Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"

Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)


Kalau Luhan bertanya-tanya tentang apa yang di dapatnya di rumah itu, jawaban pertama yang di dapatnya adalah kenyamanan. Setidaknya Luhan hanya menghadapi satu laki-laki bajingan di rumah ini dan tidak harus tidur dengannya karena uang. Luhan merasa lega karena ibu dan istri Yifan sedang tidak berada di rumah ini. Mereka semua sedang ada di Charlottetown dan mengunjungi kerabat 'Oh' yang kebanyakan memang berkembang biak disana. Jadi setidaknya Luhan bisa menyiapkan banyak hal sebelum mendapatkan berbagai macam hinaan.

Entah apa yang terjadi seandainya Luhan tidak di bawa kemari, malam ini seharusnya ia sedikitnya harus melayani lima orang pria sebagaimana target yang selalu diwajibkan oleh Geronimo. Laki-laki itu mungkin tidak tau kalau seseorang membeli Luhan darinya karena Luhan ternyata memiliki harta berlimpah. Jika Geronimo tau, dia pasti tidak akan memberikan Luhan kepada siapapun dan bertindak seolah-olah harta itu adalah miliknya dengan dalih mewakili Luhan untuk mengurusnya. Oh Sehun akan kecewa dengan itu.

Sepertinya Sehun hanya memiliki satu hal positif dari dirinya, yaitu menarik. Sisanya, Sehun adalah seorang laki-laki yang tamak dengan harta yang bukan miliknya, itu yang menjadi alasan kuat Sehun menculik dan memaksa Luhan untuk hidup disini. Sayangnya, Luhan tidak melihat ada pilihan lain. Ia benar-benar sebatang kara dan menghadapi kehidupan yang tidak terencana. Luhan takut merencanakan sesuatu. Takut semua rencananya tidak pernah terjadi dan itu cukup untuk membuatnya hidup dalam keadaan yang mengalir begitu saja.

Selama ini Luhan hanya perlu mengikuti arusnya. Baginya, mendapat harta yang berlimpah, lalu kehilangan dan tinggal bersama keluarga yang tidak pernah diharapkannya adalah bagian dari perjalanannya yang mengalir. Tidak ada waktu untuk memikirkan sesuatu yang sia-sia seperti melawan arus kehidupan.


Luhan keluar dari kamar mandi dan melirik ke atas ranjang. Pakaiannya sudah ada disana. Semula Luhan mengira kalau dirinya akan kembali mengenakan Jeans dan T-shirt yang tadi siang di gunakannya, tapi ternyata Sehun menyiapkan lebih dari itu. Sehun mungkin sudah memata-matainya karena dia juga sudah menyiapkan pakaian Luhan dan berserakan di atas ranjang. Cukup banyak, mungkin semuanya. Sehun memindahkan semua pakaiannya kemari dan Luhan harus berterima kasih karena itu setidaknya membuat Luhan kehilangan alasan untuk kembali mengulangi masa-masa buruk selama di Denmark. Dia bersumpah tidak akan pernah kembali kesana lagi untuk selamanya.

"Maaf, Nona! Boleh aku masuk?" Sebuah suara terdengar keras dari sisi lain pintu kamar yang tertutup.

Luhan mendekap erat handuk yang di kenakannya dan berjingkat menuju pintu. Ia membukanya sedikit dan mengintip siapa yang mengetuk pintu itu. Seorang wanita tua tersenyum ramah kepadanya lalu berujar degan kata-kata yang sangat sopan.

"Sehun menyuruhku mengemasi pakaian Nona ke lemari!" Katanya sekali lagi.

Luhan membuka pintu lebih lebar dan menjaga dirinya tetap berada di belakang pintu untuk menghindari kalau-kalau ada seseorang yang melihatnya hanya mengenakan handuk saja. Wanita tua itu masih berdiri disana dan tidak bergerak, mungkin ia sedang menanti Luhan mempersilahkannya masuk.

"Masuklah!" Ujar Luhan.

Suaranya sedikit serak karena merasa lelah seharian ini. Wanita tua itu masuk dan Luhan kembali menutup pintu. Ia melirik ke atas ranjang dimana pakaian-pakaian milik Luhan berserakan tak berbentuk. Wanita itu mendekat untuk bekerja, meraih satu persatu pakaian yang masih bisa di lipat dan meletakannya di atas ranjang sebelum di susun ke dalam lemari. Sesaat kemudian ia menggeleng jika melihat ada beberapa lembar pakaian yang tidak mungkin tertolong dan harus di setrika kembali.

