Chapter 3 : Basket

Disclaimer : Boboiboy © Monsta Studio

Warning : AU , Boboiboy elemental and Yaya are sibling, Gaje, OOC , Humor garing, Alur kecepetan , No super power , Sedikit Plagiat dari Kiseki no sedai /kuroko no basuke. de el el.

.

.

.

Happy Reading and…. Don't like don't read this fanfiction !

Sekolah Pulau Rintis selain terkenal akan murid-murid yang pandai juga terkenal akan atlit olah raganya yang selalu memenangi berbagai kejuaraan disetiap cabang olah raga. Salah satu yang terkenal yaitu tim basketnya. Tim basket Sekolah Pulau Rintis biasanya terdiri dari siswa siswi terpilih dari berbagai tingkatan sekolah. Sekolah Pulau Rintis memang mempunyai banyak tim basket. Namun yang paling terkenal dan paling sering memenangkan pertandingan adalah tim basket yang di pimpin oleh Fang sebagai kapten dan beranggotakan para boboiboy bersaudara (Yaya sebagai manager tim).

Entah bagaimana caranya tim yang bias dibilang unik itu terbentuk karena pada dasarnya mereka berada pada tingkatan sekolah yang berbeda. Apalagi Yaya bisa menjadi manager tim. Tapi tak ada yang berani memprotes keputusan itu.

Hari ini tim basket sekolah Pulau Rintis akan bertanding melawan tim sekolah dari KL. Para pemain saat ini tengah bersiap-siap diruang masing-masing.

"Nah begitulah strategi permainannya. Kalian mengerti?" Tanya Fang kepada pemain lainnya setelah menjelaskan strategi permainan.

"Iya." Jawab keempat Boboiboy bersaudara. Kenapa hanya empat? Karena Halilintar jadi pemain cadangan. Dia sedang tak mood untuk bermain basket. Tapi tentu saja itu bukan alasan sebenarnya. Halilintar hanya sedang menjaga jarak dengan Fang dan Taufan (kalau mau tau alasannya silahkan baca Chapter 1 dan 2).

"Lho kak Hali kenapa bawa gunting?" Tanya Yaya menyadari kakaknya yang serba merah itu tengah memegang sebuah gunting yang berwarna merah pula.

"Ya terserah aku dong." Jawab Halilintar ketus.

"Lalu kenapa kak Hali gak mau main?" Tanya Yaya lagi.

"Terserah dong. Pokoknya keputusanku itu absolut gak bias diganggu gugat." Jawabnya lagi dengan nada lebih ketus. Lalu dia pergi meninggalkan ruangan itu sambil terus memainkan gunting merahnya. Sementara itu Yaya bengong melihat tingkah absurd kakaknya itu.

"Kak Gempa kamu bawa apaan?" Tanya Fang saat akan keluar ruangan. Dia bingung melihat Gempa membawa sebuah benda berbentuk aneh.

"oh ini benda keberuntunganku hari ini. Tadi sebelum berangkat kesini aku sempat baca ramalan zodiac kalau benda keberuntungan ku hari ini adalah sebuah kalung berwarna perak, sapu tangan pink dan boneka berambut keriting, bergigi seperti hiu dan pakai baju kayak orang-orangan sawah." Jelas Gempa panjang lebar sambil menunjukkan benda-benda yang ia sebutkan tadi.

'Dari mana ia dapat boneka itu?' batin Fang bingung.

"Hahahah Gempa kamu ini lihat deh ih sapu tangan warna pink, terus boneka itu. Ya ampun kamu ini mau tanding basket atau mau apaan sih." Kata Taufan

"Eh jangan sentuh. Ini benda keberuntunganku tau." Balas Gempa sambil menyembunyikan benda-benda tadi ke saku celana dan ke dalam sepatu.

"Ya ampun kamu ini masih percaya hal begituan? Hahaha aku gak nyangka punya kakak sepertimu." Kata Taufan sambil mencubiti pipi chuby Gempa yang ia gembungkan karena kesal dengan ejekan Taufan.

"Taufan kamu ini berisik banget sih." Kata Fang mulai kesal mendengar suara tawa Taufan yang cempreng.

"Biarin weekkk." Balas Taufan sambil memeletkan lidahnya. Ia sebenarnya sudah tidak sabar untuk bertanding.

