Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
Makan, bermalas-malasan, nonton tv, Luhan benar-benar seperti berada di rumah. Ia menikmati semuanya dengan sangat santai. Tentu saja ia harus menikmati semuanya sebelum penghuni lain di rumah ini pulang dan menyiksanya. Selanjutnya mungkin Luhan akan di perlakukan seperti anak tiri, atau mungkin Luhan akan kehilangan kendali diri dan melawan.
Apapun akan dia lakukan untuk mempertahankan dirinya selama ini dan itu mungkin terjadi di rumah ini. Dirinya dan Sehun seringkali bertengkar, laki-laki itu selalu mengganggunya seolah-olah mengganggu Luhan adalah hobi yang membuatnya kecanduan.
Luhan sudah melakukan banyak hal agar Sehun berhenti, namun tidak ada satupun usahanya yang berhasil. Pada akhirnya ia hanya akan memilih untuk berdebat karena hanya dengan berdebat Luhan bisa membentengi dirinya dari godaan Oh Sehun .
Pagi ini Oh Sehun sepertinya pulang lebih cepat. Seharusnya ia ada di rumah saat mendekati malam pada hari-hari kerja, tapi untuk kali ini laki-laki itu pulang beberapa jam lebih cepat. Sehun hanya menghilang untuk mengganti pakaiannya sejenak lalu kembali mengganggu Luhan yang sedang menonton TV. Luhan harus menghela nafas berkali-kali karena jelas kalau Sehun tidak bermaksud menonton televisi. Laki-laki itu malah sibuk menikmati aksinya, menonton Luhan.
"Hentikan!"
Luhan menghempaskan majalah yang ada di tangannya ke atas meja. Untungnya meja itu cukup kuat untuk tidak pecah dalam satu kali serangan. Luhan memandangi Sehun dengan sangat galak dan harus mendengus karena laki -laki itu tersenyum.
"Bagaimana ini? Aku juga sangat ingin berhenti. Tapi tidak bisa!"
"Kau bisa melakukan hal lain yang lebih berguna, membantu Mrs. Philarette menyiapkan makan malam misalnya!"
"Ini masih sangat siang untuk menyiapkan makan malam. Kau ingin mencari cari alasan agar aku tidak bisa memandangmu? Semua orang sedang bermalas-malasan pada jam segini dan hanya aku yang sibuk, menikmatimu dalam artian yang, yah….tidak sebenarnya. Meskipun aku berharap aku bisa mengecapmu untuk arti yang sebenarnya!"
"Kau tidak bisa mencari wanita lain untuk menyalurkan hasratmu itu? Kau sangat tampan dan pasti banyak wanita yang berharap bisa melakukan itu padamu!"
Sehun berpindah duduk ke sisi Luhan, Luhan harus menyesali ucapannya tentang Sehun yang tampan karena kata-kata itu menyebabkan Sehun semakin bersemangat untuk mendekatinya. Luhan ingin melarikan diri, tapi Sehun sudah merengkuh pinggangnya cukup kuat meskipun hanya dengan satu tangan.
"Astaga,Luhan! Pinggangmu dalam sekali, aku seringkali membayangkan bagaimana mengangkatnya saat kau duduk di atas pangkuanku!"
"Berhentilah berbicara tentang itu. Kenapa kau sangat suka membicarakan hal yang vulgar kepadaku!"
"Karena aku menginginkanmu. Kau tau itu. Sekarang jawab, benarkah aku tampan menurutmu? Benarkah banyak wanita yang mengharapkan untuk bisa bercinta denganku?"
Luhan mulai di jalari rasa gugup. Ia berusaha menegakkan kepala dan mengangkat wajahnya lalu mengeluarkan ekspresi tergalak yang pernah dilakukannya.
"Setidaknya beberapa pelayan wanita mengatakan itu."
"Dan kau termasuk kedalam salah satu wanita itu?"
"Kalau aku termasuk ke dalamnya, apakah aku akan menawarkan alternatif untuk mencari perempuan lain?"
"Siapa tau, kau hanya takut jatuh cinta padaku!"
"Aku sudah lama berhenti mengharapkan cinta. Semenjak hal itu di renggut dengan kejam dari takdirku."
