Chapter 5 : Oreo

Disclaimer : Boboiboy © Monsta Studio

Warning : AU , Boboiboy elemental and Yaya are sibling, Gaje, OOC , Humor (Maybe), Alur kecepetan , No super power , de el el. Untuk judul chapter ini saya bukan bermaksud untuk promosi.

.

.

.

Happy Reading and…. Don't like don't read this fanfiction !

Terkadang hubungan saudara itu tak selalu mulus. Sesekali terjadi pertengkaran baik karena hal spele maupun hal yang benar-benar serius. Para Boboiboy bersaudara pun tak jarang saling bertengkar, walau pertengkaran itu tak pernah berlangsung lama dan biasanya itu bukan hal yang serius.

Sore itu terlihat sosok pemuda berpakaian biru langit dengan corak putih serta topi dengan warna senada. Pemuda itu, Taufan sedang mengendarai skateboardnya dengan sangat lincah. Karena tadi ada ekstrakulikuler seni, jadi dia pulang lebih sore dari biasanya. Dia menghentikan skateboardnya tepat dihalaman rumah.

"Assalamu'alaikum" katanya saat melangkahkan kaki melewati pintu masuk.

"…" hening. Tak ada satu orangpun yang menjawab salamnya. 'Tumben' batinnya karena semua anggota keluarga Boboiboy pasti akan menjawab saat seseorang mengucapkan salam kecuali jika memang taka da yang mendengar. Taufan melanjutkan langkahnya ke ruang tengah dan disana ia menemukan sesosok berwarna merah hitam yang tergeletak tak sadarkan diri (baca : tidur) di sofa. 'Heemmm Hali, tidur rupanya, terus kemana yang lain ya?' pikirnya. Karena penasaran, pencarian Taufan pun berlanjut ke dapur. Hasilnya masih nihil. Ia masih belum menemukan saudaranya yang lain.

"Ah, mandi dulu aja." Kata Taufan. Lalu ia naik kelantai dua menuju kamarnya untuk mandi.

Tak berapa lama setelah Taufan masuk ke kamarnya, Halilintar bangun. Ia mengerjapkan mata beberapa kali lalu diliriknya jam yang ada di ruangan itu.

'Erggh masih jam 5 toh. Makan malam masih lama dong.' Batinnya sambil menguap. Halilintar bangkit dari sofa dan melangkahkan kaki menuju dapur untuk cuci muka di wastafel. Setelah mengeringkan wajahnya ia melangkah menuju lemari pendingin mencari-cari sesuatu yang bisa dimakan selagi menunggu makan malam. Disaat bersamaan Taufan yang baru turun dari lantai dua juga masuk dapur dan ikut mengintip isi kulkas karena dia juga sudah lapar.

"Waaahh ada oreo. Tinggal satu bungkus pula. Pas banget." kata Taufan melihat cemilan kesukaannya itu. Sebenarnya semua Boboiboy bersaudara suka dengan biscuit hitam berlapis krim itu. Halilintar yang mendengar suara orang lain dibelakangnya secara otomatis menengok dan mendapati ternyata Taufan yang berdiri disana. Ia melirik tajam kakaknya itu. Taufan yang mendapat tatapan tajam dari Halilintar merasa bingung.

"Kenapa?" tanyanya.

"Ini aku duluan yang nemuin berarti oreonya jadi hak milikku." Kata Halilintar ketus dan langsung mengarahkan tangannya ke oreo itu yang sebenranya entah milik siapa. Namun tangannya langsung ditepis Taufan.

"Gak bisa. Disini aku yang lebih tua. Jadi itu hak ku." Katanya sambil menunjukan sebuah seringai. Biasanya Halilintar akan menurut kalau Taufan sudah menunjukan seringaiannya, tapi tidak untuk hari ini. Halilintar kemudian mengeluarkan aura membunuhnya.

"Oh, kamu mau melawan kakakmu ini ya?" kata Taufan saat menyadari aura adiknya itu.

"Aku gak mau ngalah terus sama kak Taufan. Harusnya kak Taufan yang ngalah sama aku." Kata Halilintar dengan nada dingin. Ia menatap tajam Taufan. Taufan pun tak kalah tajam menatap Halilintar.