Luhan hanya memandanginya heran dan masih berdiri di belakang pintu. Ia tidak tau harus melakukan apa sampai akhirnya wanita tua itu memandangnya dan mendesah lalu kembali memberikan senyum ramahnya.

"Maafkan saya. Saya seharusnya memperkenalkan diri dulu."

"Ya," Jawab Luhan.
"Mungkin aku akan merasa lebih nyaman jika mengenalmu terlebih dahulu!"

"Saya Philarette, Nona. Pelayan di rumah ini. Beberapa orang lebih suka memanggil saya dengan nama Philly."

Luhan mengangguk mengerti lalu tersenyum lega. Ia kemudian duduk di atas sofa yang membelakangi ranjang dengan tubuh yang setengah berputar agar bisa melihat wajah Mrs. Philarette yang sedang merapikan pakaiannya.

"Kau bekerja dirumah ini? Berapa banyak orang yang berada di rumah ini?"

"Tiga orang majikan dan banyak pelayan. Tapi jika anda butuh sesuatu, anda boleh memanggil saya. Pelayan di rumah ini tidak di perbolehkan berbicara dengan majikan. Selain saya, tentunya!"

"Jadi, kau semacam kepala pelayan?"

Mrs. Philarette mengangguk. "Begitulah kebanyakan orang menyebutku. Tapi aku disini sudah sangat lama, Nona. Aku juga yang membesarkan Yifan dan Sehun."

"Kalau begitu, kau seperti ibu mereka?"

"Pengasuh, lebih tepatnya seperti itu. Aku sudah tidak bertenaga, sering sakit kepala dan seharusnya mereka sudah mengeluarkanku. Nyonya rumah ini juga berencana untuk memberiku pensiun beberapa kali meskipun dia tau aku akan menolak. Lalu kedua anak itu tetap mempertahankannku hingga sekarang."

Jelas saja, karena Yifan dan Sehun mungkin lebih menganggap wanita ini sebagai ibunya di bandingkan dengan yang lain. Luhan teringat kepada ibu angkatnya. Wanita itu juga sama lembutnya seperti Philarette, hanya saja sedikit lebih cerewet. Semasa hidupnya, Luhan sering mendapat teguran yang membuatnya mengurung diri di kamar seharian sampai wanita itu datang dan meletakkan seporsi Fuir Grass di depan pintu kamarnya. Luhan sangat menyukai Fuir Grass. Baginya saat itu, Fuir Grass adalah makanan terenak yang belum tentu bisa di santapnya setiap tahun.

"Nona, apakah kau ingin mengambil satu pakaian untuk makan malam kali ini? Kau tidak akan makan malam dengan handuk itu, kan?"

Luhan tersenyum lalu mengangguk. Ia mendekat dan menggapai sebuah celana pendek dan T-shirt. Mungkin ia terlalu tua untuk pakaian seperti ini. Tapi hanya pakaian-pakaian santai seperti itulah yang di milikinya. Tiba-tiba handuk Luhan melorot, ia merasa malu kepada Philarrette dan segera memperbaikinya. Wanita itu tersenyum.

"Maafkan aku. Aku tidak sengaja!" Gumam Luhan gugup.

"Aku akan pura-pura tidak pernah melihat itu, Nona. Jangan khawatir."

"Terimakasih."

Luhan diam sebentar lalu nyaris saja berbicara mengenai menu makan malam hari ini jika saja tidak mendengar bunyi pintu yang di buka tiba-tiba. Luhan boleh merasa lega karena ia sudah berhasil memperbaiki handuknya sebelum Sehun bersandar di tepi pintu dengan kaki bersilang dan tangan yang juga menyilang di depan dada.

"Kau terlalu lama. Beberapa menit lagi kita melewatkan makan malam." Ujarnya.

"Cepat keluar dan makan malam, kau tidak perlu mengganggu pekerjaan Mrs. Philarette lagi."

"Tidak! Nona ini tidak mengganggu sama sekali."

"Nyonya!" Sehun meralat ucapan Philarette terhadap panggilan terhormatnya untuk Luhan.

"Kau tidak perlu memanggilnya dengan sebutan resmi. Jika kau ingin melakukannya, panggillah dia dengan sebutan Nyonya. Dia bukanlah perawan lagi untuk di panggil dengan sebutan Nona!"

