TITLE : SLEEP WITH DEVIL
A REMAKE STORY
FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL
DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.
.
.
.
.
Warning : Genderswitch
Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!
Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini
BAB 10
Hyukjae tertegun. Ulang tahunnya yang kedua puluh lima sebentar lagi. Kenapa Donghae bisa mengetahui detail hari ulang tahunnya? Hyukjae tertarik, tetapi dia akan memuaskan Donghae kalau dia mengikuti Donghae untuk berbicara dengannya.
Jangan-jangan memang itu tujuan Donghae, supaya dia tidak berhujan-hujanan dan mengikuti Donghae. "Nanti aku akan menyusulmu kalau aku sudah puas disini".
Api menyala di mata Donghae, dan tampak jelas lelaki itu mencoba menahan diri, "Terserah, nanti temui aku di ruang kerjaku," suaranya lebih seperti geraman, kemudian membalikkan badan dengan marah.
.
.
.
Setelah puas menikmati hujan, Hyukjae masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian dan makan malam. Dia sengaja tidak menemui Donghae, lagipula sepertinya lelaki tadi hanya asal bicara ketika bilang ingin berbicara tentang hari ulang tahunnya. Dan Hyukjae tidak yakin kalau Donghae akan menunggunya. Lelaki itu sepertinya sangat sibuk dan punya banyak urusan.
"Kenapa kau tidak menemuiku di ruang kerjaku?" , suara di kegelapan itu mengagetkan Hyukjae. Dia menajamkan matanya dan melihat Donghae duduk di sana, di keremangan kamarnya.
"Kenapa kau masuk ke kamarku tanpa izin?," Hyukjae berteriak kaget, tangannya meraba-raba saklar lampu di diniding, berusaha menghilangkan kegelapan yang menyelubungi Donghae, karena lelaki itu tampak lebih menyeramkan di antara cahaya yang remang-remang.
Hyukjae berhasil menyalakan lampu dan cahaya itu langsung menyelubungi Donghae. Lelaki itu duduk di sofanya, dengan santai, hanya memakai piyama sutera warna hitam dan di sebelah tangannya memegang gelas minuman. Hyukjae melirik ke botol brendy yang entah berasal dari mana, yang sepertinya sudah dituang Donghae selama menunggunya.
Apakah lelaki itu mabuk? Jantung Hyukjae mulai berdegup. Dalam keadaan sadar saja emosi Donghae sangat tidak mudah ditebak, apalagi dalam kondisi mabuk. "Apa yang kau lakukan disini Donghae?"
Donghae mendengus dan menatap Hyukjae dengan tajam, "Kau pikir apa? Aku menunggumu di ruang kerjaku dan kemudian menyadari bahwa kau, dengan kepalamu yang keras kepala itu memutuskan untuk melawanku"
Hyukjae mundur ke belakang, melirik pintu putih itu, dan berusaha sedekat mungkin di sana, sehingga ketika Donghae bertindak di luar batas dia bisa segera melarikan diri. Donghae tersenyum melihat tingkah Hyukjae, "Kau seperti kelinci ketakutan lagi Hyukjae, apakah kau takut aku akan melakukan sesuatu yang kejam? Seperti mencampurkan obat di minumanmu, atau … melemparkanmu dari balkon lagi?,"
Donghae menyeringai, meletakkan gelasnya dan berdiri, makin lama makin mendekati Hyukjae. "Apakah kau mabuk Donghae?," Hyukjae melirik ke arah pintu, hanya butuh beberapa detik kalau Hyukjae ingin melarikan diri dari Donghae. Dia pasti bisa melakukannya.
"Donghae Lee tidak pernah mabuk," Donghae melangkah mendekat dengan tenang, seperti singa yang mengendap-endap mengincar mangsanya. "Dan kau…. Seharusnya kau mendengarkan apa yang kuperintahkan, Hyukjae"
Hyukjae tahu di situlah titiknya. Di situlah titik Donghae kehilangan kesabarannya, karena itulah Hyukjae langsung melompat dan mencoba melarikan diri ke pintu. Dia berhasil membuka pintu itu sedikit, sebelum dengan gerakan lebih cepat dan tanpa suara, Donghae sudah ada dibelakangnya, mendorong pintu itu menutup kembali sebelum sempat terbuka.
Donghae mendorongnya rapat ke pintu, dan dengan terkejut Hyukjae bisa merasakan kejantanan Donghae yang mendesak keras di bagian belakang tubuhnya. Dia ingin bergerak dan menghindar, tetapi ternyata Donghae sudah menahannya di semua sisi.