'SRING'

'DUAR'

Saat Halilintar dan Taufan saling menatap tajam, terdengar suara-suara aneh yang sebenarnya itu adalah suara Gempa yang tengah mengasah pisau di halaman belakang untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan suara ledakan itu berasal dari percobaan gunung berapi Yaya yang dibantu Blaze yang tak jauh dari posisi Gempa.

Suasana di dapur menjadi lebih tegang. Taufan sudah bersiap menyerang Halilintar dengan jurus tae kwon do nya sementara Halilintar sudah bersiap dengan gerakan wushu nya. Dan beberapa saat kemudian perang antar kakak beradik itu dimulai.

######OREO######

Sementara kita tinggalkan arena pertarungan itu. Tak jauh dari rumah Boboiboy terlihat sosok sang kakak sulung yang melangkah dengan gontai. Ia melihat jam tangannya yang menunjukan pukul setengah enam. Perutnya sudah keroncongan. 'huufftt capeknya' batin Ice sambil terus melangkah. Hari itu kegiatan sekolahnya sangat padat. Entah itu kegiatan praktek yang sampai sore, belum lagi ada rapat ekskul yang membuatnya tak sempat makan siang dan kegiatan lain-lainnya. Sungguh hari itu Ice benar-benar sangat lelah dan lapar. Yang dibutuhkannya saat itu adalah pulang kerumah secepatnya, mandi , makan malam dan tidur. Mengingat mengenai makan malam membuat Ice sangat senang karena hari ini jatah Gempa yang masak. Biasanya adiknya yang paling normal itu selalu memasak makan malam yang enak-enak. Memikirkannya saja membuat air liur Ice menetes. Ia pun mempercepat langkahnya.

"Assalamu'alaikum." Katanya begitu sampai dirumah.

"…" hening. Tak ada jawaban salam dari adik-adiknya yang manis. Ice tak terlalu memusingkan hal itu. Ice langsung melemparkan tasnya kesembarang tempat. Itu benar-benar diluar kebiasaannya. Sungguh Ice benar-benar lelah bahkan hanya untuk meletakkan tasnya ketempat seharusnya.

Saat akan melangkahkan kaki menuju kamar, Ice teringat sesuatu. 'Oh iya aku masih punya oreo di kulkas. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum makan malam.' Batinnya. Dengan segera ia melangkah menuju dapur. Tiba-tiba langkahnya terhenti di sekat penghubung antara dapur dengan ruang tengah. Matanya membelalak melihat kekacauan yang terjadi.

Kursi jungkir balik, banyak sampah berserakan , keran sedikit penyok, kompor hampir jatuh dan lantai dapur yang penuh dengan remah-remah berwarna hitam.

"Apa yang-" kata-katanya terhenti saat melihat dua makhluk berwarna biru dan merah hitam tengah bergelut dilantai sambil memegang sebuah bungkus yang tak asing bagi Ice. 'TIDAAAAKKK ITU OREO KU!' teriaknya dalam hati.

Oke sebagai kakak yang baik, hal pertama yang harus Ice lakukan dalam situasi seperti ini adalah melerai adik-adiknya.

"Taufan, Hali sudah hentikan." Katanya walau tak beranjak dari tempatnya berdiri saat ini.

"HALI, BERIKAN OREONYA PADAKU!" teriak Taufan mencoba merebut oreo yang bukngkusnya sudah sobek dan isinya hancur.

"GAK MAU! KAK TAUFAN HARUSNYA NGALAH SAMA ADIKNYA! " Balas Halilintar sambil terus menggenggam bungkus oreo itu.

"GAK! AKU GAK MAU NGALAH! MASA KAKAK HARUS NGALAH TERUS, SESEKALI ADIKNYA DONG YANG NGALAH!" Kata Taufan masih terus berusaha merebut oreo dari tangan Halilintar.

"SELAMA INI JUGA AKU TERUS YANG NGALAH SAMA KAK TAUFAN! AKU UDAH CAPEK NGALAH TERUS!" balas Halilintar lagi tak kalah sengit.

Sementara itu Ice yang merasa perkataannya tak dihiraukan kedua adiknya itu menjadi emosi. Wajahnya saat ini semerah kepiting rebus karena marah.

