TITLE : SLEEP WITH DEVIL

A REMAKE STORY

FROM SANTHY AGATHA – SLEEP WITH DEVIL

DISCLAIMER : cerita asli milik Santhy Agatha, Xiao hanya merubah nama-nama pemainnya dengan Haehyuk.

.

.

.

.

Warning : Genderswitch


Xiao's Note : Xiao disini meremake novel milik Santhy Agatha. Cerita ini bagus sekali, ditambah jika para pemainnya diganti Haehyuk. Xiao harap semua yang membaca suka.. kalo mau coba aja dulu baca novel aslinya.. karena novel ini keren!

Apabila ada yang tidak suka, dengan senang hati Xiao akan menghapus cerita ini


BAB 12

Hari pertamanya dalam kebebasan dan Hyukjae luar biasa menikmatinya. Rumah mungil yang dikontraknya masih tertata rapi seolah-olah tidak pernah ditinggalkan sebelumnya. Mungkinkah Donghae mengirimkan orang-orangnya untuk membersihkan rumah ini? Hyukjae menggelengkan kepalanya dan mencoba menghapus bayangan Donghae dari pikirannya.

Dia harus melupakan lelaki itu dan melangkah maju.

Pagi itu yang dilakukan oleh Hyukjae pertama kali adalah memeriksa kulkasnya dan mengerutkan kening ketika menemukan kulkasnya penuh bahan makanan. Ini pasti pekerjaan lelaki itu, gumam Hyukjae, menolak menyebut nama Donghae demi usahanya melupakannya. Tetapi Hyukjae tidak mau membiarkan gangguan ini merusak hari pertama kebebasannya.

Diambilnya sayuran, daging sapi, dan telur. Lalu dia membuat tumis daging dengan sayuran dan telur yang berbau harum, setelah menuang masakan harum itu dari wajan, Hyukjae menuang teh hangat yang sudah diseduhnya tadi pagi ke cangkir berwarna putih, dan meletakkan semuanya di meja.

Sambil menyantap makanannya Hyukjae menyalakan komputernya. Hal pertama yang harus dilakukannya adalah mencari pekerjaan, karena Hyukjae harus bertahan hidup. Seperti semula.

Seingat Hyukjae, dirinya masih punya tabungan di rekeningnya, tidak banyak memang hanya cukup untuk bertahan hidup selama satu sampai dengan dua bulan setelah dikurangi pembayaran kontrak rumah kecil ini secara bulanan. Setelah itu Hyukjae harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri sekaligus membayar tempat tinggalnya, kalau Hyukjae tidak bisa melakukannya, dia akan menjadi gelandangan.

Jadi, waktunya untuk mencari pekerjaan sangatlah sempit. Oh ya, hal kedua yang harus dilakukannya adalah mengambil uang tabungannya, mungkin nanti siang dia akan ke bank. Hyukjae menghirup tehnya yang terasa harum dan meneguknya dengan tegukan panas yang nikmat.

Lalu mulai menyantap sarapannya sambil membuka situs pencari pekerjaan di komputernya.

Lowongan kerja… lowongan kerja yang cepat dan sesuai kualifikasinya… mata Hyukjae bergerak cepat dan mencatat beberapa perkerjaan yang sesuai. Dia mengirimkan email surat lamaran ke beberapa perusahaan tersebut sambil menghabiskan sarapannya.

Ketika Hyukjae selesai melakukan kegiatannya, waktu sudah hampir jam dua belas siang. Hyukjae teringat bahwa dia harus ke Bank, dengan bergegas Hyukjae mengambil tas kecilnya dan hendak keluar rumah ketika ada yang mengetuk pintunya.

Seketika Hyukjae waspada. Dia tidak pernah punya teman sebelumnya. Jadi, itu tidaklah mungkin teman yang bertamu. Lagipula, dalam penyamarannya waktu itu karena berencana membalas dendam kepada Donghae, tidak banyak yang tahu kalau Hyukjae tinggal di rumah mungil ini.

Apakah itu musuh Donghae yang ingin mencelakainya? Hyukjae bergidik ngeri. Kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha menenangkan diri. Tidak, Donghae pasti sudah mengurus masalah itu sebelum memutuskan melepaskan Hyukjae. Jadi, siapa yang sedang mengetuk pintunya saat ini?

