Dua orang pemuda dan seorang gadis bersurai indigo terlihat bersembunyi di antara rumput–rumput tinggi. Sihir pengelihatan sang gadis indigo menembus tabir sihir yang di pasang sosok –yang ia yakini– adalah seorang penyihir handal. Gadis itu menoleh pada sosok pemuda yang memakai tudung dan kacamata hitam lalu mengangguk, memperbolehkan pemuda itu untuk menggunakan sihirnya.
Tak lama kemudian didepan mereka tepatnya di tengah–tengah hamparan rumput tinggi, sekelompok serangga berukuran mikrometer membentuk setengah lingkaran, atau bisa di bilang seperti mengerubungi suatu tempat.
"Berhasil, nah Kiba sekarang giliranmu. Tandai tempat ini dan setelah itu kita harus segera melapor pada Kurama–sama."pemuda dengan kacamata hitam angkat bicara setelah selesai dengan bagiannya.
Sosok pemuda dengan tanda aneh di kedua pipinya hanya mengangguk sambil menunjukkan senyum bodoh. Kedua tangannya membentuk segel panggilan, kemudian muncul lah seekor anjing berbulu putih di depannya.
"Akamaru, kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?"ucapnya yang di jawab dengan gonggongan cempreng khas anak anjing.
Anjing berbulu putih itu berlari menuju lingkaran setengah bola tadi, dan tanpa permisi ia mengeluarkan air seninya sebagai penanda tempat. Setelah selesai dengan tugasnya anjing itu menghilang di barengi dengan serangga–serangga yang juga menghilang.
Tiga sosok yang mengenakan jubah Byzantium itu tersenyum satu sama lain kemudian menghilang bak tertiup angin.
Halfblood
Pair : ***XNaru
Genre : supernatural, romance.
Rate : T
Disc. : Naruto © Masashi Kishimoto
Warns. : Shounen–Ai. Boys Love. MxM.
"Bangunlah, sekarang sudah hampir mendekati waktunya makan malam."
Sosok dengan surai brick red mengguncang pelan tubuh pemuda dengan surai peridot yang terlihat kusam. Kerutan aneh tercetak di wajah kotor sang pemuda peridot menandakan kalau tidurnya telah terganggu, tak lama kemudian kedua kelopak matanya terbuka.
"Oh, Gaara?"tanyanya. Ke dua matanya memancarkan sinar kepolosan, ke dua alisnya berkerut menunggu jawaban dari sosok pemuda bernama Gaara didepannya.
"Sudah kubilang aku akan membangunkanmu saat makan malam, Naruto."ucap Gaara. Ia membantu Naruto berdiri dari tidurnya, mengaitkan kedua jari–jari mereka lalu berjalan keluar tenda.
"Eh, bagaimana kau bisa tahu namaku?"ucap Naruto kaget.
Kedua netranya membola saat melihat beberapa ekor ikan bakar yang di letakkan di atas selembar daun. Entah sejak kapan matanya mulai mengembun, ia tersenyum simpul ke arah pemuda pale di sampingnya.
"Apa?"
Naruto menggeleng menjawab pertanyaan Gaara, ia mengambil duduk di samping pemuda yang masih betah bertelanjang dada menantang angin malam.
"Bukan apa–apa, terimakasih banyak."
Dahi Gaara berkerut bingung, "Berterimakasih, untuk?"
"Untuk semuanya."
Twilight Lavender
"Bagaimana?"
Malam itu Kurama masih duduk di bangku reot yang ada di sudut kamarnya. Sepasang iris ruby–nya masih memandang buku tua yang dengan apik duduk di pangkuannya saat tiga sosok bawahannya tiba.
"Kami menemukannya Kurama-sama, lingkungannya di lindungi semacam sihir pelindung tapi Hinata bisa menembusnya, juga Kiba sudah menandainya tadi."ucap pemuda berkacamata hitam– Shino. Ia menjelaskan pada sosok Kurama yang masih tak terlalu menaruh perhatian pada mereka.
"Kerja bagus, terimakasih atas kerja keras kalian. Kiba, tolong tinggalkan akamaru nanti didepan pintu."ucap Kurama sambil beranjak dari duduknya. Buku yang sebelumnya ada di pangkuannya kini sudah tergeletak di lantai dingin kamarnya.
