Chapter 4 : Unlucky Yaya
Disclaimer : Boboiboy © Monsta Studio
Warning : AU , Boboiboy elemental and Yaya are sibling, Gaje, OOC , Alur kecepetan , No super power , de el el. Untuk chapter ini akan focus ke Yaya dan mungkin gak ada humornya.
.
.
.
Happy Reading and…. Don't like don't read this fanfiction !
Keberuntungan adalahsuatu hal yang biasanya didambakan setiap orang. Karena dengan sebuah keberuntungan, seseorang akan dengan mudah memperoleh apa yang ia inginkan. Yaya biasanya memiliki keberuntungan itu. Diantara ke-enam Boboiboy bersaudara Yaya yang biasanya paling beruntung. Namun sepertinya keberuntungan tak selalu mengikuti Yaya. Hal itu terbukti dalam sehari ini. Entah apa yang membuat Yaya dalam jangka waktu satu hari menjadi sangat sial. Mungkin ada yang merasa iri dengannya dan kemudian mengutuk Yaya? Entahlah. Kesialan terus mengikuti Yaya hari ini.
Pagi yang cerah di hari senin. Aktifitas di rumah Boboiboy bersaudara sudah dimulai pagi-pagi sekali. Biasanya Yaya yang paling awal bangun tapi entah ada apa sehingga Yaya bangun telat.
"KYAAAAA AKU BANGUN KESIANGAN!" teriaknya dari dalam kamar. Membuat burung-burung yang bertengger diatas rumah itu jatuh pingsan. Dengan segera ia berlari ke kamar mandi, memakai seragam dan langsung bergabung dengan kakak-kakaknya untuk sarapan. Namun ke lima kakaknya sudah selesai makan.
" Ku kira hari ini kamu gak masuk sekolah." Kata Blaze melihat adiknya itu.
"Tentu saja aku masuk lah kak." Kata Yaya buru-buru sarapan.
"Pelan-pelan makannya nanti tersedak lho." Kata Taufan memperingatkan. Dan benar saja, setelah Taufan selesai bicara, Yaya tersedak.
"Nih air minum." Kata Gempa menyodorkan segelas air putih kepada Yaya.
"Terima kasih. maaf aku duluan." Kata Yaya langsung berangkat sekolah. "Assalamu'alaikum." Teriaknya dari luar rumah.
"Wa'alaikum salam." Jawab ke lima kakaknya bersamaan.
Yaya berangkat sekolah sambil berlari. "Gawat hari ini aku piket." Kata Yaya. Nafasnya terengah-engah saat ia sudah sampai dikelas.
"Yaya tumben kamu jam segini baru datang." Kata Ying, sahabat sekaligus rivalnya.
"Iya aku bangun kesiangan." Kata Yaya yang kemudian langsung melaksanakan tugas piket.
Tak lama bel tanda masuk berbunyi.
"Bangun, selamat pagi cik gu." Kata Yaya yang merupakan ketua kelas.
"Selamat pagi Cik gu." Kata murid lain.
"Selamat pagi. Nah sekarang kumpulkan tugas kalian." Kata Cik Gu.
"Tugas? tugas apa?" kata Yaya bingung.
"Tugas bikin teks drama bahasa inggris lah. Kamu lupa kah?" kataYing bingung mendengar pertanyaan Yaya.
"Ah, Astaghfirullah, aku lupa buat." Kata Yaya dan ternyata cik gu sudah ada disamping Yaya.
"Yaya, kamu berdiri di luar kelas sekarang!" perintah cik gu.
"E-eh baik cik gu." Dengan langkah lemas, Yaya berjalan keluar kelas.
"Haaah gimana aku bisa lupa?" katanya lirih. Setelah pelajaran bahasa Inggris selesai berlanjut ke pelajaran matematika.
"Nah kali ini cik gu akan bagikan hasil ulangan kalian minggu lalu." Kata Cik gu matematika.
"Ying kita lihat siapa yang mendapat peringkat pertama." Kata Yaya. Ada aura hitam yang keluar dari tubuh Yaya.
"kali ini pasti aku yang menang." Kata Ying yang juga disekitarnya ada aura hitam membuat teman-temannyayang lain menahan nafas.
"Dan yang mendapat nilai tertinggi adalah…. GOPAL…" kata Cik Gu menyebutkan nama anak keturunan india yang bertubuh gempal.
"Eh APA?!" kata Ying dan Yaya bersamaan. Sedangkan si empunya nama hanya bisa cengo saat melihat hasil ulangannya.
"Dan yang mendapat peringkat dua adalah Ying, selamat." Kata cik gu sambil menyerahkan hasil ulangan milik Ying. Mendengar hal itu Yaya menjadi kahwatir. 'Tak apa masih ada peringkat tiga.' Batinnya.
"Yaya, haahh ada apa dengan hasil ulangan kamu, kenapa kali ini mendapat nilai terendah?" kata Cik Gu menyerahkan hasil ulangan Yaya.
