Sosok dengan surai sewarna brick red itu tengah duduk bersila di depan api unggun. Sesekali ia membalik kentang yang ia bakar menggunakan ranting pohon. Helaan napas adalah hal yang terdengar sejak dia duduk di sana, sendiri dan begitu hening, tapi sebenarnya keheningan itu lah yang bisa membuatnya setidaknya sedikit merasa rileks kalau saja ia tak merasakan tatapan tajam dari satu sosok yang bisa ia rasakan sedang bersembunyi di balik semak pohon.

Perlahan ia beranjak dari duduknya, menepuk pelan bagian belakang celananya bila ada kotoran yang menempel. Ia berkacak pinggang sebelum berdecak pelan, "Ayolah, jangan bersembunyi seperti itu, aku tahu kau ada disana."

Perlahan sosok dengan kulit pucat muncul dari balik semak dengan kelereng dark grey dan juga surai raven dan jangan lupakan jubah antique bronze berlambang kipas merah khas Uchiha.

"Heh~ apa yang kau lakukan disini? Sedang patroli?"

Pemuda yang mengenakan topeng hingga sebatas hidung itu tersenyum kecil sebelum berjalan semakin mendekat ke tempat Gaara berada.

"Bagaimana kau bisa tahu?"pemuda tak dikenal itu bertanya dengan suara tegas nan dingin. Matanya menatap Gaara datar hingga membuat pemuda dengan iris jade itu mengerutkan alisnya.

"Warna jubahmu itu sudah cukup menjelaskan semuanya, mau apa kau kemari? Menangkapku dan membawaku ke kastil utama Uchiha, heh?"tanya Gaara. Pemuda tak dikenal itu berjalan mendekat kea rah Gaara saat mendengar nada suara Gaara yang seperti mengejeknya.

"Apa kabarmu, Uzumaki Gaara?"

Halfboof

Pair : Sasuke X Naruto

Rate : T

Disc. : Naruto © Masashi Kishimoto

Warns. : Boys Love. MxM.

Pagi itu terasa berjalan lamban bagi Naruto. Kepalanya ia sembunyikan di antara kedua lipatan lengan, ia bahkan tak menaruh perhatian pada sosok guru yang memasuki ruang kelasnya.

"Uzumaki–san, apa kau dengar?"

Naruto tiba–tiba beranjak dari duduknya dengan kedua mata terbuka lebar. Tubuhnya yang terbalut kemeja putih dengan rompi hitam dan jas bludru bistre juga celana panjang sewarna jas yang ia kenakan membeku sesaat.

"Uzumaki-san, silakan keluar dari ruangan saya."suara tegas nan dingin hinggap di pendengarannya. Kedua matanya yang masih membola menatap pria yang merangkap sebagai gurunya dengan pandangan bingung.

"Apa perlu saya seret anda keluar, Uzumaki–san?"

Tanpa menunggu Naruto segera keluar kelas dengan gerutuan di bibirnya. Kedua alisnya berkerut tak senang dan bibirnya yang mengerucut lucu. Kaki–kakinya berjalan pelan menyusuri lorong–lorong sekolah yang nyatanya lebih terlihat seperti sebuah kastil tua dengan sarang laba–laba di sudut–sudut dinsing. Ia berjalan menuju lapangan yang ada di belakang sekolahnya.

"Menyebalkan sekali, Kurama–kun ini gara–gara kau."gerutunya sambil duduk di sebuah dinding yang sudah runtuh setengahnya. Kakinya ia tekuk hingga mencapai bahunya lalu dipeluknya kedua kakinya dan ia pun meletakkan dagunya ke atas lututnya.

"Aku bosan dan ugh … aku lapar."gerutunya lagi. Naruto menyesali kenapa ia tadi tak pergi ke kantin dahulu sebelum pergi ke lapangan belakang.

'Pluk'

"A–aduh." Naruto memekik kecil saat merasakan sesuatu menjatuhi kepalanya yang ternyata adalah sebungkus roti isi. Naruto mendongakkan kepalanya hingga iris cyan azure miliknya bertemu pandang dengan sepasang iris dark grey yang menatapnya tajam.

Dahinya berkerut sedang pandangannya masih kearah pemuda yang tak di kenalnya, seakan meminta menjelasan mengenai insiden kejatuhan roti isi tadi.

"Suara perutmu itu sangat mengganggu."ucap pemuda itu sambil membuang muka. Naruto hanya tersenyum lalu berucap, "Terimakasih."

Twilight Lavender

"Bagaimana kalau pernikahan kalian di majukan saja?"

Minato dan Kurama sedang ada di perpustakaan pribadi Minato, dengan dua gelas teh earl dan sepiring roti lapis. Minato masih dengan buku bersampul gelap di pangkuannya dengan Kurama yang berdiri sambil bersandar pada salah satu pilar.

"Naruto akan genap berusia tujuhbelas tahun dua minggu lagi."ucap Minato lagi. Ia menaruh pandangannya pada Kurama yang menyilangkan kedua lengannya.