"ha'I, Kurama–sama."jawab mereka bertiga kompak sebelum keluar dari kamar pribadi Kurama.
Tangannya meraih jubah antique ruby miliknya yang tersampir rapi di bahu sofa. Tak lupa ia memasang sarung pedangnya di sisi kanan pinggangnya. Ia berjalan keluar kamar, seekor anjing berbulu putih menunduk menatapnya lalu berjalan mendahului Kurama.
Mereka masih melompati satu per satu dahan, membelah gelapnya hutan tanpa memperdulikan akan serangan penyihir ataupun werewolf yang biasanya berkeliaran di hutan saat malam.
"Aku akan menemukanmu, Naruto. Aku janji."
Twilight Lavender
Kecanggungan di antara Gaara dan Naruto hadir selepas mereka menghabiskan makan malam. Ke dua pemuda beda warna rambut itu hanya duduk di tanah beralaskan sebuah daun lebar sembari menatap langit malam. Gaara yang masih dalam keadaan bertelanjang dada kini beranjak meninggalkan Naruto yang masih betah menatap langit sambil duduk memeluk kakinya.
"Kau mau kemana?"tanya Naruto. Wajahnya yang sebelumnya kotor sudah lebih bersih berkat air sungai yang di bawakan Gaara padanya. Kedua matanya masih berpaku pada langit namun perhatiannya kini seratus persen pada sosok pemuda surai brick red itu.
"Aku mau kedalam mengambil kaos."jawabnya sambil melanjutkan langkah.
Naruto menghela napas setelah tak lagi mendengar suara langkah kaki milik Gaara. Ke dua matanya menatap langit sendu, yang perlahan mulai mengembun.
"Kurama–kun, cepatlah."bisiknya kemudian menggigit bibir bawahnya. Setetes air mata jatuh dari pelupuk kirinya, sebagai perwakilan rasa rindunya pada sosok Kurama yang entah dimana.
Naruto dengan cepat mengusap jejak air mata dipipinya saat ia kembali mendengar suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Ia membeku dalam posisinya, gigitan pada bibir bawahnya semakin mengerat saat suara langkah kaki itu berhenti, dan Naruto yakin kalau Gaara kini berada tak jauh dari posisi duduknya.
"Aku akan pergi dulu, jangan kemana–mana. Aku harus menyambut seorang tamu, Naruto."
Twilight Lavender
Kurama mempercepat llarinya seiring dengan akamaru yang mempercepat langkah keempat kakinya. Anjing dengan kulit seputih salju itu berhenti tepat di belakang sosok pemuda yang mengenakan kaos hitam dengan kulit pale yang bersinar tertimpa cahaya bulan.
"Siapa kau?" Kurama mendesisi. Ia menatap nyalang sosok brick red yang masih dalam posisinya. Akamaru yang sebelumnya masih duduk di belakang sosok tak di kenal itu kini sudah menghilang, bersama dengan kepulan asap yang muncul beberapa detik lalu.
"Apa kau melupakanku, Kurama–sama?"
Sosok tak di kenal itu mulai membalikkan badannya, mempertemukan sepasang iris jade yang terlihat tajam dengan sepasang iris ruby yang membelalak kaget.
"K–kau…Gaara!"
Twilight Lavender
Kala itu masih belum mencapai tengah malam saat Minato berjalan menyusuri tiap lorong kastil miliknya. Ia tak bisa tidur dengan tenang sebelum putera satu–satunya di ketemukan. Jubah kebesarannya sudah terlepas dari tubuhnya dan kini tergantikan dengan selapis piyama sutera berbenang emas sewarna champagne.
"Dimana Kurama?"tanyanya. dua orang pemuda yang berjaga di depan pintu kamar Kurama membungkuk hormat pada Minato sebelum menjawab, "Kurama–sama sedang dalam pencarian Naruto–sama, Yang Mulia."
Minato mengerutkan kening bingung, "Malam–malam begini?"
"Kurama–sama baru saja mendapat kabar baik dari para imp yang di sebarnya guna mencari Naruto–sama, dan tampaknya Kurama–sama tak mau membuang–buang waktu lagi."jawab salah seorang yang berambut brunette sepinggang.