Hyukjae ketakutan. Apakah dia akan dipaksa lagi? Udara mulai terasa menyesakkan dan Hyukjae mulai terengah-engah. "Aku tidak pernah bercinta sambil berdiri," Donghae berbisik di telinganya dengan bisikan panas yang membuat sekujur tubuh Hyukjae menggelenyar, "Dan kau membuatku ingin melakukannya"
Hyukjae terkesiap, mencoba meronta sekuat tenaga. Tetapi percuma karena Donghae begitu kuatnya, "Apakah kau akan memaksaku lagi, Donghae Lee?," Hyukjae berteriak di tengah usahanya membebaskan diri, "Kalau iya, maka kau sudah membuktikan kepadaku, kalau kau memang adalah lelaki bajingan yang hanya bisa mendapatkan wanita dari pemerkosaan"
Kata-kata Hyukjae rupanya berhasil membuat kesadaran Donghae kembali. Lelaki itu tertegun. Dan sedetik kemudian yang melegakan, Donghae melepaskan Hyukjae, "Sialan kau dasar perempuan!," Donghae berbisik marah di telinga Hyukjae dan meninggalkannya.
Sendirian, Hyukjae berusaha menyandarkan dirinya di pintu, napasnya terengah-engah dan dia merasa lepas. Gairah Donghae ternyata juga mempengaruhinya. Dan Hyukjae semakin takut akan tiba saatnya baginya, menyerah ke dalam pelukan Donghae.
.
.
.
Hari ini hari Minggu, seharusnya menjadi hari istirahat yang menyenangkan bagi semua orang. Tetapi emosi Donghae luar biasa buruknya pagi itu dan menyebar ke seluruh penjuru rumah. Suasana rumah jadi menegangkan. Seluruh pelayan berbicara sambil berbisik-bisik ketakutan, membicarakan Tuan mereka yang marah-marah seharian ini.
Pagi tadi Donghae sudah membanting gelas di meja hingga anggurnya berceceran menodai taplak meja yang berwarna putih, hanya karena minumannya tidak cocok dengan seleranya, dia memanggil Hangeng dan membentaknya karena beberapa pengawal belum berjaga di gerbang depan.
Bahkan sekretaris dan pengatur keuangan rumah tangganya pun ikut kena semprot ketika dia memeriksa laporan di ruang kerjanya tadi. Sekarang semua orang saling bersembunyi berusaha menghindari berurusan dengan tuan mereka yang begitu mengancam, seperti beruang yang terluka.
Hangeng masuk dengan hati-hati ke ruang kerja Donghae, "Ada apa?"
"Baju-baju untuk Nona Hyukjae sudah datang"
"Bagus"
"Apakah kita harus memesan pakaian sebanyak itu? Bukankah tuan sendiri bilang tidak akan menahan Hyukjae lebih lama?"
"Tutup mulutmu Hangeng!," Donghae menggeram, "Biarkan aku mengurus apa yang menjadi urusanku sendiri!" Hangeng mengangguk, menyadari bahwa tuannya sudah hampir meledak marah dan memilih pergi daripada terkena dampratannya seperti pagi tadi.
Donghae berdiri mondar-mandir di ruangannya, kemudian berhenti dan menuangkan segelas vodka murni untuk dirinya sendiri. Dia meneguknya, dan cairan putih itu serasa begitu membakar di ternggorokannya.
Tubuhnya begitu bergairah. Mengingat sekian lama dia menahan diri. Dia bisa saja melampiaskan gairahnya kepada perempuan-perempuan yang memujanya dan pasti bersedia melakukan apapun untuknya. Tetapi dia tidak ingin sembarang wanita, dia ingin Hyukjae. Sialan! Kenapa pikirannya terus-menerus tertuju kepada perempuan itu?
Dengan rasa frustrasi yang masih memenuhinya, ia melangkah panjang-panjang ke arah kamar Hyukjae, membuka kamar itu tanpa permisi, dan menemukan Hyukjae ada di kamar.
Ryewook ada di sana, memamerkan baju-baju pesanan yang baru datang untuk Hyukjae, sedangkan perempuan itu hanya duduk di sana, menatap pakaian-pakaian mahal itu dengan bosan.
Ryewook langsung menghentikan kegiatannya dan meminta izin keluar begitu Donghae masuk dengan wajah muram. "Kau menyukai pakaian-pakaian itu?"