Luhan mendengus mendengar ucapan itu. Apakah Sehun lupa? Seharian ini,setiap kali Sehun berbicara dengan Luhan tentang harta itu ia selalu memanggil Luhan dengan sebutan Nona. Dan sekarang Sehun melarang orang lain untuk mengucapkan kata-kata yang sama? Luhan melirik Mrs. Philarette dan wanita itu hanya tersenyum maklum.

"Baiklah, aku akan segera kesana! Aku perlu ganti pakaian dulu!"

"Kalau begitu, gantilah, sekarang!"

"Ya, tentu, kau keluar dulu dan tutup pintu!"

Sehun memiringkan kepalanya seolah-olah tidak mengerti dengan permintaan Luhan. Laki-laki itu berhasil membuat Luhan menggeram. Apa maksud ekspresi itu? Ia ingin melihat Luhan mengganti pakaian di hadapannya dengan pintu terbuka dan ada Mrs. Philarette yang memperhatikan mereka. Laki -laki itu bukan hanya tamak, tapi juga cabul. Luhan tentu sudah mengetahuinya dari ucapannya tentang Luhan yang berbaring telanjang di tempat tidur saat perbincangan mereka yang pertama kali.

"Baiklah, aku akan ke kamar mandi saja!" Akhirnya Luhan mengambil keputusan itu.

Siapa sangka Sehun mengikutinya. Laki-laki itu menutup pintu kamar mandi dan memperhatikan Luhan dengan pose yang sama seperti tadi, kaki dan tangan saling menyilang dan bersandar dengan nyaman seolah -olah sedang memperhatikan sebuah tontonan bagus. Luhan terdiam sambil memandanginya dengan geram beberapa saat. Laki-laki itu benar-benar ingin menyaksikannya mengganti pakaian?

"Untuk apa kau mengikutiku kemari?"

"Melihatmu berganti pakaian, seharusnya kau mengerti kalau aku sedang berusaha memanjakan mataku! Kita lihat apakah kau adalah pemandangan bagus untuk membantuku menyegarkan otak."

"Pelayanmu ada disana dan dia bisa salah paham!"

"Artinya kau tidak keberatan melakukannya kalau dia tidak salah paham? Apa pentingnya persepsi seseorang yang pastinya akan menutup mulut untuk itu? Dia tidak akan mengomentari apa-apa meskipun dia terganggu. Jadi kau tidak usah khawatir."

"Astaga, kau benar-benar berbeda dengan Yifan. Yifan bahkan tidak pernah menyentuhku!"

"Ya. Dan dia bodoh karena melewatkanmu, Luhan. Seharusnya dia menghabisimu sebelum memutuskan meninggalkan Xiao Lu untuk membayar hutang-hutangnya di rumah pelacuran!"

Luhan menggigit bibirnya geram."Sekarang keluarlah. Aku tidak suka ada seorang Oh di dekatku. Aku tidak akan melakukannya jika bukan karena terpaksa dan…"

"Dan?"

"Dan aku tidak akan pernah melakukan hal itu di depanmu. Seperti yang pernah ku bilang. Aku bisa saja membuka pakaian di depan laki -laki manapun. Tapi bukan di hadapan seorang Oh!"

"Kau tidak adil. Membenci satu Oh, lalu melibatkan seluruh Oh di muka bumi pada kebencianmu!"

"Sekarang keluarlah!" Suara Luhan menjadi lebih tinggi. Tapi Sehun hanya tersenyum dan mengangkat alisnya.

"Lakukan Luhan. Aku ingin melihat seberapa sensualnya dirimu. Kau sering melakukan ini, kan? Membuka pakaian di depan laki-laki hidung belang adalah pekerjaanmu!"

"Aku tidak sedang bekerja, dan satu lagi. Aku akan berganti pakaian, bukan sengaja untuk membuka pakaian!"

"Lakukan!"

"Tidak akan pernah!"

"Lakukan, Luhan!"

"Harus berapa kali aku mengulangi kata tidak?"

"Lakukan karena percuma saja kau menolak. Ini rumahku dan semua orang tidak akan mau perduli dengan teriakanmu jika aku yang membuka pakaianmu. Percayalah, kau tidak akan menemukan satu pakaianpun untuk di pakai kalau itu terjadi, hanya akan ada selimut sutra untuk menyelimutimu dan benda itu malah akan memperindah bentuk tubuhmu!"

