"Gaara, dimana Kurama?"
Sosok perempuan dengan surai merah sepinggang duduk di samping pemuda dengan rambur brick red yang sedang berdiam diri. Iris emerald miliknya menatap bingung sosok sahabatnya yang sendari tadi hanya terdiam.
"Kushina, apa … kau benar–benar akan baik–baik saja?"tanya Gaara lirih, matanya masih menghadap kedepan entah menatap apa sedang yang di tanya malah menundukkan kepalanya.
"Tentu saja."
"Tapi kau sudah keluar dari kastil dan sekarang mungkin kau akan diburu oleh para vampir, Kushina."ucap Gaara lagi, kini pandangannya sudah ada pada sosok sahabat kecilnya yang tersenyum kecil kearahnya.
"Aku akan baik–baik saja, lagipula ada kau dan Kurama kan yang akan melindungiku."ucap Kushina lagi.
Sosok dengan rambut burn orange muncul dari balik semak–semak di tangannya sudah ada sebuah dahan pohon yang terdapat banyak ikan. Pemuda jangkung itu berjalan pelan kearah Gaara dan Kushina dengan senyum segaris di wajah tanpa cela miliknya.
"Wah, Kurama terimakasih banyak."ucap Kushina sambil mengambil alih ikan tersebut dari Kurama. Perempuan yang mengenakan terusan putih tanpa lengan itu berjalan menjauhi Kurama dan Gaara guna mengolah ikan yang sudah di dapatkan Kurama.
"Bagaimana?"
"Kushina akan baik–baik saja selama ia bersama dengan Minato."jawab Kurama. Ia mengambil duduk di samping Gaara dengan helaan nafas berat yang terdengar setelahnya.
"Kau baik–baik saja Kurama? Kau tahu kan Minato itu…"
"Tentu saja. Dia bahkan memberikan syarat agar aku mengajak semua vampir klan Uzumaki untuk beralih kepadanya."
Suasana berganti hening setelahnya, hanya suara burung hantu dan suara gesekan antar dahan yang terdengar setelahnya.
Halfblood
Pair : Sasuke X Naruto
Rate : T
Disc. : Naruto © Masashi Kishimoto
Warns. : Boys Love. MxM.
Suasana hening menyelimuti, dengan Minato yang masih terdiam setelah mengucapkan satu kalimat hingga membuat sosok bersurai peridot terpaku dengan kedua mata yang terbuka lebar.
"Apa … apa maksud perkataanmu?"tanyanya tergagap. Seluruh tubuhnya terasa kaku mendadak dengan keringat dingin yang mulai mengalir dari kedua sisi pelipisnya.
"Apa maksudnya dengan aku yang seorang halfblood Minato?! Katakan yang sejujurnya padaku!"pekiknya. Matanya mulai memerah dengan air mata yang sudah terkumpul di pelupuk matanya, kedua tangannya terangkat untuk menjambak rambutnya, hingga terlihat beberapa helai yang terjatuh di lantai.
Kurama yang masih terdiam mulai melangkah pelan menuju Naruto. Terlihat dengan jelas gurat kekhawaturan dari balik kedua iris ruby miliknya.
"Naruto, tenang lah."bisiknya. sepasang lengannya membawa Naruto ke dalam pelukan hingga akhirnya sosok dengan tiga garis halus dipipinya menyerah dan menumpukan tubuhnya pada Kurama.
Twilight Lavender
Sore itu angin berhembus pelan membawa impuls–impuls ketenangan hingga keujung saraf, bau musim gugur sudah tercium dari ujung dedaunan sakura yang mulai berguguran. Naruto masih duduk termenung di kursi kamarnya saat Kurama membuka, pemuda dengan kulit kecoklatan itu masih tak menaruh perhatian pada sosok Kurama yang mulai berjalan dengan wajah yang tak bisa di jelaskan.
"Ayo masuk, kau bisa sakit nanti."
Kurama melingkarkan lengannya di seputar bahu pemuda yang masis terdiam dalam lamunanya. Tatapan iris birunya kosong seakan merefleksikan bagaimana keadaan pemuda itu sekarang.
"Tolong maafkan aku yang tak bisa mengatakan padamu mengenai kebenarnnya secepat yang kau ingin kan, tapi kau harus tahu bila tujuan kami menyembunyikan hal ini dari dirimu ialah untuk kebaikanmu sendiri."ucap Kurama lembut, berbisik tepat di telinga kanan pemuda itu.
Kurama kembali mengeratkan pelukannya saat telinganya bisa menangkap isakan yang meluncur ringan dari belah bibir sewarna persik milik Naruto. "Lalu kenapa harus seperti ini, kalian bisa mengatakannya perlahan padaku alih–alih malah merantaiku seperti itu."
"Maafkan aku, begitu juga dengan mintao–sama. Percayalah kalau beliau selalu memikirkan kebaikanmu hingga dia tak punya kesanggupan untuk mengatakan yang sejujurnya padamu."ucap Kurama. Ia menggendong Naruto menuju ranjang dengan wajah Naruto yang menempel di dadanya, menyembunyikan wajah kemerahan serta jejak air mata yang ada di wajahnya.
