Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
Akhirnya mereka berakhir di Danau Louise. Tempat ini jelas tidak jauh dari rumah keluarga 'Oh' karena dari rumah itu Luhan juga bisa melihat keindahan danau Louise dan Rocky Mountain di belakangnya meskipun dari kejauhan.
Hari ini Luhan benar-benar berhadapan dengan Danau Louise, bukan hanya memandanginya dari balik jendela seperti biasa. Luhan juga cukup tenang karena saat ini Sehun duduk di sampingnya, bersama-sama memandangi danau disertai angin sepoi-sepoi yang menerbangkan beberapa jumput rambutnya.
Ternyata mereka sama sekali tidak pergi jauh. Untuk apa pergi jauh-jauh kalau ternyata ada pemandangan indah di belakang rumah sendiri? Luhan memandangi jam tangan yang bersandar di pergelangan tangan Sehun dengan seksama.
Ia memiringkan kepalanya sejenak dan memandang Sehun begitu menyadari kalau laki-laki itu memperhatikannya. Luhan berusaha tersenyum, ia sangat berterima kasih karena Sehun mengajaknya ke danau ini setelah mengunjungi makam ibunya.
"Aku tidak suka kau terus-terusan melihat jam!"
Sehun menggerutu sambil melepas jam tangannya dan menyelipkan benda itu dalam -dalam ke saku celananya.
"Sekarang sudah jam dua siang, aku berjanji kita akan pulang sebelum gelap!"
"Aku hanya ingin memastikan!"
"Memastikan kapan makan malam tiba? Kau masih lapar? Masih ingin makan? Kita sudah makan siang sebelum kemari, kan?"
"Tidak, aku tidak sedang ingin makan. Aku hanya kebingungan dan tidak tau harus melakukan apa. Sehun, kau tidak mengatakan apa-apa sejak tadi. Tidak biasanya!"
"Aku hanya mengenang. Dulu aku dan Yifan sering kemari saat bolos sekolah. Setelah tamat sekolah, aku dan dia membuat api unggun di seberang sana!" Sehun menunjuk kearah sebrang danau.
"Dia juga menemaniku ke makam orang tuaku beberapa kali. Sewaktu kecil, bagiku Sarah dan suaminya lah ayah dan ibuku. Tapi begitu kehilangan Yifan, aku juga kehilangan mereka. Maksudku, mereka melupakan aku dan meratapi kepergian Yifan. Itulah yang membuatku akhirnya sangat rajin datang ke Gass setiap kali ada perayaan penting. Dan…"
Sehun memandang Luhan lagi, sama dalamnya dengan pandangan Sehun saat di makam tadi.
"Aku minta maaf padamu. Jika di runut, akulah penyebab penderitaanmu di Denmark."
Luhan memandang Sehun semakin serius, tapi ia tidak mengatakan sepatah katapun, Luhan menunggu Sehun mengatakannya sendiri. Mengatakan mengapa ia akhirnya menjadi orang yang di persalahkan atas penderitaan Luhan selama di Denmark.
Sehun menghela nafas dalam."Aku merampas Yifan darimu. Hari itu adalah puncak dimana aku ingin Yifan kembali, aku ingin bibiku tersenyum dan berhenti menangis lagi. Aku menyelidiki kepergian Yifan dan mendapatinya di Denmark. Saat itu seharusnya aku mengatakan kepadamu kalau aku membawa Yifan kembali demi ibunya."
"Seandainya kau menemuiku saat itu, aku juga tidak tau akan merelakannya atau tidak!"
"Tapi setidaknya aku bisa menghindari penderitaanmu, kan? Aku bisa saja membawamu serta pulang ke Canada! Aku memang benar-benar sumber masalah dalam keluarga Oh. Karena aku juga Yifan mengalami kecelakaan, jika aku tidak menculik Yifan untuk pulang, maka dia tidak akan berusaha melarikan diri dan mengalami kecelakaan. Lalu aku berselingkuh dengan istrinya, aku sangat berdosa kepada Yifan, orang yang tidak tau terima kasih. Padahal Yifan tidak pernah menganggapku seperti orang lain…"
Sehun berhenti mengucapkan kata selanjutnya saat merasakan Luhan mendekat. Wanita itu membelai rambutnya yang berada di belakang telinga. Luhan memandangnya serius lalu tersenyum.
"Di Denmark, aku tidak hanya mendapatkan penderitaan saja. Aku juga mendapatkan kesenangan. Meskipun di bawah Geronimo aku menderita, tapi Geronimo sudah seperti ayah bagiku, dia hanya tidak tau bagaimana cara anak buahnya memperkerjakanku. Aku juga punya teman di Denmark, Kai juga ku temui disana. Aku juga pernah tertawa, jadi berhentilah mengatakan hal seperti itu. Jika aku di Canada, belum tentu nasibku lebih baik dibandingkan dengan saat-saat aku di Denmark."
"Harusnya kau bertemu dengan aku dulu sebelum dengan Yifan."
"Lalu?"