"Apa kabar baiknya?"
"Naruto –sama ditemukan, tapi beliau di temukan di dalam tabir sihir dan Kurama–sama memutuskan untuk melakukannya seorang diri, Yang Mulia."jawab si pemuda brunette lagi.
"Dasar protektif! Dia itu …"gerutu Minato sebelum ia kembali berjalan menuju kamarnya.
Twilight Lavender
"Sasuke, jangan lupa kau besok harus masuk ke sekolah lagi."
Seorang pemuda dengan surai raven panjang berucap. Kakinya yang berbalut boots semata kaki berjalan pelan menuju sosok adiknya yang termenung di samping jendela besar di lorong sepi.
"Jangan mengingatkanku seperti itu, aniki."ucap Sasuke. Ia masih tak mau memperdulikan eksistensi kakaknya dan tetap menyapukan pandangannya pada hamparan tanah lapang luas di belakang mansion Uchiha.
"Bagaimana kabar vampir baru setelah penyerangan chalice itu?"
Itachi membuka pembicaraan setelah sekian menit dalam keheningan. Ia kiranya memilih sebuah topik yang pastinya Sasuke juga tertarik untuk membacanya. Bukan tentang sekolah, tapi tentang klan.
"Sekitar duapuluh vampir baru terbunuh saat kejadian itu, aku tak tahu berapa orang yang di kerahkan Kurama untuk melakukan itu."jawab Sasuke terheran. Matanya kini beralih pada bulan penuh yang sedang menyinari hutan.
"Kurama itu … dia bukan vampir sembarangan."
"Apa maksudmu?"
Itachi membenahi letak belati miliknya sebelum berdehem pelan, "Dia itu memang di anggap sebagai vampir rendahan setelah mau bertunduk di kaki chalice, tapi dia itu salah satu legenda vampir yang di ceritakan layaknya dirimu Sasuke."
"Demon, eh?"
"Tentu saja kau tahu tentang hal itu. Apa kau pernah dengar mengenai keturunan satu–satunya chalice Minato?"tanya Itachi. Bibirnya menyunggingkan senyum miring sambil menatap Sasuke lekat.
"Dia yang tak pernah di sebutkan namanya, juga dia yang tak pernah di ketahui bagaimana rupanya, bukan?"jawab Sasuke sambil balas menatap Itachi. Kedua kelereng dark grey itu saling berpandangan beberapa saat sebelum Sasuke memutuskannya.
"Aku sebenarnya pernah melihatnya, dan tentu saja seperti legendanya, halfblood sepertinya memang terlihat begitu mempesona di masa in heat–nya."
Twilight Lavender
"Bagaimana kabarmu, Kurama?"tanyanya.
Surai brick red milik Gaara bergerak tertiup angin, memperlihatkan dahi kirinya yang bertuliskan aksara Jepang. Iris jade–nya masih menatap tajam iris ruby Kurama yang kini balas menatapnya tajam.
"Jadi kau yang menyembunyikan Naruto?"tanya Kurama. Kedua alisnya berkerut tak suka sedang yang di pandang berdecih sebelum meludah kesembarang arah.
"Kau pikir aku bisa apa saat melihatnya lemah tak berdaya, heh?"
Kurama tersenyum miring sebelum berjalan mendekati sosok sahabat dari orang yang di cintainya dulu.
"Dimana dia?"tanya Kurama ia berdiri berhadapan dengan Gaara, berjarak tak jauh dari tabir sihir yang di gunakan Gaara.
"Kurama, dia itu anak Kushina."
"Lalu aku bisa apa? Aku memang benar–benar mencintainya."jawab Kurama, ia mengusap wajahnya lelah. Kepalanya mendongak dan kedua matanya menatap langit malam yang terlihat sunyi malam ini.
"Aku takut kau mencintainya karena melihat sosok Kushina dari anak itu."
Gaara yang sebelumnya berdiri kini mengambil duduk di tanah. Kaki–kaki telanjangnya bersentuhan dengan rumput yang terasa basah.
"Itu lah yang kupikirkan sebelumnya, tapi …"
Gaara mengalihkan pandangannya, menatap sosok Kurama yang sepertinya sudah kehilangan jati dirinya bahkan hanya karena membicarakan sosok pemuda keturunan sahabatnya.
