Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
Q : Hunhan bakalan bersatu kan?
A : PASTI.
Q : Ada NC gak?
A : Karena ini rated m otomatis ada. Tapi gak tau chap berapa, jadi ikutin terus aja :)
Q : Yifan udah gitu aja?
A : Kalo yang dimaksud itu yifan-nya, dia memang udah gitu aja kan udah mati. Tapi nanti bakal ada pembahasan alasan dibalik kematiannya yifan.
Karena sikap egoisnya, Sehun terpaksa membiarkan Luhan tidur di lantai bermalam-malam belakangan. Ia berharap Luhan merasa tidak nyaman dan berpindah ke ranjang bersamanya. Tapi kelihatannya Luhan cukup keras kepala untuk tidak melakukan hal seperti itu. Gadis itu, entah mengapa terus bertahan untuk tidak berada di dekatnya dan Sehun harus kesal karena itu terus bertahan hingga akhir minggu selanjutnya tiba.
Luhan ternyata tidak semudah yang diduganya. Setiap kali Sehun bangun, ia tidak akan menemukan Luhan di kamar. Pagi ini juga sama. Luhan sudah berada entah dimana, mungkin bersama Mrs. Philarette di kebun.
Sehun melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya dengan tidak bersemangat. Ia harus segera menemukan Luhan sebelum waktu sarapan tiba. Setelah mandi, Sehun segera keluar dari kamarnya demi mencari Luhan dan membuat rencana untuk hari ini, juga untuk menggodanya lagi. Sehun menggelengkan kepalanya. Ia sangat menikmati tahapan demi tahapan untuk mendapatkan Luhan. Semua rencana Jackson berhasil dengan brilian sejauh ini.
"Sehun!" Sehun terkejut.
Jackson sudah berada di hadapannya seperti Jin yang siap hadir saat Sehun memikirkannya kapan saja. Tapi ada yang aneh, Jackson berbisik.
"Astaga, Jackson…"
"Stt!" Jackson memberi isyarat kalau Sehun harusnya mengecilkan suaranya.
"Dilantai tiga, Seulgi sedang menghasut bibi Sarah tentang pernikahanmu!" Jackson berbisik sangat pelan.
Bukankah mereka di lantai tiga? Lalu mengapa Jackson harus berbisik di lantai dua?
"Seulgi mengatakan apa?"
"Sebaiknya kau melihatnya sendiri! Kurasa, mereka mengira kau berada di sekitar Luhan. Wanita itu sedang di halaman bersama Mrs. Philly!"
Sehun memutar matanya kesal. Ia melangkah menuju lantai tiga demi mengetahui apa yang Seulgi bicarakan. Wanita itu benar-benar berfikir akan mendapatkannya setelah Yifan meninggal? Sehun memang suka bersenang -senang, tapi dia tidak akan pernah berfikir untuk benar-benar menikahi Seulgi setelahYifan meninggal.
Wanita itu pasti mengalami kekecewaan yang teramat sangat saat mengetahui kalau Yifan tidak mewariskan apapun kepadanya. Tentu saja Yifan harus seperti itu dan sekarang Sehun menyetujuinya. Jika bukan karena Yifan, Sehun tidak akan bertemu dengan Luhan seperti yang terjadi saat ini.
"Aku sudah bilang, Bu! Wanita itu tidak cocok menjadi istri Sehun." Suara Seulgi terdengar yakin.
Ia mengucapkan kalimat itu terlalu keras tanpa memperhitungkan jika ada seseorang yang mendengarnya. Seulgi terlalu yakin kalau semua orang di rumah ini akan tutup mulut dan pura -pura tidak perduli. Tapi Sehun beruntung memperkerjakan Jackson. Pemuda itu selalu menyampaikan apapun yang di dengarnya kepada Sehun.
"Dia cantik!" Oh Sarah membantah.
"Cantik saja tidak cukup, Bu! Dia selalu bergaul dengan pelayan. Memalukan bukan?"