"Akan ku tawarkan diriku dan ranjangku kepadamu!"
Luhan tertawa. "Apakah kau selalu menawarkan hal itu kepada semua wanita?"
"Hanya kepada wanita yang menarik dan ku fikir dia tertarik. Aku tidak akan menawarkan apa-apa kepada wanita yang tidak tertarik dengan hal itu!"
"Lalu bagaimana kau bisa tau kalau aku tertarik?"
Sehun terdiam lama. "Firasat? Tidak! Kurasa dari pandanganmu saat pertama kali kita bertemu. Aku tau kalau saat itu kau tertarik padaku!"
"Sayangnya aku sudah terlalu berhati-hati untuk menaruh hati kepada laki-laki."
"Ya, kau pernah mengatakannya. Karena itu kau menolak, kan? Kau takut akan mencintaiku. Tunggu dulu!"
Sehun mengingat-ingat. "Saat kau menangis waktu itu, Kau merasakan sesuatu?"
Luhan megangguk. "Hanya terbersit. Tapi aku sakit setiap kali seberkas harapan muncul."
"Itu yang ku maksud dengan penderitaanmu, Luhan. Mungkin kau merasa cukup bahagia di Denmark. Tapi keadaan disana bahkan membuatmu takut untuk bermimpi. Aku sangat bertanggung jawab dengan hal…"
Sehun terdiam sekali lagi, sebuah ciuman hangat mendarat di keningnya, beberapa saat kemudian, wajah Luhan sudah ada di hadapannya.
"Selamat ulang tahun Sehun!" Luhan lalu menepuk-nepuk bahu Sehun keras.
Sehun tau kalau ia terperangah, bukan sekali dua kali ia mendapatkan ciuman semanis itu dari wanita. Tapi hanya Luhan yang mengingatkannya kepada sosok ibu yang tidak pernah di milikinya. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya dan berdecak.
"Harusnya kau memberi ciuman di bibir!"
Luhan melakukannya! Sehun berusaha melepaskan diri dari ciuman Luhan yang lembut lalu menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Luhan. Ia memandang Luhan heran.
"Kau bukan Luhan, kan? Kau jin hutan ini? Kau kemanakan Luhanku!"
Luhan tertawa sekali lagi lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri.
"Kalau tidak mau, ya sudah!"
Astaga, apa yang terjadi pada Sehun, matanya berkaca-kaca. Tentu saja dia tidak akan menolak, Sehun merengkuh Luhan dan menciumnya dengan sangat dalam hingga jari jemari Luhan bergelung. Ciuman yang penuh dengan kerinduan.
Sehun melampiaskan segala kerinduan yang dirasakannya kepada Luhan. Kerinduannya kepada ibu yang melahirkannya, kerinduan kepada Ayah, juga kerinduan kepada Yifan dan masa kecil mereka.
Luhan tidak tau bagaimana semuanya bisa terjadi, bagaimana ia bisa berada di atas pangkuan Sehun. Secara tiba-tiba kedua kakinya melingkari pinggang Sehun dan kedua tangannya meraba setiap sendi kepalanya. Jari -jari Luhan merasuk ke sela-sela rambutnya dan ciuman itu masih terus berlangsung. Sangat panjang dan mulai terasa panas.
Jika saja ini malam hari, maka Luhan yakin kalau dirinya dan Sehun tampak menyala-nyala sekarang. Sehun benar-benar tidak melepaskannya. Tidak, Luhan yang tidak ingin melepaskan Sehun. Dia menahan kepala Sehun agar ciuman itu tidak pernah berakhir. Sedangkan tubuhnya merasakan belaian Sehun dengan sangat sensitif.
Sehun meremas pinggulnya lagi lalu menarik pinggang Luhan agar merasuk lebih dalam kepada dirinya, agar tidak ada lagi jarak, agar kehangatan itu tidak pergi. Desahan berganti dengan erangan ketika Luhan merasakan bagaimana jari jemari Sehun menyusuri lekuk pinggulnya dan menggapai-gapai di kedalaman dirinya yang basah, telapak tangannya menghentak-hentak mengikuti keinginan jarinya yang sangat berharap bisa memuaskan Luhan.
Luhan benar-benar terengah-engah. Ia melepaskan ciumannya sesaat, memandang ke dalam mata Sehun dan tidak dipungkiri lagi kalau mereka sama-sama menginginkannya. Tapi haruskan di tempat ini? Luhan mendekatkan mulutnya ke telinga Sehun, memperjelas desahannya sehingga semangat Sehun semakin menggebu-gebu. Ia berbisik lemah.
"Aku hampir meledak, Sehun!"
Dan beberapa detik kemudian Luhan mengejang diiringi lenguhan panjang. Ia sudah mencapai klimaks pertamanya setelah tidak merasakannya dalam jangka waktu yang lama. Nafasnya belum reda ketika Sehun mengulanginya lagi, menggapai-gapai keinginan yang harus terpuaskan saat itu juga. Beberapa saat kemudian Sehun melepaskan tubuh Luhan dan memandang wanita itu penuh hasrat.
