Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"

Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)


Oh Sehun terbangun leih cepat dari biasanya. ia menggeliat memandangi sinar mata hari yang masuk ke kamarnya dengan gamblang. Semalaman, Sehun hanya mendengar cerita dari Luhan tentang hasutan -hasutan Seulgi kepadanya. Ternyata menikmati kecemburuan seorang perempuan sangat menyenangkan.

Seulgi sepertinya tidak mengira kalau Sehun dan Luhan adalah musuh yang lihai. Tidak, Luhan-lah musuh yang lihai. Dan Sehun berbahaya. Sehun tersenyum mengingat pemikirannya barusan.

Luhan juga menggeliat, menarik perhatian Sehun. Wanita itu memeluk selimutnya dan masih tidur dengan nyaman di lantai. Kelihatannya Luhan bahkan pernah mengalami hal yang lebih buruk dibandingkan tidur di lantai sehingga lantai menjadi tempat yang cukup nyaman untuknya saat ini.

Sayang sekali Sehun tidak bisa menyentuhnya. Ia belum mendapat kesempatan lagi. Meskipun mereka sudah pernah berciuman dengan sangat panas, Luhan tetap sulit di jamah. Ia tidak akan bersedia di sentuh kecuali untuk kesenangan Sarah yang suka melihat kemesraan mereka. Tapi sesuatu yang mendekati ciuman seperti waktu itu benar-benar tidak terjangkau lagi oleh Sehun.

Dia tidak akan tahan dengan ini, seharusnya ia bisa menaklukkan Luhan karena Luhan adalah wanita yang sangat mudah tersulut. Tapi kenyataannya, Luhan cukup hati-hati untuk tidak membuat dirinya di ganggu dengan gairah apapun. Yang perlu Sehun lakukan hanya memancing gairahnya, maka ia akan mendapatkan Luhan. Tapi bagaimana caranya?

'Tuhan, bagaimana cara medapatkannya?' Sehun membatin sambil mengangkat tangannya dengan khidmat. Bunyi ponselnya mengejutkan Sehun. Ia memandang pesan dari Jackson beberapa saat.

Ku dengar pagi ini Seulgi menyuruh salah seorang pelayan dapur untuk mengambil pakaian kotor di kamarmu. Setelah itu Seulgi meminta pelayan itu untuk melaporkan apa yang dia lihat. Kau harus membuat kejutan, Sehun!

(Sender: Jackson!)

Sehun mendesah. Seulgi benar-benar curiga. Mungkin sosok yang selama ini Luhan tampilkan terlalu sempurna sehingga ketidak percayaan timbul di hati Seulgi. Wanita itu sampai bangun sepagi ini hanya untuk memata-matainya.

Tapi Sehun tersenyum, jalan keluarnya sudah terbuka, jalan yang wajar yang bisa menyulut hasrat Luhan kepadanya.

"Psstt…, Luhan!" Sehun mencoba membangunkan Luhan.

Gadis itu menggeliat, mungkin mengira suara Sehun adalah suara nyamuk.

"Luhan, bangun!"

Bisikan Sehun kali ini lebih keras, tapi Luhan masih tak bergeming. Pesan dari Jackson masuk lagi.

Bersiap-siaplah bung!
Pelayan itu bergerak dari dapur. Dalam waktu beberapa menit, ia akan sampai di kamarmu/kalian

(Sender: Jackson!)

Luhan belum juga terbangun. Sehun melempar bantalnya dan ternyata itu adalah senjata yang ampuh. Luhan terbangun begitu benda itu menghantam wajahnya. Ia terduduk dan melotot kepada Sehun.

"Apa yang kau lakukan?" Jeritnya nyaring.

Sehun langsung menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya lalu memberi isyarat agar Luhan mendekat. Dengan perasaan yang masih kesal, Luhan mendekat dan bertolak pinggang dihadapannya. Sehun menunjukkan pesan dari Jackson kepada Luhan dan sikap kesal Luhan sirna.

