Luhan
Remake from Pheobe's novel "Claire"

Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)


Preview Chap :

Sehun merasa harapan yang dirajutnya selama ini semakin membuncah.

Akhirnya anak itu datang, akhirnya Tuhan mengizinkan Sehun merasakan kebahagiaan saat mengetahui kalau dirinya akan menjadi seorang Ayah. Akhirnya, usahanya selama ini tidak sia-sia.

Sehun ingin memeluk Luhan dan berterima kasih. Tapi ia menundanya dan membawa Luhan keluar dari rumah itu.

"Kita harus kedokter, aku harus memastikannya sekarang juga!"


Luhan tau kalau Sehun masih tidak bisa percaya. Ia meninggalkan rumah itu dan meminta Jackson menunggu mereka disana. Sehun bahkan melupakan mobilnya dan memilih untuk pergi dengan angkutan umum lalu sisanya dilakukan dengan berjalan kaki. Sudah sangat lama Luhan tidak bergerak secepat yang dilakukannya sekarang, ia merasa lelah. Tapi Luhan tidak ingin protes dengan sikap terburu -buru Sehun, ia memakluminya.

Setibanya di rumah sakit, Sehun benar-benar memaksa semua orang bertindak dengan cepat. Ia tidak sabar menunggu waktu saat mengetahui bahwa dokter kandungan sedang berada di ruang operasi. Saat dokter itu memeriksa Luhan pun. Sehun tidak ingin melepaskan tangan Luhan dari genggamannya sampai akhirnya, dokter mengatakan sesuatu yang penting yang membuat Sehun terdiam lagi.

"Hasilnya Positif. Istrimu memang sedang mengandung, sudah memasuki usia enam minggu. Kau pasti sangat mengharapkannya!"

Sehun tidak menjawab apa-apa, ia hanya membeku. Genggamannya pada tangan Luhan semakin keras. Luhan berusaha tersenyum kepada dokter dan bertanya banyak hal tentang kandungannya. Apa yang harus dilakukannya setelah ini, apa yang harus dihindarinya, makanan seperti apa yang harus di konsumsi, berapa banyak, susu merek apa yang terbaik, Luhan benar-benar bersemangat menghadapi kehamilannya. Tapi Sehun masih tidak berbicara sampai mereka keluar dari ruangan dokter.

Luhan hanya mengikuti Sehun berjalan perlahan melewati jalan-jalan yang sudah mereka lalui tadi. Langit sudah mulai gelap, lampu -lampu kota sudah menyala membuat suasana menjadi semarak. Melihat Sehun yang bersikap seperti itu, Luhan menjadi putus asa. Ia pesimis kalau Sehun benar-benar mengharapkan kelahiran anaknya.

"Kau menyesal, Sehun? Kelihatannya kau tidak senang!" Langkah Sehun berhenti.

Ia memutar tubuhnya sehingga sekarang Sehun dan Luhan berhadap-hadapan. Beberapa saat kemudian tangis bahagianya keluar lagi. Sehun merasakan lagi bangaimana jari-jari Luhan yang lembut mencoba menyingkirkan air mata dari pipinya. Ia sangat bahagia, tapi tidak tau bagaimana cara terbaik untuk mengekspresikannya.

"Aku sangat bahagia Luhan. Percayalah!"

"Tapi kau sangat pendiam. Sejak tadi kau sama sekali tidak mengatakan apa-apa!"

"Aku tidak tau harus mengatakan apa. Aku akan punya anak setelah kita membangun angan tentang anak itu. Kau fikir apa lagi yang harus kulakukan?"

"Kau Shock?"

"Iya, mungkin begitu, karena bahagia!"

"Astaga, Sarah mengatakan kepadaku kalau dia tidak pernah melihatmu benar-benar menunjukkan kebahagiaannya. Wanita itu selalu bertanya -tanya bagaimana reaksimu saat mendengar ini. Ternyata begini kelakuanmu saat kau bahagia? Mengerikan sekali, sungguh!"

Seberkas senyuman kembali muncul di bibir Sehun lalu berubah menjadi seringai yang menyenangkan. Sehun berusaha merengkuh bahu Luhan dan memberikannya sebuah pelukan yang sangat kuat sehingga Luhan kesulitan bernapas.