"Dia di besarkan sebagai pelayan, sayang. Seharusnya kau mengerti dengan hal itu. Lagi pula tidak masalah jika ada salah satu anggota keluarga kita yang perduli dengan para pelayan itu. Luhan menunjukkan sikap yang berbeda."
"Lalu baju-baju kumuhnya?"
"Bukankah Sehun sudah mengatakan…"
"Iya, Tapi aku tidak melihat mereka bersikap selayaknya suami istri. Sehun selalu menggebu-gebu saat bersama istrinya yang lalu, tapi tidak dengan wanita ini. Dia kelihatan sedang menjaga sikap…"
Sial. Bisik Sehun.
Ia tau kalau Bibinya tidak akan menanggapi ocehan tak berguna dari mulut Seulgi. Tapi sikap Seulgi itu bisa menunjukkan apa yang terjadi antara dia dan Sehun sebenarnya, wanita itu juga tampak tidak percaya dengan kebenaran pernikahan Sehun dan Luhan.
Sehun berjingkat turun untuk menyusul Luhan di halaman. Ia harus membuat Seulgi sengsara dengan kata -kata bodohnya. Wanita itu harusnya berhenti mengganggu Sehun, Sehun tidak akan pernah menjadikan Seulgi sebagai pendamping hidupnya selamanya. Sehun tidak pernah berniat menjadikan siapapun sebagai pendamping hidupnya untuk selamanya.
Luhan berada disana, sedang mengobrol bersama Mrs. Philarette yang sibuk menyirami bunga. Gadis itu benar-benar suka meramaikan suasana dengan kata-katanya, Mrs. Philarette terlihat sangat riang setiap kali bersamanya. Dengan sedikit nekad, Sehun menyelipkan tangannya di pinggang Luhan dan memeluknya dari belakang. Ia membuat Mrs. Philarette tersenyum dan bergerak agak menjauh.
Luhan bergindik, ia harap dirinya sama sekali tidak kelepasan untuk mencaci maki Sehun di depan beberapa orang pelayan yang berkumpul di kebun. Luhan lebih memilih memegangi tangan Sehun agar tidak meraba tempat lain di tubuhnya. Dengan sedikit geram Luhan berbisik.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku merindukanmu!"
"Hentikan!"
"Bagaimana aku bisa berhenti kalau Bibi Sarah dan Seulgi memandang kita dari lantai tiga—jangan menoleh. Itu sangat berbahaya sayang!" Sehun mencium bahu Luhan sejenak.
"Lalu mengapa kau harus melakukan ini?"
"Seulgi menghasut Bibi tentang pernikahan kita. Dan aku takut bibi mulai curiga. Menurut mereka aku terlalu menjaga sikap saat bersamamu! Seulgi mungkin mulai curiga dengan kebenaran cerita kita. Aku juga sangat ceroboh saat mengatakan kalau kita menikah tiga bulan yang lalu sedangkan saat itu aku masih dalam proses perceraianku."
"Artinya mereka memata-matai kita?"
"Lebih tepatnya Seulgi memata-matai kita! Aku bersumpah Luhan, aku tau kalau bukan masalah besar bagimu jika mereka mengetahui identitasmu yang sebenarnya, kau pasti sudah bersiap-siap untuk menghadapi itu. Tapi aku tidak ingin Seulgi terus menggangguku. Jika dia tau kalau kita tidak seperti yang kita perlihatkan, maka habislah aku!"
"Sepertinya dia sangat berharap padamu!"
"Aku tidak pernah memberikan harapan apa-apa kepadanya. Dan satu hal, rahasiaku yang seharusnya tidak ku beritahukan kepada siapa-siapa. Aku melihat Seulgi berbicara berdua di suatu hari saat Yifan sembuh. Ku rasa seseorang memberi tahunya tentang hubunganku dan Seulgi. Saat itu Yifan kelihatan marah dan segera memanggil pengacara. Aku sudah tau kalau posisiku dalam surat warisannya terancam. Yifan pasti mewariskan semua hartanya kepadaku jika bukan karena kejadian itu meskipun Seulgi sesungguhnya lebih berhak. Jadi Yifan memilihmu sebagai penghambat ambisi Seulgi, karena jika aku mendapatkan harta itu, maka Seulgi akan berusaha untuk menikah denganku. Wanita itu pengincar harta Yifan yang sebenarnya."
