ah, tadi aku bilang Ginny sudah ada yang mengajak, ya? Itu benar, Ginny juga sudah ada yang mengajak. Dean Thomas. Jadi, di antara kami bertiga, hanya aku yang belum diajak siapapun. Yeah, baguslah, soalnya aku nggak mau datang.

Oke, aku mulai berpikiran yang tidak-tidak. Ayolah, Mione, fokus pada sisa pelajaran hari ini! Ah tapi percuma saja. Dari tadi pikiranku melayang-layang terus. Bikin pusing. Sial.

"Miss Granger? Kau tidak ingin menjawab pertanyaanku?" tanya Profesor Slughorn membuyarkan segala lamunanku. Aku terkesiap kaget.

"Err, anu, itu, emm … sorry Profesor. Mungkin hari ini tidak dulu."

Profesor hanya menatapku cemas. "Kau tak apa, Miss Granger? Apa kau kurang sehat hari ini?"

"Be―begitulah. Saya merasa kurang enak badan," jawabku asal.

"Sebaiknya kau pergi ke ruang kesehatan. Madam Pomfrey akan membuatmu merasa nyaman," suara Profesor Slughorn benar-benar cemas, "Mister Potter, kulihat kau sudah mengerti bahan pelajaran hari ini. Bisakah kau mengantarkan Miss Granger ke ruang kesehatan?" lanjut Profesor Slughorn sambil memandang Potter penuh harap. Aku sedikit panik.

"Ti―tidak usah Profesor! Saya kuat ke ruang kesehatan sendirian."

"Tapi Miss Granger, saya khawatir kau―"

"Sorry Profesor, saya rasa saya bisa mengantarnya," ujar Potter tiba-tiba.

Profesor Slughorn tersenyum padanya, Harry Potter, dan kemudian ia berkata, "Silakan kauantar Miss Granger. Jaga dia baik-baik, ya?"

"Tentu Profesor."

Aku berusaha bangkit dari tempat dudukku. Uh, ternyata aku pusing sungguhan. Kebetulan yang sangat tidak menguntungkan.

Ketika berdiri, aku sedikit terhuyung ke depan. Untung dengan sigap, Potter langsung menahan dan menyanggaku di lengannya. "Hati-hati Miss Granger," ujarnya bergumam. Lalu ia melingkarkan lenganku di lehernya agar aku tetap pada keseimbanganku. Keadaanku sungguh menyedihkan. Setidaknya begitulah pendapatku.

Kami berjalan menuju ruang kesehatan dalam keadaan hening. Oh, tidak lupa juga dengan banyaknya deathglare. Ya, ya, aku dapat tatapan mematikan dari para siswi yang masih berkeliaran di koridor sekolah. Kenapa? Hei, orang yang menyanggaku adalah seeker beken di Hogwarts tercinta ini. Siapa, sih, yang nggak tahu Harry Potter? Seeker yang selalu disorot jika dia lagi tanding atau pun latihan olahraga Quidditch yang akhir-akhir ini lagi populer. Jadi, wajar saja kalau dia punya banyak penggemar.

Err, kalau boleh jujur, aku merasa terganggu dengan adanya deathglare dari siswi-siswi tersebut. Lebih baik kalau aku pergi sendiri ke ruang kesehatan.

"Potter," panggilku.

"Harry saja, Nona. Ada apa?"

"Oke … Harry," ujarku kaku. Walaupun kami sering sekelas, kami tidak sedekat itu. "Emm, sebaiknya kau kembali saja ke kelas. Aku bisa sendiri kok. Tak perlu khawatir," lanjutku pelan. Lagian aku ragu kalau dia khawatir padaku.

Ia diam saja. Apa perkataanku menyinggungnya?

Kulirik lelaki di sebelahku ini, ternyata ia juga sedang melirikku sambil tersenyum. "Aku akan mengantarmu sampai di ruang kesehatan, baru kembali lagi ke kelas, Granger."