Beberapa saat kemudian, Sehun menggendong Luhan secara tiba -tiba dan Luhan terpekik singkat karenanya. Ia mengucapkan terimakasih kepada Luhan dengan kuat, terima kasih karena bersedia menjadi ibu dari anaknya.

Luhan tidak bisa menahan tawa bahagianya. Tapi ia tidak bisa merasa nyaman dalam gendongan Sehun di antara pandangan orang -orang.

"Turunkan aku, Sehun!"

"Tidak akan pernah!"

"Semua orang memandangi kita!"

"Memangnya kenapa? Biarkan aku menggendong calon bayiku untuk pertama kali!" Gumamnya penuh kebanggaan.

Sehun benar-benar bertindak seperti orang bodoh karena ia mengumumkan kepada orang -orang kalau Oh Sehun akan memiliki anak. Ia menceritakan kehamilan istrinya kepada siapa saja yang memandangi mereka dengan tatapan yang ikut berbahagia.

Banyak orang yang memberi selamat. Dan ia baru berhenti setelah merasa lelah dan kehabisan tenaga untuk menggendong Luhan. Luhan memang agak sedikit lebih berat semenjak menyantap menu makanan bergizi yang di susun oleh dokter.

Sehun kembali menggandeng tangan Luhan dan berjalan dengan santai di antara keramaian ibu kota.

"Terima kasih, Luhan!"

"Kau selalu mengucapkan itu!" Luhan menggerutu.

"Aku tidak tau lagi harus mengatakan apa. Aku bersumpah, kau membuatku kehabisan kata-kata!"

"Ini pengalaman pertama? Istrimu yang dulu tidak pernah mengandung?"

"Aku mengetahui kehamilannya setelah ia menggugurkannya."

"Mungkin karena dia mengetahui hubunganmu dengan Seulgi!"

"Itu terjadi sebelum aku bersenang-senang dengan Seulgi. Tidak ada seorang pun wanaita yang mau melahirkan anakku tanpa pamrih. Mereka berharap aku mewarisi semua saham milik Yifan dan menjadikan mereka sebagai wanita kaya. Setiap kali aku menawarkan akan mencarikan dokter terbaik untuk menggugurkan kandungannya, mereka selalu menerimanya dengan senang hati. Tiga atau empat orang wanita yang berhubungan denganku termasuk mantan istriku yang terakhir, mengesankan kalau mereka belum siap memiliki anak!"

"Kau pernah menginginkannya?"

Sehun menggeleng. "Aku juga belum pernah menginginkannya seperti sekarang!"

Luhan mengangguk paham. Hening sejenak sebelum akhirnya Luhan merasa terlalu sepi dan ia memutuskan untuk berbicara.

"Seharusnya aku juga berterimakasih . Kau mengizinkan aku merasakan kebahagiaan seperti ini. Ku fikir semua ini hanya mimpi. Ku kira, aku akan menghabiskan hidupku di rumah pelacuran milik Geronimo dan mati karena penyakit kelamin yang ganas!"

"Kau membayangkan hal yang buruk sebagai masa depanmu? Semua orang menghayalkan yang indah-indah!" Sehun berdecak.

Ia juga mulai membayangkan hal mengerikan yang Luhan ceritakan. Hatinya mulai tergugah untuk mengetahui masa lalu Luhan lebih dalam.

"Bagaimana bisa kau dibawa kepada Geronimo?"

"Aku tidak tau apa-apa, Sehun. Saat itu usiaku masih sembilan belas tahun. Aku hanya menunggu Yifan datang karena saat itu, kukira Yifan terpaksa menginap demi mendapatkan uang. Tapi setelah seminggu, Yifan tidak juga datang. Seandainya aku tau kalau Yifan tidak akan pernah kembali, aku pasti sudah melarikan diri saat itu. Tapi karena aku memutuskan untuk menunggu, Geronimo dengan sangat mudah menemukanku!"

"Dan dia memaksamu menjadi pelacur?"