"Sekarang ambillah bantal-bantal itu, Luhan—Tidak. Tidak perlu, singkirkan saja selimutmu dan buka sedikit pintu kamar!"

"Apa yang sedang kau rencanakan?"

"Apa yang seharusnya di lihat seorang pelayan jika menyelinap ke kamar pengantin baru?"

"Dia akan mengetuk pintu Sehun, sudah cukup jika aku berbaring di ranjangmu."

"Dia harus melihat yang lebih luar biasa lagi, sayang! Aku ingin membuat Seulgi meradang!"

Bunyi ketukan langkah menaiki tangga mulai terdengar. Sehun segera menarik Luhan ke ranjangnya dan memaksa untuk membuka T-shirtnya. Luhan melotot tak percaya. Sehun benar-benar ingin memperlihatkan kemesraan di depan orang itu?

Luhan lebih shock lagi saat Sehun sudah berhasil membuat tubuh bagian atasnya benar-benar polos, ia menyelimuti Luhan sebatas pinggang lalu memandangi Luhan sejenak saat wanita itu menyilangkan tangan untuk menyembunyikan payudaranya.

"Ayolah, kau tidak perlu bertindak seperti seorang perawan!" Bisik Sehun.

Suara langkah semakin jelas dan sepertinya itu membuat keduanya semakin cemas.

"Sekarang cium aku!"

Luhan menatap Sehun dengan ekspresi 'aku akan menghabisimu karena ini' sebelum ia melingkarkan lengannya di leher Sehun.

Beberapa saat kemudian mereka berciuman lagi, sangat dalam sampai Luhan tidak tau mengapa ia menjadi sangat liar. Dalam waktu singkat, Sehun sudah berhasil membuatnya mendesah saat puncak payudaranya bergesekkan dengan dengan kulit Sehun.

Erangan kenikmatan tergambar jelas dari kedalaman ciumannya dan sepertinya Sehun sangat menikmatinya. Puncak payudaranya bergelanyar dan mengeras dengan cepat, terlebih saat Sehun menyentuhnya. Sehun benar-benar membuat Luhan meremas rambutnya karena tersengal-sengal.

Sehun benar kalau Luhan sangat sensitif. Sebuah sentuhan kecil bisa membuatnya bergairah dengan sangat cepat dan itu bisa saja menjadi pembuka dari semuanya.

Hari ini masih pagi, tapi Sehun berhasil membuat Luhan menjatuhkan tubuhnya di ranjang sekali lagi. Wanita itu merangkak di atas tubuhnya, duduk di pinggangnya dan masih berusaha memberikan ciuman terbaiknya.

Rambut-rambut Luhan menyentuh pipinya, beberapa menyusup ke dalam telinga dan menambahkan sensasi nikmat yang tak terelakkan. Tiba-tiba, Luhan merasakan tubuhnya terhempas ke ranjang, Sehun sedang membalasnya. Sekarang laki-laki itu sudah berada di atasnya dan menenggelamkan wajahnya untuk menciumi leher Luhan dengan cara-cara khusus yang memabukkan.

Pintu terbuka sedikit mengahasilkan bunyi klik yang sangat halus, Luhan memperlebar pandangannya dan melihat seseorang berdiri disana. Seorang gadis muda yang pastinya datang karena permintaan Seulgi. Begitu melihat tatapan Luhan, gadis muda itu menunduk dan segera pergi.

Seharusnya semuanya berhenti, seharusnya selesai sampai disini. Tapi sepertinya Sehun tidak perduli dan beralih ke sisi tubuh Luhan yang lain. Kedua tangannya masih berusaha meremas payudara Luhan dengan sangat berirama. Tidak ada hal lain yang bisa Luhan lakukan selain mendesah.

Ia ingin berhenti tapi tidak bisa. Tubuhnya tidak ingin kenikmatan berhenti sampai di situ saja. Tapi jika terus seperti ini, Luhan akan membuat Sehun menakhlukkannya. Ia sedang merasakan sesuatu di hatinya sekarang dan perasaan itu bisa saja terus berkembang jika interaksi intim ini terus berlanjut.