"HEEE?!" sontak hal itu membuat seisi kelas gempar.
"EEHHH TAK MUNGKIN!" jerit Yaya sedetik kemudian ia pingsan.
~~~~UNLUCKY YAYA~~~~
Yaya mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ergh ini dimana?" tanyanya denga suara pelan.
"kamu ada di UKS." Kata Halilintar yang duduk disamping ranjang tempat Yaya terbaring.
"Lho kok kak Hali ada disini?" Tanya Yaya bingung melihat Halilintar ada di UKS sekolah dasar Pulau Rintis.
"Tadi Ying ngasih tau kalau kamu pingsan." Kata Halilintar dengan suara datar.
"sekarang jam berapa?" tanyanya lagi sambil duduk.
" jam 10." Jawab Halilintar singkat.
"Eh jam 10? Gawat aku bakal ketinggalan jam pelajaran memasak." Kata Yaya yang langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju kelas memasak.
Halilintar hanya bengong melihat adiknya itu.
"Heemmm udah sehat kayaknya. Balik kelas ah." Kata Halilintar yang lalu kembali ke kelasnya.
Sementara itu Yaya langsung masuk ke kelas memasak. Ia meminta maaf kepada Cik gu yang ada di situ.
"Nah hari ini kita akan membuat biscuit." Kata Cik Gu dan langsung mendapat respon keluhan dari para murid kecuali Yaya.
"Yeeeyy buat biscuit." Kata Yaya senang. Ia sudah lama sekali tak membuat biscuit sejak acara cosplay waktu itu.
-SKIP TIME-
" nah murid-murid karena waktunya sudah habis, biscuit hasil praktek boleh kalian makan." Kata cik gu yang lalu keluar ruang praktek.
"Eh, Ying kamu mau cicipi biscuit aku?" Tanya Yaya kepada Ying yang ada disebelahnya.
"E-eh tak usah Yaya. Lagi pula biscuit buatanku juga masih banyak." Kata Ying sambil menunjukan biscuit buatannya.
"Hem oke. " Yaya memperhatikan biskuitnya lekat-lekat. "cobain ah." Katanya lalu ia mengambil satu keping biscuit buatannya sendiri dan memasukkan kedalam mulut.
'Urgh kok keras ya' batinnya saat mencoba menggigit biskuitnya. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya pada gigitan ke 4 Yaya berhasil mematahkan biscuit buatannya itu. Teman-temannya yang lain memperhatikan Yaya yang mulai mengunyah.
1 detik
2 detik
3 detik
Wajah Yaya terlihat pucat. "Urgh sepertinya aku mau muntah." Kata Yaya yang kemudian langsung berlari ke kamar mandi.
Teman-temannya yang lain menghembuskan nafas lega. 'Akhirnya dia mencicipi rasa racun buatannya sendiri' batin mereka semua.
Tak berapa lama setelah Yaya kembali dari kamar mandi, badannya menjadi sangat lemas. 'kenapa biscuit aku rasanya seperti kertas pasir ya?' batinnya dalam hati.
Ia berjalan sambil menundukan kepalanya dan tak memperhatikan jalan. Tiba-tiba kakinya tersandung batu dan Yaya pun terjatuh.
"Aduuhh kakiku sakit. Kenapa sepertinya hari ini aku sangat sial ya?" katanya sambil memegangi kakinya yang sedikit lecet. Detik itu juga rasanya Yaya ingin menangis. Kemudian Yaya bangkit berdiri, ia melanjutkan perjalanannya menuju kelas.
Didalam kelas Yaya hanya diam. Tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
"Kamu kenapa Yaya? Kok terlihat murung."Tanya Ying yang terlihat khawatir dengan sahabatnya itu.
"Haaah, tak apa Ying." Kata Yaya lemas.
"Oh iya kamu sudah tau kalau Gopal mewakili sekolah kita ikut lomba cerdas cermat bersama dengan Iwan?" kata Ying.
"Eh apa? Gopal?" Tanya Yaya kaget mendengar hal itu.
"Iya. Katanya karena akhir-akhir ini nilai Gopal sangat bagus, jadi dia terpilih ikut lomba cerdas cermat. Makanya dia gak ikut pelajaran memasak tadi." Jelas Ying.
Yaya menjadi semakin hilang semangat mendengar kabar itu. Biasanya Yaya yang selalu terpilih untuk lomba cerdas cermat. Tapi kali ini… Yaya menghela nafas. 'hilang sudah kesempatanku' batinnya. Padahal Yaya sangat ingin ikut lomba cerdas cermat kali ini.
Kesialan Yaya tak hanya sampai disitu. Saat pulang sekolah, Yaya terjebak hujan. Ia berdiri di depan kelasnya. Semua teman-temannya sudah pulang.