"Oh, Luhan…" Suara Sehun terdengar makin lembut.
Selanjutnya, Sehun benar-benar menjadikan kata-katanya tadi sebagai kenyataan. Dengan sedikit usaha dan tenaga lebih, Sehun menggenggam pinggang Luhan dengan kedua tangannya dan memindahkan wanita itu ke pangkuannya. Ia segera memandang Luhan sebelum gadis itu sempat berontak lalu mengucapkan sesuatu.
"Mengapa hanya ekspresi-ekspresi seperti ini yang kulihat dari wajah cantikmu? Kau akan marah, lalu bersedih, lalu berfikir dengan ekspresi sedih, tapi kau tidak pernah terlihat berfikir kalau marah-marah."
Lalu Sehun tertawa, tawa itu benar-benar di luar rencananya. Tapi ia berhasil mengalihkan perhatian Luhan. Wanita itu tidak berontak seperti biasa. Luhan malah memandanginya dengan tatapan heran.
"Menurutmu ada yang lucu?" gumamnya.
Sehun menggeleng. "Tidak, aku hanya membayangkan saat kau marah -marah!"
"Jadi selama ini kau selalu menertawakanku kalau aku marah-marah!"
"Sudahlah, Aku tidak ingin membahas soal marah-marah. Katakan padaku, apa yang bisa membuatmu tersenyum?"
"Banyak uang!"
"Kau bohong. Kalau sebegitu cintanya kau dengan uang, kau tidak akan menandatangani surat itu!"
Luhan menghela nafas. "Bagaimana dengan kebebasan?"
"Mungkin…"
"Ku rasa tidak!" Luhan meralat ucapannya sendiri.
"Selama aku bersama Kai, aku tidak pernah tersenyum dari hatiku yang paling dalam. Aku sudah lama tidak melakukan itu, sudah lama tidak merasakan arti senyumku."
"Kalau begitu, Demi Sehun tersenyumlah!"
"Aku mana mungkin bisa tersenyum karena kau!"
"Kalau begitu bagamana demi nyonya Philarette?" Luhan menggeleng.
"Demi Jackson? Pohon pinus? Ikan-ikan di danau? Salju di atas bukit itu? Ayolah…"
"Kau memperlakukanku seperti anak kecil."
"Kau memang lebih kecil dariku. Berapa umurmu, Luhan?"
"Tiga puluh sa…"
"Dua puluh tujuh!" Sehun meralat ucapan Luhan.
Dia selalu meralat ucapan orang lain.
"Kau tidak perlu berbohong tentang umurmu kepadaku. Itu bisa kau lakukan kepada siapapun termasuk pada orang-orang di Denmark, tapi tidak padaku!"
Luhan memandang Sehun sejenak lalu memalingkan wajahnya untuk tersenyum. Entah mengapa ia sangat ingin tersenyum. Ini bukan karena Sehun tentunya. Luhan rasa karena akhirnya ada seseorang yang tau usianya yang sebenarnya selain Yifan dan ibu angkatnya.
"Lihat! Kau bersinar seperti bintang kalau tersenyum!"
"Sudahlah, berhenti merayuku!" Luhan berdesis.
Dia tidak bisa menahannya lagi jika Sehun terus menggodanya. Luhan tetaplah wanita biasa yang sangat sulit untuk menolak perlakuan seperti yang Sehun lakukan. Mungkin saja peratahanannya akan runtuh. Bukankah Luhan tidak ingin menyerahkan dirinya kepada laki-laki lagi? Setiap kali ia mencoba mencintai seseorang, maka hal yang buruk selalu terjadi dalam hidupnya.
"Kemesraan apa ini?" Sebuah suara menyeruak ke setiap sendi ruangan.
Luhan memandang seseorang berdiri di belakangnya. Secepat mungkin ia menjauh dari Sehun dan berdiri dengan perasaan tidak enak. Dua orang wanita berada disana, salah seorangnya lebih muda dibandingkan dengan yang lain. Luhan yakin mereka adalah penghuni lain dari rumah ini. Istri Yifan dan ibunya. Sehun berdiri dengan santai lalu berbalik, wajahnya tersenyum saat melihat kedua wanita itu. Secepat mungkin Sehun menyongsong mereka dengan tangan terkembang lalu memeluk bibinya dengan ekspresi penuh kerinduan.