Luhan menggeleng. "Ia memintaku membersihkan Bar siang dan malam. Geronimo tidak pernah ingin aku menjadi pelacur. Tapi dia memiliki lima orang asisten yang membuatku tidak bisa bertemu dengan Geronimo untuk mengadukan segala perbuatan mereka. Kejadian sangat buruk menimpaku, kelima orang itu memperkosaku secara bergantian dengan cara yang sangat kasar. Mereka memukuliku sebelum memaksaku melayani mereka setiap hari selama sebulan. Aku benar-benar menderita saat itu. Aku ingin mengadu, tapi tidak tau harus kepada siapa. Suatu hari, ada perayaan besar yang membuatku bisa bertemu dengan Geronimo. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengadukan penderitaanku saat itu di hadapan orang yang sangat banyak, aku juga masih memiliki rasa malu yang besar untuk menceritakan hal itu kepada orang-orang. Mereka selalu mengancam dan mengelilingi Geronimo untuk memastikanku tidak membuka mulut. Lalu Geronimo menyentuh kepalaku dan bertanya bagaimana dengan pekerjaanku. Saat itu aku benar-benar menangis, Sehun! Aku bertanya bagaimana caranya agar aku bisa segera bebas dari tempat itu dengan cepat. Geronimo menceritakan tentang setiap pekerjaan yang bisa menghasilkan uang banyak. Sayangnya aku tidak memiliki kemampuan apa-apa."

"Karena itu kau memilih menjual diri sebagai jalan hidupmu?"

Luhan mengangguk. "Setelah malam itu, kelima orang itu selalu memukuliku dengan lebih brutal bila aku tidak menghasilkan uang, atau tidak bisa membuat seorang laki-lakipun tertarik kepadaku. Aku harus mencari lima orang laki-laki untuk menggantikan mereka. Jika tidak, mereka akan menutupi kekurangannya dengan mereka sendiri. Tidak ada pilihan lain selain melayani dan diberikan uang. Aku mulai belajar menggoda, aku mulai memberanikan diri menari di panggung, membuka pakaian di depan mereka dan akhirnya aku kehilangan Xiao Lu untuk selamanya. Menjual diri pada saat itu bukan lagi menjadi keharusan, tapi menjadi pilihan. Setelah sekian lama, aku bisa memiliki tempat tinggal sendiri, aku bisa menghindari kelima orang itu dengan bebas, dan tidak akan ada seorang pun dari mereka yang bisa menyentuhku lagi!"

Sehun terpaku. Lima orang dalam semalam selama bertahun-tahun? Sehun menyesali dirinya yang tidak meraih Luhan lebih dulu. Ia menyesali dirinya yang membuat Luhan dijamah banyak orang, diperlakukan buruk dan ia sempat berfikir kalau Luhan adalah mainan? Sehun kembali memeluk Luhan dan berbisik.

"Hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi dalam hidupmu. Aku berjanji!"


Kehamilan itu bukan hanya membawa kebahagiaan , tapi juga rasa takut yang teramat sangat.

Luhan selalu ketakutan bahkan untuk melangkah, ia merasa kalau Seulgi memasang jebakan di setiap tempat untuk mencelakakan anaknya.

Sehun pasti sudah menduga itu. Sehun semakin mempersempit waktu kerjanya. Ia hanya datang ke kantor di pagi hari dan pulang menjelang makan siang. Setelah itu, Sehun meminta Jackson untuk menggantikannya di kantor.

Untungnya Sehun berfikir untuk turun tangan sendiri dan menjaga Luhan sehingga Luhan bisa merasa lebih aman. Meskipun Jackson cukup terampil, Jackson tetap saja akan meninggalkannya di beberapa tempat.

Jackson bukanlah suaminya sehingga ia tidak mungkin menemani Luhan kemana pun ia melangkah. Selain itu, Sehun memindahkan kamar mereka ke lantai bawah agar Luhan tidak perlu naik dan turun tangga terlalu sering. Itu juga memberikan sedikit keringanan pada segala ketakutan-ketakutan Luhan pada ancaman yang akan menyingkirkan anaknya.

Pagi ini Luhan benar-benar hanya mengunci kamarnya setelah sarapan dan minum susu. Kandungannya akan memasuki bulan ketiga beberapa hari lagi. Itu artinya seharusnya Luhan sudah keluar dari rumah ini. Luhan menanti Sehun pulang dengan setia.

Yang dirasakannya hanya gelisah, ia juga selalu ketakutan bila ada yang mengetuk pintu kamarnya tanpa bersuara. Untungnya Sehun tidak pernah mengganggunya dengan hal-hal konyol seperti itu. Luhan akan marah besar jika dia melakukannya.