"Sial! Kalau saja aku tidak ingat danau ini adalah tempat umum, aku akan menghabisimu saat ini juga!" Sehun mengerang.
"Kita harus pulang ke rumah. Sekarang, aku tidak akan membiarkanmu berbaring di tanah Luhan. Aku ingin punggungmu merasakan kasur yang empuk di ruangan yang hangat."
Sehun berbalik dan melangkah, ia tidak ingin memandang Luhan lagi, Sehun takut tidak bisa menahan diri. Luhan hanya mengikutinya dan mereka kembali ke Gass. Sehun bahkan rela membayar taksi berkali-kali lipat agar mereka sampai di rumah lebih cepat. Di sepanjang jalan Sehun benar-benar tidak menyentuh Luhan. Dan Luhan memakluminya.
Hingga akhirnya, Sehun menggenggam tangan Luhan lagi setelah mereka sampai di depan rumah. Mereka bergandengan masuk ke dalam rumah dan saat pintu di tutup, mereka menyatu lagi. Sehun kembali mengulum mulut Luhan dengan sangat bergairah, ia nyaris saja membuka pakaian Luhan, tapi hati nuraninya tergerak untuk bertanya.
"Kau mengizinkanku…"
"Ya!"
Jawaban yang membahagiakan. Jawaban yang luar biasa di telinga Sehun karena sudah bercampur dengan desahan penuh harapan. Luhan juga menginginkannya.
Sehun melepaskan pakaian Luhan satu persatu tanpa melepaskan ciumannya. Celana, kemeja, jaket, kaus kaki berserakan di lantai dan saat mereka sudah tiba di kamar, Sehun sudah tak berpakaian lagi. Ia menghempaskan tubuh Luhan di atas ranjang dan merangkak di atasnya.
Dalam sekejap Sehun melepaskan bra yang Luhan kenakan dan membenamkan wajahnya di dada wanita itu. Ia melakukan segala yang terbaik yang dia bisa hingga Luhan meminta ampun. Tentu saja Sehun tidak akan mau mendengar kata ampun, ia menutup mulut Luhan dengan mulutnya dalam waktu yang panjang. Jika bukan karena nafas yang sesak karena menahan hasrat, Sehun yakin ia tidak akan pernah melepaskannya.
"Sentuh aku Luhan." Bisiknya.
Luhan juga berusaha menghirup nafas sebanyak-banyaknya. Ia berusaha merangkak dan membalik keadaan. Sekarang Sehun yang berbaring di ranjang dan Luhan duduk di pinggangnya.
Sehun tidak bisa menahan desahannya ketika Luhan mengeluarkan keahliannya. Wanita itu meraba dadanya, memelintir putingnya, mulut Luhan mencium bibirnya lalu berpindah ke leher untuk menghisap sebagaian besar wilayahnya.
Sehun benar-benar tidak bisa menahan diri untuk ikut berdesah saat Luhan menduduki bukti gairahnya yang mengeras. Luhan merengkuh wilayah itu dengan tangannya, menggenggamnya dengan erat dan memaksa Sehun untuk segera menyatu dengan dirinya.
Sebuah desahan berat bermula, tapi kemudian Luhan meringis karena ternyata hal itu tidak semudah yang biasa di lakukannya. Sehun membuatnya merasakan lagi bagaimana bercinta dengan rasa sakit seperti yang pertama kali di alaminya.
Setelah ia berhasil, Luhan menyeka air matanya yang merembes dan mulai mencari kenikmatan baru. Mereka benar-benar bercinta dan merasakan klimaks-klimaks yang paling hebat yang belum pernah di rasakan sebelumnya.
Luhan terbangun dan memandang kamar yang gelap, pasti sudah malam. Seberkas sinar dari luar rumah menerangi sebagian ranjang, sinar itu juga menyoroti wajah Sehun yang kelihatannya sangat lelah. Sehun terlalu memaksakan diri, juga memaksa Luhan tentu saja.
Ia ingin memandang jam, ingin mengetahui jam berapa sekarang. Tapi tidak ada satu jam pun yang bisa di lihat dalam ruangan gelap. Sehun juga sudah melepaskan jam tangannya saat mereka masih di danau tadi.
Luhan mengehela nafas. Akhirnya pertahanannya runtuh juga. Ada sisi lain dari diri Sehun yang dilihatnya, sisi lain yang membuat Luhan merasa bukan masalah untuk menikmati Sehun sekali saja. Bukan ini maksud ciumannya di danau tadi. Luhan hanya ingin memberikan ciuman yang sama seperti saat mereka bercumbu pertama kali di halaman rumah. Tapi tidak ada satu hal pun yang bisa Luhan baca.
Hari ini dia benar-benar tidak sedang memegang kendali, Tapi Sehun lah yang memegang kendali atas dirinya. Sehun bergerak halus, mungkin ia terbangun. Luhan segera menutup matanya rapat-rapat dan tidak berniat membukanya sampai Sehun mencium keningnya. Dan berujar pelan.