"Kenapa juga aku lupa bawa payung." Gerutu Yaya kesal. Semakin lama hujan justru semakin deras. Ia berharap salah satu kakaknya ada yang berbaik hati menjemput Yaya.
Selama 1 jam Yaya terus berdiri didepan kelasnya. Ia mulai putus asa karena hujan tak kunjung berhenti.
"Oh iya, aku kan bawa handphone." Katanya yang lalu mengeluarkan handphone dari dalam tasnya. Dengan segera ia memencet salah satu nomer kakaknya.
Tuuut tuuut ….. [Halo?] terdengar suara Taufan
"Kak Taufan bisa jemput aku? Aku terjebak hujan didepan kelas" kata Yaya
[…] hening. Tak terdengar suara balasan dari Taufan
"Lho kok-" kata-kata Yaya terputus saat ia melihat layar ponselnya gelap. Rupanya batre handphonnya habis.
Sebuah perempatan imajiner muncul di kening Yaya. Ia sungguh kesal pada dirinya sendiri yang lupa menge charge batre handphone nya. Kini ia Cuma bisa pasrah menunggu didepan kelas sambil jongkok.
Air matanya mulai mengalir.
"Iks…iks…" Yaya mulai terisak.
"Yaya kamu kenapa? Kok nangis disini?" rupanyan Taufan sudah berdiri didepannya.
Yaya mendongak melihat siapa yang ada didepannya.
"Kak Taufan… " Kata Yaya langsung memeluk Taufan.
"Sudah-sudah. Ayo pulang." Kata Taufan. Yaya meangguk. Ia berjalan disamping kakaknya.
"Makasih kak udah mau jemput Yaya." Kata Yaya semakin merapatkan diri ke Taufan.
"Iya, tapi kenapa kamu nangis tadi?" Tanya Taufan.
"Habisnya Yaya kesal. Hari ini Yaya sepertinya sial." Kata Yaya.
"Sial?" Tanya Taufan sambil melirik adiknya itu. 'Tumben' batinnya
"Hu'um. Tadi aku lupa gak bikin tugas bahasa inggris jadi aku dihukum, terus nilai ulangan matematika ku paling rendah. Terus tadi aku jatuh." Kata Yaya.
Taufan terus mendengarkan cerita adiknya itu. Sejahil apapun Taufan, diantara saudaranya yang lain justru dia yang paling pengertian dan paling enak dijadikan tempat curhat.
"Yah anggap aja ini pelajaran buat kamu supaya kamu lebih rajin belajar, lebih berhati-hati. Jangan dibikin beban oke." Kata Taufan sambil mengusap lembut kepala Yaya setelah adiknya itu selesai bercerita.
"Iya." Jawab Yaya singkat. Ia merasa agak malu karena perlakuan Taufan. Tanpa mereka sadari, mereka berdua sudah sampai dirumah.
"Assalamu'alaikum" kata Taufan dan Yaya.
"Wa'alaikum salam." Jawab Gempa yang sedang ada di ruang tengah, masih berkutat dengan setumpuk tugas OSIS.
"Oh Yaya,kamu di cari tu sama kak Ice." Kata Blaze melihat Yaya.
"Eh kenapa?" Tanya Yaya bingung.
"Entah. Kak Ice nungguin kamu di kamarnya." Jawab Blaze sambil mengangkat bahu.
Yaya bingung. Ini tak seperti biasanya. Ice tak pernah memanggil Yaya ataupun kakaknya yang lain kekamarnya kecuali…
Tiba-tiba keringat dingin mengucur dari dahi Yaya
'Gawat' batinnya saat ia memasuki kamar kakak sulungnya itu. Dan hal yang ditakutkannya pun terjadi.
"Yaya, kenapa kamu bisa dapat nilai jelek begini hah?" Tanya Ice saat Yaya sudah ada dikamarnya. Ia memegang selembar kertas hasil ulangan matematika Yaya.
'Dari mana kak Ice bisa dapat kertas ulanganku' batinnya. Seolah bisa membaca pikiran Yaya, Ice lalu menjawab pertanyaan adik bungsunya itu.
"Tadi Hali yang ngasih ini. Katanya ia dikasih teman kamu Ying pas kamu pingsan." Kata Ice dengan nada dingin.
"I-itu ehm" Yaya tak tau mau bicara apa. Ia paling tak bisa membantah kata-kata kakak sulungnya.
Dan dengan satu tarikan nafas panjang, Ice memulai siraman roahninya kepada Yaya.
Sungguh satu hari itu untuk pertama kalinya Yaya merasakan sesuatu yang disebut kesialan.
-Unlucky Yaya END-
haii maaf untuk chapter ini pendek dan gak ada humornya... mungkin buat chapter depan akan mizu usahain humornya lagi. dan seperti biasa Mizu selalu minta kritik, saran and review please... *puppy eyes no jutsu*
jaa mina san... sampai ketemu di chapter depan
mizu