Jam di dinding menunjukkan pukul setengah dua belas siang. Beberapa menit lagi Sehun akan sampai di rumah, dan saat itu Luhan akan lebih percaya diri untuk keluar dari pintu kamarnya. Ia berusaha menahan diri untuk bersikap tidak sabaran sampai akhirnya Sehun memanggil namanya dan mengetuk pintu. Luhan langsung membuka pintu dengan terburu -buru dan memeluk Sehun erat. Sehun membelai kepalanya dan mereka duduk di ranjang tanpa melepaskan pelukannya.

"Kau sedang hamil, tidak boleh merasa stress. Kalau terus memikirkan ancaman Seulgi bagaimana dengan bayimu?"

Luhan mengendurkan pelukannya dan memandangi Sehun. "Aku pergi saja dari rumah ini. Lagi pula waktu ku juga sudah habis. Sudah seharusnya aku keluar dari rumah ini, kan?"

"Waktu siapa yang sudah habis? Waktu Xiao Lu? Tapi Luhan memiliki perpanjangan waktu karena sedang mengandung anakku!"

"Tapi aku ketakutan, Sehun!"

"Aku belum bisa melepaskanmu sekarang. Setidaknya berilah aku kesempatan untuk menemani kehamilanmu. Setelah anak itu lahir, baru kau boleh pergi dari rumah ini!"

"Sehun, aku akan merasa lebih aman bila berada di luar sana!"

"Siapa bilang? Kalau kau pergi dari rumah ini, Seulgi akan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk menyakitimu! Di luar sana, tidak ada orang yang mengenalnya sehingga dia bebas untuk bertindak dan melukaimu. Tapi di rumah ini, dia harus berhadapan dengan banyak orang yang menjagamu, terutama aku!"

"Aku takut dia melakukan sesuatu hingga aku terjatuh dan membuatku kehilangan bayiku. Dia akan dengan mudahnya berdalih kalau itu adalah karena kecerobohanku sendiri!"

Sehun menggelengkan kepalanya. Ia mungkin sudah marah-marah mendengar ucapan ketakutan seperti itu jika saja Luhan tidak sedang mengandung anaknya. Sehun harus bisa lebih sabar, ia tidak boleh menyinggung Luhan sedikitpun.

"Karena itu aku memperkecil kesempatanmu untuk jatuh. Aku memindahkan kamar kita kelantai bawah. Aku juga meminta Jackson memastikan setiap langkahmu, meminta Mrs. Philarette untuk memastikan kalau lantai selalu kering sebelum kau menginjaknya. Ada banyak orang disini dan semuanya mengawasimu!"

"Aku merasa tidak aman disini!"

Sehun menepuk-nepuk kepala Luhan dengan lembut. "Ada aku disini. Kau tidak perlu takut. Aku akan terus pulang pada jam-jam seperti ini sampai anakku lahir."

"Bagaimana jika Seulgi…"

"Berhentilah berfikiran negatif. Kau terlalu banyak memikirkan kemungkinan buruk. Aku tidak akan membiarkanmu terluka, bahkan jika Seulgi mencubitmu aku akan siap untuk menamparnya. Jika dia menghilangkan nyawa anakku, aku juga akan menghilangkan nyawanya!"

Mendegar ucapan Sehun itu, Luhan bisa merasakan kelegaan memenuhi sebagian rongga dadanya, meskipun hanya sebagian kecil, ia merasa sangat nyaman dan lebih baik.

Luhan menyelipkan tangannya di kedua sisi tubuh Sehun lalu memeluknya lebih erat. Ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman disana. Seandainya ia bisa selalu seperti ini, maka Luhan tidak akan ketakutan seperti saat ini.

"Sekarang ayo kita makan siang. Kau tau Mrs. Philarette memasak apa hari ini?"

Luhan menggeleng. "Aku sama sekali tidak keluar kamar sejak tadi!"

Sehun hanya tersenyum maklum. Ia membantu Luhan untuk berdiri dan membimbingnya menuju ruang makan. Mereka harus menunggu lama karena Sarah dan Seulgi sangat lama menunda makan siangnya.

Begitu kedua orang itu keluar dan duduk bersama, Sehun merasa ada sesatu yang aneh. Wajah Sarah sangat masam sedangkan Seulgi tersenyum sinis kepada Luhan. Sehun berusaha untuk tidak perduli dengan keganjalan itu, ia terus berusaha mengajak Sarah dan Luhan untuk bicara. Sarah hanya menjawab seadanya, tapi disaat Luhan akan memulai makan siangnya…

"Turunkan sendok itu!" Sarah berujar tajam.