"Woi Blaze kamu ngemil mulu ntar jadi gendut lho. Nanti kalau kamu gendut jadi susah lari lho." Kata Taufan kini menggoda adiknya.

"Biarin." Jawab Blaze singkat. Sementara Ice hanya duduk tenang memperhatikan adik-adiknya dan Fang yang dari tadi rebut dengan wajah datar.

Sebenarnya ia ingin jadi pemain cadangan saja karena Ice tidak terlalu pandai bermain basket. Tapi Halilintar sudah memutuskan biar dia yang jadi pemain cadangan. Dan kalau Halilintar sudah bilang begitu, maka tidak ada yang berani membantah, walau itu pelatih sekalipun. Paling Halilintar akan bilang bahwa dirinya itu absolut dan semua yang ia katakana juga absolut. Egois memang. Tapi biasanya keputusan yang diambil Halilintar itu pasti akan membuahkan hasil yang baik. Makanya dia biarkan adiknya yang temperamental itu jadi pemain cadangan.

Tak lama kemudian pembawa acara sudah memanggil nama tim masing-masing.

"Ini dia tim dari Sekolah Pulau Rintis." Kata MC acara. Lalu semua pemain basket Sekolah Pulau Rintis keluar menuju lapangan yang disambut dengan teriakan penuh semangat dari penonton. Terutama penonton perempuan. Walau ada juga beberapa penonton laki-laki yang meneriakan nama Fang (?).

"Wahhh ramai sekali yang nonton" kata Taufan senang. Saking senangnya ia sampai lompat-lompat menuju posisinya sebagai small Forwad. Sebelum menempati posisinya tak lupa Gempa juga mengenakan 'kacamata keberuntungannya'.

"Dan tim dari Sekolah KL." MC melanjutkan. Sambutannya juga lumayan meriah, yaah walau tak semeriah saat tim basket Sekolah Pulau Rintis masuk lapangan sih.

Setelah menempati posisi masing-masing, permainanpun dimulai.

Fang berhasil melakukan jump ball dengan sempurna ia maju menyerang dan langsung dihadang oleh dua pemain lawan.

Ia lalu mengoper kepada kepada Gempa yang berada tepat dibelakangnya. Gempa yang mendapat bola langsung melakukan shooting. Padahal jarak antara dirinya dan ring basket masih sangat jauh. Dan tanpa diduga tembakan Gempa langsung masuk ring lawan tanpa mengalami kesulitan berarti.

"WOOOWWW THREE POINT YANG SANGAT LUAR BIASA." Kata komentator melihat hal yang dilakukan Gempa. Penonton yang sempat tertegun pun bertepuk tangan dan berteriak-teriak menyebut nama Gempa. Mendengar namanya disebut Gempa lalu membenarkan letak kaca matanya.

Permainan dilanjutkan kini pemain defender lawan menjaga ketat pergerakan Gempa dan juga Fang. Melihat hal itu membuat Taufan gemas. Ia lalu berlari maju.

"Fang sini oper." Kata Taufan saat ia sudah ada dekat dengan Fang.

"Oke." Kata Fang lalu mengoper bola ke Taufan, tapi di cut oleh pemain lawan.

"Ah sial." Kata Taufan ia lalu mengejar lawannya itu. Saat sudah dekat ring pemain lawan langsung melakukan jump shoot. Tapi tembakannya berhasil digagalkan oleh Blaze yang masih mengunya cemilannya.

"Tfak akhan ku fiarkan khau dafat phoint." Kata Blaze yang mulutnya masih penuh dengan makanan. Ia lalu mengoper bola kepada Taufan yang ada didekatnya.

"Yosh." Kata Taufan dengan semangat dan dia men dribble bola dengan lincahnya. Saat sudah hamper dekat ring bolanya direbut lawan. "Ehh!" ia terkejut dengan pergerakan lawan yang tiba-tiba.

"Hehehe ayo sini coba rebut bolanya." Ejek pemain lawan tersebut. Tapi kemudian ia menyadari kalau bola basketnya sudah tak ada ditangannya. "Eh kemana bolanya?" pemain yang dibelakang bajunya bertuliskan Adu du itu bingung karena tiba-tiba bola ditangannya menghilang. Lalu ia melihat rupannya Ice yang sejak tadi tak melakukan banyak pergerakan, kini telah mendribble bola. Dengan wajah datarnya Ice mendribble bola bahkan lawannya tak menyadari saat Ice melewati mereka.