"Aku tahu kalau ia berbeda ketika aku melihat ke dalam matanya. Dia itu, murni."
Twilight Lavender
Naruto membuka matanya, kelopak matanya mengerjap pelan, menyesuaikan dengan cahaya yang mulai menerobos sela–sela korden kamarnya yang terbuka–
Eh?
Kamarnya?
Naruto segera beranjak duduk, matanya membulat kaget dan pandangannya menyapu sekeliling dengan perasaan panik. Hatinya sedikit merasa lega saat menemukan selembar selimut cream bermotif sakura miliknya.
"Kau sudah bangun?"
Suara tegas menyapa gendang telinganya, matanya yang sebelumnya tertutup kini terbuka, memaku sosok jangkung dengan setelan jas dark gunmetal yang melekat di tubuhnya.
"Kurama–kun, ba–bagaimana bisa a–aku–"
Naruto terpaku saat sepasang lengan kokoh melingkari pinggangnya, memenjarakan tubuhnya pada kungkungan tubuh milik terkasih. Kedua matanya mengembun saat ia bisa mencium aroma Kurama yang ia rindukan.
"Jangan kabur seperti itu lagi, eh? Aku benar–benar khawatir padamu, Naru–koi."bisik Kurama.
Naruto yang mendengarnya hanya bisa mengeratkan pelukannya pada perut Kurama, sembari menyembunyikan semburat merahmuda yang ada di pucuk pipinya.
Twilight Lavender
Pemuda dengan kulit alabaster itu berjalan menyusuri koridor sepi sekolahnya. Tubuh tegapnya terbungkus rapi dengan seragam miliknya juga jas almamater dark sienna yang tak terkancing dengan rapi. Pemuda dengan surai raven bergaya aneh itu mengabaikan puluhan tatapan kagum dari gadis–gadis yang tak hentinya menjerit tertahan saat ia lewat.
Tangannya memutar kenop pintu yang di atasnya bertuliskan I – II diatasnya. Sasuke segera berjalan menuju kursinya lalu duduk dengan tenang, mengabaikan berbagai tatapan kagum dan tak suka dari teman sekelasnya.
"Sa–sasuke–kun tolong terima hadiah dariku."
Sasuke memandang malas gadis dengan surai sienna yang membungkuk sambil menyodorkan sebuah kotak hadiah berpita oranye yang mencolok mata. Ia segera beranjak dari duduknya tanpa menaruh perhatian pada gadis itu yang masih dalam posisinya.
"Hei, Uchiha-san pelajaran akan segera di mulai."
Sosok pemuda dengan rambut brunette yang di kuncir atas berbicara di ambang pintu pada Sasuke yang sudah berjalan tanpa memperdulikannya.
"Dasar anak itu…"
Twilight Lavender
Uchiha Itachi berdiri dalam diam di atap mansion utama klan Uchiha. Mata dark grey miliknya menatap tajam sekeliling, dengan jubah kebesaran miliknya yang selalu tersampir anggun di punggung tegapnya. Matanya terpejam sesaat, sebelum terbuka dan menampakkan iris merah darah dengan tiga tomoe.
"Cantik sekali. Minato memang hebat menyembunyikan halfblood seperti pemuda itu. "bisik Itachi. Udara pagi berhembus pelan, menggoyangkan rambut panjangnya yang di ikat.
"Tak biasanya, Itachi."
Suara derap langkah mendekat, Itachi mengembalikkan iris–nya sebelum membalikkan badan dan ber–ojigi pada sosok ayahnya yang merangkap sebagai kepala klan Uchiha.
"Bagaimana malam pertama vampir kemarin?"tanya sang Uchiha senior–atau yang bernama Uchiha Fugaku. Pria paruh baya itu berdiri membelakangi Itachi dengan kedua tangan bertautan di belakang tubuhnya.
"Sedikit ada gangguan, tapi kami bisa mengatasinya."jawab Itachi mantap. Pemuda duapuluh lima tahun itu mengikuti arah pandang ayahnya.
"Dapat menangani tapi kita sudah kehilangan duapuluh vampir Uchiha muda."
