Luhan
Remake from Pheobe's novel "Luhan"
Hunhan as Maincast
GS(Genderswitch) for uke, Typo(s)
Preview Chap :
Sebuah gelak lemah hadir menyeruak ke seantero ruangan. Semua orang memandangi seseorang yang berdiri di depan pintu dan menyaksikan perdebatan Chanyeol dan Baekhyun. Mungkin Chanyeol dan Baekhyun tidak mengenalnya, tapi jelas Sehun dan Luhan mengenalnya.
Mereka saling pandang sebentar sebelum kembali melemparkan pandangan tak menyangka kepada seseorang yang berdiri di ambang pintu.
Oh Sarah.
Sarah pasti menyadari keheranan yang tiba-tiba saja muncul. Suasana mendadak sepi dan beku beberapa saat hingga tiba-tiba Chanhyun terbangun dan memanggil ibunya. Baekhyun segera meraih anaknya dan menggendongnya. Beberapa saat kemudian ia sudah menggandeng Chanyeol dan bersiap untuk pergi.
"Baiklah, Sehun. Kami harus pulang dulu. Aku harus mandi dan kerja." Chanyeol bergumam dengan nada bicaranya yang biasa.
"Nanti Baekhyun akan kesini lagi membawa pakaian untuk Luhan. Kami permisi dulu!"
Kedua orang itu akhirnya keluar sambil bergandengan tangan dan menghilang. Keheningan itu menyeruak lagi, hingga langkah-langkah Sarah mendekati mereka dengan ketukan yang teratur.
Sehun tidak tau harus mengatakan apa, tapi melihat senyum Sarah perasaan gamangnya mulai memudar. Meskipun begitu Sehun sama sekali tidak bisa mengataka sepatah katapun.
"Aku mengganggu?" Sarah berujar deng an suara terhalus yang di milikinya.
Sehun menggeleng. "Kau tidak kesini untuk membuat istriku tertekan, kan?"
"Tidak. Aku ingin melihat anak kalian."
Ia lalu menoleh kepada Luhan dan menatapnya. "Boleh aku menggendongnya?"
Luhan menatap Sehun lekat-lekat meminta persetujuan.
"Dia sedang menyusu!" Sehun menjawab menggantikan Luhan dengan ekspresi yang lebih halus lagi.
Sarah menghela nafas, tapi ia semakin berani untuk lebih dekat lagi lalu duduk di dekat Luhan. Wanita itu menatap bayi mungil yang berada di dalam gendongan Luhan dan membelai tangan kecilnya. Bayi itu sangat mengagumkan, suatu keajaiban yang terjadi dalam kehidupan dan mengobati segala kegetiran yang sudah terjadi selama ini.
"Bibi." Sehun menyapa Sarah seperti biasanya.
Akhirnya. Sarah menghela nafas lalu tersenyum.
"Ada apa Sehun?"
"Bagaimana kau tau kami disini?"
"Temanmu tadi tidak menceritakannya?"
Dahi Sehun berkerut. Chanyeol? Sehun menggeleng. Chanyeol tidak menceritakan apa-apa kepadanya.
"Kami bertemu di kantor polisi. Beberapa orang polisi datang mencari Seulgi ke rumah karena dia menjadi tersangka di balik penganiayaan istrimu. Karena itulah aku langsung berangkat ke Ottawa demi melihat keadaan kalian."
"Sudah ku duga."
Sehun berujar kesal, karena ia sudah menyangka bahwa Seulgi adalah dalang dari masalah yang terjadi.
"Lalu mereka menemukan Seulgi di rumahmu?"
"Aku sudah lama mengusirnya. Philly sudah menceritakan segalanya kepadaku dan itu cukup mengejutkan. Semua pelayan di rumah juga sudah membuka mulut mengenai Seulgi. Aku juga melaporkan Seulgi ke polisi dengan tuduhan penipuan. Aku merasa tertipu hidup bersamanya selama ini."
"Jadi selama ini dia buronan?" Sarah mengangguk.
"Seulgi sudah berbulan-bulan menghilang. Aku bahkan sudah melupakan keberadaannya dan juga laporanku karena tidak ada lagi informasi tentang itu. Tapi temanmu tadi benar-benar mengurusi semuanya sampai ke akar-akarnya. Dia sangat perduli!"
"Dia tetangga kami di rumah baru. Istrinya adalah sahabat Luhan dan dia juga mantan kekasin Luhan!"
"Benarkah?" Sarah kelihatan terkejut dan memandang Sehun dengan tatapan tak menyangka.