"Aku kira kalian masih akan di sana dua atau tiga hari lagi!"
"Kami punya firasat kalau kau membawa gundikmu kerumah!" Yang lebih muda berujar.
Sehun melirik Luhan sekilas lalu tersenyum, gadis itu menunduk dalam mendengar perkataan Seulgi yang pastinya akan menyakitkan jika itu di tujukan untuk wanita biasa. Tapi Sehun yakin kalau Luhan tidak mudah terluka.
"Benarkah itu, Bibi?"
Oh Sarah tersenyum lalu menggeleng. "Aku hanya tidak betah berlama lama di rumah orang lain. Siapa wanita itu?"
"Ya," Seulgi menyambar.
"Siapa dia? Sudah ku bilang, jangan pernah membawa gundik ke rumah kecuali jika kau…"
"Dia istriku!"
Lalu Sehun berusaha tampak menyesal. "Maafkan aku Bibi, aku tidak memberi tahu mengenai hal ini!"
Sarah memandangi Luhan sekali lagi lalu kembali mengamati wajah Sehun.
"Kau melakukannya lagi, Sehun? Kau menikah lagi dan tidak memberi tahu siapa-siapa! Kau keterlaluan!"
"Aku tau, aku keterlaluan. Tapi aku merasa tidak yakin akan bertahan. Semua pernikahanku hancur dalam waktu singkat, makanya aku merahasiakannya. Tapi beberapa hari belakangan ini, aku tidak bisa meninggalkannya sendiri. Kemarin dia sakit dan aku terpaksa membawanya kemari. Aku tidak akan bisa meninggalkannya sendirian, kan?"
"Tidak, tentu saja kau tidak boleh meninggalkannya sendirian!" Sarah bergumam lalu menoleh ke Luhan.
"Nak, kemarilah!"
Luhan harus menahan nafasnya tak percaya. Ia fikir, Sehun akan memperkenalkannya sebagai simpanan Yifan dan dia sudah pasrah akan menerima caci maki. Tapi pada kenyataannya Sehun mengaku kalau Luhan adalah istrinya.
Luhan tidak tau apakah ini akan menyelamatkannya atau malah menjerumuskannya dalam bahaya yang akan di dapatnya dari Sehun. Kata 'melakukannya lagi' yang tadi Sarah katakan mengesankan kalau Sehun bukan hanya menikah sekali seumur hidupnya. Jadi dia sudah pernah menikah sebelumnya?
"Ayolah, Nak! Jangan takut!" Ucapan Sarah terdengar lembut dan melegakan.
Ia memandang Seulgi sesaat dan wajah wanita itu sangat datar. Perlahan-lahan, Luhan melangkah mendekati Sarah dan berhenti di hadapannya. Ia merasakan pandangan Sarah yang tak biasa, merasakan sentuhan telapak tangan Sarah ke wajahnya. Luhan merasakan kembali kehadiran seorang ibu dalam hidupnya.
"Istrimu sangat cantik!" Ujar Sarah kepada Sehun dan Sehun menunduk penuh ungkapan terima kasih untuk pujian itu.
Sarah lalu menyentuh wajah Luhan dengan kedua tangannya begitu menyadari kalau Luhan tidak begitu tinggi seperti Seulgi.
"Siapa namamu, Nak?"
"Luhan…"
"Kim Luhan ." Sehun menambahkan.
Ia menyisipkan nama Kim untuk mengesankan kalau Luhan adalah seorang gadis Korea seperti keturunan keluarga Oh yang berasal dari sana. Luhan sudah memiliki cirinya, kulitnya yang berkilau dan rambut gelapnya. Dan Sehun yakin, tidak akan ada seorangpun yang meragukan itu. Jika ia membiarkan Luhan mengucapkan nama Xiao, maka serumah akan riuh. Mereka mengenal Luhan sebagai Nona Xiao. Nama Xiao adalah musuh besar di rumah ini dan selalu di bicarakan dalam mimik negatif.
