Bales review dulu, yuk!

Miseta Harumi Kitara: Upload –nya nanti saja setelah UAN. Aku juga sibuk nih... Mau UAN juga ngurus perpindahanku ke KIU Academy. Nanti sekitar Mei awal, oke?

AkamakiKyuu: Salam kenal! Mirip punya siapa? Apa benar-benar mirip, ya? Wuaaa! Harus gimana, dong?#pundung. Aku cuma berpikir singkat kalau trio Akatsuki itu adalah murid Jiraiya, jadi mereka punya hubungan tersendiri dengan Naruto. Sebenarnya aku mau buat si Naruko jadi kembarannya Naruto, tapi nggak puas kalau nggak yaoi. Maaf, ya buat kak Taz, aku nggak bermaksud menjadi plagiat, kok!

Anon: WAAA! Aku jadi merasa seperti plagiat beneran nih!#mau bunuh diri. Seharusnya aku lebih melihat-lihat dan membaca-baca fic senpai sekalian, ya...#nangis merasa bodoh.

hatakehanahungry: Iya, Deidara mau masuk kelas 1 SMA, beda tiga tahun sama kakak-kakaknya. Sasori? Sebenarnya dia super ramah. Tapi sebab dirinya bertemu orang nggak waras, jadinya dia ikut-ikutan nggak waras (orang yang mudah dipengaruhi). Lemon masih lama... Soalnya aku sekamar asrama dengan orang anti segala bentuk hubungan homogenitas dan saudari kembarku (aku nyolong diary –nya). Mereka berdua yang sering ngomel saat aku baca doujin yaoi atau lagi nulis cerita...

amimi: HUAA! Jadi benar-benar mirip dengan fic orang, ya?#pundung. Aku sumpah dan serius nggak tau tentang penulisan fic ini. Aku cuma males diomelin Tian Lou dengan gaya penulisanku (dia penulis cerpen). Aku cuma niru gaya penulisan Tian Lou dengan sedikit ubah sana ubah sini sama gaya bahasa agar lebih humor...

ChaaChulie247: Oh, ya? Padahal aku paling nggak bisa buat lelucon, lho! Thanks banget! Obsesi Sasuke itu benar-benar terjadi pada guide –ku yang (sekarang aku baru tau dia anak pengusaha Fujiwara Inc.) yang membatalkan acara makan malam sama teman-teman ayahnya gara-gara kepingin pergi ke Harvest Hill Osaka untuk melihat domba. Dia bilang dia mau pura-pura jadi guide jadi dia nggak perlu pulang dan dimarahi ayahnya. Ckckck...

Oke, sudah semua. Thanks buat yang sudah membaca fic saya. Mari lanjut...

A Naruto fanfiction titled "Love Sweepers"

Disclaimination : The Great Masashi Kishimoto –sensei

Author : Fengtian Mai & Fengtian Lou

Rated : M

Warning : Yaoi, BL, ajaib, aneh, alur nggak jelas, gaje, author newbie, dan hal-hal yang dapat menyebabkan pingsan di tempat, membaca fic gaje ini dapat menyebabkan kanker, reumatik, hipertensi, gangguan kehamilan dan janin(?). Fic yang berdasarkan pengalaman dan kisah nyata author sinting ini (tentu saja pengalaman authornya bukan yaoi dan tidak terlalu eksplisit). OOC abis. Semua cerita di chapter ini benar-benar nyata.

Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, SasoDei dan entahlah siapa lagi... XP.

Summary : Si Kembar Namikaze tengah liburan ke Konoha. Apa jadinya ketika mereka masuk ke dalam kehidupan para penerus keluarga Uchiha yang notabene adalah rival keluarga Namikaze?

.

Happy Reading, minna!

.

.

Don't like, don't read

.

.

Chapter 2 : Street Problem Maker!

Kediaman Namikaze Pain, Konohagakure.

Sang mentari kini telah muncul dari bilik peraduannya. Sinarnya yang hangat disambut dengan sangat riuh oleh kokokan ayam dan kicauan burung. Sasuke Uchiha yang baru terjaga dari alam mimpinya, langsung pergi ke kamar mandi. Selasai mandi dia langsung menuju ke kamar Naruto yang berdekatan dengan kamarnya. Berbeda dengannya yang sudah segar dan harum, Naruto masih mendengkur, masih terbuai alam mimpi.

Mendengus kesal, Sasuke mencoba membangunkan Naruto. Diguncangkannya tubuh pemuda yang tak lebih tinggi darinya itu sambil bergumam, "Bangun. Sudah pagi." Naruto yang baru bangun dari alam mimpi langsung memukulnya dengan malas, "Nanti saja, bu...," lalu menarik selimut itu menutupi tubuhnya. Setiap kali Sasuke mencoba mengguncangkan tubuhnya, yang dia dapat adalah pukulan dan tendangan seorang Namikaze sulung. "Ibunya macam apa sih? Kok bisa bangunin kebo macam ini?," batin Sasuke setengah memuji, setengah menghina.

Sasuke mendesah pelan. Rupanya anak ini lebih manja dari kelihatannya. Ditariknya selimut yang menutupi tubuh Naruto paksa. Mungkin dalam benaknya Naruto akan bangun dan memarahinya karena dia sudah mengganggu acaranya itu, tapi salah besar. Nyatanya, Naruto malah terus menggeliat dan tidur lebih pulas.

Kehabisan kesabaran, Sasuke masuk ke kamar mandi dan mengambil sebaskom air dan...

Byuurrr!

Naruto langsung melotot ke arah Uchiha bungsu yang dengan sangat kejamnya menyiram dirinya. Pagi-pagi kok sudah kena siram? Mana yang nyiram guide-nya sendiri lagi! Naruto mendengus kesal pada Sasuke, sebelum akhirnya dia menyembur sang Uchiha. "Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menyiramku? Kau tak berhak menyiramku! Sekarang apa maumu, hah? Jawab!," amuk Naruto tanpa jeda sedikitpun.

Sasuke dengan ogah-ogahan menjawab amukan Naruto itu dengan kalimat yang cukup menyebalkan, "Salahmu sendiri, dibangunin malah tidur, dasar kebo!"

Naruto makin uring-uringan mendengar jawaban sang guide. Sampai suara cempreng Nagato yang terus meneriaki ramen yang dibuatkan Sai untuk sarapan, sanggup membuat perhatian sang Namikaze beralih padanya. Dengan kecepatan kilat, Naruto langsung berhambur menuju ruang makan tanpa peduli pakaiannya basah ataupun si Uchiha bungsu yang nyaris jawdrop melihat kecepatan reflek-nya terhadap ramen. "Nagato! JANGAN TINGGALKAN AKU!," teriaknya lebay sambil melewati lorong rumah sang sepupu.

-Tian Mai & Tian Lou-

Kediaman Uchiha, Konohagakure.

Uchiha Itachi tengah menikmati roti panggang sarapannya, sampai sosok pemuda yang lebih muda darinya muncul dihadapannya dengan tampang acak-acakan. Mata kelamnya menatap langsung pada pemuda bermanik ruby itu. "Kau belum mandi?," tanyanya berbasa-basi―walaupun sebenarnya dia bersungguh-sungguh mengatakannya. Sang pemuda bernama Kyuubi Namikaze itu mengerutkan dahinya setelah mendengar pertanyaan Uchiha sulung, "Kau menyindirku atau mengingatkanku?"