Luhan ingin menjerit, meminta Sehun berhenti menggerayangi tubuhnya, meminta Sehun berhenti melumat payudaranya. Tapi tidak ada satu kata pun yang berhasil keluar. Getar-getar halus sudah merasuk, dan Luhan hanya bisa terisak meratapi kegagalannya kali ini. Sehun tidak perduli. Luhan berduka untuk ketidak perdulian Sehun terhadap penderitaan hatinya.

"Astaga, Sehun! Setidaknya yakinkan kalau pintu kalian tertutup rapat!" Akhirnya Sehun berhenti.

Ia memandangi Oh Sarah yang berdiri di depan pintu sambil menggeleng-geleng tak habis pikir. Luhan segera menyembunyikan tubuhnya di dalam pelukan Sehun. Ia tidak berani memandangi Sarah saat ini.

"Bagaimana jika ada yang melihat?" Sarah melanjutkan ucapannya lagi.

"Maaf . Aku tidak menyadari mengenai pintu itu!"

Oh Sarah menghela nafas lalu menutup pintu. Sejenak suasana hening, hingga isakan yang tertahan dari mulut Luhan keluar. Terdengar jelas meskipun sangat halus. Sehun segera memandangi Luhan yang berusaha menyembunyikan wajahnya. Tidak, Luhan tidak boleh menyembunyikan apa-apa darinya.

Sehun berkeras untuk melihat Luhan, ia memegangi dagu wanita itu keras-keras dan melihat kedalam matanya. Luhan mungkin menangis, mungkin juga ia sudah berhasil menghapus air matanya sehingga tidak sejumput pun noda basah ada di wajahnya. Tapi wajah itu benar-benar sedang menggambarkan kemalangan yang menghancurkan hati Sehun.

Luhan bersedih? Sudah beberapa minggu belakangan ini Luhan selalu tertawa dan tersenyum. Bahkan ia merespon dengan sikap lucu saat Sehun menggodanya. Tapi saat ini Luhan kembali seperti saat-saat pertamanya berada di rumah ini. Kali ini bahkan lebih menyedihkan dibandingkan dengan yang biasa Sehun lihat.

"Ada apa?"

Sehun mengendurkan genggamannya pada dagu Luhan. Luhan sangat cengeng, ia kembali membenamkan wajahnya dalam pelukan Sehun dan menagis sejadi-jadinya. Jika begini Luhan terdengar sangat manja.

Sehun membalas pelukan Luhan dan mengelus-elus punggungnnya. Ia merasakan kulit halus Luhan seolah-olah memanjakan telapak tangannya. Luhan tidak bicara beberapa saat hingga ia bisa lebih tenang lalu menatap Sehun lagi sejenak setelah menghapus air matanya.

Beberapa saat kemudian Luhan menangkupkan kedua telapak tangan pada payudaranya dan berusaha memakai pakaiannya kembali.

"Luhan, kau belum menjawab pertanyaanku. Ada apa?"

"Gagal melakukan seks pada pagi hari bisa membuat seorang wanita tertekan."

Luhan menjawab dengan itu. Ia berhasil membuat Sehun tertawa.

"Kalau begitu ayo kita lakukan sekarang!"

"Aku tidak bisa, Bibimu datang menjemput kita untuk sarapan. Kita harus segera turun!"

Sehun turun dari ranjang dan memeluk Luhan dari belakang.

"Itu semua bisa menunggu!" Ia berbisik dalam jarak yang sangat dekat di telinga Luhan.

Luhan menolak dan melepaskan dirinya dengan mudah dari pelukan Sehun. Ia sudah selesai mengenakan pakaiannya kembali lalu memandang Sehun kesal. Luhan sudah kembali seperti semula.

"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau berdekatan dengan Oh manapun. Jadi berhentilah menyerangku!"

