Harry Potter's characters © J. K. Rowling
Wishing The Sun Beside Me © Fiicchi
WARNING: AU, Hermione's POV, maybe OOC, typo, bahasa non-baku, and idk.
Don't like? Just close this page. Thank you :)
Happy reading!
- CHAPTER #4 –
"Kau tidak apa-apa?"
Aku menghela napasku dengan keras. Sebenarnya aku tidak tidak apa-apa. Mengerti, kan, maksudku? Tapi entah mengapa, aku selalu tak ingin membuatnya cemas berlebihan padaku. Maka dari itu, aku menggelengkan kepalaku perlahan. "Everything's okay. Aku nggak apa kok, Harry. Thanks."
Harry memicingkan matanya heran. "Biasanya 'aku nggak apa' seorang gadis berarti apa-apa," ujarnya pelan. Ia menghembuskan napas keras sebelum menambahkan, "Baiklah, aku tidak akan bertanya kalau kau tidak mau cerita."
Aih, manis sekali. Akhirnya aku mengerti kenapa banyak juga gadis yang mengincar seeker beken ini. Selain tampan, ia juga pengertian.
Well, bukan berarti aku langsung suka padanya. Aku suka padanya, tapi bukan suka sepert itu. Mengerti maksudku, kan? Hatiku entah kenapa masih betah bergelantungan di matahariku. Padahal sudah jelas matahariku hanya akan membuatku pusing, sakit kepala, anemia, sakit jantung, sakit hati, dan intinya sakit.
Yah, dia matahari, sih. Silaunya membuat mata sakit.
Oh, hati juga.
Astaga, demi janggut Merlin, Mione! Kenapa aku tenggelam dalam perasaan seperti ini? Sadar!
Harry masih menatapku. Pandangannya pun masih heran. Ia terlihat ingin menanyakan sesuatu, namun apa yang ingin ia tanyakan seperti tertahan di ujung lidahnya. Ah, dia penasaran.
"Kelas sejarah, kan?" ujarnya tiba-tiba. Apa-apaan anak ini?
"Eh?"
"Ah, maksudku kelas pagimu ini kelas sejarah, kan? Satu kelas denganku?"
Aku memandangnya selama kurang lebih lima detik, lalu tertawa. Pasti otaknya salah kalau lagi kebingungan. "Kita sudah hampir empat bulan di kelas pagi sejarah yang sama, Mister Potter. Ada apa dengan otakmu?" ujarku di sela tawa. Harry menatapku dan kemudian terkekeh kecil. Ia kemudian seperti menggumamkan sesuatu, namun aku tak mendengarnya.
"Eh? Apa kaubilang?"
"Tidak. Aku tidak mengatakan apa pun."
Harry mengalihkan pandangannya dariku. Aku mungkin tadi mendengar gumamannya sedikit, tapi aku tidak yakin. Sambil tersenyum, aku bangkit dari tempatku duduk dan mengajaknya pergi ke kelas bersama. Ia menatapku balik dan kemudian bangkit dan berjalan ke kelas sejarah bersamaku.
Jujur saja, aku masih kepikiran dengan gumaman si seeker beken itu, namun aku tidak mau mengonfirmasi perkataannya.
Haahh … apa tadi dia baru saja bilang, syukurlah aku tertawa?
Sun
Setelah sepagian dimonopoli oleh Harry, Ginny dan Cho akhirnya bisa menculikku di jam istirahat pertama dan tentu saja langsung membombardirku dengan tatapan penuh pertanyaan. Sayangnya, hanya satu pertanyaan yang bisa mereka keluarkan,
"Jadi, Mione, apa-apaan itu tadi?"
Aku melirik Cho dengan pandangan bingung. "Apanya?"
Cho mendelik tajam ke arahku, bertingkah galak. Tentu saja itu tidak ada pengaruhnya karena ukuran matanya yang minimalis. "Astaga, kau sepagian ini bersama Harry Potter! Juga dengan fakta kalau kau akan ke prom dengannya! Kalian tiba-tiba saja dekat. Ada apa dengan kalian?"
"Eh?" heranku sambil mengangkat alis. "Apa salah kalau aku dekat dengannya?"
"Uh, bukan itu," kata Cho gemas. "Ya, aku memang tahu kalau dia dari dulu memang sering memerhatikanmu, tapi … entahlah, rasanya kalian benar-benar cepat sekali akrab."
Tunggu. Apa tadi Cho bilang? Harry sering memerhatikanku? Dari dulu?
"Apa maksudmu, Cho Chang?"
"Apanya yang 'apa maksudmu', Mione?" tanya Ginny. "Semua orang juga tahu si seeker beken itu sering melihatmu. Bahkan di prom tahun lalu saja, ia menolak habis-habisan seluruh gadis yang gencar mengajaknya dan pada akhirnya tidak muncul di acara prom."