Luhan memandang Sehun sejenak lalu menoleh kepada Sarah lagi. "Ya, Kim Luhan !"
"Berapa umurmu?"
Luhan memandang Sehun lagi dan berharap sebuah bantuan datang kepadanya.
"Ya, katakan saja usiamu. Kenapa masih ragu?"
Sehun lalu menoleh kepada Sarah. "Dia sedikit malu, Bibi. Usianya dua puluh tujuh tahun. Dia pasti sangat gugup bertemu denganmu."
Sarah kelihatan agak kecewa, tapi ia memaksakan sebuah senyum ramah dan berkata, "Baiklah, kalau begitu kami akan membiarkannya beristirahat sampai makan malam tiba. Sampai jumpa di meja makan!" Sarah tersenyum lagi.
"Kenapa kau berbohong seperti itu?!" Luhan mendesah keras.
Firasat buruknya benar-benar terjadi karena semua barang -barang miliknya di pindahkan oleh Jackson ke kamar Sehun begitu sang asisten melihat ribut-ribut di ruang tengah tadi. Ia benar-benar serba salah, mengaku sebagai istri Sehun dan terbebas dari segala hal yang di takutinya atas perlakuan dua orang terdekat Yifan yang lain. Tapi Sehun pasti tidak akan pernah melewatkan kesempatan apapun untuk bisa mengganggunya. Meskipun begitu Luhan merasa hal itu lebih baik bila di bandingkan dengan bayangannya tentang di lempar kotoran setiap hari.
"Baiklah,aku tidak akan bertanya tentang alasanmu lagi. Tapi beritahu aku, apa yang akan kau lakukan dengan kebohongan ini?"
"Hanya berakting. Dan kalau kau bersedia, kita bisa benar-benar bertindak seperti suami istri sungguhan!"
"Aku tidak sedang bercanda, Oh!"
"Sehun, sayang!" Sehun meralat lagi.
"Kau tidak mungkin memanggil suamimu dengan sebutan Oh, kan?"
Luhan memandang Sehun kesal. Laki-laki itu berbaring dengan nyamannya di atas ranjang dengan kedua telapak tangan bertumpu di kepala, ia hanya memandangi Luhan yang berdiri dengan tangan di pinggang dan terlihat sangat kikuk.
Luhan sudah lelah berdiri, dia ingin duduk di ranjang itu dan berbicara dengan Sehun lebih dekat dari yang sekarang mereka lakukan. Tapi seharusnya Luhan tidak mengambil resiko.
"Kau sudah merencanakan ini?" Tanya Luhan lagi.
Sehun menggeleng. "Aku tidak bermaksud begitu. Kata-kata itu muncul begitu saja ketika Seulgi menyebutmu sebagai gundik. Kau bukan simpananku, kan? Atau kau merasa begitu?"
"Tentu saja tidak!"
"Nah, kalau begitu diam dan nikmati saja!"
"Tapi apa yang akan ku katakan bila mereka bertanya macam-macam saat makan malam nanti?"
"Kau tidak perlu mengatakan apa-apa. Biarkan aku yang menjawab dan tetaplah berpura-pura sebagai gadis yang malu-malu. Tapi aku tidak berharap kau seperti itu di hadapanku. Aku tidak suka perempuan yang malu-malu!"
Menyerah adalah pilihan yang tak terelakkan, mungkin ia akan mengikuti segala permainan Sehun ini. Bukankah dia akan membantu apa saja demi kelancaran proses untuk mendapatkan harta warisan itu? Ia harus menyelesaikannya dan segera pergi.
"Sehun, boleh aku masuk?"
Sehun dan Luhan berpandangan. Suara itu milik Mrs, Philarette. Sehun mengangkat bahunya menyerahkan semua keputusan di tangan Luhan. Tidak ada pilihan lain selain membuka pintu. Mrs Philarette memelukknya begitu pintu terbuka, hal itu berhasil membuat Luhan memandang Sehun lagi.
"Jadi kau adalah istri Sehun? Pantas dia tidak memperbolehkanku memanggilmu Nona. Pantas kalau interaksi kalian selama ini begitu intim. Aku salah sangka selama ini!"