"Yuhuu bagus Kak Ice." Teriak Taufan.

"Fang." Kata Ice lalu mengoper bola pada Fang yang langsung melakukan tembakan three point. Dan tentu saja tembakannya itu masuk.

"Woow lagi-lagi three point. Saat ini kedudukan 6 – 0"

Fang dan Ice melakukan Highfive.

"Woow kak Ice keren sekali." Kata Taufan dan Blaze sambil merangkul kakak sulung mereka.

"Hei sudah-sudah kembali ke posisi kalian." Kata Fang. Diam-diam dia lalu mendekati Ice. "Operan bagus kak." Katanya sambil berbisik pada Ice membuat si empunya telinga merinding. Dan hal itu berhasil mengingatkan Ice mengenai kelakuan Fang yang menyimpan foto Halilintar. Dan mulai saat ini mungkin ia akan menjaga jarak dengan si duren ungu.

Di kejauhan sana Halilintar yang melihat Fang mendekati kakak sulungnya juga ikut merinding. Dia lalu mengambil gunting merah kesayangannya setidaknya saat memegang gunting itu ia menjadi sedikit lebih tanang (?).

Kembali ke lapangan. Permainan kembali dimulai. Kali ini Taufan bergerak lebih dulu. Ia melakukan dribble dan gerakan yang sama persis dengan Fang dan Ice. Gerakannya sangat lincah dan cepat. Dia berhasil melewati 4 pemain lawan sekaligus. Dia bersiap melakukan shooting. Tapi pemain defend lawan yang sangat tinggi menghalaninya.

"Kak Taufan sini." Kata Fang yang entah sejak kapan sudah ada disampingnya.

"Oke." Lalu Taufan melakukan passing ke Fang. Dengan sigap Fang menangkap bola dari Taufan dan langsung melakukan Slam dunk. Saat melakukan itu semua kamera wartawan memotret setiap gerakan yang dilakukannya. Bahkan Fang sempat melambaikan tangannya kearah kamera (?).

"WOOOWWWW KEMBALI TIM DARI SEKOLAH PULAI RINTIS MELAKUKAN AKSI YANG LUAR BINASAH" kata sang komentator. Kembali terdengar suara teriakan-teriakan dari para penggemar tim basket sekolah Pulau Rintis.

"Ugh sial." Kata kapten tim basket Sekolah KL –Ejojo-.

Permainan babak pertama berakhir dengan skor 30-0 untuk Sekolah Pulau Rintis.

"Eh Hali kamu gantiin aku dong, capek nih." Kata Ice kepada adiknya yang dari tadi hanya duduk di bangku cadangan.

"Ehm oke deh." Kata Halilintar akhirnya.

"Hoy Fang, Hali gantiin aku ya." Kata Ice.

"Eh Hali gantiin Kak Ice?" Kata Taufan dan Fang bersamaan.

"Iya, aku capek mau tidur." Kata Ice yang tak lama kemudian sudah terbang ke alam mimpi.

"Heemm padahal kak Ice tadi gak banyak gerak, apanya yang capek?" Kata Blaze yang kini mulai memakan 3 coklat sekaligus.

"Kamu masih belum kenyang ya Blaze? " Tanya Halilintar kepada Blaze.

"Belum, aku masih lapar." Jawab Blaze dangan wajah polos.

"Padahal kak Blaze ngemil teruskan selama pertandingan?" Kata Yaya memperhatikan kakaknya itu yang entah bagaimana caranya membawa cemilan sebanyak itu saat bertanding.

"Biarin aku kan lapar." Jawab Blaze yang kini mulai memakan coklat ke empatnya.

"Berarti habis pertandingan kakak harus diet." Kata Yaya sambil menulis sebuah catatan di buku agendanya. Blaze yang melihat itu langsung merinding membayangkan program diet yang setelah ini harus ia jalani.

"Sudah-sudah pertandingan babak kedua mulai tuh." Kata Gempa sambil mengikatkan sebuah benda seperti sabut kelapa ke pergelangan kakinya yang kalau ditanya dia pasti akan bilang kalau itu benda keberuntungannya.

