Luhan
Remake from Pheobe's novel "Luhan"

Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)


Preview Chap :

Chanhyun menguap, padahal baru jam delapan malam. Mungkin anak itu terlalu banyak makan hari ini sehingga rasa kantuk menyerangnya lebih cepat. Ia mulai menyandarkan kepalanya kepada tubuh Luhan, masih berusaha membuka matanya agar tidak tertidur. Luhan merangkul Chanhyun erat-erat dan membelai lengannya.

Ia memandangi anak itu dan berkhayal seperti apa wajah anaknya nanti. Tidak ada satu halpun yang bisa terbayang. Luhan tidak bisa menebak seperti apa rupa anaknya.

"Bibi, ada orang!"

Luhan terkejut. Jika saja Chanhyun tidak menegakkan kepalanya, Luhan pasti mengira kalau Chanhyun sedang mengigau. Anak itu melihat ke jendela dan Luhan melakukan hal yang sama. Sekelebatan itu datang lagi. Begitu cepat.

"Itu, ada orang!"

Chanhyun menunjuk ke arah jendela dan turun dari sofa. Luhan segera meraih tubuhnya dan memeluknya erat-erat. Perasaannya tidak enak. Mungkin ia harus segera lari. Dia harus menyelamatkan diri.


Luhan sudah menduga gangguan itu akan datang, tapi dia sama sekali tidak menduga secepat ini.

"Sayang, ayo kita pergi!"

Beberapa detik setelah kata itu terucap, Luhan mendengar bunyi yang keras menghantam pintu rumahnya. Secepat mungkin Luhan mencari pintu belakang. Ia harus melarikan diri dengan berbagai cara. Tapi begitu pintu di buka, dua orang laki-laki bertubuh besar memaksa untuk masuk.

Luhan berusaha menahan pintu untuk menghambat, dia tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi untuk melarikan diri. Tapi bagaimana dengan Chanhyun?

"Hyunnie, masuk ke kamar Bibi dan kunci pintu!"

Chanhyun sempat termenung sejenak. Tapi keributan yang dihadapinya pada akhirnya membuatnya ketakutan dan segera melarikan diri ke kamar depan. Bunyi klik yang keras terdengar, si kecil sudah mengunci pintunya.

Beberapa detik kemudian pintu depan sudah terdobrak. Ada dua orang laki-laki lagi yang masuk dan segera menarik rambut Luhan lalu menyeretnya ke ruang tengah. Luhan merasa kesakitan dan berusaha melawan.

Ia bergantung kepada apa saja yang bisa menahannya. Beberapa saat kemudian dua orang laki -laki yang sempat Luhan tahan masuk dan mengangkat kakinya. Mereka menggotong Luhan dan melempar
tubuhnya sehingga Luhan terjatuh di lantai. Perutnya terbentur dan Luhan mulai merasakan nyeri.

Luhan tidak bisa berteriak, mulutnya segera di bekap saat ia ingin melakukan itu. Seorang di antara mereka menginjak-injak tubuh Luhan dengan sol sepatu yang sangat keras. Laki-laki itu memulainya dari kaki dan perlahan-lahan mulai naik menuju perut seolah-olah orang itu menginginkan Luhan mencerita terlebih dahulu dengan membayangkan apa yang akan terjadi dengan perutnya.

Luhan berusaha memberontak, tapi tubuhnya di pegangi. Ia juga berusaha berteriak, sayangnya suaranya hanya keluar berupa dengungan karena tertahan oleh telapak tangan. Sebuah gigitan Luhan usahakan untuk menyingkirkan tangan itu, tapi daya tahan mereka begitu kuat. Luhan tidak bisa menyerah, ia tidak ingin menyerah. Bagaimana bila terjadi sesuatu dengan bayinya? Luhan tidak akan membiarkan kebahagiaannya terenggut.

Sebuah keluhan keras kemudian terdengar. Entah apa yang terjadi, Luhan hanya bisa memandangi dua orang dari laki-laki itu berkelahi dengan seseorang.

'Chanyeol?'

Luhan merasa bisa bernafas lega saat injakan itu belum sempat menghantam perutnya. Ia tertolong, bayinya juga. Luhan berusaha menjauh dari perkelahian, ia menepi dan duduk bersandar ke dinding. Beberapa orang lain mulai masuk membantu Chanyeol.