"Aku hanya ingin mencoba untuk jujur kepadamu, Bibi. Aku seharusnya membenci Chanyeol dan kau juga akan melakukan hal itu jika kau tau apa saja yang sudah terjadi di antara mereka. Tapi kedua suami istri itu menjaga Luhan sepanjang waktu. Jika tidak ada mereka, aku mungkin sudah kehilangan Luhan dan anakku!"
"Ya, orang yang baik seharusnya tidak di lihat dari masa lalunya."
Lalu Sarah membelai kepala Luhan. "Aku minta maaf kepada kalian atas perlakuanku saat itu. Philly benar, kau sudah banyak memberi perubahan di rumahku semenjak kehadiranmu. Apalagi saat kehamilanmu, aku melupakan semua kesedihanku. Sungguh tidak adil jika aku membencimu hanya karena kau adalah Xiao Lu. Padahal kami juga memisahkanmu dari Yifan dan menyebabkan penderitaan dalam hidupmu!"
Lagi-lagi Luhan memandang Sehun sebelum memberanikan diri untuk memandang Sarah dalam-dalam.
"Aku tidak mungkin menerima maafmu." Jawabnya lemah.
"Kau tidak mau memaafkanku?"
Luhan menggeleng. "Tidak ada yang perlu di maafkan!"
"Aku lega mendengarnya. Sungguh!"
Oh Sarah menghela nafasnya, lalu kembali memperhatikan bayi yang masih berada di dalam pelukan Luhan.
"Anak kalian laki-laki atau perempuan?"
"Astaga, aku juga melupakan hal itu!" Ujar Sehun.
"Anak kita berjenis kelamin apa, sayang?"
"Perempuan. Dia anak perempuan yang cantik. Dan seperti nya, aku tidak bisa memberikan nama Yifan kepadanya."
Sarah tersenyum. "Kalian akan melahirkan anak laki-laki suatu saat nanti untuk nama Yifan!"
"Tidak dalam waktu dekat!" Sehun memotong.
"Aku hampir mati melihat penderitaannya saat persalinan semalam."
"Ya, baiklah. Lalu nama apa yang kalian pilih untuk menamai anak kalian?"
Sehun dan Luhan saling pandang lalu Sehun membelai kepala istrinya.
"Bolehkah aku menghidupkan lagi Xiao Lu sayang? Aku ingin memberikan nama Xiao Lu kepada anak kita!"
"Menarik sekali. "Sarah memotong.
"Oh Xiao Lu!"
"Tapi aku tidak suka dengan nama Oh!"
"Kau tidak akan pernah bisa menghilangkan nama Oh dari hidupmu Sehun!"
"Haruskah nama Oh merusak keindahan nama Xiao Lu?"
"Anakmu seorang Oh, di dalam tubuhnya mengalir darah Oh. Kau tidak bisa menghilangkan Oh dari hidupmu. Sudah ku bilang, kan?"
Sarah terdengar lebih galak bila membicarakan nama keluarga.
"Setelah ini kalian akan ikut aku pulang ke Calgary, kan?"
"Kami tidak bisa. Luhan tidak bisa melakukan perjalanan jauh. Lagipula, aku meragukan bisa meninggalkan kehidupanku di Ottawa. Aku punya pekerjaan yang menjadi tanggung jawabku disini."
"Lalu siapa yang akan menjaga Luhan kalau kau pergi bekerja?"
"Ada Baekhyun, Bibi! Luhan akan baik-baik saja. Aku akan mencari Jackson untuk kembali menjaga Luhan sampai Seulgi di temukan."
"Itu tidak perlu!" Ujar Sarah.
"Seulgi sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dia meninggal karena kecelakaan saat pengejaran semalam. Pagi ini, jenazah Seulgi akan di kembalikan ke keluarganya di Seoul. Jadi pulanglah. Aku membutuhkan kalian!"
Sehun menggeleng, ia masih keras kepala. "Kau akan tetap menjadi seorang nenek. Kami pasti akan mengajaknya ke rumahmu lebih sering. Kalau putriku sudah sekolah, dia akan tetap kesana pada hari libur. Aku berjanji akan sering-sering menemanimu di Calgary."
Sarah putus asa. Dia tampak kecewa karena Sehun menolak untuk kembali ke rumahnya. Ia memandangi Luhan berharap Luhan membujuk Sehun untuk ikut dengannya ke Calgary. Tapi sayangnya Luhan-pun sepertinya tidak begitu tertarik untuk kembali.