Ucapan Mrs. Philarette pada akhirnya membuat Luhan membenarkan ucapan Sehun beberapa waktu lalu kalau wanita itu akan tutup mulut tentang apa saja meskipun itu mengganggunya. Jadi selama ini Mrs. Philarette terganggu dengan segala kelakuan Luhan dan Sehun? Tidak, perlakuan Sehun kepada Luhan lebih tepatnya.
"Aku juga heran karena dia menempatkanmu di kamar lain, sebenarnya aku sudah menduga sejak semula kalau ada hubungan khusus di antara kalian!" Mrs. Philarette melanjutkan ocehannya lagi.
"Aku sengaja meletakkannya di kamar lain, Philly. Jika tidak, seisi rumah akan terganggu dengan suara kami bercinta!"
Luhan berdelik, ia membuka matanya sebesar mungkin untuk menunjukkan kalau ucapan Sehun sama sekali tidak di sukainya. Tapi kelihatannya alasan itu berhasil menenangkan hati Mrs. Philarette. Wanita itu tersenyum lagi.
"Nyonya Sarah memintaku memanggil kalian. Sudah saatnya makan malam!"
"Baiklah, kami akan segera datang!" Akhirnya Luhan mengeluarkan sepatah kata juga.
Mrs. Philarette mengangguk lalu keluar setelah sebelumnya menepuk-nepuk bahu Luhan. Ia menghilang, kehangatan pelukannya berganti dengan kehangatan pelukan Sehun. Secepat mungkin Luhan berusaha menjauhkan Sehun dari dirinya. Dia sedang tidak ingin berteriak, Tapi pandangannya sudah cukup menyiratkan kalau Luhan tidak bisa menerima tindakan Sehun barusan.
"Aku hanya ingin memberi selamat!" Gumam Sehun membela diri.
"Aku harap kau diam seperti itu saat menghadapi Sarah dan Seulgi di meja makan!"
Sehun menggapai tangan Luhan untuk di gandeng, Luhan menolak dan ia membuat Sehun memaksanya. Selanjutnya Luhan harus merasakan genggaman keras itu sampai mereka berada di meja makan dan duduk menghadapi Sarah beserta menantunya.
Makan malam di mulai, bangku di kepala meja di biarkan saja kosong dan Luhan sama sekali tidak berani protes. Di rumah ini sama sekali tidak jelas siapa yang menjadi kepala keluarga, Jika Yifan masih hidup, mungkin pria itu yang akan menempatinya. Mungkin Sarah lebih berhak untuk duduk disana, tapi mereka bisa saja membiarkan kursi itu tetap kosong untuk beberapa lama demi menghormati kematian Yifan.
"Kau benar-benar tidak bisa mengurus istrimu dengan baik." Seulgi mulai dengan aksinya untuk memperkeruh suasana.
"Bagaimana mungkin kau membiarkan istrimu memakai pakaian seperti itu."
Sehun menoleh kepada Luhan dan ia melihat Luhan memandangi pakaiannya. Luhan hanya mengenakan T-shirt dan celana pendek seperti biasa. Itu pakaian rumahannya dan ia sama sekali tidak menyangka kalau di rumah ini, hal sesepele pakaianpun harus di komentari. Luhan menggigit bibirnya, tapi Sehun segera menggenggam tangannya yang berada di atas meja sesaat lalu menoleh kepada Sarah. Sepertinya ia sedang menghindar untuk berbicara dengan Seulgi. Sejak awal, Sehun selalu bertindak seolah-olah Seulgi tidak begitu penting.
"Aku juga ingin dia mengenakan gaun yang indah. Tapi, Bibi. Aku sudah berusaha mengajaknya untuk membeli pakaian-pakaian itu dan dia selalu menolak. Luhan tidak mau menghabiskan uangku, dia terbiasa dengan pakaian seperti ini dan aku mencintainya apa adanya. Aku sangat terharu karena dia tidak berfikir untuk menghabiskan uangku seperti wanita kebanyakan!"
Sehun melirik Seulgi sejenak, lalu "Dia bahkan siap menyerahkan semua yang di milikinya untukku jika saja aku menginginkannya."