Ia memandang Luhan dengan tatapan terjahat yang pernah Sehun lihat seumur hidupnya.

"Aku tidak ingin melihatmu lagi di rumah ini!"

Sehun memandang Luhan sejenak, Luhan kelihatan ketakutan, ia tengah sensitif karena mengandung, bahkan mual-mual yang dirasakannya sama sekali belum reda.

"Bibi, ada apa?"

"Kau Sehun! Berani-beraninya membohongiku. Aku sudah menganggapmu seperti anak sendiri. Aku tidak pernah membedakanmu dengan Yifan. Tapi apa yang kau lakukan padaku?"

"Ada apa ini?" Suara Sehun meninggi.

"Wanita itu. Xiao Lu, kan? Kau membawa Xiao Lu kerumah ini? Aku sangat tidak berharap bisa bertemu dengannya. Apalagi hidup bersamanya di rumah ini. Tapi kau malah menikahinya dan menjadikannya menantu di rumah ini. Dia adalah penyebab aku kehilangan Yifan!"

Sehun memandangi tangan-tangan Luhan yang menggenggam lengannya. Luhan semakin ketakutan sehingga genggamannya terasa sangat kencang. Sehun kembali menatap Oh Sarah yang berbicara tanpa memandangnya.

"Yifan meninggal karena aku, jangan pernah salahkan Istriku."

"Aku tidak perduli. Bagiku, dialah penyebabnya! Jadi usir dia dari rumah ini!"

"Dia mengandung anakku!"

"Kita bisa mengambil anakmu setelah anak itu lahir!"

"Tidak!" Suara Luhan menyeruak.

Ia memandang Sehun dengan tatapan memohon, Luhan mulai menangis.

"Kau tidak akan melakukan itu, kan? Kau berjanji tidak akan memisahkan aku dari anakku!"

"Anak itu menggantikan Yifan yang sudah kau renggut!" Seulgi menambahkan.

Sehun memandang Sarah dan Seulgi bergantian dengan wajah yang merah karena marah. Tentu saja Seulgi penyebabnya, Seulgi yang menceritakan semuanya kepada Sarah.

"Aku tidak bisa melakukan itu, Bi! Aku sudah berjanji kepada Luhan. Apapun yang terjadi aku tidak akan memisahkannya dari anaknya!"

"Kau ingin berkhianat Sehun? Kurang apa lagi keluarga ini padamu?"

"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Apa lagi yang tidak kulakukan untuk keluarga ini? Aku menganggapmu sebagai ibuku sendiri. Aku juga sedih karena kehilangan Yifan. Aku selalu berusaha dengan baik menggantikan Yifan mengurusi segala kewajiban-kewajiban yang dilalaikannya, termasuk kewajibanku terhadap Seulgi meskipun aku selalu tertekan karena itu."

Sarah memandangi Seulgi sejenak. Ucapan terakhir Sehun benar-benar membuatnya penasaran. Tapi Sarah tidak akan bisa menanyakan hal itu sekarang.

"Kalian memiliki Yifan selama delapan tahun!" Sehun melanjutkan ucapannya.

"Akibatnya, gadis ini terlunta-lunta dan terpaksa menjual dirinya untuk membayar semua hutang-hutang Yifan di Denmark sebagai bayaran karena memiliki Yifan selama beberapa minggu. Sekarang kau ingin aku memisahkan Luhan dengan anaknya dan menambah penderitaannya? Demi Tuhan aku tidak bisa melakukannya Aku tidak bisa memisahkan Luhan dari anaknya dan aku juga tidak bisa berpisah dengan anakku!"

"Dan kau berharap bisa tinggal disini?" lagi-lagi Seulgi ikut campur.

"Itu hanya mimpi, Sehun!"

"Aku tidak pernah ingin bicara denganmu!"

Kali ini Sehun berteriak sambil melempar sendok makan kearah Seulgi. Benda itu mengenai dahinya dan membuat Seulgi mengaduh. Sehun kembali menoleh kepada bibinya.

"Fikirkanlah lagi! Aku tidak mungkin membiarkannya keluar dari rumah ini sendirian."

Sarah diam tidak berkata apa-apa dalam jeda yang sangat panjang. Seulgi sudah tidak berani lagi berkata apapun karena memikirkan apa akibat yang akan di dapatnya bila ikut campur lagi dalam pembicaraan ini.

