Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
Q : Kira-kira bakalan sampai chapter berapa?
A : Seyeo usahain chapter-nya nggak bakalan sampe puluhan.
Q : NC benerannya kapan?
A : Mungkin di chap 9 baru ada. Tunggu aja yaa..
Q : Bakalan ada orang ketiga diantara hunhan?
A : Enggak. Mungkin disini konfliknya bukan orang ketiga, tapi lebih ke konflik batin si luhannya.
Seulgi semakin menunjukan belangnya. Ia tidak segan lagi menyiksa Luhan tanpa kamuflase. Terkadang Seulgi membuat Luhan takut setelah memasukkan es batu ke dalam minyak goreng saat Luhan memasak. Untungnya Luhan cukup lihai melarikan diri agar tidak terpercik minyak panas. Luhan juga pernah jatuh dari tangga karena Seulgi mendorongnya.
Sejauh ini Luhan masih bisa bersabar. Ia hanya mengeluh seorang diri, bahkan tidak juga mengeluh kepada Sehun. Luhan fikir saatnya belum tiba. Tapi saat Seulgi nyaris membunuhnya karena air dari pipa yang sering di gunakan untuk menyiram bunga berisi listrik menyengatnya, Luhan memutuskan untuk tidak membahayakan diri lagi dengan bertemu Seulgi.
Luhan mengurung diri di kamar merenungkan apa yang akan dilakukannya. Apakah Seulgi tidak takut Luhan mengadukan semua perbuatannya kepada Sarah? Sayangnya Luhan tidak melakukan itu. Sehun sangat menyayangi Sarah dan sangat takut bila sedikit saja sikap yang salah menyinggung wanita itu. Lagi pula Seulgi pasti bisa berkelit, dia tidak akan melakukan hal itu jika tidak yakin bisa membela dirinya.
Luhan rasa dirinya tidak akan bisa menahan diri lebih lama untuk melawan Seulgi. Ia bukan orang yang lemah, terlebih kepada seseorang yang sama sekali tidak pernah berbuat baik kepadanya.
Luhan termenung sejenak, mungkin ia akan benar-benar pergi? Luhan membuka lemari dan mengeluarkan semua pakaiannya. Ia melipatnya perlahan dan sangat rapi, berharap Sehun segera pulang. Dan benar saja, Sehun segera pulang begitu mendapat telpon dari Jackson tentang kejadian hari ini.
Semua pelayan itu mungkin tidak akan pernah memberi tahukan apa yang terjadi kepada majikannya. Tapi mereka akan saling bergosip dan tidak canggung untuk mengajak Jackson ikut serta. Dan hari ini Jackson menelpon Sehun begitu mendapat informasi naas itu.
Sehun sangat khawatir, terlebih saat melihat Luhan mengemasi pakaiannya lagi. Ia segera duduk di sisi Luhan dan mengelurakan semua pakaian yang sudah Luhan masukkan ke dalam tas. Luhan tidak boleh pergi karena hal ini. Melihat kelakuan Sehun itu, Luhan menghela nafas lalu memandangnya.
"Sebaiknya aku pergi. Seulgi bisa menjadi pembunuh. Setiap kali ia mengerjaiku dalam taraf bahaya yang bertambah."
"Lalu kau ingin pergi karena ini?"
"Kau tidak pernah ada di rumah Sehun. Aku takut lepas kendali dan itu akan menyakiti Sarah. Seulgi adalah menantu dari anak satu-satunya dan Sarah sangat menyayangi Seulgi."
"Kalau begitu aku berjanji akan melindungimu!"
"Sudahlah. Kau selalu mengatakan itu, tapi pada kenyataannya aku sudah terjatuh dari tangga berkali-kali. Seulgi juga sudah membuatku ketakutan memakan makanan apapun di rumah ini."
"Kau tidak pernah memberi tahu kepadaku. Harusnya kau melaporkan semua hal yang Seulgi lakukan kepadamu."
"Lalu apa yang akan kau lakukan padanya? Kau tidak akan bisa melakukan apapun yang bisa menyakiti bibimu, kan?"