Sesaat kemudian ke empat orang asing yang berusaha mencelakakan Luhan sudah di keroyok. Mereka berusaha melarikan diri dan semua orang memukuli mereka berusaha mengejar. Luhan tinggal sendiri dan ia merasa sangat lelah, perlahan matanya terpejam. Luhan ingin tidur.

"Luhan," Baekhyun memanggil namanya.

Luhan berusaha membuka matanya lagi dan mengangkat wajahnya untuk memandangi Baekhyun. Senyumnya mengembang pasrah.

"Luhan, kau baik-baik saja?"

"Aku sangat lelah. Aku ingin tidur!"


Sehun benar-benar khawatir karena firasatnya hari ini benar-benar sangat tidak enak.

Sejak sore tadi Sehun merasa ragu untuk pergi. Jika saja bukan karena menghargai permintaan Truddy yang seringkali membantunya, Sehun tidak akan membiarkan dirinya menjauh dari Luhan. Seharusnya ia menjaga Luhan dan tidak beranjak dari sisinya.

Sehun melangkah dengan lebih cepat dan harus tertegun beberapa saat ketika melihat pintu rumahnya yang rusak. Rasa khawatirnya semakin mendesak, memaksanya untuk berlari ke dalam rumah. Sayangnya Sehun tidak menemukan siapa-siapa.

Dari mulutnya mulai keluar nama Luhan. Pelan kemudian mengeras, lalu Sehun berteriak. Luhan tidak ada disana.

"Sehun, dia di rumahku!"

Sehun segera keluar dari rumah dan melihat Chanyeol berada di depan rumahnya. Ia merasa lega mengetahui itu, tapi tidak cukup untuk membuatnya lebih tenang. Sehun segera berlari secepat mungkin ke rumah sebelah dan langsung masuk tanpa izin pemiliknya. Ia tau kalau Chanyeol juga berlari untuk mengimbanginya, tapi Sehun tidak bisa perduli dengan itu sekarang, yang di perdulikannya hanya Luhan.

"Dimana dia?"

Sehun bertanya kepada Park Chanyeol saat laki-laki itu baru saja sampai di dekatnya. Sehun baru merasa kalau ia sedang lelah setelah melihat Chanyeol bernafas dengan terengah-engah.

"Di kamar. Tadi dia bilang kalau dia merasa lelah dan ingin tidur."

Sehun segera berlari, membuka kamar satu persatu dan ia menemukan Luhan di kamar tengah. Luhan sedang berbaring di temani oleh Baekhyun dan dia tidak tidur. Keadaannya benar-benar kacau, pakaian yang di kenakannya juga kotor.

Melihat Sehun datang, Luhan berusaha bergerak tapi mungkin rasa sakit menyerangnya sehingga ia mengerang pelan. Sehun segera menyongsong Luhan untuk membantunya duduk. Beberapa detik kemudian, Luhan memeluknya dan menangis sejadi -jadinya.

Sejak tadi Luhan berusaha untuk terlihat kuat, berusaha untuk tidak menangis. Tapi saat bersama Sehun, ia merasa sangat lemah dan sangat ingin dilindungi.

Sehun membalas pelukan Luhan dengan sama eratnya. Cukup lama sampai ia sanggup mengendurkan dekapannya dan membelai kepala Luhan agar bisa lebih tenang. Sehun memandangi Baekhyun dan Chanyeol meminta penjelasan. Sejak tadi, ia sama sekali tidak tau apa yang sudah terjadi pada rumahnya dan juga pada istrinya.

"Tadi ada orang yang menyerang ke rumahmu!" Chanyeol berusa ha memberi penjelasan.

"Aku juga tidak tau pada awalnya, sampai anakku datang dan mengatakan kalau Bibi Luhan-nya sedang berkelahi dengan banyak laki-laki. Aku segera datang begitu mendengar satu teriakan, Luhan tidak berteriak lagi dan kami sudah sangat khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya. Karena itu aku segera meminta Baekhyun menelpon polisi dan aku meminta bantuan kepada tetangga yang lain."

"Chanhyun melompat dari jendela kamar kalian!" Baekhyun menambahkan.

"Dia bilang, Luhan menyuruhnya masuk kamar dan mengunci pintu. Aku rasa pastilah sesuatu yang berbahaya, makanya Luhan menyuruh anakku melakukan hal itu!"

