Yo Ane balik lgi dengan chapter baru karena bulan kemarin sibuk + hanya beberapa fic yang bisa dilanjut jadinya seperti ini

Terima Kasih buat yg udah Review, Fav, dan follow.


Previously

"Bagaimana apa kau akan bertarung melawan Phantom atau membiarkan mereka membuat orang-orang di dunia ini menjadi Phantom dan ditelan oleh keputusasaan?" Tanya White Wizard.

Jika Kotaro adalah Haruto mungkin dia tahu mana jawaban yang akan diberikannya. Dia tidak akan membiarkan orang-orang di duniamenjadi Phantom dan tidak ingin melihat orang-orang di dunia ini kehilangan harapan mereka dan berubah menjadi keputusasaan.

"Aku…akan menjadi harapan terakhir bagi orang-orang di dunia ini." Kata Kotaro sambil tersenyum.

"Kalau begitu aku akan mengajarimu selama 3 tahun untuk menguasai semua sihirmu." Kata White Wizard.


(Play Life is SHOW TIME!)

Maji ka?! Maji de?! Maji da! Show Time~!

Maru de tsuki to taiyou
Kasanaru toki no shougeki!
Dare datte kiseki wo shinjitemitai

Kitto hitsuyou~ fukaketsu no ENAJII~ kokoro tame
Yume to yosou ii ima de uragitte kureru mono~

(3! 2! 1! Show Time!)

Magic time~! trick janai!
Mahou wo hero hanpa nee zo [Mahaluto Hallelujah!]
Kioku no ROOTS moguri–konde
Kibou wo tsukui dasou~

(Show Time!)

Life is Show Time! tobikkiri no
Unmei DORAIVU mucha shitemo [Mahaluto Hallelujah!]
Kinou, kyou, ashita, mirai
Subete no namida wo~!

Show Time!

Houseki ni kaette yaru ze
Maji ka?! Maji de?! Maji da! Show Time~!


Chapter 02

3 years later

Setelah Kotaro menyelesaikan latihannya, dia di kirim ke Areisha Spirit Academy karena dua hal. Yang pertama White Wizard mengira disana pasti akan muncul Phantom dan yang kedua karena saat 3 tahun yang lalu dia menyerang Ghoul dan diamati oleh kepala sekolah Areisha Spirit Academy jadi dia diundang untuk bersekolah disana.

Dalam perjalanannya dia bertemu dengan pemuda yang memiliki warna rambut biru hitam dan warna matanya biru. Dia mengenakan kaos tanpa lengan dan sedang membawa tas yang seperti karung. Pemuda itu bernama Kamito Kazehaya.

Pertemuan mereka sedikit unik, karena Kotaro tersesat di hutan dia bertemu dengan Kamito yang juga sedang dalam perjalanan ke Academy tapi yang membuatnya sedikit terkejut adalah Kamito juga tersesat. Disitulah mereka berdua berteman.

Saat masa latihannya Kotaro bertemu dengan Phantomnya.

FLASHBACK

Kotaro POV

Sudah seminggu sejak kejadian Sabbat dan aku masih belum mengetahui keberadaan Kazuki, aku harap dia tidak apa-apa. Sekarang aku sedang bermeditasi karena menurut White Wizard aku harus bertemu dengan Phantom yang ada dalam diriku sebelum belajar menggunakan sihir. Dan karena dunia ini ada system kontrak roh yang merupakan seorang manusia lebih tepatnya seorang gadis yang masih suci melakukan kontrak dengan roh tertentu untuk mendapatkan kekuatan. Jadi White Wizard mengusulkan agar aku harus bertemu dengan Phantomku.

Beberapa menit aku bermeditasi dan secara tiba-tiba aku merasa di tempat gelap yang berarti aku berada di Underworldku sendiri.

"Akhirnya kau mengunjungiku." Aku mendengar suara tapi tetap aku tidak melihat apa-apa.

"AKU DISINI BAKA!"

Aku pun menoleh dan melihat…WizarDragon!? Aku tidak percaya, seharusnya dia Phantomnya Haruto. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang.

"Jadi…mitos-mitos yang mengatakan naga adalah makhluk terkuat terkurung disini." Kataku sedikit mengejek Dragon.

"BERANINYA KAU YANG MENGURUNGKU SEPERTI HEWAN PELIHARAAN."

"Kalau begitu aku ada tawaran yang menguntunkan kita berdua."

"AKU TIDAK TERTARIK. AKU YAKIN DI LUAR SANA AKAN MEMBERIKANMU KEPUTUSASAAN DAN MEMBEBASKAKU."

"Kau ini aku belum selesai bicara dan kau langsung menolak. Tawaranku ini adalah membuat kontrak denganmu, dengan begitu kau bisa keluar dan aku dapat menggunakan sihir plus aku dapat menjaga agar kau tidak lepas kendali."

WizarDragon melihatku dengan tatapan terkejut namun beberapa saat dia mulai tertawa

"HAHAHAHA, KAU TAHU APA YANG KAU LAKUKAN MANUSIA! JIKA BEGITU MAKA AKU DENGAN MUDAH DAPAT MEMBUATMU PUTUS ASA."

"Justru Sebaliknya Dragon. Dirimu memberiku harapan." Kataku sambil menunjukkan cincin Flame Style di jariku.

Sekali lagi WizarDragon kembali terkejut

"Kau menyebutku harapanmu?" Tanya WizarDragon dan aku membalasnya dengan senyuman.

"Hahaha, Sungguh menarik kita lihat sampai kapan kau bertahan. Baiklah tawaranmu aku terima." Kata WizarDragon, kemudian WizarDragon bercahaya sampai aku harus menutupi mataku.

Saat cahaya itu redup di depanku yang tadinya WizarDargon sekarang terdapat gadis cantik berambut merah dan warna matanya yang sama dengan rambutnya. Dia juga mengenakan pakaian seperti seorang ksatria.

Aku berpikir jika di tempat itu tadinya WizarDragon maka…saat aku menyadarinya aku benar-benar terkejut.

"DRAGON KAU ITU PEREMPUAN!?" Teriakku karena sangat terkejut, tapi kemudian dia malah memukul kepalaku.

"TENTU SAJA AKU PEREMPUAN DASAR BAKA."

"Tapi aku pikir Dragonnya Haruto itu laki-laki."

"Setiap Phantom pasti berbeda-beda. Kebetulan saja aku dan Phantom milik Haruto itu sama, tapi karena sama jenisnya belum tentu genderku denganya sama."

"Begitu ya kalau begitu mohon bantuan dari sekarang Elesis."

"Elesis?"

"Aku pikir jika menyebutmu Dragon agak aneh untukku jadi aku memberimu nama atau kau sudah mempunyai nama?"

"Tidak, aku tidak mempunyai nama selain itu nama Elesis entah kenapa sangat cocok untukku."

"Kalau begitu sekali lagi mohon bantuannya Elesis."

Saat tersadar aku masih bermeditasi, tapi seprtinya aku berhasil membujuk Dragon untuk membantuku. Saat aku lihat punggung tangan kananku aku melihat symbol sihir seperti logo Kamen Rider Wizard, symbol yang berbentuk seperti bintang segidelapan dengan gambar naga yang mengelilingi symbol bintang tersebut.

"Sepertinya kau sudah membuat kontrak dengan Phantommu." Terdengar suara yang aku kenal. Saat aku menoleh aku melihat White Wizard menghampiriku.

"Baiklah sekarang aku akan memulai pelatihanmu menggunakan sihir." Lanjutnya.

"Baiklah, aku siap Shisou!" Kataku bersemangat. Akhirnya dimulai juga aku belajar menggunakan sihir dan untuk menghentikan Phantom di dunia ini.

Kotaro POV END

FLASHBACK END

Sejak saat itu Kotaro sudah menguasai 4 elemen dasar yang berasal dari cincinnya, meskipun dia masih belum menguasai Flame Dragon karena White Wizard mengatakan bahwa dia belum siap untuk menggunakannya.

Hubungan Elesis dan Kotaro pun menjadi lebih baik, bahkan terkadang Elesis memberi saran cara bertarung yang lebih baik bahkan Elesis mempunyai perasaan pada Kotaro walaupun Kotaro tidak mengetahuinya.

Saat di hutan Kotaro dan Kamito mendengar suara gemercik air, karena penasaran mereka mencari sumber suara itu. Saat mereka menemukan sumber suara tersebut mereka berdua terkejut. Seorang gadis berada di depan mata meraka sedang telanjang.

Gadis yang sangat cantik, bahkan luar biasa cantik. Matanya besar dan merah seperti permata, bibirnya yang bersemu merah seperti cherry yang basah dan lembut, kulitnya yang putih mulus bagaikan susu, dan di permukaan air, kakinya begitu langsing dan mulus. Juga, sesuatu yang lebih menangkap mata Kotaro dan Kamito adalah—

Rambut yang tergerai sepanjang tubuhnya. Berwarna merah layaknya bara api.