Babak kedua berlangsung tak jauh beda dengan babak pertama. Fang yang merupakan pemain center terus mencetak point. Sementara Gempa setiap mendapat bola, walau jarak antara ring dengan dirinya sangat jauh tetap saja ia berhasil melakukan tembakan three point dengan sangat sempurna.

"Hoy Hali kenapa diam aja?" Tanya Blaze kepada adik kembarnya itu.

"Ah gak papa. Tanpa aku main pun sebenarnya kita bisa menang kok." Kata Halilintar santai.

"Kamu tau dari mana?" Tanya Blaze bingung.

"Intuisi." Jawabnya singkat. Lalu seorang pemain lawan mendekati Halilintar.

"Hali siap-siap." Kata Blaze. Namun si pemain lawan tiba-tiba berhenti lalu ia tiba-tiba lari keluar lapangan sambil teriak.

"Kenapa dia?" Tanya Blaze dan anggota tim lawan yang kebingungan melihat tingkah teman satu tim mereka.

Blaze lalu melirik Halilintar. Tak berapa lama wajahnya juga pucat. Rupanya Halilintar menunjukan sebuah seringai yang sangat menyeramkan sambil memegang sebuah gunting besar berwarna merah.

'PRIIIT'

"Kamu ngapain bawa gunting, taruh di ruang ganti." Kata wasit.

"Eh, oh iya tadi lupa aku tinggal di ruang ganti. Maaf ya." Kata Halilintar dengan nada datar. Lalu ia berlari keluar lapangan. Semua orang di lapangan itu menatap kepergian Halilintar dengan tatapan face palm. Setelah Halilintar kembali, permainan pun dilanjutkan. Kali ini Halilintar yang maju sambil mendribble bola. Gerakannya sangat lincah dan ringan seperti angin. Dengan mudah ia juga mencetak angka. Semua penonton sangat kagum dengan kemampuan tim basket Sekolah Pulau Rintis.

'PRIIITTTT'

"WAKTU HABIIISSS… PERTANDINGAN BERAKHIR DENGAN SKOR 70-0 DENGAN KEMENANGAN DIRAIH OLEH SEKOLAH PULAU RINTIS" Kata sang komentator bersemangat. Semua penonton bersorak dan bertepuk tangan.

"Eh kita menang ya?" Tanya Blaze yang kini mulai menyantap sushi.

"Eh iya ya. Gak nyangka kita dapat skor 70 ya."kata Gempa terkejut saat melihat skor yang mereka dapat.

"Kan sudah kukatakan kita pasti menang." Kata Halilintar datar.

"Yeeeeyyy kita menang…" kata Taufan sambil loncat-loncatan

Sementara Fang hanya tersenyum puas. Untuk kesekian kalinya tim mereka menang dalam pertandingan tanpa memberi kesempatan kepada lawan mereka untuk mencetak angka. Setelah pertandingan selesai mereka semua pulang bersama dan mereka pergi ke sebuah restaurant untuk merayakan kemenangan mereka. Tapi…

"Kak Blaze gak boleh pesen makanan!" kata Yaya.

"Eh?! Kenapa? Aku kan juga lapar." Kata Blaze sambil menunjukan wajah memelasnya.

"Masih lapar?! Dari tadi sudah habis cemilan sebanyak itu kakak bilang masih lapar?!" kata Yaya sambil mengeluarkan aura membunuh yang sangat kental. Blaze yang merasakan aura adiknya sekaligus manager tim pun hanya bisa diam. Keringat dingin muali mengucur dari dahinya.

"Sekarang kak Blaze lari dari sini sampai rumah!" KataYaya sengan nada tegas.

"HEEEEE?!" lalu Blaze pun mulai berlari sambil air matanya mengalir deras. Dibelakangnya Yaya mengikuti Blaze dengan naik sepeda.

~~~~Basket FIN ~~~~~

Hai mizu kembali... kali ini kayaknya gak terlalu ada humornya ya... ini juga Mizu agak plagiat dari kuroko no basu... dan maaf kalau ada kesalahan soalnya Mizu agak gak paham sama basket... jadi maaf ya... mungkin kalau ada yang lebih paham tentang basket bisa kasih kritik sarannya...

nah karena udah malam dan Mizu juga udah mulai lelah... akhir kata sampai ketemu dichapter selanjutnya dan ...Review Please

MIzu