Sehun memandang Luhan lagi, ia masih membenamkan wajahnya di dada Sehun dan terisak ketakutan. Perlakuan seburuk apa yang di terimanya?

"Bagaimana dengan pelakunya?"

"Polisi sedang menanganinya. Sampai saat ini, mereka sama sekali belum mengakui apa-apa."

Sehun mempererat lagi dekapannya dan berharap Luhan bisa segera tenang. Luhan masih menangis seperti itu dalam waktu yang panjang. Akhirnya Sehun bosan menunggunya merasa lega dan berkata.

"Tenanglah, Luhan! Kau sedang hamil besar. Kau tidak boleh tertekan."

"Aku tidak bisa tenang."

Luhan mengeluh di sela-sela tangisannya. Air mataya sudah membasahi T-shirt yang Sehun kenakan.

"Mereka akan merenggut anakku Sehun. Kalau terjadi apa-apa pada anakku lebih baik aku mati!"

"Apa yang kau katakan ini? Anak kita baik-baik saja, kan?"

Luhan tidak menjawab, ia meringis? Sehun nyaris tidak bisa membedakannya karena isakan Luhan lebih kencang. Ia kesakitan dan Sehun baru sadar kalau Luhan sedang memegangi perutnya. Beberapa saat kemudian Baekhyun berteriak karena melihat darah keluar dari sela-sela kaki Luhan. Sehun tidak tau harus melakukan apa, dia terpaku.

"Luhan, apakah tadi kau terbentur?" Chanyeol bertanya.

Luhan mengangguk. "Mereka menghempaskan tubuhku ke lantai. Aku sempat merasa nyeri tadi, tapi sudah hilang. Sekarang terasa lagi!"

"Astaga, seharusnya kau mengatakannya dari tadi! Kami seharusnya sudah membawamu ke rumah sakit!"

Luhan menangis lebih kuat. Ia menarik pakaian Sehun menahan rasa sakit.

"Sehun, apa yang akan terjadi dengan anakku?"

Sehun tidak tau harus menjawab apa. Ia memandang Chanyeol penuh harap. "Bisakah kau antarkan kami ke rumah sakit sekarang?"

"Ya, tentu! Cepatlah!" Dan semua orang menjadi sangat terburu-buru.

Sehun menggendong Luhan meskipun ia tau kalau berat Luhan sekarang dua kali lipat dari berat tubuhnya. Tenaga sekuat itu entah datang dari mana. Yang pasti, Luhan harus segera di bawa ke rumah sakit.

Melihat Luhan saat itu, Sehun sudah putus asa dengan kehidupan anaknya. Tapi ia masih terus berharap untuk tidak kehilangan Luhan. Bila terjadi sesuatu pada istrinya, Sehun tidak tau akan melakukan apa, tidak tau akan menjadi seperti apa hidupnya.

Chanyeol mengemudikan mobil dengan kecepatan super. Ia harus bertanding dengan polisi lalu lintas karena itu. Untungnya Chanyeol tidak menyerah begitu saja dengan berhenti dan mengikuti kehendak polisi-polisi yang mengejarnya. Ia terus mengungguli sampai akhirnya mereka tiba di rumah sakit.

Chanyeol harus mengurusi mobilnya karena polisi lalu lintas langsung menyambarnya. Tapi Sehun bersyukur karena beberapa orang perawat langsung datang dan membawa istrinya keruangan gawat darurat untuk segera mendapatkan penanganan. Semua yang dilakukan serba cepat hingga Sehun berakhir di ruang tunggu unit gawat darurat. Ia menunggu keputusan dokter tentang Luhan.

Sehun tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya meskipun Chanyeol sudah berulang kali menepuk bahunya untuk menenangkan. Ia khawatir dan juga ketakutan, Sehun selalu berdoa agar tidak terjadi sesuatu pada istrinya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya.

"Bila terjadi sesuatu pada istriku, aku besumpah akan membunuh mereka!" Desisnya.

"Sudah, Sehun. Tenanglah! Jangan bersikap seperti ini!"

"Bagaimana mungkin aku bisa tenang? Istriku sedang sekarat di dalam. Apa yang akan terjadi padanya benar-benar membuatku ketakutan. Aku takut kehilangannya!"

"Aku mengerti! Tapi tenanglah. Bersikap seperti ini tidak akan memperbaiki keadaan!" Chanyeol menepuk bahu Sehun sekali lagi.