"Apakah pendapatku penting?" Donghae menatap Hyukjae marah, "Apa maksudmu?"
"Bukankah dirumah ini apa yang diinginkan Donghae Lee bagaikan perintah raja yang harus dituruti? Aku melihat sendiri bagaimana orang-orang hilir mudik, panik seharian mengatasi sikap marah-marahmu yang tak ada habisnya itu."
"Oh ya? Dan kau pikir itu karena siapa?" Hyukjae menegakkan dagunya menantang, "Karena siapa?"
"Karena kau, dasar perempuan kecil yang keras kepala!" Hyukjae mengernyit marah,
"Dan apa yang kulakukan padamu wahai tuan Donghae yang baik hati?"
"Kau selalu menantangku hingga aku harus menahan diri di batas kesabaranku, sikapmu itu membuatku muak!"
"Kau pikir aku harus bagaimana Donghae? Kau musuhku, meskipun sekarang aku memutuskan sedikit bekerjasama dengan tidak mencoba kabur, kau tetap musuhku. Dan ketika aku merasa keadaan sudah baik, aku tetap menuntut dibebaskan"
"Selalu ke arah itu," gumam Donghae kesal, "Aku masih belum ingin membahasnya," lelaki itu menatap Hyukjae tajam, "Aku memintamu melakukan sesuatu untukku"
Hyukjae mengangkat alisnya, tertarik, Donghae tidak pernah meminta sesuatu. Lelaki itu terbiasa memerintah lalu ketika itu tidak dituruti, dia akan memaksakan apapun yang diinginkannya.
"Ya aku memintamu menghilangkan rasa permusuhanmu itu dan mencoba menerimaku sebagai kekasihmu"
Hyukjae melangkah mundur tanpa sadar, "Menerimamu sebagai apa…? Apa kau sudah gila?"
"Hmm…. Aku bahkan punya rencana yang lebih gila dari itu, lebih daripada yang bisa kau bayangkan, kau akan tahu nanti," matanya menatap Hyukjae penuh rahasia, "Tapi yang pasti, gairah di antara kita begitu membara dan aku tidak munafik mengakuinya di depanmu, aku selalu terangsang ketika melihatmu. Aku terangsang ketika membayangkanmu, aku ingin menidurimu setiap waktu.."
"Hentikan kata-kata vulgarmu itu!," Hyukjae berteriak ingin menutup telinganya yang terasa panas.
Donghae terkekeh, "Mungkin kau perlu merasakan sendiri, bagaimana aku tergila-gila pada tubuhmu," Lelaki itu meraih Hyukjae ke dalam pelukannya dengan lembut, dan langsung melumat bibirnya.. Donghae melumat seluruh bibir Hyukjae, dan kemudian lidahnya masuk, menjelajahi lidah Hyukjae, bertautan dengan lidah Hyukjae dan kemudian menjelajahi seluruh diri Hyukjae, bibirnya bergerak melumat bibir Hyukjae tanpa ampun.
Lelaki itu begitu bergairah tetapi tetap bersalut kelembutan, dan sejenak Hyukjae terhanyut dalam ciuman yang luar biasa itu, sampai kemudian dia merasakan kejantanan Donghae yang begitu keras kembali menekan tubuhnya.
Dengan napas terengah-engah Hyukjae melepaskan dirinya dari pelukan Donghae, "Hyukjae.. sudah siap untukku" mata Donghae menyala penuh gairah, "Kenapa kau tidak mau mengakuinya dan tidak saling menyiksa seperti ini?"
"Aku tidak menginginkanmu sebagai kekasihku dan aku tidak siap untuk apapun yang berhubungan denganmu." Bantah Hyukjae keras.
Donghae menyipitkan mata, menatap Hyukjae dengan tatapan menuduh, "Oh ya? Tadi kau hanyut dalam ciumanku, bibirmu panas dan melembut untukku, siap menerimaku"
Siapa yang tidak menginginkan lelaki yang luar biasa tampan ini? Semua perempuan pasti bermimpi bisa ada di dalam pelukannya, semua pasti membayangkan bagaimana kalau lelaki sekejam Donghae berperilaku lembut. Oh, Hyukjae pernah merasakannya, beberapa kali malahan, dan ingatan tentang hal itu membuat tubuhnya memanas
"Kau adalah pembunuh orangtuaku", Hyukjae menatap Donghae dengan penuh kebencian, "Dan bagiku itu adalah dosa tak termaafkan, aku akan selalu menyalahkanmu atas hal itu"
Tertegun sejenak, lalu Donghae mundur selangkah dengan begitu dingin,
"Oke"
Dan ketika Hyukjae mengangkat kepalanya, Donghae sudah keluar dari ruangan itu. Hyukjae menghembuskan nafas panjang. Apakah dia salah? Tetapi bukankah semua yang dilakukan Donghae atas dasar nafsu? Lelaki itu jelas-jelas bergairah kepadanya dan menginginkannya. Tetapi setelah itu apa?