Tentu saja, dia telanjang. Betul betul telanjang.

"..."

Kotaro dan Kamito merasakan keringat dingin di punggung mereka atau dalam kasus Kotaro dia merasa dalam bahaya yang tidak dapat dijelaskan. Sementara dalam Underworld Kotaro Elesis menatap tajam Kotaro dan itu yang membuatnya merasa dalam bahaya.

'Ini gawat kenapa nasib burukku selalu seperti ini.' Pikir Kotaro dan dia berusaha kabur dari pemandangan yang akan membuatnya tersiksa.

'Ini gawat kalau dia sampai terlihat dalam kondisi telanjang...Aku harusnya segera kabur bersama Kotaro.' Pikir Kamito yang juga berusaha kabur.

Tapi, meski mereka memberikan saran rasional pada diri mereka sendiri, tubuh mereka tidak mau digerakkan. Sebetulnya mereka masih terpesona. Pemandangan itu nampak begitu nyata hingga seolah Kotaro dan Kamito tenggelam dalam dunia fantasi merka sendiri.

Dan di saat itulah, gadis itu. Matanya yang lembut dan indah itu berkedip, mendapati penyusup yang tak terduga. Menatap dengan kosong, tampaknya ia belum betul betul memahami situasinya. Ia bahkan tak mencoba menutupi payudaranya yang masih belum berkembang.

Air jatuh dari alis gadis itu. Kesadaran Kotaro dan Kamito kembali seiring dengan suara air.

"Ah— ini..." Kotaro mencoba menjelaskan, tapi karena situasinya agak canggung dia pun jadi gugup untuk menjelaskannya.

Sementara Kamito batuk sekali, dan membuang tatapannya dari gadis yang masih berdiri tak bergerak itu.

"Gimana bilangnya ya... ini hanya kecelakaan, kan? Kami kan tidak sengaja..."

Di saat itulah, Kamito membuat dua kesalahan fatal. Pertama, tentu saja, karena dia mencoba membuat penjelasan yang sia-sia. Pilihan terbaik adalah memanfaatkan waktu ketika gadis itu masih kebingungan dan secepatnya melarikan diri dari masalah di tempat itu.

Dan kesalahan fatal keduanya adalah

"Walaupun ini hanya kecelakaan, kami sudah melihatmu dalam situasi seperti ini. Maaf, kami minta maaf."

Sampai disini masih tak apa apa, namun bagian terakhirnya

"Tapi jangan khawatir. Kami masih pria normal, jadi kami tidak terlalu tertarik dengan hal yang seperti itu. Kami..."

'Melihat payudara gadis yang masih dalam perkembangan itu' Itu yang ingin dikatakan Kamito namun

"Kami tidak tertarik dengan tubuh anak kecil." Tampaknya Kamito baru saja menginjak ranjau besar.

"..."

Ketenangan yang bagaikan kebekuan muncul. Kotaro hanya bisa facepalm dengan penjelasan Kamito dan yang lebih parah lagi dia membawanya masuk dalam masalah yang ingin dia hindari.

Dengan tenang, si gadis mengangkat tangannya dengan rambut merahnya masih tersebar. Bahunya agak bergetar. Namun alasannya bukan karena kedinginan, Kamito belum menyadari itu. Namun Kotaro menyadarinya dan dugaannya tepat bahwa dia sekarang masuk dalam masalah yang sangat merepotkan.

"Enam belas—"

"Eh?"

Bibir lembut gadis itu menggumamkan sesuatu, dan Kamito hanya bisa mengangkat alisnya.

"A-A-AKU SUDAH BERUMUR ENAM BELAS TAHUN!"

Tak lama usai meneriakkan itu, rambut merahnya berdiri tegak sampai ujungnya.

"Haah!?"

Kamito membuka matanya lebar-lebar karena kaget.

"Enam belas? Yang benar? Terus kenapa dadamu tampak begitu menyedihkan—"

Kamito dengan cepat menutup mulutnya dan Kotaro sekali lagi facepalm, namun tampaknya sudah terlambat.

"Bagus sekali Kamito, kau sudah menginjak ranjau yang sangat besar." Kata Kotaro

"...Tak bisa dimaafkan." Gadis itu mengucapkannya dengan nada rendah dan sangat dingin.

"Be-Benar-benar tak bisa dimaafkan... Kalian-kalian-kalian-kalian setan pengintip... mesum... dan hewan menjijikkan!"

"Kau tahu juga, kata-kata seperti hewan buas." Kamito mengucapkan itu dengan nada sempit dan rendah.

"Kamito bisakah kau tidak mengatakan hal yang bisa membuatnya marah?" Tanya Kotaro yang sepertinya tidak di tanggapi Kamito

"Hm?"

Disaat itulah mereka menyadari kalau pepohonan hutan membuat suara kebisingan yang aneh.

'Apa itu angin? Bukan, itu pasti…' Kotaro dan Kamito mengetahui apa yang akan gadis itu lakukan.

"Penjaga api merah, pelindung dari bara api abadi!"

"Sekaranglah saat untuk memenuhi kontrak darah, datang dan lakukanlah perintahku!"

Dari bibir mungil gadis itu meluncur lafal mantra dari bahasa spirit. Disaat itulah, disertai oleh suara ledakan udara, sebuah cambuk api merah yang membara muncul dari tangan si gadis itu.

'Kontraktor Roh!' Kotaro dan Kamito berteriak dalam kepala mereka.

Kontraktor Roh— lapisan lain dari dunia ini, Astral Zero.

Penyihir yang telah menjalin kontrak dengan spirit buas dari tempat itu disebut sebagai Kontraktor Roh.

Kontraktor Roh dapat memakai tipe roh yang berbeda, menggunakan kekuatannya sesuai dengan keinginannya.

Gadis itu adalah Kontraktor Roh. Bukan sesuatu yang mengejutkan.

Apalagi, ini adalah tempat para Kontraktor Roh yang handal dari seluruh negeri berkumpul.

'Namun, tidak kuduga dia bisa menggunakan kekuatan elemental.' Kotaro dan Kamito berpikiran yang sama

Sifat Roh yang dipanggil ke dunia ini dari Astral Zero secara kasar bisa dibagi kedalam dua jenis.

Tipe pertama adalah tanpa massa, Roh tak berbentuk yang muncul dalam wujud aslinya sebagai "Inti Dewa". Ini murni hanya memanggil kekuatan Roh, dan digunakan sebagai penyangga kekuatan sihir untuk sihir Roh.

Ada juga tipe lain, kondisi murni memanggil sebagian eksistensi Roh. Karena kekuatan besar yang diperlukan dan kesulitan mengendalikannya, dikatakan hanya sebagian kecil dari Kontraktor Roh saja yang benar benar bisa melakukannya.

Biarpun begitu, gadis di depan mereka tidak hanya menggunakan kekuatan Roh itu, namun mampu mengendalikannya dalam bentuk Senjata Elemental.

'Apa itu berarti, eh?Berarti sekarang aku berada dalam situasi hidup dan mati?' Usai berpikir seperti itu, Kamito hanya bisa dibuat diam membisu.

"Kamito apa kau sudah sadar kita sedang dalam situasi apa?" Tanya Kotaro yang di balas dengan anggukan dari Kamito. Sekarang dia mengerti apa yang tadi dibicarakan Kotaro.

Di tempat dimana cambuk api itu menyentuh permukaan air, gelombang uap putih menyembul.

"Kalian, kalian berani-beraninya..."

Gadis itu komat-kamit dengan bibir gemetaran. Wajahnya terlihat merah. Entah itu karena kemarahan atau rasa malu.

"Te-Ternyata, kalian punya nyali juga, untuk me-mengintip, ketika aku, Claire Rouge, sedang mandi..."

"Tu-Tunggu! Ini semua salah paham! Biar kami menjelaskannya lebih dulu!" Kata Kotaro sambil menggelengkan kepalanya dalam kepanikan.

Kamito pun mengangguk setuju dengan perkataan Kotaro

"Aku tidak akan mendengarkan alasan kalian. Jadilah abu sekarang, dasar MESUM!"

Cambuk api menyala dengan garang di tangannya dan bergerak-gerak seolah menjilat air.

"Ooohhh...!?"

Kotaro dan Kamito melempar tubuh mereka dan lekas melompat menuju rerumpunan semak yang tebal.

Hampir di saat yang sama, cambuk api nyaris saja menyapu bagian atas kepala mereka.

Residu berwarna merah yang tersisa pada semak, terpotong rapi seperti digergaji. Permukaan potongannya tampak begitu bersih, tanpa jejak gosong. Serangan itu begitu cepatnya hingga api bahkan tak sempat membakar rimbunan semak.