"Jadi kau akan melakukan itu bila aku menolak?"

"Kau keras kepala!" Sebuah senyum sinis hadir di sudut bibir Sehun.

Laki-laki itu lalu membuka pintu dan mengedipkan matanya sebelum kembali menutup pintu kamar mandi dan meninggalkan Luhan seorang diri. Luhan termenung sesaat. Ia fikir Sehun akan melakukan ancamannya. Ternyata tidak, Laki-laki itu meninggalkannya dalam perasaan lega yang teramat sangat. Ia menghela nafas, sedikit kebebasan untuknya sudah hadir sampai pintu di ketuk beberapa kali lalu suara Sehun terdengar lagi.

"Cepatlah, sayang! Jika tidak, aku pastikan kalau aku akan segera masuk dan kita akan bercinta di kamar mandi. Kau tidak ingin kelaparan karena itu, kan? Bercinta juga butuh tenaga. Percayalah!"


Bunyi desiran air semakin memperkaya lamunan Sehun untuk mengkhayalkan apa yang terjadi semalam jika saja ia tidak bersegera keluar dari kamar mandi. Keindahan Luhan yang sudah tampak nyata akan terlihat lebih jelas lagi kalau saja ia betah untuk berdebat lebih lama. Tapi jantungnya sendiri hampir melompat jika Luhan benar-benar melakukan keinginannya. Sehun merasa belum siap untuk menyaksikan Luhan menanggalkan handuknya sekarang. Ia bisa saja tidak tahan dan kehilangan kendali diri. Lalu beberapa waktu kemudian akan terdengar erangan liarnya bersama dengan teriakan Luhan. Tidak, mungkin saja Luhan tidak akan berteriak karena semalam Sehun sudah mengatakan kalau tidak ada seorang pun yang akan menolongnya jika Sehun sampai menyerangnya. Mungkin saja Luhan akan mendesah, meritih, dan...

"Arrrrghhh….!" Sehun memukul air di dalam Bathub-nya sehingga bunyi kecipak air memperkaya suasana.

Tentu saja Luhan tidak seharusnya ada disini, tapi ia tidak akan menyesali keputusannya dan juga rencananya untuk membuat Luhan tetap di sampingnya selama beberapa waktu. Setengah tahun harusnya sudah cukup untuk memuaskan dirinya dengan Luhan dan membiarkan wanita itu pergi dengan kompensasi besar untuk hidup barunya. Tapi reaksi Luhan tentunya sangat berbeda dengan reaksi kebanyakan wanita yang selama ini menemaninya di tempat tidur. Luhan terlalu berpengalaman, terlalu liar, terlalu cantik dan menggairahkan.

Sehun mendesah, ia tidak mengerti mengapa setiap kali memikirkan Luhan, otaknya selalu berfikir tentang bagaimana rasanya. Selama ini Sehun hanya menjajah wanita-wanita dari kalangan menengah sampai terhormat untuk menemaninya dan seluruh wanita itu akan bertindak polos seolah-olah mereka tidak mengetahui apa-apa tentang bercinta. Lalu bagaimana dengan Luhan? Apakah Luhan juga sama?

Ia terlalu keras memikirkan tentang penolakan Luhan semalaman. Tentu saja Sehun sudah pernah mengalami penolakan-penolakan seperti ini. Tapi ia selalu berhasil mendapatkan wanita yang menolaknya dengan berbagai cara. Semua wanita itu hanya berpura-pura menolak dan pasti akan memberikan apapun yang Sehun inginkan jika saja Sehun menunjukkan sedikit usaha. Sayangnya wanita yang satu ini kelihatannya benar-benar tidak tertarik. Luhan terlalu sibuk tentang kebenciannya kepada Yifan yang menjadi penyebab kehancuran hidupnya selama bertahun tahun. Alasan yang membuatnya tidak ingin berdekatan dengan Oh manapun di dunia ini seperti yang sudah di katakannya.

Sehun mendesah sekali lagi. Ia bisa gila kalau membiarkan dirinya memikirkan itu terus menerus. Sepertinya sudah saatnya mengakhiri acara mandi pagi.