"Tapi tadi, kita hampir saja bercinta jika bibiku tidak datang. Seharusnya aku mengunci pintu! Aku akan memastikannya lain kali!"

"Jangan terlalu berharap, Oh. Kita tidak akan melakukannya lagi!"

"Apa?" Sehun terdegar sangat terkejut.

"Bagaimana dengan misi menjauhkan Seulgi dariku? Bagaimana dengan kelangsungan hidupmu sebagai istriku?"

"Aku ingin membatalkan perjanjian itu, Sehun!"

"Lalu kau ingin memperkenalkan dirimu sebagai Xi..."

Sehun memelankan suaranya dan mendekatkan wajahnya kepada Luhan untuk mengucapkan nama;

"Xiao Lu." Dengan bisikan yang sangat halus.

Luhan menjauhkan wajahnya seketika. "Aku hanya ingin membatalkan perjanjian tentang bermesraan di depan bibimu atau siapa saja yang berhubungan dengan Seulgi. Aku tidak butuh jaminan hidup apa-apa. Aku hanya perlu segera keluar dari rumah ini dan tidak melihat Oh manapun lagi sepanjang hayatku. Kau berjanji untuk mempercepat proses pengalihan harta itu, kan? Sekarang usahakanlah lebih maksimal lagi. Dan aku akan segera pergi!"

"Kenapa kau bersikap seperti ini?"

"Karena aku sudah bosan menjadi pelacur! Bermesraan denganmu, lalu mendapat bayaran atau jaminan hidup sama saja dengan aku menjual diri…"

"Tapi melayani satu laki-laki dalam jangka waktu berbulan-bulan kedepan jauh lebih baik daripada melayani lima orang laki-laki yang berbeda dalam semalam!"

Sehun mulai marah, "Kau tidak sedang menjual dirimu padaku, kita begini karena kau harus membantu segala hal untuk kelancaran proses…"

"Ya!" Potong Luhan.

Kata-kata Sehun mulai membuat emosinya meninggi

"Ya, aku akan pergi sekarang. Dan aku akan berusaha membayar tiga ratus juta dolar itu segera!"

Luhan berjalan ke lemari dan mulai mengeluarkan pakaiannya dari sana. Ia membuat Sehun frustasi, Luhan juga tidak bisa menghindari kalau ia nyaris tidak bisa mengendalikan diri.

Ia nyaris menangis dan mengatakan kalau dia tidak bisa tinggal karena Sehun. Karena Luhan mulai menaruh harapan yang mustahil. Dia tidak bisa melakukannya. Luhan tidak bisa membiarkan dirinya berharap karena itu pada akhirnya hanya akan membuatnya merasa sakit.

Luhan sudah bosan tersakiti. Pergi sekarang lebih baik, maka sakit hati yang dirasakannya akan lebih sedikit.


"Aku akan pergi sekarang! Dan aku akan berusaha membayar tiga ratus juta dolar itu segera!"

Kata-kata itu akan membuat Luhan menyesal. Begitu kata-katanya berakhir, Sehun langsung menyeretnya untuk mengurungnya di dalam kamar mandi yang berada di kamar itu juga.

Terpaksa, Sehun tidak ingin melakukan hal itu. Ia tidak ingin Luhan pergi karena…

Sehun mendesah, dia sendiri juga tidak mengerti karena apa. Mungkin karena semuanya sudah terlanjur berjalan seperti ini. Seorang pelayan dan Sarah melihat kemesraan mereka berdua pagi ini. Lalu apa yang akan terjadi bila setelah itu terjadi Luhan malah berniat pergi? Rumah tangga mereka sangat labil. Itu yang akan orang orang katakan.

Seakan tidak cukup, Sehun juga mengunci kamarnya dari luar. Dia tidak ingin seseorang masuk ke kamarnya dan meloloskan Luhan. Wanita itu bisa saja pergi tanpa sepengetahuannya. Di saat Sarah bertanya apa yang sedang terjadi — karena ia melihat Luhan tidak ikut sarapan—maka Sehun akan menjawab kalau Luhan kelelahan.