"Aku bisa mengancam Seulgi agar tidak melukaimu lagi."
"Dia malah akan semakin brutal, Sehun!" Luhan kembali memasukkan pakaiannya kedalam tas lalu menguncinya rapt-rapat.
"Aku akan mencari tempat tinggal di dekat sini. Dan jangan khawatir karena tagihan peginapan akan ku kirimkan kepadamu."
Sehun tersenyum. Pikiran keruhnya perlahan -lahan mulai jernih. Setidaknya Luhan tidak bermaksud pergi darinya. Luhan hanya menghindari Seulgi dan keributan. Ia tidak akan mengurung Luhan di kamar mandi lagi.
Sehun terlalu menyayangi Luhan bila harus membiarkannya terkurung, kedinginan dan kelaparan. Apalagi, musim gugur sudah datang. Tapi Sehun juga tidak akan membiarkan Luhan pergi sendiri sampai ia yakin kalau Luhan memiliki tempat tinggal yang layak dan aman.
"Kemasi beberapa potong pakaianku juga. Pakaian santai saja. Aku tidak akan masuk kerja selama kita berpergian!" Sehun berujar.
"Kau akan ikut?"
"Tentu saja. Bibiku tidak akan senang kalau kau hanya pergi sendirian. Dia akan membunuhku kalau aku membiarkanmu pergi seorang diri."
Luhan mengangguk. Ia kelihatan lebih bersemangat saat Sehun mengatakan akan pergi bersamanya. Astaga, pernikahan ini fiktif! Jika tidak, Luhan yakin kalau dirinya akan menjadi wanita yang paling bahagia di seluruh dunia.
Sayangnya semua yang Sehun tawarkan hanya mimpi dan mungkin Luhan tidak akan memaksakan diri untuk tidak menikmatinya. Setidaknya, meskipun sementara ia tau bagaimana rasanya memiliki seorang suami, memiliki mertua seperti Sarah, dan menyiapkan pakaian suaminya saat akan bepergian.
Luhan menyiapkan semuanya dengan cepat. Ia juga menyiapkan pakaian yang akan Sehun kenakan saat bepergian bersamanya. Sebuah Jeans sudah membuat penampilan Sehun tampak lebih santai dan Sehun benar-benar tampak gagah. Luhan juga mengenakan pakaian terbaiknya. Kali ini bukan celana pendek dan T-shirt lagi. Ia hanya mengenakan Jeans Skinny yang panjangnya hanya beberapa senti di bawah lututnya di padu dengan kemeja berwarna merah hati.
Luhan benar-benar tidak ingin terlihat jalang saat bersama dengan Sehun meskipun ia tau kalau Sehun akan tetap menggodanya dengan pakaian sopan seperti itu. Sehun hanya memperbolehkan Luhan membawa sedikit pakaian. Luhan dan dirinya hanya berlibur. Sehun menekankan kalau ia tidak pernah mengizinkan Luhan untuk pindah.
Liburan ini juga Sehun sebut sebagai liburan yang mungkin tidak akan terlupakan dan penuh kenangan di antara mereka mengingat keberadaan Luhan di rumah itu sudah hampir mencapai batas waktu. Tiga bulan kedepan, Luhan akan pergi dan pemikiran itu membuat keduanya sedih.
"Kenapa tiba-tiba?" Sarah melengking saat Sehun menyatakan kehendaknya untuk berlibur bersama Luhan.
"Aku fikir rumahku membuatmu tidak nyaman, Luhan!"
"Tidak." Luhan mendesak.
"Tentu saja ini adalah tempat ternyaman yang pernah aku datangi. Aku hanya merasa bosan."
"Iya, dia merasa bosan karena tidak pernah mengerjakan apa-apa disini. Itu katanya!" Sehun ikut campur.
"Omong kosong. Istrimu mengerjakan semua pekerjaan rumah meskipun aku melarangnya. Kau tidak pergi karena merasa di manfaatkan, Kan? Aku bersumpah sudah jatuh hati padamu dan aku tidak ingin kau pergi."