Sehun keluar dari Bathub-nya dengan santai lalu mengambil handuknya. Beberapa saat kemudian ia sudah berdiri di depan cermin dengan pakaian santai yang lengkap. Ini akhir minggu dan hari ini Sehun akan berusaha menggoda Luhan sekali lagi. Tidak untuk yang terakhir, tentu saja. Sehun tidak akan berhenti sebelum Luhan jatuh kepelukannya. Membuat Luhan mencintainya mungkin adalah sesuatu yang sulit, tapi mereka bisa membuat kesepakatan bukan?

Kali ini Sehun sengaja melewati kamar dimana Luhan menginap. Ia ingin menyapa Luhan pagi ini. Sayangnya Luhan tidak ada disana. Sejurus kemudian, Sehun mencari Luhan dalam diam, dia tidak ingin memanggil-manggil nama Luhan karena itu bisa saja membuatnya malu karena terlalu mengkhawatirkan wanita itu.

Tidak butuh waktu lama, Sehun menemukannya di dapur. Ia sedang memasak bersama Mrs. Philarette. Untuk beberapa waktu Sehun hanya memperhatikannya dan mendengar setiap pertanyaannya. Luhan sangat cerewet, ia membuat Mrs. Philarette kebingungan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang di lontarkannya. Sangat mudah akrab dengan orang lain, sangat cantik dan…

Astaga, aku memikirkan hal itu lagi? Sehun membatin.

Ia harus segera mendapatkan Luhan, Sehun tidak boleh membiarkan dirinya tersiksa terlalu lama karena itu. Melihat seluruh gerak-gerik Luhan adalah kesenangan tersendiri. Saat Luhan memegang wortel, cukup untuk membuat Sehun kembali berfantasi dan ia harus merasa nyilu yang entah datang dari mana. Luhan terlalu menggoda.

"Sehun?"

Mrs. Phillarete bertanya seakan-akan terkejut melihatnya. Jelas saja begitu, Sehun tidak pernah menginjak dapur selama ini dan ini adalah kali pertama. Ia melakukan hal yang sepertinya tidak mungkin akan dilakukan Sehun seumur hidupnya. Ia pernah masuk ke dapur itu sewaktu kecil dan itupun hanya untuk mencari Mrs. Phillarette.

Ingatan itu membuat Sehun memandangi seluruh sisi dapur dan menyadari kalau sudah terlalu banyak perubahan selama ini.

"Awh!"

Teriakan kecil itu berasal dari mulut Luhan. Sehun mungkin tidak akan pernah terbangun dari kenangan yang menyerangnya jika saja bukan Luhan yang berteriak. Ia tidak akan terlalu perduli. Tapi sayangnya, Luhan sudah mencuri perhatiannya dan wanita itu sedang terluka.

Luhan sejak tadi bertindak seolah-olah dirinya tidak memperdulikan kedatangan Sehun, tapi melihat Luhan mengiris jarinya sendiri, Sehun nyaris tidak bisa menyembunyikan senyum. Luhan pasti gugup dengan kehadirannya.

Sehun melangkah mendekati Luhan yang menghisap jarinya lalu menarik tangan kirinya untuk melihat jari mana yang terluka. Semula Luhan menolak, tapi mereka tidak akan berkelahi di depan orang-orang. Banyak pelayan di dapur saat itu dan Sehun baru menyadarinya.

"Tidak perlu, aku bisa mengurusinya sendiri." Luhan berdesis sambil meringis.

"Jangan pernah mengatakan itu, atau malam ini kau akan ku seret ke ranjangku!"

Beberapa orang pelayan muda berusaha menyembunyikan tawa kecilnya saat mendengar ucapan itu. Tentu saja mereka sangat tertarik dengan ucapan -ucapan seperti itu. Dan Luhan sepertinya juga cukup terpengaruh. Ia berdiam diri mendengar kata-kata yang barusan keluar dari mulut Sehun. Semburat darah kembali terkumpul lalu mengalir dari ujung jari telunjuk Luhan menuju telapak tangan, lukanya tidak besar tapi menghasilkan banyak darah. Tidak ada ide lain yang bisa terlintas di otak Sehun selain menghisapnya. Tapi ia melakukannya dengan sikap yang lebih sensual.

Sehun menjilati darah Luhan yang sudah mengalir di telapak tangan hingga akhirnya jari telunjuk Luhan masuk ke dalam mulutnya. Sehun menghisap jari Luhan bukan karena jari itu terluka, lebih kepada alasan ingin memiliki pemiliknya, ia tidak berhenti melakukannya dan membuat Luhan bergindik beberapa kali. Sesaat kemudian Luhan mendesah dan Sehun melihat betapa gairah gadis itu sudah terpancing.