Rambut di jidat Kotaro dna Kamito jatuh di wajah mereka, dimana keringat dingin mengucur dari kening mereka.

'Um, barusan itu bercanda, kan? Aku nggak akan mati seperti itu, kan?' Pikir Kamito

'Hampir saja, jika bukan karena latihan dari Shisou pasti aku sudah mati.' Pikir Kotaro

*Zing* *Biyutsu* – seolah ada tarian tanpa akhir dari tebasan merah vertikal dan horizontal di hutan. Semak-semak lenyap dalam sekejap mata dan kehilangan tempatnya bersembunyi, Kamito dengan cepat berlari keluar dari hutan.

"Jangan lari, mesum! Diamlah supaya aku bisa mengenai kalian berdua!"

"Omong kosong! Lagipula, aku bukan orang mesum!"

"Maaf sepertinya itu sangat mustahil dilakukan! Aku juga bukan orang mesum!"

Kamito dan Kotaro berteriak dan di saat yang sama, cambuk mengayun tepat di depan kaki mereka, menimbulkan kelap-kelip api. Bangkit dari tanah, cambuk itu berayun dengan cepat ke arah pepohonan hutan, yang terpotong tanpa ampun.

Namun berkah di tengah kemalangan, akurasi gadis yang bernama Claire itu masih kurang tepat. Itu karena salah satu tangannya sedang menutup payudara mungilnya supaya tak kelihatan, dan untuk menyembunyikan bagian penting lainnya, ia harus jongkok di tempat itu sejak tadi. Namun, melihat caranya memainkan cambuk meski dalam situasi menyulitkan seperti itu, bisa ditebak kalau dia memang berbakat.

"Meskipun mesum, kalian lincah juga. Heh, diamlah dan akan kujadikan arang!"

"Sudah kubilang aku bukan orang mesum!" Kotaro dan Kamito berteriak secara bersmaan

"Ngomong-ngomong..." Kamito kemudian berhenti dan berbalik.

Dia mengacungkan jarinya ke arah yang sejak tadi membuatnya terus menerus kepikiran.

"Hei, apa kamu yakin sudah menyembunyikannya dengan benar? Di sela-sela jarimu aku masih bisa melihatnya, tahu."

"...eh?"

Dalam sekejap, ekspresi Claire membeku. Dan—

"Kyaaahhhhhh!"

Dengan wajah memerah dan teriakan membara, yang anehnya dengan sangat manis dia lekas-lekas menyembunyikan payudaranya dengan kedua tangannya.

"Ah, bodoh!"

Kamito tanpa sadar berteriak.

Claire melepaskan dan kehilangan kendali dari cambuk apinya, dan menebas pepohonan di belakangnya. Pelan-pelan, pohon-pohon besar itu bergerak jatuh tepat diposisinya.

Namun, Claire tak menyadarinya karena kedua matanya tertutup karena malu sambil tetap memeluk payudaranya dengan kedua tangannya.

'Dasar bodoh! Kenapa diam saja!?' Pikir Kamito. Saat dia akan melakukan sesuatu dia melihat Kotaro menendang tanah.

Berlari dengan seluruh kekuatannya ke arah kolam, dia lalu melompat sambil menangkap bahu Claire.

"Haa—!?"

Pupil mata Claire melebar seketika. Kotaro mengabaikannya dan dengan paksa mendorongnya ke dalam air. Saat tangan Claire menyentuh air, uap putih muncul, dan cambuk apinya lenyap. Tak lama kemudian, pohon-pohon besar itu jatuh tidak jauh dari mereka, dan beberapa ranting jatuh tepat pada mereka.

*Duunnnnnn!*

Suara gemuruh yang hampir merobek gendang telinga, dan memunculkan riak air raksasa.

Menyerap panas dari cambuk yang terbakar, air kolam menyembul membentuk awan putih.

Beberapa detik kemudian.

"Uh..."

Dengan suara imut nan menggoda, Claire perlahan membuka matanya.

Ekspresinya shock dan matanya berkedip karena kebingungan.

Kotaro terbaring di atas Claire dan menemukan dirinya tengah menatap tubuh Claire.

Wajah mereka begitu dekat hingga kalau seseorang mendorong tubuhnya, bibir mereka akan saling bertemu.

Rambut merahnya tergerai di wajah Kotaro. Bibirnya tampak lembut kemerahan.

Wajahnya yang imut nan lembut bagaikan sebuah boneka terpampang di depan mata Kotaro.

"Um...kau baik-baik saja?"

Claire mengangguk, sepertinya dia belum memahami situasinya.

Kotaro berdesah kecil dan mencoba berdiri dari tempatnya.

*Funyuuu*

Tangannya di bawah air terasa menyentuh sesuatu yang lembut.

"Hwaaahhh!?"

'Apa ini? Lumpur?'

*Funyu* *Munyu*

"Hnn... yah... hwaaa...!"

Dari bibir mungilnya terdengar suara rintihan yang menggoda. Claire hanya bisa menggoyangkan tubuhnya secara perlahan seolah tak berdaya.

"Um... jangan-jangan ini..."

Sudah berbuat sejauh ini, Kotaro akhirnya bisa membuat sebuah kesimpulan. Kesimpulan yang pastinya akan sangat buruk.

'Tidak, tunggu, tenang dulu. Mungkin saja aku salah...'

Sambil terus meneteskan keringat dingin, dia berusaha keras menolak kemungkinan seperti itu. Sementara di Underworldnya Elesis menggeram kesal tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa saat ini.

"Um...kau tahu ini tidak di sengaja."

"A-A-Apa yang kau... lakukan..."

Bibir Claire bergetar hebat. Wajahnya memerah dengan air bening di pelupuk matanya.

Sudah pasti... tangan Kotaro tidak sedang memegang lumpur.

"Dasar, MESUM!"

"Gwah!"

Karena perutnya ditendang dengan keras oleh lutut Claire, Kotaro jatuh ke dalam kolam.

*Gugugugugugugu...!*

Dengan aura membara di belakangnya, Claire perlahan berdiri. Sebelum Kotaro menyadarinya, cambuk api kembali terwujud di tangannya. Air di kolam mendadak tampak mendidih, gelembung air mulai muncul disana-sini.

"Tunggu tunggu! Ini hanya salah paham! Kau serius mau membunuhku!?"

"Di-Diam, mesum! Kau akan mati disini!"

Bersamaan dengan suara keras yang memekakkan telinga, tubuh Kotaro terlempar tinggi ke udara.


"...Un,"

Beberapa menit kemudian, Kotaro berusaha mengumpulkan kesadarannya. Di hadapan matanya, nampak beberapa pohon yang tumbang.

Ia mencoba untuk bangkit

Mendadak, dia menyadari ada sabuk hitam yang membelit lehernya.

Sabuk kulit hitam yang umumnya dipakaikan pada kucing peliharaan,

'Benda macam apa ini..' Kotaro mencoba untuk melepaskannya.

"Percuma jika kau ingin melepasnya?" Terdengar suara yang familiar, Kotaro melihat Kamito di posisi yang sama dengannya.

"Kapan kau tertangkap?"

"Saat gadis itu melemparmu ke udara."

"Akhirnya bangun juga, heh, pria mesum pengintip..."

Sabuk di lehernya ternyata tak bisa dilepas.

"Gweh? Benda apaan nih...?"

Kotaro dan Kamito tersedak lalu melihat ke hadapannya.

Gadis berambut merah – Berdiri dengan kedua tangan di pinggangnya. Dengan kedua alis terangkat, tatapan tajamnya jatuh ke arah Kamito yang masih bengong.

Kali ini dia tidak telanjang lagi. Gadis itu sudah mengenakan seragam yang elegan. Dengan pola garis hitam dan garis putih bersilangan, seragam Spirit Areishia Academy.

Dasi pita dekorasi berada di kerah lehernya. Bukannya kancing, talisman dijahit di bajunya. Diantara jarak kaos kaki stoking selutut dan rok mininya, kakinya yang panjang dan langsing tampak begitu anggun. Pita mungil mengikat rambut merahnya di kedua sisi. Inikah yang disebut gaya twintail? Kalau dilihat dari rambutnya yang masih basah, sepertinya Kotaro belum lama kehilangan kesadarannya.

Memegang tali sabuk leher Kotaro dan Kamito dengan erat, Claire membusungkan dada mungilnya.

"Bersyukurlah! Aku masih mengampuni kalian berdua dan batal membunuh kalian!"

"Itu bohong besar. Dari tadi kamu berniat membunuh kami kan?" Kata Kamito dan Kotaro hanya diam saja dia sudah pasrah dengan situasinya.

"Apa kau bilang? Kalau aku serius, kalian sudah jadi batubara sekarang!"

...Dia baru saja mengatakan hal mengerikan dengan nada yang sangat kalem.