Sarah memandang Luhan dengan sangat berterima kasih, kebohongan Sehun berhasil. Sehun kembali melanjutkan ucapannya.
"Ia hanya seorang perempuan dari keluarga biasa, aku bertemu dengannya sudah sangat lama dan sekitar tiga bulan yang lalu aku melamarnya, Luhan sama sekali tidak mengenalku sebagai Oh. Dia bahkan marah saat mengetahui itu. Dia pernah mengatakan kalau dia tidak ingin berdekatan lagi dengan Oh manapun di muka bumi." Untuk kalimat yang terakhir, Sehun sama sekali tidak berbohong.
"Benarkah?" Sarah akhirnya bergumam.
"Kenapa begitu?"
"Karena dia berharap memiliki keluarga biasa yang sederhana, Bibi. Dia marah terlalu lama saat merasa di bohongi dan aku hampir gila karena itu."
"Astaga, Sehun! Akhirnya tiba juga hari dimana kau jatuh cinta! Sepertinya kau sangat mencintai Luhan dan aku senang akan hal itu. Aku harap yang kali ini untuk selamanya. Aku menyesal tidak menghadiri pernikahan kalian."
"Aku juga menyesal melakukan pernikahan tanpamu, Bibi!"
Sarah tersenyum lalu berbicara kepada Luhan. "Seperti apa keluargamu,Luhan?"
Luhan terdiam sejenak, ia memandangi Sehun setelah meminum segelas air putih. Luhan sama sekali tidak tau harus berbohong seperti apa. Tapi bukankah tadi Sehun sudah mengatakan kalau Luhan berasal dari keluarga yang sangat sederhana? Luhan merasa kalau ia tidak perlu berbohong.
"Aku tinggal bersama ibuku di Quebec. Delapan tahun yang lalu, ibuku meninggal dan aku akhirnya harus berusaha hidup sendiri. Aku sangat menyayangi ibuku, dia satu-satunya keluarga terbaik yang ku miliki."
"Sekarang kau juga memiliki aku!" Sehun menambahkan.
"Ya, aku dan Seulgi juga keluargamu sekarang. Lalu bagaimana caranya kau bisa hidup? Jika saat ini usiamu dua puluh tujuh, itu artinya saat ibumu meninggal, usiamu masih Sembilan belas tahun?"
"Aku sempat berfikir untuk mencari pekerjaan dan berkuliah tapi…" Luhan menggantung ucapannya.
Haruskah ia memberi tahu kepada Sarah bahwa Luhan menjual rumah peninggalan ibu angkatnya dan membeli sebuah mobil tua untuk menikmati hidupnya? Dia akan kehilangan kesan sebagai menantu yang baik jika menceritakan itu. Tapi Luhan beruntung, Sehun segera memeluknya dan menyembunyikan wajah Luhan di kedalaman dadanya.
"Oh, Luhan. Aku tidak ingin kau mengingat itu." Desis Sehun.
"Apa yang terjadi?"
"Dia di ambil oleh bibinya lalu di pekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di rumah-rumah orang kaya. Luhan sangat menderita di masa mudanya. Ia bahkan tidak pernah merasakan bagaimana bahagianya menjadi mahasiswa. Seharusnya saat itu ia bersiap-siap untuk berkuliah. Tapi pekerjaan demi pekerjaan membuat Luhan hanya bisa bermimpi."
Ucapan Sehun terdengar nyata membuat Luhan terbawa suasana dan meneteskan air mata. Hal itu semakin meyakinkan Sarah akan kebenaran cerita. Luhan segera menghapus air matanya begitu Sehun melepaskan pelukannya. Sehun sudah memeluknya dua kali hari ini. Dia pasti akan berusaha mengambil kesempatan lagi!
"Sudahlah, aku tidak ingin menjual cerita sedih!" Luhan berdesis.
"Ya, tapi kita harus berterima kasih kepada bibimu itu. Jika bukan karena kekejamannya kita tidak akan bertemu!"
Sehun kemudian menoleh kepada bibinya.
