Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
Five Years Latter
Hidup seseorang harusnya dipenuhi mimpi. Tapi Luhan meragukan dirinya akan bisa bermimpi lagi jika satu-satunya mimpi yang dimilikinya sudah hilang. Ingatannya bahkan kesulitan menangkap saat-saat bahagia lagi. Terlebih setelah Kai meninggalkannya untuk selamanya.
Ada perasaan marah terselip, tentang nasib buruknya yang entah sampai kapan akan berubah, terlalu sering kehilangan dan frustasi karena ditinggalkan membuat Luhan hampir gila. Ia fikir hidupnya akan bahagia. Bagaimana mungkin Kai meninggalkannya setelah ia berjanji? Padahal Luhan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk meyakini kalau Kai memilikinya.
Luhan menangis lagi. Hidupnya begitu getir delapan tahun belakangan ini. Pindah ke Denmark dan berharap bisa hidup bahagia malah menjerumuskannya ke dunia yang sangat gelap. Di saat Kai berjanji akan mengeluarkannya dari kegelapan itu, mimpi-mimpi Luhan benar-benar tumbuh. Kai adalah satu-satunya laki-laki yang menerima keadaannya. Sejauh ini hanya Kai yang membuatnya merasa berharga. Tapi Tuhan mengambil Kai darinya disaat rencana pernikahan itu semakin dekat. Padahal Luhan sudah bergantung padanya.
Hidup bersama Kai membuat Luhan melupakan kalau dirinya pernah hidup sebagai wanita siap pakai yang harus dibayar per-jam dengan tarif tertentu. Kai membawanya menuju kehidupan yang tenang dan sangat nyaman. Tapi di saat harapannya tumbuh, Luhan lagi-lagi harus kehilangan. Ia lelah berharap. Demi biaya pengobatan Kai, Luhan sudah berhutang lagi kepada Geronimo. Sekarang ia harus membayarnya dengan cara yang sama dengan sebelumnya. Menjajahkan diri, entah sampai kapan.
Luhan berdiri sejenak. Langkahnya terhenti meskipun rumah hiburan milik Geronimo masih beberapa blok lagi. Ia masih bisa melarikan diri jika mau. Luhan bisa pergi dan tidak perlu melakukan hal itu lagi. Tapi buat apa melarikan diri? Dimanapun ia berada, keadaannya akan tetap sama. Karena Luhan ditakdirkan untuk mengalami kesedihan di sepanjang hidupnya.
Luhan menepuk-nepuk rambutnya yang sudah kembali berwarna gelap dan terkontaminasi debu jalanan. Beberapa orang laki -laki bersiul menggodanya. Ia tersenyum getir, pasti karena pakaiannya yang terlalu terbuka. Gaunnya terlalu pendek. Hampir setengah dari payudaranya terlihat dan Luhan harus rela memamerkan punggungnya di balik kain tembus pandang. Ia berharap bisa memulai kerja hari ini. Selama ini pekerjaan itu bisa membuat Luhan melupakan masalahnya. Maka ia ingin segera bekerja agar bisa melupakan penderitaannya.
Langkahnya menyala lagi meskipun lemah. Luhan memandangi ujung -ujung sepatunya dengan tidak bersemangat hingga tiba-tiba rasa nyeri menyerangnya. Seseorang memukul kepalanya dengan sangat keras. Ia tidak bisa menahan diri untuk berteriak, hanya sekali karena Luhan langsung terkapar dan tak sadarkan diri. Samar-samar terdengar suara-suara orang berdiskusi tentang seseorang yang menebus Luhan dengan uang kepada Geronimo, Luhan diambil alih, ia mungkin akan dipekerjakan sebagai wanita hiburan juga. Tapi di tempat yang berbeda.
Sebuah ruang yang luas dan hangat tiba-tiba saja menyejukkan matanya. Luhan menggeliat dan merasakan betapa nyamannya ranjang dimana dirinya berbaring sekarang. Ia nyaris saja melupakan apa yang sudah terjadi padanya. Seseorang membelinya dari Geronimo yang memperkerjakan Luhan di rumah hiburan miliknya, dan entah mengapa dirinya tiba-tiba saja ada di tempat hangat ini setelah mendapat pukulan di kepalanya.
Ya, Luhan nyaris saja melupakannya.
Sayangnya sakit kepala itu kembali menggerogotinya yang harus membuatnya memejamkan mata kembali beberapa saat untuk menenangkan diri. Luhan kembali membuka matanya lagi saat ia merasa kalau semuanya akan baik-baik saja. Sakit di kepalanya juga sudah lebih baik. Begitu ia membuka mata, Luhan harus mengakui bahwa yang terjadi kepadanya bukanlah mimpi.