Alasan yang logis setelah Sarah menyaksikan apa yang mereka lakukan hari ini. Sarah fikir, Luhan merasa malu karena wanita itu melihat Luhan setengah telanjang.

Sehun tertawa getir, Luhan bahkan tidak akan perduli jika yang melihatnya telanjang pagi ini adalah laki-laki. Hal itu lebih baik bila dibandingkan Sehun harus melihat Luhan berjalan menenteng tas pakaiannya di jalan kecil antara pohon-pohon pinus yang tinggi. Tidak akan ada kendaraan umum di hari libur seperti sekarang.


Memasuki bulan ke-tiga mengenal Luhan, Sehun harus mengakui kalau Luhan mudah berubah-ubah. Ia harap Luhan berhenti memikirkan niatnya untuk pergi setelah hari ini terlewati.

Mau tidak mau, ia harus mengakui kalau rumah tanpa Luhan akan sangat sepi. Televisi di ruang tengah tidak menyala seperti biasanya. Dapur juga sangat hening karena tidak ada yang menjejali Mrs. Philarette dengan pertanyaan seputar resep masakan. Dan entah, hari ini Sehun akan melihat Luhan tertawa seperti biasanya atau tidak.

Sehun fikir seks bisa meningkatkan suasana hati Luhan menjadi lebih baik. Ciuman panas mereka yang pertama cukup menunjukkannya. Selama beberapa minggu setelah itu, Luhan terlihat sangat ceria. Tapi sekarang Luhan kembali ke dirinya yang paling tidak Sehun sukai.

Ia masih tampak ceria saat bertolak pinggang di hadapan Sehun pagi ini. Masih ceria saat Sehun menanggalkan pakaiannya, saat mereka berciuman. Lalu apa yang terjadi sehingga tiba-tiba Luhan menangis? Dia punya trauma? Entahlah.

Suasana hati Sehun semakin buruk saat Seulgi menghampirinya di ruang kerja. Wanita itu benar-benar membuat Sehun kewalahan dengan sikapnya yang berubah ubah. Tidak, sebenarnya Luhan juga berubah-ubah. Tapi Sehun menyukai Luhan.

Sehun rasa, ia membenci Seulgi bukan karena sikapnya yang berubah -ubah. Tapi karena Seulgi membuat Yifan kecewa kepada Sehun menjelang akhir hayatnya.

Yifan tidak marah saat itu, Saat Sehun mengakui kalau ada sesuatu antara dirinya dan Seulgi. Sehun juga tidak pernah membela diri dengan mengatakan kalau Seulgi menggodanya. Tidak akan pernah. Lagi pula Yifan lah orang yang paling tau, seperti apa Oh Sehun.

Sehun hanya tidak suka melewatkan kesempatan jika ada wanita yang mau melemparkan dirinya kedalam pelukan Sehun.

Meskipun begitu, ekspresi kecewa Yifan sama sekali tidak bisa di tutup-tutupi. Saat itulah Yifan memerintahkan Sehun untuk mencari Xiao Lu dengan keyakinan kalau wanita itu akan mempersulit segala prosesnya.

Tapi ternyata Xiao Lu yang sudah mengubah namanya menjadi Luhan dengan sangat mudah menyerahkan harta itu begitu saja. Sayangnya ia sudah membuat Sehun tertarik dan mempertahankannya meskipun seharusnya Sehun membuangnya dan berpura-pura kalau Xiao Lu tidak bisa di temukan.

Atau Yifan sudah menduga kalau Sehun akan tertarik kepada Luhan?

"Aku dengar kalian bercinta pagi ini!" Desis Seulgi.

Ia pura-pura memandangi buku-buku di dalam rak dengan cermat. Sehun juga berpura-pura untuk tidak begitu perduli dengan keberadaannya.

"Kau mengintip?"