Hyukjae tidak mau jatuh dalam jerat rayuan Donghae seperti perempuan murahan. Seperti para kekasih Donghae yang dicampakkan begitu saja setelah lelaki itu puas. Setidaknya meskipun dia gagal membalaskan dendamnya, dia bisa pergi dari kehidupan Donghae dengan penuh harga diri.
.
.
Donghae berdiri malam itu di tengah taman di depan rumahnya, berharap udara dingin bisa meredakan gairahnya yang membuat tubuhnya begitu panas. Ditatapnya jendela kamar Hyukjae di lantai dua.
Jendela itu terbuka, dan cahaya temaram memantul dari sana, tampak begitu jelas. Donghae menatap jendela itu dengan frustrasi. Perempuan itu ada di sana dan Donghae seharusnya bisa dengan mudah memilikinya. Tetapi sikap perempuan itu seolah-olah membuatnya merasa menjadi bajingan menjijikkan kalau dia sampai memaksakan kehendaknya kepada Hyukjae.
Donghae tertegun ketika melihat bayangan Hyukjae terpantul dari kamar. Sepertinya Hyukjae berdiri dekat lampu tidur di samping ranjangnya, karena bayangannya muncul dari gorden jendela bagaikan siluet gelap yang erotis.
Hyukjae tampak sedang berjalan mondar-mandir di kamarnya, dan Donghae menatapnya dengan penuh minat. Lalu perempuan itu membuat gerakan membuka gaunnya. Donghae menelan ludah, melirik ke sekelilingnya yang sepi, mulai merasa tidak nyaman karena membuat dirinya seperti seorang pengintip mesum yang mengintip siluet perempuan berganti baju dengan penuh gairah.
Siluet Hyukjae melepas kemejanya, dan tubuh bagian atasnya yang polos terpantul dalam bayangan gelap dengan bentuk tubuh yang menggoda. Lalu Sialan! Donghae mulai mengumpat ketika bayangan Hyukjae di jendela membuat gerakan mengangkat salah satu kakinya ke ranjang dan tampaknya melepas celana panjangnya.
Gerakan itu tampak sangat seksi di bawah sini, dan Donghae menggertakkan giginya dengan marah. Ia benar-benar siap meledak, dan Hyukjae malahan memperburuk keadaan dengan pantulan bayangannya di jendela – meskipun dia tidak sengaja –
Dan Donghae sungguh-sungguh siap meledak dalam arti yang sebenarnya saat ini mengingat kejantanannya sudah begitu keras hingga terasa menyakitkan. Dengan geraman marah, Donghae melangkah terburu-buru menaiki tangga, membanting kakinya di setiap langkahnya, dibukanya pintu kamar itu dengan kasar.
Matanya membara dan dia siap untuk bertengkar, dan menemukan Hyukjae sedang duduk di sofa, sudah berganti dengan gaun tidurnya dan sedang membaca sebuah buku. Hyukjae mengangkat alis melihatnya, tampak begitu tenang, "Ada apa Donghae?"
Donghae terengah menahan kemarahan, "Jendela itu!," tunjuknya marah, lalu melangkah lebar-lebar menyeberangi ruangan dan menutup kaca jendela itu dengan kasar, dia membalikkan tubuhnya menghadap Hyukjae dengan posisi siap bertarung, "Lain kali tutup rapat-rapat jendela itu kalau sudah malam!," teriaknya marah.
Hyukjae menatap Donghae bingung, "Memangnya kenapa?" Karena aku melihatmu berganti pakaian bagaikan siluet erotis dari bawah! Karena pemandangan itu membuatku terangsang sampai terasa nyeri! Karena…. Donghae berdiri dengan tatapan membakar, siap memuntahkan emosinya, tetapi kemudian menyadari bahwa dia hanya akan tampak bodoh kalau meluapkan apa yang ada di pikirannya.