Sekarang dirinya tengah berada di dalam sebuah kamar yang luas dengan warna marun yang dominan. Ia tertidur di atas seprai satin berwarna merah hati dan berapa tumpukan bantal bulu yang dilapisi katun dengan warna marun. Sebuah selimut marun yang tebal juga menghangatkan tubuhnya. Luhan yakin kalau dia akan baik-baik saja jika selimut itu tidak ada karena ruangan itu cukup hangat. Lampu menyala berwarna kekuningan tapi cukup terang seolah-olah cahaya itu timbul dari nyala api di tungku perapian yang berada di tepi ruangan. Hal yang tidak pernah di alaminya selama ini, ia tertidur di dalam sebuah kamar yang sangat indah. Selama ini dirinya hanya bisa hidup di dalam sebuah flat kecil yang penuh dengan barang-barang.
Lalu saat ini? Luhan selalu berharap menjadi putri dimana seorang pangeran datang dan menjemputnya untuk menikmati tempat seindah ini. Hidup bersama selamanya, mempunyai anak yang banyak, mimpi yang di janjikan oleh Kai sebelum kecelakaan itu merenggut nyawanya dan melemparkan Luhan kembali ketangan Geronimo.
Seumur hidup Luhan, yang dikenalnya hanya panti asuhan hingga dirinya di adopsi oleh seorang wanita tua yang berharap memiliki teman sebelum ia meninggal. Lalu Luhan menjadi anaknya meskipun sebenarnya Luhan lebih pantas memanggilnya nenek. Nama Luhan juga diberikan oleh wanita itu untuk menggantikan nama Xiao Lu yang selama ini disandangnya dan sejak awal Luhan tau kalau dirinya harus berterima kasih dengan mengurusi wanita itu di hari tuanya hingga akhirnya, satu-satunya keluarga yang di milikinya itu meninggal.
Semenjak itu, Luhan hidup sebatang kara, pergi kemanapun yang disukainya hanya berbekal uang hasil penjualan rumah peninggalan ibu angkatnya dan membeli sebuah mobil tua yang pada akhirnya menjadi rumahnya sebelum ia bertemu dengan Yifan dan pergi ke Denmark.
Yifan, laki-laki yang entah berada di mana itu adalah penyebab Luhan menjual dirinya hingga dirinya bisa berakhir di tempat ini. Seharusnya Luhan tau kalau semua yang dilakukannya adalah salah. Luhan pasti menyesal telah pergi bersamanya, menjalani hidup yang serba kekurangan sedangkan Luhan tau kalau Yifan berasal dari keluarga berada. Seharusnya Luhan tidak pernah bermimpi untuk bisa hidup bahagia di pelarian. Apalagi menjadi gadis biasa yang mendapatkan pangeran. Ia sudah terlalu tua untuk bermimpi.
Luhan melangkah perlahan mendekati tirai beludru merah yang mungkin menutupi jendela di baliknya. Ia menggesernya pelan-pelan sehingga bunyi besi-besi pengaitnya saling bertumburan terdengar nyaring. Sebuah pemandangan indah memanjakan matanya. Pohon-pohon pinus, Bukit yang di tutupi salju, danau yang berwarna biru kehijau-hijauan. Pemandangan ini mengingatkan Luhan kepada…
'Astaga, ini danau Louise?' Luhan berbisik.
Jadi dirinya sekarang berada di Canada? Luhan sudah kembali ke Canada dan sekarang dirinya sedang berada di Alberta, di sebuah rumah besar yang menghadap ke sebuah danau.
Luhan berusaha mengamati semakin serius. Sekarang mungkin dirinya sedang berada di lantai dua sebuah rumah yang megah. Rumah ini berbentuk huruf U dimana Luhan berada di tengah-tengah ceruk yang menjorok ke dalam. Luhan juga yakin kalau sekarang dirinya tidak menghadap ke depan rumah, jendela kamar ini pasti menghadap ke belakang rumah karena di bawah sana, rumah ini seolah -olah di kurung oleh pagar yang terbuat dari susunan batu-batuan besar yang menjulang tinggi dengan pemandagan danau Louise yang luas di baliknya.
Keyakinan Luhan pupus kalau dirinya sedang berdiri di balik jendela di lantai kedua, pasti ia sedang berada di lantai yang lebih tinggi lagi. Lantai ketiga? Atau keempat? Entahlah, Luhan tidak perduli dengan hal itu. Ia bahkan tidak yakin kalau sekarang dirinya sedang berada di rumah seseorang. Mungkin Luhan sedang berada di sebuah Hotel? Bukankah di sebuah resort biasa tersedia hotel? Luhan tidak tau dengan Hotel yang ada di sebuah Resort, ia hanya pernah ke hotel untuk melayani seorang pelanggan memuaskan nafsunya dan itu selalu terjadi di hotel kelas menengah kebawah.