Beberapa saat kemudian Sehun merasa di rong-rong berbagai macam perasaan negatif. Ia melihat dokter keluar dari ruang ICU. Dokter menatap Sehun dan Chanyeol secara bergantian dan kemudian bertanya siapa suaminya. Dengan agak kesal, Sehun menjawab.

"Tentu saja aku, kau tidak bisa lihat memangnya?"

Ia hampir saja membuat tawa Chanyeol meledak.

"Dokter tidak tau, Sehun!"

"Seharusnya dia tau!" Sehun mengerang lagi.

Dokter menggeleng-gelengkan kepalanya dan mencoba untuk lebih mengerti, juga lebih bersabar dalam menghadapi Sehun. Dia hanya panik.

"Istri anda akan segera melahirkan. Anda harus menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu."

"Aku akan melakukannya." Ujar Chanyeol cepat.

Sehun memandangnya dengan tatapan tidak suka. "Aku suaminya!"

"Iya, karena itulah kau harus menemaninya di dalam. Aku yang akan membayar semuanya!"

"Kenapa kau bisa sangat baik kepada istriku?"

Chanyeol memutar bola matanya. Sudah lama Sehun tidak menunjukkan kecemburuan seperti ini lagi. Chanyeol kira hubungan mereka sudah membaik. Tapi ternyata Sehun masih menyimpan kecemburuan terhadap Chanyeol.

"Karena aku punya hutang pada istrimu. Dia membayar semua biaya perawatan Baekhyun saat istriku mengalami kecelakaan di Denmark. Sekarang cepatlah masuk dan berhentilah untuk bersikap penuh kecemburuan seperti ini."

"Terang saja aku cemburu kalau mengetahui bagaimana hubungan kalian sebelum ini!"

"Astaga, Sehun! Itu semua sudah berlalu. Aku mencintai istriku dan kau juga mencintai istrimu, kan? Luhan selalu memikirkanmu. Dia tidak pantas mendapatkan sikap seperti ini!"

Chanyeol menepuk-nepuk bahu Sehun beberapa kali kemudian berbicara dalam nada yang jauh lebih lembut bila di bandingkan dengan sebelumnya.

"Istrimu menunggu di dalam, Sehun. Dia membutuhkan dukungan untuk bisa bertahan melahirkan anaknya. Dia pasti sangat ingin menggenggam tanganmu. Jangan sampai kau menyesal karena melewatkannya!"

Sehun terdiam sejenak. Chanyeol sudah berlari menjauh menuju bagian administrasi. Laki-laki itu benar, semua kejadian itu sudah berlalu dan tidak ada lagi alasan untuk curiga. Luhan tidak mungkin menghianatinya. Apapun yang terjadi di antara mereka bahkan sudah tak pernah terbahas lagi jika Sehun tidak memulai. Sehun tidak akan memulainya lagi. Tidak akan pernah.

Dengan perasaan gugup, Sehun memasuki ruangan ICU dan memakai pakaian yang higienis. Jantungnya berdegup kencang saat berjalan di balik tirai, ia akan segera melihat Luhan, akan segera. Dan saat tirai berwarna putih itu di buka, Sehun bisa melihat Luhan disana memandangnya dengan tatapan penuh harap.

Sekuat tenaga Luhan menjulurkan tangannya dan Sehun langsung menyambarnya. Beberapa detik kemudian tangan mereka saling menggenggam erat. Sehun terkesima melihat ruangan putih yang di penuhi perawat dengan bau obat yang sangat mengganggu. Sama sekali tidak nyaman. Ia juga terkesima melihat Luhan berteriak saat air ketubannya mengalir deras. Sehun juga merasakan sakitnya.

Beberapa menit kemudian dokter memastikan tekanan darah Luhan, memastikan apakah Luhan cukup kuat untuk melahirkan secara normal dan memulai proses persalinan setelah mereka yakin dengan kesanggupan Luhan.

Genggaman tangan Luhan semakin kuat. Ia berteriak kesakitan namun penuh semangat. Melihat perjuangannya Sehun sama sekali tidak bisa menahan perasaan haru. Ternyata sesakit ini, dan Luhan masih mau melahirkan anaknya? Dadanya benar-benar sesak.