"Bagaimana kalau kau tinggal saja bersama kami untuk sementara ini?" Luhan tiba-tiba saja bicara.
"Setelah aku cukup kuat, kita bisa berangkat ke Calgary bersama sama!"
"Sayang, apa yang kau katakan? Kita akan pindah ke Calgary?" Sehun mendesah.
Luhan merangkul pinggang Sehun erat-erat. "Kita harus membawa anak kita untuk melihat makam nenek dan kakeknya. Aku ingin membawa anak kita kesana. Sebentar saja. Hanya beberapa hari dan Truddy pasti mengizinkanmu untuk libur kerja, kan?"
Sehun menatap Luhan dan Sarah secara bergantian. Ia tampak memikirkan sesuatu untuk beberapa lama.
"Baiklah. Apapun yang kau inginkan, yang Mulia!"
Luhan tertidur karena merasa lelah. Hari ini ia dan keluarga kecilnya pergi ke Gass untuk mengajak Xiao Lu melihat makam neneknya. Mereka cukup lama berada disana hingga akhirnya Sarah menyusul karena merasa tidak sabaran.
Selama disana, Xiao Lu yang baru bisa bicara itu terus mengoceh sehingga menimbulkan kejenakaan yang luar biasa. Luhan sangat sayang kepada anaknya, tidak ingin berpisah. Sayang sekali ia harus kecewa karena Xiao Lu di bawa oleh Sarah ke Calgary lebih dulu sedangkan Sehun menahannya di Gass dan membawanya ke rumah peninggalan orang tuanya dimana mereka pernah bercinta untuk pertama kali.
Sayangnya memikirkan Xiao Lu, membuat Luhan terus gelisah. Ia hanya tertidur beberapa jam hingga terbangun lagi sebelum pagi tiba. Jam di dinding bahkan belum menunjukkan tengah malam. Luhan ingin membangunkan Sehun dan mengajaknya ke Calgary saat itu juga. Sayangnya ia tidak menemukan Luhan di sebelahnya. Mungkinkah Sehun sedang ke kamar mandi? Ia segera menoleh ke sisi kanana dan kecewa saat melihat pintu kamar mandi terbuka. Laki-laki itu tidak ada di kamar mandi.
Luhan berusaha bangkit dari ranjang dan berjalan menuju keluar kamar. Ia harap Sehun sedang di dapur atau dimana saja di rumah itu. Luhan berjalan menuju ruang tengah, ia tidak menemukan Sehun. Begitu juga di ruang tamu dan ruangan yang lainnya.
Luhan kemudian mempercepat langkahnya menuju dapur dan terkesima saat melihat Baekhyun ada di dapurnya. Ia termenung sesaat hingga Baekhyun menoleh kepadanya secara tidak sengaja.
"Luhan?"
"Baekhyun? Apa yang kau lakukan?"
"Seharusnya Sehun memberikanmu obat tidur agar kau tidak terbangun. Kau bangun terlalu cepat!"
Baekhyun mendesah kesal lalu kembali menuang sampanye ke empat buah gelas kristal di hadapannya. Luhan tersenyum.
"Akan ada pesta?"
"Pesta kejutan untukmu seharusnya. Tapi kau sudah memergokiku!"
"Kapan kau sampai?" Luhan mendekati Baekhyun dan membantunya menyiapkan banyak hal.
"Bagaimana kau tau tempat ini?"
"Aku baru sampai dua jam yang lalu. Sehun menjemput kami di Calgary dan harus meninggalkan Hyunnie disana. Semoga saja anakku tidak menangis ketika dia terbangun tanpa ibunya!"
"Chanhyun sudah cukup besar untuk menangis. Yang harus khawatir itu aku! Xiao Lu baru berusia delapan belas bulan. Aku bahkan belum berhenti menyusuinya!"
"Tapi ku rasa Sarah cukup lihai menangani anak-anak. Saat kami tiba disana sore tadi, Chanhyun langsung dekat dengannya."
Baekhyun memandang Luhan sejenak lalu berujar sambil berbisik. "Tunggulah disini. Aku akan membawa ini ketaman belakang!"
"Perlu bantuan?"
"Tidak usah! Kalau kau melakukanya, Sehun bisa kecewa. Ia menyiapkan banyak hal untuk menyambut pagi bersamamu! Duduklah disini dan jangan keluar sebelum aku panggil!" Luhan mengangguk.
Baekhyun mulai mengangkuti semua barang -barang yang disiapkannya hingga saat ia membawa barang -barangnya yang terakhir, Baekhyun tidak kembali kedapur dalam waktu yang lama.