Dengan hati-hati Hyukjae mengintip melalui jendela sebelah dan menemukan seorang lelaki dengan setelan jas mahal dan resmi berdiri di depan pintunya. Dari penampilannya, tampaknya lelaki itu lelaki baik-baik. Tetapi penampilan bisa menipu bukan? Hyukjae masih tidak bisa percaya bahwa Dokter Kang Min yang begitu baik dan selalu tersenyum itu ternyata adalah psikopat berjiwa kejam.

Hyukjae meraih pisau dapur dan membuka pintu dengan hati-hati, membiarkan rantai tetap menahan pintu itu, "Siapa?," Hyukjae menatap pria tampan dalam balutan jas rapi itu sambil mengerutkan keningnya.

"Selamat siang, Anda Nona Hyukjae? Saya Siwon, pengacara yang dikirim kemari"

Pengacara?

"Pengacara untuk apa? Saya tidak berkaitan dengan masalah hukum apapun," Hyukjae masih mengintip dari pintu, belum mau membukanya, menatap Siwon dengan curiga.

"Saya dikirim untuk menyerahkan dokumen-dokumen kepada Anda," Siwon tampak berdehem memikirkan sesuatu, "Anda mungkin tidak mengenal saya, tapi saya teman Kyuhyun dan Sungmin"

Hyukjae tertarik, "Apakah Sungmin yang mengirimmu kemari" "Sayangnya bukan, meski Sungmin menitip salam dan berharap kalian bisa bertemu di lain kesempatan," Siwon mengangkat bahu, "Saya dikirim oleh Donghae."

Hyukjae mengernyitkan kening, setelah berpikir sejenak, dia berpendapat bahwa lelaki yang mengaku pengacara ini tampak meyakinkan. Dia meletakkan pisaunya dan masih dengan waspada dia membuka pintunya.

"Boleh saya masuk, Anda boleh tenang, saya bukan orang jahat," Siwon tersenyum dengan gaya profesional. Hyukjae mempersilahkannya masuk, dan dia duduk menatap lelaki itu mengeluarkan berkas-berkas yang tampak penting dari tas kerjanya.

"Ini adalah surat kepemilikan rumah ini, Donghae telah membelinya atas nama Anda. Dan ini nomor rekening yang dibukakan Donghae atas nama Anda, seluruh kelengkapannya ada di dalam amplop, Anda tinggal menggunakannya," Siwon meletakkan berkas-berkas itu dalam map terbuka di meja lalu tersenyum lagi, 'Saya hanya diperintahkan menyerahkan berkas-berkas ini kepada Anda, kalau semua sudah lengkap, saya akan berpamitan," Lelaki itu beranjak dari duduknya meninggalkan Hyukjae yang masih menatap kertas-kertas di meja itu dengan kaget.

Surat rumah? Rekening tabungan?

Matanya melirik sekilas pada surat-surat itu. Semua atas namanya!

"Tunggu dulu! Saya tidak tahu sebelumnya tentang surat-surat ini! Saya tidak bisa menerimanya!'

"Nona," Siwon menyela sudah siap pergi dari rumah itu, "Saya hanya menyampaikan apa yang ditugaskan kepada saya, kalau Anda ada pertanyaan, mungkin Anda bisa menghubungi langsung Donghae"

Dan Siwon pun pergi meninggalkan Hyukjae yang masih tercenung dan bingung menatap berkas-berkas di depannya.

.

.

.

"Saya ingin bertemu tuan Lee Donghae." Hyukjae bergumam gugup kepada resepsionist di lobby kantor yang mewah itu. Kemewahan lobby itu begitu mengintimidasi dan Hyukjae merasakan semua mata memandangnya, seolah dia orang aneh yang salah tempat. Tangannya memeluk amplop berkas yang diberikan Siwon kepadanya tadi siang dan berusaha menantang tatapan mata tajam dari resepsionist yang menatapnya curiga.

"Lee Donghae kata Anda? Anda yakin? Kalau Anda ingin melamar pekerjaan, mungkin bisa Anda titipkan di sini…"

"Saya tidak ingin melamar pekerjaan," Hyukjae mulai merasa jengkel menerima tatapan meremehkan dari resepsionist itu, "Tolong atur pertemuan saya dengan Lee Donghae"

"Nona, saya tidak bermaksud menyinggung Anda, tetapi Tuan Lee Donghae tidak mungkin bisa ditemui semudah itu, Anda harus membuat janji pertemuan yang rumit dengan sekretarisnya dulu…"

"Biarkan dia masuk, dia datang bersamaku. Saya ada janji temu dengan Donghae jam dua," sebuah suara yang dalam di sebelah Hyukjae mengagetkannya. Hyukjae menoleh dan menyipitkan matanya. Sedikit silau akan ketampanan lelaki yang berdiri di sebelahnya.