'DUAK'

'KRAK'

Tanpa sadar Ice sudah memukul didinding di sampingnya dan meciptakan sebuah retakan. Mendengar suara itu, Taufan dan Halilintar langsung menghentikan 'kegiatan' mereka. Keduanya menatap sumber suara. Melihat Ice berdiri disitu dengan kepala tertunduk, atu tangan terkepal dan tangan lain meninju didinding dan terlihat retakan di dinding yang sebelumnya mulus, membuat Taufan dan Halilintar berkeringat dingin.

"Kalian. Berdua . Bereskan . Kekacauan ini. SEKARANG!" kata Ice dengan penekanan disetiap katanya.

Taufan dan Halilintar langsung menelan ludah kasar. "I-Iya." Kata mereka berdua yang langsung membereskan hasil pertarungan mereka.

Beberapa saat kemudian Gempa masuk. Ia berjalan dengan santainya.

"Lho kak Ice baru pulang." Kata Gempa sambil melepas earphone yang terpasang di telinganya. Pantas saja ia tak mendengar suara pertengkaran Taufan dan Halilintar yang seperti perang dunia itu. "Astaga. Ada apa ini? Apa yang terjadi?" katanya saat melihat dapur yang berantakan. Tanpa menunggu jawaban, Gempa paham apa yang terjadi saat melihat Taufan dan Halilintar membersihkan dapur dan diatas meja tergeletak bungkus oreo yang sudah tak berbentuk lagi. Tak berapa lama Yaya dan Blaze ikut bergabung. Tubuh mereka penuh dengan angus.

"Kalian habis ngapain?" Tanya Ice agak ketus saat melihat kedua adiknya yang baru masuk dapur itu.

" Habis bikin model gunung berapi. Tugas sekolahnya Yaya." Kata Blaze agak kaget ditanyai Ice dengan nada seperti itu.

"Gempa." Panggil Ice.

"I-iya." Jawab siempunya nama.

"Tolong masakin sup sayur, isinya nanti kamu tambah kacang polong sama brokoli." Kata Ice.

Halilintar dan Taufan yang mendengar itu langsung menatap horror kakak sulung mereka. 'Gawaaaaat' batin mereka berdua. Kacang polong dan brokoli adalah dua jenis sayuran yang paling tak disukai Taufan dan Halilintar.

" Dan nati gak boleh ada makanan yang dibuang. Kalau sampai ada yang ketahuan membuang makanan…" kata Ice sengaja menggantungkan kata-katanya membuat semua adiknya (kecuali Yaya yang memang terlalu polos) bergidik ngeri.

Setelah selesai mengatakan hal itu Ice melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mandi.

"Kak Ice mau aku siapkan air hangat buat mandi?" Tanya Yaya polos.

"Boleh." Jawab Ice singkat. Setidaknya adik bungsunya itu sangat mengerti kebutuhannya sekarang. Dengan segera Yaya merebus air. Sementara Gempa mulai menyiapkan makan malam, Blaze juga masuk kamar untuk membersihkan tubuhnya. Halilintar dan Taufan menangis dalam hati mengrutuki diri mereka masing-masing.

Tepat pukul setengah tujuh malam, setelah sholat maghrib, para Boboiboy bersaudara makan malam bersama. Mereka menikmati makan malam buatan Gempa yang memang sangat lezat kecuali Halilintar dan Taufan yang terpaksa memakan sayuran yang mereka benci. Namun penderitaan mereka tak hanya sampai disitu karena setelah sholat isya, Halilintar dan Taufan dipanggil Ice ke kamarnya dan tentu saja mereka berdua akan menerima 'ceramah' dari kakak sulung mereka.

#####OREO END #####

Haiii semuaaaa... apa kabarrrrr... pertama Mizu mau minta maaf karena baru bisa update hari ini... dan entah kenapa mizu merasa semakin lama chapternya semakin pendek ya isinya... yaaahhh harap maklum ya terkadang suka hilang inspirasinya pas ditengah-tengah jadi yaaahhh cuma bisa segini /Malah curhat/ hehehehe seperti biasa mizu selalu minta kritik saran dari para readers sekalian... dan akhir kata review please... ^^

sampai ketemu di chapter selanjutnya yaaaa...

mizu