Itachi tertawa kecil. "Nyadar juga ni anak...," batinnya miris. "Nggak lah, sayang~. Kamu makin sexy kalau seperti itu... It makes me horny~," ucap Itachi masih saja mencoba menggoda sang Namikaze kedua. Sebelum tawanya meledak, sang Namikaze sudah menyumpal mulutnya dengan seiris roti secara kasar. Itachi yang terlihat tersedak itu membuat senyuman Kyuubi mengembang dengan cepat. "Makan tuh roti!," bentak Kyuubi kasar.

Itachi mengunyah roti yang berada di mulutnya dan mengambil yang belum sempat dimakannya, "Wow! Kau so sweet... Mau kusuapi, sayang~," tawar Itachi yang tengah menggenggam seiris roti di tangannya. Kyuubi merinding disko mendengarnya. "Bujubusyet! Ni anak siapa sih? Kayak orang gila yang baru kabur, deh!," batin Kyuubi benar-benar ketakutan setengah mati pada Itachi. Sedangkan itu, Itachi semakin mendekatkan roti yang dipegangnya pada Kyuubi yang masih melamun. "Buka mulutmu, Kyuu~"

Plak!

Kyuubi langsung menampar wajah si Uchiha sulung secara reflek, sehingga roti di tangan sang Uchiha terjatuh ke lantai. Kyuubi yang baru sadar apa yang dia lakukan, langsung pergi meninggalkan Itachi yang membatu di sana. Saat Kyuubi sudah menaiki tangga, Itachi baru membetulkan posisi duduknya. Dengan senyuman kecut di wajahnya, dia berbisik sangat pelan. "Che! Dia menamparku... Dasar, paman mesum..."

.

.

Kyuubi menutup pintu kamar itu dengan pelan, nyaris tanpa suara. "Aduh... Gawat! Bisa-bisa diusir dari sini, lagi! Naruto! Where're you?," batinnya nyaris mewek sambil mengumamkan kalimat 'Naruto, where're you?'-nya seperti theme song serial kartun Scooby-Doo(?). Namun, dia malah berjalan menuju kamar mandi dan melakukan ritual orang-orang mandi pada umumnya (pastinya mandi). Sambil mengguyur diri di bawah air shower, dia menenggelamkan diri dalam bathtub yang penuh dengan air. Menenggelamkan diri adalah salah satu cara berpikir a la Kyuubi. Aneh memang, tapi ampuh. Nyatanya setelah beberapa menit menghabiskan napas di bawah air, akhirnya sang Namikaze mendapatkan sebuah ide yang bakal menyelamatkannya dari si Uchiha sulung. "Mungkin sedikit main kasar...," batinnya menyusun rencana.

-Tian Mai & Tian Lou-

Konoha Golden Shrine, Konohagakure.

Naruto benar-benar sangat senang saat Sasuke mengatakan akan membawanya ke kuil emas Konoha. Dia benar-benar tidak mengerti, orang kaya mana sih yang mau meleburkan emasnya untuk sebuah kuil? "Kalau begitu entar kukerok dan kujual ah, emasnya!," batinnya berambisi mencuri emas yang ada di bangunan yang sebentar lagi bakal didatanginya. Sasuke berjalan di depannya saat mereka sampai di taman kuil itu. Naruto clingak-clinguk ke kanan-kirinya, mencari kuil yang katanya terbuat dari emas itu. "Mana, sih? Jangan-jangan Sasuke bohong lagi!," batinnya berburuk sangka.

Bukannya menemukan kuil itu, Naruto malah diajak Sasuke menuju sebuah tempat yang ada lonceng raksasanya―sebesar lonceng rumah Pein. Sasuke memukulkan kayu yang tergantung secara horizontal pada lonceng itu sehingga suaranya bergema kemana-mana. Setelah itu, Sasuke menyuruh Naruto memukul kayu itu, seperti yang baru saja dilakukannya.

"Untuk apa?," tanya Naruto sedikit kesal―dari tadi dia tidak menemukan kuil emas.

"Pukul saja. Itu tanda kita sedang bertamu kemari...," jawab Sasuke sedikit menjelaskan.

Diam.

Diam.

Naruto pun akhirnya memukul lonceng itu setelah sempat terdiam beberapa lama. Setelah melakukan beberapa ritual yang cukup panjang, barulah Naruto dibawa ke sebuah taman rusa. Awalnya di gerbang itu, Naruto sedikit heran kenapa tempat ini banyak rusanya. Namun nyatanya, di sini adalah taman rusa. "Kenapa ke taman rusa? Katanya kuil emas...," tanya Naruto kesal. Sasuke yang sedari tadi berjalan di depannya, akhirnya berbalik dan menatapnya.

"Kuil ini adalah kuil taman rusa. Kau tidak tau?," kata Sasuke balik bertanya. Naruto mengeleng sebelum akhirnya hanya bisa ber-oh panjang setelah mendengar jawaban Sasuke. Mata sapphire sang Namikaze teralih pada rusa-rusa yang tengah berkumpul di belakang Sasuke, rupanya ada yang tengah memberi mereka makan. Naruto mendekati seorang pemuda berambut mirip nanas yang tengah memberi makan rusa-rusa yang ada. Sepertinya menarik, begitulah yang ada di dalam otak Namikaze satu ini. "Hei, boleh aku mencobanya?," tanya Naruto pada pemuda itu. Pada saat pemuda itu menoleh ke belakang, mata cokelatnya tertuju bukan pada orang yang bertanya, melainkan pada pemuda Uchiha yang sedari tadi bersama Naruto.

"Sasuke Uchiha. Aku tak menyangka kau datang kemari...," ujarnya dengan nada malas.

"Shikamaru Nara. Apa kabar?," tanya Sasuke berbasa-basi―walaupun dia tidak menyukai berbasa-basi. Pemuda yang dipanggil Shikamaru ini mengerlingkan mata cokelatnya. "Ada keperluan apa seorang Uchiha pemilik pe―"

Sasuke membungkam mulut Shikamaru dengan cepat sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. "Diam...," ancam Sasuke pelan, hingga sang Nara sajalah yang mampu mendengarnya. Si rambut nanas mengangguk mengerti. Naruto yang kebingungan dengan tingkah dua orang di depannya akhirnya membeo, "Pemilik apa? Pemilik apa?"

Sasuke melepaskan Shikamaru dan menatap Naruto dengan ekspresi stoic trademark Uchiha. "Pemilik jasa pemandu wisata...," ujarnya santai. Shikamaru sebenarnya terkejut mendengarnya, namun akhirnya dia malah ikut-ikutan membohongi Naruto. "Iya, tak seperti biasanya kau turun tangan, Sasuke! Siapa client –mu yang sepertinya sangat istimewa ini?," tanya Shikamaru sambil menekan kata istimewa. Sasuke mendelik ke arahnya tajam, "Para guide –ku sedang sibuk semua, jadi kutangani sendiri. Dia Naruto Namikaze. Dobe, dia Shikamaru Nara, anak ketua konservasi kuil ini..."

Naruto mengernyitkan dahinya, kesal dengan sebutan barunya. "Aku senang bertemu denganmu, Shikamaru. Dan terima kasih dengan sebutan baruku, teme!," ucapnya tak terima dikatai dobe. Sasuke hanya memutar mata onyx –nya. Shikamaru yang melihat adanya keadaan yang mulai memanas akhirnya berinisiatif membawa dua orang ini pergi. "Mau ke kuil?," tanyanya menawari kedua pemuda itu.

Hening.

Hening.

Hening.

"AYO!," teriak Naruto sangat senang dan bersemangat sekali―untuk mengerok emasnya. Ketiga pemuda itu berjalan menuju sebuah danau kecil di tengah taman. Memang benar, sebuah bangunan besar dengan warna kuning keemasan berdiri dengan kokoh di tengah danau. Yang paling membuat Naruto takjub adalah sebuah patung burung phoenix emas murni yang ada di atas atap bangunan itu. Walaupun sangat indah, Naruto juga merasa kesal karena bengunan itu berada di tengah danau yang cukup luas dan tidak ada jembatan atau akses jalan menuju ke kuil itu.