Luhan gelisah menunggu. Apa yang mereka lakukan? Luhan menatap jam di dinding. Sekarang sudah tengah malam. Mereka memakan banyak waktu untuk membuat pestanya!
"Sekarang sudah saatnya Luhan!"
Baekhyun menyembulkan kepalanya dari pintu belakang dengan sebuah senyum. Luhan mendekat dan mendengar bisikan Baekhyun yang mengucapkan kata 'bersiap-siaplah' sambil membuka pintunya secara perlahan.
Selang beberapa detik kemudian, Luhan melihat sebuah tenda megah menghalangi pemandangannya.
"Apa ini?"
"Sehun sudah menyiapkan ini untukmu. Jadi begitu kita masuk di dalam, kagumilah meskipun kau harus memaksakan diri untuk bersandiwara!"
Baekhyun menarik lengannya dan mereka mendekati tenda besar itu. Mereka melangkah terlalu cepat hingga Luhan melihat Chanyeol membukakan pintu tenda untuknya dengan senyuman bangga.
Setelah berada di dalam, Luhan tidak perlu berakting kagum. Ia benar-benar terkagum-kagum karena apapun yang di lihatnya seperti lokasi garden party dengan luas 5x5 meter. Lantainya di penuhi rumput yang sangat lembut membuat Luhan melepaskan sadalnya dan menginjaknya dengan perasaaan nyaman.
Semua yang Baekhyun siapkan tadi tersusun rapi di atas meja di hadapannya dengan empat buah kursi taman yang terbuat dari besi. Di balik meja-meja itu ada sebuah tempat yang lebih tinggi berbentuk segi empat, seperti ranjang yang luas namun di lapisi rerumputan.
Lampu yang terang berasal dari puncak tenda sehingga Baekhyun juga dapat melihat warna -warni balon yang indah melayang di setiap sudut. Dinding tenda yang terbuat dari bahan yang sangat tebal di tutupi oleh tanaman-tanaman rambat sehingga memberikan efek kalau dirinya tengah berada di sebuah tempat yang megah di sebuah hutan.
Luhan menoleh ke sisi lain. Ada sebuah bathub di penuhi air dengan teratai berwarna merah jambu mengapung di atasnya, lalu sebuah pinus buatan meJacksonuhinya dan Sehun bersandar disana.
"Bagaimana?" Gumamnya.
Luhan tidak bisa memungkiri kalau ia terkesima. Luhan bahkan tidak perah bermimpi mendapatkan kejutan seperti ini.
"Cantik sekali!"
Sehun mendekat hingga mereka berhadapa-hadapan. "Untukmu!"
"Dalam rangka apa?"
"Tunggu sebentar. Aku perlu mereka untuk mengatakannya."
Sehun berjalan keluar tenda lalu masuk kembali bersama Baekhyun dan Chanyeol. Mereka berdua pasti banyak membantu dalam hal ini. Luhan menatap keduanya dengan rasa terimakasih.
Beberapa waktu kemudian mereka berempat sudah duduk di atas empat buah kursi taman yang menghadapi beberapa gelas sampanye. Baekhyun mengajak mereka bersulang atas kejutan mereka yang tampaknya berhasil.
Ya, mereka memang berhasil. Meskipun Luhan bangun lebih cepat dari rencana, meskipun ia juga memergoki Baekhyun menyiapkan sebagiannya, Luhan tetap tidak bisa memungkiri kalau dirinya sangat terkesima. Ini benar-benar luar biasa.
"Balon-balon itu ideku!" Ujar Chanyeol bangga.
"Ya, tapi ide balon melayang itu dariku!" Baekhyun menambahkan.
"Para laki -laki ini ingin agar balon itu di letakkan di atas rumput saja. Tapi aku tidak setuju karena itu bisa merusak pemandangan hutan mini yang dengan susah payah di rancang."
"Terimakasih. Kalian sudah membantu Sehun menyiapkan ini semuanya."
Luhan menoleh kepada Sehun yang duduk disebelahnya. "Terimakasih."
"Ah, ya! Cepatlah lakukan, Sehun. Aku dan Baekhyun akan segera masuk ke dalam rumah karena kami harus menemui Hyunnie dirumah bibimu besok pagi!"
Mendengar kata-kata Chanyeol itu Luhan segera menatap Sehun dengan penuh tanya. Tentunya semua ini di buat karena sesuatu. Ia menanti Sehun bertindak, Sehun sempat terdiam sejenak lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna biru dan meletakkannya di depan Luhan. Ia membuakanya dan memperlihatkan sebuah kalung mewah yang di penuhi Swarowsky yang berkilauan.