Ditatapnya Hyukjae dengan dingin dan mendesis pelan, "Pokoknya tutup jendela itu kalau sudah malam!," Dan dengan penuh harga diri, Donghae melangkah keluar dari kamar Hyukjae, meninggalkan pintu berdebam di belakangnya.
.
.
.
Pagi itu tak seperti biasa ada dua pelayan muda yang membereskan kamar Hyukjae, sepertinya mereka orang baru. Hyukjae masih duduk di sana selepas mandi dan membiarkan para pelayan itu membereskan ranjangnya.
Salah seorang pelayan itu menarik bed cover Hyukjae tampak memeriksa sepreinya, lalu berbisik-bisik satu sama lain dan tertawa cekikikan, ketika Hyukjae menatap mereka dengan dahi berkerut, dua pelayan perempuan itu memasang muka datar dan bergegas pergi.
Hyukjae menoleh ke arah Ryewook, yang juga ada di ruangan itu, sedang membereskan baju-baju Hyukjae yang sepertinya tidak ada habisnya dan terus berdatangan itu ke dalam lemari pakaian Hyukjae, "Kenapa mereka bersikap seperti itu?," tanya Hyukjae ingin tahu.
Ryewook melirik ke arah kepergian pelayan itu dan tersenyum, "Mereka orang baru, dan tentu saja sangat penasaran denganmu"
"Penasaran denganku?"
"Kekasih Tuan Donghae yang terbaru," jawab Ryewook datar, "Ah, kau tidak tahu ya, semua orang kan membicarakan kalian. Bahkan, namamu sempat muncul di beberapa tabloid gosip dan acara-acara gosip, yang membahas kekasih terbaru Donghae Lee yang misterius. Kau adalah satu-satunya perempuan yang pernah tinggal bersama Donghae, dan mereka menebak-nebak serta mencari bukti bahwa kalian telahbercinta, karena itulah tadi para pelayan tertawa cekikikan ketika memeriksa sepraimu"
Pipi Hyukjae merah padam, tetapi Ryewook sepertinya tidak menyadarinya, dan tetap melanjutkan kata-katanya, "Yah para pelayan itu mungkin saling berspekulasi dan menanti, kapan saat mereka ahkirnya bisa menemukan bukti-bukti bahwa kalian tidur bersama untuk dijadikan bahan gosip selanjutnya," gumamnya dalam senyum, Lalu menatap Hyukjae sambil mengangkat alisnya.
"Hei aku juga penasaran, kalau mereka serius mencarinya, apakah mereka akan menemukan bukti-bukti itu Hyukjae?" tanyanya penuh arti, membuat pipi Hyukjae semakin merah padam.
.
.
.
"Nona Hyukjae?", Hangeng masuk dan mengangkat alis melihat Hyukjae mondar-mandir di kamarnya dengan gelisah.
"Apa?", suara Hyukjae tanpa sadar menegang. Semua yang berhubungan dengan Donghae membuatnya tegang dan ingin mengumpat-umpat siapapun yang ada di dekatnya.
"Tuan Donghae ingin bertemu anda", Bagus. Hyukjae menganggukkan kepalanya dan mengikuti Hangeng, lalu tertegun setengah mengernyit ketika Hangeng membawa Hyukjae ke kamar Donghae, "Di kamar ini?"
Hangeng mengangguk, dan entah Hyukjae salah lihat atau tidak, hanya sedetik dia sempat melihat sinar geli di mata lelaki itu. Kurang ajar. Jangan-jangan mereka semua mentertawakan ketakutannya pada Donghae.
"Ya Nona, tuan Donghae ingin menemui anda di kamar ini" Sejenak Hyukjae ingin kabur saja. Tetapi Hyukjae sadar, ini sebuah tantangan, Donghae menantangnya dan Hyukjae tidak akan kalah.
"Baiklah", Hyukjae menghela napas dalam-dalam dan membiarkan Hangeng membukakan pintu untuknya, Dia langsung berhadapan Donghae yang berdiri dengan begitu tampan di tengah ruangan. Lelaki itu menunggu Hangeng menutup pintu dan meninggalkan mereka berdua sendirian, lalu berkata tenang, "Selamat malam Hyukjae", Donghae tersenyum tenang.