"Kau ingat dengan Rafael teman kuliahku dulu? Luhan bekerja di rumahnya sebagai pembantu rumah tangga. Saat itu aku melihat betapa perhatiannya Luhan terhadap pekerjaan rumah, ia masih sangat muda dan harus bekerja keras. Aku seringkali mengikutinya dan mengetahui kalau Luhan tidak hanya bekerja di rumah Rafael. Dia juga mencuci piring di rumah-rumah makan Chinatown juga membagi-bagikan pamphlet, aku sangat mengaguminya dan perlahan kami berteman. Tapi seharusnya aku sadar kalau perhatianku sejak awal kepadanya bukanlah perhatian seorang teman. Jika tidak, aku pastikan Luhan sudah ku miliki sejak dulu dan aku tidak perlu menyia-nyiakan banyak waktu dengan wanita lain. Aku tidak perlu mengalami kegagalan pernikahan berkali-kali, dan…"
"Ya, sudahlah. Kau tidak perlu mengingat itu lagi. Kau selalu sedih kalau mengingat kegagalan pernikahanmu!" Sehun mengangguk.
"Baiklah bibi, aku dan Luhan tidak ingin merusak suasana makan kalian. Kami akan kembali ke kamar dulu!"
"Ya, baiklah!"
Sehun kembali menggenggam tangan Luhan dan menggandengnya menaiki tangga menuju lantai atas. Dia berbohong dengan sukses dan hal itu berhasil membuat mereka berdua tertawa begitu pintu kamar Sehun terkunci. Luhan memegangi perutnya karena lelah menahan tawanya agar tidak terdengar sampai keluar. Sehun memang benar-benar aktor yang hebat.
"Kau berbohong dengan sangat brilian, Oh!"
"Panggil aku Sehun! Sudah berapa kali aku memintamu!" Sehun menggeram.
"Kau juga pantas di acungi jempol atas air matamu. Bibiku sangat perasa dan baik hati. Dia tidak akan pernah mengungkit masa lalumu lagi setelah ini."
"Ya, ini semua berkat aktingmu yang terasa sangat nyata. Aku bersumpah, kau membuatku hampir meledak dan terisak karena cerita bohong itu!"
Luhan tertawa sejenak. "Dan kau benar-benar sudah menikah? Berapa kali?"
"Tiga atau empat kali. Dan semuanya berakhir dalam waktu beberapa terakhir membuatku rugi besar. Ia membuatku membayar mahal sebagai uang tutup mulut karena saat itu mantan istriku memergoki aku bercinta dengan Seulgi. Sarah bisa jantungan mendengarnya. Dan kau lihat wajah Seulgi tadi?"
Luhan tertawa lagi, wajah Seulgi memang tidak bisa di lupakan. Ekspresi wanita itu benar-benar menunjukkan ketidak menyenangkaan yang besar saat Sehun mengucapkan kalau ia telah menyia-nyiakan hidupnya dengan banyak wanita selain Luhan. Wanita itu pasti masih menyukai Sehun.
"Dia masih mengharapkanmu!" ujar Luhan di sela tawanya.
"Tapi aku sudah bosan padanya. Dan ku harap wanita jalang sepertinya merasa tersakiti karena menghianati saudaraku!"
Sehun terdiam sejenak lalu memandang Luhan dalam. "Aku senang melihatmu tertawa malam ini, Luhan. Aku bersumpah kalau kau sangat cantik."
Wajah Luhan tiba-tiba berubah masam. Ia beringsut menjauh dari Sehun dan bergumam tegas.
"Haruskah aku mengusirmu keluar kamar? Kita tidak mungkin tidur di ranjang yang sama malam ini, Oh!"
TBC
Chap ini ada yang seyeo tambahin soalnya biar pas sama tokoh-tokohnya. Buat yang masih bingung bisa pm seyeo.
Big Thank's and Big Hug :
Angel Deer, Juna Oh, Selenia Oh, Misslah, hunnaxxx, SyiSehun, Arifahohse, rikha-chan, HunHanCherry1220, molly a.k.a syfr17, ceszyy, Ludeer, JodohSeHun, Lisasa Luhan, XikaNish, Hyebinbaekyeolshipper, And All Guest.
Last..
Review Juseyo..
Gomawoooooo...:*:*