"Pakailah ini saat pernikahan kita nanti!" Gumam Sehun.
Luhan tersenyum heran. "Kita sudah menikah, kan?"
"Ya, tapi bibiku menginginkan pernikahan itu di ulangi! Pernikahan kita pada waktu itu juga terlalu mendadak. Aku bahkan tidak memberikanmu kesempatan untuk mengatakan 'aku bersedia'. "
"Saat itu aku sudah cukup bahagia!"
"Aku tidak meragukan itu, sayang. Tapi aku ingin melakukan ini. Aku ingin memperlakukanmu dengan wajar, memberikan apa yang di inginkan oleh kebanyakan wanita. Aku ingin kau bahagia dan menceritakan sebuah lamaran yang indah jika suatu saat nanti Xiao Lu bertanya."
Luhan tertawa sebentar lalu, "Jadi sekarang kau sedang melamar?"
"Ya, karena itulah Luhan. Aku tau kalau kau tidak memerlukan ini. Tapi apapun itu, menikahlah denganku, lagi!"
"Seharusnya kau memberikan cincin."
"Kau sudah memakai cincin kawin. Sekarang apa jawabanmu?"
Luhan terdiam lama, sengaja untuk membuat Sehun tidak sabar menantinya. Ia tersenyum senang saat melihat ekspresi kesal Sehun.
"I do. Aku akan menikah denganmu, Sehun. Lagi!"
Mendadak suasana menjadi riuh. Baekhyun dan Chanyeol meramaikannya dengan tepuk tangan lalu memaksa Sehun untuk memakaikan kalung itu di leher Luhan.
Luhan tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Terlebih saat menyentuh kalung yang sudah bergantung di lehernya. Kontras sekali dengan gaun tidurnya yang sederhana.
"Aku tidak menyangka bisa melihat mantan kekasihku di lamar oleh orang lain!" Chanyeol mengerang.
"Lamaran yang indah, kan?" Lanjutnya.
"Tentu saja!"
"Kalau begitu ayo kita keluar Baekhyun. Kita harus memberikan waktu untuk mereka!"
Chanyeol mengulurkan tangannya dan Baekhyun menyambutnya. Mereka berdua kemudian bergandengan tangan menuju keluar dari tenda.
Samar-samar terdengar di telinga Luhan bahwa Baekhyun mengejek Chanyeol karena tidak pernah berniat untuk melakukan lamaran atau pernikahan ulang dengannya. Mereka berdebat lagi, terus begitu hingga suara mereka menghilang saat pintu belakang tertutup.
Luhan memandangi kesekelilingnya lagi. Ternyata di sisi sebrang, dimana pintu masuk berada. Berjejer semak-semak yang di tumbuhi berbagai bunga. Tempat ini sangat hijau dan di temani banyak warna lainya sehinga suasanya menjadi sangat semarak. Lampu yang berada di puncak tenda bersinar seperti matahari. Begitu terang seolah-olah mereka sedang berada di siang hari.
"Kita pindah ke ranjang, sayang?" Sehun berbisik.
Luhan segera memadangnya. Sehun sedang menunjuk ke ranjang rumput itu. Ya, Akhirnya Luhan tau untuk apa benda itu di ciptakan.
"Kita perlu bantal dan selimut!"
"Untuk apa? Ada aku yang bisa jadi bantal dan selimutmu, kan?"
Sehun mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan Luhan lalu menggandengnya menuju benda yang di sebutnya sebagai ranjang. Begitu duduk di atasnya Luhan merasakan kesegaran siang hari, seolah -olah dirinya sedang berada di tengah padang rumput dan akan berbaring di atasnya.
Perlahan Luhan merebahkan tubuhnya. Dan Sehun juga. Laki-laki itu berbaring miring dengan sebelah tangan menumpu kepala. Ia memandangi Luhan dengan penuh kasih.
"Nyaman?" Sehun berbisik.
"Ya, sangat nyaman! Darimana kau dapat ide seperti ini?"
"Dari fikiranku untuk bercinta denganmu di alam bebas. Jadi aku membuat tiruannya. Aku tidak akan melakukan itu dalam keadaan sebenarnya jika kau tidak ingin aku membunuh orang yang melihat kita!"
Luhan tertawa. "Ini mahal,Sehun?"
"Lumayan!"
"Kau menyiapkannya dengan uangmu atau uang Oh?"
"Uang Park Chanyeol!"