Ngomong ngomong, bukannya batubara itu memberi kesan lebih buruk daripada arang?

"Oke oke, kalau kau tidak jadi membunuh kami. lagipula, tadi dia sudah menolongmu kan?" Kata Kamito sambil menunjuk Kotaro.

"Iya, aku ini baik hati, kuberi keringanan buat yang tadi. Kalian ini hanya pria biasa dan mesum, jadi biar aku panggil kalian super mesum."

Kotaro yang mendengar super mesum langsung menjadi depresi dan terus berbisik bahwa dia bukan orang mesum.

"Pada akhirnya kata mesum nggak dihilangkan! Ngomong ngomong, bukannya super mesum itu kata kata penuh penghinaan!?"

"A...Apa? pura pura menolong, padahal kau sebetulnya mau...mau menyentuh dadaku kan?"

Mengingat yang terjadi tadi, wajah Claire yang malu malu nampak semakin merah.

'Hmm?'

Melihat reaksinya, sebuah ide aneh terbersit di benak Kamito.

Sementara Kotaro masih depresi dan tidak memikirkan hal yang dipikirkan Kamito.

'Gadis ini, mungkinkah dia adalah tipe yang itu?'

"Jadi kesimpulannya, kau adalah nona muda yang hobi mencambuk laki-laki?"

Kamito mencoba menggodanya tanpa ampun

"Ap-Ap-Apa? Tidak! Aku tidak punya hobi semacam itu!"

Responnya begitu gugup seperti yang diduga. Claire menggelengkan kepalanya sambil menahan air mata yang terkumpul di pelupuk matanya.

"Berarti kau lebih suka dicambuk?"

"...m! Ap-ap-apa yang kau katakan!?"

Mata Claire nampak panik, dengan uap mengepul dari kepalanya. Sepertinya dia betul-betul malu.

'Oh, sudah kuduga...'

Kamito tersenyum pahit dalam hatinya.

'Gadis ini ternyata masih sangat sangat polos'

Mungkin, gadis ini tak terlalu istimewa. Bagaimanapun juga disini adalah Areishia Academy, dimana para gadis penyihir yang telah membuat kontrak dengan Roh berkumpul.

Hanya gadis perawan saja yang mampu berkomunikasi dengan Roh dari Astral Zero. Diantara mereka, yang memiliki kekuatan sihir besar sehingga dapat berkomunikasi dengan Roh kontrak, adalah gadis bangsawan dari keluarga raja atau kaisar kuno dan keturunan ningrat, dimana darah kontraktor Rohnya dipertahankan sepanjang generasi melalui tali pernikahan.

Untuk menjaga kemurnian hati dan tubuh mereka, gadis gadis ini dibesarkan dalam lingkungan yang betul betul terpisah dari kaum laki-laki sejak masa kecilnya; yang disebut pendidikan elit bagi Kontraktor Roh. Sehingga, semua gadis di Academy ini adalah tuan putri sejati yang tak mengetahui apa apa tentang laki-laki.

Menemukan titik lemahnya yang tak terduga, Kamito ingin sedikit bermain main dengannya.

Masih pada posisi berlutut,Kamito melihat wajah memerah Claire.

"Ah, ada satu hal lagi yang ingin kukatakan sejak tadi."

"A-Apa itu, cowok mesum!?"

"Celana dalammu bisa kelihatan dari sini."

"Fuwah!"

Air mata mengucur di pipinya, Claire lalu mati matian menekan ujung bawah roknya menggunakan kedua tangannya.

"Kamu...kamu melihatnya?"

"Cuma sedikit, warnanya juga bagus kok, sama dengan warna rambutmu."

"Kamu...kamu bohong! Warnanya bukan merah, tapi putih!"

"Oh, rupanya putih ya?"

"...ha?"

Sadar kalau dia baru saja ditipu, Claire mengigit bibirnya

"U-Uuuuuuuhhh..."

Entah mengapa, dia justru mulai menangis.

Karena reaksi tak terduga ini, Kamito tampak panik.

'Cewek ini betul betul lugu sampai memberi tahu warna celana dalamnya.' Dia bermaksud lebih menggodanya dengan kata kata yang telah ia siapkan sebelumnya, namun melihat situasi sekarang, ia justru merasa kasihan padanya.

Mengambil kesempatan saat Claire masih berlinang air mata, Kamito melepaskan cambuk yang terpaut di lehernya.

"Oke, oke, leluconku berlebihan. Maaf..."

"Kau seharusnya tidak membuat seorang gadis menangis karena leluconmu itu Kamito." Kata Kotaro yang sudah tidak depresi lagi dan sudah melepaskan cambuk yang terpaut dilehernya.

Setelah mendengar perkataan Kotaro kemudian Kamito berdiri dan menempatkan tangannya di kepala Claire. Claire berhenti menangis dan tampak kebingungan.

"Nggak sengaja kalau aku melihat badanmu waktu lagi mandi, dan aku sudah...menyentuh dadamu juga. Tapi itu semua nggak sengaja. Jadi percayalah padaku..."

"A...Apa?"

Melihat kejujuran di mata Kamito, Claire hanya menampakkan tatapan tajamnya.

"...Apa, apa ini? Kalau kamu bukan orang mesum, terus kenapa kamu ada disini?"

Pertanyaan yang wajar. Hutan ini adalah properti Areishia Academy, dikenal sebagai "Hutan Roh". Tak ada alasan bagi laki laki untuk berada di Academy dimana hanya gadis gadis saja yang ada.

Biarpun Kotaro dan Kamito bukan orang mesum, tetap saja kehadirannya akan mengundang kecurigaan.

"Oh, aku dipanggil kesini oleh Greyworth."

"Aku juga dipanggil kesini oleh Greyworth."

"Greyworth...maksud kalian direktur Academy?"

Claire bertanya dengan curiga. Sudah jelas kalau dia merasa ragu.

"Kalian bohong!"

"Tidak bohong. Lihat ini surat undangannya."

Kamito mengguncang kantong bajunya dan mengambil surat yang setengah gosong dari jasnya Sementara Kotaro mengambil suratnya di tasnya. Surat itu tertera tanda tangan direktur. Juga, terdapat stempel emblem kerajaan yang menyimbolkan Lima Raja Terkuat Dunia.

"Apa itu...segel pusaka kekaisaran peringkat pertama?"

Claire mengeluarkan kekecewaan dari mulutnya. Emblem peringkat pertama hanya diperuntukkan bagi mereka yang bisa menyegel Roh kelas satu dengan kemampuan khusus. Levelnya tertinggi diantara emblem yang biasa dikeluarkan oleh kekaisaran, dan dikatakan hampir mustahil untuk bisa mendapatkannya. Tentu saja, itu adalah sesuatu yang jarang terlihat, namun sebagai Kontraktor Roh, Claire bisa memastikan keasliannya.

"...Ini memang asli. Lalu, kenapa direktur Academy memanggil laki laki ke tempat ini?"

"Tanya saja sendiri pada Greyworth. Tua bangka itu memang sering membuatku kerepotan." Kata Kamito

"Aku juga di buat repot olehnya." Kata Kotaro

"Tu...Tua bangka!?"

Dalam sekejap wajah Claire menjadi kaku.

Sang Penyihir senja, Greyworth sangat dihormati oleh penyihir yang ingin menjadi Ksatria Roh. Dikatakan kalau popularitasnya di kerajaan Orudesia sebanding dengan Penari Pedang Terkuat Ren Ashbell. Meski sudah satu dekade sejak dia pensiun dari pasukan 12 General,kekuatan paling elit dalam kerajaan yang dikenal sebagai Number, nama legendarisnya masih sangat ditakuti dan dihormati oleh siapapun yang mendengarnya.

'Bagiku, dia bukanlah apa apa selain biang masalah...' pikir Kamito

Menaruh surat kembali ke sakunya,Kotaro dan Kamito mengangkat bahunya.

"Greyworth itu kenalan lamaku. Aku datang jauh jauh kesini, tapi karena wilayah Academy begitu luasnya, aku tersesat di tengah jalan dan disitulah aku bertemu dengan Kotaro lalu karena kami laki-laki yang dipanggil ke Academy perempuan aku jadi berteman dengannya."

Tanah Areishia Academy sangatlah luas. Apalagi, selain kota Academy di kaki bukit, juga termasuk hutan Roh yang mengelilinginya.

"Jangan jangan, kalian dibuat tersesat oleh Roh yang berkeliaran di hutan? Kasihan sekali."

"Yah, anggap saja seperti itu."

Claire tampak kaget, walaupun Kotaro dan Kamito hanya menghembuskan nafas panjang.