Sehun berusaha menahan diri untuk tidak melangkahkan kaki keluar. Usaha Luhan benar-benar sangat luar biasa padahal dia baru saja mengalami kejadian buruk. Saat Luhan berusaha menarik nafas sebanyak-banyaknya, Sehun merasa kalau ia bahkan sanggup memberikan nafasnya untuk membantu.

Seorang ibu mempertaruhkan nyawa untuk anaknya. Sehun sudah mendengarkan cerita itu dari dulu. Tapi ini pertama kalinya ia melihat kenyataannya. Luhan kembali mengingatkan Sehun kepada ibunya. Ibu yang memberikan nyawanya untuk kehidupan Sehun. Ibu yang menghela nafas untuk terakhir kalinya saat Sehun menghela nafasnya yang pertama di dunia.

Sehun menangis, ia tiba-tiba saja menjadi sangat cengeng dan kekanak-kanakan. Menggigit bibirpun tidak cukup untuk menahan isakannya.

"Berjuanglah, Luhan. Dan kau harus hidup!" Bisiknya.

Luhan menggenggam tangan Sehun semakin erat dan saat itu Sehun berjanji tidak akan pernah meninggalkan Luhan selamanya. Tidak akan pernah meninggalkan wanita yang pernah sesakit ini untuk melahirkan anaknya. Luhan bahkan tidak mengeluh sakit meskipun ekspresinya menunjukkan betapa kesakitannya dia.

Proses persalinan yang begitu lama membuat Sehun merasa frustasi. Luhan tiba-tiba menghela nafas berat. Ia tidak berteriak lagi dan memejamkan matanya yang sudah basah.

Apakah sudah selesai? Sehun membatin.

Tapi dia tidak mendengar suara tangis bayi. Yang didengarnya hanya dokter yang berteriak menyiapkan operasi. Semua perawat mulai terlihat sibuk menyiapkan segalanya.

Sehun tidak tau harus melakukan apa. Ia memandang wajah Luhan yang tanpa darah. Bibirnya bahkan membiru. Sehun akan kehilangan Luhan seperti ayahnya kehilangan ibunya. Entah mengapa fikiran seperti itu terlintas. Ia tidak akan sanggup kalau itu terjadi. Dia tidak bisa berpisah dengan Luhan sekarang, dia tidak bisa berpisah dengan Luhan selamanya.

"Istri anda tidak cukup kuat untuk melahirkan secara norlmal. Kami harus melakuakn operasi sekarang juga!"

Sehun masih membeku. Dokter baru menyadarinya sekarang? Saat Luhan sedang berada di ambang kematiannya? Mengapa tidak dari tadi? Kenapa ia harus merasakan sakit seperti ini terlebih dahulu? Sehun merasakan genggaman Luhan mengencang pada tangannya. Ia menoleh dan ternyata Luhan belum membuka mata. Perlahan-lahan Sehun mencium keningnya, lalu bibirnya dan berbisik.

"Bertahanlah Luhan. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu!"


Kerlip cahaya matahari pagi tiba-tiba saja membuat Sehun terbangun dengan perasaan terkejut yang sangat luar biasa.

Sejak kapan ia tertidur? Dia masih bisa tidur saat Luhan sedang berjuang untuk melahirkan anaknya?

Sehun mencoba bangkit dan merasakan sebuah medan yang empuk membuat bokongnya merasa sangat nyaman. Ternyata kakinya terjulur, ia berbaring di atas ranjang putih dengan bantal busa yang empuk. Setidaknya itu jauh lebih baik bila di bandingkan dengan tertidur di ruang tunggu. Tapi, walau bagaimanapun ia tetap tidak boleh merasakan kenyamanan ini sekarang. Bagaimana dengan Luhan?

"Kau sudah sadar?" Chanyeol tiba-tiba masuk ke dalam ruangan melalui sebuah pintu.

Perlu waktu yang cukup banyak bagi Sehun untuk menyadari kalau ia sedang berada di dalam ruang rawat rumah sakit. Sehun meyakini itu saat seorang perawat masuk bersama dengan Chanyeol dan membawa alat pengukur tensi darah.

Sehun masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi, bukankah dia sedang menemani Luhan berjuang? Lalu mengapa dia ada disini?

"Semuanya sudah kembali normal. Anda sudah boleh keluar dari rumah sakit hari ini juga!" Perawat itu berujar dengan sangat manis.

Dengan sedikit basa-basi, ia keluar dari ruangan itu dan meninggalkan Sehun bersama Park Chanyeol yang duduk di dekat kakinya.