"Yah, ketidakmunculannya membuat semua orang berspekulasi kalau ia sebenarnya ingin mengajakmu, namun kau malah kabur mengikuti lomba. Kasihan dia."
"Tapi rasanya itu bukan spekulasi, sih. Sepertinya itu memang kenyataan," ujar Ginny sambil mengerling genit ke arahku. "Kudengar, ia bilang ia tidak mau ditolak lagi. Olehmu. Ya atau tidak?"
Cho menyolekku genit, lalu Ginny mengikutinya. "Jadi benar, Harry ingin mengajakmu tahun lalu? Wow, Mione!"
Aku hanya berusaha menghindari colekan mematikan Ginny dan Cho. Mereka ini benar-benar mengerikan. "Astaga, berhenti menyolekku, Ginny! Cho, ini gara-gara kau yang mulai! Aw!"
Mereka tertawa puas. Aku hanya mendengus kecil. "Dasar," gumamku.
Aku menatap mereka lama. Prom, ya? Kenapa acara prom tahun ini benar-benar jadi perbincangan yang heboh untuk para siswa Hogwarts? Memangnya sekacau apa, sih, prom tahun lalu? Paling kekacauan disebabkan oleh kembar Weasley yang memang super duper iseng itu, kan?
Lalu, kenapa juga aku peduli?
Kuhela napas keras sambil membaringkan kepalaku di atas meja kantin. Melirik Ginny dan Cho yang kini mulai heboh membahas soal gaun. Astaga, prom masih tiga minggu lagi, tapi mereka sudah repot dengan itu. Ada apa dengan gaun mereka yang ada di rumah? Apakah gaun itu hanya bisa sekali pakai?
Astaga, aku berpikir soal gaun sekarang.
Baiklah, aku akan memikirkan soal tugasku. Tugas biologi sudah kukerjakan. Kelas sejarah tadi tidak ada tugas. Tugas fisika …
AH, tugas fisika! Malfoy akan meledak kalau aku tidak segera mengabarkan perkembangan tugasku. Mungkin aku harus pergi ke perpustakaan sekarang, mencari bahan. Ah, mungkin akan kulakukan nanti di jam istirahat selanjutnya.
Semoga Malfoy tidak akan mengamuk karena aku telat dua hari mengabarkan perkembangan tugas kami.
Wah, panjang umur. Lihat, matahariku memasuki area kantin. Tumben kali ini antek-anteknya tidak ada bersamanya. Biasanya ada Crabbe, Goyle, Blaise, atau bahkan Pansy yang bergelayut manja. Apa ia sedang mencari seseorang?
Aku mengalihkan pandanganku ke arah jus apel yang belum habis. Kuseruput pelan jus apelku sambil berusaha mencoba masuk ke perbincangan Ginny dan Cho tentang Hagrid, penjaga Hogwarts, yang sepertinya memiliki peliharaan aneh lagi. Baru saja aku mau membuka mulut soal Hagrid, mereka malah terdiam dengan ekspresi kaget.
"Ada apa dengan kalian?"
Ginny dan Cho hanya memandangku aneh. Lalu, kurasakan bahuku ditepuk dengan pelan. Segera saja aku menengok ke belakang. Tebak siapa? Seratus untuk yang menjawab Draco Malfoy, matahariku.
Ah. Badanku. Terasa. Kaku.
"Granger," ujarnya. Tidak dingin, tidak lembut juga. Hanya pas dengan suaranya.
Aku meneguk lidahku gugup. "Ya? Kali ini ada apa?"
Malfoy sekilas terlihat ragu. Ia lalu berlalu dari pandanganku, meninggalkanku yang membatu, setelah ia berkata dengan sangat pelan dan menusuk,
"Aku mengganti nomorku. Aku tidak mau mengerjakan tugas Professor Snape."
.
Apa tadi? Apa aku salah dengar? Apa aku bermimpi?
Apa aku waras menyukai orang yang akan membunuhku?
─tbc─
A/N: Chapter 1 sampai 3 saya edit sedikit, tapi membuat isi cerita juga berubah. Jadi, kalau reader langsung baca chapter 4, saya sarankan baca lagi dari chapter awal :)
Oh ya, ada pengumuman. Awalnya memang saya berencana untuk membuat DraMione sebagai ending fic ini. Hanya saja, lama-lama nulis fic ini, saya jadi mencintai interaksi HarMione yang baru banget akrab. So, saya masih belum menentukan endingnya gimana, tapi sudah punya sekitar empat gambaran ending.
The last, enjoy the story patiently yah :')
Mind to leave me a little review? Thanks.
Salam cokutam,
Fiicchi