"Hermione saja, please," potongku cepat. Dia tersenyum lagi. Manis.

"Baiklah, Hermione saja," kata Harry menggoda, terdengar senang. "Aku akan tetap mengantarmu sampai ruang kesehatan. Lagipula aku sudah berjanji pada Profesor Slughorn bahwa aku akan memastikan kau masih dalam keadaan utuh sampai di tempat Madam Pomfrey."

"Apa maksud 'dalam keadaan utuh' itu? Kau pikir aku akan retak begitu saja, eh?"

Kali ini ia terkekeh pelan. "Terserah kau sajalah."

Akhirnya kami sampai di ruang kesehatan. Madam Pomfrey langsung mengambil alih tubuhku yang sebelumnya disangga Harry.

"Apa yang terjadi pada Miss Granger?"

"Dia hanya sedikit pusing saja. Anda punya obatnya kan, Madam?"

"Tentu saja! Sebentar, akan kuambil. Kau jaga di sini dulu ya, Mister Potter."

Madam Pomfrey bergegas pergi menuju rak-rak obat di ruangan sebelah. Great, aku ditinggal berdua dengan orang ini.

"Bolehkah aku bertanya satu hal padamu Hermione?" tanya lelaki ini tiba-tiba. Aku mengangguk tanpa menoleh padanya.

"Ya. Tanyakan saja."

Lewat sudut pandangku, sepertinya dia kelihatan sedikit ragu. "Itu, err, sebelumnya aku minta maaf. Aku hanya penasaran."

"Ya? Sudah katakan saja." Aku jadi tidak sabar.

"Emm, itu, kenapa―kenapa kau tadi bersikeras ingin pergi ke ruang kesehatan sendiri? Padahal tubuhmu belum kuat. Kau masih sempoyongan. Apa kau punya dendam pribadi terhadapku?"

Aku hanya bisa terpana selama sepersekian detik, lalu tertawa meringis dan menyebabkanku batuk-batuk. Parah.

"He―hei, kau tak apa?" ia terdengar sangat khawatir. Dengan segera, Harry mengambilkan air dan menyerahkannya padaku. "Ini, minumlah dulu."

Kuambil gelas pemberiannya, lalu meneguknya perlahan. "Thanks," ujarku.

"Jadi, tadi kenapa kau tertawa?" tanyanya dengan tampang polos.

Susah payah aku menahan tawa kembali. Ya Tuhan, tampang polosnya itu benar-benar lucu! "Yaah, karena pertanyaanmu yang sedikit … membingungkan? Ya, begitulah. Jadi, aku sedikit … tertawa," jawabku sedikit memaksa.

"Oke, maafkan aku. Tapi aku ingin tahu kenapa. Boleh, kan?"

Argh, hentikan tatapan memelas itu! Dia bisa buat aku melting jika terus menatapku begitu. "Oke, oke, aku akan jawab!"

Wajahnya kembali serius. "Jadi? Kau ada dendam padaku?"

"Tidak Harry. Lagian kenapa aku harus dendam padamu? Apa, sih, salahmu padaku? Tak ada."

"Lalu kenapa tadi kau ingin aku kembali saja ke kelas Profesor Slughorn?"

Aku menghela napas perlahan. "Yah, kau tahu kan kalau penggemarmu itu banyak. Dan jujur, aku risih sekali dengan tatapan membunuh para penggemarmu itu. Satu lagi, aku nggak mau mereka mengira kita ini sepasang kekasih."

"Itu hal yang tidak buruk, kan? Maksudku, memangnya salah kalau kita ini menjadi sepasang kekasih?"

Bisa kurasakan pipiku memanas. Apa-apaan bocah satu ini? Apa ini yang namanya digombali? Oh Tuhan, baru kali ini ada cowok yang bilang seperti itu padaku dengan tampang polos!