"Aku kenapa bisa ada disini?"

"Kau pingsan di ruang Operasi!" Jawab Chanyeol, tangkas.

Sehun berfikir sejenak, mencoba mengingat-ingat. Sayangnya ingatan tentang ruang operasi masih enggan muncul. Tapi perlahan-lahan bayangan tentang lampu yang terang benderang, tentang pisau bedah yang membelah perut istrinya membuat Sehun takut. Ada darah, lalu Luhan terbangun dan Sehun kembali memegang tangannya. Beberapa saat kemudian dokter kembali menyuntikkan obat bius. Ruang operasi membuat manusia terlihat seperti binatang.

"Sudah ingat?" Chanyeol melanjutkan ucapannya.

"Ruang operasi sangat gaduh begitu kau jatuh pingsan. Armada perawat tiba-tiba saja terbagi dua, mengurusimu dan terus membantu Dokter mengoperasi istrimu."

Ya, Sehun pingsan kerena ia melihat dokter menyelipkan tangannya kedalam perut Luhan. Dia tidak tahan melihatnya, tidak tega. Jika Luhan sempat terbangun, pasti ia sempat juga merasakan sakitnya disayat pisau operasi. Dada Sehun kembali sesak.

"Bagaimana dengan istriku?" Sehun bertanya dengan suara bergetar.

"Anakku?"

"Ikut saja aku!"

Chanyeol menggelengkan kepalanya menunjukkan arah kemana Sehun harus mengikutinya. Sehun sempat merasa limbung ketika berusaha turun dari ranjang rumah sakit. Tapi ia berusaha untuk lebih kuat. Sehun harus melihat keadaan Luhan sekarang juga. Untungnya langkah Chanyeol tidak begitu cepat. Mungkin dia tau bagaimana keadaan Sehun saat ini.

Langkah laki-laki itu mendampinginya melewati beberapa buah kamar lalu turun ke lantai bawah dengan lift. Semakin dekat dengan Luhan, detak jantung Sehun terdengar semakin cepat. Sampai akhirnya Chanyeol berhenti di depan sebuah kamar dan membukakan pintunya untuk Sehun.

Sebuah pemandangan yang sama sekali tidak pernah di bayangkannya menyeruak. Luhan sudah lebih baik. Meskipun harus di infus, ia tetap menyusui anaknya dengan beberapa tetesan air mata menjatuhi tubuh bayinya.

Wanita itu berusaha menyeka setiap tetesan yang menyentuh tubuh anaknya dengan cepat agar anak itu tidak kedinginan. Langkah Sehun semakin kikuk, ia mendekat secara perlahan dan Luhan menyadari kehadirannya.

Sejenak, Sehun menoleh kepada Baekhyun yang duduk di atas sofa memangku Chanhyun yang masih tidur. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya, Sehun hanya bisa berusaha untuk terus mendekat dan berakhir di sisi Luhan dalam jarak yang sangat intim. Luhan memandangnya lama.

"Kenapa menangis seperti ini?"

Sehun mengeluarkan kalimat pertamanya dengan agak parau. Tangannya menyentuh wajah Luhan dan berusaha menghapus air matanya.

"Ada sesuatu yang terjadi padamu? Atau anak kita?"

Luhan menggeleng. "Semuanya baik-baik saja. Aku hanya sangat bahagia, Sehun. Aku sempat takut kehilangan anak ini. Aku fikir kejadian itu akan membuatku kehilangan anakmu. Tapi lihat, dia baik-baik saja, kan? Dia kehausan. Dokter tidak memberikan apa-apa, mereka menunggu aku sadar dan cukup kuat untuk menyusuinya."

Sehun memandang anaknya, begitu kecil dan—Luhan benar—terlihat sangat kehausan. Dia menyusu dengan semangat. Seulas senyum bangga hadir di bibir Sehun. Akhirnya Sehun melihat sosok yang selalu di bicarakannya selama ini. Sosok yang sangat di harapkannya.

Melihat bayinya membuat Sehun sama sekali tidak menyesal dengan keputusannya untuk memilih Luhan dan meninggalkan Oh.

Sehun meraih kepala Luhan dan menyandarkannya di tubuhnya. "Kau pasti sangat lelah, Jika aku tau melahirkan sangat sakit, aku mungkin tidak akan pernah membiarkanmu mengandung anakku. Aku hampir mati saat melihat betapa menderitanya dirimu sewaktu persalinan. Sama sekali tidak bisa bernafas."