Well, satu lagi lelaki dengan anugerah kesempurnaan fisik yang luar biasa. Batin Hyukjae sambil menatap Kyuhyun yang memakai jas warna hitam dan tersenyum samar di sebelahnya. Tapi untunglah yang satu ini lelaki baik dan menyayangi isterinya. Mau tak mau Hyukjae mengingat kemesraan Kyuhyun dan Sungmin di pesta malam itu, dan merasa kagum melihat besarnya cinta yang terpancar dari Kyuhyun dan Sungmin ketika mereka bertatapan.

Resepsionist itu menatap Kyuhyun dan sudah pasti mengenalinya, "Oh, Tuan Cho Kyuhyun, selamat datang," sikapnya berubah ramah dan Hyukjae mencibir atas perbedaan perlakuan yang diterimanya, apalagi resepsionist itu menatap Kyuhyun dengan tatapan memuja, "Mohon maaf, tadi siang kami sudah mengirimkan pesan kepada sekretaris Anda bahwa pertemuan hari ini dibatalkan, Tuan Donghae mendadak harus ke luar negeri".

Kyuhyun dan Hyukjae sama-sama mengerutkan keningnya. Donghae ke luar negeri?

"Aku tidak menerima pesan itu," gumam Kyuhyun tajam, membuat resepsionist itu menunduk gugup hingga Hyukjae merasa kasihan. Tetapi kemudian Kyuhyun mengangkat bahunya, "Baiklah kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mengganti waktuku yang tersia-siakan untuk kemari,"

Kyuhyun menoleh kepada Hyukjae, "Kalau waktuku tersia-siakan aku akan terlambat pulang ke rumah".

Hyukjae mau tak mau menahan senyum. Kyuhyun tampak lebih kesal karena terpaksa terlambat pulang daripada karena batal bertemu Donghae.

"Aku akan kembali ke kantor, oh ya, Sungmin menitip salam kepadamu," dengan senyumnya yang mempesona, Kyuhyun mengedipkan sebelah matanya ramah, lalu membalikkan tubuh dan melangkah pergi dari lobby itu.

Hyukjae menatap punggung Kyuhyun yang menjauh dan akhirnya tersenyum. Betapa beruntungnya Sungmin memiliki pasangan yang luar biasa seperti Kyuhyun…

"Nona Hyukjae?," kali ini sebuah suara yang familiar menyapanya. Hyukjae menoleh dan mendapati Hangeng yang berdiri menatapnya, baru saja keluar dari lift, "Apa yang Anda lakukan di sini?"

Hyukjae mengerjapkan matanya, "Aku mencari Donghae," ditunjukkannya amplop berkas itu kepada Hangeng, "Ini… aku ingin mengembalikan berkas-berkas ini" Hangeng menatap berkas-berkas itu dan mengerti, "Tuan Donghae ingin Anda menerimanya"

"Aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin berhutang budi kepadanya"

"Itu uang anda," sela Hangeng tenang, "Itu adalah bagian saham Anda dari perusahaan ayah Anda yang sudah di take over oleh Tuan Donghae"

Hyukjae tertegun. Bagian sahamnya? Dia tidak pernah mendengar ini sebelumnya.

"Bagian saham ini, sesuai dengan surat perjanjian jual beli akan diberikan kepada Anda begitu usia Anda genap 25 tahun," Hangeng menatap sekelilingnya yang ramai dan tampak tidak nyaman, "Mari saya akan jelaskan kepada Anda"

.

.

.

Dia dibawa ke sebuah ruangan dengan perabot kayu dan nuansa cokelat dan elegan di lantai dua. Hangeng duduk di sofa di depannya dan mempersilahkan Hyukjae duduk, "Mari duduk dulu, Anda ingin kopi?"

Hyukjae menggelengkan kepalanya, terlalu tercengang dengan semuanya yang tampak begitu tiba-tiba.

"Tuan Donghae saat ini sedang ada di Italia ada beberapa urusan yang mendesak di sana," Hangeng mengubah posisi duduknya supaya nyaman, "Seharusnya dari awal saya menceritakan ini kepada Anda, tetapi Tuan Donghae menahan saya."

Cerita apalagi? Kejutan apa lagi? Jantung Hyukjae berdegup kencang.