Tersebar di beberapa wilayah sepanjang benua, Hutan Roh terhubung langsung dengan Astral Zero melalui GATE, dan dihuni oleh kumpulan Roh yang terdampar di dunia ini. Kebanyakan Roh tak suka membuat kontak dengan manusia sehingga mereka tak berbahaya. Tapi ada juga Roh yang nakal, dan suka membingungkan orang hingga kesasar dalam hutan. Karena Kotaro dan Kamito dipandu oleh bisikan Roh dan berjalan semakin dalam dan semakin dalam kedalam hutan, mereka kehilangan arah menuju ke Areishia Academy.

"Pokoknya, aku bersyukur bertemu orang lain di tengah jalan. Jadi korban hutan sama sekali nggak lucu. Dari arah sini, jalan mana yang harus kami lalui agar sampai di Academy?"

"Arah mana...buat informasi, kukatakan saja, perlu sekitar dua jam untuk sampai ke Academy dengan berjalan kaki."

"Apa? Jauh sekali!"

"Menggunakan motor pun sepertinya mustahil di hutan ini." Kata Kotaro

Kalau mereka harus berjalan sejauh itu lagi, kemungkinan besar mereka akan diganggu oleh Roh lagi. Karena ada salah satu siswa Academy disini, seharusnya lokasi Academy sudah tidak jauh lagi.

'Hmm? terus kenapa cewek ini harus mandi di tempat seperti ini?'

Pertanyaan tak perlu mendadak terbersit. Hari ini memang agak panas, karena matahari begitu garang di langit. Ketimbang harus jauh jauh mandi di tengah hutan, bukannya di Academy ada tempat mandinya? Tapi karena hanya ada wanita di sekolah ini, tak ada yang perlu dibuat malu.

Ditanya, Claire merapikan rambut basahnya dengan kedua tangannya seraya berujar,

"Aku kesini untuk ritual pemurnian Kontrak Roh. Karena letaknya di sebelah kuil, kualitas air disini adalah yang terbaik. Apa kalian paham kalau Roh menyukai wanita yang memiliki hati dan tubuh yang bersih?"

"Kontrak Roh?"

Usai mendengar pernyataan itu, rasa sakit muncul dari punggung tangan kiri Kamito yang tertutup sarung tangan kulit. Kamito meringis karena sedikit rasa sakit yang muncul darinya.

"Sedikit lebih jauh dari sini, ada pedang suci kuno di kuil bersejarah. Ada rumor kalau "Roh tersegel" kuat bersemayam di dalamnya. Sejak pendirian Academy, belum seorangpun yang bisa menjinakkannya. Aku merasa kalau Roh itu pasti sangatlah kuat."

Roh tersegel – bukanlah Roh yang berasal dari Astral Zero.

Diantara Roh, ada juga yang disegel kedalam senjata atau artifak oleh Kontraktor Roh zaman dulu. Kebanyakan disegel karena membawa bencana bagi manusia, dan merupakan eksistensi kejam yang disebut sebagai jin atau ifrit dalam kebudayaan kuno.

Tentu saja, mereka tidak mudah bekerjasama dengan manusia. Karena hal itulah, Kontraktor Roh kuno menyegel mereka kedalam senjata atau artifak sehingga tak dapat dipanggil kembali.

"Kamu, jangan bilang kalau kamu mau mencoba menjinakkan Roh tersegel itu."

"Tepat sekali! Lantas apa masalahnya?"

"Jangan, itu berbahaya tahu!"

"Hmm, ternyata kau tidak bodoh juga, biarpun kalian bukan Kontraktor Roh. Aku sadar betul akan bahayanya, tapi aku perlu Roh yang kuat bagaimanapun juga."

Claire bergumam sambil mengigit bibir bawahnya.

Melihat ekspresinya yang sangat serius, Kamito memilih kembali berargumentasi.

"Tapi, bukankah kau sudah membuat kontrak dengan Roh api yang kuat seperti tadi? Bukankah akan lebih baik kalau kau melatihnya baik baik supaya menjadi lebih kuat lagi?"

"Apa yang dikatakan Kamito benar, jika dilatih dengan giat maka kau juga pasti akan merasakan kekuatan yang belum pernah dilihat."

Pada dasarnya, Roh dengan elemen api tidaklah langka. Tapi hanya sedikit Kontraktor Roh yang bisa mengendalikannya dan mewujudkannya sebagai 'senjata elemen' di sepanjang kerajaan. Selain itu, Kontraktor Roh yang menjalin kontrak dengan banyak Roh sangatlah langka sampai nyaris tidak ada. Perselisihan diantara Roh yang dikontrak akan menimbulkan ketidakseimbangan pada diri seseorang. Tanpa cukup bakat, kontrak semacam itu nyaris mustahil.

"Scarlett memang partner yang penting, tapi…"

'Aku harus punya yang lebih kuat' Claire menggelengkan pelan kepalanya.

"Aku punya tujuan. Untuk mencapainya, aku memerlukan Roh yang tangguh!"


Mengejar punggungnya dimana rambut merah kuncir duanya berayun,Kotaro dan Kamito mengikutinya masuk ke hutan. Meski sepatu kulit Claire nampak sulit untuk berjalan, Claire tetaplah Kontraktor Roh berpengalaman, dan langkahnya nampak tegap dan anggun.

"Disini!"

Lalu, tiba tiba kaki mungilnya berhenti melangkah.

Dengan tangannya di pinggang, Claire mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Kotaro dan Kamito.

"Kenapa kalian mengikutiku. Dasar mesum pengintip!"

"Tanpamu, kami tidak tahu jalan ke arah Academy. Sudah kubilang tadi beberapa kali, kamibukan mesum pengintip, namaku Kamito! Kamito Kazehaya!"

"Dan namamu Kotaro! Kotaro Karasuma!"

"Fufu, nama yang aneh. Asal kalian dari Kuina ya?"

Kuina adalah kerajaan kecil di sebelah timur benua. Dikatakan kalau bahasa, budaya, dan hubungan penduduknya dengan Roh sangat berbeda dengan Orudeshia.

"Bukan, bukan dari Kuina. Aku lahir di kepulauan jauh di timur, di desa terpencil!"

Kamito sengaja mengaburkan pernyataannya. Memang, dia lahir di negara kepulauan di timur, tapi sebagian besar masa kecilnya tak dihabiskan di tempat itu.

"Aku lahir di tempat yang kalian tidak ketahui bahkan aku ragu orang-orang didunia ini mampu mencari tempat lahirku."

Kotaro sengaja memberitahu sedikit informasi, soalnya jika dia jawab dari jepang pasti akan di pertanyakan dan itu sangat merepotkan. Belum lagi memang benar bahwa dia bukan berasal dari dunia ini.

"Namamu justru yang terdengar tidak biasa, Claire Rogue."

"Jangan seenaknya memanggil namaku! Dan itu bukan nama yang aneh, tahu!"

"Menurutku itu nama yang bagus?" Kata Kotaro

"Ap-Apa yang kamu katakan!? Bo-bodoh!"

Wajah Claire memerah dan dia kembali melanjutkan langkah kakinya, entah kenapa jalannya lebih cepat dari sebelumnya.

Claire Rogue – jelas jelas hanya nama samaran.

Kebanyakan siswa yang bersekolah di Areishia Academy memang nona muda dari keluarga ningrat yang sudah terlatih sebagai Kontraktor Roh sejak belia. Namun Kamito belum pernah mendengar nama keluarga Rouge. Menyembunyikan nama aslinya, pasti ia punya alasan dibalik itu, tapi Kamito tak punya niat untuk mengungkit ungkitnya.

'Semua orang pasti punya rahasia yang harus disembunyikan'

Kamito menatap tangan kirinya yang terbungkus oleh sarung tangan kulit.

'Bahkan aku sendiri juga punya'

Claire terus berjalan tanpa henti, Kotaro dan Kamito berusaha keras mengejarnya dimana rambut kuncir duanya berayun. Sekarang, kehilangan Claire akan membuatnya semakin kesusahan didalam hutan. Kamito paham betul bahayanya bermalam di dalam hutan Roh.

"Apa pakaian itu seragam Academy."

"Iya."

Claire mengangguk dengan dingin sambil terus berjalan.

Seragam Academy Roh Areishia sangat elegan dan juga bertindak sebagai baju pelindung, yang telah menjalani berkah dari Spirit, dan memiliki efek meningkatkan atribut suci. Juga berfungsi sebagai baju upacara khusus ketika menjalin kontrak dengan Roh.

"Apa, kau mau bilang kalau baju ini tidak cocok denganku?"

"Tidak, kelihatan bagus. Jujur saja, baju itu membuatmu tampak manis. Iya kan Kotaro?"

"Iya, kau sangat cocok mengenakan seragam itu."

Kamito dan Kotaro mengangkat bahu mereka dan menjawab dengan jujur. Bulu yang bagus membuat burung nampak bagus, Kamito berniat menggodanya lagi dengan kata kata manis, namun baju itu sangat cocok dengannya hingga dia hanya bisa memujinya.