"Dan apa bedanya dengan kau?"
"Aku? Aku melakukan semua ini atas kehendak Yifan, dia bertanya kepadaku secara langsung. Kau tau, aku dan Yifan sangat dekat dan dia selalu percaya kepadaku. Karena itu aku tidak pernah bermaksud membohonginya. Aku menceritakan semuanya tentang hubunganku dan Seulgi. Maka saat itu juga Yifan mengatakan kepadaku untuk mencari siapapun pewaris hartanya selanjutnya dan membawa dia kerumah ini!"
"Astaga, jadi…"
"Karena itulah, kau harus membantuku menjauhkan Seulgi. Yifan ingin kau yang mendampingi bibiku, bukan wanita culas seperti Seulgi. Seulgi pasti sudah bisa menebak kalau aku bisa mengurusi pemindahan harta itu dengan mudah. Aku bisa saja membunuhmu dan harta itu akan segera pindah tangan kepada pewaris berikutnya, yaitu aku. Tapi aku tidak mungkin membunuhmu. Aku juga tidak akan membiarkannya berkuasa di rumah ini sehingga ia bisa bebas menyakitimu. Seulgi pasti sangat membencimu karena keberadaanmu sebagai istriku sudah sangat mengganggunya!"
Luhan membalikkan tubuhnya perlahan dan memandang wajah Sehun dengan serius. Ia masih merasakan dekapan erat Sehun di pinggangnya.
"Kau tidak sedang berbohong seperti waktu makan malam itu kan?"
"Aku berani bersumpah untuk itu. Aku bahkan merasa lega karena aku tidak sedang sendirian sekarang."
"Kenapa kau tidak menceritakannya kepada bibimu?"
"Dan mengatakan kalau aku menghianati putranya? Aku akan hancur kalau melihatnya hancur. Dia sudah seperti ibu kandungku. Sarah merawatku semenjak ibuku meninggal saat melahirkan aku. Semenjak itu aku dan Yifan benar-benar di besarkan selayaknya saudara se-rahim dan aku tidak mungkin merusak hati Sarah karena kecerobohanku tentang bersenang -senang!"
"Akuilah kalau sekarang kau sedang kena batunya!" Luhan berdesis
"Tidak, jika saja aku tidak menjamah Seulgi. Aku pastikan kalau saat itu Seulgi sengaja memancingku ke pelukannya. Rencananya sangat matang. Jika ia berharap mendapatkan harta itu dari Yifan, maka Seulgi hanya bermimpi karena Yifan tidak mencintainya. Satu-satunya hal yang pasti adalah Yifan mencantumkan nama Oh Sehun dan Oh Sarah dalam wasiatnya. Maka satu -satunya cara hanyalah membuat Yifan segera kehilangan nyawa dan mewariskan hartanya kepadaku dan Bibi. Bibi pasti akan segera memindah namakan harta itu atas namaku, lalu Seulgi akan memaksaku menikahinya dengan berbagai dalih yang membuat Bibi ku percaya bahwa dia lah yang pantas mendampingiku. Lalu dalam waktu singkat…"
"Dia akan membunuhmu?" Sehun mengangguk.
Ia merapatkan pelukannya di pinggang Luhan lalu mencium bibirnya sejenak. Luhan segera memalingkan wajahnya dan Sehun menatapnya heran.
"Aku fikir kau sudah mengerti!"
"Kau sedang mengambil kesempatan, Oh!"
"Sehun!" Sehun meralat lagi.
"Ya, kau tau bagaimana aku. Tapi ini bukan untukku sendiri. Untuk kita bersama. Untuk mempertahankanmu di rumah ini sampai batas waktunya tiba. Juga untuk membuat Seulgi jera—seandainya itu bisa!"