Mrs Philarette menyuruh para pelayan yang berada di dapur untuk segera keluar begitu bisikan tentang Luhan dan Sehun membahana. Sehun Menyadari kalau dapur sudah sepi, ia melepaskan jari Luhan dan mendekat untuk menyentuh pipinya.

"Kau sangat bercita rasa Luhan. Terlalu sensitif dan mudah di pancing."

Seperti tersadar, Luhan segera mendorong Sehun menjauh darinya. Ia kembali meneliti lukanya dan tidak ada lagi darah yang keluar. Mungkin Sehun sudah meghisap banyak darahnya. Yang tersisa hanya denyutan lemah, entah karena apa. Mungkin karena Sehun, atau memang karena lukanya. Semuanya menjadi tidak begitu jelas lagi.

"Kau terlalu banyak komentar, Oh!"

"Sehun." Sehun meralat ucapan Luhan.

"Panggil aku Sehun, atau kekasihku, atau…"

"Tidak akan pernah."

"Kau terlarang untuk mengatakan sesuatu yang belum terjadi dengan sangat yakin, Sayang. Karena kau bisa saja menyesali sumpahmu sendiri."

"Seharusnya kau tau dimana tempat yang baik untuk melakukan hal bodoh seperti tadi! Terlalu banyak pelayan yang melihat."

"Bagaimana mungkin aku bisa berfikir panjang jika melihatmu terluka?"

Luhan menggigit bibirnya karena kehabisan kata-kata. Terlalu manis.

"Kemarilah, Luhan. Peluk aku, Aku akan berusaha menghilangkan rasa sakitmu karena luka itu. Kau merasa nyeri, kan?"

"Aku tidak akan melakukan apapun yang bisa menyenangkanmu!"

"Ya, itu hanya untuk sementara ini. Setelah itu kau akan melakukan apapun untuk menyenangkanku, bukan? Satu lagi, kau tidak perlu memikirkan pelayan manapun karena…"

"Karena mereka akan tutup mulut!"

"Karena mereka sudah memaklumiku dengan sangat sempurna. Seperti yang pernah ku bilang. Tidak ada satu halpun yang bisa membuatmu bisa menolakku berlama-lama. Kau akan segera jatuh dalam pelukanku dalam waktu singkat, Luhan!"

Luhan terlihat berfikir lama. Sehun tau kalau Luhan memikirkan segala jenis ancaman yang mungkin akan terjadi kepadanya. Tapi sikap seperti itu semakin memperjelas Sehun kalau Luhan akan segera jatuh ke pelukannya. Tidak ada seorang wanita pun yang bisa menolak Sehun. Pada akhinya Luhan akan takhluk kepadanya.

"Apa kau akan terus melakukan ini sampai aku pergi dari sini?" Suara Luhan terdengar tak bersemangat.

"Mungkin kau tidak akan rela keluar dari rumah ini jika aku terus melakukan hal ini!"

"Kenapa kau terus menggodaku?"

"Karena kau menarik, alasan itu belum cukup? Percayalah, Luhan. Tidak ada satu wanita pun yang pernah ku lewatkan. Bahkan juga Seulgi saat Yifan meninggalkannya."

"Kau benar-benar bajingan. Dia kakak iparmu, kan? Meskipun Yifan bukan saudara kandung…"

"Dia terlalu cantik untuk di sia-siakan dan di biarkan kesepian. Yifan sungguh malang karena melewatkan banyak wanita luar biasa dalam hidupnya."

Sehun kembali mendekat kepada Luhan. Meskipun wanita itu melangkah mundur untuk menghindarinya, tapi Sehun berhasil menggapai tangannya. Setelah ia yakin kalau Luhan tidak akan melepaskan diri, Sehun berteriak memanggil Mrs. Philarette. Wanita tua itu kembali masuk ke dalam ruangan dan memandang Sehun menunggu perintah.

"Siapkan obat secepatnya. Aku harus mengobati luka ini."

Luhan membiarkan dirinya diseret Sehun ke ruang tengah. Bukan karena ia menyerah, tapi karena mungkin ia sedang berfikir bahwa Sehun sama bajingannya dengan dirinya. Jika Sehun meniduri kakak iparnya, maka Luhan bercinta dengan suami sahabat dekatnya. Ia membenci Sehun saat mengatakan hal seperti itu tadi, tapi kemudian kebencian terhadap dirinya sendiri juga timbul. Luhan benar-benar termenung dan dia sama sekali tidak sadar saat Sehun menarik tubuhnya untuk duduk di sofa dan mengobati jarinya.