"Bangunlah,"
Bisikan Sehun membuat Luhan membuka matanya perlahan. "Kemarilah, berbaring disini."
Dalam keremangan lampu, Luhan dapat melihat kalau Sehun sedang menepuk dadanya. Luhan beringsut mendaki tubuh Sehun, kembali menduduki pinggangnya dan merebahkan kepala di dadanya.
Nafas Sehun sangat teratur membuat Luhan seperti di hipnotis, ia memejamkan matanya merasakan detak jantung Sehun yang berirama.
"Kau menangis lagi kali ini!"
Luhan nyaris saja tertidur saat mendengar ucapan itu, ia kembali membuka matanya lagi dan menangkupkan sebelah tangannya di dada Sehun.
"Aku hanya kesakitan. Sudah lama aku tidak merasakan sakit dan nikmat bercampur menjadi satu seperti saat bercinta denganmu."
Sehun tersenyum. Ia tau apa yang Luhan maksudkan. Mungkin bagian yang paling sensitif di tubuh Sehun terlalu besar untuk Luhan. Sehun bisa mengingat ringisan Luhan saat pertama kali memaksa Sehun memasukinya. Juga dengan tangisan kenikmatan Luhan sepanjang mereka bercinta.
"Ya, aku juga merasakan hal yang luar biasa malam ini. Aku belum pernah terkapar seperti ini setelah bercinta dengan wanita."
"Mereka harus menjadi pelacur dulu selama bertahun-tahun untuk belajar bertahan seperti itu!"
Sehun tertawa. Sebenarnya ia sangat tidak suka jika Luhan mengungkit-ungkit tentang pelacuran atau sejenisnya. Sehun akan semakin membenci dirinya sendiri karena tidak menemukan Luhan lebih dulu.
Sehun membelai kepala Luhan dengan sangat perlahan, rambut Luhan panjang dan halus. Sehun masih tidak bisa memungkiri kalau Luhan sangat sempurna. Wanita paling sempurna yang pernah di temui di dalam hidupnya.
"Luhan…"
"Ya?"
"Ini perayaan ulang tahun terbesar dalam hidupku."
"Tentu saja. Kau memaksaku untuk menerima perlakuanmu berkali -kali."
"Ya, dan ini sama sekali di luar rencana. Aku tidak mengamankan interaksi kita kali ini. Berjanjilah Luhan, jika kau hamil karena ini segera beritahu aku!"
"Memangnya kenapa? Kau akan bertanggung jawab?"
"Kau fikir aku akan melakukan itu?"
Luhan terdiam sesaat. "Aku rasa tidak!"
"Aku akan mencarikanmu dokter terbaik untuk mengugurkannya."
Lagi-lagi hening. Sehun menanti jawaban Luhan, gadis itu diam terlalu lama. Sehun hampir saja menyerah jika saja Luhan tidak memanggil namanya.
"Sehun, bolehkah aku melahirkan anakmu?"
Sehun mengerutkan keningnya. "Maksudmu?"
"Aku ingin seorang anak. Aku sudah lelah hidup sendirian. Jika aku hamil bolehkah aku melahirkannya. Aku berjanji akan membawanya pergi jauh dan aku tidak akan mengatakan kepadanya siapa ayahnya. Aku bisa hidup tanpa ayah, anakku pasti juga bisa!"
Sehun memejamkan matanya, mendadak satu degupan jantungnya terasa sangat kencang. Mungkin Luhan mendengarnya tapi gadis itu berusaha untuk tidak perduli. Sehun tidak tau mengapa kata-kata Luhan barusan membuat hatinya menjadi sedih. Mungkin ia laki-laki paling cengeng sedunia saat merasakan air matanya mengalir halus.
Sehun segera menghapus airmatanya dan mengambil nafas dalam -dalam untuk menenangkan perasaannya.
"Kau ingin melahirkan anakku?"
"Ya, Aku tetap akan pergi pada waktunya. Tapi boleh aku melahirkan anakmu jika aku hamil karena ini? Aku akan bekerja yang baik-baik untuk membesarkannya. Aku akan berusaha sekeras mungkin. Aku berjanji anakmu tidak akan kelaparan. Aku hanya butuh teman, dan seperti ibuku yang menganggap kalau anak adalah teman yang paling setia, anakmu juga tidak akan pernah meninggalkan ibunya sebatang kara sampai aku meninggal dunia."
"Kata-katamu terdengar sangat sedih!"
Luhan mengangkat wajahnya dan memandang Sehun. Matanya basah, tapi tidak ada satupun dari butiran air matanya menyentuh dada Sehun. Luhan selalu menyeka airmatanya sebelum mengalir terlalu jauh. Sehun memandangnya lama. Kali ini ia tidak bisa menyembunyikan air matanya lagi.
"Kenapa dengan wajahmu?"
Luhan memaksakan sebuah senyum. "Aku menginginkannya. Sangat menginginkannya. Aku harap khayalan itu menjadi kenyataan."
"Mimpi itu akan jadi kenyataan."