"Ap-Apa yang kalian katakan!? Apa kalian ini idiot!?"

(Kaatsu) Wajah Claire semakin memerah, sambil (Pyun-Pyun) mengayunkan cambuknya.

"Uwaahh, tenang dulu!"

"Bukankah itu karena kalian terus mengatakan hal yang aneh aneh?"

'Kami mengatakan hal aneh? Kami hanya berkata jujur dasar merepotkan kami paham kami paham, tolong hentikan mengayunkan cambukmu untuk setiap hal hal kecil!'

'Kami butuh dia sebagai pemandu, tapi dasar tuan putri merepotkan'

Menghindari cambuk yang diayunkan dengan jarak setipis kertas, Kamito dan Kotaro mengeluh dalam hati.

Kuil tempat pedang suci bersemayam berdiri dengan tenang di tengah hutan yang cerah.

Claire dengan mudah melepas tanda peringatan, lalu melangkah masuk,dan menatap Kotaro dan Kamito.

"Dari sini selanjutnya sangat berbahaya. Jadi,orang biasa seperti kalian sebaiknya pergi menjauh."

"Kalau kau tahu itu berbahaya, kenapa masih dilanjutkan?"

"Aku tadi sudah mengatakannya. Aku butuh Roh yang sangat kuat!"

Claire menggeleng pelan kepalanya dan terus masuk kedalam kuil.

Mengabaikan peringatannya, Kotaro dan Kamito mengikutinya masuk. Sudah datang sejauh ini, mereka memang perlu pemandu, tapi mereka lebih khawatir pada keselamatan gadis keras kepala ini.

Bagaimanapun, "Roh tersegel" sangat kuat dan biasanya sifatnya liar. Mereka lebih suka mengacau dan menghancurkan, belum lagi mereka bisa membunuh Kontraktor Roh yang mempekerjakan mereka.

Mereka bukan sesuatu yang bisa ditangani oleh manusia - Karena itulah mereka disegel.

Usia masih enam belas tahun, dengan bakat alami mengendalikan Roh, Claire mungkin bisa disebut jenius. Namun,jika secara kebetulan ia melepaskan Roh tersegel itu dan gagal mengendalikannya, apa yang akan terjadi?

Meski dia hanya gadis yang kebetulan mereka temui, Kotaro dan Kamito tetap tidak bisa mengabaikannya begitu saja.

"Kenapa masih mengikutiku? Aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi pada kalian berdua!"

"Bukankah kau cukup percaya diri untuk menjinakkannya?"

"Te-Tentu saja."

"Kalau begitu tidak masalah kami ikut denganmu."

Kamito dan Kotaro mengangkat bahunya dan Claire melengos darinya.

"Lakukan sesuka kalian."

Didalam kuil terasa atmosfer yang gelap dan menyeramkan. Claire sedikit mengernyit karena aroma lumut yang tercium di udara.

"Api, berilah aku cahaya."

Bola api kecil mendadak muncul dari ujung jari Claire, penggunaan dasar mantra Roh dalam bentuk api kecil. Cahaya kelip kelip dari bola api sedikit menyinari bagian dalam kuil yang terlihat seperti gua penuh stalaktit.

Pedang itu terletak di bagian terdalam dari kuil.

"Itu...pedang tempat Roh tersegel bersemayam?"

Kamito berujar, dimana Claire mengangguk pelan.

Pedang telanjang ditusukkan berdiri di sebuah batu. Meski tanpa ragu usianya sudah ratusan tahun, tak ada secuilpun karat di ujung atau gagangnya. Tulisan kuno nampak tertera di sisi pedangnya, memancarkan cahaya biru kelam.

"Sudah ada disini sebelum Academy ini berdiri, Pedang Suci Severian"

"Pedang Suci Severian? Yang digunakan menebas Raja Iblis Solomon itu?"

Raja Iblis Solomon - memimpin tujuh puluh Roh tangguh, membawa kekacauan dan kehancuran sepanjang benua, dan merupakan satu-satunya Kontraktor Roh laki-laki sepanjang sejarah.

Dikatakan kalau yang menebas sampai mati raja itu adalah Pedang Suci Severian.

"Bodoh, tidak mungkin itu pedang yang asli!"

Ujar Claire seolah dia kebingungan.

"Pedang Suci Severian yang ditusukkan di batu bisa ditemukan di banyak tempat sepanjang benua ini. Beberapa desa terpencil bahkan memilikinya sebagai jimat perlindungan. Pokoknya,biarpun ini bukan yang asli,karena ini adalah pedang suci, pasti ada Roh kuat yang tersegel di dalamnya.

"...Memang, yang asli tidak mungkin ada di tempat semacam ini..."

Claire berjalan ke arah pedang dengan penuh keyakinan.

"Hey..."

"Kalian mundur saja."

Membentak Kotaro yang berjalan mendekatinya, Claire memegang ujung gagang pedang.

"Jangan bebani dirimu."

"...Aku paham!"

Kotaro dan Kamito memutuskan mengawasi Claire dari sudut dimana cahaya pedang hanya sedikit bersinar. Roh yang tersegel mungkin terpicu oleh kehadiran orang lain. Ketenangan yang berat mengisi ruang di sekelilingnya.

"Mari lakukan ini, Claire Rogue."

Bernafas dalam dalam, Claire berkomat kamit. Suaranya terdengar gemetaran, tampaknya ia memang merasa sangat gugup.

Oh Roh Suci yang tersegel dalam Pedang Kuno Suci

Engkau akan menerimaku sebagai Majikanmu, dan aku akan menjadi penjagamu!

Dari bibir mungilnya meluncur mantra dengan fasih untuk ritual kontrak dalam bahasa Roh. Rambut merahnya berdiri hingga ujungnya. Angin kencang mulai berhembus dalam kuil.

Menahan nafasnya, Kotaro dan Kamito mengawasinya dengan seksama. Jika kontrak telah terkabul dan Roh mengakui Claire sebagai majikannya, Segel Roh akan tertempa di bagian tertentu tubuhnya. Sumpah Kontrak hampir selesai. Di saat inilah, gelombang angin liar mulai menggebu gebu dalam kuil.

"...eh?"

Namun Claire masih tak bergeming. Ia dengan tenang melafalkan sumpah kontraknya.

-Dan, cahaya menyilaukan terpancar dari Pedang Suci Severian di tangannya.

'Tak bisa kupercaya...Dia berhasil membuat kontrak dengan Roh Tersegel!?'

'Jika Phantom yang membuat kontrak roh tersebut pasti akan terjadi bencana.'

Agar tak disapu oleh angin, Kamito dan Kotaro yang terkejut menaikkan volume suaranya.

Dari Pedang Suci yang tertusuk pada batu muncul energi supernatural yang sangat kuat. Kalau hanya Kontraktor Roh biasa, dia pasti sudah pingsan sejak tadi.

Tiga kali Aku memerintahkan Engkau, bertukar sumpahlah denganku!

Dan, sumpah Claire menggema dalam kuil - dalam sekejap itulah.

Clink!

"Tercabut! Tercabut! Aku berhasil mencabutnya keluar!"

"...Apa? masa sih!?"

Pedang yang berkilau cemerlang itu tercabut dari batu, Claire nampak bersorak sorak kegirangan. Pada detik selanjutnya-

Tulisan kuno yang tertempa di sisi pedang itu tiba tiba bersinar dengan gila gilaan.

"...ha?"

Claire tanpa sengaja melepaskan pedang itu dari tangannya-

Pedang suci itu menusuk ke ke tanah. Dalam sekejap ia lenyap berkeping keping.

"Kyaaahhh!"

Bayangan kecil terbang, dan Claire jatuh ke tanah.

"Hey, kau tidak apa apa?"

Kotaro dan Kamito dengan cepat berlari ke arah Claire.

"Ap-Apa? Apa yang sebenarnya ter..."

Claire memegang dahinya dan berdiri, lalu menatap sekitarnya dengan gusar.

"Roh tersegelku...mana?"

"Tidak, aku...merasakan sesuatu yang lebih mengerikan."

Keringat mengalir deras di leher Kamito. Dengan ekspresi wajah seram, ia melihat ke atap kuil. Di tempat itu, berayun sambil mengambang di udara adalah pedang itu.

Bukan pedang suci yang terpecah tadi, namun pedang baja utuh yang terlihat sangat tajam.

"Apa itu...Roh yang tersegel dalam pedang suci?"

"Jadi itu kelas Roh Pedang. Kelihatannya dia sedang marah."

"Kenapa kalian bisa tahu? Kalian bahkan bukan Kontraktor Roh!"

"Mudah ditebak. Dilihat bagaimanapun juga, tadi tidak kelihatan seperti seseorang yang membuat sumpah dengan bersungguh sungguh."