"Apa yang kau rencanakan, heh?"

Kurama mengerutkan dua alisnya bingung, dalam sekali tebak ia pun tahu kalau Minato punya sebuah alasan di balik apa yang di bicarakannya tadi.

"Kalian menikah dan otomatis Naruto juga akan berubah jadi vampir, kan?"

Hanya hening yang menjawab pertanyaan yang baru saja Minato katakan. Kurama masih terdiam di samping pilar dengan kedua tangan bersilang angkuh.

"Aku harap dengan pernikahanmu dan Naruto akan membawa perdamaian untuk dunia kita."ucapnya kembali dengan sebuah helaan nafas. Kurama bahkan bisa mendengar dengan jelas rasa lelah yang terselip di antara ucapan Minato.

"Kau tahu dengan baik kalau Uchiha tidak mau berlutut di bawah kakimu, dia hanya menginginkan kau tunduk di bawah kakinya."ucap Kurama sakrastik. Mereka memberi Kurama julukan Kyuubi No Kitsune karena kepintarannya dalam berperang namun juga karena kata–kata pedas yang sering meluncur dengan ringan dari belah bibirnya.

"Aku memang ayah yang brengsek, kan? Mengorbankan anaknya hanya untuk perdamaian dunia, kalau boleh memilih aku juga ingin Naruto lahir sebagai manusia biasa ketimbang lahir sebagai halfblood."ucap Minato. Terlihat raut menyesal dari wajah pria paruh baya itu.

"Kau tidak seperti itu, itu bukan salahmu karena ini lah takdir Naruto atau bisa dibilang ini lah kewajibannya."

Twilight Lavender

Langit kemerahan khas sore hari mulai menggeser kedudukan langit biru, Naruto masih disana duduk di atas reruntuhan dinding dengan memeluk kedua kakinya sedang pemuda yang memberinya roti tadi entah masih ada di atas pohon atau sudah pergi, Naruto terlalu takut untuk mencari tahu.

"Hoi, Naruto!"teriakan dari ujung lorong membuat Naruto berjingkat kecil sebelum beranjak turun dari dinding. Senyum dibibirnya mengembang saat menangkap siluet pemuda dengan surai brunette sepinggang yang berjalan sembari menenteng dua tas jinjing.

"Maaf sudah merepotkanmu seperti ini, Neji –nii."ucap Naruto sambil mengambil alih tasnya dari Neji.

"Ayo, ada pertemuan penting yang karus kau hadiri dengan Kurama-sama."ucap pemuda dengan iris lavender itu. Naruto hanya mengangguk lalu berjalan di belakang Neji.

"Memang pertemuan apa sampai–sampai aku harus ikut segala, bukan kah Kurama–kun bisa menghadirinya sendiri?"

Naruto bisa mendengar helaan nafas yang berasal dari sosok jangkung di depannya. Pemuda dengan kulit pale itu hanya menggelengkan kepalanya–berusaha maklum.

"Pembicaraan ini mengenai pernikahanmu dengan Kurama–sama, juga pertemuan antar dua keluarga."

"Sejak pertama kali aku bertemu dengan Kurama–kun aku tak pernah mengira kalau aku akan menikah dengannya."ucap Naruto. Sinar matahari sore berpendar saat mengenai kulit kecoklatan miliknya, membuat pemuda berdarah setengah chalice dan setengah shalott terlihat bersinar.

Neji tak menjawab tapi hanya memberi pemuda itu pandangan bertanya, juga rasa simpati pada sosok pemuda cantik yang berjalan di belakangnya itu.

"Dia itu pemuda yang tangguh, tampan, dan punya banyak kemampuan, mustahil kalau tak ada wanita cantik dari kaln vampir lain yang menginginkannya. Tapi nyatanya dia menyukaiku, aku yang penuh dengan kekurangan."

Tanpa sadar kedua sudut matanya mulai membasah, membuat pandangannya kedepan sedikit kabur.

Twilight Lavender

Sasuke menapakkan kakinya pelan menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua. Kastil bergaya klasik itu terlihat sepi, dan ia pun tak mau tahu mengenai dimana ayahnya dan Itachi sekarang. Ia berhenti di depan sebuah pintu mahoni bercat gading, tangannya meraih kenop lalu membuka pintunya.

Sasuke melemparkan tasnya ke atas sofa lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang king size berseprei putih miliknya. Kedua matanya terpejam dengan satu lengan diatas dahi guna menghalangi cahaya lampu ke matanya.

"Kenapa kau tak bisa pergi dari pikiranku?"gumamnya. Sendari tadi pikirannya hanya di penuhi oleh sosok yang baru saja ia temui tadi di sekolah. Ramput peridot–nya, iris cyan azure yang menatapnya polos, tubuh terbalut kulit kecoklatan yang indah, semuanya–semua tentang pemuda tak di kenal itu masih membekas di benaknya.