Bunyi pintu dibuka membuat Luhan membalikkan tubuhnya secepat yang ia bisa dan melihat sesuatu yang membuatnya termenung. Luhan memandang seorang laki-laki berjalan mendekat setelah ia menutup pintu. Laki -laki itu berambut kecoklatan dengan rahang tegas yang membuat Luhan teringat pada seseorang. Tapi Luhan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Laki -laki itu, benarkah dia…
"Kau sudah bangun rupanya!"
Tidak, Luhan yakin dia bukan orang yang sama. Suara mereka sangat berbeda. Luhan tidak menjawab pertanyaan itu dengan sepatah katapun meskipun sebenarnya Luhan bisa memastikan kalau pertanyaan itu memang untuknya. Ia memandang laki-laki yang berada di hadapannya dengan lebih seksama. Tapi wajah itu benar-benar tidak asing.
"Anda siapa?"
Laki-laki itu tersenyum. "Ucapan yang sangat sopan untuk seorang pelacur!"
Pelacur? Ya, laki-laki itu kembali mengingatkan Luhan tentang siapa dirinya. Dia hanya seorang pelacur yang sudah berpindah tangan kepada seseorang. Mungkin orang ini?
"Kau yang membeliku dari Geronimo?"
"Ya, Kau tidak bertanya siapa aku?"
"Apakah kau akan memberi tahu namamu yang sebenarnya? Atau hanya nama palsu seperti yang kebanyakan orang pakai?"
Lagi-lagi Luhan memandang senyumnya. Ada sesuatu yang bergelora, Luhan mendapati dirinya seperti kehilangan tenaga melihat senyuman itu. Senyuman yang sangat menarik yang belum pernah dilihatnya pada wajah lelaki manapun di dunia ini. Luhan yakin dia orang yang berbeda dengan orang yang di duganya.
"Kau beruntung Nona. Hari ini aku sedang ingin menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya kepadamu. Namaku, Oh Sehun! Kau ingat sesuatu? Tentang 'Oh' misalnya?"
Oh Sehun? Tentu saja Luhan mengingat dengan jelas nama depan Oh itu. Nama yang selalu dikenakan oleh laki-laki yang sangat dipercaya. Laki-laki yang pada akhirnya membuat Luhan terjerumus dalam Academy Erotica milik Geronimo dan menjadi pelacur demi membayar hutang-hutangnya.
"Ada hubungan apa kau dengan Oh Yifan?"
Luhan menyadari bahwa nada suaranya berubah. Ia mungkin terdengar sangat marah saat ini. Luhan sangat membenci Yifan dan apapun yang menyangkut laki-laki itu. Tapi sekarang ada seseorang yang mengaku memiliki nama depan yang sama dengannya? Mereka pasti memiliki hubungan darah, mereka punya kemiripan itu.
"Jawab pertanyaanku!"
"Kenapa kau harus marah-marah!" Sehun memberi jeda sesaat.
"Kau tidak ingin membicarakan semuanya secara runut? Tentang dimana kau sebenarnya? Mengapa kau dibawa kemari?"
"Aku juga butuh itu, tapi jawaban untuk pertanyaan yang pertama lebih ku butuhkan!"
"Kalau begitu duduklah dulu, kita bicara secara baik-baik. Aku yakin kau cukup cerdas untuk tidak memberontak"
"Tidak perlu. Cukup beri tau aku…"
"Dan kau akan bertahan dalam posisi berdiri seperti itu? Bagaimana kalau ceritaku sangat panjang dan sangat memakan banyak waktu. Aku hanya memintamu duduk meskipun sebenarnya saat ini aku lebih suka untuk membayangkan bagaimana bila seandainya kau berbaring telanjang di atas ranjang itu."
"Aku tidak akan sudi untuk mengabulkan permintaanmu yang satu itu meskipun kau membayarku dengan harga tinggi. Aku tidak menyukai siapun yang menyandang nama Oh. Sekarang segera jawab pertanyaanku, Aku ingin jawaban secepatnya!"
Sehun mendekat lalu mencengkram bahu Luhan kuat-kuat, kedua matanya yang tajam mengawasi setiap inci wajah Luhan yang kelihatannya sangat tidak meyukai suasana seperti sekarang. Dengan agak keras Sehun menarik Luhan untuk duduk di atas ranjang dan setelah Luhan tenang, ia kembali ke Sofa yang membelakangi ranjang. Sehun tidak duduk disana. Ia berpindah ke kursi kayu yang berada di dekat tungku pembakaran lalu duduk menghadap Luhan dengan sangat nyaman, Sehun sedang menunjukkan bahwa dia adalah rajanya.