"Ini adalah bangunan terbaik di Konohagakure. Patung phoenix –nya terbuat dari emas murni. Bangunan ini sempat terbakar beberapa kali saat perang, dan i―"

"Bagaimana caranya masuk ke sana?," tanya Naruto memotong pejelasan Shikamaru. Si rambut nanas tampak berpikir sejenak, "Oh... Jaman dulu ada jembatan yang menghubungkan tempat itu dengan taman rusa. Tapi―"

"Tapi kenapa?"

Shikamaru menggeleng pelan, " Mendokusai... Kau tidak sabaran. Tentu saja jembatannya terbakar habis saat perang."

Mendengar itu semua, Naruto mengamati kembali danau di depannya. "Kenapa tidak dibangun lagi?," tanyanya penasaran―masih belum percaya di depannya ada bangunan emas dan dia tidak dapat mengambil emas itu. Shikamaru ikut melihat ke arah danau, "Kami takut ada seorang turis asing yang mengambil emas-emas dan barang-barang peninggalan yang ada di sana, seperti dirimu..."

"Oh...," gumam Naruto santai.

Satu detik.

Dua detik.

Ti―

Naruto menatap tak percaya ke arah Shikamaru, "Bagaimana dia bisa―"

"Shikamaru sudah sering berurusan dengan para pencuri barang peninggalan yang menyamar jadi turis...," sela Sasuke membuat Naruto panas dingin. Hening sejenak. "Gawat!," inner Naruto kacau. Tanpa pikir panjang, Naruto langsung bersujud di hadapan Shikamaru. "MAAFKAN AKU! AKU TIDAK PUNYA MAKSUD SEPERTI ITU, KOK! SUMPAH!," ucap Naruto benar-benar memohon, takut dilaporkan ke polisi gara-gara berpikir mau mengerok emas bangunan itu.

Shikamaru dan Sasuke saling berpandangan melihat Naruto mulai nangis gaje sambil memeluk kaki Shikamaru. Sedetik kemudian, mereka menertawai Naruto yang sudah mewek di tempat. "JANGAN TERTAWA!," bentak Naruto mengusap air matanya. Dia sudah ketakutan setengah mati, eh... malah ditertawai dua cowok 'ajaib' ini. "Pantat ayam sialan! Nanas bangsat! Padahal aku lagi serius, malah ditertawai!," batin Naruto tidak terima ditertawai. Ditatapnya kedua pemuda yang tengah terpingkal-pingkal menertawainya.

"Dobe, dobe! Kau memang idiot! Aku dan Shikamaru cuma bercanda..."

"Tak kusangka client –mu satu ini juga punya pikiran mengambil emas dan barang-barang peninggalan! Hahaha! Kau yakin dia akan membayarmu? Hahaha..."

Naruto mengerucutkan bibirnya. Dua orang ini belum tau kalau sang Namikaze di depan mereka juga bisa kung fu! Namun Naruto malah menginjak kaki Sasuke yang sebenarnya penyebab dia hampir mati jantungan―lebih baik dari pada dia disebut kung fu durian sebagai sequel Kung Fu Panda(?). "Aww!," pekik Sasuke kesakitan ketika kakinya diinjak dengan tidak berperasaan oleh Namikaze sulung. Mata onyx –nya menatap tajam ke arah manik sapphire Namikaze sulung.

Tatap.

Tatap.

Tatap.

Ta―

"Sampai kapan kalian tatap menatap seperti itu?," tanya Shikamaru memecah keheningan. Dia menguap ngantuk sebentar, lalu ikut diam. Dua pasang manik beda warna itu menatap tajam ke arahnya. Mereka bertiga saling adu tatap hingga 20 menit lamanya, sebelum suara cempreng seorang gadis menghancurkan acara 'tatap-menatap' mereka.

"I-itu Sasuke Uchiha!"

"Mana? Mana? Oh, iya! Itu memang Sasuke! Kyaaaa..."

"Kerennya!"

Dan mulailah acara 'jerit-menjerit' yang menggantikan acara 'tatap-menatap' ketiga pemuda tampan itu. "Wah... Sepertinya fans girl –mu datang," ucap Shikamaru datar, "Ganbatta!"

Sebelum Sasuke menjawabnya, Shikamaru sudah pergi bagaikan hantu datang tak diundang pulang tak diantar (jalangkung? XD). Melihat para FG sudah berdatangan, Sasuke langsung menarik tangan Naruto yang masih cengo di tempat. Mereka berlari sampai ke stasiun bawah tanah Konoha. Bukan, yang benar hanya Sasuke yang berlari karena Narto masih terus ditariknya sampai ke stasiun. Masih mikir ya, Naru-chan?

-Tian Mai & Tian Lou-

Kediaman Uchiha, Konohagakure.

Kyuubi tengah mengendap-endap menuju kamar Uchiha sulung. Dia tengah melancarkan sebuah rencana gila yang akan mempengaruhi masa depannya juga―kabur dari Itachi dan pergi dari rumah Uchiha. Dengan langkah yang dipelankan, dibukanya pintu kayu itu dengan perlahan hingga nyaris tak bersuara. Diintipnya kamar sang Uchiha sulung, rupanya sang pemilik pergi entah kemana. Setelah menyetel lagu-lagu theme song James Bond(?), Kyuubi masuk dengan gaya-gaya para anggota S.W.A.T yang tengah menyergap teroris.

Diperhatikannya setiap inchi kamar Uchiha sulung yang agak gelap ini. Ada ranjang―pastinya, sofa hitam, karpet, lemari pakaian, meja kerja, dan...

"Aha!," batin Kyuubi sambil mengeluarkan lampu neon hemat energi(?) yang sudah menyala terang benderang dari dalam otaknya. Kyuubi mendekati meja kerja milik Itachi. Dilihatnya seluruh rancangan keuangan yang tidak Kyuubi mengerti sama sekali. Dilihatnya satu per satu, sampai dia menemukan sebuah buku notes bersampul hitam pekat di bawah semua dokumennya. Pada awalnya, Kyuubi mengira itu adalah sebuah Death Note yang dicuri Itachi dari Light Yagami(?). Dengan tangan yang bergetar hebat, dengan keringat dingin yang bercucuran, dan dengan melihat sekitar, ketakutan―mungkin aja ada penampakan―Kyuubi membuka buku itu. "Jangan bilang dia Kira!," batinnya masih merinding ngeri jika itu benar-benar Death Note. Namun ternyata itu adalah diary Itachi...

Makanya, Kyuu! Jangan ikut-ikutan Author sableng ini!

Setelah men-taichi Author agar kaku di tempat, Kyuubi mulai membaca seluruh diary Itachi. Mata ruby –nya tidak mau melewatkan sedikitpun informasi yang ada. Sampai dia mendapatkan apa yang ia inginkan, yakni sebuah nama yang akan membuat Itachi bertekuk lutut dan membantunya atau bahkan menjadi budaknya. Sebuah nama yang mungkin akan mengubah nasibnya, Akami Kitsune. "Kok namanya aneh, ya? Kayak tulisan anak SD yang baru belajar nulis kanji...," batin Kyuubi ragu. Dia mencoba mengeja kembali nama yang tertera di sana. Akami Kitsune. Diulangnya lagi. Tetap saja, Akami Kitsune.