"Astaga, kau berhutang untuk ini?"
"Ya, begitulah. Setelah ini aku akan meminta Sarah membayar hutangku."
Sehun lalu terkekeh karena rencana liciknya. "Setidaknya aku tidak menggunakan harta Oh secara langsung karena aku tau kau akan menolaknya!"
Luhan meyentuh wajah Sehun dan mengusap pipinya lembut. "Terimakasih, Sehun. Kau sudah terlalu banyak mengabulkan impianku. Dimulai dari anak kita, Xiao Lu. Pernikahan yang sebenarnya, juga lamaran yang indah ini meskipun kau terlambat!"
"Aku akan melakukannya lagi. Aku akan mengabulkan impianmu lebih banyak lagi. Kau tidak usah khawatir!"
"Mungkin inilah bayaran dari semua penderitaanku selama ini!"
Sehun tidak mengatakan apa-apa. Ia menyentuh bibir Luhan dan menelusurinya dengan jarinya, sesaat kemudian membelai pipinya, hidung lalu kelopak mata. Sehun menyentuh ujung bulu mata Luhan dengan perlahan beberapa lama. Lalu membelai kepalanya penuh kasih.
"Kau jangan pernah membicarakan hal itu lagi. Berjanjilah. Aku tidak ingin mendengar tentang penderitaan, tentang Denmark dan tentang masa lalumu lagi. Kau hanya akan membuatku semakin menyesal karena terlambat menemukanmu!"
"Ya, aku berjanji. Mulai sekarang masa lalu itu tidak pernah ada."
"Aku sudah megurus semuanya Luhan, di pernikahan nanti kau akan mendapatkan kejutan yang lebih indah dari ini. Lalu Xiao Lu juga akan mengenakan gaun yang cantik. Kau harus menggendongnya saat berjalan di altar nanti."
"Ya, tentu saja aku akan melakukannya! Tapi, bolehkah aku meminta satu hal."
"Katakanlah!"
"Bisakah kau membawa Geronimo kemari? Aku ingin meggandeng lengannya di altar nanti. Aku ingin dia yang memberikan tanganku untukmu. Bukan maksudku mengungkit masa lalu, Sehun. Aku hanya.."
"Ya, kau pernah mengatakannya. Bagimu Geronimo seperti ayah hanya saja dia tidak pernah tau apa yang sudah dilakukan anak buahnya kepadamu!"
Luhan mengangguk membenarkan. "Jadi, bolehkah.."
"Aku akan mendatangkannya untukmu. Aku juga akan memberikannya lima asisten yang baru karena asisten yang sudah menyakitimu itu akan segera ku habisi."
"Aku juga menginginkan itu. Kau akan menghukum mereka?"
"Aku akan menghilangkan nyawa mereka!"
Luhan tertawa senang dan Sehun juga melakukan hal yang sama.
Setelah puas tertawa, Luhan melingkarkan lengannya di leher Sehun dan menyentuh bibir laki -laki itu dengan bibirnya beberapa lama. Lalu ia memandang Sehun dan berbisik di atas bibirnya.
"Apa yang harus ku lakukan untuk berterimakasih?"
"Tugasmu, nikmati saja malam ini. Biarkan aku melakukan segalanya dan kau tidak perlu melakukan apa-apa!"
Sehun memulai, ia benar-benar tidak mengizinkan Luhan melakukan apa-apa. Selama ini, Luhan selalu bertindak dengan sangat agresif tanpa disadarinya. Meskipun hal itu sangat menyenangkan, tapi Sehun merasa di kalahkan. Seharusnya Luhan yang puas padanya, bukan sebaliknya seperti yang terjadi selama ini.
Kali ini ia harus membalik lagi keadaan itu. Sehun membuka gaun tidur Luhan dengan sangat perlahan, terlalu perlahan sehingga dirinya sendiri mulai kesakitan menahan hasratnya. Dua menit kemudian, mereka berciuman lama.
Dua puluh menit kemudian Sehun sudah berhasil membuat Luhan memohon untuk segera bercinta dengannya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka benar-benar sedang berusaha mendaki puncak kepuasan bersama-sama. Sehun memberikan Luhan ciuman yang sangat panjang. Ia tidak ingin melepaskannya begitu saja dan mereka melakukan semuanya hingga fajar menyingsing.
Luhan merasa sangat lelah dan terbaring lemah dalam pelukan Sehun. Laki-laki itu tidak beranjak sedikitpun dari sisinya dan Sehun berjanji tidak akan pernah.