"Baiklah, Nona. Aku akan menceritakan semuanya selagi kau tetap diam seperti itu!" Sehun memulai.
"Namaku Oh Sehun, seperti yang sudah ku bilang. Dan aku adalah sepupu ketiga dari Oh Yifan, pertanyaan pertamamu sudah ku jawab. Lalu…?"
"Lalu ada urusan apa kau membawaku kemari?"
"Kau cukup keras kepala. Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan menceritakan semuanya jika kau diam!"
Kata-kata Sehun berintonasi lebih kokoh dibandingkan dengan kata-katanya sebelumnya. Hal itu cukup membuat Luhan kembali tutup mulut. Ia harusnya tidak perlu marah-marah, seharusnya Luhan bisa bersikap sedingin biasa.
"Baiklah, aku akan diam!"
"Nah, begitu!" Sehun kembali mengeluarkan senyumnya.
"Aku membayar mahal kepada Geronimo untuk membawamu kemari. Kau adalah kekasih Yifan, kan? Sepupuku itu meninggal beberapa minggu yang lalu dan kau tau kejutan apa yang menjadi alasan mengapa kau dibawa kemari? Yifan mewariskan semua hartanya kepadamu!"
Alis Luhan terangkat, dia sama sekali tidak tertarik. Yifan sudah meninggalkannya. Lalu apa yang dia inginkan dengan harta itu? Minta maaf? Karena dia takut akan langsung ke Neraka jika membiarkan Luhan terus sengsara? Meskipun begitu Luhan tetap merasa terpukul mendengar kematian Yifan, walau bagaimanapun, kematian Yifan tidak pernah berada dalam khayalannya.
"Lalu? Aku tidak tertarik dengan semua harta itu!"
"Kau serius? Bukankah kau menjual dirimu untuk mendapatkan harta yang berlimpah?"
"Sekarang jangan katakan kalau aku harus membayar uang yang kau berikan kepada Geronimo dengan tubuhku. Aku mungkin akan tetap menjual diri, tapi jangan berharap aku akan melakukan itu denganmu! Aku akan pergi sekarang!"
"Tunggulah sebentar lagi. Aku akan bercerita lebih banyak lagi!"
"Aku tidak ingin mendengar cerita dan tidak ingin berhubungan dengan keluarga Oh."
"Kau ingin pergi? Membawa lari harta itu sedangkan disini banyak orang yang membutuhkannya? Keluarganya lebih berhak di bandingkan dengan dirimu."
"Aku sudah mengatakan kalau aku tidak tertarik, kan?" Luhan semakin gusar.
"Sekarang yang terpenting adalah hartamu. Dia menyia-nyiakan keluarganya, juga hartanya dan pergi ke Denmark bersamamu. Sejak itu aku harus mengurusi semuanya, begitu juga saat dia kembali, Yifan tidak pernah sekalipun menjalankan kewajibannya yang satu ini. Lalu setelah meninggal dia fikir bisa memberikannya padamu?"
"Kalau begitu ambillah. Aku sudah mengatakan kepadamu kalau aku tidak butuh harta itu, kan? Sekarang biarkan aku pergi."
"Ya, Aku sangat senang karena kau mengatakan hal yang tak terduga seperti itu. Karena itulah kau tidak boleh pergi, Nona! Kau harus tetap tinggal untuk mengembalikan harta itu kepadaku. Kau harus melakukannya karena aku tidak akan merelakan semuanya begitu saja!"
"Maksudmu?"
Oh Sehun tersenyum lagi. Luhan yakin jika ia terus melihat pemandangan seperti itu, pertahanannya akan runtuh. Sehun memiliki kemiripan yang sangat akrab, tapi pesonanya jauh di atas Yifan. Ia tau bagaimana caranya membuat dirinya terlihat sangat menggoda sedangkan Yifan hanya tau bagaimana caranya untuk terlihat baik hati dan terhormat.
"Kau hanya perlu menunggu sampai aku menyiapkan surat-suratnya, Nona! Dan aku harap kau tidak berubah fikiran untuk mengembalikan semua harta itu kepadaku!"
Ucapan Sehun itu di ucapkan dengan tatapan yang sangat sensual sehingga membuat Luhan tertegun lama.
TBC
Annyeong!
Sebenernya seyeo agak males sih apdet ini, soalnya di chap kemaren banyak siders-nya /huweeeee:'(/ tapi yaudahlah
Kalo di chap ini nanti review-nya bisa lebih banyak dari yang kemaren seyeo bakal apdet lagi malem tahun baru nanti, tapi kalo enggak ya mungkin tahun depan :D
Udah ah, gak mau banyak cincong.
Makasih buat yang udah nge-fav, nge-foll, sama yang udah nge-review :)
Last..
Review juseyo..
Gomawo.. :*:*