Sehun putus asa dengan ketidak perdulian Sarah terhadap permohonannya. Ia memandang Luhan yang berusaha menahan agar tangisannya tidak mengeluarkan suara. Ada sesuatu yang mendesaknya untuk membela Luhan, bukan hanya karena wanita itu mengandung anaknya. Sehun hanya tidak sanggup, benar-benar tidak sanggup untuk berpisah dengan Luhan secepat ini.

Sehun menggenggam tangan Luhan yang memagangi lengannya dengan erat sehingga Luhan memandangnya. Ia menepuk jari -jari Luhan beberapa kali agar Luhan bisa lebih tenang. Sarah belum mengatakan sepatah katapun dari mulutnya, tapi Sehun sudah memutuskan sesuatu.

"Baiklah, aku akan pergi membawa istriku. Kalau kau tidak ingin istriku tinggal di rumah ini, aku juga tidak bisa tinggal disini. Dan Bibi tidak perlu khawatir. Aku akan melepaskan 'Oh' dari hidupku!"

Sehun mengeluarkan ponsel dari sakunya. Hanya itu harta Oh yang terdekat dengan dirinya saat ini. Sejenak kemudian suara Sehun bergema memanggil Jackson dan Jackson segera datang seolah -olah dia sudah lama berada disana, mendengar semuanya.

"Pinjamkan aku pakaianmu!"

Jackson tecengang mendengar ucapan Sehun barusan. "Apa yang kau lakukan, Sehun? Fikirkanlah lagi!"

"Pinjamkan aku pakaianmu. Aku akan mengembalikannya dalam bentuk uang jika aku sudah memiliki pekerjaan."

Sehun memindahkan tangan Luhan kedalam telapak tangannya, menggenggamnya erat-erat dan memaksanya untuk berjalan menuju kamar Jackson yang tidak jauh dari dapur. Jackson mengeluarkan beberapa pakaiannya dari lemari dengan perasaan ragu ragu. Tapi Sehun segera menegaskan kalau keputusannya sudah bulat.

Luhan terisak melihat perilaku Sehun yang kelihatan sangat emosional dan tanpa fikir panjang. Ia tidak menyangka semuanya terjadi seperti ini.

"Sehun, lebih baik aku saja yang pindah. Kau tidak bisa berpisah dengan keluargamu!" Gumam Luhan dengan suara bergetar.

Sehun memandangnya tajam. "Keluargaku adalah kau dan anakku, aku tidak bisa berpisah dari kalian saat in!"

"Tapi kalian akan tinggal dimana?" Jackson kembali bergumam.


TBC


Daku kembaliiii! #alayluthor-_-

Apdet nya nggak molor kan? Abisnya makin kesini makin banyak tugasnya. Jadi rencana nya seyeo, mulai sekarang apdetnya paling cepet seminggu sekali, atau paling lama dua minggu sekali lah. Maklumin ya readers-nim, biasalah anak sma.

Oiya seyeo mintak maaf jugak, soalnya belum bisa jawab pertanyaan-pertanyaan kalian sama bales review kalian satu-satu. Ini aja nyempet-nyempetin apdet sebelum presentasi tugas demi kalian, pake wifi sekolah lagi. sosweet kan gue? Tapi gue sadar kok ini pendek, dikejar waktu broh!

Kritik dan sarannya, gue tunggu yah. Sama jangan lupa, ini REMAKE alias bukan karya seyeo sendiri. Oke sih itu aja.

Makasih buat yang nge-fav, nge-foll, apalagi yang nge-review, seyeo cinta kaliaaan mumumu :*:* #civokbasyah

Big Thanks and Big Hug to :

Angel Deer, Arifahohse, Lisasa Luhan, Seravin509, Nam NamTae, Sarrah HunHan, Juna Oh, Navizka94, AGNESA201, ElisYe Het, fitry .sukma .39, misslah, hunnaxxx, JodohSeHun, HunhanEffects , Luniaakimwu, Ludeer, PxnkAutumnxx, HunHanCherry1220, SyiSehun, pinkeuxo, molly a.k.a syfr17, OhXiSeLu, rikha-chan, kyunie, whirlwindgirl, and all Guest.

Last..
Review juseyo..
Gomawooooooo.. :*:*