Sasuke beranjak duduk lalu melepas jasnya alih–alih mengambil jubah kebesaran yang ia simpan di dalam lemari baju. Sepatu semata kaki yang di pakainya tadi sudah berganti dengan boots setinggi perpotongan betis dan lutut.

"Ah, Sasuke. Ayah ingin bertemu denganmu."

Itachi muncul di ambang pintu, dengan setelan kemeja dan jubahnya yang ternodai noda merah darah yang terlihat mentereng. Rambutnya pun sudah tak terikat rapi, di biarkan tergerai di bahu dan punggungnya.

"Ada apa?"jawabnya. ia bahkan tak menaruh perhatian pada pertanyaan 'ada apa dengan bajumu' atau 'apa yang terjadi' yang bahkan dari tadi sudah berenang–renang di otaknya.

"Penobatan para vampir baru, kau beruntung karena banyak vampir berpotensi yang ingin masuk dalam divisimu."ucap Itachi dengan senyum segaris, kemudian kaki–kaki jangkungnya beranjak pergi menuju kamarnya sendiri.

Twilight Lavender

Suasana di ruang rapat terasa begitu menekan, di ruangan yang terdapat empat kursi kayu dan sebuah meja sudah terisi oleh pemuda dan pria dengan raut wajah yang sama tegangnya.

"Baiklah, bisa kita mulai pembicaraan kita ini?" Minato berinisiatif merusak keheningan yang ada di antara mereka, pria paruh baya itu tersenyum kikuk sebelum menghela nafas untuk menetralkan detak jantungnya.

"Tentu saja, Minato–sama."jawab seorang wanita tua dengan rambut antique ruby yang di gelung dua. Wajahnya yang sudah di penuhi keriput berusaha tersenyum selebar mungkin.

"Ini mengenai pernikahan Naruto dan Kurama. Aku ingin pernikahan mereka di percepat. Setelah Naruto tepat berusia tujuhbelas tahun, pernikahan mereka harus segera di laksanakan."ucap Minato. Kedua irisnya tenggelam pada cairan hijau dalam cangkir .

"Aku menyerahkan segala keputusan pada kedua mempelai. Kalau Naruto–kun sendiri sudah siap dengan semua konsekuensinya, dan Kurama–kun juga sudah siap dengan semua tanggung jawab yang akan ia pikul. Aku rasa semuanya akan baik–baik saja."ucap wanita yang merangkap sebagai ibu Kurama. Wanita itu tersenyum kecil menatap Naruto yang sedang duduk gelisah dengan kedua tangan yang tak hentinya memilin ujung pakaiannya.

"Jadi sudah di putuskan, kalau pernikahan kalian akan di laksanakan tiga minggu lagi. Kurama–kun dan Mito–sama, selamat datang di keluarga kami."

To be continue…

Author corner :: holla. Ini udah apdet walau gak kilat, yaowoh saya benar–benar kesendat WB gegara galau sama RinHaru, btw ada gak shippernya tuh kopel satu XD.

krisTaoPanda01(pengennya juga saya nikahin, tapi karena tuntutan skrip jadinya yah.. makasih udah ripiu oke) Aprieelyan(nda papa pendek gitu ya? Ini udah lanjoot, makasih udah ripiu) user31(yagapapa, yang penting tetep ripiu, soal pendek itu kepepet sayang XD gamudeng mananya coba?) Aiko Michishige(ini udah lanjut, makasih udah ripiu) BlackCrows1001(coba search di google deh warna peridot ama cyan azure kaya gimana, soalnya kalo liat di list of colors warna rambut naru tuh kaya gitu, ini zaman dulu sori kalo gak bisa dapet feelnya, makasih udah ripiu) vira–hime(ini udah next, makasih udah ripiu) vviichan32(itu sebenernya belom mau saya bocorin, tapi yah udah ketauan, makasih udah ripiu) kyuubi no kitsune(itu yang pasti naru, gak mungkin yang lain XD, makasih ydah ripiu.) hanazawa kay(semoga aja XD, makasih udah ripiu) (tuh udah ketemu dianya, ini udah lanjut makasih udah ripiu) uzumakinamikazehaki(ini udah lanjut makasih udah ripiu) Akane–Rihime(iya pendek, ini udah apdet makasih udah ripiu) choikim1310(itu keceplosan sih sebenernya, itu Naruto beb saya peke ciri2nya naru kaya gitu di fanfik ini bukan pirang ama safir gitu, makasih udah ripiu) Uzumaki Prince Dobe–Nii(udah ketemu beb, makasih udah ripiu, ini udah lanjot!) mifta cinya(iya itu naru beb, hem gimana yah reaksinya. Ini udah lanjot, makasih udah ripiu) RisaSano(itu siapa ya? Buat rate M–nya mungkin abis puasa, soalnya kasian pada numpuk dosaXD. Makasih udah ripiu)

banyak–banyak makasih buat yang udah ripiu di fanfik abal ini, juga yang udah foll fave.

Twilight Lavender