"Jadi kau mengizinkan aku melahirkannya kalau aku sampai hamil? Aku berjanji akan merawatnya dengan baik, aku akan membawanya pergi jauh dan aku tidak akan membuatnya mengingat-ingat ayahnya lagi. Dia tidak akan mengganggumu, aku berjanji!"
Luhan terlihat sangat senang, tapi ada rasa nyeri menelisip ke dada Sehun. Ia mengangkat tubuhnya sedikit agar bisa mencium bibir Luhan meskipun hanya sebentar.
"Kenapa kau sangat menginginkannya?"
"Aku sudah bosan kesepian, aku sudah mengatakannya kan? Semenjak ibu angkatku meninggal, satu persatu orang yang ku sayang pergi. Ada yang datang, tapi segera di rampas oleh takdir."
"Karena itu kau tidak pernah suka menaruh harapan kepada laki-laki? Kau tidak berharap aku menemanimu menjaga anak itu?"
Luhan menggeleng. "Aku cukup tau diri. Aku tidak akan memaksa, tidak…aku bahkan tidak akan pernah bermimpi untuk itu."
"Kau sedang mengatakan kalau kau takut bermimpi untuk kesekian kalinya. Tapi kau berani bermimpi memiliki seorang anak!"
"Ya, aku tidak tau darimana keberanian yang satu itu datang! Meskipun hanya untuk malam ini, obrolan kita tentang mimpi ini akan ku simpan baik-baik dalam hatiku. Karenamu aku berani bermimpi."
"Aku sudah katakan padamu tadi, mimpi itu akan jadi kenyataan. Kau tidak menyimak ucapanku? Aku terharu. Sungguh! Ada seorang wanita yang berharap bisa melahirkan anakku meskipun dia tau sangat tidak mungkin untuk bersamaku. Aku tidak mengerti mengapa kau tidak menuntut banyak. Mengapa kau terlalu pasrah dengan keadaan. Saat melihatmu berbicara, kau cukup cerewet dan tidak ada seorangpun yang menduga kalau kau sesedih ini. Sekarang bangunlah, kita akan bersiap-siap!"
Sehun meninggalkan ranjang dan juga meninggalkan Luhan. Ia keluar dari kamar mencari celananya dan kembali setelah memakainya lalu menyalakan lampu. Luhan melihat Sehun mencari pakaiannya di dalam tas yang mereka bawa. Mereka akan pergi sekarang?
"Kita aka kemana?"
"Calgary!"
"Pulang? Seharusnya kita baru pulang besok, kan?"
Sehun merogoh jam di saku celananya dan memperhatikannya baik-baik. Masih jam delapan malam. Ia kembali menoleh kepada Luhan lalu memiringkan kepalanya.
"Bersiap-siaplah Luhan. Ganti pakaianmu sekarang."
Luhan tidak kuasa untuk menolak. Ia juga mulai beranjak dari ranjang dan kembali menutupi tubuhnya dengan pakaian yang bersih. Sesekali Luhan menatap Sehun yang menelpon seseorang. Ia menunggu dengan sangat gusar dan akhirnya berseru menyebut nama Jackson begitu telponnya di angkat.
Luhan mendengar Sehun dan Jackson berdebat tentang hal yang membuat keningnya berkerut. Laki -laki ini terlihat sangat memaksa dan Jackson mungkin bermalas-malasan untuk melakukan perintahnya. Tapi Luhan tidak tau harus melakukan apa saat men dengar ucapan terakhir Sehun yang sangat menentukan perasaannya. Ia hanya sanggup memandangi Sehun lama.
"Pokoknya siapkan sekarang juga. Begitu sampai di Calgary aku akan segera menikah! Ingat Jackson, malam ini juga dan aku tidak suka dengan penundaan!"
Sehun kemudian menatap Luhan yang termenung memandangnya. Ia mengembangkan tangannya lalu mengangkat bahunya.
"Memangnya kenapa? Ada yang aneh? Aku tidak mungin membiarkan anakku lahir tanpa ayah! Dan satu lagi, kau harus memberi tahu kepada anak itu kalau aku ayahnya. Kau juga tidak boleh membawanya pergi terlalu jauh, setelah anak itu lahir, aku akan mencarikanmu tempat tinggal di Ottawa agar anak itu bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan aku bisa mengunjunginya ketika aku merindukannya. Dan…"
Sehun memberikan penekanan khusus pada kata 'dan' yang dia ucapkan.
"Jangan beri nama anak itu dengan nama Oh. Aku sudah bilang, kan? Aku tidak menyukai nama Oh!"
"Tapi anak itu belum jelas keberadaannya. Kau harus memastikan aku hamil atau tidak baru kita bisa menikah."
"Kita sudah menjadi suami istri sebelum menikah, lalu apa salahnya untuk tiga bulan kedepan kita benar-benar menikah? Dan aku sudah berjanji padamu, kan? Aku akan mewujudkan impianmu. Aku akan menghamilimu, sayang! Jadi bersiap-siaplah. Jackson akan segera menyuruh orang menjemput kita. Aku harus memastikan bahwa surat-surat itu bisa selesai besok pagi, agar anakku punya hak secara hukum atas darah yang mengalir di dalam tubuhnya!"