"Tuan Donghae tidak pernah menghancurkan perusahaan ayah Anda, apalagi membuat ayah Anda bangkrut," Hangeng mengangkat bahunya, "Anda boleh tidak percaya, tetapi Anda bisa mencari informasi di manapun, yang dilakukan Tuan Donghae bukanlah membangkrutkan perusahaan-perusahaan, dia menolong perusahaan-perusahaan yang sudah hampir bangkrut dan menghidupkannya lagi. Banyak perusahaan yang sudah dia take over menjadi berlipat-lipat lebih maju berkat kehebatan tuan Donghae"

Hyukjae mengerutkan keningnya membantah, "Tetapi perusahaan ayahku baik-baik saja sebelum ayah membuat perjanjian dengan Donghae, kami sama sekali tidak bangkrut!"

Hyukjae teringat gaun-gaun dan perhiasan mewah yang dibelikan ayahnya untuk ibunya, pelayan-pelayan yang hilir mudik siap sedia memenuhi kebutuhan mereka, rumah mewah mereka yang nyaman, mobil dan segala kemewahan lainnya yang dicukupkan ayahnya waktu itu. Ayahnya tidak mungkin bangkrut!

"Ayah Anda menyembunyikan hal ini dari keluarganya, dia tidak ingin ibu dan Anda merasa cemas," Hangeng menghela nafas, "Anda boleh tidak percaya kepada saya, tetapi biarkan saya bercerita dulu, setelah itu Anda boleh memutuskan. Apapun penerimaan Anda nanti, saya tidak akan mempermasalahkan, yang pasti tidak ada sedikitpun kebohongan dari saya kepada Anda"

Mata Hangeng menerawang ke masa lalu ketika mulai bercerita. "Ayah Anda datang kepada Tuan Donghae waktu itu, memohon suntikan dana dan perjanjian kerja sama. Tuan Donghae sebenarnya tidak tertarik dan dia sudah siap menolak mentah-mentah. Perusahaan ayah Anda yang sudah benar-benar kolaps akibat manajemen yang kacau balau, akan membutuhkan biaya dan perhatian yang luar biasa besar untuk memperbaiki semuanya. Tetapi kemudian ayah Anda memberikan penawaran kepada tuan Donghae"

"Penawaran?"

Hangeng menatap Hyukjae hati-hati, "Ya… penawaran yang sebenarnya konyol, tapi langsung membuat tuan Donghae berubah pikiran"

"Penawaran apa?"

"Anda"

Hyukjae tertegun, pucat pasi, "Aku?"

"Ayah Anda sepertinya sudah sangat putus asa sebelum meminta bantuan kepada tuan Donghae, harap Anda memaklumi," Hangeng menghela nafas, "Mungkin Andalah satu-satunya harta yang dimilikinya yang bisa ditawarkannya kepada tuan Donghae, mengingat waktu itu reputasi tuan Donghae sebagai playboy sangat terkenal. Mungkin ayah Anda berfikir bisa menggunakan Anda untuk menarik hati tuan Donghae."

Hyukjae hampir tidak bisa berkata-kata, lidahnya kelu. Ayahnya menawarkannya kepada iblis jahat itu sebagai ganti suntikan dana untuk perusahaannya? Tidak mungkin! Ayahnya tidak mungkin melakukan itu!

"Saya tahu Anda tidak percaya, tetapi kami memiliki bukti penawaran itu yang nanti akan saya tunjukkan kepada Anda. Sekarang saya akan melanjutkan cerita saya," Hangeng berdehem tampak amat mengerti berbagai emosi yang berkecamuk, silih berganti di wajah Hyukjae.

"Segalanya pasti akan berbeda jika yang ditawarkan bukan Anda. Tuan Donghae, saya yakin akan menolak mentah-mentah ayah Anda. Tetapi Tuan Donghae langsung berubah pikiran ketika beliau melihat foto Anda"

Fotonya yang sangat mirip dengan almarhumah isteri Donghae. Dada Hyukjae terasa perih menyadari kenyataan itu.

"Yah Anda mengerti kan…walau hanya dengan tatapan sekilas saja pasti mudah menyadari kemiripan Anda dengan…," Hangeng menghentikan kata-katanya, menyadari wajah Hyukjae yang pucat pasi, "Anda tidak apa-apa nona?"

Hyukjae menganggukkan kepalanya, "Tidak, aku tidak apa-apa," suaranya terdengar serak, susah payah berusaha dikeluarkannya.