"Untuk apa aku mengintip? Bibi yang menceritakan kepadaku! Kau sampai lupa menutup pintu? Atau sengaja ingin pamer?"

"Seorang pelayan membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Suasana hatiku sedang sangat baik, jadi aku tidak akan mempermasalahkannya."

"Apa yang menarik dari dia, Sehun?"

"Karena dia bukan istri kakakku. Atau setidaknya bukan wanita yang pernah di nikahinya, dan bukan wanita yang dekat dengan bibiku sebagai menantunya!"

Ekspresi Seulgi berubah kaku. Ada amarah terselip dalam mimik wajahnya. Seulgi berusaha menahan ledakannya dan duduk di dekat Sehun.

"Jadi karena aku adalah istri Yifan? Kau ingin meninggalkanku? Melupakan kesepakatan kita?"

"Kesepakatan apa?"

"Malam itu sudah ku katakan padamu. Aku akan menjadikanmu pewaris jika kau menikah denganku. Aku akan membuatmu kaya dalam limpahan harta yang sejatinya akan menjadi milikmu. Dan malam itu kau mengatakan 'ya'!"

"Aku mengatakan itu hanya karena ingin tidur denganmu. Jadi berhentilah mengatakan itu sebagai kesepakatan. Kita tidak pernah punya kesepakatan apa -apa. Yang terjadi di antara kita hanya kesenangan dan sudah berakhir. Aku sudah menikah."

"Ya, dan kau akan meninggalkannya dalam satu atau dua bulan seperti yang lainnya."

"Bagaimana kalau lebih lama?"

Wajah Seulgi memerah karena marah ia menghentakkan kakinya kelantai meminta perhatian. Sehun hanya melirik sejenak dan kembali membaca bukunya.

"Bajingan kau, Sehun! Kau ingin menguasai harta itu sendiri begitu kau mendapatkannya!"

"Darimana kau yakin aku sudah mendapatkannya? Kau fikir aku sudah menemukan Xiao Lu?"

"Aku juga sedang menyelidiki tentang Xiao Lu. Dan sejauh ini, kabar yang ku terima adalah, dia sudah di umumkan mati setelah menghilang lebih dari sepuluh tahun. Wanita itu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Itu berarti kau memiliki harta itu sekarang dan kau ingin menikmatinya sendirian!"

Sehun menghela nafas lega. Ia fikir Seulgi mengetahui siapa Luhan sebenarnya. Untung saja Luhan punya kecendrungan untuk selalu terlihat dewasa, ia mengakui dirinya sebagai Luhan dan mengatakan kepada banyak orang kalau usianya tiga tahun lebih tua dari usia yang sebenarnya. Setidaknya itu bisa menyamarkan jejak Xiao Lu.

Identitas wanita itu berhenti sampai di Canada. Inilah akibat mudahnya akses identitas palsu di negara ini.

Sebelum berpindah ke Denmark, Yifan sudah meresmikan nama Luhan sesuai dengan hukum yang berlaku sehingga Xiao Lu benar-benar menghilang, terkubur bersama ibu angkatnya di dalam tanah.

"Ini harta keluarga!" Akhirnya Sehun membela diri.

"Aku tidak menikmatinya sendirian. Aku juga tidak memilikinya sendirian. Aku hanya memegang saham yang Yifan miliki, jangan kau fikir mempunyai saham berarti sama dengan memili ki semua harta Oh. Kalau kau ingin bertindak seperti itu, maka kau harus meniduri banyak Oh di dunia ini!"

"Beraninya kau berkata seperti itu kepadaku!"

"Hentikanlah Seulgi. Apapun rencanamu untuk memisahkan kami tidak akan pernah berhasil. Karena baik aku maupun Luhan akan tau kalau itu adalah ulahmu."

Seulgi tertawa masam. "Aku tidak perlu susah payah untuk itu. Kau akan meninggalkannya sendiri suatu saat nanti. Aku tau siapa kau Sehun!"

