"A-apa yang kau lakukan padaku?!"
Naruto memekik hingga rasanya pita suaranya mau putus, kedua sudut matanya mulai berair bertanda kalau ia sedang merasa ketakutan sekarang. Mata semerah darah milik Sasuke melihat Naruto dengan tajam, seakan Naruto adalah hal yang paling tidak boleh terlewatkan untuknya. Lidah Sasuke menyapu kulit ceruk leher milik Naruto, sesekali mengendusnya guna mencari aroma manis yang menguar dari kulit selicin porselen itu.
"Itachi benar, kau memang manis Naruto."ucap Sasuke. Naruto dengan jelas bisa melihat kabut nafsu menyelimuti kedua mata sharingan milik anak bungsu Uchiha. Ia menggigit bibir bawahnya dan menutup keduanya matanya, berharap kalau yang terjadi padanya sekarang hanya lah sebuah mimpi yang akan lekas sirna.
Tok Tok Tok
Bayangan Naruto sirna, kedua kelopak matanya terbuka lebar hingga menampakkan sepasang kelereng safir yang terihat ketakutan. Kedua telapak tangannya meremas baju bagian depan Sasuke hingga kusut dan buku-buku jarinya pun memutih.
"Uchiha-sama. Maaf mengganggu anda, ada masalah dengan tuan Itachi, beliau mengirim alaram bantuan dan kabarnya pun ada siluman rubah ekor sembilan yang tengah mengamuk ditengah-tengah hutan, tuanku Sasuke."ucap seseorang dari luar ruangan. Suara gadis yang terdengar itu pun bisa meyakinkan spekulasi Naruto kalau yang sedang mereka bicarakan adalah Kurama.
"Kurama-kun!"pekik Naruto sambil berusaha melepaskan diri dari kungkungan Sasuke. Kedua lengannya hanya bisa memukul Sasuke sekenanya, karena emosi yang sudah sampai di pucuk urat lehernya.
Naruto tak tahu apa yang telah terjadi padanya, mimpinya, mimpinya bersama sang pujaan hati hancur lebur dalam waktu satu hari, sungguh hal yang tak pernah bisa ia bayangkan. Semua kenangan, semua mimpi yang telah mereka rajut pupus, bagaikan putik-putik dandelion yang lepas dari tangkainya saat angin musim semi berhembus.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" suaranya terdengar parau, persis seperti saat ia terkena flu dan hidung tersumbat.
"Katakan! Apa yang kau inginkan dariku?! Sasuke, jawab aku!"pekik Naruto. Kedua tangannya meremas bagian depan pakaian Sasuke, air mata sudah keluar bercucuran dari kedua matanya. Sasuke terhenyak sesaat, ternganga saat melihat mata sebening safir yang biasanya memancarkan kebahagiaan kini menatapnya dengan pandangan takut.
Kedua lengan Sasuke memeluk Naruto, menempelkan wajah tak karuan Naruto pada dadanya, ia menenggelamkan hidungnya dalam rambut lebat Naruto yang berkeringat.
"Tenanglah, kau akan lebih bahagia bila bersamaku, Naruto"
Twilightlavender
Kurama meludah ke tanah, luka di tubuhnya tak karuan, kemeja putih yang seharusnya dibuat mengikat janji dengan Naruto kini sudah ternoda oleh darah. Begitu pula dengan Itachi, ia menyandarkan punggungnya pada salah satu batang pohon terdekat, jubah kebesarannya entah sudah terjatuh dimana. Di pipinya terlihat jelas bekas darah mengalir, kedua telapak tangannya menutup matanya yangg terasa amat sakit, efek dari penggunaan mangekyou sharingan terlalu berlebihan.
"Kau hebat juga, heh."decih Kurama. Bibirnya menyunggingan seulas senyum miring. Napasnya masih terengah-engah, ia mencoba berdiri dengan satu tangannya bertumpu pada pohon. Kedua kakinya bergetar saat ia melangkah menjauh dari tempat Itachi tergeletak.
Kedua kelereng biru Minato membulat saat menangkap sosok Kurama yang sedang berjalan sambil berpegangan pada tembok. Seluruh tubuh pemuda itu terluka hingga membuat batin Minato teriris. Kurama memang belum resmi menjadi suami Naruto namun ia selalu menganggap Kurama adalah anaknya sendiri.