Namun setelah dibaliknya halaman berikut, dia membaca satu hal yang membuat matanya terbelalak. Akami Kitsune sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu rupanya―sebenarnya dia tidak tau, karena Itachi hanya menuliskan kecelakaan tragis yang menimpa pacarnya saja. Benar-benar sebuah tragedi dan ditulis dengan sebuah tulisan yang sangat menyedihkan dari seorang Uchiha. Penuh perasaan sekali sang Uchiha sulung menulis halaman itu.

"...Akami tidak pernah kembali sejak saat itu. Dia dibawa orang tuanya pergi. Pergi jauh dariku, mungkin selamanya. Aku tak tau kemana. Apa mungkin aku akan atau harus menyusulnya karena aku adalah penyebab kepergiannya?..."

Dan di akhir buku itu tertempel sebuah foto usang seorang Itachi Uchiha yang terlihat masih anak-anak dengan seorang anak―mungkin―perempuan berambut kemerahan pendek dan mata ruby yang semuanyaterlihat merah menyala.

Saat Kyuubi tengah memperhatikan lebih seksama foto itu tiba-ti―

"Sedang apa kau di sana, Kyuubi?"

Kyuubi melonjak kaget dan segera merapikan dokumen-dokumen Uchiha sulung dengan terburu-buru. Dia juga menyembunyikan buku harian Itachi di balik T-shirt yang tengah ia kenakan. "Ah. Ng―Aku hanya melihat-lihat pekerjaanmu...," ujarnya mencoba berbohong. Keringat dingin sudah membanjir dari dirinya saat Itachi mendekat dan melihat lebih dekat ke arah meja kerjanya. "Melihat-lihat pekerjaanku?," tanya Itachi membeo. Kyuubi mengangguk kecil dengan ketakutan.

Hening.

Hening.

Hening.

"Oh."

Sang Uchiha sulung mundur ke belakang, membuat Kyuubi menarik napas lega. Hening sejenak. "Jangan main-main dengan diary orang...," nasehat Itachi sok baik―padahal dia pengen banget merebut diary yang ada di tangan Kyuubi dan membentaknya. Dia berbalik dan melangkah keluar kamar, meniggalkan Kyuubi di kamarnya sendiri. "Itachi! Tunggu!," panggil Kyuubi langsung mengejar Itachi. Setelah dia sudah dekat dengan Itachi, digenggamnya pergelangan tangan sang Uchiha yang sudah ngambek itu. Sial selalu berpihak padanya. Saat Itachi sudah berbalik menghadapnya, dia malah terpeleset dan jatuh terjungkal ke depan dengan tidak elit.

Itachi yang tak kuat menahan tubuh Kyuubi pun ikut terjatuh ke belakang. Dan... Sebuah kejadian yang tidak akan pernah Kyuubi lupakan terjadi. Secara tidak sengaja, bibir keduanya saling bersentuhan, atau dengan kata lain mereka berciuman. Sial kembali melanda Kyuubi, saat dia berusaha bangkit dari tubuh Itachi, dia malah semakin terpeleset dan mencium sang Uchiha sulung untuk yang kedua kalinya.

Merasa jijik, Kyuubipun akhirnya berhasil menjauh dari sang Uchiha yang masih membatu. "Hieee...," ucap Kyuubi seraya mengusap bibirnya kasar. Itachi belum juga bangkit, padahal Kyuubi sudah terduduk di sebelahnya. Melihat Itachi yang menatap kosong ke arah langit-langit, membuat Kyuubi merasa bersalah.

Ditatapnya Itachi dengan perasaan bersalah, "Maaf... Tadi itu kecelakaan..."

"Kyuu... Aku mau kamu melakukan sesuatu..."

Kyuubi terkejut, tapi malah bertanya, "A-apa?"

"Cium lagi, dong~. Bibirmu lembut banget!"

Dan...

BUAGH!

Itulah yang terjadi bila kau menginginkan yang lebih dari Kyuubi Namikaze...

-Tian Mai & Tian Lou-

Kediaman Namikaze Pein, Konohagakure.

Deidara tengah asyik menarik tali bel rumah sepupunya itu. Dia menariknya terus menerus walaupun Sai sudah berdiri di depannya―dia benar-benar penasaran dengan lonceng raksasa di atas rumah Pein. "Maaf, tuan. Jika anda hanya ingin memainkan lonceng, sebaiknya anda pergi...," ujar Sai berusaha menghardik Deidara yang terus menerus membunyikan lonceng. "Aku penasaran, tau!," bentak Deidara masih menarik tali sepanjang dua meter itu.

"Sai! Siapa itu? Berisik sekali!," omel Nagato akhirnya turun tangan keluar rumah untuk mengomeli orang yang membunyikan bel rumah berkali-kali. Liburan musim panas kali ini benar-benar bakal dia lakukan dengan bersantai, bukan mendengarkan lonceng yeng berbunyi berisik. Nagato menengok Sai dan seorang pemuda berambut pirang panjang diikat satu dan poni yang sedikit menutupi matanya. "Dei-chan?," panggilnya.

Deidara berhenti menarik tali lonceng itu dan beralih pada Nagato yang tengah berdiri di belakang pemuda berkulit pucat itu. "Naga-chan! Aku datang untuk menyusul kakakku!," ucapnya ceria. Nagatopun menyambut pamannya yang ketiga itu dan memintanya menghentikan rasa penasaran akan lonceng rumahnya. Mereka berbincang-bincang dan tertawa bersama saat Deidara menceritakan bagaimana dia diijinkan mengunjungi Konoha.

"Kau menipu orang tuamu untuk bertemu Sasori itu?," tanya Nagato tak percaya. Deidara mengangguk dan membuat Nagato semakin tertawa keras. Mana mungkin si Namikaze bungsu di depannya ini boleh keluar rumah apalagi sampai keluar kota? Asmanya itu lho yang sering kambuh dan tingkahnya yang kayak anak ilang itu membuat ibunya berpikir dua kali membiarkan Deidara jauh-jauh darinya. Namun yang namanya Deidara, ya Deidara. Buktinya, si pirang kuncir kuda ini ada di hadapannya sekarang.

"Naga-chan, main yuk!," ajak Deidara tiba-tiba. "Waduh! Gawat, nih...," batin Nagato nggak enak. Dia tau apa yang jadi permainan kesukaan pamannya satu itu. Yap, petasan. Deidara adalah salah satu penggemar petasan. Mulai dari kembang api sampai petasan untuk Imlek. Dan yang paling dia sukai adalah petasan yang suaranya keras. "Enh... Nggak usah deh, Dei-chan..."

"Ayolah...," rengek Deidara merajuk. Dipasangnya puppy eyes andalannya. Aduh... bisa mati kutu Nagato kalau menolak bermain dengan pamannya ini. "Nggak, ah... nanti kalau Sai marah, gimana?," tanyanya mencoba menghentikan keinginan pamannya. Deidara ngambek seketika, namun bangkit dan meninggalkan Nagato yang tengah duduk di teras rumah. "Kalau kamu nggak mau main sama aku, ya sudah! Aku mau main sendiri!," bentaknya kasar pada keponakannya itu. Dia berjalan menuju taman tengah kediaman sepupunya. Nagato menghela napas berat melihat kepergian Deidara.

.

.

(Beberapa menit kemudian)

Creshhh...

Ctar! Ctar! Ctar! Duar!

Deidara dan Nagato memandangi panci yang baru saja meloncat-loncat gara-gara diisi petasan yang meledak yang disulut Deidara beberapa saat lalu dengan wajah senang. Mereka mendekat ke arah panci itu. "Dei-chan, ayo sulut lagi apinya! Petasannya masih banyak, 'kan?," bujuk Nagato ketagihan memainkan benda mudah meledak itu. Deidara mencoba mencari sesuatu dalam sakunya, tapi tak menemukan apa-apa di sana. "Kayaknya aku kehabisan stok petasanku...," ujar Deidara terlihat kecewa.