Dan sesaat setelah Harry mengatakan itu, seseorang masuk ke ruang kesehatan. Tidak Tuhan, itu Malfoy! Wajahnya aneh. Oh, jangan bilang kalau tadi ia mendengar kata-kata Harry.

"Oh, kau Malfoy. Madam Pomfrey ada di―"

BRAAAK!

Sebelum Harry sempat menyelesaikan kata-katanya, ia langsung keluar dari ruang kesehatan sambil membanting pintu. Hei, kenapa sih dia?

-Sun –

"Mione! Cepat sarapan, nanti kau terlambat!"

"Yaaa."

Aku keluar secara ogah-ogahan dari kamarku. Rasanya malas sekali untuk pergi ke sekolah. Ini gara-gara kemarin Harry ngomong yang aneh! Kalau bisa, aku kepingin hilang aja untuk hari ini. Aku tidak ingin ketemu Harry. Aku malu. Memang sih, reaksiku berlebihan, tapi tetap saja yang namanya malu itu tetap malu! Untung yang dengar hanya Malfoy. Tapi lagi-lagi, tetap saja aku malu.

"Mione, cepat! Dad mau berangkat."

"Oke, tunggu aku, Dad," ucapku. Dengan segera aku menaiki mobil Dad.

Sepuluh menit kemudian aku sampai di depan gerbang Hogwarts. Aku bergegas masuk menuju lokerku dengan kecepatan cahaya. Mengambil buku-bukuku dan mengunci loker. Lalu aku merutuk ketololanku yang sangat buru-buru seperti ini karena ingin menghindari seseorang. Ini kan masih pagi sekali. Memangnya dia sudah datang sepagi ini?

Juga, karena masih terlalu pagi, kuputuskan untuk berjalan-jalan dulu. Baiklah, aku akan melihat-lihat mading yang terletak di lantai dua.

Koridor lantai dua masih sepi. Aneh. Apa aku yang terlalu pagi sampai di Hogwarts? Entah deh. Bagus malah kalau mading masih sepi. Eh tunggu, ternyata ada orang di depan mading. Aku menyipitkan mataku agar bisa melihat lebih jelas. Ah, aku kena sial.

"Hai Mione!" sapanya riang. Aku meringis kecil.

"Sejak kapan kau panggil aku Mione, eh?"

Dia memandangku lalu sedetik kemudian ia tertawa renyah. "Kau sewot sekali Hermione."

"Ha―ha. Lucu sekali Harry," ujarku dalam nada menyindir. "Tapi tak apa sih jika kau mau panggil aku Mione. Aku tak keberatan kok."

"Thanks, Mione."

Kami terdiam. Suasana menjadi hening selama beberapa saat.

"Err, Mione. Aku mau minta maaf."

"Untuk?" aku memandangnya heran.

"Perkataanku kemarin. Kulihat kau sepertinya marah sekali. Sorry," katanya sambil menunduk. Marah, katanya? Justru sebenarnya aku malu! Tapi aku tidak ingin mengakui kalau aku malu. Ah, aku tak tega melihatnya seperti ini.

Aku hanya bisa tersenyum dan merespon, "Tidak apa-apa kok. Lagipula aku tidak terlalu memikirkannya."

Dia mengangkat kepalanya lalu membalas senyumku dengan sangat manis. "Thanks."

Aku mengangguk.

Kami terdiam. Aku bingung ingin berbicara apa lagi padanya. Lalu, dengan baiknya, dia memecah keheningan di antara kami. "Mione," panggilnya.

"Huh?"

Dia menggaruk pipinya pelan. "Err, kau sudah diajak pergi ke prom?"

"Belum. Kenapa?"

"Eh, itu, kau … ehm." Dia menarik napasnya, mengatasi rasa gugup, kurasa. "Kau mau pergi ke prom denganku?"