"Bibi, aku dan istriku hanya berlibur untuk beberapa hari. Kami akan kembali. Jadi simpan kesedihanmu itu. Semua pekerjaan ku serahkan kepada Jackson dan kalian bisa menelponku kapan saja jika terjadi sesuatu disini. Aku akan segera datang."
"Lalu kemana kalian akan pergi?"
"Luhan mengatakan dia akan mengikutiku kemana saja, tapi aku ingin melihatnya mengenakan bikini. Mungkin ke British Columbia!"
Sehun kemudian tersenyum setelah mengutarakan kenakalannya. Sarah kelihatan lebih lega mendengarnya.
"Anggap saja kami sedang bulan madu kedua…"
"Ya, tentu saja. Aku berdoa agar kalian segera mendapatkan anak. Aku ingin rumah ini ramai dengan keberadaan anak-anak."
Kali ini Sehun tidak begitu merespon. Mereka tidak mungkin memiliki anak. Pernikahan mereka hanya sebuah pernikahan fiktif. Sejenak kemudian Sehun berbicara samar.
"Kalau begitu kami pergi dulu."
Sarah memberi anggukan bijaksana. Ia tersenyum saat melihat Sehun menggapai tangan Luhan dan menggenggamnya erat. Mereka meninggalkan rumah itu dan Sehun sama sekali tidak menggunakan fasilitas apa-apa. Ia meninggalkan semuanya dan pergi bersama Luhan dengan angkutan umum.
Kali ini mereka akan benar-benar liburan, bulan madu, atau sejenisnya. Hal itu membuat Luhan tertawa di dalam bus yang mereka tumpangi. Sehun memandangnya heran.
"Kau menertawakan apa?"
"Aku menertawakan ucapanmu. Bulan madu apa? Kita belum menikah!"
"Lalu apa lagi yang bisa jadi alasan kita untuk pergi berdua?"
"Ya, baiklah. Tapi jangan harap kau bisa menyentuhku!"
"Kita lihat saja nanti."
"Juga melihatku mengenakan bikini."
"Aku tidak akan membawamu ke British Columbia sayang! Aku ingin mengajakmu melihat makam ibuku di Gass."
Luhan diam tak bersuara untuk sejenak lalu bergumam. "Aku sangat tersanjung mendapat kehormatan itu!"
"Ini rumahku. Aku selalu pulang ke sini setiap libur sekolah saat ayahku masih hidup!"
Sehun bercerita saat mereka sarapan pagi di sebuah rumah tua di Gass. Bukan sebuah rumah yang besar, tapi terasa sangat sejuk dalam suasana pedesaan yang asri.
Disana sini terdapat banyak foto kenangan yang mungkin tidak akan pernah rela untuk disingkirkan. Tidak ada satupun foto Sehun, seharusnya bisa di mengerti karena sang ibu meninggal saat melahirkan Sehun dan bocah malang yang berada di hadapan Luhan sekarang di besarkan bersama Yifan di rumah besar itu, di Calgary.
"Apa yang membuatmu ingin melihat makan ibumu?"
"Sebenarnya hari ini aku memang ingin pergi kemari sendirian, tapi karena kau juga mengatakan ingin pergi, maka aku mengajakmu untuk ikut denganku saja. Besok adalah hari ulang tahunku dan aku selalu merayakannya seorang diri disana semenjak aku dan Yifan berpisah karena dia pergi bersamamu ke Denmark."
"Itu artinya sudah delapan kali kau merayakannya seorang diri?"
"Ini, baru yang kedelapan, sayang!"
"Ya, baiklah. Berarti besok kau ulang tahun?"
"Kau tidak memberiku selamat?"
"Untuk apa? Kau juga tidak pernah memberikan selamat untuk ulang tahunku!"
Luhan tersenyum lalu berkata lembut. "Selamat ulang tahun, nak! Ibumu pasti mengatakan itu."
"Lalu, kau mengatakannya dengan apa?"
"Entahlah, aku tidak suka ada kebahagiaan, setelah ini pasti ada kesedihan."