Nagato berpikir sejenak. "Ah, nggak masalah. Aku punya petasan bekas Imlek kemarin. Pakai itu saja, yuk!," ajak Nagato baru ingat masih punya beberapa petasan di lemarinya. "Serius?" Nagato mengangguk. "Ayo!," ajaknya menuntun sang paman menuju kamarnya. Padahal tadi dia nggak mau main sama Deidara, sekarang ketagihan main petasan. Anak kecil tak punya pendirian...

-Tian Mai & Tian Lou-

Konoha Silver Shrine, Konohagakure.

Sasuke masih terus menarik Naruto yang sedari tadi tidak mau menggunakan kakinya sendiri. Serius, deh! Sasuke terus menariknya dari stasiun sampai ke tempat ini! Berapa pasang mata yang sudah melihatnya seperti dia tengah memaksa anak orang kawin paksa dan anak itu kayak shock mau kawin paksa? Ratusan! Jatuh deh kharismanya di depan para FG-nya.

Naruto yang sedari tadi cengo tingkat dewa, akhirnya baru sadar Sasuke sudah membawanya ke kaki dataran tinggi Konoha. Sasuke masih terus menariknya ke arah loket masuk tempat yang tidak diketahuinya. "Sasu-teme? Kita dimana?," tanyanya masih penasaran tempat apa di atas sana. Jangan-jangan di atas sana ada gereja dan Sasuke menyuruhnya kawin paksa sama Uchiha bungsu itu lagi! So sweet... Atau di atas ada restauran romantis, lalu Sasuke akan melamarnya lagi? Waduh, apa sih yang ada di pikiran Naruto ini?

"Kuil perak atau kuil teh di atas...," jawab Sasuke setelah membayar tiket masuk. Naruto ber-oh ria mendengarnya. Rupanya pikiran yang tadinya mengerok emas kembali lagi. Tapi kali ini berubah menjadi mengerok perak di kuil apalah itu namanya. Sebuah lift atau mungkin eskalator muncul di benak Naruto secara langsung mengingat tempat ini berada di dataran tinggi dan terlihat cukup terkenal. Namun...

"APA?"

Naruto menjerit tak percaya. Dia harus menaiki tangga ke atas. TANGGA! Nggak ada lift atau eskalator seperti dalam pikirannya. Dan tangga-tangganya terbuat dari batu alam dan menyerupai jalan setapak! Bisa kram kaki-kaki―yang menurutnya sendiri―jenjang miliknya menaiki tangga-tangga itu. "Tenang saja. Hanya ada sekitar 40-an tangga, kok...," ujar Sasuke menenangkannya. "E―Apa? Tangga? Anak tangganya berapa memangnya?"

"Ump... 1.200-an."

Kalimat yang baru saja diucapkan Sasuke Uchiha sanggup membuat Naruto jawdrop seketika. Busyet, dah! Orang mana sih yang membuat kuil perak di atas dataran tinggi dan hanya bisa sampai ke sana menggunakan 'tangga super tradisional' macam ini? Dan turis mana yang mau melakukan olahraga menyiksa kaki macam ini? Rasanya ingin pingsan memikirkan seberapa besar bengkak di kakinya nanti setelah menaiki tangga-tangga itu.

Melihat ekspresi Naruto yang seperti baru saja terkena bencana tsunami membuat Sasuke illfeel juga. Bukannya tugas guide adalah mengantar penyewanya ke tempat wisata macam ini? Nah, sudah sampai di tempat wisata, si dobe satu ini malah cengo. Ditariknya tangan tan Namikaze sulung dan menuntunnya menaiki tangga.

"Kalau kau melihat ke samping, kau tidak akan merasa takut...," ujar Sasuke mulai tau apa yang ada di kepala Namikaze sulung. Naruto dengan terpaksa melihat ke samping kanan maupun kiri. Setelah cukup tinggi, barulah Naruto sadar di sebelah kanannya adalah jurang yang dalam nan curam. Naruto meneguk ludahnya dengan susah payah. Sialnya, di sini tidak ada pegangan atau pengaman tangga dan sangat tradisional―sebelah kanan jurang tanpa ada batasan jadi bisa jatuh kapanpun. Dipikiran Naruto sekarang bukan lagi bengkak yang akan diderita kakinya, tapi keselamatan nyawanya yang bisa saja tercabut nista gara-gara kepeleset dan masuk jurang di sebelahnya.

Naruto menggenggam tangan Uchiha bungsu disampingnya. Sasuke sih aman saja, karena di samping kirinya adalah tebing dari dataran tinggi Konoha―jurang cuma di sebelah kanan saja. Melihat Naruto menggenggam tangannya erat dengan keringat dingin terus mengucur gara-gara memandang horror jurang di kanannya, Sasuke akhirnya mencoba mengalihkan perhatian Naruto dari jurang itu. "Dobe...," panggilnya pelan. Naruto masih tidak menanggapinya ataupun menoleh padanya.

Melihatr ekspresi Naruto yang semakin ketakutan, Sasukepun menarik dagu pemuda pirang di sampingnya. Ekspresi ketakutan Naruto mulai mereda saat melihat Sasuke tersenyum padanya. Tersenyum! Dia tersenyum! Yang benar saja! Sasuke Uchiha yang stoic itu tersenyum, pemirsa! Di―

Ah, lupakan kalimat gaje author.

Semburat merah mulai merambat di pipi mulus Namikaze sulung. Dia jadi salting diberi senyuman menawan Uchiha satu ini. Pastinya malu! "Uhn... Eh... Masih jauh, ya?," tanyanya canggung. Sasuke kembali menatap puluhan anak tangga di depannya, "Ya, masih jauh. Tapi lihatlah pemandangan di sekitar sana. Indah, 'kan?"

Naruto mencoba melihat pemandangan yang di katakan Sasuke. Memang benar, semua terlihat jelas dari sini. Semua terlihat kecil seperti semut dan berlalu lalang dengan rapi. Hutan di barat Konohagakure juga terlihat seperti hamparan karpet hijau atau mungkin lautan cat berwarna hijau. Sungguh indah dan memukau. Naruto menyesal tidak memperhatikannya sedari tadi―dia sibuk sendiri dengan jurang di sampingnya.

.

.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam, mereka baru sampai di puncak dataran tinggi itu. Sebuah pintu gerbang kayu besar ala Jepang sudah menyambut mereka. Seorang pemuda dengan anjing putih kecil di pelukannya menghampiri mereka, "Sasuke! Katanya kau mau ke Kirigakure! Kenapa di sini?"

Sasuke mendelik pada pemuda berambut cokelat itu. Rupanya ada orang yang nyebelin sama seperti Namikaze sulung di sini. "Memangnya kenapa kalau aku berubah pikiran?," ucapnya, balik bertanya dengan nada ketus. Pemuda bertato taring di kedua pipinya itu hanya mendengus kesal. "Kau tidak jadi makan tomat? Lalu siapa dia?," tanyanya lagi, mencoba mengintrogasi setelah menyadari adanya makhluk bernama lengkap Naruto Namikaze. Sasuke mendekatkan telinga pemuda itu dengan bibirnya dan berbisik, "Dia mengira aku guide –nya... Berpura-puralah..."