"...ummm, memang begitu..."

Claire anehnya justru mengangguk.

Pedang yang mengambang mengarahkan ujungnya ke bawah, tiba-tiba menjadi tak bergerak.

Lalu-

"Menunduk!"

Kotaro dalam sekejap, menekan Claire ke tanah dan Kamito menunduk. Suara berdengung seperti serangga menyapu pendengaran, dalam sekejap dia sudah menghilang.

"Tu-Tu-Tunggu! Kamu pegang pegang apa!? Kuubah kamu jadi batubara nanti!"

Dengan wajah merah membara, Claire memukul mukul dada Kotaro dengan keras.

"Bodoh! Berhenti meronta!"

Kotaro lekas memindahkan tubuhnya, dan melihat ke arah Spirit pedang itu bergerak di udara.

Pecahan batu berjatuhan dengan suara bising. Langit langit kuil terpotong dengan sangat bersih.

"Tak mudah untuk mengendalikan Roh selevel itu-"

Kamito mengarahkan tatapan tajamnya ke arah Claire.

"...Tapi Roh itu benar benar sudah lepas kendali."

"Di-Diam! Pro-proses penjinakkan baru akan dimulai!"

"KAU INI..."

Kamito merasa jengkel, namun ini bukan waktu untuk bertengkar dengannya.

Roh Pedang mengeluarkan suara gemuruh seraya bergerak mendekati mereka. Didalam kuil, mereka tak bisa bergerak dengan bebas, bahkan jarak pandang mereka sangat terbatas.

Kotaro memegang tangan Claire dan berdiri. Menyentuh kulitnya yang lembut (Doki), ekspresi Kotaro masih tidak berubah, meski detak jantung Claire jadi tak menentu.

"Hwahhh!"

"Berhentilah membuat suara imut karena hal sepele! Ayo kita kabur!"

"Ap..Ap..Apa? imut? Aku? Apa yang kau, Kyaaaaa!"

"Ayo kabur keluar!"

Menarik tangan Claire, sambil berlari ke arah pintu keluar kuil yang ditimpa cahaya matahari.

Roh Pedang tak segera mengejar mereka. Mungkin saat ini masih belum betul betul bangkit. Dalam kesempatan ini mungkin mereka masih bisa melarikan diri.

Saat mereka sampai diluar kuil, kilatan pedang menyapu pandangan Kotaro dan Kamito. Sikut Kamito jatuh selagi menari di udara. Roh Pedang mengeluarkan auman mengerikan, tanpa ampun menyapu hutan yang tenang menjadi sangat ribut.

"Sial! Spirit itu betul betul liar, mengingatkanku pada seorang nona muda!"

"Se-Selalu saja, kalian ini berisik!"

Merasa sedikit kacau, Claire batuk batuk kemudian berdiri.

Sepasang matanya yang merah nampak membara penuh akan keyakinan,entah kenapa ia mengucap beberapa kata provokatif. Menggulung ujung roknya, dia lalu mengambil cambuk kulit yang terselip di pahanya, mengayunkannya keras keras ke tanah. Kotaro dan Kamito sedikit terpesona usai menyaksikan kalau celana dalamnya memang berwarna putih, namun Kamito lekas berujar,

"Kau gila apa!? Lawanmu adalah Roh tersegel level tinggi!"

"Ini sih mudah. Amatiran seperti kalian sebaiknya mundur saja!"

"Darimana datangnya rasa percaya diri itu!? Saat ini lebih baik kabur saja!"

Claire melepaskan tangan Kotaro yang memegang bahunya.

"Tidak, kalian saja yang kabur! Pokoknya akan kujadikan Roh ini milikku!"

"Kau, untuk alasan apa kau begitu menginginkan Roh tersegel itu!?"

"...Kalian tidak akan mengerti."

Di saat yang sama Claire mengalihkan tatapannya.

"Aku perlu...kekuatan. Aku perlu Roh tangguh yang tak akan kalah oleh Roh manapun juga!"

Penjaga dari Api Merah Membara, Pelindung dari Tungku Api Abadi!

Inilah waktunya untuk menciptakan kontrak darah, dengarkanlah segala perintahku!

Claire melafalkan mantra pemanggilan dari "Roh Api"nya. Api merah membara muncul dan tubuhnya dikelilingi oleh hawa panas kuat.

"Mulai perburuan, Scarlett!"

Bersama dengan kobaran api-Kucing merah membara muncul. Bukannya bulu, namun api merah membara yang menyelimuti tubuh hewan spiritual itu.

'Itukah bentuk asli dari Roh Apinya?'

Memang, dia bukan hanya besar mulut. Mewujudkannya dalam bentuk hewan adalah bukti kalau ia adalah Roh level tinggi. "Scarlett" mungkin hanya nama kesayangannya ,mungkin bukan nama asli dari Roh itu. Tanpa ragu ia adalah Roh level atas yang memiliki nama sejati.

Claire memegang cambuknya, dan kucing neraka itu mengeong dengan suara auman keras, lalu menyerbu ke arah Roh pedang. percikan percikan api menyebar. Atmosfer bergetar oleh auman hewan buas itu. Roh Pedang yang mengambang menyerbu mereka, memotong setiap pohon sepanjang jalannya.

"Scarlett, serang dia!"

Menanggapi teriakan Claire, kucing neraka itu melompat. Tinggi di atas Roh Pedang itu melaju, dan cakar tajam membara menyerbu ke arah pedang. Dengan suara gesekan memekakkan, kilau-kilau api berjatuhan, dan Roh Pedang jatuh ke tanah.

Claire berlari di waktu yang sama. Itu bukan serangan fatal. Roh Pedang bangkit dan terbang tak sampai sedetik kemudian, berputar sambil membentuk busur panah di udara.

Roh Api mengejarnya, mencoba tak melepaskannya dari tangannya. Mengaum dengan keras, ia membuat sabetan yang kuat lagi.

percikan percikan api bermunculan kembali. Claire menyerang keras ke tanah dengan cambuk kulitnya. Perlahan menekan gerakan Roh Pedang. Kelihatannya cambuk kulit itu bukan untuk bertarung, namun lebih untuk mengendalikan Roh Api.

Karena serangan bertubi tubi Scarlett, gerakan Roh Pedang terhenti - di saat inilah.

"Rasakan ini, Bola Api pemusnah!"

Claire melepaskan bola api besar dari telapak tangannya.

Bola Api adalah sihir Roh level tinggi yang menggunakan api ultra panas dan bisa membakar dengan ganas apapun targetnya, tanpa menyisakan bekas. Kekuatan sihir Roh ditentukan oleh kekuatan spiritual Kontraktor Roh itu sendiri dan kekuatan Roh terkontrak secara keseluruhan.

Bola api yang ditembakkan membentuk busur panah di udara, lalu meledak dalam hembusan besar yang bahkan Scarlett ikut terkena. Gelombang kejut ledakan itu menggetarkan pepohonan di sekitarnya dan semak semak mulai terbakar dari pusat ledakan.

'Kekuatan yang dahsyat...'

Melindungi dirinya dari batu yang beterbangan ke arahnya, Kamito mengigit lidahnya dan kaget.

Kekuatan semacam itu sangat tak wajar jika dimiliki oleh seorang gadis yang baru berusia 16 tahun.

Didalam putaran kobaran api sosok si kucing neraka muncul. Secara alami,kucing neraka tak bisa dilukai oleh serangan api karena sifat alaminya yang memang api.

Roh Pedang mengapung tanpa bergerak di udara. Sepertinya ia tak terpengaruh oleh serangan juga. Secara alami, Claire tak berpikir kalau ia akan menjatuhkan Roh level tinggi dengan sihir Roh. Tapi ia setidaknya berhasil merebut perhatiannya.

"Scarlett!"

Teriak Claire. Cakar Roh Api menyerang Roh Pedang lagi. Cakar api membaranya bisa melelehkan besi baja sekalipun. Kalau lawannya hanya Roh biasa, akan langsung hancur lebur. Namun Roh Pedang dengan cepat berbalik, dan serangan terhenti oleh sisi tajam pedang.

Dalam sekejap, suara aneh logam yang saling bergesekan menggema sepanjang atmosfer.

"Ap...Apa?"

Kamito menekan kedua telinganya dengan kedua tangannya.

Menerima dampak suara bertubi tubi, wajah Claire menekuk karena kesakitan dan ia berlutut di tempatnya.

Roh Pedang mengeluarkan suara aneh – dan lalu, berubah. Bentuknya berubah dari pedang panjang biasa menjadi pedang bastard raksasa.

Dalam sekejap.

"Apa?"

Roh Api Claire menerima serangan tak terduga dan gagal menghindari tebasannya. Tubuhnya tertebas menjadi dua, dan lenyap ke udara bersama dengan kobaran api yang menyelimutinya.