"Jangan terlalu sering seperti ini, Sehun!" Luhan berbisik.
Ia hanya mampu berbisik saat ini.
"Aku malah berencana untuk melakukannya sesering mungkin."
"Aku belum siap melahirkan anak lagi. Xiao Lu masih kecil!"
Sehun tertawa. Ia juga belum siap melihat Luhan mengandung lagi. Persalinan Xiao Lu saat itu membuat Sehun benar-benar trauma. Ia sudah kehilangan ibunya karena persalinan. Sehun tidak ingin kehilangan istrinya juga.
"Kita bisa mengunjungi dokter untuk berkonsultasi mengenai hal ini!"
"Sehun!" Sebuah teriakan terdengar dari luar, suara Park Chanyeol.
"Kau sudah bangun? Bolehkah aku masuk?"
"Tidak!"
Sehun langsung menjawab dengan suara lantang. Ia sudah membuang gaun tidur Luhan entah kemana dan tidak mungkin ia membiarkan Chanyeol masuk dan melihat Luhan tanpa pakaian. Ia memandangi Luhan sejenak lalu berbisik.
"Aku keluar dulu menemuinya!" Luhan mengangguk.
Sehun bangkit dan memakai celananya piamanya lalu keluar dari tenda. Ia dan Chanyeol tampaknya mengobrol terlalu lama.
Luhan menunggunya dan merasa bosan. Ia menggeliat dan merasakan kembali betapa indahnya semua ini jika matahari yang sebenarnya menyinari. Perlahan -lahan Luhan duduk dan memeluk lutunya. Lalu Baekhyun masuk dan tertawa melihatnya dalam keadaan telanjang.
"Sudah ku duga. Kalian pasti melakukannya!"
Luhan berdesis. "Ya, tertawalah sepuasmu!"
"Aku sebenarnya membawakan bantal dan selimut. Tapi Sehun menahannya di luar. Aku akan berangkat ke Calgary sekarang. Chanyeol sudah menunggu di luar. Kau ada pesan untuk Sarah?"
"Ku rasa tidak. Berapa lama kau akan tinggal di Calgary?"
"Tentu saja sampai hari pernikahanmu di akhir minggu ini!"
"Akhir minggu ini?!"
Luhan terbelalak ia tidak menyangka kalau rencana Sehun secepat ini. Sehun memang tidak mengatakan kapan pernikahan mereka akan di langsungkan. Mungkin Sehun lupa atau seharusnya Luhan yang bertanya.
"Ia belum mengatakan itu kepadaku."
"Kalau begitu kau tanya saja nanti."
"Ya, pasti." Luhan berujar dengan yakin.
"Baekhyun, jaga Xiao Lu sampai aku kesana, ya?"
"Tentu saja. Aku sudah menelpon kesana pagi ini dan menurut Sarah, Hyunnie sedang bermain-main bersama Xiao Lu disana. Chanhyun jadi terus mendesakku untuk memberikannya adik karena ia menyukai Xiao Lu. Dia ingin punya adik perempuan juga yang bisa di dandaninya setiap saat!"
Luhan tertawa. "Kalau begitu kabulkanlah permintaannya!"
"Itu tidak mudah."
"Kenapa? Kurasa Chanhyun sudah cukup umur untuk memiliki adik. Kau tidak akan menjadikannya anak satu-satunya, kan?"
Suara deheman Sehun terdengar. Kepalanya menyembul di sela pintu tenda, ia sedang memberi isyarat kepada Baekhyun untuk segera menyelesaikan obrolannya. Baekhyun memandangnya sekilas lalu kembali menatap Luhan.
"Aku pergi dulu. Suamiku sudah menunggu terlalu lama. Sampai jumpa di Calgary, Luhan!"
Baekhyun melambai-lambaikan tangannya lalu pergi. Butuh beberapa waktu lagi hingga Sehun masuk dengan bantal dan selumutnya. Ia memberikannya kepada Luhan dengan senyum.
"Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Tapi ku fikir kau butuh selimut karena kita akan melakukan sesuatu yang penting dan aku tidak ingin kau kedinginan karena udara pagi. Rumput-rumput yang kau tiduri mulai mengeluarkan embun."
Sehun membuat Luhan berbaring lagi. Kali ini kepala Luhan merasa nyaman karena menindih bantal. Sehun juga menyelimutinya dan berbaring di dalam selimut yang sama.
Mereka sangat rapat. Sehun bahkan bisa mencium telinga Luhan berkali-kali sebelum ia menekan sebuah remote dan membuat atap tenda itu terbuka lebar. Balon-balon yang beraneka warna melayang semakin tinggi ke udara, menuju langit pagi yang masih kebiru-biruan.