Pemuda itu mengangguk mengerti. "Hai, namaku Kiba Inuzuka. Kau pasti client –nya Sasuke, ya?," tanyanya ramah pada Naruto seraya mengulurkan tangannya. Sumpah, deh! Dia tidak mau tautentang urusan Sasuke sama anak ini, tapi dia malah disuruh berbohong di depannya. Naruto mengangguk kecil dan menjabat tangan Kiba, "Namaku Naruto Namikaze. Salam kenal. Anjingmu lucu!"

"Benarkah? Namanya Akamaru. Dia temanku..."

"Mirip seperti anjingnya Nagato... Chibi."

Sasuke memandang Naruto bingung, "Kok aku nggak pernah liat anjing di rumah anak itu?" Namun tatapan sedih Naruto menghentikan Sasuke untuk bertanya langsung. "Sayangnya, Chibi mati setelah ditabrak mobil beberapa tahun yang lalu... Dia anjing yang lucu...," ujar Naruto lirih, sepertinya dia sangat menyukai anjing keponakannya yang sudah mati. Akamaru sebagai seekor anjing pun terlihat sedih, raut wajah anjing itupun berubah dan ia mengibaskan ekornya rendah.

"Aku turut sedih mendengarnya, Akamaru pun sama...," ucap Kiba bersimpati. Naruto tersenyum kecil namun tetap terlihat sedih. "Sudahlah... Eh, kalian sudah dari tadi, ya? Kok aku nggak liat kalian naik tangga?," tanya Naruto penasaran. Dari tadi hanya dia dan Sasuke yang menaiki tangga, tidak ada lagi.

Kiba menatapnya bingung. "Untuk apa naik tangga? Di sini 'kan ada lift –nya..."

JGLARR!

Naruto benar-benar tak percaya dengan kalimat yang barusan Kiba katakan. Dia menatap lift yang tepat berada di belakang Kiba tengah mengangkut beberapa turis yang hendak ke kuil ataupun turun ke bawah. Mata biru itu benar-benar shock dan berkilat marah secara bersamaan. "SASU-TEME!," geramnya tak tertahankan. Dia merasa ditipu guide –nya sendiri. Jadi, dari tadi dia capek-capek naik tangga dan merelakan kakinya bengkak, ternyata ada alat yang begitu canggihnya bisa langsung membawanya naik turun tanpa merasa lelah dan nggak membuatnya ketakutan melihat jurang di samping sana?

"Hn," jawab Sasuke acuh tak acuh.

"APA MAKSUDMU MEMBAWAKU NAIK TANGGA EXTREME MACAM ITU, HUH?"

"Bukannya lebih bagus naik tangga daripada naik lift?"

Pertanyaan Sasuke itu sanggup membuat Naruto pingsan seketika. Haduh... Catatan mental Author : Sebelum naik tangga tanya dulu, ada lift apa nggak?

-Tian Mai & Tian Lou-

Kediaman Sabaku, Sunagakure.

Temari tengah uring-uringan mendengar jawaban sang kekasih di kota seberang sana. "APA MAKSUDMU KAU TIDAK JADI MENGUNJUNGIKU, NARA?," tanyanya (baca: bentaknya) pada sang kekasih bernama lengkap Shikamaru Nara. "Maafkan aku, Temari... Aku harus menggantikan ayahku yang pergi ke Amerika selama liburan musim panas ini...," jelas Shikamaru masih dengan nada malas-malasan. Temari mendengus kesal dan menggumamkan berbagai macam umpatan bermacam bahasa, mulai dari bahasa Inggris, Mandarin, Perancis, Spanyol, hingga bahasa binatang (?).

"Hei, sudah... Kau jangan suka mengumpat berbagai bahasa gitu, dong! Kamu 'kan cewek..."

"BUKAN URUSANMU, NANAS!"

"Mendokusai... Jangan marah dulu. Awal musim gugur nanti sekolahku akan mengadakan tour ke Suna. Aku janji kita akan bertemu..."

Temari berpikir sejenak. Gimana kalau anak ini bohong? Atau kalaupun benar, apa dia bakal ingat? Tapi yang namanya cinta sudah membutakan gadis pirang ikat empat ini. "Janji?," tanyanya penuh harapan, tetap dengan nada kasar. "Janji...," jawab yang di seberang sana.

"Awas kalau kau lupa! Kau akan bernasib sama seperti boneka teddy Kankuro!," ancam Temari dengan tegas. Shikamaru merinding ngeri saat diancam oleh sang kekasih tercinta. Dia tau benar saat Temari memutilasi boneka-boneka simpanan Kankuro dengan bengisnya. Bukan hanya itu, diapun harus kembali ke Konoha dengan wajah lebam seperti baru saja menghadiri kerusuhan. Dan semua itu gara-gara dia. Temari mengamuk gara-gara dia lupa membawakannya boneka dan malah meminjam boneka Kankuro. Hampir dua bulan dia kena omel Temari setelah kejadian itu setiap harinya. Dan sekarang, apakah dia akan berakhir denga dimutilasi pacarnya sendiri? Hell no!

"Ya, aku tau...," sahut Shikamaru dengan tenangnya―padahal di Konoha dia sudah keringat dingin satu liter. Temari tersenyum kecil mendengar jawaban sang kekasih. "Jangan lupa, ya. Bye, dear...," ucapnya manis tanpa ancaman. Dan Shikamaru hanya menyahut dengan gumaman tidak jelas.

.

.

Setelah menutup telepon dari pemuda rambut nanas itu, Temari langsung menuju ruang tengah dengan riang gembira. Dia sangat terkejut melihat sang sepupu sudah ada di rumahnya. "Sejak kapan Sasori datang?," tanyanya dalam hati, bingung dan penasaran. Apa Sasori punya ilmu sihir berpindah tempat? Sasori tersenyum ramah pada sepupu wanitanya itu dan menyapanya, "Hai, Temari! Apa kabarmu?"

"Baik. Kapan kau datang?"

"Baru saja. Aku mau liburan sejenak dari Konoha..."

"Huh?"

Sasori menghela napas berat, "Ceritanya panjang. Aku sedang stress setelah bertemu seorang―ah, mungkin dua orang gila..." Temari mengangguk kecil walaupun dia tidak mengerti apapun yang dikatakan sepupunya itu. Dia duduk di sofa yang berseberangan dengan Sasori. Hening sejenak, sampai Kankuro datang dengan tergesa-gesa. "Sasori? Kapan kau datang?," tanyanya dengan nada sedikit jengkel. Bagaimana dia tidak jengkel, Sasori itu bisa membuat dia ciut seketika. Kalau dibandingkan dengannya, pastilah Sasori jauh lebih tampan darinya. Sialnya lagi, setiap dia nembak cewek, cewek-cewek itu langsung memintanya mengenalkan mereka pada sepupunya yang notabene artis itu.

"Baru saja. Aku cuma beberapa hari di sini...," jawab Sasori mengulang jawabannya.

Kankuro ber-oh ria, sebelum akhirnya dia berlalu meninggalkan saudarinya dengan sepupunya itu. "Bagaimana dengan hubunganmu, Temari?," tanya Sasori berbasa-basi.

"Maksudmu?"

"Shikamaru..."

"Oh..," desis Temari, "Baik-baik saja." Sasori tersenyum kecil padanya. Sebenarnya dia iri juga. Walaupun dia artis, tetap saja dia jomblo setia! Bagi dia, semua orang itu temannya. Ups, ralat. Ada pengecualian untuk Kyuubi yang membuatnya stress seketika. Setidaknya dia mencoba mengembalikan image –nya yang mau berteman dengan siapapun saat ini, termasuk Kyuubi. Mata cokelatnya kembali menatap sepupu tercantiknya (iya, lah! Temari 'kan satu-satunya sepupu ceweknya...).