Twilightlaveder
Sasuke merebahkan tubuh Naruto keatas ranjangnya, satu tangannya mengelus surai peridot yang kusut karena keringat. Tangannya beranjak turun menuju wajah Naruto, membelai pipi kanan pemuda dengan tanda berupa tiga garis dipipinya itu. Sasuke tersenyum kecil, ia suka, suka sekali dengan Naruto saat pemuda itu menurut padanya.
Suara lenguhan kecil merusak lamunan Sasuke. Sosok yang baru saja tertidur tigapuluh menit yang lalu itu membuka matanya perlahan, melahirkan kelereng serupa batu safir yang masih memandang sekitar dengan bingung.
"Dimana aku? Ku-Kurama—kun!"teriaknya. Tubuhnya tiba-tiba beranjak dari tempat tidur kalau saja Sasuke tidak menahannya ia pasti sudah terjatuh dilantai sekarang.
"Tenang Naruto, tenang!"teriak Sasuke. Ia sedikit melonggarkan pelukannya saat merasa kalau tubuh pemuda di pelukkannya sedikit lebih tenang. Ia menggenggam kedua pergelangan tangan Naruto, lantas mendekatkannya pada dadanya.
"Sas-Sasuke, ku-kumohon... aku ingin tahu keadaan Kurama-kun."Naruto berbisik. Air mata kembali keluar dari pelupuk matanya, Sasuke menatapnya dengan kedua alisnya yang berkerut aneh. Ia kembali menghembuskan nafas lalu membawa Naruto kedalam pelukannya lagi.
Twilightlavender
Segera setelah Kurama tiba di kediamannya, pemuda dengan surai burnt orange itu mendapatkan penanganan tabib kerajaan. Beberapa bagian dari tubuhnya itu dibalut dengan kain yang di bawahnya telah diletakkan sejenis sihir penyembuh dan tumbukan obat-obatan.
Minato berdiri disamping ranjang Kurama, memandang melas pada sosok yang masih belum membuka matanya itu. Kelereng birunya kemudian jatuh pada sang tabib yang hendak mencuci tangan setelah membalut luka Kurama.
"Bagaimana keadaannya?"tanya Minato. Ia membawa tabib kerajaan itu ke ruang pribadinya. Dengan dua cangkir chamomile tea diatas meja.
"Sejujurnya aku tak tahu seberapa dalam luka itu menembus kulitnya, yang kutahu itu luka yang disebabkan karena sambaran listrik atau semacam itu. Kurama-sama memang kuat, ia mampu menahan luka seperti itu."ucap sang tabib. Alisnya berkerut aneh namun kemudian rileks kembali.
"Yah, kyuubi no kitsune itu adalah panggilan yang benar-benar cocok untuknya. Tapi siapa pengguna elemen sihir listrik di sekitar distrik terdekat? Itu adalah legenda yang tak pernah diketahui kebenarannya."ucap Minato.
"Yang Mulia, Peramal Kakashi adalah salah satu dari legenda pengguna elemen listrik yang telah terbukti."ucap sang tabib.
"Tapi Kakashi telah kubunuh, bagaimana mungkin orang itu adalah Kakashi?"
Twilightlavender
Hari berikutnya mulai menjelang, langit terlihat lebih redup dari kemarin serta angin-anngin yang berhembus cukup kencang dari arah barat, membawa suasana dingin yang merasuk hingga terasa sampai ketulang-tulang.
Terlihat seorang pelayan dengan rambut gaya messy bun berjalan di lorong mansion Uchiha yang hanya diterangi oleh cahaya dari lilin yang di pasang di setiap dinding berjarak duapuluh sentimeter. Gadis dengan rambut pale itu mengenakan rok midi hitam dengan blouse putih berkerah classic.
Lorong itu sunyi, hanya suara hentakan stiletto yang terdengar menggema di lorong itu. Hingga ia berhenti didepan sebuah pintu. Ia mengeluarkan kunci dari balik apron yang dipakainya, lantas membuka kunci kamar tersebut.
Gadis itu meletakkan seember air hangat keatas meja nakas dan beranjak mendekati sosok yang tengah terlelap di bawah selimut sutera itu. Ia menyingkap selimut dan sempat tersentak kala menemukan tubuh pemuda yang dipenuhi luka goresan, namun sedetik kemudian ekspresi datarnya pun kembali.