Akhirnya Luhan melihat langit yang sebenarnya hari ini. Matahari sudah bersinar meskipun belum terik.
"Setelah ini bisakah kita melakukannya lagi?"
Luhan menatap Sehun sambil berdelik. Ia tau ucapan Sehun mengarah kemana.
"Aku sudah bilang, kan? Jangan melakukan ini terlalu sering! Sudahi , Sehun. Aku harus melihat Xiao Lu segera!"
"Calgary itu dekat sayang! Kita bisa kesana kapan saja. Aku hanya tidak ingin meninggalkan tempat ini terlalu cepat!"
"Tapi rumput-rumputmu ini akan layu. Ini hanya bertahan beberapa hari, Sehun!"
"Tapi cintaku padamu tidak pernah layu, Luhan!"
Luhan kembali memandang Sehun dengan tatapan heran. Ia tidak menyangka kalau Sehun melakukan itu lagi. Sehun merayunya seperti yang selalu Sehun lakukan di awal-awal keberadaan Luhan di rumah keluarga Oh.
Luhan bahkan tidak bisa melupakan saat dimana Sehun pernah mengatakan kalau Luhan bersinar seperti itu untuk selamanya.
END
Muehehehe…
Akhirnya tamat jugak.
Buat yang kemaren masih bingung soal ff ini, ini gue jawab semuanya yaa...
Q : Marganya Sarah, Oh?
A : Iya dong. Bukannya Yifan jugak aku ganti jadi Oh ya marganya? Jadi otomatis si Sarah sebagai emaknya yifan marganya jugak Oh. Kalo Sehun itu ibaratnya cuman saudara sepupu gitu, cuman karena ibu sama ayahnya sehun sudah meninggal jadi dia dianggep kayak anak kandung sendiri sama si Sarah. Paham?
Q : Yifan kemana?
A : Yifannya udah mati dari awal. Kalo masih hidup nggak mungkin si Sehun ketemu sama Luhan. Kan, mereka ketemu gegara surat wasiatnya yifan.
Q : Anaknye Hunhan cewek apa cowok?
A : Udah ke jawab kan diatas :)
Q : Seulgi sama suruhannya gimana?
A : Udah ke jawab jugak diatas.
Q : Setting-setting tempatnya jelasin lagi dong.
A : Jadi rumahnya Luhan yang asli di Canada, terus di jual jadi dia gak punya rumah. Habis itu diajak bang yipan ke Denmark. Tapi akhirnya balik lagi ke Canada tepatnya ke Calgary (rumahnye bang yipan). Yang di Gass situ rumah aslinya bebeb Sehun. Terus yang di Ottawa itu rumahnya hunhan. Udah jelaskah?
Sudah aku jelasin semuanya yaa teman-teman. Buat ff barunya nanti, insyallah minggu depan baru aku publish. Sebenernya mau publish minggu ini, cuman gegara baper gak bisa liat suami basah-basahan di Jakarta jadi-nya gak mood gitu, hehe XD.
Buat yang nungguin ff ku yang lain /kayakadaaja-_-/ pokoknya ditunggu aja, pasti dilanjut kok. Kecuali yang bad surprise, itu udah fix aku putusin gak bakal ada sequel.
Buat author kimsaera61, buruan pulang yah. Aku kangen kamuu :')
Oke gitu aja.
Makasih buat yang selama ini udah nungguin ff-ff remake-an ku. Buat yang nge-follow, nge-fav, dan readers yang udah nyempetin review dari chap 1 sampe chap 14 kemaren, makasih banyak guuyss!
Big Thanks and Big Hug to (Chap 14) :
nisaramaidah28, Angel Deer, ramyoon, Selenia Oh, Juna Oh, molly a.k.a syfr17, NoonaAeri, Seravin509, Arifahohse, Kim zangin, Ririn Ayu, BabyByunie, Lisasa Luhan, chenma, JodohSeHun, SyiSehun, Luniaakimwu, luhannieka, hunnaxxx, Nam NamTae, fitry .sukma .39, mandwa, mislah, OhXiSeLu, 7wulanm, PxnkAutumnxx, Sarrah HunHan, Kwon, Radya, Freez MingTaem, Oh Stella (sampe review 2 kali :D), Navizka94, Ludeer, yume, DBSJYJ, HunHanCherry1220, Aria F, and all Guest.
Gomawoyooo yeorobun…:*:*