"Kau tidak mau ikut denganku ke Konoha saat aku pulang?," tawarnya pada Temari. Dia tau, Temari pasti ingin bertemu sang kekasih yang sudah lama tak ditemuinya. Mereka―Shikamaru dan Temari―bertemu saat trio Sabaku mengunjungi kuil rusa Konoha. Dan dari kejadian Temari digoda preman yang langsung dibantainya dengan tonjokan itulah mereka saling kenal. Awalnya Shikamaru hanya tertarik dengan kekuatan super Temari―bisa membuat 5 preman K.O sekali tonjok. Tapi akhirnya mereka semakin dekat dan, kau tau apa yang terjadi.

Temari memikirkan tawaran sepupunya itu. Ah, sudah hampir setahun mereka tidak bertemu, dia pastilah ingin tau keadaan sang kekasih jarak jauhnya itu. Namun ada satu hal yang ingin dia pastikan juga. Ayo tebak, apa itu? Anak-anak pecinta sinetron aja tau! Ayo, tebak readers sekalian...

Ah, sudahlah. Author yang jawab: "Apakah sang Nara berani bermain di belakangnya?" Itulah yang ada di benak sang Sabaku wanita ini. Eits, jangan marah atau melempar apa itu yang kalian bawa pada Author! Cuma mau nge-test, kok! ^^V

Melihat ekspresi Temari yang seperti senang, cemburu, curiga dan sebagainya, membuat Sasori tau apa jawaban yang akan dikatakan sang sepupu. "Nanti aku minta Itachi alamat rumah Shikamaru, deh...," ucapnya dengan tenang. Mata Temari berbinar tidak karuan, namun ada yang aneh juga. "Itachi?," tanya Temari memastikan. Kok Uchiha yang nyebelin itu sih...

"Iya. Sasuke 'kan sahabatnya Shikamaru. Itachi pasti tau dimana rumahnya..."

"Bener? Serius?"

"Iya..."

Tanpa aba-aba, Temari langsung meloncati meja pembatas dirinya dengan Sasori dan berhambur memeluk sang sepupu. "Thanks~! Kau sepupu terbaik, deh!," pujinya masih memeluk Sasori dengan erat. Sasori hanya tersenyum kecut dipeluk erat Temari yang mampu meremukkan tulangnya seketika. Puas, memeluk Sasori, Temari langsung pergi ke kamar untuk berjingkrak-jingkrak ria di atas kasur. Kalau di depan Sasori, mati kutu dia dilihatin si artis. Jaga image gitu!

-Tian Mai & Tian Lou-

Konoha Silver Shrine, Konohagakure.

Setelah puas mengomeli Sasuke panjang lebar, akhirnya Naruto mengikuti pemuda berambut raven itu masuk ke kompleks kuil perak. Silau, itulah yang pertama kali menjadi kesan Naruto saat memandang kuil perak itu. Ditambah matahari sudah di atas kepala, membuat kuil itu semakin silau saja. Naruto dan Sasuke berkeliling sebentar melihat-lihat kuil di atas dataran tinggi itu.

Kiba dan Akamaru entah pergi kemana sejak Naruto mengomeli Sasuke di depan pintu gerbang. Sepertinya mereka malu dilihatin para turis manca negara gara-gara tontonan gaje gratis oleh teman sendiri. Saat mereka sampai di taman pasir, Naruto langsung berhambur bermain pasir seperti anak kecil yang datang ke pantai.

"Wah, keren! Ada taman pasirnya!," serunya kegirangan. Sasuke mencoba membujuknya halus agar keluar dari taman pasir itu. Sudah di depan gerbang dia dipermalukan, sekarang dia malah dipermalukan lagi oleh orang yang sama. "Hei, dobe! Ayo pergi!," ajaknya sambil menarik tangan Namikaze sulung. Dengan refleks, Naruto menepis tangan Sasuke, "Tunggu dulu! Aku mau buat istana pasir..." Sasuke benar-benar kehilangan kesabaran. Urat-uratnya mulai tampak di dahi putih porselennya.

Grap!

Peduli setan Namikaze sulung mau teriak-teriak nggak terima, yang penting selamatkan image dirinya seagaicowok idaman! Dengan tangan yang terus menarik Naruto yang sudah mencak-mencak mau nangis, Sasuke membawa Namikaze sulung menjauh dari taman pasir itu. Mata onyx –nya menatap tajam nan menusuk siapapun yang melihat dirinya tengah menarik pemuda imut bermarga Namikaze ini.

Naruto yang ditarik seperti itu, malah tanpa sengaja menjatuhkan sapu tangannya hingga jatuh di taman pasir. "SASU-TEME! SAPU TANGANKU JATUH!," teriaknya sambil memukul tangan Uchiha bungsu yang terus menariknya. Yang namanya sapu tangan, pastilah ringan. Sapu tangan berwarna kuning cerah itu secara dramatis terbang terbawa angin dan jatuh ke tengah danau yang ada di kompleks kuil ini.

"HUWAAA! SAPU TANGANKU!"

Naruto langsung menepis tangan Sasuke dan berlari menuju danau. Beruntung dirinya, sebatang kayu tengah mengambang di tepi danau dan cukup sampai untuk meraih sapu tangannya. Dengan keahlian sang kung fu durian ala Naruto Namikaze, dia berjalan di atas batang kayu itu dengan mulusnya. Bahkan dia berhasil menggapai sapu tangannya tanpa terjatuh sedikitpun. Sasuke sempat terperangah dengan keahlian sang Namikaze. Saking hebatnya, banyak orang yang tidak sengaja melihat aksinya pun berdecak kagum padanya. "Hebat juga kau...," puji Sasuke dengan nada menyindir. Naruto hanya bisa nyengir lebar padanya. "Ini mudah, kok!," ujarnya sedikit menyombongkan diri, "Tapi..."

"Tapi apa, dobe?"

"...Aku tidak tau bagaimana caranya bisa sampai ke tepi lagi..."

GUBRAK!

Semua pengunjung yang melihat aksinya itupun bubar seketika, meninggalkan Sasuke yang masih membatu, ber-sweatdrop ria. Sasuke menghela napas sejenak, sebelum akhirnya membantu sang Namikaze sulung. Dia berdiri di tepi danau dan mengulurkan tangannya. "Masih jauh, teme!," bentak Naruto mencoba menggapai tangan Sasuke. Uchiha bungsu terus mengulur tangannya dan bergerak maju, sampai dia tidak sadar dirinya juga berdiri di atas batang kayu.

"Eh!" Naruto bergeser ke samping saat kayunya mulai bergerak dan hampir membuatnya terjatuh. Sasuke juga merasa hampir jatuh, mencoba menyeimbangkan diri dengan bergerak sedikit. Dan mereka terus seperti itu sampai batang kayu itu berputar dan mengharuskan mereka berlari di atas batang kayu tersebut.

"TEMEEE!," pekik Naruto mulai kelelahan terus berlari untuk menyeimbangkan tubuh selama 10 menitan. Yang benar saja! Saat dia mencoba untuk diam, dia malah merasa kehilangan keseimbangan gara-gara gerakan Sasuke yang mencoba menyeimbangkan diri sama seperti dirinya! Dia nggak mau berbasah-basahan di tempat umum macam ini dengan cara yang nista seperti ini!

"Berhenti, dobe!," bentak Sasuke ikut panik.

"Nggak!"

"Berhenti!"

"Nggak! Kamu saja!"

"Berhenti!"