Dengan hanya satu tebasan, ia kehilangan kekuatan untuk mempertahankan wujudnya di dunia ini.

'Sial! bukannya jelas kalau lawannya itu terlalu kuat!? Sepertinya Roh itu benar benar sudah bangkit!'

Kamito mengomel dalam hati, lalu mengarahkan tatapannya pada Claire.

Claire telah jatuh ke tanah, dan matanya yang terpana hanya terpaku pada ruang kosong dimana Roh Apinya barusan lenyap.

Menghabisi Roh Api dalam satu serangan, Roh Pedang mengarahkan serangannya pada Claire.

Pedang Bastard raksasa itu melaju kencang ke arah Claire.

"Claire!"

Kamito berteriak lalu mulai akan berlari. Tapi dia melihat Kotaro yang mendahuluinya.

Kotaro lalu mengenakan cincin Connect di jari tangan kanannya lalu menaruhnya di depan Hand Authornya.

CONNECT! PLEASE

Muncul lingkaran sihir di sampan kanannya, lalu dia memasukkan tangannya ke lingkaran siihir tersebut dan mengambil WizarSwordGun dalam Sword Mode.

*TRANK*

Kotaro mengadu WizarSwordGunnya dengan Pedang Bastard tersebut demi melindungi Claire. Pedang Bastard tersebut kembali menyerang tapi Kotaro selalu menangkisnya. Tapi, pedang Bastard tersebut menyerang lurus membuat Kotaro sedikit kesulitan menangkisnya dan dia menggunakan WizarSwordGunnya sebagai tameng. Namun pedang itu menemukan celah dan melewati WizarSwordGun.

"Aahhhhhhhh!"

Kamito Menyerbu di depan Claire dan berada di belakang Kotaro,d ia menusukkan telapak tangannya ke arah Pedang Bastard. Bukan tangan kirinya yang terbungkus sarung tangan kulit – namun tangan kanannya.

'Tidak ada pilihan selain melakukan ini'

"Apapun yang kau lakukan, sebaiknya kau lakukan Kamito!" Teriak Kotaro yang berusaha menahan pedang tersebut.

Oh Roh Terhormat yang Tersegel Dalam Pedang Suci Kuno!

Engkau akan menerimaku sebagai Majikanmu, dan Aku akan menjadi pelindung bagi Engkau!

Keringat bercucuran dari dahinya, ia mulai melafalkan mantra kontrak Roh yang ia bersumpah tak akan melafalkannya lagi. Ujung pedang menembus kulit tangannya. Darah merah mengucur deras.

'Gwah! Ugh!'

Energi spiritual berskala besar serasa meremukkannya, tanah dan batu di sekitarnya bergetar karena tekanan udara. Ia hampir kehilangan kesadarannya karena rasa sakit tak terperikan. Tapi kalau ia pingsan disini, Claire yang ia lindungi di belakangnya akan terpotong menjadi dua.

Tiga Kali aku memerintahkan Engkau!

"...Tak mungkin, Kontrak Roh!?"

Suara kekagetan muncul dari tenggorokan Claire.

Kamito berlutut di atas ,suara tulangnya yang remuk muncul dari balik jasnya.

Bertukar Sumpahlah denganku!

Menahan rasa sakit luar biasa, Kamito menyelesaikan kata kata terakhir ritual kontraknya.

Dalam sekejap, tubuh Roh Pedang mengeluarkan cahaya biru pucat.

'Apa!?'

Kilatan sekejap dan suara gemuruh seolah mengisi semua ruang kesadarannya.


Kamito dan Kotaro membuka mata mereka, dan wajah Claire Rogue ada di depan Kotaro. Menggantung di wajahnya adalah rambut kuncir duanya yang serasa menggelitik wajahnya.

Sepertinya dia baru mengucapkan sesuatu, namun baik Kotaro maupun Kamito tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Mungkin ledakan suara tadi telah mengacaukan pendengarannya.

'Sepertinya aku masih hidup'

Terbaring lemah di tanah, Kotaro dan Kamito tampak sangat lega. Kesempatan sukses melawan Roh selevel itu sangatlah rendah, tapi sepertinya judi yang KAmito lakukan terbayar sudah.

Walaupun tanpa sepengathuan Kamito dan Claire, Kotaro bisa melawan Roh tersebut jika dia berubah, tapi karena dia berpikir belum saatnya jadi dia bertarung seperti tadi.

Mengangkat alisnya perlahan, mereka mencoba menahan rasa sakit di sepanjang tubuhnya dan mengangkat tangannya secara perlahan.

Di tangan kanan Kamito yang tadi tertembus pedang-

Bukannya luka, namun emblem dua pedang yang saling bersilangan tertempa padanya.

Adalah bukti dari Kontrak Roh – Segel Roh.

'Aaah...aku melakukannya lagi'

Menatap segel di tangan kanannya, Kamito komat kamit.

Sedikit rasa bersalah menggelitik perasaan terdalamnya.

Dia telah melanggar janjinya dengan orang itu-

Namun untuk menyelamatkan Claire dan membantu Kotaro dalam situasi itu, hanya metode ini saja yang ampuh.

Claire sadar kalau Kamito dan Kotaro telah bangun, dengan tangannya di pipi Kotaro dan wajahnya semakin mendekatinya. Begitu dekatnya hingga Kotaro bisa merasakan embusan nafasnya. Dengan mata merah jernihnya, dia menatap Kotaro. Bibir mungilnya gemetaran.

"...Kenapa?"

"Kenapa, kalian laki-laki, namun bisa menjalin kontrak dengan Roh dan menggunakan sihir yang aneh ?"

"..."

Kotaro dan Kamito tidak menjawab dan perlahan bangun. Merasa diabaikan, Claire mengangkat alisnya dengan penuh kejengkelan.

"I-Itu Roh Pedangku!"

"Sayang sekali ya, beberapa saat lalu aku yang membuat kontrak dengannya."

"Apa aku tidak menerima ucapan terima kasih?"

Kamito menghembuskan nafasnya sambil menunjukkan punggung telapak tangannya dimana segel Roh itu tertempa. Dan Kotaro menyimpan WizarSwordGunnya dengan menggunakan Connect Ring.

"Ap-Ap-APaaaaaa!?"

Ekspresi Claire nampak sangat terkejut dengan mulutnya terbuka lebar.

'Yah, itu reaksi yang sangat alami'

Dengan mendesah - Kamito merasakan sedikit sakit di dadanya. Tentu saja, dia bisa dengan jelas memahami respon itu. Pada dasarnya, kemampuan yang tak bisa dimiliki oleh siapapun selain gadis perawan - Kontrak Roh.

Eksistensi laki laki yang dapat mengontrak Roh,sepanjang sejarah, hanya ada satu seseorang yang membawa kekacauan dan kehancuran di dunia, yang disebut Kontraktor Roh Raja Iblis.

Sangat alami untuk takut padanya, yang memiliki kekuatan Kontrak Roh seperti si Raja Iblis.

Kamito dan Kotaro berdiri dan dengan tenang pergi menjauh.

Kamito tidak menyesal. Untuk menyelamatkan gadis ini dan membantu temannya, hanya inilah yang bisa dia lakukan.

"Tunggu, aku bilang tunggu!"

Kamito dan Kotaro hampir pergi, namun sebuah suara memanggil mereka dari belakang.

Menoleh, mereka melihat Claire dengan tangannya di pinggangnya tengah menatap tajam ke arah Kotaro dan Kamito.

"Kau mencuri...Rohku...kalian harus bertanggung jawab!"

"Hah?"

Kamito mengernyit...hal itu tak masuk akal baginya. Sementara Kotaro hanya mengambil nafas panjang.

Karena reaksi Kotrao dan Kamito itu, Claire tanpa sabar menyibakkan rambut kuncir duanya.

"Harusnya akulah yang mendapatkan Roh itu, sudah kubilang, kalian harus bertanggung jawab!"

"Tang...Tanggung jawab?"

"Kenapa harus Tanggung Jawab?"

Karena kata kata tak terduga itu, Kamito dan Kotaro jadi lebih bingung.

...Gadis itu bicara apa.

"Karena itulah..."

Claire mengayunkan cambuknya, lalu mengarahkan jari telunjuknya ke arahKotaro dan Kamito.

"Kalian berdua harus menjadi Roh Kontrakku!"


Yo maaf kalau lama dan maaf kalau belum ada aksinya karena menyesuaikan LN sama Canon KR Wizard. Karena UAS udah beres ane akan mengerjakan fic lain. Silahkan berikan kesan kalian tentang fic ini dan jangan Flame. Dan disini kalau penasaran dengan Elesis, itu Elesis yang ada di Elsword.

Harem Kotaro : Rinslet, Ellis, Fianna (WIP)