Luhan merasakan kaki-kakinya melemah, ia terkulai dan Sehun langsung menyambutnya. Sesaat kemudian Luhan memeluknya dan berterimakasih. Sehun bukan hanya membuatnya berani bermimpi, tapi juga berusaha mewujudkan mimpinya. Sehun bahkan menjanjikan hak-hak yang seharusnya di dapat seorang anak dari ayahnya jika mereka bercerai nanti. Ya, meskipun mereka menikah hanya untuk anak itu, Luhan patut bahagia karena pada akhirnya ia akan menikah dalam artian yang sebenarnya.
Pada akhirnya ia memiliki suami. Ia sempat putus asa saat calon suami terakhirnya meninggal dunia setahun silam. Tapi sekarang harapannya bangkit lagi.
Sebuah mobil sederhana menjemput mereka sesuai dengan janji Sehun. Satu jam kemudian, Luhan berjalan di Altar dengan gandengan Jackson yang mengantarnya sampai kepada Sehun yang menunggunya disana.
Ia mengenakan pakaian biasa, tapi Jackson menyiapkan sebuah cadar jala putih yang di jepit pada sebuah tiara cantik yang saat ini menghiasi kepalanya. Saat memakaikannya, Jackson mengatakan kalau anak perempuan seringkali bertanya tentang pakaian pengantin ibunya. Jika suatu saat anak mereka perempuan, Luhan bisa menunjukkan tiara itu kepada putrinya.
Luhan sangat bahagia, kebahagiaan terbesar yang terjadi dalam hidupnya. Terlebih saat Sehun menyematkan cincin pernikahan di jarinya dan laki-laki itu menciumnya dengan sangat lama, Sehun sama sekali tidak mau berhenti meskipun deheman beberapa orang yang hadir menggema.
Haruskah ia percaya kalau semua ini bukan mimpi? Tidak ada pilihan lain bagi Luhan selain percaya. Semalam setelah menikah, Sehun membawanya pulang ke rumah keluarga 'Oh' dan untuk pertama kalinya mereka tidur seranjang di dalam kamar Sehun yang untuk sementara ini akan menjadi kamar mereka.
Luhan merasakan pelukan Sehun sangat ketat, Sehun mungkin bangun lebih dulu darinya. Luhan bergerak membuat punggungnya dan dada Sehun bergesekan, kepalanya berusaha menoleh kebelakang demi memandang wajah pria yang saat ini menjadi suaminya, pria yang berjanji akan mewujudkan impiannya untuk memiliki anak.
Sebuah kecupan mendarat di pipinya. Luhan menghela nafas pelan, ternyata pedapatnya benar kalau Sehun sudah bangun lebih dulu.
"Sejak kapan kau bangun, Sehun?"
"Suamiku!" Sehun meralat.
Luhan tersenyum geli. "Ya, baiklah. Suamiku!"
"Aku sudah bangun sekitar empat atau lima jam yang lalu!"
Sejenak Sehun diam menanti Luhan bisa mencerna kata-katanya. Tapi kelihatannya Luhan masih belum mengerti.
"Aku tidak bisa tidur, sayang. Aku memikirkan mimpimu yang pada akhirnya membuatku bermimpi juga."
"Tentang anak itu?"
"Ya, aku membayangkan saat aku menimangnya. Lalu mendaftarkannya ke sekolah, membawakan mainan saat aku berkunjung di rumah kalian di Ottawa. Anakku nanti laki-laki atau perempuan? Dia pasti sangat cantik bila perempuan dan sangat tampan kalau anak itu laki-laki. Aku akan memberikannya pendidikan yang bagus. Kau juga harus berjanji akan memberikan anakku makanan yang bergizi…"
"Ya, tentu saja. Aku akan mempertaruhkan apapun demi itu."
"Aku tidak pernah berfikir untuk punya anak sebelum ini, Luhan. Di rumah ini tidak pernah ada anak-anak, semua keluarga Oh yang datang meninggalkan anak-anak mereka dengan pengasuh. Jadi aku tidak pernah belajar menjadi seorang ayah."
"Aku tidak akan membiarkan anakku di asuh orang lain." Luhan berdesis.
"Aku akan merawatnya sendiri dan sepenuh hati. Sudahlah. Berhenti berkhayal sampai disini. Aku takut kalau mimpi itu tidak akan jadi kenyataan."
"Kalau begitu, setelah sarapan kita ke rumah sakit, ya?"
"Untuk apa?"
"Memeriksa!"
"Memeriksakan kehamilanku? Kita baru memulainya tadi malam, setidaknya perlu waktu satu minggu untuk memastikannya."
"Memeriksakan kondisimu. Kau harus bisa menjaga diri, makan-makanan yang paling bergizi, olah raga, dan…"
Sehun memikirkan apa yang akan diucapkan selanjutnya. Lalu,
"Nanti kita tanya kepada dokter saja!"