Mereka terus bertengkar dan tidak mau mengalah. Rupanya adegan nista itu sudah ditonton para pengunjung yang melihat aksi Naruto tadi. Bahkan mereka malah semakin banyak. Kayu itupun bergerak ke tengah danau gara-gara putaran yang diakibatkan berlarinya dua orang di atasnya. Melihat dirinya semakin jauh ke tengah danau, Sasuke akhirnya menerjang dan menjatuhkan Naruto ke dalam danau bersama dirinya. Kalaupun jatuh dia tidak mau jatuh sendiri, toh ini gara-gara ulah si Namikaze sendiri!

Kedua pemuda itupun muncul ke permukaan danau yang tak begitu dalam dengan tubuh basah kuyup. Bener, deh! Memangnya mereka bertampang badut, sampai-sampai semua orang menatap mereka sambil menertawai mereka? Walaupun tingkah mereka tadi konyol, tapi mereka nggak sebegitu konyol juga, 'kan?

"Lho? Itu 'kan Sasuke Uchiha..."

"Iya, itu Sasuke... Duh, sama siapa dia?"

"Ah... Mungkin pacarnya!"

"Eh, nggak mungkin 'kan! Sasuke bukan gay, tuh!"

Bisikan-bisikan dari para fujoshi dan mungkin juga para fudanshi yang ikut nimbrung, mulai menggemakan bahwa dirinya, seorang Sasuke Uchiha anak bangsawan adalah seorang gay. Tidak mau mendengar bisikan para setan (digiles Fujodanshi) termasuk Author sendiri, Sasuke langsung menarik tangan Namikaze pembawa sial.

Benar-benar pembawa sial bagi Sasuke, Naruto hanya cengo dan tidak mau menggunakan kakinya lagi―seperti saat kabur dari kuil rusa, sehingga membuat Uchiha satu ini harus menariknya (lagi). Sasuke menarik Naruto dengan rasa malu sebesar bumi dan langit beserta isinya. Sasuke Uchiha, sang bangsawan tertampan, terjenius, terkeren, terkaya dan ter-ter lainnya sudah dijatuhkan harkat dan martabatnya sebagai seorang Uchiha oleh seorang pemuda yang bahkan dia tidak tau darimana bernama Naruto Namikaze! Dan dia digosipkan berpacaran dengannya pula! Jika benar ada sang kakak tercintanya, pastilah sang kakak akan me-role play sinetron yang lagi naik daun dan berkata, "SASUKE! KENAPA KAU MENJADI GAY! MALU, SASUKE! MALU!" atau mungkin "Mau kau kemanakan nasib keluarga bangsawan Uchiha dengan kau sebagai perusak? Dari pada kau menjadi aib bagi leluhur Uchiha, lebih baik kau minggat saja!" Holly shit!

Ugh! Memikirkan wajah jelek sang kakak sudah cukup membuat Sasuke iritasi seketika. "Cepet pulang! Cepet pulang! Jashin-sama! Biarkan aku pergi ke Kirigakure tanpa anak ini!," pinta Sasuke benar-benar putus asa dan tidak mau tau dan tidak tau siapa itu Jashin-sama. Setan atau dewa, 'kah? Hanya Jashin-sama yang tau (?). Menyeret Naruto menuju lift semakin membuatnya badmood setengah mati. Bagaimana tidak? Di depan lift, Kiba sang 'sahabat terbaik'-nya sudah menunggu sambil menertawainya dengan sangat keras ketika melihat tubuhnya dan pemuda di sampingnya basah kuyup. Bukan hanya Kiba, Akamaru pun terlihat seperti tengah menertawai keadaan mereka yang basah semua. Oke, catatan mental Author yang kedua untuk SasuNaru: Ingatlah untuk selalu menjaga kharisma dimanapun dan kapanpun, dan jangan pernah bawa orang dobe saat ke tempat umum! Waspadalah! Waspadalah!

-Tian Mai & Tian Lou-

Kediaman Uchiha, Konohagakure.

Kyuubi tengah menikmati keripik kentang dan acara entah apa di televisi. Sang Uchiha sulung secara ajaib menghilang begitu saja sejak Kyuubi memukulnya tepat di wajah. Sudah dua jam sang Uchiha menghilang dari rumahnya sendiri. Lebih baik begitu, sih... Mata ruby –nya menatap bosan pada televisi yang menyala. Dia bosan, benar-benar bosan. Sampai, sang Uchiha sulung―dengan ajaibnya juga―muncul dan memeluknya dari belakang. "Nonton apa, Kyuu-koi?," tanya Itachi dengan nada romantis.

Kyuubi langsung melonjak kaget dan melompat dari sofa bak ikan salmon. "Hiieee! Apa-apaan, kau!," bentaknya jijik banget. Nggak puaskah Itachi dengan satu tonjokan itu? Tidak, makhluk macam Itachi tidak akan jera walaupun wajahnya sudah tidak berbentuk untuk menggoda Kyuubi. "Aduh, Kyuu-koi kenapa? Apa yang membuat koibito –ku satu ini marah?," ucap Itachi tanpa dosa, membuat Kyuubi ingin menonjoknya sekali lagi.

"Jangan bercanda! Apa maumu?"

"Ah, ayolah koibito –ku yang paling manis... Aku berhasil mendapat alamat rumah Namikaze Pein..."

Kyuubi yang sudah badmood bertemu Itachipun, akhirnya berbinar senang mendengar kalimat sang Uchiha. "Yang benar? Jangan bermain-main, Itachi!," bentaknya tidak percaya. Please, deh! Itachi Uchiha yang―menurut orangnya sendiri―baik hati dan suka menolong itu mempermainkan seorang pemuda manis macam Kyuubi Namikaze. Oh, tidak mungkin... Dia tidak pernah mempermainkan Kyuubi sedikitpun, asalkan kau bis melupakan apa yang telah diperbuatnya pada Kyuubi beberapa menit yang lalu dan kemarin―saat Kyuubi disiram Sasori.

"Untuk apa aku mempermainkanmu, koibito –san?," tanya Itachi sambil mengerlingkan matanya yang kelam. Dia serius, tau! Dua jam yang lalu, dia menyuruh anak buahnya untuk mencari rumah siapapun yang berpapan nama Namikaze di seluruh Konoha. Kyuubi berpikir sejenak. Kalau dia percaya dan Itachi benar-benar mengantarnya ke rumah Pein, bagaimana? Dia pasti bebas dari sang Uchiha. Kalau Itachi bohong? Tapi... siapa yang bisa dipercayainya lagi saat ini kecuali Itachi? Apa nggak aneh kalau Itachi mau membantunya, melihat Itachi suka mengganggunya? Tapi, Itachi pernah dan bahkan sampai sekarang mau menampungnya di rumahnya.

Oke, gampangnya saja, apapun yang dipikirkan sang Uchiha sulung, Kyuubi harus ikuti saja. "Oke. Aku percaya. Kapan kita ke sana?," tanya Kyuubi penasaran. Itachi tersenyum pada Kyuubi, "Sekarang!" Kyuubi membelalakkan matanya. Wah, mimpinya bisa lepas dari sang Uchiha pun akhirnya kenyataan juga! Tapi benar tidak, ya?

~TSUDZUKU~

Haduhh... Readers yang baik... Jangan tertawain adegan SasuNaru di kuil perak, ya... Itu benar-benar pengalaman paling memalukan yang pernah kualami saat liburan miusim panas di Kyoto. Adegan ciuman ItaKyuu itupun juga benar-benar terjadi pada Tian Lou, kok!(aku masih nyimpen diary –nya sih...). Update chapter berikutnya mungkin bakal lama, mungkin sebulanan... Thanks for reading... Yuèdú hé shĕnchá, qĭng?―RnR, please?

._._._.Xie Xie._._._.

Fengtian Mai & Fengtian Lou