"Lukamu akan segera membaik. Aku harap tidak ada bekas luka, wanita cantik tidak seharusnya memiliki bekas luka!"

"Aku punya beberapa bekas luka asal kau tau!" Jawab Luhan datar.

Sehun tersenyum. "Karena apa? Kau pernah kecelakaan?"

"Karena aku tidak bisa mendapatkan satu laki-lakipun untuk mengeruk uang mereka. Aku di cambuk dengan ikat pinggang dan ku harap kau tidak menyukai itu."

"Kalau kau mengira aku akan menjauhimu karena itu, kau salah. Aku semakin penasaran dan ingin melihatnya."

Luhan membiarkan Sehun merengkuh pipinya, memandang ke dalam matanya membuat Luhan merasa sangat hancur. Ia meleleh, Sehun begitu tampan dan hangat. Tapi segala ingatan tentang Yifan kembali menyeruak. Bukan kebencian lagi, tapi rasa kasihan. Yifan sangat malang. Kecelakaan yang membuatnya menjadi mayat hidup selama delapan tahun sudah membuatnya kehilangan istrinya dan wanita itu beralih kepada Sehun.

Jika saja Yifan tidak pergi bersamanya, mungkin semuanya tidak akan seperti ini. Mungkin Yifan akan hidup bahagia bersama dengan wanita yang bernama Seulgi itu.

"Apa yang kau fikirkan?" Sehun berujar pelan.

"Yifan! Seandainya aku tidak ada dan Yifan tidak pernah melarikan diri, apakah kau akan tetap menggoda Seulgi?"

"Kau sedang cemburu mendengar ucapanku tadi?"

"Tidak sama sekali" Luhan menjawab dengan sangat yakin.

"Sekarang apa yang kau tawarkan sebagai jawaban?"

"Aku tidak pernah berhenti menggoda siapapun, sayang! Salahnya sendiri karena tidak bisa menolakku."

"Yah, aku sudah menduganya!"

Sehun tersenyum memandangnya dalam jarak yang begitu dekat. Ia bisa saja mencium Luhan sekarang, tapi Sehun merasa harus menyimpannya untuk nanti. Luhan sedang tidak fokus, tidak memikirkannya. Kalau dia mencium Luhan tapi wanita itu tidak memikirkannya, Sehun tidak akan memaafkan dirinya. Wanita itu harus memikirkan Sehun saat bersama dengan Sehun. Bukan orang lain.


TBC


Apdet lagi huweeeeeee!

Happy New Year!/telat-_-/ maaf ya seyeo baru ngucapin sekarang. Abisnya seyeo lupa nggak ngucapin di apdet an chap kemaren XD.

Btw, apakah ffn lagi error? review-nya kalian itu ke itung/nambah. Tapi pas di liat ga ada. Seyeo kira itu mungkin akun-nya seyeo yang bermasalah, tapi pas seyeo log out dan cek ff-nya author lain ternyata sama. Dan itu bikin seyeo jadi emosi tingkat dewaaaaaa!

Okee, tapi nggak papa. Karna seyeo cantik dan baik hati/eaaaaakkk,pedeluthor/, seyeo apdet buat kalian :)

Oiya sama buat Nam NamTae, aku nggak bermaksud ngulang bagian cerita kisah awal luhan tapi karena ini REMAKE, dan part itu memang sudah ada di novelnya ya aku nggak bisa nge-rubah seenaknya gitu aja apalagi ngilangin part yang lumayan panjang tanpa se-ijin penulis aslinya. Tapi makasih udah nyempetin review yaaa :)

Sekali lagi buat para readers-nim semua, ini cuman REMAKE yaa. Bukan murni karya aku. Seyeo cuman ngubah nama tokoh-nya saja. Kalo pun ada hal yang dirubah, dihilangkan atau ditambah seyeo pasti bilang kok.

Makasih buat yang nge-fav, nge-foll, dan terutama kalian yang nge-review, uuhhh seyeo cinta kamuuuu /civokbasyah:*/ maaf gak bisa nyebutin satu-satu karena ffn yang lagi error -lagidanlagi- XD.

Last..
Review juseyo..
Gomawoooooo...:*:*