Luhan menghela nafas. "Tentu saja, aku akan melakukan apapun demi anak itu!"
"Bagaimana dengan namanya…"
"Hentikan, Sehun!"
"Suamiku!" Sehun terdengar kesal.
"Iya, suamiku. Berhentilah berencana terlalu banyak. Aku tidak ingin semua ini pada akhirnya hanya menjadi harapan belaka."
"Baiklah, aku akan diam!" Sehun kemudian menutup mulutnya.
Tiba-tiba perasaan kikuk timbul. Luhan masih tidak percaya kalau ia sudah menikah. Sehun juga sama, Sehun fikir Luhan hanya akan menjadi mainannya saja sampai ia merasa puas dan bosan. Tapi sekarang ia malah ingin menjadikan Luhan sebagai ibu dari anak-anaknya?
Sehun menghela nafas. Apapun keputusan yang diambilnya saat ini, semua itu berdasarkan hati dan perasaannya. Sehun mencintai Luhan dan ia harus mengakui itu meskipun Sehun tidak tau berapa lama cinta itu akan bertahan. Akankah sesingkat wanita-wanita lain yang juga di cintai Sehun sebelumnya?
Seseorang mengetuk pintu dengan ritme yang sangat halus. Luhan nyaris saja beranjak untuk membukanya, sayangnya Sehun semakin mempererat pelukannya. Ia bahkan menyilangkan kakinya dan bertindak seolah-olah Luhan adalah guling hidup.
Sehun membuat Luhan merinding dengan menghisap bagian terlembut dari telinganya lalu memasukkan lidahnya kesana. Luhan bergindik dalam. Ia tidak pernah di perlakukan seperti itu oleh laki-laki manapun yang pernah menidurinya.
Pintu terus di ketuk dan Sehun berhenti sejenak saat mendengar suara Sarah, bibinya di luar pintu. Sehun menghela nafas dan hembusannya tepat mengenai bagian belakang telinga Luhan sehingga membuat tubuh Luhan bergetar.
"Masuklah!" Sehun mengucapkan itu dan ia kembali menjilati telinga Luhan.
Luhan berusaha menolak, terlebih saat menyadari kalau Oh Sarah sudah berdiri di sisi ranjang mereka dengan tangan bertumpu di pinggang.
"Kenapa kalian sangat suka bermesraan setiap pagi?" Desisnya.
"Kalian mau sarapan atau tidak?"
"Ya, kami akan segera kesana." Luhan menjawab, karena tampaknya Sehun tidak akan menjawab.
Sarah menggeleng sekali lagi. "Kenyangkan dulu suamimu, Luhan. Dia selalu terlihat seperti orang lapar saat bersamamu!"
"Aku harus selalu lapar untuk cucumu, Bi!" Sehun akhirnya ikut bicara.
Wajah Sarah menjadi cerah. "Benarkah? Kalau begitu Luhan sedang mengandung?"
"Tidak, tapi akan. Karena itu biarkanlah kami mengusahakannya. Hari ini aku akan membawa Luhan ke dokter dan ku harap bibi mau membantu Luhan untuk gaya hidup sehat yang harus dijalaninya. Sudah saatnya aku menjadi Ayah!"
"Lalu bagaimana bisa akhirnya kau berfikir seperti itu?"
Sehun berhenti menggerayangi tubuh Luhan lalu duduk menatap bibinya.
"Semalam, Luhan bilang dia sangat ingin melahirkan anakku."
"Ternyata bulan madu kalian kemarin membawa perkembangan yang baik!"
"Sangat!" Sehun mengangguk-angguk untuk meyakinkan betapa ia setuju dengan ucapan bibinya.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan membicarakan mengenai masalah ini dengan Philly dan Seulgi!"
"Bisakah tidak melibatkan Seulgi?"
Sarah memandang wajah Sehun heran. "Kenapa?"
"Seulgi akan sangat cemburu karena dia belum mempunyai anak. Lebih baik jangan libatkan dia. Kau pasti tau persis bagaimana ia akan merespon semua ini."
Sarah mengangguk. "Ya, aku akan merahasiakannya dari Seulgi. Aku akan menemui Philly dulu! Dan…"
Sarah beralih kepada Luhan. "Hentikan kebiasaanmu bercelana, sayang. Demi anakmu yang akan segera kita dapatkan!"
Sarah kemudian melambaikan tangan dan menutup pintu kembali. Sehun kembali memeluk Luhan dan memulai aksinya lagi. Tapi Luhan menolak dan menjauhkan diri.
"Sebaiknya kita sarapan, suamiku! Setelah itu kita segera berangkat. Sepulang dari dokter nanti aku mau mampir ke supermarket boleh, kan? Aku akan membeli bahan-bahan untuk membuat biscuit. Demi anak kita, aku ingin menjadi ibu yang bisa memasak apa saja!"