"Berapa kau membayar untuk ini!"
"Kau sudah punya harta yang berlimpah!"
"Tapi kau akan segera mengambilnya!"
"Ya, baiklah. Aku akan membuat hidupmu makmur setelah harta itu kembali ke tanganku. Aku pastikan kalau kau akan menjadi wanita kalangan menengah ke atas setelah berpisah dariku. Sekarang bagaimana?"
"Aku tidak menginginkan harta milik Oh!"
"Aku akan memberikan hartaku yang tidak berkaitan dengan Oh!"
Luhan tersenyum. "Jangan terlalu sering melakukan ini Sehun!"
Ia mengucapkan nama Sehun untuk pertama kali lalu melingkarkan tangannya di leher laki-laki itu. Sesaat kemudian, Sehun merasakan bibir Luhan menyelimuti bibirnya. Hangat dan lembut. Tapi seperti itu saja tentunya tidak cukup. Sehun adalah orang yang menggebu, dan ia tidak bisa memungkiri itu saat merasakan dada Luhan menempel di dadanya. Sehun membayangkan sesuatu yang luar biasa.
Ia membelai punggung Luhan dan berusaha menjejalkan lidahnya. Luhan terpancing, tentu saja. Dan tindakan Luhan menghisap lidahnya membuat Sehun tidak bisa menahan diri untuk meremas pinggul Luhan yang kenyal. Luhan mengerang saat merasakan gairah mulai memenuhi setiap ruas tubuhnya. Terlalu mudah.
Sehun sesungguhnya selalu membuat Luhan bergairah setiap laki -laki itu menggodanya. Tapi selama ini Luhan berusaha untuk menahan diri. Dia tidak punya alasan, dan tidak ingin membuat cinta sebagai alasan. Sekarang Luhan merasa kalau dia sudah punya alasan untuk melakukan ini semua.
"Demi Tuhan. Rasamu sangat nikmat, Luhan!" Sehun berbicara dengan agak keras, ia ingin siapapun yang ada disana mendengarnya.
Beberapa saat kemudian semuanya berbalik. Sehun yang menguasai Luhan. Ia yang menjamah Luhan lebih banyak. Kedua tangannya mengangkat pinggul Luhan sehingga wanita itu tidak lagi menginjak tanah. Ia benar-benar melayang karena keterampilan Sehun dalam hal seperti ini sangat memukau.
Laki-laki itu mengenali setiap ruas tubuh wanita seperti mengenali dirinya sendiri. Ia tau dimana dirinya bisa membuat Luhan mengerang, mendesah, merintih. Luhan berusaha melepaskan kendali yang sudah di kuasai oleh Sehun. Jika tidak, ia bisa meledak dan mereka akan bercinta di halaman saat itu juga. Dia tidak ingin hal itu terjadi.
Luhan mencapai puncak pemikirannya saat merasakan bukti gairah Sehun menonjok bagian bawah perutnya. Jika tidak di lepaskan sekarang, maka mereka akan berakhir dengan telanjang. Luhan menjauhkan wajahnya dan itu belum cukup untuk membuat Sehun melepaskannya. Ia harus memegangi kedua belah pipi Sehun dengan tanganya. Sedikit keras tapi Sehun pada akhirnya melepaskan Luhan setelah menggigit bibir bawah Luhan dengan lemah.
Luhan mencoba menenangkan nafasnya yang menggebu lalu memandangi bagian bawah perutnya yang masih di tempeli oleh Sehun. Sesaat kemudian Luhan memandang wajah Sehun yang begitu dekat dengannya.
"Kau sangat mudah terangsang, Oh!"
"Ya, kau cukup ahli dalam hal ini. Kau sangat agresif dan aku menyukainya. Tapi aku yakin kalau kau juga sudah sangat basah!"
Sehun mulai kembali meraba Luhan dan berusaha menelisip ke dalam celananya. Luhan menolak dan menjauh.