"Yah, mungkin begitu. Tapi aku pastikan kau bukan pilihan selanjutnya setelah aku dan Luhan berpisah. Aku sudah jera dengan akibat bermain -main denganmu. Kau juga menghasut Luhan kan? Dia tiba-tiba saja bertanya banyak hal kepadaku. Aku rasa tindakanmu sudah sangat keterlaluan!"

Sehun mengakhiri ucapannya sambil melirik jam tangannya. Sudah sore, ia teringat kepada Luhan yang di kurungnya di kamar mandi. Apa kabar dengan wanita itu, mungkin dia sudah pingsan karena kelaparan. Luhan tidak sarapan pagi dan sudah melewatkan makan siang.

"Kita sudahi pembicaraan hari ini. Aku harus melihat istriku di kamar!"

Sehun rasa, Seulgi sudah cukup bijaksana dengan diam. Semula ia fikir, Seulgi akan mengancam Sehun dan menceritakan semua yang terjadi di antara mereka kepada Sarah. Tapi Sehun tau kalau Seulgi juga tidak ingin terbuang dari keluarga Oh, dia pasti akan semakin hati-hati dalam bertindak. Sudahlah, sekarang yang ada di otak Sehun hanya Luhan.

Ia berjalan dalam ritme yang sangat cepat demi melihat keadaan Luhan. Setibanya di kamar, suasana benar-benar hening.

Pagi tadi Luhan berteriak dan mencaci maki, Luhan menunjukkan betapa jalangnya dia melalui kata-kata dan tindakannya. Tapi kali ini tidak, mungkin Luhan sudah lelah, mungkin tenggorokannya sudah kering.

Astaga, Sehun benar-benar menyiksa Luhan seharian ini. Ia berusaha secepat mungkin menyambar pintu kamar mandi dan melihat Luhan tertidur disana. Begitu mendengar langkah kaki Sehun, Luhan membuka matanya. Wanita itu cukup awas dan memandangi Sehun dengan galak.

"Aku fikir kau benar-benar tidur!" Sehun bergumam.

Luhan segera berdiri dan berlari keluar, untungnya Sehun segera mengganjal pintu kamar mandi dengan kakinya saat menyadari kalau Luhan ingin membalasnya dengan cara yang sama.

Luhan menyerah, ia keluar dari kamar tanpa mengatakan apa-apa, tanpa mengganti pakaiannya dan segera mendarat di dapur.

Sehun mengikutinya saat berfikir Luhan mungkin berniat melarikan diri meskipun tanpa membawa apa-apa. Tapi ternyata, Luhan memasak Spageti dalam porsi yang banyak lalu melahapnya di tempat itu juga, masih di dalam wajan.

Luhan duduk di lantai dan memilin-milin spagetinya dengan garpu, memasukkan ke mulutnya, mengunyah-ngunyahnya beberapa saat dan menelannya dengan nikmat. Sehun merasa lega melihat kejadian itu, Luhan hanya kelaparan dan tidak berniat pergi.

"Ambilkan aku air!" Perintahnya dengan mulut yang penuh.

Sehun mengabulkan permintaannya dan menyajikan segelas air dingin di hadapan Luhan. Ia meneguk air putih yang berembun itu beberapa kali lalu kembali makan dengan gaya jenaka. Luhan membuat Sehun tidak berhenti memandanginya.

Beberapa lama kemudian Luhan mulai kehilangan ekspresi kelaparannya dan kembali makan dengan cara yang sopan.

"Ku fikir kau mau pergi!" Akhirnya Sehun berbicara.

Luhan mengambil beberapa jumput Spageti dengan tangan kirinya dan memasukkannya kedalam mulut. Sehun kira dia tidak akan mendapat jawaban, tapi setelah menelan suapannya yang barusan, Luhan berkata dengan santai.

"Kau mengurungku di kamar mandi seharian. Aku kedinginan, kelaparan…"

"Kenapa tidak berteriak saja minta makan?"