"Kau terlalu pesimis. Selama ini kau selalu mengalami penderitaan karena takut untuk menghadapi kesedihan yang muncul setelah kebahagiaan begitu? Jadi tidak ingin bahagia?"
"Jika yang di hadapi hanya kesedihan, maka harapan untuk mendapat kebahagiaan besar sebagai ganti itu semua bisa menguatkanku. Aku tidak pernah benar-benar bahagia, saat bersama siapapun yang ku punya hanya harapan untuk mendapat kebahagiaan. Sayangnya sebelum harapan itu terwujud kebahagiaan itu sudah pupus."
"Dan kau masih bisa bertahan hidup karena itu. Kau sangat hebat!"
"Ya, aku terlalu hebat. Karena itu penderitaanku sangat besar."
"Kau terlalu sempurna, karena itu Tuhan ingin bersikap adil pada makhluknya yang lain dengan memberikan sedikit penderitaan padamu."
Luhan menyambut ucapan Sehun dengan senyum. "Terimakasih, Oh!"
"Sehun!" laki-laki itu meralat lagi.
"Sudah lama kau tidak memanggilku dengan sebutan Oh. Aku tidak menyukai nama Oh. Sungguh!"
Kali ini Luhan tertawa. "Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan pernah memanggilmu Oh lagi."
"Ya, tentu saja! Jangan lakukan itu. Jika ada orang yang bertanya siapa nama suamimu, cukup katakan Sehun saja!"
"Kau bukan suamiku!"
"Tapi semua orang tau kalau kita sudah menikah. Tidak ada seorang pun yang tau kalau kau dan aku hanya berpura-pura."
"Ah, Ya! Ada satu hal yang membuatku penasaran. Mengapa kau berbohong kepada bibimu? Kau bilang kita akan ke British Columbia. Apakah dia tidak suka kalau kau datang kemari?"
"Bibiku tidak pernah tau kalau aku datang kemari. Aku juga tidak pernah bermaksud membohonginya. Kita hanya menghindari Seulgi karena wanita itu pasti akan menysul ke British Columbia untuk memata-matai kita. Sayangnya saat dia tiba disana, tidak ada satupun dari kita yang bisa di temuinya."
"Licik!"
Sehun terkekeh. "Aku tidak suka diganggu olehnya."
"Dia sangat tergila-gila padamu!"
Luhan mengambil piring makan Sehun yang sudah kosong lalu menumpuknya menjadi satu. Ia akan mencucinya, untuk sebuah rumah yang ditinggalkan rumah ini terlalu bersih dan sempurna. Sehun mengutus orang untuk merawatnya dan ia rela membayar mahal untuk menjaga ke-aslian rumah itu sewaktu-waktu. Pikiran Luhan kembali kepada Seulgi.
"Bagaimana jika Seulgi mengetahui kalau aku adalah Xiao Lu dan dia pasti akan memberi tahu bibimu. Saat itu terjadi, tamatlah riwayatku!"
"Bagi Canada, Xiao Lu sudah mati. Kau keluar dari sini sebagai Luhan, kembali kemari juga sebagai Luhan. Kau dan Yifan berpisah selama delapan tahun dan yah, setahu orang -orang, Xiao Lu berusia tiga puluh atau tiga puluh satu tahun. Jika bukan karena ucapan Yifan aku tidak akan mencarimu. Aku tau kalau Seulgi sedang menyelidiki tentang Xiao Lu dan ia tidak akan menemukannya dalam waktu dekat, Sayang! Jadi kau bisa bersantai sampai waktunya tiba."
Sehun meraih tangan Luhan kembali. "Tinggalkan saja itu. Akan ada yang membersihkannya nanti. Ibuku sudah menunggu!"
Tidak ada pilihan lain. Luhan tidak bisa menolak sama sekali tentang permintaan Sehun untuk bertemu dengan ibunya. Atau lebih tepanya berkunjung ke makam ibunya.
Bunga-bunga kecil di semak-semak sepanjang jalan menuju pemakaman itu menyemarakkan suasana. Luhan tau Canada adalah kota yang indah, tapi dia tidak pernah melihat makam seindah yang dilihatnya di Gass.