"Kau tidak akan bisa membuktikan apa -apa!"
"Biarkan aku melakukannya…"
Sehun tidak sanggup melanjutkan ucapannya saat Luhan melarikan diri darinya.
"Luhan, kau tidak bia membohongi dirimu terus menerus. Kau menginginkanku!" Teriaknya.
Dan langkah demi langkah Sehun berusaha menyamai Luhan. Tidak butuh waktu lama untuk melihat Luhan dan Sehun berkejar-kejaran di sekitar taman setelahnya. Pemandangan yang sungguh menyakitkan hati untuk seseorang yang hanya bisa melihat dari kejauhan.
"Kau dan Sehun, sudah berapa lama kalian menikah?"
Seulgi berusaha tersenyum. Tapi nada suaranya terdengar sangat mengintimidasi. Luhan merasa beruntung karena pada malam sebelumnya, ia merasakan firasat tentang ini sehingga memaksa Sehun untuk memperbincangkan semuanya agar tidak ada satupun dari ucapan mereka yang berbeda. Sehun sangat bermalas-malasan saat itu. Baginya Luhan tidak harus mengatakan apa-apa. Cukup Sehun yang berbohong. Tapi di saat itu Luhan beranggapan kalau hal itu sangat perlu, bisa saja Seulgi atau bibinya menarik Luhan ke dalam kamar mereka untuk bicara dan hari ini benar-benar terbukti.
Seulgi membawakan pudding coklat sebagai pembuka saat ia menyapa Luhan yang selalu berdiam diri di kamar setiap kali Sehun tidak ada di rumah. Luhan sama sekali kesulitan untuk menolak niat baik yang ia tau tidak tulus. Tapi bukankah ia sedang berperan sebagai gadis lugu yang dinikahi oleh bajingan seperti Sehun? Ia harus terus berpura-pura tidak tau, berpura-pura mempercayai Sehun sepenuhnya.
Hari itu Seulgi benar-benar mengamati setiap sendi kamar itu seolah-olah dia tidak pernah melihatnya. Jadi dimana selama ini mereka bercinta jika bukan di kamar Sehun? Seharusnya Luhan tidak bertanya karena terlalu banyak kamar dirumah ini.
Beberapa hari yang lalu Luhan menguping pembicaraan beberapa orang pelayan yang menganggap Luhan sangat tidak beruntung karena menikah dengan laki-laki yang seringkali mendatangi iparnya untuk sekedar memuaskan hasrat kelelakiannya. Lalu beberapa saat kemudian pembicaraan mereka berubah saat masuk ke dapur. Luhan yakin kalau semua pelayan tau tentang hubungan Sehun dan Seulgi sebelumnya. Hanya saja mereka terbiasa untuk tidak terlihat dan tidak bersuara sehingga rahasia itu masih aman dan belum sampai di telinga Sarah.
Setelah kejadian semi bercinta di halaman waktu itu, Luhan juga beberapa kali mendengar Seulgi mengamuk di kamarnya. Mrs Philarette memintanya untuk lebih berhati-hati karena saat itu Seulgi terlihat sangat membencinya.
Jika bukan karena Mrs. Philarette yang mengantarkan pudding coklat itu, Luhan yakin kalau ia tidak akan menyentuhnya. Seulgi bisa saja memasukkan sesuatu kesana. Tapi sepertinya tidak. Jadi Luhan tetap bisa ber-akting polos dan menyantap pudding coklat itu secara perlahan.
"Kau membuat semua ini sendiri?" Luhan berusaha untuk terlihat sangat ramah.
"Ya, ku rasa kau berkhayal kalau mengira hal itu akan terjadi. Aku tidak akan pernah memasak!" Jawab Seulgi.
Jelas ia sedang berusaha keras untuk bersikap lebih baik. Seandainya Luhan tidak tau tentang segala kelicikannya, Luhan pasti tidak akan mendengar kejanggalan dari setiap nada irama yang di ucapkannya.
"Ku rasa Mrs. Philarette yang membuat. Ini sangat enak, sungguh!"