Itachi ber–ojigi meminta maaf, walaupun sang Uchiha senior tak memperhatikannya. "Maafkan aku."
Twilight Lavender
"Apa maksud otou–sama mengikatku seperti itu kemarin?"
Suara pekikan Naruto menggema hingga sudut ruang tamu. Sosok ayahnya yang sedang duduk santai di ruang tamu menjadi pusat kemarahannya sekarang.
"Maafkan aku, Naruto."
Naruto berdecih sebelum berucap kembali, "Aku tak butuh maaf, aku butuh penjelasan."
"Kau jelas tahu kalau kemarin kau sedang dalam masa in heat, kan?"tanya Minato. Pria paruh baya itu beranjak dan berjalan menuju tempat Naruto berada, ke dua tangannya menepuk pelan bahu Naruto sebelum membawa putra semata wayangnya ke dalam dekapannya.
"Tapi kenapa harus seperti itu? Masa in heat–ku tak pernah seperti itu sebelumnya, otou–sama."jawab Naruto. Kedua matanya mulai mengembun, sedang sosok calon suaminya berdiam diri di tangga terakhir. Memandang kedekatan ayah–anak di depannya.
"Kau harus tahu Naruto, sebelum kau menikah dengan Kurama, otou–sama ingin memberitahukan sesuatu padamu."ucap Minato setelah melepas pelukannya dengan Naruto. Ia menggenggam telapak tangan Naruto lalu menggiring Naruto untuk duduk di kursi.
"Apa itu?"
"Kau harus tahu…"
Minatp menelan ludah sedang Kurama menghela nafas berat sebelum mengusap wajahnya. Kebenaran memang selalu sulit untuk di katakan.
"…kau itu, adalah seorang halfblood."
To be continue…
Author corner :: maap maap karena bertepatan sama waktu solat terawih jadi saya gak bisa menentukan waktu buat update nih fanfik satu, dan akhirnya jam segini lah saya updatenya. Hehe gomen kalo di temukan banyak typo nyempil di atas karna saya udah gak ada waktu lagi buat cek atu atu.
krisTaoPanda01 (moga–moga di chap ini gak ada typo juga ne, makasih udah ripiu). Yukayu Zuki (Eh, kyuunaru ya? Saya pikirin dulu deh, kalo allxnaru susah buatnya zuki–san XD, makasih udah ripiu). RisaSano (ini udah next, makasih udah ripiu). kyuubi no kitsune 4485 (ini udah lanjut, buat itakyuu saya gak niat belok ke situ, gomen. Makasih udah ripiu.) Yuu–chan Namikaze (iya makasih udah ripiu, ini udah lanjut). Okada Hikami (ini udah lanjut.) viichan32 (nah Gaara gol apa belum saya pikirin XD, makasih udah ripiu.) Guest (ini udah lanjut). hanazawa kay (ini udah lanjut, oyasuminasai kay–san). (iya kuramanya vampir soal sasu tahu naru ato gak udah ada di chap ini, kan? Arigatou udah ripiu). BlackCrows1001 (eh, saya gak tahu kalo halfblood itu Cuma bisa di artikan setengah vampir, tapi naru di sini bukan setengah vampir kok, soal Gaara biar waktu yang menjawab XD). Aiko Michisige (saya gak akan pernah buat naru jadi top, soal saya gak bisa bayangin. Ini udah lanjut, makasih.) Akane–Rihime (kyuunaru masih saya pikirin, ini udah next makasih.) November With Love (iya udah update, buat sn ketemuannya mungkin chap depan XD, momen itakyuu masih saya pikirin, makasih). Mimo Rin (naru itu chalice setengah… setengah apa ya XD. Btw makasih udah ripiu). choikim1310 (iya soal kenapa kyuu golongan rendah udah saya tulis di atas, masa in heat itu kaya masa kawin gitu loh. Arigatou.) mifta cinya (yeey, ripiu XD. Ternyata kita sama XD, arigatou ne.) sivanya anggarada (masa in heat itu kaya masa kawin di sistem ABO itu loh, saya usahain chap depan lebih panjang, arigatou.)
buat minn a–san yang udah foll fave saya ucapin hontouni arigatou gozaimasu.
Twilight Lavender.