Twilight Lavender
Pagi hari beralih ke perbatasan hutan Mongel, belasan raven yang tersisa berbaris dalam pleton dengan sosok pemuda dengan kulit alabaster berdiri di depan sebagai komando.
"Setelah apa yang terjadi, raven baru hanya tersisa kalian dan aku menganggap kalian sebagai vampir muda yang tangguh karena bisa menyelamatkan diri dari serbuan puluhan vampir legendaries dari klan Uzumaki, untuk alasan apapun aku bangga dengan kalian."suara bariton khas miliknya menggema hingga sela–sela pohon. Sepasang manik onyx manatap datar para raven yang terdiam.
"Hari ini adalah penobatan kalian sebagai vampir Uchiha baru dan itu berarti kalian akan mendapatkan jubah sesuai dengan posisi yang kalian inginkan, sekarang bubar!"
Komando terakhir terdengar dan para raven mulai bergerak membubarkan diri hingga hanya tersisa Sasuke dengan sosok kakaknya –Itachi.
"Seharusnya kau tak perlu melewati sekolahmu hanya untuk pidato pendek macam itu, aku pun bisa melakukannya."ucap Itachi sambil berjalan mendekati adiknya yang masih terdiam.
"Apapun alasannya aku adalah pewaris Uchiha kedua, meskipun nantinya kau yang akan dari ketua tapi setidaknya aku lah yang akan jadi panglimanya."
Twilight Lavender
"Kau harus sekolah besok."
Pagi–pagi sekali Kurama sudah memasuki kamar Naruto dengan berita buruk yang bisa membuat Naruto pundung di sudut ruangan. Sosok yang di ajak bicara masih menggelung diri dalam bulatan selimut yang membuatnya terlihat seperti kue roll siap santap.
"Tidak!"pekiknya sambil berpura–pura terisak. Demi Tuhan seluruh tubuhnya terasa remuk dan sekarang Kurama kesayangannya malah membawa berita yang membuat kepalanya tambah pening.
"Kumohon jangan sekolah, Kurama–kun aku masih lelah."pintanya. ia sudah terduduk di atas ranjang dengan rambut kusut khas bangun tidur.
"Tidak sayang, kau sudah melewati sekolahmu lama sekali."sanggah Kurama sebelum mengangkat tubuh Naruto bak tuan putri lalu membawanya masuk kedalam tub yang sudah terisi air hangat dari garam mandi aroma jeruk.
"Hanya lima hari, ayolah aku sangat lelah."bujuk Naruto kembali. Kedua matanya menatap Kurama meminta belas kasihan namun hanya di balas dengan gelengan kecil.
"Aku akan memberimu hadiah jika kau mau masuk sekolah hari ini."tawarnya. kedua iris biru jernih Naruto berbinar indah mendengar penawara menggiurkan yang Kurama tawarkan padanya.
"Baiklah, tapi kau harus janji kalau aku benar–benar mendapatkan hadiah terbaikku saat pulang nanti."
"Kau bisa pegang kata–kataku."
Twilight Lavender
Pukul enam pagi Sasuke sudah siap dengan setelan seragam miliknya, tak lupa dengan pin nama dan juga blazer miliknya. Ia sudah duduk di kursi menunggu sosok kakaknya yang katanya akan memberinya sebuah hadiah.
"Kau lama sekali, brengsek."ucapnya saat sosok Itachi baru muncul dari tangga setelah pergi sekitar sejam yang lalu.
"Maaf, tapi hadiah yang akan kuberikan padamu bukan lah hadiah biasa yang bisa kau tebak apa isinya."ucap Itachi sambil menuruni anak tangga perlahan, di tangannya ada sebuah kotak kecil berbahan kayu yang berpita merah darah.
"Ini. Kuharap itu bisa menjadi penyemangat untukmu pergi sekolah sepagi ini."ucapnya sambil menyerahkan kotaknya. Sasuke hanya menerima dengan kedua alis bertautan bingung.
"Apa ini–"
Ucapannya terhenti saat menemukan sebuah kertas terlipat di dalamnya, satu tangannya perlahan mengambil dan membukanya. Di atas kertas putih tersebut terlihat sosok pemuda dengan rambut peridot dan mata cyan azure yang jernih serta senyum lebar terlukis di wajah tanpa cela miliknya.
"Si–siapa dia?"tanyanya tergagap.
Itachi tersenyum senang dengan kedua alis terangkat pertanda tertarik dengan ucapan Sasuke, "Dia calon teman sekolahmu, mungkin dia akan mulai masuk hari ini."
To be continue…
Author Corner :: Gomen! Ini super telat dan super pendek di tambah saya terburu–buru ngetiknya jadi saya gak sempet edit ulang, gomen kalo nemuin satu dua typo disana. Maaf gabisa bales ripiu satu-satu soalnya saya update ini kepepet. Gomenasai!
Makasih udah foll fave ama ripiu di fanfik abal ini.
Twilight Lavender