"Apa alasanmu menikah dengan Sehun? Benarkah kau tidak tau siapa Sehun ?"
Luhan memandang Seulgi, berpura-pura tidak mengerti dengan kata-katanya.
"Maksudmu kalau dia Oh?"
"Kau cukup cerdas Luhan. Tapi kalau kau berharap setumpuk harta saat menikah dengan Sehun, maka kau tidak akan mendapat apa-apa. Suamiku tidak mewariskan apapun kepadanya. Ia hanya mengurusinya sampai pewarisnya ditemukan! Seseorang bernama Xiao Lu."
"Benarkah?" Luhan bergindik, ia mulai khawatir saat mendengar kambali nama aslinya di sebut-sebut.
Luhan tidak akan meminta Seulgi membahas tentang Xiao Lu jika dia tidak ingin kehilangan kendali dan menarik rambut Seulgi secara brutal. Setidaknya itulah caranya mempertahankan diri dalam persaingan ketat di rumah bordil milik Geronimo.
"Aku tidak mengharap kan itu. Aku sedang menata diri untuk hidup dalam lingkungan ini. Kau pasti tau kalau aku selalu kikuk jika berhadapan dengan orang kaya seperti kalian. Aku tidak ingin hidup seperti ini selamanya. Aku harap setelah wanita itu di temukan, Sehun bersedia meninggalkan semua ini dan memulai hidup baru bersamaku!"
"Kau fikir Sehun akan bersedia meninggalkan kesenangan-kesenangan itu?"
"Kesenangan? Sehun selalu mengeluh tentang ini."
Luhan menyuap potongan pudding yang sempat terlupakan. Ia menikmatinya, coklat membuat Luhan merasa lebih percaya diri untuk menghadapi Seulgi. Ia memandang Seulgi dengan seksama. Sangat cantik, kulitnya kemerahan dan indah. Dia benar-benar wanita yang hidup dalam gelimang perawatan mahal. Bukan hal aneh jika Sehun sempat tergoda untuk menidurinya. Sayangnya Oh Sehun sepertinya tidak akan memberikan hatinya pada siapapun.
Luhan merasa sebersit rasa kecewa hadir di hatinya mengingat itu. Tapi ia berusaha tersenyum lagi. Sejak awal Luhan sudah mencegah hatinya untuk berharap.
"Kau tau kalau Sehun sudah mempermainkan banyak wanita? Dia bahkan sudah berkali-kali gagal menikah, Sehun menganggap pernikahan adalah mainan!"
"Astaga!" Luhan pura-pura terkejut.
Ia berusaha menampilkan mimik tersinggung dalam raut wajahnya. Pada kenyataannya tentu saja Luhan tidak perlu merasa tersinggung. Sehun memang seperti itu dan dia membicarakan pernikahannya dengan sangat ringan seolah-olah pernikahannya sama seperti membeli dan mengganti pakaian. Banyak wanita yang akan menyerahkan dirinya jika mendenganr iming-iming pernikahan dan Sehun menggunakan iming -iming itu untuk melengkapi kehendaknya yang tinggi. Luhan rasa, wanita yang di iming -imingi oleh Sehun selama ini adalah wanita-wanita seperti Seulgi. Mungkin semua istri Sehun sebelumnya bersikap mirip dengan Seulgi.
"Kau jangan tersinggung, Luhan. Aku tidak bermaksud apa-apa! Aku hanya ingin kau berhati-hati dengan laki-laki."
Aku sudah terlalu sering melakukannya. Gumam Luhan dalam hati.
Ia menanti ucapan Seulgi selanjutnya. Seulgi tidak akan menyerah menghasutnya. Tentu saja, karena setelah itu Seulgi segera melanjutkan ucapannya.
"Aku sudah terlalu lama sangat percaya kepada suamiku. Tapi kenyataannya, Yifan mecintai perempuan lain sampai akhir hayatnya. Aku berusaha untuk tetap ada di sampingnya. Tapi, wanita itu bahkan berhasil membujuk suamiku untuk mencantumkan namanya dalam harta warisan."