Aku mencoba menyerap kata-katanya. Tunggu sebentar. Dia bilang apa tadi? Dia mengajakku? Seeker beken ini mengajak seorang Hermione Granger ke—prom? Eh? Eh? EEEH? Oke itu kelewat berlebihan untuk seorang Granger. Tapi ya Tuhan, mana mungkin ini terjadi? Aku mungkin perlu menanyakan kembali. Barangkali telingaku salah dengar.

"Err, sorry, tapi tadi kau bilang apa?"

Dia memutar matanya. "Come on, Mione. Aku mengajakmu pergi ke prom. Mau, kan?"

Oh, ternyata telingaku masih berfungsi baik. Dia benar-benar mengajakku. Padahal baru kemarin aku kesal dengan semua yang berhubungan dengan prom karena, yea, kau tahulah. Tapi sekarang? Coba dengar, Harry Potter mengajakku ke prom!

"Aku baru tahu kau ternyata belum punya pasangan ke prom," ujarku sarkastik. Dia mengangkat bahunya angkuh.

"Aku cukup selektif," katanya sambil menyeringai sombong. Benar-benar menyebalkan.

"Mmm, bagaimana, ya?" kataku main-main, "Aku juga cukup selektif." Dikata begitu, ia malah makin menyeringai lebar.

"Jujur saja, aku tak ingin ditolak. Tahun lalu aku sudah mengalah karena kau memilih pergi ke luar kota demi lomba science yang diadakan sebuah universitas daripada pergi ke prom bersamaku."

Aku cukup terkejut mendengar pernyataan blak-blakan Harry. "Eh? Memangnya kau mengajakku ke prom tahun lalu?"

Ia kembali mengangkat bahu. Kali ini, ia juga mengusap leher belakangnya. "Tidak jadi. Aku lebih dulu mengetahui kau bakal ikut lomba daripada pergi ke prom. Jadi kupikir percuma saja mengajakmu, karena kau pasti bakal memilih science daripada dansa."

Benar juga yang ia bilang. Sudah pasti aku memilih sesuatu yang lebih bermanfaat ketimbang acara semacam prom.

Lalu kudengar Harry mendengus pelan. "Jadi, kau ikut denganku, kan? Ke prom?"

"Astaga," keluhku pelah, "Percuma saja aku menolak kalau kau keras kepala seperti ini."

"Eh?" kagetnya, "Apa itu intinya kau akan pergi ke prom denganku?"

Harry menatapku intens dengan wajah yang lucu. Ah, aku jadi tidak bisa memandangnya lagi. Terlalu manis. Tidak baik bagi kesehatan. "Y—ya begitulah."

Dia nampak sumringah. Ya sudahlah, toh dia juga senang.

"Thanks, Mione!" ujarnya kencang dan aku meringis pelan. Ia kemudian terkekeh. "Err, apa kau mau ke taman dulu? Bel jam pelajaran pertama masih lama, kan?" tanyanya.

Haduh, ajakan lagi. Tapi sambil menunggu bel, biarlah aku habiskan waktu di taman.

"Oke."

Dan di sinilah kami. Taman belakang Hogwarts yang luas, nyaman, tenang, dan asri. Tapi begitu kami sampai, semua mata mengarah padaku dengan tatapan yang aneh. Ada apa lagi ini? Kenapa juga masih pagi begini, taman belakang sudah lumayan terisi?

Dengan mengabaikan tatapan-tatapan tersebut, aku bersama Harry berusaha mencari tempat enak untuk bersantai. Kami berjalan santai di taman belakang Hogwarts sambil mengobrol ringan. Entah mengapa aku senang menjadi lebih akrab dengannya. Seperti ada perasaan yang dulu hilang, namun kini kembali. Ada apa ya? Hah, sudahlah.

Kami akan terus berjalan dengan santai, jika saja seseorang tidak menghentikan langkahku.

"Granger," sahutnya. Aku mencari-cari siapa yang memanggilku. Ketika aku menoleh ke arah belakang, sosok itu mendekat. Tatapan mata dinginnya menusukku. Sosok itu—Draco Malfoy.