"Ya, tentu saja Istriku. Kau juga harus membeli berbagai macam pakaian selain celana pendekmu itu. Kita harus mempersiapkannya sesempurna mungkin. Dan satu lagi. Aku akan meminta Jackson menjagamu dengan perhatian ekstra. Dia tidak boleh meninggalkanmu dan mengikutiku ke kantor sampai kau aman dari Seulgi."
Jackson benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Laki-laki itu bahkan memeriksa tangga terlebih dahulu sebelum Luhan menginjaknya. Terlalu manis untuk mimpi yang menjadi kenyataan, mimpi Luhan untuk menjadi seorang putri.
Sehun terlalu menunjukkan betapa ia sangat menyayangi Luhan sampai-sampai Luhan sendiri kebingungan memikirkan saat-saat dimana mereka akan berpisah kelak. Tapi Luhan memang tidak pernah membiarkan dirinya berharap untuk itu, ia hanya boleh berharap untuk mendapatkan anak. Itu saja sudah cukup.
Semuanya sangat mendukung seolah-olah keseriusan Sehun untuk segera memiliki anak menular kepada seluruh isi rumah. Mrs. Philarette selalu berusaha untuk menyesuaikan masakannya dengan menu sarat gizi yang diatur oleh dokter.
Ia juga tidak membiarkan ada satu benda kotorpun masuk ke kamar Luhan dan Sehun. Wanita itu juga seringkali memarahi pelayan-pelayan muda saat melihat sebutir debu.
Sarah juga lebih sering meluangkan waktu untuk menemaninya. Wanita itu menemaninya berolah raga, menemaninya berkebun, bahkan menemaninya menonton acara di televisi. Luhan tidak bisa memungkiri kalau dirinya merasa sangat istimewa.
Setiap kali Sehun pulang, Luhan selalu menceritakan kebaikan-kebaikan orang-orang di rumah ini. Dan setiap kali mendengar itu, Sehun akan tersenyum senang. Kebahagiaan yang sesempurna itu tentu saja harus di simpan baik-baik dalam ingatannya, karena selama ini Luhan hanya bisa berangan-angan saja.
Bukan hanya Luhan, Sehun juga sangat konsisten menjaga kesehatannya. Ia ingin memiliki kualitas sperma yang baik agar bisa membuahi Luhan dengan cepat. Usaha-usaha di antara mereka berdua juga tak terbantahkan membuat Luhan merasa kalau dirinya akan semakin sedih bila berpisah nanti. Tapi tidak ada pilihan lain selain menikmati.
Seulgi sejauh ini tidak mengganggu lagi. Karena Jackson, laki -laki itu tidak segan-segan menjauhkan Seulgi dari Luhan atau membawa Luhan pergi saat Seulgi berusaha mendekat. Tapi kali ini Luhan tidak bisa menghindar lagi saat Seulgi menarik Luhan kedalam kamar wanita itu. Luhan tidak mungkin berteriak sebelum Seulgi benar-benar bertindak untuk menyakitinya.
"Apa yang akan kau lakukan padaku kali ini?"
Luhan bersikap lebih waspada. Seharusnya Seulgi sadar bahwa kata-katanya menyiratkan ketidaksukaan.
"Kau takut padaku?"
"Aku hanya takut hilang kendali dan menyakitimu!"
Seulgi tertawa. "Ya, tentu saja, wanita jalang sepertimu bisa melakukan apa saja. Asal kau tau, aku mengetahui siapa kau sebenarnya. Xiao Lu!"
TBC
Kok seyeo ngerasanya selalu fast apdet pake banget yah? Abisnya tugas-tugas seyeo udah keburu seyeo selesein duluan sih XD.
Buat yang nunggu enceh, itu udah kan di atas? hehe :D. Hunhan udah nikah juga noh, puas?
Aku usahain ff nya cuman sampe chapter belasan doang. Dan chap ini udah seyeo panjangin sepanjang 'anu'-nya sehun, karena seyeo sadar chap kemaren emang pendek banget XD.
Typo bertebaran? Maafin yaaa... /pasangmukasokimut^_^/
Oiya, sebenernya seyeo punya beberapa ide cerita tapi kan seyeo tuh susah buat bikin diksi nya jadi ketunda terus gitu. Sebenernya seyeo pengen kolaborasi sama salah satu author lain yang bisa buat diksinya -siapapun terserah asal manusia- XD /digamparauthorffn/. Seyeo sih berharap ada yang mau. Tapi kalo gaada ya sudahlah, biarkan ide nya menjamur dengan sendirinya di otak seyeo.
Makasih buat yang nge-fav, nge-foll, sama yang nge-review. Seyeo cinta kalian mumumumu... :*:*:*
Big Thanks and Big Hug to :
Nam NamTae, Arifahohse, Ludeer, Seravin509, misslah, Angel Deer, Luniaakimwu, Selenia Oh, Guest, devi, xikanish, Juna Oh, molly a.k.a syfr17, JodohSeHun, Hime Susilo, ohhunhan5, SyiSehun, .39, HunHanCherry1220, hunnaxxx, mandwa, noVi, rikha-chan.
Last..
Review juseyo..
Gomawooooooo...:*:*:*