Pandangan Luhan berubah tiba-tiba. Tentu saja Yifan akan melakukan itu jika ia tau istrinya berselingkuh dengan sepupunya. Jika Yifan memang merencanakan semua ini, termasuk memaksa Sehun mencari Xiao Lu yang sebenarnya sudah mati bertahun-tahun lalu, artinya Yifan ingin semuanya menjadi sulit.
Yifan pasti tau kalau Luhan sangat membencinya, dan Yifan akan mengira kalau Luhan akan mempersulit semua ini hingga Seulgi menyerah. Atau bisa saja Yifan sudah mengira kalau Luhan tidak menginginkannya, tapi Sehun akan berakting kalau Xiao Lu bukanlah orang yang mudah di urus. Luhan menghela nafas. Ia tidak bisa melakukan hal ini lagi, ocehan Seulgi membuatnya merasa sangat lelah dan ingin tidur. Tapi Luhan tidak mungkin mengusir Seulgi begitu saja.
"Aku sangat menyesal mendengar itu. Tapi ku rasa Sehun tidak begitu, aku sangat mempercayainya. Kegagalan dalam pernikahan juga bukan keinginannya, ku rasa!"
"Apa kau tidak ingin mencari laki-laki baik sebagai suamimu, Luhan? Kau bisa menderita jika bersama Sehun. Dia tidak akan mempertahankanmu seperti yang kau harapkan!"
"Mungkin benar. Itu akan terjadi." Kali ini ekspresi Luhan sungguh-sungguh.
"Tapi aku hanya akan berusaha menikmati semuanya sampai kami benar-benar berpisah. Aku akan mengingatnya, mencintainya dan merindukannya seumur hidupku."
Seulgi terdengar putus asa. Ia memandang Luhan yang mungkin terlihat sangat bodoh karena mencintai orang seperti Sehun. Tapi Luhan bukanlah orang yang bodoh, Seulgi yang terlihat seperti itu karena sudah gagal untuk menghasut Kim Luhan untuk pergi dari hidup Sehun Oh.
Jika saja Seulgi segera keluar, maka Luhan pasti akan tertawa. Tapi Seulgi memandanginya terlalu lama, sangat lama hingga kegugupan Luhan menjalar kembali.
"Aku tidak percaya kau sepolos ini Luhan." Seulgi menggeram.
"Kau berasal dari belahan dunia mana? Bagaimana mungkin kau masih mempercayai bajingan seperti Sehun?"
Luhan tidak menjawab sepatah katapun. Tidak perlu menjawab karena perdebatan hanya akan semakin memperpanjang waktu Seulgi untuk berada dikamarnya. Luhan masih ingin tidur, ingin menutup telinga dari segala kata-kata penuh hasutan Seulgi. Jika Seulgi berfikir kalau Luhan mudah di hasut, dia salah. Luhan terlalu lama hidup di dunia yang suram. Hasutan apapun sama sekali tidak akan pernah berarti untuknya.
TBC
Fast apdet lagi nih!
Kuota seyeo kayaknya di ambang batas XD. Jadi dari pada minggu depan masih belom apdet juga, seyeo apdet sekarang :D.
Buat pinkeuxo, itu bukan typo kok. Kamu bisa cek langsung di novelnya. Pm ku udah masuk kah? Kalo kamu masih bingung, bisa tanyak aku langsung kok :). Makasih yaa udah review :D
Okeh itu aja.
Big Thank's and Big Hug to :
Angel Deer, nisarama, Seravin509, Arifahohse, pinkeuxo, molly a.k.a syfr17, Juna Oh, Lisasa Luhan, rikha-chan, XikaNish, Ludeer, Misslah, JodohSeHun, hunnaxxx, Selenia Oh, ceszyy, hunhan, Triana Devi F, SyiSehun, HunHanCherry1220, , mandwa.
Last..
Review Juseyo..
Gomawooo... :*:*