"Ma—Malfoy?" suaraku tercekat.

Dia berhenti tidak jauh dariku dan Harry. Kemudian dia berkata dengan intonasi yang datar padaku, "Aku ingin berbicara sebentar denganmu."

"Eh?" tanyaku kaget. Melihat Malfoy yang mulai menatapku tambah tajam, membuatku bergidik ngeri. "Oh─oke. Emm, Harry, bisa kau duluan saja? Please?"

Harry menatapku dan Malfoy secara bergantian. Entah hanya perasaanku saja atau memang benar, Harry menatap Malfoy dengan pandangan tak suka.

"Baik," sahutnya tak suka, intonasinya datar. Harry kemudian berbalik dan pergi.

Dan kami tinggal berdua di sini. Aku terus menatap tanah, tidak kuasa menatap mata tajam miliknya. Kudengar ia menarik napas keras dan mendengus.

"Tatap aku, Granger!"

Aku menatapnya. Mencoba tenang. Tapi entah mengapa aku selalu ingat dengan kejadian hari kemarin ketika melihatnya. Tiba-tiba rasa sakit datang menghampiri relung-relung hatiku. Aku tak kuat. Rasanya ingin menangis dan teriak saja. Kurasakan air mata menggenang di pelupuk mataku. Aku buru-buru mengelapnya dan menarik napas untuk menenangkan diri.

"Apa yang ingin kaubicarakan?"

Dia mendengus lagi. "Apa berita itu benar?"

Aku mengerutkan keningku. Bingung. Ada apa dengan orang ini, datang-datang langsung mengonfrontasi. "Apa maksudmu?"

"Tak usah pura-pura tidak tahu. Berita itu sudah menyebar."

Oke, aku tambah bingung. "Berita yang mana?"

"Tidak perlu bohong. Jawab saja pertanyaanku."

Demi janggut Merlin! Maunya orang ini apa, sih? Kini giliranku yang mendengus. "Aku benar-benar tidak tahu! Berita apa yang menyebar tentangku? Kenapa kaungotot aku pura-pura tidak tahu? Berita apa? Berita yang mana? Demi janggut Merlin, aku tidak tahu sama sekali!"

Great, orang ini menghabiskan kesabaranku. Apa maunya? Aku, kan, benar-benar tidak tahu berita apa yang ia maksud.

Ia memalingkan muka sebentar, kemudian menatapku lagi. "Oke, oke. Aku cuma mau tanya tentang satu hal. Apa benar kalau—" ia menggantungkan ucapannya. Bikin pensaran saja.

"Kalau apa?"

"Apa benar kalau kau di ajak Potter ke prom?"

He? Ternyata itu beritanya? Nah, kenapa cepat sekali menyebar? Harry, kan, baru saja mengajakku sekitar sepuluh menit yang lalu, tapi berita ini sudah tersebar ke mana-mana. Sekolah ini terlalu hebat.

"Ya benar. Lalu kenapa?"

Ia memandangku terkejut. Lalu pandangan matanya berubah tajam. "Oh."

Badan tegap Malfoy berbalik memunggungiku. Ia menoleh kecil untuk menatapku. Tapi sorotnya masih tajam, sorot ketidaksukaan. Lalu nada dingin mengalir darinya sembari pergi.

Ketika ia mengatakan hal tersebut, tubuhku langsung kaku. Kenapa dia? Sungguh aku tak mengerti apa maksudnya.

Aku menutup mataku. Tapi ketika kututup, kata-kata dari suara dinginnya kembali menggema hingga ke ulu hatiku. Uh, kenapa dia selalu membuatku sakit, sih? Lalu kata-kata itu terdengar kembali. Terus terekam berulang-ulang di kepalaku.

.

.

"Aku tak suka kau dekat dengan si Potter itu."

-tbc–