Begitu sampai di makam orang tua Sehun, Luhan di paksa untuk melihat makam makam lain yang sama indahnya. Ada sebuah pohon besar yang melindungi makam sehingga suasana pemakaman menjadi sangat teduh. Bunyi kicau burung membuat makam terasa lebih menenangkan di bandingkan tempat wisata manapun.
Sehun duduk disana, diantara makam kedua orang tuanya yang berdampingan. Tangan-tangannya membersihkan rumput-rumput liar yang menyembul di sekitar makam. Luhan mendekat dan membantunya. Tidak sepatah katapun yang bisa di dengarnya dari mulut Sehun. Sehun benar-benar diam dan membisu.
"Kau tidak berbicara apa-apa? Seharusnya kau menceritakan sesuatu!"
"Menceritakan apa?" Sehun angkat bahu.
Sepertinya ia memang tidak pernah mengatakan apa-apa saat berada di makam kedua orang tuanya.
"Katakan apa saja!"
"Tentangmu?"
"Kau boleh mengatakan apapun tentangku!"
"Umm, baiklah…"
Sehun berdehem, ia sedang menyiapkan kata-katanya. Tapi kemudian ucapan Sehun tidak muncul, ia mungkin tidak tau harus mengatakan apa. Selang beberapa saat, sepatah kata muncul mengawali semuanya.
"Ayah, ibu, wanita seksi yang bersamaku ini adalah istriku. Yah, aku memang tidak pernah mengatakan kalau aku pernah menikah kepada kalian. Tapi percayalah aku sudah beberapa kali menikah sebelum dengannya. Ah, tidak. Aku dan dia tidak menikah. Kami hanya berpura-pura."
Luhan sangat ingin tertawa mendengar ucapan Sehun kepada kedua orang tuanya. Semula Luhan fikir, Sehun juga akan membohongi kedua orang tuanya yang sudah berada di alam lain. Tapi sepertinya, Sehun tidak akan menciptakan kebohongan apa-apa. Ia hanya tidak tau harus memulai dari mana.
"Kami datang kemari dengan alasan ingin bulan madu kedua kepada bibi. Tapi bibi malah mendoakan agar kami bisa segera memiliki anak setelah pulang. Luhan tertawa sepanjang jalan kalau mengingatnya. Ah, aku hampir lupa. Nama perempuan ini Luhan…ku rasa hanya Luhan. Aku menambahkan nama Kim untuk menipu Bibi."
Sehun menoleh kepada Luhan sesaat. Wanita itu menyembunyikan tawanya.
"Apanya yang lucu?"
"Tidak, teruslah bicara!"
Sehun berdesis. "Baiklah, aku akan menceritakan siapa wanita ini sebenarnya. Dia Xiao Lu. Dia wanita yang pergi dengan Yifan ke Denmark. Harusnya aku berterimakasih padanya karena membawa Yifan pergi, jika tidak, aku tidak akan pernah merasa sendiri dan datang kesini untuk melarung rindu kepada kalian."
Sehun diam sejenak lalu menatap Luhan lekat-lekat.
"Ibu, wanita ini membuatku ketergantungan kepadanya. Apa yang harus ku lakukan?"
TBC
Mueheeee apdet lagiiii!
Buat readers baru, selamat datang!
Banyak typo-kah? Maklumin, seyeo hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan dan kemesuman /eh?/
Yang nanyak seyeo line berapa, seyeo line 00 alias tahun 2000. Dan seyeo ingetin sekali lagi, ini REMAKE.
Gak mau banyak cincong. Makasih buat yang nge-fav, nge-foll, sama yang nge-review.
Big Thanks and Big Hug to :
Arifahohse, Seravin509, Ludeer, Luniaakimwu, Angel Deer, mandwa, ElisYe Het, xieluharn, Juna Oh, JodohSeHun, Nam NamTae, noVi, SyiSehun, molly a.k.a syfr17, Lisasa Luhan, hunnaxxx, HunHanCherry1220, chocojungie, rikha-chan, ziadwir.