"Sebenarnya aku ingin membahas hal-hal yang berkaitan dengan ulang tahunmu ke duapuluh lima….", senyumnya berubah misterius, "Tetapi kemudian aku sadar bahwa pembiacaraan baik-baik tidak akan ada gunanya di antara kita, jadi aku langsung saja"
Hening, Donghae terdiam dan Hyukjae menunggu dengan ingin tahu apa yang akan dikatakan lelaki itu, "Aku sudah memutuskan masa depanmu." Mata Donghae begitu kelam seperti danau kecoklatan di kegelapan malam. Masa depannya? Memangnya siapa lelaki ini bisa memutuskan masa depannya?
Hyukjae ingin meledak dalam kemarahan, tetapi tidak mampu. Donghae tampak berbeda, dia
tampak begitu tenang tetapi dibalut kemarahan berbahaya, begitu dingin sekaligus mempesona. Lagipula, kenapa Hyukjae berpikir bahwa Donghae mempesona? Sambil mengutuk dirinya sendiri, Hyukjae mencoba menghapus pikiran-pikiran yang mengarah kepada keterpesonaannya kepada Donghae.
Hyukjae mengamati Donghae lagi dan sedikit merasa tidak nyaman, karena melihat Donghae begitu tenang, tanpa sedikitpun emosi malah terasa menakutkan.
Hyukjae tidak suka, dia lebih suka Donghae yang meledak-ledak dan marah daripada Donghae yang seperti Donghae yang meledak-ledak Hyukjae bisa melawan dengan emosinya, tetapi dengan Donghae yang begitu dingin yang bisa dilakukan Hyukjae hanyalah menyurut mundur, ketakutan.
Donghae mengamati reaksi Hyukjae melemparkan pandangan menilai, lalu melanjutkan kata-katanya, "Kau harus menjadi kekasihku yang sebenar-benarnya, Hyukjae. Mulai malam ini," Donghae mulai berdiri, "Aku hanya sekali memberikan penawaran. Kau jadi kekasihku, dan aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau kau menolak, aku akan menganggapmu tak berharga dan melemparmu kepada pengawal-pengawalku"
Apa?
Keringat membasahi dahi Hyukjae, Donghae bercanda bukan? Apa maksudnya melemparnya kepada pelayan-pelayannya? Apakah Donghae ingin memberikannya supaya diperkosa para pengawalnya? Donghae tidak mungkin sekejam itu bukan? Hyukjae menatap mata Donghae dengan ketakutan, mencoba mencari kebenaran di sana, tetapi dia tidak menemukannya.
Lelaki ini kejam, dan siapa tahu apa yang akan dilakukannya?
"Bagaimana Hyukjae? Aku atau kau dibuang ke para pengawalku?"
Hyukjae menatap Donghae marah, "Kau tidak akan berani melakukan hal menjijikkan semacam itu"
"Jangan menantangku Hyukjae" desis Donghae tajam, "Aku bukannya belum pernah melakukannya kepada perempuan yang kuanggap tidak berguna lagi"
Hyukjae tertegun. Apakah Donghae benar-benar serius?
"Kau hidup disini dengan mewah, diperlakukan seperti puteri raja, dihormati layaknya kekasih Donghae Lee dan aku sudah muak dengan kelakuanmu yang selalu menantangku setiap ada kesempatan. Sekarang hanya ini pilihanmu dan kau akan memutuskan sekarang. Aku atau dibuang kepada para pengawalku"
Apakah dia bisa melarikan diri dari sini? Hyukjae ingin berteriak panik, ataukah dia harus bunuh diri saja? Tetapi Hyukjae yakin Donghae tidak akan membiarkannya. Oh, dengan kekejamannya mungkin Donghae akan membiarkan Hyukjae mati, tetapi dia akan memastikan Hyukjae menderita dulu sebelumnya.
"Kau," Hyukjae menelan suara yang dikeluarkannya dengan berat.
Ada nyala di mata Donghae, "Apa Hyukjae? Aku tidak mendengar" Donghae sengaja dan Hyukjae menggeram marah dalam hatinya, kurang ajar lelaki itu!
"Kau, aku memilih kau"
Senyum di bibir Donghae adalah senyum kemenangan yang dingin.
"Kalau begitu, datanglah kemari kekasihku," Lelaki itu membuka tangannya, dan Hyukjae melangkah dengan tertahan ke arahnya.
Dengan sensual, lelaki itu meraih Hyukjae dan mengecup bibirnya sekilas, "Bagus, jangan uji kesabaranku, aku tidak mau dilawan malam ini"
To Be Continued
Well, maaf baru update sekarang.. dikarenakan ulangan semester dan tidak adanya modem.. menghambat pempublish-annya..
Hope you like it^^ and mind to review?