"Tapi aku menginginkan itu!"

Sehun menepuk kepala Luhan kesal. "Keinginanmu ternyata sangat berbahaya. Kalau aku tau perutmu akan di belah seperti tadi malam, aku tidak akan memberimu izin untuk melahirkan anakku."

"Kata-katamu bisa di dengar anak kita, Sehun. Dia akan mengira kalau ayahnya tidak menginginkannya!"

"Aku menginginkannya. Tentu saja dia akan maklum karena ibunya mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya."

Sehun lalu menyentuh kepala anaknya dengan lembut. "Hei, Bocah. Kalau kau nakal dan membuat ibumu susah, aku akan menghukummu. Mengerti? Kau tidak tau rasanya melahirkanmu, kan? Ayahmu saja juga hampir mati karena ini!"

"Astaga, Sehun! Kau jangan menyalahkan anakmu karena pingsan di ruang Operasi!" Chanyeol ambil suara dan menertawakannya.

Sehun memandangnya sinis. "Yah, aku mungkin tidak sekuat dirimu saat menemani Baekhyun melahirkan!"

"Dia tidak pernah melakukan itu!" Sela Baekhyun.

"Saat aku melahirkan Chanhyun, kakakku yang menemaniku. Suamiku terlalu pengecut.."

"Sayang, kau tau kalau aku tidak akan tega melihatmu menderita. Makanya saat itu aku tidak bisa menemanimu. Jika saja aku ada disana, maka aku akan pingsan pada menit-menit awal. Ah, ahirnya aku terpaksa mengakuinya."

"Mengakui betapa pengecutnya kau?"

"Aish!" Sehun berdesis.

"Kalau mau bertengkar, di rumah saja! Kenapa harus berdebat disini? Istriku butuh istirahat!"

Sebuah gelak lemah hadir menyeruak ke seantero ruangan. Semua orang memandangi seseorang yang berdiri di depan pintu dan menyaksikan perdebatan Chanyeol dan Baekhyun. Mungkin Chanyeol dan Baekhyun tidak mengenalnya, tapi jelas Sehun dan Luhan mengenalnya.

Mereka saling pandang sebentar sebelum kembali melemparkan pandangan tak menyangka kepada seseorang yang berdiri di ambang pintu.

Oh Sarah.


TBC


Muehehehe.. fast apdet kan gue?

Sorry ya di chapter kemaren gak ada hunhan moment nya sama sekali, udah ke bayar kan sama chap ini? Tinggal satu chap lagi dan ff-nya end :) horeee!

Yang minta sequel buat ff bad surprise yang kemaren seyeo publish, sorry ya kayaknya gak bisa. Soalnya kan itu bukan murni karya seyeo, jadinya agak gimana gitu kalo bikin lanjutannya. Lagian kalo dibikin lanjutan jugak bingung, kan disitu hunhannya udah pisah, jadi seyeo gak bisa bikin ff selain maincastnya hunhan, hehe :D.

Kemaren jugak banyak yang ngira kalo itu ff nya bersambung, dan seyeo minta maaf karena udah salah tulis disitu yang harusnya END jadi TBC /maklumkebiasaansukatypo/. Jadi sebagai gantinya mungkin besok seyeo bakal publish ff oneshot lagi XD, gapapa kan?

Karena banyak readers yang setuju kalo gue remake ff lagi, jadi setelah ini end gue janji bakal langsung publish ff barunya yang pastinya hunhan. Okee?

Makasih buat yang nge-fav, nge-foll, dan yang NGE-REVIEW.

Big Thanks and Big Hug to :

Sarrah HunHan, Freez MingTaem, nisaramaidah28, Nam NamTae, Navizka94, Kim zangin, BabyByunie, ElisYe Het, Seravin509, Juna Oh, ramyoon, fitry .sukma .39, HunHanCherry1220, JYHYunho, Ririn Ayu, XikaNish, Lisasa Luhan, OhXiSeLu, Arifahohse, Princess Xiao, hunnaxxx, Kwon, Luniaakimwu, SyiSehun, 7wulanm, luhannieka, PxnkAutumnxx, melizwufan, Ludeer, JodohSeHun, chenma, and all Guest.

Last..
Review juseyo...
Gomawooooo...:*:*:*