"Kau tidak ada di kamar, kan? Aku sudah melakukannya! Aku memintamu memberikanku makanan meskipun aku harus menyantapnya di kamar mandi."

"Kau sanggup makan di kamar mandi?"

"Aku bahkan pernah melakukan hal yang lebih menjijikkan dari itu!"

Sehun tersenyum. "Kau tidak berfikir untuk pergi lagi, kan Luhan? Aku tidak akan membiarkan itu."

"Aku rasa tidak. Kelaparan hari ini membuatku membayangkan kelaparan yang akan ku alami jika meninggalkan rumah ini."

"Ya, kau bisa saja terpaksa memberikan tubuhmu pada anjing -anjing brengsek di luar sana demi sepotong roti. Aku tidak akan membiarkan itu. Sudah ku bilang, kan? Melayani satu laki-laki selama beberapa bulan lebih baik bila dibandingkan melayani banyak laki-laki dalam semalam. Apa lagi dengan bayaran sepotong roti. Kau terlalu berharga untuk itu."

Luhan meneguk air minumnya lebih banyak lalu menyodorkan sisa spagetinya kepada Sehun. Ia tidak suka mengungkit-ungkit masa lalunya untuk saat ini.

"Habiskanlah, aku sudah tidak sanggup lagi! Perutku sudah penuh!"

"Kau mau menyuruhku menyantap makanan sisa?"

"Percayalah, kau harus mencoba makan makanan sisa sesekali, agar kau bisa menghargai hidup."

Tawa Sehun meledak sejenak lalu memandang Luhan lagi.

"Kau punya cara agar aku tidak melupakanmu dengan mudah, Luhan. Satu ciumanmu membuatku tidak bisa berkonsentrasi di kantor karena yang ada dalam fikiranku hanya segera pulang dan bertemu denganmu. Kau bisa bayangkan apa yang akan terjadi padaku setelah pagi ini? Kau tidak tau apa yang ada di otakku setiap kali dirimu ikut serta di dalamnya."

"Ya, Aku tau. Kau akan membayangkan bercinta denganku di atas Yacth, di bawah sinar matahari, atau menelanjangiku di halaman belakang, lalu berlarian di antara pohon pinus itu.."

"Astaga, kau bisa memikirkan hal itu? Bagaimana kau tau?"

Luhan mendesah. "Kebanyakan laki-laki cabul sepertimu berfikiran sama dan aku sudah terlalu sering mendengar ucapan laki-laki yang berharap bisa melihatku bertelanjang sambil mengerjakan pekerjaan sehari-hari lalu bercinta di alam bebas!"

Sehun tersenyum lalu mengambil wajan yang berada di hadapan Luhan. Ia memakannya dan Luhan terperangah. Sehun benar-benar mau makan makanan sisa?

"Kau tidak akan makan malam karena spageti ini, kan? Kalau begitu aku juga tidak akan makan malam." Gumam Sehun dengan mulut penuh.


TBC


Buat pertanyaannya kalian, seyeo gak bisa jawab di chapter ini. Soalnya ini seyeo sempetin apdet pake wifi sekolah yang sinyalnya tuh sukak teleportasi / alias sukak ilang muncul gitu aja.

Terus kalo chap ini banyak typo nya, maklumin ya soalnya seyeo editnya keburu-buru sama tugas yang dikasih sama guru. Seyeo inget kalian sih, makanya seyeo bela-belain buat fast apdet :)

Makasih buat yang nge-fav, nge-foll, sama yang nge-review.

Big Thanks and Big Hug to:

molly a.k.a syfr17, Angel Deer, HunHanCherry1220, xieluharn, Seravin509, hunnaxxx, nisarama, Juna Oh, rikha-chan, Lisasa Luhan, mandwa, Misslah, Ludeer, JodohSeHun, radya, Luniaakimwu, Arifahohse, Sarrah HunHan, SehunHan04, pinkeuxo, ljissi, ceszyy, cici, XikaNish, and all Guest.

Last..
Review Juseyo..
Gomawooo..:*:*