"Lihat bagaimana menyedihkannya dirimu, bagaimana mungkin kau bisa masuk ke dalam neraka seperti ini?"
Twilightlavender
Kelopak mata itu perlahan terbuka, melahirkan mata berkelereng ruby yang tengah menyapukan pandangannya pada sekitar. Ringisan kecil terdengar kala ia mencoba untuk mengubah posisinya menjadi setengah duduk dengan punggung bertumpu pada kepala ranjang.
Tangan kanannya mengepal tiba-tiba, dahinya mengerut dengan desisan yang keluar dari bibirnya. Tangan itu kemudian tergerak untuk meremas surai burnt orange miliknya hingga beberapa helainya rontok.
"Ah Kurama, kau sudah sadar?"
Minato muncul dari balik pintu kamar Kurama. Pria paruhbaya itu tersenyum maklum sambil berjalan mendekati ranjang Kurama.
"Keadaanmu buruk sekali, luka di tubuhmu masih belum cukup pulih, jadi jangan banyak bergerak dahulu, oke?"
Kurama menatap Minato dengan alis yang berkerut, pria yang menyandang sebagai ayah itu bahkan tak menampilkan wajah khawatir saat Naruto sedang menghilang sekarang.
"Naruto.."
"Aku tahu, ia berada di kastil Uchiha sekarang. Dengan tubuhmu sekarang, mustahil kau bisa mengalahkan dua Uchiha sekaligus."ucap Minato sambil mengusak rambut Kurama. Ia tersenyum hingga matanya tenggelam, dan bibirnya berucap, "Ayo lekas sembuh dan selamatkan Naruto, Kurama-kun."
Twilightlavender
Sasuke kembali saat petang, dengan bekas tanah di jubah alizarin crimson miliknya, jangan lupakan tubuh penuh luka Itachi yang kini sudah terbaring di ranjang milik kakaknya. Lantas ia pun melepaskan jubahnya, dan mengusap kasar wajahnya dengan helaan napas yang keluar dari bibirnya.
Tak lama kemudian dua orang pelayan dengan baskom dimasing-masing tangan masuk dan mendekati tubuh Itachi. Dan jangan lupakan sosok perempuan dengan kulit pale, berambut merah, yang mengenakan one piece below knee dengan neckline bergaya sabrina.
"Ah, Sasuke-kun apa kau tak ingin mendapatkan perawatan juga. Lihat itu.."ucap gadis itu sambil memegang dagunya sendiri, hingga Sasuke lantas juga memegang dagunya sendiri. Terlihat seberkas darah di jarinya, dan Sasuke hanya menggeleng dan keluar dari kamar kakaknya.
..
Kakinya yang masih terbalut boots hitam berjalan dengan penuh bijaksana menuju satu ruangan; ayahnya. Ia bahkan tak memperdulikan semua pelayan yang membungkukkan badan padanya saat ia lewat, tujuannya hanya satu ayahnya.
Kala ia sampai didepan sebuah pintu tinggi dengan ukiran disana, ia menghela napas sebelum membuka pintu itu dan berjalan masuk untuk menemui ayahnya.
"Kekacauan apa ini, Uchiha Sasuke?"suara tegas yang terdengar begitu absolute itu menyapa indera pendengaran Sasuke. Ia hanya terdiam sebelum memberanikan diri untuk menatap bola mata hitam ayahnya.
"Aku...menyukainya. Otou-sama"ucapnya singkat.
Plak...
Tamparan telak dilayangkan oleh Fugaku. Napasnya terdengar tak karuan, dikarenakan amarah yang sudah mendidih hingga ke ubun-ubun.
"Apa kau sadar dengan hal yang kau katakan itu?"
Keheningan menyelimuti keduanya, hanya terdengar suara napas yang mulai teratur.
"Keluar."
Twilightlavender
Gomeeeeennnnn... ini udah lama banget sejak terakhir posting. Yaowoh maafin saya ya, yang dengan entengnya gak nerusin fanfik ini. Jujur saya kena WB dan baru hari ini lah selesainya.
Kalo ada yang mau kasih ide begimana nih cerita enaknya langsung inbok aja nyokk...
Peluk kecup,
twilightlavender