"Tuan Donghae langsung menyetujuinya, tetapi dia tidak mau terburu-buru. Menurut perjanjian itu pada usia 25 tahun Anda akan diserahkan kepada Tuan Donghae, sebagai isteri. Dan mas kawinnya dibayar di muka, Tuan Donghae tidak pernah melakukan take over kepada perusahaan ayah Anda, dia hanya memberikan dana yang luar biasa besar sesuai dengan permintaan ayah Anda….," Hangeng menatap Hyukjae miris.

"Tetapi ayah Anda rupanya bekerja dengan manajemen yang tidak becus dan mengkhianatinya, uang itu ludes dalam sekejap dan bahkan perusahaan ayah Anda, bukannya terselamatkan malahan makin hancur. Ayah Anda lalu datang kembali meminta tolong kepada tuan Donghae"

Hyukjae hanya termenung berusaha menyerap kata-kata Hangeng sebaik-baiknya. Apakah Hangeng berbohong? Tetapi lelaki itu tampak lurus dan jujur….. Hyukjae cuma masih belum bisa menerima bayangannya selama ini terhadap ayahnya hancur lebur begitu saja. Jika apa yang dikatakan oleh Hangeng adalah kebenaran, maka Hyukjae harus menerima kenyataan bahwa kehidupannya dulu bersama ayahnya yang bagaikan di negeri dongeng, sebagian besar hanyalah kebohongan semata.

Hyukjae sudah dijual menjadi isteri Donghae di ulang tahunnya yang ke 25, itu seminggu lagi. Hyukjae mengernyit, dia sudah dibayar di muka. Rasanya seperti dihina dan dihantam secara bersamaan. Ingin rasanya dia berteriak kalau dia bukan barang, dia manusia dan dia punya kehendak yang bebas.

"Tuan Donghae sangat marah kepada ayah Anda, kesempatan yang diberikannya disia-siakan begitu saja oleh ayah Anda, dan tuan Donghae tidak mau memberikan kesempatan kedua lagi. Perusahaan itu tidak boleh ada di tangan ayah Anda lagi kalau tidak mau lebih hancur. Jadi, Tuan Donghae membelinya, dengan harga yang pantas, bahkan masih memberikan jatah bulanan kepada keluarga Anda setiap bulannya meskipun ayah Anda tidak berhak menerimanya," Hangeng menatap Hyukjae dalam-dalam, "itu semua karena Tuan Donghae mengkhawatirkan Anda"

Donghae mengkhawatirkannya? Tidak mungkin! Lelaki itu hanya cemas, karena Hyukjae adalah perempuan yang berwajah sama dengan isteri yang dicintainya, perempuan yang diharapkannya bisa menggantikan isterinya….

"Saya mengerti perasaan Anda, tetapi ada beberapa hal yang belum sempat saya jelaskan kepada Anda waktu itu ketika Tuan Donghae menyela pembicaraan kita," Hangeng berkata-kata lagi, "Memang Anda pasti akan melihat bahwa Tuan Donghae hanya menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Eunhyuk. Tetapi tidak. Seiring dengan berjalannya waktu, yang dilihat Tuan Donghae adalah benar-benar Anda, diri anda sendiri"

Seiring berjalannya waktu?

Hangeng mengangguk, seolah bisa membaca pertanyaan di mata Hyukjae, "Yah selama ini kami mengawasi Anda. Rumah mungil yang Anda tempati bersama keluarga Anda waktu itu, merupakan salah satu properti milik tuan Donghae…. Semua sudah diatur supaya kehidupan Anda baik-baik saja meskipun ayah Anda bangkrut"

Tiba-tiba Hyukjae menyadarinya. Kemudahan-kemudahan yang dia dapat tanpa sengaja, seperti rumah mungil itu yang bisa didapat ayahnya dengan harga yang sangat murah….

"Kami bahkan tahu bahwa Anda berencana membalas dendam atas kematian orang tua Anda," wajah Hangeng melembut melihat pipi Hyukjae merona merah, lalu menatap Hyukjae dengan menyesal, "Kematian orang tua Anda juga mengejutkan kami, Hyukjae. Percayalah, tuan Donghae terkejut atas hal itu. Dia memang terkenal kejam dan jahat tapi yang pasti dia tidak pernah bermaksud melukai orang yang lemah. Dia sudah berusaha membantu ayah Anda – demi Anda,"

Hangeng menekankan kata-katanya, "Semua yang terjadi bukan kesalahan Tuan Donghae"

Hyukjae merasa malu. Bagaimana lagi? Perasaan itulah yang sekarang menyergapnya. Jika kata-kata Hangeng ini benar… dan sepertinya memang semua adalah kebenaran.. maka

Hyukjae harus merasa malu, Semua dendamnya selama ini, pemikirannya selama ini, kemarahannya selama ini, dan kebenciannya semua ini, semuanya dibangun atas persepsi yang benar-benar salah.

Dan Donghae bahkan tidak pernah membela diri dengan segala cacian, makian, dan tuduhannya. Kenapa Donghae tidak pernah membela diri dan membiarkannya makin liar dengan emosi dan kemarahan membabi butanya?

"Sebentar lagi ulang tahun Anda… sesuai dengan perjanjian yang ditandatangani oleh ayah Anda… Donghae akan memperisteri Anda"

Hyukjae membelalakkan matanya. Apakah Donghae masih menganggap perjanjian bertahun-tahun lalu itu dengan serius? Tetapi perjanjian itu melibatkan uang yang tidak sedikit, yang diberikan Donghae kepada ayahnya dan kemudian disia-siakan begitu saja. Kalaupun Hyukjae menolak Donghae, maka dia menanggung hutang yang sangat besar kepada lelaki itu.

"Apakah… apakah Donghae menyuruh Anda mengatakan semua ini kepada saya…?"

Hangeng langsung menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Hyukjae itu, "Tidak. Tidak ada satupun perintah dari Tuan Donghae kepada saya untuk menceritakan ini semua, bahkan Tuan Donghae berkesan merahasiakan semua ini dari Anda," Hangeng tersenyum, "Saya hanya memikirkan cara-cara Tuan Donghae, mengingat wataknya, beliau tidak akan menjelaskan apapun kepada Anda. Mungkin beliau akan menculik Anda lagi dan memaksakan pernikahannya dengan Anda, saya hanya menyiapkan Anda kalau itu benar-benar terjadi"

Hyukjae mengernyit, "Mengingat selama ini dia selalu memaksakan kehendaknya, aku yakin dia akan melakukannya… jadi dia membebaskanku hanya sementara?"

Hangeng mengangguk, minta permakluman, "Semoga Anda bisa menghilangkan semua dendam yang tidak perlu. Yang pasti -saya bisa menjamin itu-Tuan Donghae benar-benar peduli kepada Anda. Perlu Anda tahu, Tuan Donghae benar-benar serius ingin menikahi anda, beliau saat ini berada di Italia, mengunjungi makam nyonya Eunhyuk."

Meminta izin kepada isterinya. Hyukjae memejamkan matanya pedih. Setelah dendam itu menghilang, yang ada di dadanya hanyalah kekosongan yang perih… kekosongan yang menyesakkan dadanya…. Hampir seperti… patah hati.

.

.

.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya. Hyukjae sudah tahu hari ini akan tiba. Entah kenapa dia tahu, bahwa Donghae akan datang menjemputnya dan merenggutnya kembali, dan jantungnya berdegup kencang.

Ketukan di pintu rumahnya membuatnya terlonjak, meskipun Hyukjae sudah mengantisipasinya. Dan ketika membuka pintu, Hyukjae bertatapan wajah dengan Donghae. Lelaki itu tampak luar biasa tampan, bahkan lebih tampan dari terakhir mereka bertemu.

Mengenakan kaca mata hitam dan kemeja biru berlapis jacket khaki dan celana yang senada, dengan rambut cokelatnya yang acak-acakan. Dia seperti malaikat yang diturunkan di depan pintu Hyukjae.

"Aku sudah tahu apa yang akan kau katakan," Hyukjae berkata, mencoba mencari-cari mata Donghae, tetapi kesulitan karena kacamata hitam itu menghalanginya.

Donghae terdiam, "Aku tahu kalau kamu tahu, Hangeng menceritakan pertemuan kalian," Lelaki itu menoleh ke belakang Hyukjae, "Bolehkah aku masuk?"

To Be Continue

Hai^^

Apakah masih ada yang ingat dengan cerita remake ini? Maaf sekali. Xiao tau ini sudah bener-bener molor. Tapi untuk beberapa saat Xiao merasa kurang bersemangat untuk melanjutkan remake cerita ini.

Mungkin para teman-teman sekalian berpikir me-remake itu mudah, well proses editing itu luar biasa menjengkelkan. Xiao bukanlah orang yang sabaran, tapi harus sabar dan juga teliti dalam prosesnya. So, abaikan saja -_-

Well, update 2 chapter moga feed backnya baik ya^^